Pulang Pergi Yogya-Jakarta Tiap Pekan, Ibu Muda Ini Selalu Membawa Box Berisi ASI untuk Buah Hatinya



Kereta Api 119 Senja Utama Yogya melaju kencang Minggu malam itu. Suasana di dalam kereta yang menuju Jakarta itu sesak dengan penumpang. Tidak aneh, karena sebagian dari mereka adalah anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), sebutan buat para pekerja yang mencari nafkah di ibu kota dan pada akhir pekan pulang kampung.

Besok Senin, mereka harus kembali ke tempat kerja. Perjalanan jauh itu menguras tenaga, walau sekadar duduk di tempat. Istirahat yang cukup diperlukan agar mereka bisa langsung bekerja. Sebagian dari mereka memanfaatkan sela-sela kosong di bawah kursi penumpang sebagai tempat tidur.

Walau kebanyakan anggota PJKA adalah laki-laki, ternyata malam itu terselip di antaranya seorang perempuan. Yang unik dari perempuan berjilbab ini, ia membawa cooler box. Sebagian orang menyangka, isinya adalah biota yang ditelitinya.

 
Continue reading Pulang Pergi Yogya-Jakarta Tiap Pekan, Ibu Muda Ini Selalu Membawa Box Berisi ASI untuk Buah Hatinya

Melihat Tukul, Wanita Hamil Tua ini Histeris dan Terjun dari Ketinggian


joker-layout-news-papers

 

Demi mengejar jumlah kunjungan, media online menempuh berbagai cara. Antara lain dengan membuat judul yang bombastis terutama berkaitan dengan artis. Nama mirip artis bahkan pejabat dijadikan barang jualan sekalipun isi beritanya tidak berkaitan sama sekali dengan yang empunya nama sebenarnya.

Republika Online (ROL) pada tanggal 6 September 2014 menurunkan berita dengan judul: “Tak Kuat Hadapi Cobaan, Ari Wibowo Nekat Bunuh Diri”. Kedaulatan Rakyat Online di hari berikutnya menurunkan berita semacam dengan judul: “Ari Wibowo Akhirnya Tewas”.

Berlanjut pada hari ini Minggu, 21 September 2014, ROL juga menurunkan berita heboh lagi, “Dewi Lestari Minum Racun Karena Dimarahi Gurunya”. Mundur ke belakang pada bulan Januari 2014, Detiknews juga membuat berita berjudul “Nia Daniati Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumah”. Baca Lebih Lanjut

Anak siapakah ini? Sungguh beruntung Orang Tua yang Memilikinya.


Anak siapakah ini? Sungguh beruntung Orang Tua yang Memilikinya.

Ketaatan terhadap syariat agama yang mulia seringkali ditampilkan oleh orang-orang yang sudah dewasa. Hal yang biasa pula kalau itu ditunjukkan seorang anak kecil yang bersekolah di sekolah-sekolah berlabel agama atau tinggal dekat komunitas santri. Namun tidak untuk kali ini. Seorang anak SD sudah mulai menunjukkan ketaatan yang menyentuh perasaan salah satu pengguna akun Facebook bernama Rifki Ramdan Maulana.

Rifki sempat memotret anak itu dari belakang dan mengunggahnya di linimasa Facebooknya serta menulis demikian:


Anak SD itu. (Sumber foto dari akun Facebook: Rifki Ramdan Maulana)

  Baca Lebih Lanjut.

PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT


PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT

071814_0401_PATRIOTISME1.jpg

“War costs money”

Franklin D Roosevelt, Januari 1942

Wajahnya kusut tapi dengan senyum yang tak pernah lepas. Kumis yang menyambung dengan jenggot di dagu. Penampilannya tidak seberapa tinggi. Berkulit coklat. Umurnya mendekati lima puluhan. Laki-laki itu membawa secarik kertas datang ke ruangan Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan. Saya menyambut dengan tangan terbuka, menjabat erat tangan, dan mempersilakan duduk untuk menjelaskan maksud kedatangan.

Ia warga Tapaktuan. Pemilik sebuah CV yang sudah lama bangkrut. Sekarang hanya mengandalkan bisnis fotokopi. Jauh dari kondisi jayanya pada tahun 2008 ke bawah sebagai penyuplai kebutuhan kantor. Rumahnya sudah diberi plang oleh sebuah bank. Ternyata ia tiba untuk memenuhi undangan kami. Sedianya ia diminta datang membahas penyelesaian utang pajaknya pada hari Selasa pekan depan, namun dikarenakan ia punya urusan di hari itu, Rabu pekan ini ia sempatkan diri memenuhi panggilan.

“Saya tahu Pak saya masih punya utang. Dan saya datang ke sini bukan untuk meminta keringanan atau penghapusan. Saya akan tetap bayar semuanya. Tapi tidak bisa sekarang. Mohon kesempatannya untuk bisa mencicil,” katanya menjelaskan. “Saya tidak mau punya utang kepada siapa pun. Utang kepada orang lain ataupun kepada negara. Saya tak mau mati membawa utang. Setiap utang akan diminta pertanggungjawabannya,” tambahnya lagi.

Baca Lebih Lanjut

Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina


Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina

 

 

Aksi solidaritas untuk Palestina yang dilakukan oleh ribuan masyarakat pada hari Ahad (13/7) di Bunderan Hotel Indonesia Jakarta menyisakan kisah-kisah yang sangat mengharukan. Kisah-kisah tentang kepedulian para mustad’afin (orang-orang lemah) kepada saudara-saudaranya di bumi Palestina yang menjadi korban kebiadaban Israel.

Apa saja kisah-kisah mengharukan tersebut? Diantaranya diutarakan oleh Ririn, administrator komunitas ODOJ (One Day One Juz) 46. Komunitas yang mempunyai program memfasilitasi dan mempermudah umat Islam agar dapat membiasakan tilawah Alquran satu juz sehari. Kisah ini telah beredar melalui pesan dalam grup ODOJ pagi ini. Menarik untuk disimak.

Ceritaku sebagai tim sunduk dari ODOJ di Aksi Solidaritas untuk Palestina. Awalnya rada sungkan, namun lama kelamaan asyik juga, apalagi kalau yang dikasih berupa Garuda Merah (lembar uang dengan nominal seratus ribu rupiah—red).

Berada di antara ratusan mobil yang lalu-lalang. Bahagia banget kalau ada ada yang membunyikan klakson kemudian membuka sedikit jendelanya dan si Garuda Merah atau Biru masuk ke kantong hijau ODOJ. Senang bukan main.

Tetapi ada satu hal yang membuat aku sampai mengeluarkan air mata di antara air hujan yang membasahi bumi yaitu sepasang suami istri dengan motor butut memberikan beberapa lembar Garuda Merahnya. Setelah memberikan lembaran itu, suami tersenyum kepada istrinya seraya berkata, “Ikhlas ya Mi, sahur dengan mi rebus?” Anggukan anggun si istri membuat aku terpana. Ya Allah, itu lembar terakhir mereka. Semoga Allah ganti lembaran-lembaran Garuda Merahmu untuk saudara muslim di Palestina kita dengan surga-Nya, wahai saudara muslimku.

Kemudian ada juga pemulung yang memberikan uang recehnya untuk saudara muslim Palestinaku seraya ia berkata, “Neng, Bapak bisa gak ya ke Palestina?” Tanyanya. “Kalau mau perang ke sana harus punya hafalan 30 juz ya Neng? Aduh, Bapak mah boro-boro hafalan, salat saja bolong-bolong, tapi Bapak pengen ke sana, Bapak ingin syahid Neng.”

Bapak pemulung itu berpakaian lusuh, namun hatinya laksana mutiara. Sepanjang menjalankan kotak sunduk, air mataku mengalir. Mereka mengajarkan kedahsyatan yang luar biasa. Hari ini aku bersyukur bisa terlibat menjadi bagian hal ini.

Bagi para pembaca jangan melewatkan diri untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Palestina dengan memberikan infak terbaiknya. Jika tidak, minimal dengan doa yang tidak putus-putusnya. Apalagi di bulan Ramadhan ketika Allah banyak memberikan waktu mustajab buat orang yang berpuasa untuk berdoa. Doa adalah senjata kaum beriman. [Riza Almanfaluthi]

ANDA PEREMPUAN? JANGAN TAKUT URUS SERTIFIKAT SENDIRI DI BPN


ANDA PEREMPUAN? JANGAN TAKUT URUS SERTIFIKAT SENDIRI DI BPN

 

Setelah membaca blog saya tentang Biaya Peningkatan Status Hak Guna Bangunan Menjadi Hak Milik seorang ibu bernama Dyah Ully mencoba mengurus sendiri sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB)-nya yang hampir kedaluarsa menjadi sertifikat Hak Milik di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu (19/6).

Tidak diketahui alasan yang sebenarnya dari Ibu Dyah Ully untuk mengurus sendiri di BPN. Tapi dari komentarnya yang sempat masuk di sana, Ibu Dyah Ully ingin pengurusan sertifikat ini selesai agar tidak menyulitkan anaknya di kemudian hari. Alasan yang bagus menurut saya. Menjadikan anak keturunan kita tidak membawa beban orang tuanya.

Setelah menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan dan diawali dengan kecemasan tentang rumitnya birokrasi di BPN hingga membuatnya tidak bisa tidur serta biaya yang harus dibayar, Bu Dyah Ully menekadkan diri untuk langsung aksi daripada diam termangu tanpa melakukan apa-apa dan mendapatkan hasil. Berikut kisah lengkap Ibu Dyah Ully untuk bisa kita simak bersama-sama.

Kantor Pertanahan BPN Kota Administratif Jakarta Selatan (bpn.go.id)

*

Selasa, 17 Juni 2014

Tadi saya mulai dengan mencari kantor BPN Jakarta Selatan. Karena rupanya sejak 2011 kantornya pindah dari Jalan Prapanca ke Jalan Alwi di Tanjung Barat. Dan rupanya sesuai dengan hasil googling sana sini, kantornya nyelempit di antara rumah penduduk dan jalannya hanya muat satu mobil. Jalan masuknya pas di sebelah Showroom Auto2000, Lenteng Agung arah Depok sana. Dengan plang super mini: Kantor BPN Jakarta Selatan. Okelah, alhamdulillah ketemu dan rupanya ada tempat parkir yang lumayan lega.

Suasana kantor ramai luar biasa mirip dengan kantor imigrasi kira-kira. Saya menghampiri satpam dan tanya koperasi di mana. Rupanya di luar kanan belakang. Di sana saya membeli formulir permohonan peningkatan hak rumah tinggal. Mapnya warna putih. Oh iya saya sebelumnya di tanya luas tanah apakah melebihi 600 meter persegi atau tidak ? Saya bilang tidak. Tanah saya hanya 200 meter persegi. Mungkin beda formulirnya buat tanah berukuran 600 meter persegi ke atas.

Lalu saya tanya pada petugas, apakah fotokopinya perlu dilegalisir? Saya belum sempat melegalisir. Ini juga tadi langsung berangkat ke sini mumpung bayi saya anteng dan bisa ditinggal. Rupanya fotocopi KTP dan KK harus dilegalisir di kelurahan. Okelah. Biaya formulir 10 ribu saja. Pas juga sudah saya siapkan.

Jadi saya pulang dan akan saya isi dulu serta lengkapi persyaratannya. Sama kok yang diminta adalah fotokopi KTP dan KK dilegalisir, fotokopi IMB, fotokopi SPPT PBB tahun berjalan. Yang lupa saya lakukan adalah masuk dan bertanya di helpdesk kira-kira brp biaya yg hrs saya siapkan.

Tapi ya sudah, besok setelah lengkap saya akan kembali dan semoga saja biaya resminya tidak mahal. Amin.

 

Kamis, 19 Juni 2014

Barusan saya pulang dari kantor BPN Jakarta Selatan. Semua persyaratan sudah saya lengkapi. Fotokopi KTP dan KK yg dilegalisir, fotokopi IMB, dan fotokopi SPPT PBB.

Saya baru sampai kantor itu jam 10. Lalu mengambil nomor antrian. Sudah nomor 661. Rupanya nomor antrian sudah panjang sekali. Suasana sangat ramai. Waktu saya lihat, antrian nomor pengurusan baru 600. Saya mengikuti petunjuk Pak Riza, mencari loket 2. Saya duduk di bangku yg menghadap loket itu. Kelihatannya Pak Petugas tidak memanggil nomor antrian. Setelah menunggu 15 menit tanpa kepastian, saya mendatangi Pak Petugas dan bertanya, “Pak mau urus pengalihan hak dimana ya?”

Pak Petugas dengan ramah menjawab, “di sini bu. Mari saya periksa.”

“Maaf pak, biayanya berapa?“

“50 ribu Bu,” jawabnya. Saya kaget dan senang mendengarnya.

Alhamdulillah, diperiksa semua data, persyaratan lengkap, dan sertifikat asli diminta. Lalu dilepas dari map hijaunya. Contreng-contreng terus Pak Petugas bilang, “sudah ke pemetaan? Sambil menunjuk ke petugas di sebelahnya.

Oh belum, lalu map pun pindah tangan, diperiksa di komputer lalu dicap dan diberikan kembali ke Pak Petugas pertama. “Ditunggu dulu Bu,” Katanya. Alhamdulillah langsung diproses. Saya menunggu sekitar setengah jam dengan deg-degan karena tidak memakai nomor antrian. Lalu saya dipanggil lagi, diberikan surat pembayaran, benar tertulis lima puluh ribu rupiah. “Nanti habis bayar kemari lagi ya,“ Kata Pak Petugas.

Lalu saya ke loket pembayaran, dan menunggu kuitansi tanda pembayaran. Sekitar setengah jam kemudian, nama saya dipanggil. Saya kembali ke loket 2, lalu Pak Petugas dengan ramah menginformasikan bahwa di kantor BPN Jakarta Selatan ini untuk peningkatan hak pelayanannya ada juga di hari Sabtu. Malah kalau hari Sabtu, langsung jadi hari itu juga (one day service). Berhubung HGB saya sudah hampir kedaluwarsa saya tidak berani ambil risiko dengan datang ke BPN di hari Sabtu. Kelamaan. Nah karena saya datang di hari kerja biasa maka untuk sertifikat saya jadi dalam tujuh sampai sepuluh hari kerja.

Alhamdulillah. Saya tinggal menanti dan mengambil hasilnya. Semoga lancar dan dimudahkan. Terima kasih atas sharing-nya Pak Riza, yang membuat saya berani urus sendiri lewat jalur resmi. Terima kasih kasih buat pejabat negara yang sudah memudahkan ibu rumah tangga seperti saya bisa mengurus sendiri surat tanahnya. Sekian sharing saya, Terima kasih dukungannya.

*

Ayo perempuan Indonesia jangan takut dengan birokrasi. Jangan takut urus sendiri sertifikat di BPN. Ada beberapa birokrasi yang sudah mau berubah. Sudah bukan zamannya lagi birokrasi yang mengagung-agungkan kredo “kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah”. Selain BPN tentunya ada kantor pajak di seluruh Indonesia yang senantiasa memudahkan dalam memberikan pelayanan perpajakan. Jangan takut pula Anda, Wajib Pajak, untuk datang mengurus sendiri hak perpajakan Anda ke kantor pajak.

***

 

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

12 Juli 2014

Mbok-mbok Penjual Kapur Sirih Taat Pajak Menjadi Viral di Media Sosial


Mbok-mbok Penjual Kapur Sirih Taat Pajak Menjadi Viral di Media Sosial

 

    Seorang pegawai pajak bernama Wahyu Widayat dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Magelang kedatangan seorang mbok-mbok penjual kapur sirih dan gambir dari Lereng Merbabu, kemarin (7/7). Kesederhanaan dan ketaatan seorang wanita desa memenuhi himbauan membayar pajak berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 (PP46/2013) telah menyentuh hati Account Representative di KPP tersebut.

    Curhatan Wahyu Widayat tentang nenek-nenek itu sebagaimana ditulis dalam laman Facebook-nya kini telah menjadi viral di media sosial. Berikut cerita lengkapnya:

“Trenyuh. Mbok, terima kasih atas partisipasinya dalam membayar pajak. Hari ini aku merasa malu. di hadapanku datang mbok-mbok penjual kapur sirih dan gambir di Lereng Gunung Merbabu. Letaknya jauh. Untuk pergi ke pasar saja butuh 1 jam turun gunung karena tidak ada angkot, kemudian baru ngangkot ke pasar setelah sampai di jalan.

Beliau mendapatkan surat himbauan PP 46. Dengan sedikit terbata-bata dengan bahasa Jawa (karena tidak bisa berbahasa Indonesia) mbok ini mengklarifikasi surat himbauan tersebut. Beliau takut kalau masih ada kekurangan pembayaran pajaknya. Karena setiap bulannya sudah tertib membayar PPh Pasal 25-nya dan juga SPT Tahunannya sudah lapor. Deg. Rasanya gimana gitu…

Setelah mendapat penjelasan, beliau mengucapkan terima kasih karena bukan kekurangan pembayaran seperti yang dikira olehnya. Terima kasih Mbok. Satu pelajaran besar yang kau berikan hari ini. Thanks God. Aku akan bekerja lebih baik.”

Simbok Penjual Sirih dan Gambir dari Lereng Merbabu yang datang ke kantor pajak untuk mengklarifikasi surat himbauan PP 46 (Foto diambil dari laman facebook Wahyu Widayat).

 

    Seperti dikutip dari laman pajak.go.id, PP46/2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu telah diberlakukan oleh Pemerintah sejak 1 Juli 2013. Peraturan Pemerintah ini mengatur Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tidak lebih dari 4,8 Milyar untuk membayar PPh final sebesar 1% dari omzet bulanan.

    Di tengah banyaknya pengemplang pajak dan Wajib Pajak yang tidak mau membayar pajak atau pun sekadar datang untuk memenuhi himbauan yang dikirimkan oleh kantor pajak, simbok yang sederhana dan mempunyai penghasilan tak seberapa ini telah memberikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa pajak dalam kondisi apapun harus dibayar. Tidak menjadi soal seberapa besar kontribusi yang diberikan melainkan ketaatan dalam mematuhi aturan main yang telah ditetapkan oleh Negara. Sudahkah Anda membayar dan melaporkan pajak dengan benar?

[RizaAlmanfaluthi]

 

SEKALIBER TRIBUNNEWS PAKAI FOTO EDITAN


SEKALIBER TRIBUNNEWS PAKAI FOTO EDITAN

    

    Pada tanggal 3 Juli 2014, media online tribunnews.com menampilkan berita yang berjudul “Nasi Kotak yang Dibagi-bagikan Prabowo di Dalamnya Ada Duit Rp 50 Ribu!”. Tak lupa sebagai peneguh atas judul tersebut sekaligus sebagai dramatisasi maka Tribunnews menampilkan foto nasi kotak dengan gambar uang lima puluh ribuan tertempel di tutup nasi kotak. Caption yang tertulis di bawah foto sebagai berikut: “Nasi kotak yang dibagi-bagikan Prabowo saat kampanye di Lapangan Lumintang Bali, Selasa 1 Juli 2014. Tampak terselip uang Rp 50 ribu.”

    Dengan caption seperti itu maka dinyatakan dengan tegas bahwa foto nasi kotak itulah yang dibagi-bagikan pada saat kampanye Prabowo di Lumintang, Bali (1/7). Di era penuh dusta seperti saat ini maka sebagai pembaca yang cerdas tentu tidak mudah untuk percaya. Sebaiknya pun menggunakan dengan baik dan benar anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita yaitu otak.

    Benarkah nasi kotak itu yang diberikan pada saat kampanye Prabowo? Ternyata itu foto tertanggal 11 Juli 2007. Pengguna facebook menunjukkan tautan bahwa foto yang ditampilkan oleh tribunnews.com adalah foto hasil editan. Tautan tersebut berasal dari sini: http://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Nasi_gudeg_nasi_kotak.JPG . Dari situs wikimedia.org tersebut maka dapat diketahui pula oleh kita metadata dari foto yang berjudul Nasi Gudeg Nasi Kotak.jpg.

    Terlihat dari foto asli nasi kotak tersebut tidak ada gambar uang lima puluh ribuan. Gambar nasi kotak isi nasi gudeg, ayam goreng, dan rendang telur pun lebih tajam dan menggugah selera daripada yang ditampilkan oleh Tribunnews. Selain itu Tribunnews menampilkan tautan sumber dari foto tersebut yaitu: http://www.matammasa.org. Namun ketika diklik tautan tersebut tidak dapat dibuka.

    Suasana pilpres 2014 membuat para pekerja media terbelah. Profesionalisme, cek dan ricek, hanya menjadi barang mewah. Jumlah hits sekarang menjadi tujuan utama. Kini para pembaca harus lebih cerdas dalam membaca. Karena banyak media yang melacurkan idealismenya. Mudah melakukan kedustaan. [Riza Almanfaluthi]

**

http://www.suaranews.com/2014/07/sekaliber-tribunnews-pakai-foto-editan.html?m=1

 

 

 

TAX GOES TO SCHOOL: INVESTASI MASA DEPAN DI KOTA PALA


TAX GOES TO SCHOOL: INVESTASI MASA DEPAN DI KOTA PALA


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari ini membuktikan kalau para pelajar SMA Negeri 1 Tapaktuan tidak hanya mementingkan dirinya sendiri melainkan juga tahu tentang tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik. Ilmu pajak ini harus dapat dipahami dan disebarkan kepada yang lain. Contohnya kepada orang tua masing-masing. “Tanya kepada mereka, sudah bayar pajak atau belum?”

Hal ini dinyatakan oleh Eli Darmi, Kepala SMA Negeri 1 Tapaktuan, dalam sambutannya di acara Tax Goes To School yang diselenggarakan di aula SMA Negeri 1 Tapaktuan, Rabu (4/6). Tak kurang dari 63 pelajar mengikuti acara itu. Acara yang digagas oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bekerjasama dengan SMA Negeri 1 Tapaktuan ini merupakan salah satu agenda sosialisasi tahunan ke sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Aceh Selatan.

“Sosialisasi ini merupakan road show investasi pemahaman pentingnya pajak buat pembangunan negeri. Karena merekalah calon pembayar pajak di masa depan,” ujar Kepala KPP Pratama Tapaktuan, Jailani, saat dimintakan keterangannya. Dalam sambutannya ia berpesan agar pelajar SMA Negeri 1 Tapaktuan tidak menyia-nyiakan waktu mudanya dengan cara belajar yang baik di sekolah ini. “Sekolah ini dibiayai dengan pajak yang dibayarkan Wajib Pajak dan dikumpulkan oleh negara,” tegasnya.

Kepala Seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Tapaktuan, Suardjono, sebagai Ketua Panitia acara ini menambahkan, materi penting yang disampaikan kepada pemula ini antara lain materi dasar tentang manfaat pajak, peranan pajak, dan cara pembayaran pajak. Yang terakhir ini wajib disampaikan karena masih rancunya pemahaman di masyarakat bahwa bayar pajak itu di kantor pajak. “Padahal tidak demikian. Bayar pajak ya ke bank,” jelasnya.

Sekolah yang didirikan pada tahun 1959 di kota pala ini merupakan salah satu sekolah terbaik di Aceh Selatan. Sudah banyak prestasi yang ditorehkannya. Di antaranya sekolah ini mampu mengirimkan seorang siswanya menjadi duta Aceh dalam Olimpiade Siswa Nasional tingkat nasional. Tak heran dalam acara Tax Goes To School ditampilkan pula siswa-siswi berbakat di bidang seni seperti tarik suara dan pembacaan puisi.

Direncanakan dalam bulan yang sama, KPP Pratama Tapaktuan melanjutkan road shownya ke SMA Negeri Unggul Aceh Selatan. [RizaA]

*

Riza Almanfaluthi

Diunggah pertama kali di situs intranet Sumber Daya Manusia DJP