Pegawai Pajak Juga Laporkan Harta Mereka


Pajak disorot lagi. Kasus DW membuat lembaga yang mengelolanya, Direktorat Jenderal Pajak, jadi bulan-bulanan media. Walau sempat mengirimkan hak jawab kepada Majalah Tempo atas pemberitaannya yang menyamakan pajak dengan palak, di media social seperti twitter dan facebook bahasan tentang pajak dan pegawainya tidak surut-surut.

Dengan adanya kasus ini, pajak yang dari semula memang fitrahnya tidak disukai oleh siapapun juga, semakin tersudutkan dengan banyaknya suara yang mempertanyakan kredibilitas para penggawanya dan penggunaan uang yang telah dikumpulkan DJP sebagai salah satu sumber penerimaan republik ini.

Banyak yang turut berkomentar. Apalagi yang merasa sebagai pembayar pajak yang berarti turut serta ikut langsung dalam memastikan bahwa Negara ini tetap berjalan dengan semestinya. Mempertanyakan duit gua kemana? Jamil Azzaini dalam akun twitternya berkomentar: “yang membuat kecewa, pajak terus ditagih tapi jalanan banyak yang berlubang dan rusak.”

Padahal DJP dengan slogan lunasi pajaknya, awasi penggunaannya sudah bilang kalau masalah penggunaan uang pajak itu sudah bukan lagi ada di wilayah DJP. Tetapi sudah masuk di wilayah satuan kerja para pengguna anggaran belanja Negara.

Ada yang menarik ketika follower Jamil Azzaini, juga ikut membalas kicauannya seperti ini: “yang menyedihkan lainnya kita harus lapor SPT, padahal harusnya orang pajak yang lapor uangnya sudah dipakai apa saja?”

Kalau diperkenankan untuk menanggapi tentang masalah pelaporan penggunaan harta para pegawai pajak ini maka sudah dapat dipastikan bahwa para pegawai pajak telah melakukannya. Pelaporannya lebih dari satu malah. Apa saja? Yuk kita simak.

Lapor SPT Tahunan

Berdasarkan aturan internal DJP, setiap pegawai pajak kudu punya yang namanya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Kalau tidak maka hak kepegawaiannya sulit untuk diberikan. Karena salah satu syarat kenaikan pangkat di DJP adalah pegawai tersebut harus memiliki NPWP. Upaya pewajiban memiliki NPWP bagi pegawainya bisa dilihat sebagai upaya untuk menjadi cermin keteladanan bagi masyarakat. Orang pajak minta rakyat Indonesia untuk memiliki NPWP sedangkan orang pajaknya sendiri belum memiliki NPWP, ini ironi.

Nah, konsekuensi dari memiliki NPWP adalah timbulnya kewajiban pelaporan SPT (Surat Pemberitahuan) Tahunan dari penghasilan yang diperoleh selama setahun itu. Setiap pegawai pajak yang menerima gaji atau penghasilan lainnya maka ia harus melaporkannya di dalam SPT Tahunan tersebut secara tepat waktu, benar, lengkap, dan jelas.

Dalam SPT Tahunan itu juga ada kolom harta yang harus diisi. Kolom ini mengisyaratkan jumlah harta yang dimiliki oleh pegawai pajak pada akhir tahun itu. Belum cukup, setiap kewajiban yang dimilikinya pun telah disediakan kolomnya untuk dicatat.

Maka bisa dilihat dan dianalisis dari mana ia dapat penghasilan dan digunakan untuk apa kekayaan para pegawai pajak tersebut. Walau sebagiannya tidak berwujud fisik barang maka paling banter adalah dalam bentuk uang kas atau tabungan yang dimilikinya. Terkecuali jika pasaknya lebih besar daripada tiang dikarenakan ia punya utang segede gaban atau habis dikonsumsi sehari-hari.

Masalah pelaporan SPT ini pun diatur oleh DJP. Dalam undang-undang disebutkan bahwa batas waktu pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi adalah paling lambat 31 Maret setiap tahunnya. Tetapi untuk memberikan contoh dan teladan yang baik kepada Wajib Pajak yang lain, maka DJP menginstruksikan kepada seluruh pegawai DJP untuk menyampaikan SPT Tahunan lebih awal. Di tahun 2012 ini batas pelaporannya adalah di tanggal 24 Februari 2012 yang lalu. Pelaksanaan penyampaian SPT Tahunan pegawai DJP ini dipantau betul oleh masing-masing unit kerja vertikalnya.

Lapor LP2P

Cukupkah dengan pelaporan SPT Tahunan? Tidak juga. Pegawai pajak seperti pejabat struktural, pejabat fungsional, pegawai yang memiliki pangkat Penata Muda (Golongan III/a) atau lebih tinggi, dan pejabat atau pegawai yang tugasnya terkait dengan pelayanan publik juga kudu lapor LP2P (Laporan Pajak-pajak Pribadi) kepada Menteri Keuangan.

Kewajiban ini sebenarnya sudah ada mulai tahun 1986, cuma sejak awal tahun 2011 pelaporannya lebih detil dengan adanya kewajiban pencantuman harta berupa tanah dan bangunan, kendaraan bermotor, uang tunai, deposito, giro, tabungan, setara kas, surat berharga seperti obligasi, saham, surat berharga lainnya yang dimiliki atau warisan dan hibah yang diperoleh.

Penyampaian LP2P dan daftar kekayaan ini paling lambat tanggal 30 April setelah tahun yang dilaporkan. Bagaimana bagi mereka yang tak mau lapor? Akan dikenai sanksi sesuai dengan perundang-undangan di bidang kepegawaian atau aturan lainnya. Penelitian dan penilaian LP2P ini dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan.

Lapor LHKPN

Nah ini ada satu lagi. Namanya Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang kudu dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Buat siapa saja kewajiban pelaporan ini? Buat pejabat Eselon I, Eselon II, Eselon III, Eselon IV, Fungsional Pemeriksa Pajak, Account Representative, Penelaah Keberatan, Fungsional Penilai Pajak Bumi dan Bangunan, Juru Sita Pajak, Pejabat Pembuat Komitmen, Bendaharawan, serta Panitia Pengadaan Barang dan Jasa.

Pengisian LHKPN ini lebih rumit dan detil daripada pengisian dalam SPT Tahunan ataupun LP2P. Menyangkut jumlah harta dan darimana harta itu diperoleh serta bukti-bukti kepemilikannya.

Setelah diisi, LHKPN ini wajib dilaporkan paling lambat dua bulan setelah pegawai pajak menduduki jabatan untuk pertama kali, saat dipromosikan atau dimutasikan atau pengangkatan, saat menduduki jabatan yang sama selama dua tahun, atau mengakhiri jabatan atau pensiun.

LHKPN dalam format pengumuman juga diumumkan oleh pegawai pajak sendiri di media yang telah disediakan seperti papan-papan pengumuman di kantor masing-masing. Tetapi rakyat Indonesia bisa mengaksesnya dengan mudah untuk melihat berapa kekayaan pegawai pajak itu melalui situs yang telah disediakan KPK.

Jadi sekarang Anda tak patut untuk sedih yah, karena mereka juga lapor SPT seperti Anda. Mereka juga lapor LHKPN dan LP2P. Dan ketahuilah kalau saya juga adalah pegawai pajak yang lapor ketiga-tiganya.

Semoga bermanfaat.

***

dipublikasikan dari: http://birokrasi.kompasiana.com/2012/03/14/pegawai-pajak-juga-laporkan-harta-mereka/

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

adalagi yang mempertanyakan?

21.36 13 Maret 2011

SEMOGA GALAU ITU ADA PADA KAMU


SEMOGA GALAU ITU ADA PADA KAMU

Banyak banget yang mau ditulis sebenarnya atau sebenarnya memang tidak ada yang perlu ditulis sama sekali sampai lama tidak menulis yang perlu ditulis. Kini, sore ini, saya harus memaksakan diri untuk berpikir dan menulis apa saja. Satu hal yang menjadi pembelajaran dari tidak menulis dalam dua minggu ini adalah semuanya memang butuh kedisiplinan. Menulis juga butuh disiplin.

Forum Lingkar Pena Depok sudah punya cara agar para anggotanya bisa disiplin untuk menulis dengan tagline: Sehari, Satu Jam untuk Menulis. Satu jam saja. Just it. Tak perlu lama-lama. Jadi waktu bikin tulisan dan sudah mentok tak ada lagi yang bisa ditulis sampai satu jam itu lewat, ya sudah tinggalkan menulisnya. Atau walau ide banyak tetapi tulisan belum selesai maka cukup selesaikan apa adanya. Jangan diteruskan lagi. Semua itu agar terbentuk miliu menulis setiap saat. Semangatnya ada kapan saja. Tak perlu menunggu mood. Tak perlu menunggu soul. Terima kasih kepada kawan yang telah memberi saya terminologi tentang soul ini.

Disiplin itu untuk menumbuhkan semangat kontinyuitas dalam menulis. Dan sungguh, menyuburkan kontinyuitas itu yang sulit sebagaimana menyuburkan semangat untuk dhuha everyday, tahajud every night, baca qur’an everyday, dzikir matsurat every morning dan every evening. Menulis juga demikian. Kudunya sih writing is every time. Minimal satu jam itu adalah kerja minimalis kita untuk bisa menulis. Ingat, menulis itu mudah tetapi mendisiplinkan diri untuk menulis itu yang perlu kerja keras kita.

Tentang menulis itu mudah, sudah saya urai di Twitter. Nah twitter ini mungkin yang telah mengalihkan saya (semoga cuma sejenak) untuk bisa menulis setiap saat. Ah bisa saja untuk cari kambing hitamnya. Tetapi memang itu dunia baru buat saya. Jadi ingat gundah seorang blogger dulu tentang dunia facebook dan twitter yang membuat dunia blogging jadi mati suri.

Era ngeblog yang sempat menarik perhatian banyak orang sudah lewat.  Ngeblog yang juga identik dengan dunia tulis menulis terlewatkan oleh dua dunia itu yang memperkenankan orang untuk berpikir instan, seadanya, dan tak terlalu dalam. Dan itu sudah cukup membuat ratusan juta orang di muka bumi ini terperangah. Ya karena tak perlu berpikir rumit tapi cukup dengan spontanitas tentang sebuah situasi dan kondisi yang dialami pada saat itu lalu status sudah ter-update.

Tetapi bagi penulis sejati, facebook dan twitter bukan untuk meluluhlantakkan semangat dan ide untuk menulis. Bahkan menjadi pendorong tambahan untuk tetap menulis karena publisitas mereka tak sekadar blog yang paling banter dibaca oleh ratusan orang tetapi dibaca oleh ribuan teman atau temannya-teman ketika mereka, penulis sejati itu,  juga mempublikasikan tulisannya di facebook dan twitter. 

So, jangan menyalahkan dua social media itu. Salahkan saja diri sendiri yang enggak punya komitmen untuk menulis. Hingga tak ada karya satu biji pun dihasilkan. Facebook, facebook, menulis sih tetap. Twitter, twitter, menulis juga tetap. Sisihkan waktu kita untuk menulis, satu jam saja,  lalu disiplinkan diri. Insya Allah akan banyak karya yang dibuat. Kualitasnya bagaimana? Insya Allah ngikut.

Itu saja dulu. Sebenarnya ini cuma gundah saya. Gundah kenapa? Karena takut tak bisa menulis lagi. Tapi dengan gundah itu saja, sekarang saya sudah bisa menghasilkan tulisan 492 kata lebih. Maka betul, pelajaran yang sering saya bagi kepada teman-teman dalam sesi belajar menulis adalah gundahlah, galaulah, karena gundah dan galau pada diri dan sekitar itu adalah modal awal untuk menulis. Bagi penulis, kegalauan dalam dadanya harus segera dimusnahkan. Caranya? Dengan menuliskannya.

Semoga galau itu ada pada kamu.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara 

besok, Insya Allah ke Pesantren Al-Kahfi

17.52           10 Maret 2012

Madzi dan Koruptor


 

MADZI DAN KORUPTOR

Ngetwit di Twitter bisa berpahala dan bisa juga dosa. Apalagi kalau ngetwitnya itu dilakukan oleh orang yang punya follower ribuan. Bisa berpahala jama’ah bahkan sebaliknya, dosa jama’ah pula.

Berpahala karena ini menginspirasi banyak pengikutnya untuk sadar dan melakukan kebaikan. Bukankah Kanjeng Nabi pernah bilang untuk orang yang menunjukkan kebaikan maka pahalanya sama dengan yang melakukan kebaikan itu sendiri.

Akan berdosa jika kicauan itu menginspirasi orang untuk berbuat keburukan atau menempatkan prasangka-prasangka yang belum pasti kebenarannya di hati dan pikiran masing-masing. Kalau sudah tersimpan dalam memori susah untuk dihilangkannya. Maka nilai dalam Islam sudah membuat sebuah rambu kalau dzan (sangkaan) itu kebanyakan adalah dosa.

Bahas mani dan madzi panjang lebar di Twitter @syukronamin yang JIL ini memang keterlaluan. Sampai akhirnya berkicau begini:

Kamu lagi berduaan dg pacar, keluar madzi? Jangan panik. Cukup basuh madzi tsb. Jadi tetep bisa shalat jamaah berdua kan?

Jadi buat yg pacaran misalnya. Waktu lagi puasa, gara2 horny keluarlah madzi. Maka puasanya tdk batal. Jelas kan?

    Ya beginilah kalau orang-orang JIL punya pikiran. Karena dalam otak mereka adalah sebuah kewajaran sebuah energi kesalehan bercampur dengan energi kemaksiatan sekaligus. Ulil pintar mengaderisasi generasi penerusnya.

Belum lagi ghibah dan fitnahnya terhadap para ustadz dan keluarganya. Kepada Ustadz Yusuf Mansur yang dituduh sebagai ustadz matre, Ustadz Anis Matta sebagai koruptor di Banggar, dan Ustadz Salim Seggaf dan istrinya yang suka minta suap. Sama FPI? Apalagi. Tahu sendiri bukan kalau bicara suatu aib, bila benar jatuhnya kepada ghibah bila salah jatuhnya fitnah. Salut kepada Ustadz Yusuf Mansur mengomentari lulusan Universitas Yaman itu dengan: “semoga makin tawadhu’, banyak baik sangkanya, dan lebih banyak doanya.”

Nah, yang lebih seru lagi adalah saat @Gus_Sholah mengomentari pemberitaan Koran Tempo yang berjudul: Dhana, Kakak Kelas Gayus. Gus Sholah ngetwit begini: “Bg mrk, korupsi mgk adl cita2 sjk kuliah. Saya tahu dari retweet mbak @Listya_rien yang menanggapi Gus Sholah: “Statement anda menyakiti byk org gus..”

Terus terang yang tampak banget Gus Sholah sebut “mereka” itu bukan Dhana ataupun Gayus tetapi almamaternya. Apa? Sebut saja STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Ya sudah saya ikut komentari pernyataan beliau. Inilah egalitarianisme dunia maya. Seseorang yang sudah buka akun Twitter siap-siap untuk diuji argumentasi atas setiap pernyataan yang dibangunnya oleh siapapun ia. Dan itu harus diterima. Jika tak sudi, tutup saja akunnya. Pindah ke Mount Everest. Sepi dan aman cuma berteman dengan Yeti.

Gus, perkenalkan saya Riza kakak kelas Gayus dan adik kelas Dhana. Yang pasti jadi koruptor bukan cita-cita saya. Saya juga orang yang banyak dosa, tapi ingin jadi lebih baik. Dan jadi koruptor sekali lagi bukan sebuah cita. Pesantren dan universitas terkenal seperti UI bisa juga kita tanyakan kepada para alumni atau mahasiswanya: koruptor jadi cita-cita? Karena ada juga para koruptor itu punya latar belakang pendidikan dari pesantren dan UI. Tentu tak elok saya generalisir kepada dua institusi itu bahwa santri dan mahasiswanya punya cita-cita sebagai koruptor. Itu saja Gus. Maaf mengganggu siangnya.

Gus Sholah membalasnya. Tentang cita-cita saya tidak menjadi koruptor, beliau bilang, “Pasti dan syukur.” Tentang almamater beliau bilang, “dari pesantren dan ITB almamater saya tentu ada juga koruptor.” Tentang pernyataan @Listya_rien, Gus Sholah bilang: “tak bermaksud menyakiti.” Tentang Dhana dan Gayus, beliau bilang: “2 orang itu oknum, tdk mewakili yg lain.”

Tentang oknum saya juga bisa bilang: “Maafkan saya Gus. Kalau Gayus saya bisa katakan oknum. Tapi untuk Dhana saya tak bisa katakan oknum, selagi saya tahunya dari koran dan selama Pak Hakim belum memutuskan bersalah. Saya hormati asas praduga tak bersalah, tak semata dia dari instansi yang sama, tapi siapapun ia.”

    Ya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Selagi jari bisa mengetik, selagi mata bisa melihat, selagi telinga masih bisa mendengar, selagi mulut masih bisa bicara. Kita semua, apapun almamaternya, Insya Allah tak punya cita-cita untuk jadi seorang koruptor sewaktu dilantik jadi sarjana. Karena kita sepakat kalau korupsi itu harus dihilangkan seperti madzi yang najis itu. Kalau enggak, sholatnya batal, tidak sah. Sholat tapi masih korupsi, sholatnya jadi tanpa makna.

    Semoga kita, termasuk saya yang masih belajar untuk jadi bersih dan dijauhi dari dosa ini, dilindungi oleh Allah swt. Amin.

***

http://birokrasi.kompasiana.com/2012/02/26/madzi-dan-koruptor/

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 26 Februari 2012.

Lain kali kita bahas tentang generalisasi.

The Final Destination


The Final Destination

Empat bulan sudah surat elektronik itu terkirim kepada seseorang. Itu sebelas hari sebelum kami berangkat meninggalkan Indonesia untuk menapaktilasi jejak-jejak ayahanda para nabi, Ibrahim AS. Sekadar penyesalan dan permintaan maaf atas sebuah tingkah laku. Agar tanpa beban kepergian kami itu dan musnahlah semua yang menjadi mimpi buruk saya selama bertahun-tahun ini. Tapi yang ada adalah senyap dari jawab. Tak ada balas. Persis akhir baratayudha di Kurusetra.

Di sana, di sebuah tempat yang tiada hijab antara diri, doa, dan Sang Penerima Harap, dengan membayangkan wajahnya saya tak henti-henti meminta agar ia di suatu saat dapat mengikhlaskan dan memaafkan atas segala salah. Dan…doa itu tergantung di langit. Enggan untuk turun ke bumi menuju the final destination. Atau sedang menunggu saat yang tepat? Persis Pasopati yang siap lepas dari busur Arjuna menuju tubuh Adipati Karna.

Empat bulan sudah berlalu, kemarin, balasan surat itu muncul. Sebuah kesyukuran yang tiada terkira, ia sudi memaafkan saya. Sebenarnya sudah dari dulu katanya, tapi tak pernah terucap dan tersampaikan. Atau saya yang sudah lupa? Persis Amangkurat I yang lupa sejarah kalau bapaknya—Sultan Agung—adalah musuh sejati VOC, sedangkan ia adalah karib dari kumpeni.

Memaafkan jelas dan yakin tak bisa direkayasa secara artifisial dengan sekadar kata-kata. Ia membutuhkan energi besar untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan yang pernah terjadi. Dan Muhammad Sang Teladan adalah contoh mutlak dari sebuah sosok yang gemar untuk menaburkan ribuan butir-butir maaf kepada semua yang telah memberikan rasa sakit berpuncak dan derita berlipat-lipat kepada dirinya di suatu ketika, di masa lalu. Tanyakan kepada sejarah atas kesaksian Abu Sufyan dan Wahsyi.

Memaafkan adalah Shalahuddin yang membiarkan ribuan Kristen pergi dari benteng Yerusalem dengan tenang. Sedangkan 88 tahun sebelumnya, di kota tua itu, darah Muslim dan Yahudi bahkan Kristen menjadi banjir, amis, dan anyir. Dibuang percuma oleh kebiadaban yang dibawa dari Eropa.

clip_image001

Memaafkan adalah upaya keras membuang ke dasar laut motivasi dendam berkepanjangan. Asal ia keluar dari hati yang putih. Dan itu bukan laku sia-sia. Ia mendamaikan dan menyatukan dua pribadi atau bahkan dua bangsa. Kalau saja memaafkan menjadi pakaian kebesaran buat Kurawa bahkan buat Pandawa sekalipun, walau hanya topeng, maka perang besar itu tidak akan pernah terjadi.

Sungguh layaklah seorang sahabat Nabi saw mendapat sebuah predikat yang membuat sahabat yang lain menjadi bukan apa-apa dan siapa-siapa: Ahli Surga. Tiga hari penyelidikan seorang sahabat yang lain menegaskan sahabat berpredikat itu tak mempunyai amalan utama sedikitpun. Kerja akhirat yang ia lakukan adalah biasa dilakukan oleh kebanyakan orang. Tetapi ada satu yang menjadi pembeda. Dan pembeda itulah yang menentukan: ia memaafkan semua orang di saat malam telah larut, saat kantuk akan mendapatkan tempatnya.

Kemarin itu, seseorang telah menjadi Shalahuddin abad ini—bagi saya tentunya. Ia membiarkan kerak-kerak pekat pelan-pelan keluar tenang dari kota suci hati dan pikiran saya. Untuk jangan kembali. Agar bersih dengan tatanan dan era baru. Kibar panji terima kasih telah berdiri tegak di atas sudut-sudut benteng. Hilang sudah langit hitam. Akan selalu ada ketenangan setelah badai.

Terima kasih kepadanya. Semoga Allah membalas dengan surga. Setelahnya, kapan saya akan menjadi Shalahuddin? Atau kapan pula Anda semua menjadi Shalahuddin buat saya?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

sepi menjadi pecundang

11.54 16 Februari 2012

Gambar diambil dari sini.

KEBLANGSAK


KEBLANGSAK

Truk sarat muatan itu terjatuh ke laut. Tenggelam ke dasarnya. Setelah sebelumnya menabrak truk-truk dan motor yang berada di dermaga. Satu sebab adalah rem blong. Untungnya tidak ada korban jiwa ataupun yang terluka. Supirnya masih bisa menyelamatkan diri. Kerugian materil sudah pasti ada.

Di hari yang sama, keberuntungan tidak terjadi di Cisarua. Untuk sementara tercatat sudah 13 jiwa meninggal—belum terhitung korban yang luka—karena bus yang menabrak warung dan kendaraan lain. Kecepatannya tidak bisa dikendalikan hingga masuk jurang. Supir bus termasuk yang menjadi korbannya. Penyebabnya sama karena rem blong.

Dua ilustrasi itu saya ceritakan pada Haqi saat kami berkendaraan hendak ke Subang, tempat pesantren itu berada. “Jadi adanya rem itu penting apa enggak Mas Haqi?” tanya saya.

“Penting sekali,” jawabnya.

clip_image001

“Apapun kendaraannya semua butuh rem. Pesawat, kereta, mobil, motor, becak, dan sepeda butuh rem. Tak ada rem bisa keblangsak, mencelakakan diri sendiri dan orang lain,” terang saya lagi.

Kalau bicara seperti itu saya langsung ingat petuah para ustadz di kampung dulu, bahkan K.H. Zainuddin MZ sepertinya juga pernah bilang. Kurang lebihnya begini: “Nah itulah pentingnya agama. Supaya dalam kehidupan dunia ini kita jangan keblangsak dan ngeblangsakin orang. Kehidupan kita ibarat mobil. Agama adalah remnya. Remnya blong, tak ada agama, hancur sudah.” Saya bilang yang sama kepada Haqi, juga untuk diri saya sendiri.

“Itulah mengapa Abi dan Umi ingin Mas Haqi sekolah di pesantren. Supaya Mas Haqi punya rem. Setidaknya supaya pesantren bisa nyetting remnya Mas Haqi.”

“Saingannya berat ya Bi masuk sana?” tanya Mas Haqi.

“Iyalah, seribu orang yang mendaftar, yang diterima cuma 300-an orang. Yang penting Mas Haqi berusaha saja. Abi yakin Mas Haqi bisa. Kalau hasilnya lain ya sudah, Mas Haqi tetap anaknya Abi. Itulah bedanya teman dan orang tua.”

“Bedanya apa Bi?”

“Kalau teman tuh cuma bisa menerima kelebihan kita saja. Cuma bisa menerima jika kita dalam konsidi baik saja. Tak bisa menerima kekurangan kita. Tapi kalau orang tua, apapun kekurangan dan kondisi anak tetap diterima,” kata saya panjang lebar. “Yang terpenting sih mas Haqi jangan ikut-ikutan teman. Kudu punya pendirian. Dan jangan lupa carilah teman yang baik. Teman yang tak bikin kita keblangsak.”

Saya melihat Mas Haqi menatap pemandangan di luar mobil. Nanar. Ia tak bertanya-tanya lagi. Pemandangan dari Subang ke arah Bandung memang indah. Seringkali membuat kita terpana. Masya Allah. Dan kita semua tak ingin ada rem blong-rem blong lagi. Semoga tragedi Cisarua menjadi yang terakhir.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

belajar menulis lagi, menulis apa saja

Subang, 11.06 12 Februari 2012

Gambar diambil dari sini.

Sang A itu Aku


Sang A itu Aku

Di sebuah senja yang kehilangan merahnya karena gerimis yang cemburu, di sebuah kerumitan yang tak mudah terurai dalam kepadatan gerbong KRL, sang B, petang ini pulang menunggang lelah. Di selatan yang jauh dan biru, sang A, berdiri di sebuah stasiun sambil bersyukur, “Ah, kereta tadi kosong nian.”

Lalu ada yang mengejutkan ingatannya, bahwa ia harus mengirimkan sesuatu pada Sang B. Pesan maya terbang dari ujung handphonenya menuju pemancar terdekat, lalu ke langit, menuju angkasa, menuju sebuah satelit dan mengirimkan kembali kepada sebuah pemancar penerima, dan terbentuk sebuah tulisan di layar handphone Sang B. Saling berbalas.

Sang A    : Sudah di mana?

Sang B    : Baru di Manggarai?

Sang A    : Lagi berdiri atau duduk?

Sang B     : Ya pasti berdirilah. Hari gene duduk? Ngimpi kali.

Sang A    : Kenapa tak berdiri di ruang hatiku saja? Tak ada mimpi di sana.

Sang B    : Gedubrak, plekenthus… hi…hi…hi…

Sang A    : Tawamu mengisyaratkan putik yang jatuh di tanah basah

Sang B    : Preketieewwww

Sang A    : Itu cuma buih di pantai putih pikiranku.

Sang B    : &$&*#))*)(%$)(*

*

Sang A     : Aku

Sang B    : Kamu

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17.58 03 Februari 2011

Wangi-wangi Aini


Wangi-wangi Aini

 

Namamu Aini

sering kudengar teriak-teriakmu di bising pinggiran Jakarta

sepulang kerja yang memeluh dalam larut tak berkesudahan

 

Namamu Aini

sering kudengar celotehmu

yang begini dan begitu:

Hari ini tak masak woi,
capek nian rasanya,
kadang iri loh woi sama ibu-ibu rumah tangga itu,
yang cuma di rumah, belanja-belanji, ke salon, berkebun, nge-mal, senam, deesbe deesbe.

Ingin sekali bangun pagi-pagi, colek-colek suami, cium-cium sedikit,

dorong-dorong suami ke kamar mandi, memandikannya pakai air teh basi, menyuruhnya ke masjid,

menyiapkan baju buat ke kantor, cium-cium lagi, terus dadah-dadah di depan pagar.

Kalau suami sudah tak kelihatan,

balik masuk rumah, tidur-tiduran sambil nonton tipi, nonton sinetron
yang pemerannya sering mengoceh sendirian seperti orang kena skizofrenia

Jam 9 belanja sama ibu-ibu komplek, balik rumah sudah siang saja,

habis itu mandi, terus ke salon, pulang dari salon sudah sore,
mandi lagi deh biar wangi, terus menyusul suami ke kantor,

pura-puranya mau jemput begitu.

Mengajak suami ke Semanggi,

minta ditraktir nasi goreng udang yang enak nendang-nendang di lidah,
pulangnya minta es krim magnum 3 biji rasa almond,
habis itu pulang dan bobo manis.

Ah masak iya
bukankah kau sempat bilang pada suamimu sambil berbisik:

lupakan belanjaan yang tadi dibeli karena itu cuma buat memenuhi kulkas aja

setelah ini apa?

 

Namamu Aini

Sudah kubilang padamu

Di sebuah pagi yang basah

Di sebuah hari yang tak kerontang

Di langit yang selalu kelabu dan menjadi hitam

Kalau ibu rumah tangga pun sering berimajinasi

mereka iri padamu, pada sebuah nama yang sering

meloncat-loncat, tak dapat kutangkap di ingatanku

kalau engkau pekerja kantoran,

yang tak mululu melihat tembok rumah 4×3 itu

yang tak melulu mengurus anak.

Sepertinya enak kalau melulu pakai blazer, bedak, gincu, dan wangi,

melulu Louis Vuitton di tangan kiri

melulu tenteng Blackberry di tangan kanan,

dan melulu jadi alien saat di krl atau di bis atau di mobil dalam perjalanan

karena saking asyiknya Bb-an dan Twitteran.
Melulu dapat gaji di tanggal 25 atau awal bulan,

melulu shoping di jam istirahat di mal-mal,

melulu hangout habis kerja di kafe-kafe

sambil buka-buki laptop cari hotspot gratis,

update itu status:

"hai asyik juga steak di sini, elo semua kudu ngerasai enaknya, cheessss."

Melulu jadi sosialita, untung enggak ngedrag dan nyekek, kalau iya,

aku khawatir engkau jadi Apriani.

Melulu bisa cipika-cipiki dengan teman-teman yang juga sama

rapih dan wanginya.

Enggak dengan ibu rumahan yang melulu dasteran,

masih bau dapur dan ompol anak.

Melulu curi-curi pandang sambil berkata: oh my God

kepada pria-pria metroseksual yang kadang hampir saja

jadi banci tulen di dalam kesendirian mereka.

deesbe…deesbe…

 

Ah…namamu Aini

pada sebuah nama yang sering

meloncat-loncat, tak dapat kutangkap di ingatanku

ada yang bisu di sajak ini

karena kau pernah bilang ini cuma imajinasi yang sekarat menjadi delusi

tapi kalau kau tahu

ini memaksa tanah untuk memilin wangimu,

memanggil namamu

berseru dalam sunyi yang hitam:

datang padaku!!

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

27 Januari 2011

Panggil Saya Pak Haji


Panggil Saya Pak Haji

http://www.islamedia.web.id/2012/01/panggil-saya-pak-haji.html


Islamedia
“Pak Haji..!” Seseorang berteriak. Entah kepada siapa. Saya tetap berjalan. Ternyata teriakan itu semakin kencang. Terpaksa menoleh dan terlihat teman serombongan memanggil-manggil saya. Oh, dia memanggil saya rupanya. Ketika di Mekkah dan Madinah memang ada sesuatu yang baru dan aneh didengar telinga saya. Panggilan Haji itu. Ya panggilan yang biasa disematkan kepada orang yang telah melaksanakan haji. Saya tidak terbiasa.

Walau sebelum berangkat pergi haji, ada yang selalu memanggil saya dengan sebutan itu di kantor, saya anggap sebagai sebuah doa. Begitu pula saat seorang bapak pengatur lalu lintas di pintu keluar komplek akan berkata: “Terima kasih Pak Haji,” ketika ada uang seribu rupiah berpindah ke tangannya, saya anggap sebagai sebuah doa. Alhamdulillah doa mereka terkabul, saya bisa pergi haji.

“Bu..! Bu…! Bu Rahmi…!” seseorang memanggil kepada ibu-ibu itu. Ibu itu tidak menengok sama sekali. “Bu Haji! Bu Haji Rahmi!” perempuan yang bernama Rahmi itu berhenti dan menengok dengan senyum yang begitu sumringah dan berkata kepada yang memanggilnya, “Nah gitu dong, Haji itu mahal.” Aih… segitunya. Tetapi itu gurauan yang sering didengar saat berangkat haji. Kepada yang punya nama Rahmi mohon jangan tersinggung. Ini sekadar contoh.

Kenyataannya? Ada juga memang yang tidak menengok kalau tidak dipanggil dengan sebutan haji di depan namanya. Wah…wah…wah…Insya Allah saya tidak seperti itu. Tetapi saya selalu berusaha memanggil seseorang, tetangga ataupun teman yang telah pergi haji dengan sebutan itu. Bukan untuk apa-apa tetapi sebagai bentuk penghormatan saya kepadanya. Tidak berniat untuk membuatnya ujub atau merasa riya’dan sum’ah.

Jikalau ada seorang ustadz dan ia pun telah berhaji, saya lebih berat memanggilnya dengan sebutan ustadz saja, karena menurut saya panggilan ustadz itu lebih berbobot daripada sebutan haji. Menandakan ia orang yang alim dan berilmu. Tidak semua orang yang haji berilmu bahkan kita tahu di pemberitaan kalau 70% dari jama’ah haji Indonesia tidak atau kurang tahu tentang manasik haji.

Walaupun demikian mengapa sebutan haji itu saya sematkan pada mereka sebagai bentuk penghormatan? Karena bagi saya, secara zahir mereka telah benar-benar mengeluarkan pengorbanan yang begitu banyak untuk bisa ke tanah suci. Mulai dari harta, diri mereka, dan keluarga. Ibadah haji itu berat. Perlu tenaga fisik yang prima untuk menyelesaikannya dengan penuh kekhusu’an. Banyak cobaannya. Terutama ujian kesabaran sampai ambang batasnya. Saya merasakannya sendiri.

Maka tak perlu heran, kalau di zaman penjajahan dulu atau sebelum era transportasi modern seperti sekarang ini, orang yang pergi haji dihormati sekali karena untuk perjalanannya saja sampai butuh waktu berbulan-bulan lamanya bahkan sampai hitungan tahun. Entah dengan naik unta, kuda, atau kapal laut. Penjajah Belanda pun sering mewaspadai orang yang telah pergi haji karena seringkali mereka adalah pionir kebangkitan perlawanan terhadap kepentingan kolonial.

“Enyak, memanggil saya dengan Pak Haji atau enggak, enggak ada bedanya Nyak, enggak berubah Insya Allah,” kata saya pada Enyak yang telah lama bekerja di keluarga kami. “Ah, enggak Pak Haji. Pamali,” katanya.

“Orang zaman sekarang pada bangga dengan gelar keduniaan. Doktor, profesor, sarjana berderet di depan dan belakang namanya tapi enggan dengan gelar atau panggilan haji,” kata salah seorang tetangga kampung sebelah yang bertamu di rumah kami. Ia belum pergi haji dan tetap memaksa saya dengan sebutan Pak Haji. Memang di kampung sebelah yang mayoritas Betawi itu panggilan haji terasa begitu sakral. “Enggak semua orang bisa pergi haji,’ lanjutnya lagi. Terserah Bapak sajalah. Yang penting saya tidak memaksa Bapak untuk memanggil saya dengan sebutan itu.

Sebutan dan panggilan itu bagi saya—dan entah buat orang lain—memang rawan untuk terjadinya ‘ujub, riya’, dan sum’ah. Tetapi saya tentunya tidak bisa memaksa mereka untuk menghentikan sebutan itu. Karena semua itu kembali kepada diri masing-masing. Sering-seringlah istighfar ketika memang ada terselip itu saat kita tidak dipanggil dengan sebutan Pak atau Bu Haji.

Makanya ada yang mengetatkan bahwa panggilan atau gelaran haji itu bid’ah. Bagi saya tak masalah. Artinya sampai mewajibkan orang lain untuk memanggil dirinya dengan sebutan itu, memang bisa terjerumus ke arah itu. Tetapi enggak bisa dong ketika ada yang memanggil saya Pak Haji lalu mereka dikatakan sebagai ahlul bid’ah. Waduh ini keterlaluan banget deh. Berlebihan.

Sebutan haji memang enggak ada di zaman nabi dan para sahabat. Tetapi sering kali kita menyebut-nyebut seseorang dengan sebutan syaikh, hujjatul Islam, ustadz, al hafidz, padahal di zaman nabi dan para sahabat sebutan itu pun juga tidak ada. Enggak ada tuh Ustadz Abu Bakar Assyidiq, Syaikh Umar bin Khatthab, Hujjatul Islam Utsman bin ‘Affan, Ali Al Hafidz, padahal di zaman sekarang banyak disematkan juga sebutan itu kepada orang-orang seperti Syaikh Fauzan, Ustadz Firanda, Hujjatul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Assudais Al Hafidz.

Kalau ada yang mengatakan bahwa panggilan haji berkaitan dengan agama maka panggilan syaikh, hujjatul Islam, ustadz, dan al hafidz juga berkaitan dengan agama pula. Dan jika memang panggilan haji itu adalah laqab-laqab yang tidak syar’i dan bertentangan dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, maka saya bisa saja mengatakan bahwa sebutan syaikh, hujjatul islam, ustadz, al hafidz juga adalah laqab-laqab yang tidak syar’i dan bertentangan dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Padahal masalah keikhlasan adalah masalah batin. Saya tak tahu apa isi terdalam di hati mereka.

Bahkan panggilan yang berkaitan dunia dan tidak ada kaitannya dengan agama sama sekali, bisa jatuh pada hal yang haram jika hanya akan membuat diri kita kurang ikhlas dalam beramal, timbul rasa sombong dan ‘ujub.

“Za, bukan mereka yang menghendaki sebutan syaikh, ustadz, hujjatul islam, al hafidz, tetapi para pengikut atau umatnya yang menghormati mereka,” mungkin ada orang yang akan berkata demikian. Jika demikian mengapa khusnudzan itu juga tidak kita berikan kepada orang-orang yang telah pergi haji? Bukan mereka, Pak Haji dan Bu Haji, yang menghendaki sebutan haji itu tetapi masyarakat dan tetangga yang menghormati mereka.

Bagi saya, masalahnya bukan pada bahwa gelaran haji itu berkaitan dengan masalah agama atau dunia, atau bukan pula bahwa hal itu ada di zaman nabi dan para sahabat atau tidak, tetapi akankah mengakibatkan terhapusnya amal-amal kita atau enggak?

Makanya betapa banyak juga dari mereka, mengutip Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Qur’an, memilih untuk tidak menggunakan gelar-gelar kesarjanaan, keulamaan, maupun Haji/Hajjah, demi menghindari riya’ dan kesombongan. Dan hanya menggunakannya pada saat yang diperlukan misalnya untuk kepentingan administrasi saja. Sehingga tidak serta merta kita latah mengatakan mereka yang menyematkan semua gelaran itu sebagai ahlul bid’ah. Hanya Allah dan diri mereka yang dipanggil atau menyematkan dengan sebutan itu, yang tahu apakah mereka riya’ atau tidak.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah peringatan apakah saya memang layak untuk disebut itu, jika tingkah laku saya jauh dari apa yang diharapkan oleh agama ini.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah pembatas atau pengekang, untuk tidak melakukan apa-apa yang dilarang oleh agama ini. Kalau ingat satu hal ini maka saya jadi malu. Malu banget. Tak layak sekali.

Bagi saya, jika saya dipanggil Pak Haji, anggap saja sebagai sebuah muhasabah, sarana introspeksi diri, apakah haji saya diterima oleh Allah? Saya tentu berharap sekali demikian. Dan tentu pula panggilan itu tak sebanding dengan penerimaan Allah.

Bagi saya, jika saya baru nengok jika dipanggil Pak Haji atau berasa gimana gitu kalau tidak dipanggil hanya dengan nama saja, maka cukup alarm itu sebagai tanda riya’. Semoga saya masih bisa diberikan kesempatan untuk mengucapkan istighfar pada saat itu juga.

Bagi saya, lebih memilih tidak dipanggil Pak Haji untuk menjaga semua itu. Tetapi eits…jangan-jangan kalimat pertama di paragraf ini pun layak untuk di-istighfar-i, hanya sekadar supaya bisa disebut orang yang tawadhu atau rendah hati. Aduhhh… kemana-mana salah. Kemana-mana setan mengintip. Lindungi saya ya Allah.

*

Kertas tanda terima peminjaman dokumen itu ada di depan saya. Siap untuk diteken. Teman saya sudah berdiri menunggu untuk menerima kertas itu. Saya tanda tangani, saya beri tanggal, saya beri nama: Riza Almanfaluthi di bawah tanda tangan. Saya berhenti sejenak, terus bertanya, “Min, perlu saya tulis H di depan nama saya atau tidak nih?” What the, hahaha…

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11.59, 23 Januari 2011

Pak Haji, Pak Haji…

Dimuat pertama kali untuk islamedia.web.id

paingan


paingan

**

 

cerita itu hanya ada di laci otakmu

kau lupa? paingan…

narayana semakin menghitam

kau lupa? paingan…

rupa langit membayang khusyu’

kau lupa? paingan…

di malam itu beringin datang pada kidung di mulutmu

kau lupa? paingan…

ha sampai nga tak tertukar menusuk-nusuk telinga

kau lupa? paingan…

kanvas cuma jadi kayu bakar penutup peti rahwana

kau lupa? paingan…

ada salju bertumpuk di kisi-kisi kelopak matamu

aku lupa!!! paingan?

 

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lagi-lagi tertulis di atas krl

18.06 6 Januari 2011

menemuimu di suatu maghrib


menemuimu di suatu maghrib

**

a r u p a d h a t u

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

delusi itu bukan dilusi

22:47 04 Januari 2011

Sumber gambar.