Melihat Tukul, Wanita Hamil Tua ini Histeris dan Terjun dari Ketinggian


joker-layout-news-papers

 

Demi mengejar jumlah kunjungan, media online menempuh berbagai cara. Antara lain dengan membuat judul yang bombastis terutama berkaitan dengan artis. Nama mirip artis bahkan pejabat dijadikan barang jualan sekalipun isi beritanya tidak berkaitan sama sekali dengan yang empunya nama sebenarnya.

Republika Online (ROL) pada tanggal 6 September 2014 menurunkan berita dengan judul: “Tak Kuat Hadapi Cobaan, Ari Wibowo Nekat Bunuh Diri”. Kedaulatan Rakyat Online di hari berikutnya menurunkan berita semacam dengan judul: “Ari Wibowo Akhirnya Tewas”.

Berlanjut pada hari ini Minggu, 21 September 2014, ROL juga menurunkan berita heboh lagi, “Dewi Lestari Minum Racun Karena Dimarahi Gurunya”. Mundur ke belakang pada bulan Januari 2014, Detiknews juga membuat berita berjudul “Nia Daniati Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumah”. Baca Lebih Lanjut

Tips Mudah Beli Domain dengan Nama Sendiri di WordPress.Com Pakai Kartu Kredit



Sudah lama saya ngeblog. Awalnya di media internal Direktorat Jenderal Pajak. Lalu mulai merambah ke dunia maya yang lebih besar seperti blogspot. Tak bertahan lama, karena pernah kejadian tiba-tiba blog saya itu diblok secara sepihak oleh adminnya selama enam bulan. Tidak tahu alasannya apa. Ya sudah, saya pindah ke lain hati, ke WordPress.

Tanggal 30 November 2007 mulai ngeblog di WordPress dengan nama dirantingcemara.wordpress.com. Dalam tahun-tahun panjang perjalanan itu selalu terpikirkan untuk bisa punya situs atau website atau domain dengan nama sendiri.

Yang selalu menghambat keinginan itu adalah keruwetan memindahkan semua tulisan di blog lama ke blog baru. Juga karena tak mau memulai dari awal lagi untuk membuat blog baru.

Ternyata WordPress memahami itu. Dengan membeli domain di wordpress kita bisa memiliki situs dengan nama kita sendiri atau nama lain. Iklannya setiap saat selalu ada di atas dashboard WordPress saya. Menggoda.

Baca Lebih Lanjut.

Inilah Caranya Mengurus Ganti Faskes (Fasilitas Kesehatan) di BPJS


Sekarang saatnya membahas cara mengganti atau mengubah Fasilitas Kesehatan (Faskes) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Terutama buat para peserta BPJS yang berdomisili di Kabupaten Bogor. Atau tepatnya yang mau mengubah data kepesertaan BPJS dan mau mengurusnya di Kantor BPJS yang terletak di Kompleks Pemda Cibinong.

Sebenarnya untuk mengubah data kepesertaan BPJS bisa datang ke kantor BPJS manapun karena sistemnya sudah online sekarang. Biasanya saya mengurusnya di Kantor BPJS Jalan Ahmad Yani No. 62 E Kota Bogor. Namun karena alasan kejauhan dan ternyata ada yang lebih dekat dari rumah saya, maka saya berusaha mengurus di Kantor BPJS Kompleks Pemda Cibinong ini.

Jadi Faskes ini merupakan tempat kita berobat dan meminta rujukan sebelum si sakit masuk rumah sakit. Faskes ini bisa berupa Puskesmas atau klinik swasta atau dokter keluarga atau balai pengobatan yang telah bekerja sama dengan BPJS.

Baca Lebih Lanjut.

Penting Buat Ibu Hamil: Kenali Bunyi-bunyian yang Mengganggu Janin Anda



Ibu Hamil (Sumber foto: muslimmums.co.za)

Dari hasil penelitian, indera pendengaran janin sudah mulai terbentuk ketika kandungan memasuki usia 8 minggu. Pembentukan indera ini berakhir pada usia kandungan 24 minggu. Barulah pada minggu ke-25 sang janin mampu mendengar suara orang-orang terdekatnya.

Selain itu janin mampu merespon bunyi-bunyian yang membuatnya tidak nyaman. Lalu seberapa besar desibel (satuan untuk mengukur intensitas suara) yang diperkenankan diperdengarkan kepada janin dalam kandungan?

Baca lebih Lanjut.

Untuk Para Ayah: 5 Fakta Sosial Bikin Anak Keblangsak


 


Ayah yang mengajarkan anaknya wudhu. (Ilustrasi diambil dari islamicblog.co.in)

Pemuda-pemuda akan tumbuh

sesuai dengan apa yang telah dibiasakan oleh bapaknya.

Pemuda itu tidak hidup dengan akalnya, tetapi dengan agamanya.

Maka dekatkan ia kepada agama.

Pohon yang tumbuh di taman tidak akan sama

dengan pohon yang tumbuh di tanah tandus.


(Syair dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam)

 

Mereka para orang tua yang ditugaskan jauh dari keluarganya akan tahu betapa nikmat terbesar yang mereka miliki adalah kebersamaan dengan keluarga. Maka buat para orang tua yang demikian, janganlah menyia-nyiakan waktu kebersamaan itu.

Walau teknologi sudah mampu mendekatkan orang dalam hal berkomunikasi. Namun tetap saja tak mampu menggantikan hangatnya sebuah pelukan dan tatapan mata secara langsung. Sehebat-hebatnya mendiang Steve Jobs yang memiliki visi menjadi pelopor digitalisasi semua pekerjaan manusia, ia tetap percaya bahwa rapat itu harus bertatap muka. Menurutnya, kolaborasi dan kreativitas tak akan pernah muncul tanpa ada tatap muka. Apatah lagi dalam hal mendidik anak.

Baca lebih lanjut.

Anda Kurang Percaya Diri? Baca yang Satu Ini


Percaya diri seperti singa jantan ini? Cool Man…

Bagi sebagian orang berbicara di depan umum serupa malapetaka. Padahal kegiatan memberikan presentasi , sebagai salah satu bentuk kegiatan berbicara di depan umum, adalah sebuah pekerjaan yang sering dijumpai dan mesti dilakukan di instansi kita. Entah dalam rangka pengarahan, pemarapan rencana kerja atau pelaporan apa yang telah kita lakukan.

Sebab yang menjadikan presentasi sebagai sebuah mimpi buruk hanya ada dua yaitu kurangnya persiapan, selebihnya hanya masalah kepercayaan diri. Yang terakhir ini berkaitan dengan cara berpikir. Kali ini akan disampaikan kiat-kiat membangun rasa percaya diri agar bisa memberikan performa yang terbaik. Kiat-kiat ini—dengan sedikit penyesuaian dari Penulis—diambil dari buku Memukau Audiensi dengan Pengaruh dan Kharisma yang ditulis oleh Steve Cohen dan sudah terbukti efektif terutama bagi penulis. Berikut kiatnya.

Baca Lebih Lanjut.

Buat Para TKI, Tolak Jika Ada Oknum Petugas di Bandara Minta Uang Fiskal



Sampai sekarang nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita tidak kunjung membaik. Perlakuan buruk yang diterima mereka di Bandara Soekarno Hatta masih saja terdengar. Contohnya beberapa waktu yang lalu, di pertengahan Juli 2014.

Para TKI yang baru datang dari luar negeri itu akan dipisahkan dari penumpang biasa dan dikumpulkan dengan TKI lainnya di ruang khusus. Dilakukan penggeledahan, dipaksa menyerahkan sejumlah uang, dan dipaksa untuk naik bis travel ke daerah tujuan masing-masing. Tentunya dengan membayar lagi sejumlah uang. Tidak ada yang gratis.

Baca Lebih Lanjut.

ANDA PEREMPUAN? JANGAN TAKUT URUS SERTIFIKAT SENDIRI DI BPN


ANDA PEREMPUAN? JANGAN TAKUT URUS SERTIFIKAT SENDIRI DI BPN

 

Setelah membaca blog saya tentang Biaya Peningkatan Status Hak Guna Bangunan Menjadi Hak Milik seorang ibu bernama Dyah Ully mencoba mengurus sendiri sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB)-nya yang hampir kedaluarsa menjadi sertifikat Hak Milik di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu (19/6).

Tidak diketahui alasan yang sebenarnya dari Ibu Dyah Ully untuk mengurus sendiri di BPN. Tapi dari komentarnya yang sempat masuk di sana, Ibu Dyah Ully ingin pengurusan sertifikat ini selesai agar tidak menyulitkan anaknya di kemudian hari. Alasan yang bagus menurut saya. Menjadikan anak keturunan kita tidak membawa beban orang tuanya.

Setelah menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan dan diawali dengan kecemasan tentang rumitnya birokrasi di BPN hingga membuatnya tidak bisa tidur serta biaya yang harus dibayar, Bu Dyah Ully menekadkan diri untuk langsung aksi daripada diam termangu tanpa melakukan apa-apa dan mendapatkan hasil. Berikut kisah lengkap Ibu Dyah Ully untuk bisa kita simak bersama-sama.

Kantor Pertanahan BPN Kota Administratif Jakarta Selatan (bpn.go.id)

*

Selasa, 17 Juni 2014

Tadi saya mulai dengan mencari kantor BPN Jakarta Selatan. Karena rupanya sejak 2011 kantornya pindah dari Jalan Prapanca ke Jalan Alwi di Tanjung Barat. Dan rupanya sesuai dengan hasil googling sana sini, kantornya nyelempit di antara rumah penduduk dan jalannya hanya muat satu mobil. Jalan masuknya pas di sebelah Showroom Auto2000, Lenteng Agung arah Depok sana. Dengan plang super mini: Kantor BPN Jakarta Selatan. Okelah, alhamdulillah ketemu dan rupanya ada tempat parkir yang lumayan lega.

Suasana kantor ramai luar biasa mirip dengan kantor imigrasi kira-kira. Saya menghampiri satpam dan tanya koperasi di mana. Rupanya di luar kanan belakang. Di sana saya membeli formulir permohonan peningkatan hak rumah tinggal. Mapnya warna putih. Oh iya saya sebelumnya di tanya luas tanah apakah melebihi 600 meter persegi atau tidak ? Saya bilang tidak. Tanah saya hanya 200 meter persegi. Mungkin beda formulirnya buat tanah berukuran 600 meter persegi ke atas.

Lalu saya tanya pada petugas, apakah fotokopinya perlu dilegalisir? Saya belum sempat melegalisir. Ini juga tadi langsung berangkat ke sini mumpung bayi saya anteng dan bisa ditinggal. Rupanya fotocopi KTP dan KK harus dilegalisir di kelurahan. Okelah. Biaya formulir 10 ribu saja. Pas juga sudah saya siapkan.

Jadi saya pulang dan akan saya isi dulu serta lengkapi persyaratannya. Sama kok yang diminta adalah fotokopi KTP dan KK dilegalisir, fotokopi IMB, fotokopi SPPT PBB tahun berjalan. Yang lupa saya lakukan adalah masuk dan bertanya di helpdesk kira-kira brp biaya yg hrs saya siapkan.

Tapi ya sudah, besok setelah lengkap saya akan kembali dan semoga saja biaya resminya tidak mahal. Amin.

 

Kamis, 19 Juni 2014

Barusan saya pulang dari kantor BPN Jakarta Selatan. Semua persyaratan sudah saya lengkapi. Fotokopi KTP dan KK yg dilegalisir, fotokopi IMB, dan fotokopi SPPT PBB.

Saya baru sampai kantor itu jam 10. Lalu mengambil nomor antrian. Sudah nomor 661. Rupanya nomor antrian sudah panjang sekali. Suasana sangat ramai. Waktu saya lihat, antrian nomor pengurusan baru 600. Saya mengikuti petunjuk Pak Riza, mencari loket 2. Saya duduk di bangku yg menghadap loket itu. Kelihatannya Pak Petugas tidak memanggil nomor antrian. Setelah menunggu 15 menit tanpa kepastian, saya mendatangi Pak Petugas dan bertanya, “Pak mau urus pengalihan hak dimana ya?”

Pak Petugas dengan ramah menjawab, “di sini bu. Mari saya periksa.”

“Maaf pak, biayanya berapa?“

“50 ribu Bu,” jawabnya. Saya kaget dan senang mendengarnya.

Alhamdulillah, diperiksa semua data, persyaratan lengkap, dan sertifikat asli diminta. Lalu dilepas dari map hijaunya. Contreng-contreng terus Pak Petugas bilang, “sudah ke pemetaan? Sambil menunjuk ke petugas di sebelahnya.

Oh belum, lalu map pun pindah tangan, diperiksa di komputer lalu dicap dan diberikan kembali ke Pak Petugas pertama. “Ditunggu dulu Bu,” Katanya. Alhamdulillah langsung diproses. Saya menunggu sekitar setengah jam dengan deg-degan karena tidak memakai nomor antrian. Lalu saya dipanggil lagi, diberikan surat pembayaran, benar tertulis lima puluh ribu rupiah. “Nanti habis bayar kemari lagi ya,“ Kata Pak Petugas.

Lalu saya ke loket pembayaran, dan menunggu kuitansi tanda pembayaran. Sekitar setengah jam kemudian, nama saya dipanggil. Saya kembali ke loket 2, lalu Pak Petugas dengan ramah menginformasikan bahwa di kantor BPN Jakarta Selatan ini untuk peningkatan hak pelayanannya ada juga di hari Sabtu. Malah kalau hari Sabtu, langsung jadi hari itu juga (one day service). Berhubung HGB saya sudah hampir kedaluwarsa saya tidak berani ambil risiko dengan datang ke BPN di hari Sabtu. Kelamaan. Nah karena saya datang di hari kerja biasa maka untuk sertifikat saya jadi dalam tujuh sampai sepuluh hari kerja.

Alhamdulillah. Saya tinggal menanti dan mengambil hasilnya. Semoga lancar dan dimudahkan. Terima kasih atas sharing-nya Pak Riza, yang membuat saya berani urus sendiri lewat jalur resmi. Terima kasih kasih buat pejabat negara yang sudah memudahkan ibu rumah tangga seperti saya bisa mengurus sendiri surat tanahnya. Sekian sharing saya, Terima kasih dukungannya.

*

Ayo perempuan Indonesia jangan takut dengan birokrasi. Jangan takut urus sendiri sertifikat di BPN. Ada beberapa birokrasi yang sudah mau berubah. Sudah bukan zamannya lagi birokrasi yang mengagung-agungkan kredo “kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah”. Selain BPN tentunya ada kantor pajak di seluruh Indonesia yang senantiasa memudahkan dalam memberikan pelayanan perpajakan. Jangan takut pula Anda, Wajib Pajak, untuk datang mengurus sendiri hak perpajakan Anda ke kantor pajak.

***

 

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

12 Juli 2014

CARA DAFTAR BPJS BUAT ANAK KETIGA PNS


CARA DAFTAR BPJS BUAT ANAK KETIGA PNS

 

Mulai 1 Januari 2014 anak ketiga Pegawai Negeri Sipil (PNS) dapat diberikan jaminan kesehatan oleh PT Askes (Persero) yang kini telah bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Kebetulan anak ketiga saya yang berumur hampir enam tahun belum diikutkan dalam asuransi kesehatan ini. Oleh karenanya mumpung saya cuti kerja saya menyempatkan diri untuk mengurus pendaftarannya.

Pertama, saya cari informasi terlebih dahulu ke laman BPJS yang beralamat di sini. Lalu saya telepon ke Pusat Layanan Informasi BPJS 24 Jam di 500400 untuk memastikan boleh tidaknya anak ketiga PNS dapat jaminan kesehatan. Selain itu untuk mendapatkan informasi dokumen apa yang perlu dilampirkan pada saat pendaftaran anak ketiga ini.

Dari 500400 itu juga dapat informasi kalau kartu Askes lama yang berwarna kuning masih berlaku dan untuk sementara waktu tidak perlu ditukarkan dengan yang baru. Kalau Anda datang ke kantor BPJSnya untuk menukarkan kartu ini pun Anda akan ditolak.

Berdasarkan informasi dari 500400 itu saya siapkan dokumen yang ada. Setelah lengkap saya datang ke Kantor BPJS Cabang Bogor yang ada di Jalan Ahmad Yani Nomor 62 E Bogor. Kantor cabang yang ada di Kota Bogor ini dulunya tempat saya mendaftarkan diri sebagai peserta Askes. Kantor ini mencakup tiga wilayah kerja BPJS: Kota Bogor, Kota Depok, dan Kabupaten Bogor.

Saya datang ke kantor BPJS yang sudah ramai pada waktu itu. Di halaman kantor sudah didirikan tenda dan telah disediakan kursi-kursi untuk mengantisipasi membludaknya masyarakat yang ingin melakukan pendaftaran. Saya ambil nomor antrian dengan menekan tombol nomor satu di mesin yang tersedia di pintu masuk. Sedangkan tombol nomor tiga untuk antrian surat rujukan.

Sambil menunggu antrian saya bertanya-tanya kepada petugas yang berada di depan pintu. Orangnya sudah tua dan terlihat ramah melayani pertanyaan para pengunjung. Tapi sayangnya informasi yang diberikan berbeda dengan apa yang saya dapatkan dari 500400. Malah menyaratkan dokumen macam-macam seperti Surat Keputusan PNS terakhir. Akhirnya saya bertanya kepada petugas yang ada di dalam. Barulah ketahuan kalau SK CPNS tidak diperlukan lagi, namun demikian masih ada dokumen yang kurang sebagai bukti adanya anak ketiga saya ini yaitu KP4 atau Surat Keterangan untuk Mendapatkan Pembayaran Tunjangan Keluarga.

Jadi secara lengkapnya, dokumen apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendaftarkan anak ketiga PNS sebagai peserta BPJS adalah sebagai berikut:

  1. Mengisi Formulir Daftar Isian Tambahan Anggota Keluarga yang bisa diunduh di sini;
  2. Fotokopi Kartu Peserta Askes Kepala Keluarga (Satu lembar). Jangan lupa bawa kartu aslinya untuk jaga-jaga jika diminta untuk diperlihatkan;
  3. Fotokopi KTP Kepala Keluarga (Satu Lembar);
  4. Asli KP4 atau Surat Keterangan untuk Mendapatkan Pembayaran Tunjangan Keluarga;
  5. Daftar gaji yang ada nama kita dan telah dilegalisir;
  6. Fotokopi Kartu Keluarga yang ada nama anak ketiga (Satu lembar);
  7. Fotokopi Akta Kelahiran anak ketiga (Satu Lembar);
  8. Pasfoto anak ketiga kita dengan ukuran 3×4 (Satu lembar) dan ditempel di formulir Daftar Isian Tambahan Anggota Keluarga.

Akhirnya saya pulang dan tidak jadi daftar karena ada satu dokumen lagi yang kurang yaitu KP4 itu. Tadinya saya sudah hampir putus asa dan berniat mendaftarkan diri di kantor BPJS yang ada di Tapaktuan, Aceh Selatan. Kata petugasnya kita diperbolehkan untuk mendaftarkan diri di kantor BPJS mana pun karena sudah online.

Namun dengan bantuan dari teman-teman Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan dan kecanggihan teknologi informasi saat ini akhirnya saya bisa mendapatkan KP4 dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Di hari berikutnya saya kembali ke Kantor BPJS Cabang Bogor. Saya datang pada jam 9.33 pagi dan mendapatkan nomor antrian 175. Waktu itu sedang dipanggil antrian dengan nomor 150. Pelayanan pendaftaran BPJS hanya dilayani oleh dua orang petugas. Jadi harus sabar mengantri. Kalau tidak mau mengantri lama maka datangnya pagi-pagi saja. Kita diperbolehkan ambil nomor antrian sejak pukul 07.30 pagi, sedangkan kantor BPJS mulai buka setengah jam setelahnya.

Hampir dua jam kemudian saya dipanggil. Tadinya hampir ditolak karena saya PNS. Petugas itu bilang kalau PNS pendaftarannya dilakukan secara kolektif, saya setengah protes karena kata petugas di loket sebelah tidak pernah dikatakan seperti itu. Pusat Layanan Informasi 500400 itu pun tidak bilang seperti itu juga. Akhirnya petugas itu memasukkan berkas saya ke dalam sistemnya setelah memeriksa kelengkapannya. Bahkan kartunya langsung dicetak oleh petugas tersebut tanpa perlu banyak cingcong lagi. Di sistemnya mungkin sudah lengkap ada nomor keanggotaan saya sehingga tidak perlu susah buat memasukkan data baru.

Berbeda dengan PNS, peserta Non-PNS setelah mendaftarkan berkasnya, mereka mendapatkan tanda terima bukti pendaftaran, lalu pergi ke bank untuk setor iuran keanggotaan, kemudian datang kembali untuk ditukarkan dengan kartu BPJS. Jadi butuh waktu lama dan mengantri kembali. Saya tidak. Cepat sekali malah. Alhamdulillah. Kenapa PNS tidak perlu membayar ke bank? Jawabannya karena untuk PNS iurannya akan dipotong langsung dari gaji bulanannya.

Kartu BPJS (Foto koleksi pribadi).

Setelah menerima kartu BPJS, saya mengucapkan terima kasih kepada mbak-mbak petugas atas bantuannya dan upaya memudahkan prosedur ini. Saya sebelumnya bilang kalau saya sudah jauh-jauh datang dari Tapaktuan untuk mengurus hal beginian. Mbak itu tidak ngeh Tapaktuan itu di mana, tapi ketika saya bilang Aceh Selatan, dia rada-rada paham dah di mana daerah terpencil itu berada. Yang penting ada nama Acehnya. *Melet.

Akhirnya saya pulang dengan hati plong, tidak sia-sia cuti saya ini. Semua demi anak. Hujan, gerimis, sakit diterabas saja agar semua urusan selesai. Ini semua karena bantuan Allah yang telah memudahkan segala urusan saya dan teman-teman KPP Pratama Tapaktuan seperti Pak Dodik Krido Rahardjo, Fabianus Gita Ariswara, dan Rachmad Fibrian. Thanks a lot Bro…

Ohya pendaftaran sebagai peserta BPJS ini tidak dipungut biaya sepeser pun kecuali untuk membayar iuran bulanannya. Itu pun dibayarnya ke bank, sebagaimana bayar atau setor pajak pun tidak ke kantor pajak melainkan ke bank juga. Segala informasi dan syarat pendaftaran di sini bisa juga untuk mendaftarkan anak pertama dan kedua PNS. Demikian. Semoga bermanfaat.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Citajam, 30 Januari 2014

Diunggah pertama kali di Kompasiana.

INI MUDIK YANG MENYENANGKAN


INI MUDIK YANG MENYENANGKAN

 

Perjalanan mudik kemarin menyisakan banyak remah-remah kesimpulan. Dan tentunya menyenangkan. Dimulakan dengan sebuah niat yang baik: mempererat tali persaudaraan dengan sanak di kampung. Oleh karenanya kami cuma berharap Allah melindungi perjalanan kami ini. Mudik dan baliknya. Alhamdulillah semuanya dikabulkan. Tidak melelahkan lagi.

    Senin menjelang siang (5/8), tepatnya pada pukul 10.30 kami berangkat berenam saja—Saya, istri, ibu mertua, Maulvi, Ayyasy, dan Kinan—dari Citayam. Kita berangkat jam segitu karena tak mau buru-buru dan untuk memberikan hak kepada tubuh agar bisa istirahat setelah semalamnya mencari Lailatul Qadr di malam 27 Ramadhan. Semalamnya pun saya ubah gaya iktikafnya. Biasanya baru tidur 24.00 kemudian bangun jam 02.00, menjadi tidur lebih dini dan bangun jam 03.00. Ini setidaknya memberikan tenaga buat mudik.

    Perjalanan dari Citayam sampai Cikampek lancar banget yah. Tak ada kemacetan sama sekali. Bahkan saat keluar pintu tolnya. Saya pun akhirnya memilih ke kiri—ke arah perempatan Jomin—karena lengang dan tak ada polisi yang mengarahkan kami untuk ambil arah ke kanan menuju Sadang seperti tahun-tahun sebelumnya.

    Sungguh, jalur Pantura ini terakhir saya ambil tiga tahun yang lalu. Setelahnya selalu mengambil jalur tengah yang panjang dan tetap macet juga. Kemacetan atau merayapnya mobil dari mulai Jomin sampai Sukra, Indramayu masih dalam batas kewajaran. Kadang merayap kadang bisa memacu kecepatan sampai 80km/jam.

    Sampai di Jatibarang saya tempuh jalur Jatibarang-Palimanan. Sampai di Kertasemaya maghrib. Untuk memasuki tol Palimanan sejak dari Tegalgubug mulai merayap. Kapanpun, entah cuti bersamanya panjang atau tidak, menjelang lebaran ini jalur Jatibarang-Palimanan tetaplah padat. Seharusnya saya ambil jalur seperti tahun-tahun sebelumnya kalau mudik melalui Pantura, yaitu melalui jalur Jatibarang-Karangampel-Cirebon. Ini jalur yang tak pernah dianggap oleh pemudik, padahal jalur ini jalur yang lengang dengan jalannya yang lebar. Selepas Cirebon barulah memasuki tol di Kanci.

    Dari Palimanan sampai Pejagan, saya bisa melenggang dengan kecepatan tinggi. Jalan tol sepi. Cuma mulai merayap lagi selepas gerbang tol Pejagan menuju Brebes, karena harus antri untuk bisa menyeberangi palang pintu kereta api. Setelah itu lancar. Tak ada kemacetan.

Kami berkali-kali berhenti. Bahkan kalau dihitung bisa sampai tujuh kali istirahat. Santai sajalah. SPBU Muri jadi tempat idaman untuk istirahat. Jam 23.30 kami ada di sana. Kami sahur di Sari Raos Gringsing, setelah Alas Roban, jam tiga pagi. Lalu kami melanjutkan perjalanan sebelum imsak. Sampai di Mangkang, Semarang sudah setengah lima pagi. Rumah sudah dekat. Tapi kantuk sudah tak bisa ditahan lagi. Daripada celaka lebih baik istirahat saja. Karena berdasarkan data statistik yang dirilis dinas terkait kecelakaan terjadi kebanyakan karena gerimis kantuk yang melanda.

Akhirnya kami tiba di Semarang, pukul 07.30, jadi kurang lebih 21 jam perjalanan. Ini sudah termasuk rekor bagi kami. Karena tahun-tahun sebelumnya hampir bahkan lebih dari 24 jam perjalanan. Yang terpenting selamat dan tidak melelahkan.

    So, bagi saya, untuk menempuh perjalanan mudik kemarin perlu kiat-kiat tersendiri. Dan inilah remah-remah kesimpulan itu antara lain sebagai berikut:

  1. Menej dengan baik malam iktikafnya;
  2. Siapkan fisik dengan baik. Tak perlu memaksakan diri, sehabis pembagian zakat jam satu malam langsung cabut. Tidur yang cukup. Berangkat pagi saja setelah shubuh atau dhuha atau menjelang dzuhur;
  3. Ambil jalur Jatibarang-Karangampel-Cirebon untuk menghindari kemacetan;
  4. Perbanyak istirahat di jalan;
  5. Tentunya perbanyak doa.

     

Semoga Allah memberikan kemudahan itu di tahun-tahun yang akan datang. Karena sesungguhnya kita berangkat untuk sebuah niat yang baik, niat yang mulia, yaitu silaturahmi. Kalau sudah demikian insya Allah, Allah akan lindungi perjalanan kita. Semoga.

 

***

Riza Almanfaluthi

dirantingcemara

09:45 14 Agustus 2013