PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT


PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT

071814_0401_PATRIOTISME1.jpg

“War costs money”

Franklin D Roosevelt, Januari 1942

Wajahnya kusut tapi dengan senyum yang tak pernah lepas. Kumis yang menyambung dengan jenggot di dagu. Penampilannya tidak seberapa tinggi. Berkulit coklat. Umurnya mendekati lima puluhan. Laki-laki itu membawa secarik kertas datang ke ruangan Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan. Saya menyambut dengan tangan terbuka, menjabat erat tangan, dan mempersilakan duduk untuk menjelaskan maksud kedatangan.

Ia warga Tapaktuan. Pemilik sebuah CV yang sudah lama bangkrut. Sekarang hanya mengandalkan bisnis fotokopi. Jauh dari kondisi jayanya pada tahun 2008 ke bawah sebagai penyuplai kebutuhan kantor. Rumahnya sudah diberi plang oleh sebuah bank. Ternyata ia tiba untuk memenuhi undangan kami. Sedianya ia diminta datang membahas penyelesaian utang pajaknya pada hari Selasa pekan depan, namun dikarenakan ia punya urusan di hari itu, Rabu pekan ini ia sempatkan diri memenuhi panggilan.

“Saya tahu Pak saya masih punya utang. Dan saya datang ke sini bukan untuk meminta keringanan atau penghapusan. Saya akan tetap bayar semuanya. Tapi tidak bisa sekarang. Mohon kesempatannya untuk bisa mencicil,” katanya menjelaskan. “Saya tidak mau punya utang kepada siapa pun. Utang kepada orang lain ataupun kepada negara. Saya tak mau mati membawa utang. Setiap utang akan diminta pertanggungjawabannya,” tambahnya lagi.

Penuturannya membuat saya merinding. Dari sekian banyak undangan yang kami sebar, hanya sedikit Wajib Pajak yang merespon dan mau datang ke kantor kami. Kedatangannya ke sini saja sudah membuatnya layak untuk diapresiasi. Apalagi ada keinginan kuat untuk membayar utang pajaknya itu.

Hal ini patut ditiru oleh Wajib Pajak yang lain. Karena di tiga wilayah kabupaten—Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan Simeulue—yang merupakan wilayah kerja KPP Pratama Tapaktuan ini masih banyak Wajib Pajak yang berusaha menghindari kewajibannya sebagai warga negara. Meskipun utang pajaknya lebih kecil dibandingkan Wajib Pajak tamu saya itu, ada Wajib Pajak yang tetap enggan membayar. Sedangkan ia mampu menjadi calon anggota dewan dan mengeluarkan biaya kampanye hingga mencapai ratusan juta rupiah.

Seringkali dijumpai orang yang secara kasat mata bisnisnya jauh dari nilai keekonomisan tetapi semangat membayar pajaknya lebih berkobar daripada orang-orang yang berkecukupan dan bisnisnya lebih sukses. Contoh, ada seorang nenek-nenek keturunan Tionghoa, sudah memiliki NPWP, penjual tabung gas eceran, suaminya pun hanya penjual kacang garing namun begitu semangat untuk mencari tahu kepada Account Representatif-nya berapa jumlah pajak yang harus dibayar.

Kontribusi kepada negara dalam bentuk pajak yang dibayarkan merupakan turunan paling nyata dari patriotisme mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara pada saat ini. Dibandingkan zaman perang kemerdekaan dulu yang membutuhkan pengorbanan jiwa, keringat, dan darah.

“War costs money,” kata Franklin D Roosevelt di bulan Januari 1942 sebulan setelah Pearl Harbor diserang Jepang. Roosevelt saat itu mengingatkan negara butuh uang. Ini berarti hanya bisa ditutupi dari pajak dan obligasi untuk membiayai perang. Dengan demikian butuh pengorbanan bersama dari seluruh warga negara Amerika Serikat . “It means cutting luxuries and other nonessentials,” tambahnya. Tujuh tahun sebelumnya ia bahkan pernah berkata, pada intinya, tak ada seorang pun menjadi kaya dengan sendirinya, tetapi karena mereka dilindungi oleh pemerintah dan sistem hukum.

Di republik ini demikian pula adanya. Adalah hal yang ironi ketika negara membutuhkan pengorbanan bersama dari warga negaranya untuk taat hukum dengan membayar pajak sesuai perundangan, orang-orang kaya itu tak mau menyisihkan sebagian hartanya. Bahkan ia kalah dengan orang-orang yang seharusnya mendapatkan distribusi merata dari pembayaran pajak orang kaya itu.

Butuh sosialisasi dan penyuluhan terus menerus agar ada pandangan yang berubah dari masyarakat untuk membayar pajak. Bahkan pemberian kurikulum pajak dalam sistem pendidikan nasional menjadi hal yang dirasa mendesak saat ini. Semuanya untuk mencetak generasi mendatang yang sadar pajak. Sembari memperkuat institusi agar menjadi institusi yang amanah serta mengawasi penggunaan pajaknya agar tidak terjadi penyimpangan.

Saya yakin, ketika itu dilakukan, kita akan memetik “yield” investasi itu di generasi nanti. Generasi yang mempunyai patriotisme yang tinggi seperti tamu saya di atas. Saat sadar bahwa utang pajak yang ia miliki juga tak akan bisa dihapus begitu rupa di akhirat sana. Inilah sejatinya patriotisme. Patriotisme yang memiliki dimensi transendental. Dimensi akhirat. Semoga.

***

Riza Almanfaluthi

Kepala Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan.

Artikel di atas dimuat dalam Buletin Pajak “Media Kanwil DJP Aceh: Pintoe Aceh” edisi Juni 2014

Advertisements

2 thoughts on “PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s