JALAN SUNYI PARA PENYAIR


Jalan Sunyi Para Penyair

Saya mencintai puisi seperti saya mencintai diri saya sendiri. Seperti saya mencintai cahaya pagi, senja sore, purnama bulat, adzan maghrib di antara rel Bandung Purwakarta, air laut di pantai, biru, telor dadar, nasi jamblang, es podeng, senyum, mata indah, lesung pipit, google, gmail, dan gtalk.

Dari dulu hingga sekarang. Saat sajak dan puisi dibacakan di depan kelas, pada peringatan tujuh belas agustusan, perlombaan baca sajak, hingga pada doa-doa yang terpanjatkan di setiap acara formal ataupun informal.

Ketika saya diminta oleh ibu guru kesenian untuk menyanyi di depan kelas, saya memelas untuk tidak bernyanyi karena memang saya tidak bisa menyanyi. Saya menawarkan membaca puisi tanpa teks. Dia menerima. Saya bacakan sajak Chairil Anwar. Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang…

Itu di depan kelas namun adanya api unggun, dentingan gitar, jaket tebal, di atas panggung rakyat yang melingkar setengahnya saja ibarat colloseum adalah pasangan yang teramat cocok atas sebuah puisi dan sajak yang terbaca di suatu malam.

Dan piagam penghargaan serta sarung biasa menjadi suvenir atas tiap kemenangan waktu itu. Terakhir di tahun 2010. Terima kasih kepada yang telah memberikan baju batik hanya disebabkan saya menjadi pemulung kata-kata pada setiap acaranya. Padahal saya tak mengharapkan apapun.

Mungkin sebelumnya hanya jadi pembaca dan penikmat, namun semenjak sma (sekolah menengah atas, kini smu) kata-kata itu mulai dipulung dari pikiran sendiri. Walau tidak terdokumentasi dengan baik hingga kuliah bahkan sampai tahun 2002 akhir. Setelah itu barulah puisi atau sajak-sajak yang terserak dikumpulkan menjadi beberapa helai di ranting cemara.

Yang pasti semua puisi itu lahir dari kegelisahan jiwa atau pada saat romantisme menggila. Mewujud hanya untuk menjadi dua kata, dua kalimat, atau tanpa batas dengan spontanitas, dua menit, tiga menit, bahkan tiga jam-an lebih untuk membuatnya. Pagi, siang, sore, malam atau dinihari. Baik sepi maupun ramai. Implisit, samar dengan makna yang tersirat, penuh dengan konotasi. Tersirat menjadi puisi atau tersirat dengan materi isi menjadi sebuah sajak.

Maka Nanang Cahyadi menguraikan puisi itu menjadi: “apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata…”

Karena puisi itu bersembunyi dalam kerumitan pemaknaan kata maka sesungguhnya penyair dan seluruh pemulung kata-kata itu—atau apapun namanya mereka—pun seringkali terjerembab dalam jalan setapak yang sunyi. Jalan yang dinikmati mereka sendiri. Tidak ada orang lain. Namun, kalaupun ada, orang itu datang dengan dahi mengerenyit sambil berkata: “maksudnya apa sih?”

Mendengar pertanyaan itu, mereka para penyair hanya bisa mendeklarasikan kalimat sakti Roland Barthez: “pengarang telah mati.” Semua makna diserahkan kepada pembaca. Apapun maknanya. Maka akan banyak tafsir yang muncul atas sebuah puisi. Bahkan kalimat maksudnya apa sih yang terlontar itu adalah salah satu tafsirnya. Tafsir dari ketidaktahuan. Jika penyair memaksakan diri untuk menjelaskan karyanya pada satu pemaknaan tunggal maka mengapa penyair tidak sekalian saja untuk berhenti membuat syair, puisi, atau sajak dan cukup dengan—mengutip Wildan Nugraha—membuat makalah serta mempresentasikannya.

Maka ketika semua itu diserahkan kepada pembacanya, saya—yang nyaman disebut pemulung kata-kata, bukan penyair—lebih mendefinisikan kembali tentang arti puisi itu. Bagi saya, ia adalah tempat menyembunyikan sesuatu. Terkadang dengan satu atau beberapa kata yang lugas dan jelas namun seringnya penuh makna. Saya merasa aman menyembunyikannya. Bahagia, marah, sedih, riang, tertawa, cinta, dan rindu. Yang pasti dan terakhir: puisi adalah tempat jiwa melabuhkan asa dan rasa.

Untuknya…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.59 18 Februari 2011

Tags: wildan nugraha, nanang cahyadi, roland barthes, pengarang telah mati, puisi, sajak, syair

diunggah pertama kali di:

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/02/18/jalan-sunyi-para-penyair/

UNTUK ADEKKU YANG MANIS


UNTUK ADEKKU YANG MANIS


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Puput, adekku yang manis, apa kabar hari ini? Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan Iman dan Islam kepada Puput. Tak lupa tentunya adalah kesehatan raga, apatah lagi sebentar kemudian hari-hari yang dinanti itu akan segera tiba. Wuih, bahagianya momen indah itu. Aang, turut bahagia sekali tentunya.

Puput, adekku yang manis. Ini bukan basa-basi loh. Bagaimana tidak manis hingga Mamah Aang senantiasa memajang foto keponakannya di ruang tamu di antara foto-foto keluarga kita. Hingga setiap pulang dari kampus—saat liburan itu—Aang selalu mendapati foto itu bertambah semakin manis-dan manis. Walaupun itu foto masa kecil Puput.

Dan tiba-tiba teknologi membuat kita terhubung dengan mudahnya setelah era facebook muncul ke permukaan dunia dan mengobrak-abrik sekat-sekat jarak yang memisahkan kita. Aang tak pernah tahu lebih jauh tentang Puput, karena Aang pernah datang ke rumah dulu, dulu sekali waktu Puput masih kecil, masih SD.

Tak disangka, tak dinyana tiba-tiba facebook membuat kita bertemu sekitar setengah tahun yang lampau. Dan tiba-tiba Puput sudah mau menautkan hati dengan sang idaman. Alhamdulillah, Aang senang.

Aang, sebagai saudara—kalau memang Puput masih menganggap Aang demikian, Insya Allah—tentunya hanya berpesan niatkanlah semata-mata pernikahan itu karena Allah swt. Tak lain dan tak bukan karena kehendak-Nya hingga semua ini terjadi. Jikalau ada bersitan niat-niat bukan karena-Nya, maka segeralah untuk meluruskannya. Ah, alangkah baiknya.

Ayah dan Ibu tentu senang bukan kepalang. Putrinya semata wayang akan menjadi seorang yang berbeda di pekan yang akan datang. Jika Allah berkenan Aang akan datang. Aang juga kangen dengan Salawu. Akankah suasana di sana seperti 15-an tahun yang lampau? Semoga.

Puput yang manis, tentunya Aang hanya bisa mendoakan di hari bahagia itu, semoga Puput menjadi:

  • Perempuan teragung sejagat raya layaknya Khadijah Istri pertama Rasulullah saw;
  • Perempuan dermawan dan murah hati layaknya Saudah binti Zam’ah;
  • Perempuan yang kesuciannya diumumkan dari tujuh lapis langit layaknya ‘Aisyah binti Abu Bakar;
  • Perempuan yang ahli puasa dan shalat layaknya Hafshah binti Umar;
  • Perempuan yang dengan kesabaran dan ketabahan membuahkan balasan yang agung layaknya Ummu Salamah;
  • Perempuan yang pernikahannya diatur dari tujuh lapis langit layaknya Zainab binti Jahsy;
  • Perempuan paling berkah bagi keluarganya layaknya Juwairiyah bin Al-Harits;
  • Perempuan yang dengan ketabahannya membuahkan balasan mulia layaknya Ramlah binti Abu Sufyan;
  • Perempuan yang berusaha di setiap detik dari usianya untuk beramal layaknya Shafiyyah binti Huyay;
  • Perempuan yang paling kuat menjaga silaturahmi layaknya Maimunah binti Al-Harits;
  • Perempuan yang memimpin para wanita surga layaknya Fatimah binti Rasulullah saw;
  • nti Al-Harits;
  • Perempuan yang memimpin para wanita surga layaknya Fatimah binti Rasulullah saw;
  • Perempuan yang paling banyak jasanya layaknya Halimahas Sa’diyah;
  • Perempuan yang menorehkan tinta emas perjalanan jihad layaknya Ummu Aiman, ibu asuh Rasulullah saw;
  • Perempuan yang mas kawinnya adalah dua kalimat sahadat layaknya Ummu sulaim;
  • Perempuan mujahidah yang senantiasa melindungi junjungannya layaknya Ummu Umarah;
  • Perempuan yang didoakan Rasulullah dengan doa : ‘”Semoga Allah mengganti selandangmu dengan dua selendang di Surga” layaknya Asma’ binti Abu Bakar;
  • Perempuan syahid dan penyabar layaknya Ummu Haram binti Milhan;
  • Perempuan yang diberi minum dari langit layaknya Ummu Syuraik;
  • Perempuan Ahli Bait yang paling dicintai oleh Rasulullah saw layaknya Umamah binti Abul ‘Ash;
  • Perempuan yang menurunkan penerus sebagai ulama terbesar dan ahli tafsir terkemuka layaknya Ummul Fadhl Lubabah ibunda Ibnu Abbas;
  • Perempuan pemilih hewan ternak yang penuh keberkahan layaknya Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah;
  • Perempuan yang diselamatkan oleh ayat-ayat Al-qur’an layaknya Ummu Kultsum binti Uqbah. Amin, amin, amin…

Berat? Namanya do’a Puput yang manis. Sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Dan Allah Maha Mendengar.

Itu saja Puput yang manis dari Aang. Sudah malam yah, Aang ngantuk. Semoga ukhuwah kita tetap terjaga. Dan jangan lupa untuk dapat mampir ke Citayam. Di sana ada keponakan-keponakan Puput: Haqi, Ayyasy, dan Kinan.

Manusia tak luput dari kekhilafan dan kesalahan. Maafkan Aang jikalau surat ini menyinggung Puput. Aang berharap menemukan telaga maaf yang teramat teduh dari Puput. Lalu biarlah Aang mereguk airnya dan mendapatkan kesegaran di dalamnya.

Alhamdulillah, wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

dari Aangmu:

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di antara kepingan malam yang penuh nyamuk

10:52 25 Desember2010

*atas seizinnya  (putri utami) surat ini bisa dinikmati semua

bangun ruang hati


bangun ruang hati

 

 

pagi ini aku kotak,

menyiapkan diri

semedi di sudutnya,

siangnya aku lingkaran,

tanpa sudut,

berputar,

hilang ingatan pada prasasti hati,

sorenya,

kembali aku menjadi kotak,

menghirup sunyi di keramaian,

semedi disudutnya,

malamnya,

aku menjadi segitiga

yang bertumpuk,

yang mengumpulkan kata-kata,

untuk sekadar satu jawaban,

lalu kapan aku menjadi jantungmu?

 

 

***

riza almanfaluthi

di atas kereta yang mencaci maki rel

dedaunan di ranting cemara

06.15 17 Februari 2011

 

menunggu jawab


menunggu jawab

 

 

 

di dalam kereta

yang lari berderit-derit

di pinggir jendela

dengan hitam menganga di kaca

kau kelanakan pikiran

pada pelangi angan

bertopang pada sebelah tangan

meneguhkan keberadaan diri

ada gumpalan tanya

menggelembung di labirin memori

menyumbat jawab hingga

mengering, sekarat, dan mati

adakah?

mengapa?

dan untuk apa?

untuk itu aku mengunci kata

menjadi patung pinggir jalan

tak berdaya

susah untuk bicara

aku tahu engkau tahu

kilatan daun lontar setiap sore

adalah jawab sesungguhnya

jika engkau mengerti
ya jika kau mengerti

 

*****

 

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21.46 11 Februari 2011

 

Yang pulang untuk kembali


yang pulang untuk kembali

(((***)))

siapakah dia yang membawa

tiga ikat papirus tebal

di tengah-tengah malam

membukanya

membacanya

diterangi kunang suram

di atas kencana

yang membawanya pulang

siapakah dia berkemul selimut

merepih dingin

berlapikkan bantal kecil hijau

melandaskan mimpi-mimpi sedikit

tak acuh pada titah-titah

yang bertengger

berkicau

mengacaukan malam

di atas kencana

yang membawanya pulang

jika kau tanya itu padaku

aku akan menjawabnya

siapa dia gerangan:

dia yang hari ini memerintahkan bentala

untuk berputar lebih cepat

dia yang hari ini membawa senja di jubahnya

dia yang hari ini membawa gempita di setiap laku

dia yang hari ini dengan bulan setengah di wajahnya

dia yang hari ini dengan mata dan senyum yang tiada pahitnya

dia yang menatah hari ini menjadi adiwarna

dia yang malam ini di atas kencana

yang membawanya pulang

untuk kembali…

itu cuma tanda tanya

***

riza almanfaluthi

tulus

dedaunan di ranting cemara

01.28 15 Februari 2011

RINDU LAUT


RINDU LAUT

    Malam ini kembali saya tak bisa tidur. Ada gundah yang membuncah. Ada gelembung yang siap mengapung dan pecah. Ada kata-kata yang tak mau berhenti untuk diucap. Ada pikiran yang tak mau berhenti kembara. Dan semuanya berujung tiba-tiba dengan bangkitnya saya dari peraduan. Lalu menyalakan netbook. Membuka lembaran putih. Kemudian mengetikkan dua kata: rindu laut.

    

Semuanya terbentang. Dengan rasa yang tak tertahankan pada deru gelombangnya. Ombaknya yang tidak pernah muntah menjilati tepian pantai. Anginnya yang menerjang tak pernah berhenti. Teriakan camar cerewet. Bau khasnya yang selalu menggelitiki hidung. Batu karang yang sombong. Pohon kelapa yang menari. Pasir-pasir yang berusaha untuk melembutkan dirinya pada setiap telapak kaki dengan cangkang-cangkang tiram mengilap terselip di sana. Semuanya ada pada benak saya malam ini.

    Dan tanda tanya tiga di belakang sebuah kalimat berikut: kapan lagi saya akan merasakannya setelah hampir 8 tahun lamanya, menyemut di kepala. Rindu laut membuat saya memelas meminta kepada memori yang ada di tempurung otak saya untuk membongkar kenangan dua puluh tahunan lampau.

    Memori itu menemukan serakan-serakan seperti ini. Perkemahan sabtu minggu, upacara bendera di tepi pantai, jilatan ombak, senja, dentingan gitar, perahu di tengah laut, dan lagu kemesraan yang mengalun indah. Ya kutemukan saat itu adalah saat—yang kata Iwan Fals—semoga jangan cepat berlalu. Ada kedamaian di sana katanya lagi.

Sampai sekarang momen-momen itu tak pernah saya lupakan. Karena memang lautnya sendiri cantik dan manis. Ngangenin. Ia pun pandai sekali bercerita. Cerita apa saja. Sampai berbusa-busa. Buktinya betapa banyak puisi dan syair yang tercipta darinya. Betapa banyak lirik lagu dan instrumentalia terinspirasi darinya. Memetaforakan apa saja. Memersonifikasikan siapa saja.

Malam ini saya rindu laut. Pada warna-warna yang seringkali berebutan menjadi warna dominan dalam sebuah kanvas lukisan. Biru muda pada langitnya. Biru tua pada lautnya. Kuning pada mataharinya. Jingga pada senjanya. Putih pada awan-awannya. Hitam dan putih pada pasirnya. Tujuh warna pada pelanginya yang seringkali muncul. Hijau pada nyiur-nyiur yang melambai.

    Malam ini saya rindu laut untuk sejenak melupakan apa yang terjadi. Melupakan segenap yang ada. Hingga waktu ini mau tunduk pada saya untuk segera berputar cepat. Tapi terlihat ia enggan dengan teramat sangat. Apa boleh buat seringkali saya menghelanya dengan keras. Jika diperlukan ada cambuk yang siap dilecutkan padanya.

    Malam ini saya rindu laut sedangkan Citayam jauh sekali darinya. Butuh puluhan kilometer untuk memisahkannya. Di barat lebih indah. Di utara penuh dengan sampah. Di timur kejauhan. Di selatan terlalu ganas. Ya aku akan menuju barat. Tapi setelah malam ini tentunya. Setelah urusan selesai semuanya. Untuk sekadar menuntaskan rindu yang tak tersampaikan.

    Setelah rindu ini selesai, rindu mana lagi?

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dari citayam yang masih terasa gerah

malam ahad hingga 01.40 13 Februari 2011

pertama kali diunggah di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/02/13/rindu-laut/

gambar berasal dari: sini

 

 

Tags: laut, iwan fals, kemesraan, citayam, pelangi

 

 

    

bulan yang kita lihat sama


bulan yang kita lihat sama

 

 

di sana ataupun di sini

bulan yang ada

ya itu-itu saja

sama tak beda

tapi ruang batin kita

masing-masing

yang membuatnya berbeda

 

pada detik yang lari

kita pura-pura terpukau

pada indahnya sabit

yang melubangi langit

dengan terangnya

padahal kita sama-sama

ingin berenang pada

telaga hati masing-masing

sedalam mana dasarnya

sesejuk apa rasanya

lalu kita sama-sama terkejut

tak ada tempat untuk kita

tapi kita abai

karena bulan yang kita lihat sama

sama-sama indahnya

 

maka pada detik

yang kembali datang

kita berjarak

kita berruang

 

sampai kapan?

sampai mana?

jawabmu:

di titik yang berhenti

di ujung kalimat

 

besok

ya besok

kita masih melihat bulan yang sama

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

pada kamar depan dengan dua pewaris

22.43
10 Februari 2011

BIBI TEBU


BIBI TEBU

Bibi saya yang satu ini sangat dekat sekali dengan ibu saya. Waktu meninggalnya ibu dia tampak yang sangat terpukul. Ibu adalah tempat curhat bibi di saat ia kesepian ditinggal suaminya kerja di Arab Saudi. Sebelum menikah pun ia tinggal dengan ibu.

    Hari ini saya teringatnya. Ia masih muda. Tapi saya menganggapnya sebagai pengganti ibu. Dua minggu dengan serangan maag bertubi-tubi, saya baru sadar kalau saya belum minta doa padanya. Segera saya mengirimnya pesan pendek tadi pagi. “Lik, nyuwun pandongane, kula kena maag dereng sembuh sampun kali minggu.” Yang tidak mengerti bahasa Indramayu saya terjemahkan ke bahasa Inggris Indonesia dulu: “Lik, minta doanya, saya kena maag belum sembuh juga sudah dua minggu.”

    Pada saat saya sedang mendiskusikan berkas yang akan diperiksa di Pengadilan Pajak dengan tim saya, pesan dari bibi saya mampir di telepon genggam, mau tahu apa yang ia katakan? Saya tidak menyingkat pesannya agar bisa dimengerti.

“Assalaamu’alaikum, Ang aja mangan sing pedes-pedes, keras-keras, asem-asem ari lagi kerasa. Lamon bisa mangan segane sing lemes toli baka mangan aja langsung akeh, setitik-setitik tapi sering. Lamon parek tak gawekena jamu kunir karo temulawak. Alhamdulillah Lik Idah ora pernah kerasa maning. Sing sabar bae ya Ang gage diobati sebelum parah. Ari Bapak priben waras?”

    Saya terus terang saja mengulum senyum saat baca pesan dari bibi saya ini. Saya jadi kangen bicara Dermayuan. Tapi tolong pembaca ya, jangan kami samakan dengan saudara kita yang bicaranya ngapak-ngapak itu yang kalau ngomong seperti ini nih: “Mamake wis balik?” Dengan huruf k yang medok banget. Beda sungguh. Jangan tersinggung yah.

    Ayo kita terjemahkan satu persatu ke dalam bahasa Jerman (Jejeran Sleman) Indonesia. Oh ya Ang itu adalah panggilan kepada kakak atau saudara tua. Bibi saya selalu memanggil saya Ang Riza agar anak-anaknya—saudara sepupu saya—juga ikutan memanggil dengan sebutan demikian. Sebuah penghormatan.

“Assalaamu’alaikum, Ang jangan makan yang pedas-pedas, keras-keras, asam-asam kalau lagi terasa. Kalau bisa makan nasi yang lemas, juga kalau makan jangan langsung banyak, sedikit-sedikit tapi sering. Kalau dekat sih akan dibuatkan jamu kunir dengan temulawak. Alhamdulillah Lik Idah tidak pernah terasa lagi. Yang sabar saja ya Ang cepat diobati sebelum parah. Kalau Bapak bagaimana sehat?

    Pesan darinya seperti bara yang dimasukkan ke dalam air, cess…! Mendinginkan. Bibi saya ini memang perhatian banget dengan anak-anaknya ibu saya. Kalau pulang dari rumahnya di desa Segeran—sentra buah mangga Indramayu—saya pasti diberi oleh-oleh kesukaan saya seperti krupuk melarat atau krupuk bumbu. Atau dimasakkan “blekutak” sejenis cumi dengan tinta hitamnya yang khas. Makanya setiap lebaran sebelum ke Semarang Insya Allah saya selalu mampir ke rumahnya.

    Hmm, yang pasti kalau lagi musim buah mangga, wuih itu yang namanya desa Segeran penuh dengan pohon-pohon yang buahnya sampai terjuntai ke tanah. Kuning merekah. Saya biasanya dibawakan satu kardus penuh buah mangga untuk dibawa ke Jakarta. Bukan untuk saya, karena saya tidak suka buah. Bibi sudah tahu itu. Untuk siapa dong? Untuk keluarga di rumah dan teman-teman kantor biasanya. Itulah kebaikannya.

    Dan bapak saya sampai berpesan, “tolong bantu kalau dia butuh pertolongan.” Insya Allah Pak. Tiba-tiba teringat masa kecil waktu bibi disuruh Ibu untuk menceboki saya. Ia dengan enggan mendatangi saya. Saya jelas lari darinya. Kenapa? Dia pakai batang tebu untuk menceboki saya. Saya langsung kabur.

    SMS-nya masuk kembali. “Tapi wis berobat durung? Toli kerjane priben? Tetep mangkat? Sangu roti bae kanggo ngisi weteng sebelum jam makan, aja sampe kosong nemen.” (Tapi sudah berobat belum? Kemudian pekerjaan bagaimana? Tetap berangkat? Bekal roti saja buat mengisi perut sebelum jam makan, jangan sampai kosong sekali).

    Saya cuma membalasnya dengan ucapan Jazakillah Khoiron Katsiiro, Bi. Semoga Allah membalas kebaikan bibi dengan kebaikan yang berlipat ganda. Doanya telah meringankan saya hari ini.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas ketinggian lantai 9 gedung Pengadilan Pajak

11.32 10 Februari 2011    

 

    Tags: segeran , jatibarang, ngapak, dermayuan, indramayu, jerman, jejeran sleman, sleman, inggris, indonesia, pengadilan pajak, sentra mangga

TANDA-TANDA


tanda-tanda

 

jika langit gelap

sadarilah ia tak selamanya mendung

jika hujan gerimis menetes

sadarilah ia tak selamanya akan menjadi badai

jika ada pohon ringkih

sadarilah tak selamanya tanda tumbang

jika ada bumi yang bergoyang

sadarilah tak selamanya itu gempa yang mengguncang

tapi kalau ada hatiku yang berdebar-debar

percayalah itu tanda cinta dan rindu

untukmu

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

senja di peron 2 stasiun sudirman

17.31 09 Februari 2011

^_^

EKSPRESI MANA YANG AKAN IA PILIH?


EKSPRESI MANA YANG AKAN IA PILIH?

 

Tengah malam ini saya kembali terbangun. Setelah rehat sejenak seperti kucing yang sedang menyembuhkan dirinya karena terlindas motor, saya keluar kamar dan seperti biasa memandang buku-buku di lemari. Tanpa berpikir panjang bukunya ‘Aidh Al-Qarni sudah berada di tangan. Don’t be Sad.

Sudah berulang kali saya baca buku ini. Sudah banyak pula lipatan yang membekas pada lembaran-lembarannya untuk menandai kalimat-kalimat bermutu yang bertaburan di sana. Salah satu lipatannya adalah menunjuk pada bab tersenyumlah yang membicarakan bagaimana tertawa itu adalah kenikmatan surga. Ya betul, bagaimana mungkin penghuni neraka akan tertawa selagi tubuh-tubuh mereka disiksa dengan siksaan yang teramat pedih. Tertawa adalah hanya milik penghuni surga.

Mengingat tertawa saya jadi teringat dengan cara-cara tertawa yang digunakan teman-teman untuk mengungkapkan ekspresi kegembiraannya di dunia maya. Di dunia itu yang ada simbol-simbol belaka– bisa juga disebut dengan smiley emoticon—atau gabungan dari beberapa karakter.

Ekspresi ini adalah tanda agar orang tahu perasaan apa yang kita alami pada saat kita ngobrol dengannya. Pun supaya tidak terjadi salah persepsi. Tak ada suara tawa yang terdengar seperti di dunia sesungguhnya. Terkecuali kalau memang webcam sudah terpasang di computer, masing-masing simbol-simbol itu tak diperlukan lagi.

Maka bagi saya macam-macam ekspresi tertawa itu punya sentuhannya sendiri-sendiri. Saya menggunakannya pun sesuai dengan perasaan saya. Berikut rasa yang saya tangkap dari simbol-simbol atau karakter-karakter itu:

Lol = Laugh out Loud = Tertawa terbahak-bahak. Bagi saya walaupun terbahak-bahak seperti itu tetapi tetap tidak seekspresif Ha ha ha ha. Orang barat biasa memakai ini.

Ha ha ha ha. Yang tertawa demikian orangnya terbuka, tak punya malu-malu, ekspresif, dan jujur, tidak jaim. Turunan dari tertawa seperti ini adalah wakakakak atau wkwkwkwkwk. Woteperlah.

He he he he, ini cengengesan namanya. Tapi tepat kalau mengungkapkannya di saat malu. Tidak seterbuka ha ha ha ha di atas. Turunannya adalah ke ke ke ke.

Hi hi hi hi, kayaknya aneh aja kalau cowok pakai tertawa yang seperti ini. Feminin banget. Ketiadaan maskulinitas. Saya jarang memakainya. Rasanya gimana gitu.

Qi qi qi qi, tertawa cekikikan. Cewek dan cowok sering tertawa seperti itu. Saya juga memakainya. Model ini seperti tertawanya tokoh kartun Jepang. Tertawanya sampai tidak terlihat bola mata dengan kedua tangan tertangkup di dagu. Lucu.

Xi xi xi xi, saya tak mengerti tertawa macam mana pula ini? Kayaknya mirip orang Cina yang lagi mengucapkan terima kasih.

^_^ membuat saya nyaman.

🙂 ini jaim. Tapi berpahala karena ini adalah sedekah.

Itu saja setahu saya. Ada lagi yang mau menambahkan?

Saya baca lagi kalimat di buku itu: “Orang yang tertawa adalah orang yang memiliki karakter baik, watak mulia, serta pemikiran yang jernih. Sebaliknya memiliki air muka yang muram dan bermuka masam adalah ciri-ciri karakter yang rendah, terganggu jiwa, dan berwatak keras.” Dan Islam mengajarkan semuanya pada titik pertengahan. Tidak berlebihan.

Malam ini saya berterima kasih kepada buku itu karena telah memberikan saya arti tertawa dan menjadi sahabat baik saya. Buku memang tepat menjadi teman. Pantas Al-Jahizh—penulis Arab abad silam—yang dikutip ‘Aidh AlQarni sampai berkata: “Buku adalah teman yang tidak suka memujimu dan tidak menyeretmu kepada kejahatan. Ia adalah sahabat yang tidak membuatmu bosan, dan ia adalah tetangga yang tidak mengancam keselamatanmu. Ia adalah sahabat yang tidak berniat untuk memeras kebaikan darimu dengan rayuan, dan ia tidak akan menipumu dengan kepalsuan dan dusta.”

Dan malam ini—di waktu tersisa—saya ingin bermimpi menjadi buku buat sahabat saya yang esoknya akan bilang: “biarkan waktu yang menjawabnya.” Saya ingin melihat dia tertawa. Entah ekspresi apa yang akan ia pilih.

 

***

 

 

 

Riza Almanfaluthi

masih mencoba untuk menata hati

dedaunan di ranting cemara

02.24 08 Februari 2011