KEBLANGSAK


KEBLANGSAK

Truk sarat muatan itu terjatuh ke laut. Tenggelam ke dasarnya. Setelah sebelumnya menabrak truk-truk dan motor yang berada di dermaga. Satu sebab adalah rem blong. Untungnya tidak ada korban jiwa ataupun yang terluka. Supirnya masih bisa menyelamatkan diri. Kerugian materil sudah pasti ada.

Di hari yang sama, keberuntungan tidak terjadi di Cisarua. Untuk sementara tercatat sudah 13 jiwa meninggal—belum terhitung korban yang luka—karena bus yang menabrak warung dan kendaraan lain. Kecepatannya tidak bisa dikendalikan hingga masuk jurang. Supir bus termasuk yang menjadi korbannya. Penyebabnya sama karena rem blong.

Dua ilustrasi itu saya ceritakan pada Haqi saat kami berkendaraan hendak ke Subang, tempat pesantren itu berada. “Jadi adanya rem itu penting apa enggak Mas Haqi?” tanya saya.

“Penting sekali,” jawabnya.

clip_image001

“Apapun kendaraannya semua butuh rem. Pesawat, kereta, mobil, motor, becak, dan sepeda butuh rem. Tak ada rem bisa keblangsak, mencelakakan diri sendiri dan orang lain,” terang saya lagi.

Kalau bicara seperti itu saya langsung ingat petuah para ustadz di kampung dulu, bahkan K.H. Zainuddin MZ sepertinya juga pernah bilang. Kurang lebihnya begini: “Nah itulah pentingnya agama. Supaya dalam kehidupan dunia ini kita jangan keblangsak dan ngeblangsakin orang. Kehidupan kita ibarat mobil. Agama adalah remnya. Remnya blong, tak ada agama, hancur sudah.” Saya bilang yang sama kepada Haqi, juga untuk diri saya sendiri.

“Itulah mengapa Abi dan Umi ingin Mas Haqi sekolah di pesantren. Supaya Mas Haqi punya rem. Setidaknya supaya pesantren bisa nyetting remnya Mas Haqi.”

“Saingannya berat ya Bi masuk sana?” tanya Mas Haqi.

“Iyalah, seribu orang yang mendaftar, yang diterima cuma 300-an orang. Yang penting Mas Haqi berusaha saja. Abi yakin Mas Haqi bisa. Kalau hasilnya lain ya sudah, Mas Haqi tetap anaknya Abi. Itulah bedanya teman dan orang tua.”

“Bedanya apa Bi?”

“Kalau teman tuh cuma bisa menerima kelebihan kita saja. Cuma bisa menerima jika kita dalam konsidi baik saja. Tak bisa menerima kekurangan kita. Tapi kalau orang tua, apapun kekurangan dan kondisi anak tetap diterima,” kata saya panjang lebar. “Yang terpenting sih mas Haqi jangan ikut-ikutan teman. Kudu punya pendirian. Dan jangan lupa carilah teman yang baik. Teman yang tak bikin kita keblangsak.”

Saya melihat Mas Haqi menatap pemandangan di luar mobil. Nanar. Ia tak bertanya-tanya lagi. Pemandangan dari Subang ke arah Bandung memang indah. Seringkali membuat kita terpana. Masya Allah. Dan kita semua tak ingin ada rem blong-rem blong lagi. Semoga tragedi Cisarua menjadi yang terakhir.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

belajar menulis lagi, menulis apa saja

Subang, 11.06 12 Februari 2012

Gambar diambil dari sini.

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s