Literasi dan Kereta Api


Stasiun Jatibarang pada 29 Desember 2017 (Foto milik pribadi). 

Buat saya, mengingat sosok ayah adalah mengingat tentang literasi dan kereta api.

Di keluarga kami, anak-anak memanggil ayah dengan sebutan Bapak. Bapak adalah penjual majalah bekas, teka-teki silang (TTS), dan novel, selain menjual barang kelontong di rumahnya di kota kecil bernama Jatibarang, Indramayu.

Baca Lebih Lanjut

Obituari Arif Budiono: Hari Terakhir Pertemuan Kita


Setelah seharian rapat, mestinya Pak Arif Budiono ini menginap satu kamar dengan saya malam itu. Namun, ia meminta izin kepada Ibu Kepala Kantor untuk tidak mengikuti rapat besok. Ia harus ke Rumah Sakit Harapan Kita petang itu juga untuk mempersiapkan tindakan operasi jantung pada keesokan harinya. Ini menjadi pertemuan terakhir kami dengannya.

Jumat itu, Pak Arif dioperasi dan langsung tidak sadarkan diri pascaoperasi. Kami—pegawai KPP Badan dan Orang Asing—tidak diperkenankan melihat langsung kondisinya karena Pak Arif Budiono masih berada di ruang ICU.

Baca Lebih Banyak

Bang Arie: Orang Betawi Memang Banyak Gayanya


Namanya Arie Irawan. Bang Arie adalah panggilannya. Lelaki Betawi berpeci dan berambut panjang ini meneruskan usaha menjual kerak telor dari mendiang engkong dan babehnya. Sejak tahun 2000 ia menekuni usaha itu. “Setiap tahun saya juga jualan di PRJ (Pekan Raya Jakarta),” katanya. Kerak telor memang sudah menjadi ikon PRJ sejak dulu. Ada sekitar 60-an pedagang kerak telor di area dalam PRJ. Mereka tergabung dalam paguyuban penjual kerak telor.

Usai perhelatan itu, ia langsung membayar uang muka kepada paguyuban PRJ untuk memastikan tahun depan lapaknya tidak tergantikan. Nilainya besar sekitar puluhan juta rupiah. Biasanya ia mangkal di Kranji, di depan Kantor Kecamatan Bekasi Barat. Selain itu, ia mengikuti kegiatan UMKM di kantor-kantor. Contohnya di Kompleks Pajak Kalibata selama dua hari ini. Dari rumahnya di Bekasi, ia menyewa taksi daring untuk membawa pikulan dan peralatan masaknya ke Kalibata.

Continue reading Bang Arie: Orang Betawi Memang Banyak Gayanya

Kembali ke Bandung dan Sajak-Sajak Kecil kepada M


Saya kembali ke Bandung. Kota yang banyak meninggalkan kenangan sedari dulu. Goenawan Mohamad pernah menulis catatan pinggir dengan judul satu kata itu. Lead-nya demikian:

Di bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas budak. Ia namai pertemuan itu “Call”. Ia tak berkhotbah. Baby Suggs hanya berkata, “Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang pada rumput.”

Baca Lebih Lanjut

Jika Sempat, Singgah Dulu ke Rotterdam, Yas


Waktu mengantar Ayyasy ke Bandara Soekarno Hatta pada 27 April 2024.

Waktu itu Pasar Minggu sedang hujan deras. Apalagi pas jam pulang kantor. Terowongan Pasar Minggu menuju Tanjung Barat hanya bisa dilalui satu jalur karena banyak pemotor yang berteduh di sana.

Saya menelepon Ayyasy. Dering itu tidak lama. Ayyasy langsung mengangkatnya. Ia sedang tidak bekerja. Ayyasy memang sedang libur kuliah, libur semesteran. Ia sudah hampir empat tahun di Jerman. Hampir tiga tahun ia berada di Berlin saat ini. Menuntut ilmu di Technische Universität Berlin.

Continue reading Jika Sempat, Singgah Dulu ke Rotterdam, Yas

IKJ atau ITB?




“Nanti ada lomba cipta puisi. Siapa di kelas ini yang mau ikut?” tanya ustazah kepada murid-muridnya.

“Kinaaaaan!!!!” serempak semua murid tanpa dikomando berteriak menyebut satu nama.

Baca Lebih Banyak

Seragam Rabu


Ada ibu-ibu terburu-buru mengejar KRL di Stasiun Pondok Ranji. KRL belum beranjak. Pintunya masih terbuka. Namun, suara masinis dari pelantang suara yang memperingatkan pintu akan segera ditutup terdengar. Karena melihat enggak ada yang lowong di setiap pintu KRL, ia ragu untuk masuk atau tidak.

Aku yang persis berada di barisan depan di pintu KRL itu langsung memberi isyarat kepadanya yang berarti: “Ke sini, Bu.” Aku menggeser tubuh ke belakang untuk memberi tempat buat kakinya berpijak. Ia memahami isyarat itu dan masuk.

Baca Lebih Lanjut

Puding Merah Muda


Bersama anak-anak yatim di Lembaga Amil Zakat Nasional Mizan Amanah, Rawajati, Jakarta Selatan.

Seusai saya mengajar melalui MS Teams, salah seorang anggota tim saya masuk ke dalam ruang kerja. Ia menyerahkan kantong merah. “Pak, kurir menitipkan ini di resepsionis untuk diberikan kepada Bapak,” katanya.

Saya menerimanya. Kantong itu terasa sekali massa bendanya dan berisi dua kotak yang saya tak tahu isinya apa. “Dari siapa, Mas?” tanya saya.

Baca Lebih Lanjut

Life Hack Hidup Tenang Tanpa Utang


Ilustrasi uang. (Foto: Istimewa)

Sejak awal menikah sampai hari ini, kalau saya hitung-hitung, empat kali kami berutang.

Pertama, saat saya membeli rumah setelah menikah. Menurut saya, rumah itu penting sekali dimiliki karena rumah akan menjadi fondasi masa depan dan tempat pulang. Bapak saya pernah mengatakan, “Barang yang wajib kamu beli setelah menikah adalah rumah.”

Continue reading Life Hack Hidup Tenang Tanpa Utang

Disasarkan Google Maps ke Tepi Jurang


Pemandangan dan suasana pagi di Wringinputih, Borobudur, Magelang.

Ketika kami kembali ke Semarang dari Magelang pada Ahad petang, 14 April 2024, kami tidak mengambil jalur biasa: jalan Magelang-Ambarawa karena padatnya yang minta ampun. Kami mengambil jalan alternatif, yaitu Jalan Grabag-Pucang. 

Google Maps mengarahkan mobil kami belok kiri ke Jalan Grabag Secang. Seharusnya kami belok, tetapi kami abaikan. Mau putar balik juga nanggung karena Google Maps menunjukkan jalur lainnya. Akhirnya kami terus melaju menuju jalur lain yang ditunjukkan oleh Google.

Continue reading Disasarkan Google Maps ke Tepi Jurang