Saya kembali ke Bandung. Kota yang banyak meninggalkan kenangan sedari dulu. Goenawan Mohamad pernah menulis catatan pinggir dengan judul satu kata itu. Lead-nya demikian:
Di bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas budak. Ia namai pertemuan itu “Call”. Ia tak berkhotbah. Baby Suggs hanya berkata, “Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang pada rumput.”
Waktu mengantar Ayyasy ke Bandara Soekarno Hatta pada 27 April 2024.
Waktu itu Pasar Minggu sedang hujan deras. Apalagi pas jam pulang kantor. Terowongan Pasar Minggu menuju Tanjung Barat hanya bisa dilalui satu jalur karena banyak pemotor yang berteduh di sana.
Saya menelepon Ayyasy. Dering itu tidak lama. Ayyasy langsung mengangkatnya. Ia sedang tidak bekerja. Ayyasy memang sedang libur kuliah, libur semesteran. Ia sudah hampir empat tahun di Jerman. Hampir tiga tahun ia berada di Berlin saat ini. Menuntut ilmu di Technische Universität Berlin.
Ada ibu-ibu terburu-buru mengejar KRL di Stasiun Pondok Ranji. KRL belum beranjak. Pintunya masih terbuka. Namun, suara masinis dari pelantang suara yang memperingatkan pintu akan segera ditutup terdengar. Karena melihat enggak ada yang lowong di setiap pintu KRL, ia ragu untuk masuk atau tidak.
Aku yang persis berada di barisan depan di pintu KRL itu langsung memberi isyarat kepadanya yang berarti: “Ke sini, Bu.” Aku menggeser tubuh ke belakang untuk memberi tempat buat kakinya berpijak. Ia memahami isyarat itu dan masuk.
Bersama anak-anak yatim di Lembaga Amil Zakat Nasional Mizan Amanah, Rawajati, Jakarta Selatan.
Seusai saya mengajar melalui MS Teams, salah seorang anggota tim saya masuk ke dalam ruang kerja. Ia menyerahkan kantong merah. “Pak, kurir menitipkan ini di resepsionis untuk diberikan kepada Bapak,” katanya.
Saya menerimanya. Kantong itu terasa sekali massa bendanya dan berisi dua kotak yang saya tak tahu isinya apa. “Dari siapa, Mas?” tanya saya.
Sejak awal menikah sampai hari ini, kalau saya hitung-hitung, empat kali kami berutang.
Pertama, saat saya membeli rumah setelah menikah. Menurut saya, rumah itu penting sekali dimiliki karena rumah akan menjadi fondasi masa depan dan tempat pulang. Bapak saya pernah mengatakan, “Barang yang wajib kamu beli setelah menikah adalah rumah.”
Pemandangan dan suasana pagi di Wringinputih, Borobudur, Magelang.
Ketika kami kembali ke Semarang dari Magelang pada Ahad petang, 14 April 2024, kami tidak mengambil jalur biasa: jalan Magelang-Ambarawa karena padatnya yang minta ampun. Kami mengambil jalan alternatif, yaitu Jalan Grabag-Pucang.
Google Maps mengarahkan mobil kami belok kiri ke Jalan Grabag Secang. Seharusnya kami belok, tetapi kami abaikan. Mau putar balik juga nanggung karena Google Maps menunjukkan jalur lainnya. Akhirnya kami terus melaju menuju jalur lain yang ditunjukkan oleh Google.
Seperti di tahun-tahun sebelumnya, kami menyengaja untuk mudik pada satu hari menjelang lebaran. Bukan tanpa maksud. Ini upaya kami untuk memaksimalkan hari-hari dan malam-malam terakhir Ramadan.
Biasanya pun jalanan sudah tidak seramai pada dua-empat hari sebelum Idulfitri. Nyatanya memang benar. Perjalanan kami hanya sebentar. Google Maps menginformasikan, kami membutuhkan hanya lima sampai enam jam menuju tempat tujuan.
Ada video yang menunjukkan seorang guru ngaji memegang tongkat kayu berukuran 50 cm. Tongkat itu akan dipukulkan ke paha atau lutut muridnya yang salah dalam membaca Al-Qur’an. Keras sekali pukulan itu sampai terdengar nyaring.
Walaupun di depan guru ngaji itu ada beberapa murid yang secara bersamaan mengaji dengan bacaan yang berbeda, telinga guru ngaji itu tajam menyimak setiap huruf yang keluar dari mulut-mulut muridnya.
Pagi ini saya berangkat tugas ke Surakarta, Jawa Tengah.
Seperti biasa saya berangkat dua jam sebelum keberangkatan. Dua jam itu berarti saya baru mulai memesan mobil daring menuju Bandara Soekarno Hatta. Saya perkirakan mobil daring itu akan sampai di terminal tiga Bandara Soekarno Hatta satu jam kemudian. Masih cukup waktu untuk masuk ke dalam badan pesawat.