Purwapada


Di setumpuk cairan melava
ada bayang-bayang renjana
membuat spasi purwapada

tembang-tembang menjelma nada
menyela sedemikian rupa
aku sekadar titik tinta diabaikan mata

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 1 September 2017

Disiram Cahaya


Anak kecil yang disiram cahaya,
matanya tenggelam di lautan gembira.
Hai, mana binar matamu yang tadi?
Jangan ikut ujung senja yang mau pergi.
Tetaplah di sini.
Bersama hati dan Puisi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 31 Agustus 2017

Cerita di Balik Layar Puisi Malam Ini Kanda Dinda


Suatu ketika pada 1 Agustus 2017 Kak Cut Ratna Marlina menanyakan kepada saya, “Jadi perlu slot khusus di acara?” Acara yang dimaksud adalah acara Reuni Alumni STAN Prodip Keuangan Spesialisasi Pajak tahun lulus 1997. Niatnya acara ini akan diselenggarakan di Hotel Mercure Ancol Jakarta pada 2 September 2017. Tepat 20 tahun setelah kami diwisuda.

Kak Cut Ratna Marlina ini adalah anggota kepanitiaan reuni yang luar biasa gigihnya dalam mengusahakan terselenggaranya acara tersebut. Perihal nama sebenarnya adalah Hajjah Ratna Marlina saja. Namun dikarenakan pada Juni 2017 lalu dipromosikan sebagai kepala seksi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Banda Aceh maka teman-teman menahbiskannya dengan “Cut”. Lengkap sudah hidupnya.

Baca Lebih Lanjut.

Malam Ini Kanda Dinda


Malam ini Kanda Dinda, aku berdiri di hadapan kalian, membaca sajak-sajak. Ini bukan sembarang sajak. Aku menulisnya di suatu malam. Sehabis hujan yang kaget.  Aku ingin kita mendengarnya. Untuk diingat, untuk nanti, untuk sampai akhir masa.  Pada ingatan-ingatan panjang kita.

Malam ini Kanda Dinda, 20 tahun bukan waktu yang pendek buat para pemimpi. Tapi bukan waktu yang lama buat para pecinta. Kita pemimpi dan pecinta. Mimpi untuk malam-malam kita. Cinta untuk jiwa-jiwa kita.

Malam ini Kanda Dinda, ingatkah kalian pada tebing masa ketika kita pertama kali menaiki gerbang itu. Kita kumpulan pasukan tak bertenaga tapi punya otak dan jiwa. Kita punya sesuatu untuk diperjuangkan. Mati-matian. Asa yang menggema di setiap dada.

Malam ini Kanda Dinda, ingatan kita ditaruh pada keranjang waktu ketika kita ditebarkan bagai benih, ditabur dari angkasa. Dilesakkan angin. Dibenam pada tanah harapan. Kita mendekat. Kita menjauh. Lalu menjadi apa-apa yang kita inginkan.

Malam ini Kanda Dinda, sebentuk pertanyaan datang menyeduh kepala kita. Masih berkobarkah api cita-cita ideal yang menjulang-julang, atau sudah tersiram salju realita? Rupanya merapi tantangan menyongsong di muka.

Malam ini Kanda Dinda, kita menyerah? Tidak. Kita tak menyerah. Kita melulu berdamai dengan waktu yang kita usung. Kita bongkar satu per satu batu halangan sepadan kebolehan masing-masing, Kanda. Kita manusia biasa Dinda. Tapi kita yakin Dinda, selama di dada kita bersemayam puncak jaya keteguhan, matahari istikamah, ketawakalan para rasul, manusia biasa pandai menyusun mimpi-mimpi besar dengan izin-Nya.

Malam ini Kanda Dinda, kita tak sama lagi dengan saat pertama itu. Tapi kita punya satu yang tak musnah. Persahabatan. Malam ini kita berkumpul untuk mengejanya. Diam-diam. Mengimlanya. Pelan-pelan. Meneriakinya. Keras-keras.

Malam ini Kanda Dinda, barangkali sebagian kita menjadi apa-apa, sebagian kita lainnya tidak menjadi apa-apa. Tetapi jangan pernah lupakan bahwa kita adalah teman. Karena kita merasakan mengkudu yang sama. Madu yang tak beda.

Malam ini Kanda Dinda,   kita menjadi hujan yang tak pernah ingkar dengan September, Oktober, November, dan Desember.  Kita menjadi merpati yang tak pernah lupa kembali ke sarang. Kita menjadi malam yang selalu ingat akan pagi.

Malam ini Kanda Dinda, tak semudah membilang kun fayakun atas wujud lempung pertemanan kita yang samudra. Badai sering datang. Tetapi kita ingat, setelahnya, selalu ada cakrawala terang benderang dan ombak yang mengantuk.  Terkadang kita merenggang bagai karet. Terkadang kita menguat bagai besi.

Malam ini Kanda Dinda, kita dengarkan apa yang Ibnu Athoillah tulis berabad-abad yang lampau. Sahabat sejatimu adalah yang bersahabat denganmu dalam kondisi ia mengetahui aibmu. Tidak lain adalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang mengharapmu bukan karena keuntungan yang dia harap darimu.

Malam ini Kanda Dinda, ujung cahaya menebas halimun pikir kita untuk satu perihal: tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Untuk itu, Malam ini Kanda Dinda, di 20 tahun yang ditaburkan angin waktu, bolehlah hamba menjadi Harun-nya Musa, Abubakar-nya Muhammad, Plato-nya Socrates buatmu, buat kalian, sampai di suatu masa. Masa yang tak bisa kita miliki lagi.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Puisi ini ditulis pada 31 Agustus 2017
Puisi ini dibacakan pada 2 September 2017 dalam acara Reuni Alumni STAN Prodip Keuangan Spesialisasi Pajak Angkatan 94-97 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.
#breakingthedistance
#reunipajak2dekade
#pajak97

Bayang-bayangku Membayang


Bayang-bayangku membayang
Kata-kataku melayang
Harapan-harapanku terbang

pada cahaya terakhir
di laguna kesenyapan
aku berpesta-pora
untuk ikan-ikanku sayang

Kemarilah
datanglah
mendekatlah
salam dari paruhku yang panjang
tempat aku kehilangan R

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 30 Agustus 2017

Bulan Sabit


Tetap saja, di suatu malam yang sangit, ketika aku disodorkan sebuah pilihan tentang suka cita pertemuan atau duka lara perpisahan dan yang aku jawab pertama adalah pilihan, ternyata itu tak bertahan lama, sisanya waktu sedemikian tega menyayat dan mengganti isi-isi sel yang memenuhi saluran darah di sekujur tubuh dengan derita jarak itu.

Maka serta merta yang kupikirkan adalah derak-derak roda di atas rel yang menjadi nafas kehidupan cerita-cerita, hingga jam-jam yang tak seberapa itu mampu melarikan diri dari penjaranya. Maka, tidak ada lagi tertawa yang sepanjang perjalanan kurekam di benak melainkan tawa-tawa malam, tawa-tawa bulan, tawa-tawa nokturnal, tawa-tawa kopi, tawa-tawa selimut, tawa-tawa kegelapan lorong kereta, hingga kau membangunkanku dengan mimpimu.

Seketika itu aku menjadi priyayi dengan ring terpasang di jantungnya, meledak, ringnya lepas menggelinding dan melekat di jemarimu. Jari-jari dengan pergelangan dan punggung tangan sejarah yang tak pernah bisa dibenamkan masa. Kuusap bulan sabit, di tempatnya bersemayam, untuk menjadi pagi dan malam yang disiram endorphin ke sekujur tubuhmu, tubuh Puisi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 27 Agustus 2017

Sehening Sandaran di Sebuah Bahu


Rinai membasahi jendela. Ada yang mengetuk bening-bening kaca yang hening. Sehening sandaran di sebuah bahu. Tapi jantung kita tak pernah bisa hening. Degupnya menggema ke Ankara dan tepian bumi. Mengisyaratkan pertautan sederhana. Antara kau yang hujan dan aku yang tanah kering.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Yogyakarta, 25 Agustus 2017

Sepinggan Sore


Aku sepinggan sore yang dihidangkan waktu, penuh remah-remah cahaya, gemerisik lemah daun yang dibisik angin, awan-awan yang  rambutnya memutih, dan pucuk-pucuk padi menguning dengan bulir-bulir matanya menatap ke langit, setengah merunduk. Aku sepinggan sore yang dahaga matamu untuk segera menatap, sebentar lagi aku menghilang. Tawamu janganlah turut pula. Sisakan secuilnya buatku di esoknya. Aku sepinggan sore yang tabah heningnya dirontokkan gemuruh roda-roda baja kereta api, tetapi tak pernah sabar diluruhkan heningmu di suatu masa. Aku sepinggan sore yang menyisakan sungai di bawah jembatan untuk bercerita panjang lebar tentang tepian-tepian sampai ke muaranya. Ingatlah, tepian itu adalah tebing yang dihajar waktu nan abadi. Kelok-keloknya punya kisah masing-masing yang dirahasiakan. Aku sepinggan sore yang berharap menjadi cameo dalam mimpi-mimpimu yang langka. Malam sebentar lagi tiba.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Di atas Gerbong 7,
25 Agustus 2017
Gambar diambil dari wallpaperscraft.com

Pertemuan di Segelas Teh


Suatu waktu, jari-jarimu memeluk gelas teh hangat yang tak rela kaujauhkan untuk sesaat. Tawamu mengombak, mencoba menepis raihan tangan matahari  yang berusaha merengkuh pundak-pundak kita.

Di ujung persuaan, ada yang bergolak di dada, samudra keheningan yang akan segera tumpah. Muara dari sungai kehilangan. Di situlah, engkau seperti empu: “Mengapa kita harus kehilangan, kalau sesungguhnya kita tak punya apa-apa?”

Engkau mudah begitu. Sedangkan aku, pemilik segala pendakuan, sungguh muskil.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
23 Agustus 2017
Foto Stasiun Jenar

Anak-anak Kesunyian


Jalanan ini mengaduh lirih ketika gerimis menindih, bukan karena mesin-mesin yang melindas tanpa jiwa yang awas, ia memilin kesah dalam setiap madah, menggemakan sekuntum hening yang sebegitu bening.

Rinai di Jakarta, di Istanbul, mengalir dari pipi-pipi langit dan menara merah. Rasanya sama, tajamnya beda. Di sini lebih sembilu. Mengiris baja ketangguhan yang pura-pura disuguhkan.

Sekuntum dua kuntum barangkali keniscayaan. Tetapi jika sepanjang malam, telinga siapa yang mampu bertahan mengunyah kesenyapan. Desibel. Resonansi. Gaung. Coba kauhitung gelegarnya. Barangkali bersama gemericik lembaran sajak yang terbakar api.

Jalanan ini mengaduh lirih. Hanya didengar telinga dan hati para pecinta. Di dada mereka, bersemayam anak-anak kesunyian yang dikumpulkan. Kelak mereka akan dewasa. Dan kita tertawa bersama sebagai orang tua yang paling penyayang.

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
APTB, 15 Agustus 2017