MENERBITKAN ITU MUDAH, KONSISTENSINYA BUTUH PERJUANGAN


MENERBITKAN ITU MUDAH, KONSISTENSINYA BUTUH PERJUANGAN

Terinspirasi adanya selebaran pengumuman tarhib yang habis pada Jum’at lalu (28/6) saya akhirnya tekadkan diri untuk membuat buletin Jum’at Masjid Al-Ikhwan. Insya Allah buletin ini akan mulai diluncurkan Jum’at pekan ini (5/7). Sebenarnya sebelumnya saya ditawarkan untuk mengisi dan mengasuh buletin di Masjid lain tapi belum diiyakan karena kesibukan dan tentunya komitmen untuk menulis dengan tema serius setiap minggu .

Sudah sedari awal pendirian masjid Al-Ikhwan belum ada buletin Jum’atnya. Padahal buletin itu penting buat menginformasikan agenda masjid dan penyebaran pemikiran kepada umat. Maka saya berharap penerbitan buletin ini untuk memenuhi kekosongan itu. Sembari menunggu Khatib Jum’at naik mimbar dan adzan berkumandang buletin ini menjadi bacaan para jama’ah, selain Al-Qur’an yang tentunya lebih utama, dan bisa dibawa pulang.

‘Alaa kulli hal, menerbitkan buletin itu mudah tapi mewujudkan konsistensinya yang luar biasa butuh perjuangan ekstra keras. Tak tahu sampai kapan buletin yang saya namakan Al-Ikhwan ini akan terbit. Harapannya tentu untuk selama-lamanya. Oleh karenanya, kudu bentuk tim dan sistemnya agar konsisten terbit setiap pekan. Jangan hanya bertumpu kepada satu orang saja. Karena tidak setiap saat waktu luang itu mendekati dan menyapa saya.

Kalau di tempat lain pakai aplikasi keren dan canggih, saya cukup sederhana saja: Word dengan template yang sudah bertebaran dan disediakan oleh orang yang mau berbagi ilmu dan pengalamannya. Dan ini isi edisi pertamanya:

Tarhib Ramadhan Masjid Al-Ikhwan

“Salah satu dampak dari keberhasilan Ramadhan adalah ketika ia mampu untuk beraktivitas sosial dengan masyarakat,” kata Bapak Uche Ismail, dalam sambutannya pada Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan di Masjid Al-Ikhwan, Ahad, 30 Juni 2013 lalu.

Sambutannya adalah hanya salah satu rangkaian acara yang ada pada tarhib tersebut. Sebelumnya Ananda Muthia dan Ananda Dini mengawali acara dengan memperdengarkan hafalan surat di juz-29 yaitu Surat Al-Qiyamah. Setelah sambutan Ketua DKM yang berbicara tentang pentingnya ukhuwah di antara umat Islam, Tasmi’ul Qur’an selanjutnya memperdengarkan surat Al-Mulk yang dilantunkan oleh Ananda Maulvi.

Acara tasmi’ ini semata diselipkan agar memacu semangat kepada umat agar senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an. Setelah membaca, menghafal, memahami, maka mengaplikasikan AlQur’an dalam keseharian adalah sebuah kewajiban.

Puncak acara yang diselenggarakan oleh DKM Al-Ikhwan bekerjasama dengan PKK RW.17 ini adalah taushiyah yang disampaikan Ustadz H. Fathurrahman, S.sos. yang mengetengahkan tema tentang 5 Penghalang Keshalihan dan bagaimana mempersiapkan diri dalam menyambut bulan mulia Ramadhan 1434H.

IMG-20130630-WA0002

*Ustadz Fathurrahman sebelah kiri bersama siapa yah? (foto ini tidak dimasukkan ke dalam buletinnya.)

Sebagai apresiasi terhadap para peserta tarhib yang datang terlebih dahulu dan para penanya aktif, PKK RW.17 memberikan doorprize menarik kepada mereka. (Rz)

Ta’jil dan Sahur

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw.

Tak terasa Ramadhan 1434 H sebentar lagi akan tiba. Sebuah bulan penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah swt. Bulan yang dinanti-nanti oleh orang-orang yang beriman dan memang hanya untuk orang yang beriman perintah itu diberikan. Sebagaimana firman Allah swt. dalam Al-Qur’anul Karim:

image

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2:183)

Menjadi agenda al-Ikhwan membuat Ramadhan ini lebih bermakna buat umat pada umumnya dan masyarakat Puri Bojong Lestari Tahap II pada khususnya. Oleh karenanya Masjid Al-Ikhwan telah menyusun program Ramadhan yang pada tahun ini mengambil tema: “Ramadhan, Saatnya Kembali KepadaNya, Saatnya Berbagi Kepada Sesama.”

Tema ini bukan berarti bahwa hanya pada Ramadhan sajalah kita menjadi muslim sejati yang bertaubat kepada Allah swt dan kita menjadi orang dermawan sedermawan-dermawannya, melainkan Ramadhan adalah saat tepat untuk kembali menghitung diri apakah taubat kita adalah taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka jika tidak, Ramadhan adalah waktu paling baik untuk kembali jujur bahwa kita selayaknya kembali kepadaNya karena Ia membukakan pintu ampunanNya selebar-lebarnya. Sungguh merugi orang yang berpuasa ketika Ramadhan berakhir ia tidak mendapatkan ampunanNya.

Ramadhan pun–dengan tema ini—bukan pula berarti bahwa berbagi kepada sesama itu hanya di bulan Ramadhan melainkan bahwa Ramadhan menjadi saat yang tepat untuk melatih jiwa sosial kita menjadi lebih peka lagi. Yang semula di luar Ramadhan sedekahnya kurang maka di Ramadhan dilatih untuk berinfak lebih besar. Dan bagi yang sudah terbiasa untuk berinfak besar di luar Ramadhan maka di dalam Ramadhan dilatih semangat berbaginya agar tetap isiqamah.

Al-Ikhwan membuka kesempatan kepada para warga Puri Bojong Lestari II untuk berbagi dengan menyediakan program ta’jil/berbuka puasa bersama. Di sanalah masyarakat dipersilakan untuk menyediakan penganan/makanan berbukanya. Sungguh, orang yang memberikan makanan untuk berbuka puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tersebut.

Selain ta’jil, program lainnya adalah makanan sahur buat para peserta iktikaf. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para donatur berbondong-bondong untuk memberikan sebagian hartanya berupa uang ataupun makanan sahur buat para peserta iktikaf. Pengurus DKM Al-Ikhwan hanya bisa memberikan do’a agar Allah membalas kebaikan para donatur tersebut dengan kebaikan yang berlipat ganda. (Rz)

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:26 02 Juli 2013

WAHAI PEMERINTAH, JANGAN KORBANKAN KAMI


PEMERINTAH… JANGAN KORBANKAN KAMI

Menjelang lebaran haji tahun 2010 ini terasa sekali
oleh saya—sebagai ketua takmir—berat dalam memutuskan sesuatu.
Masalah klasik sebenarnya. Kapan puasa sunnah arafahnya dan kapan shalat Idul Adhanya. Tahun 2007 lalu yang pelaksanaannya berbeda kayaknya tidak ada masalah dan kami enteng-enteng saja melewatinya. Untuk kali ini sepertinya tidak.

Ada Jama’ah yang berpendapat hari Senin puasanya karena sudah menjadi keputusan pemerintah Arab Saudi wukuf di arafah pada hari itu. Jadi shalat Idul Adhanya hari Selasa. Jama’ah yang lain berpendapat bahwa kita kudu ikuti apa kata pemerintah. Pemerintah sudah menetapkan tanggal 10 Dzulhijjahnya pada hari Rabu sehingga Shalat Idul Adhanya jatuh pada hari itu juga dan Puasa Arafahnya pada hari sebelumnya yaitu pada hari Selasa.

Ada lagi jama’ah lain yang berpendapat bahwa kita ikuti penetapan hari raya Idul Adhanya pada hari Rabu namun puasanya mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Arab Saudi karena puasa Arafah berpatokan pada pelaksanaan wukuf di Arafah.

Saya harus ambil keputusan karena saya pikir dari kesemua pendapat itu ada banyak ulama yang mendukungnya. Satu yang tetap menjadi pertimbangan saya adalah sesungguhnya menjaga persatuan umat Islam wajib hukumnya. Sedangkan pelaksanaan puasa Arafah dan shalat Idul Adha adalah sunnah. Tentunya mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah itu adalah lebih utama.

Karena kebanyakan dari kita terkadang sulit dalam menentukan prioritas. Terbukti kalau shalat Idul Adha ataupun Idul Fitri banyak yang datang berbondong-bondong datang ke masjid padahal sehari-harinya tidak pernah datang sama sekali. Sepertinya shalat ‘Id adalah sebuah kewajiban sehingga kalau tidak melaksanakannya terasa kurang afdol atau gimana gitu

Begitupula dalam penentuan waktunya, perbedaannya akan menjadi pertengkaran yang berujung saling berdebat, membenci, dan timbul benih-benih perpecahan. Padahal puasa Arafah dan shalat ‘Id Qurban hukumnya sunnah belaka (maksimal adalah sunnah mu’akadah, sunnah yang amat dianjurkan). Tak perlu mengorbankan sesuatu yang wajib dengan mengunggulkan yang sunnah. Seperti contoh yang lainnya adalah lebih mementingkan shalat tahajud tapi shalat shubuhnya kesiangan ditambah tidak berjama’ah di masjid.

Dengan pertimbangan kaidah keputusan pemerintah menghapuskan perbedaan maka saya ambil keputusan melaksanakan pendapat yang ketiga. Yakni untuk melaksanakan shalat Idul Adha di Masjid Al-Ikhwan pada hari Rabu dan dipersilakan untuk melaksanakan puasa Arafah pada hari Senin.

Dengan ambil penetapan tersebut saya harap tidak ada masalah bagi yang tetap ngotot berlebaran pada hari Selasa dan tidak mau melaksanakan shalat Idul Adha pada hari Rabu, namun dirinya tetap punya peluang melaksanakan puasa Arafah pada hari Senin. Lebih mementingkan puasa daripada shalatnya dengan alasan balasan yang diberikan Allah sungguh luar biasa. Dihapuskannya dosa kita setahun kebelakang dan satu tahun ke depan. It’s ok.

Pun saya harapkan penetapan ini tidak masalah bagi jama’ah yang berpendapat shalat Idul Adha pada hari Rabu, karena kebanyakan orang juga jarang untuk mengamalkan puasa Arafah terkecuali mereka yang paham dengan agama ini dan sunnah-sunnahnya.

Pertimbangan yang lebih penting lagi bagi saya adalah seperti sedikit diuraikan di atas yakni kaidah disunnahkannya meninggalkan sesuatu yang sunnah demi menjaga persatuan. Di mana apabila terjadi pertentangan antara wajib dan sunnah, maka yang dilakukan adalah yang wajib, walaupun harus meninggalkan yang sunnah. Karena maslahat persatuan lebih besar daripada maslahat melakukan sunnah.

Dr. Abdul Karim Zaidan menukil dari An-Nadawi yang mengilustrasikan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad saw dalam penerapan kaidah ini. Beliau tidak mengubah bangunan Ka’bah, karena dengan membiarkannya seperti yang sudah ada dapat menjaga persatuan.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud tidak sependapat dengan Utsman bin Affan yang melaksanakan shalat dalam perjalanan secara sempurna (itmam). Tetapi ditengah perjalanan Ibnu Mas’ud ra melaksanakan shalat itmam dan menjadi makmum di belakang Utsman ra. Ketika ditanya tentang perbuatannya itu, Ibnu Mas’ud ra berkata, “perselisihan itu buruk.”

Memaksakan shalat Idul Adha pada hari Selasa di tengah pemahaman masyarakat yang mayoritas Nahdliyin dikhawatirkan timbulnya fitnah bagi umat. Yaitu fitnah terjadinya perpecahan. Jika memang dipastikan tidak ada fitnah, maka dipersilakan saja untuk untuk melaksanakan shalat Idul Adha pada hari Selasa. Anda yakin maka silakan pakai kaidah ini: keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguan (alyaqiinu laa yazuulu bisysyakki). Dan pada kondisi yang saya alami di sini saya masih ragu.

Jalan dakwah masih panjang. Tujuan jangka pendek tak bisa mengorbankan tujuan jangka panjang. Perlu menghitung kekuatan dan risiko yang timbul. Selagi tetap memaksakan pendapat kita yang menurut kita paling rajih tetapi dengan membuat masyarakat kita lari sedangkan di sana masih terbuka peluang adanya pilihan lain yang syar’i, maka tujuan dakwah yang hendak dicapai akan menjadi semakin panjang lagi. Lalu mengapa kita memaksakan diri?

“Insya Allah tahun depan kita pikirkan kembali,” kata saya kepada para jama’ah yang menginginkan shalat Idul Adhanya pada hari Selasa.

By the way, inilah resiko menjadi rakyat kebanyakan. “Dan resiko memiliki pemimpin yang tidak mengerti agama,” kata seorang ustadz, ahad pagi ini. Ditambah dengan ulama yang takut pada penguasa sehingga tidak menyampaikan sesuatu yang benar kepada pemimpinnya. Karena ditengarai sesungguhnya pemimpin tertinggi di republik ini orangnya terbuka dan mau mendengarkan. Tapi sayangnya kurang tegas.

Saya berharap bahwa kengototan pemerintah untuk tetap berlebaran pada hari Rabu bukan didasari karena tidak mau mengubah hari libur, nasionalisme yang sempit, pemikiran sekuler yang hinggap di tubuh kementerian yang mengurusi agama di republik ini, yang ujungnya tidak mau sehaluan dengan orang-orang yang menurut mereka berpemahaman transnasional, atau tak mau mengubah protokoler yang sudah disiapkan para pembantu pemimpin itu. Namun semata-mata karena pertimbangan fikih yang matang.

Singapura yang sekuler dan mayoritas nonIslam saja mau menggeser hari liburnya di hari Selasa lalu mengapa kita yang mayoritas tidak bisa?

Saya berharap pula di tahun-tahun mendatang tidak terjadi perbedaan lagi. Karena yang repot kita-kita di bawah ini. Setiap tahun berdebat lagi. Setiap tahun memberikan penjelasan lagi. Bila tidak ditangani dengan baik khawatirnya umat menjadi bercerai-berai. Pemerintah tak perlu mengorbankan kita lagi untuk hal ini.

Katanya satu atau dua tahun ke depan pemerintah mengusahakan untuk dapat menyamakan cara penghitungan penentuan tanggal hari raya antarormas Islam. Syukurlah kalau begitu.

“Oleh karenanya pilihlah pemimpin yang mengerti agama dan isilah parlemen dengan orang-orang yang tak sekadar KTP-nya Islam,” tambah ustadz kami menutup pengajian shubuh ini. Betul juga sih kata ustadz itu, pemimpin yang mengerti agama akan dengan mudah fleksibel dan juga tegas dalam berprinsip. Orang-orang yang mengerti agama dalam parlemen pun akan bisa saling nasehat menasehati dalam kebaikan kepada pemerintah. Pastinya produk undang-undang yang dihasilkan selalu membela kepentingan umat. Insya Allah.

Wallohua’lam bishshowab. Hanya Allah yang Mahacerdas lagi Maha Mengetahui.

 

Maraji’:

100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari, Dr. Abdul karim Zindan, Penerjemah: Muhyiddin Mas Rida, Lc., Penerbit Pustaka al-Kautsar, Cet. I, Februari 2008

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

07.48 12 November 2010

ADA NASI KEBULI MALAM KE-27


ADA NASI KEBULI MALAM KE-27

Jelang berakhirnya ramadhan ini, saya ingin menceritakan tentang pelaksanaan i’tikaf di Masjid Al-Ikhwan, masjid komplek kami Puri Bojong Lestari, Pabuaran, Bojonggede. Dan terus terang saja bagi saya i’tikaf di Al-ikhwan tahun ini terasa sejuk, syahdu, membahagiakan, menyemangati, meringankan tidak memberatkan dan terasa indahnya.

Apalagi kami kedatangan tamu yaitu para peserta i’tikaf yang benar-benar full i’tikaf dan berdiam diri di masjid di siang hari dan malamnya. Tidak seperti kami para pekerja kantoran yang hanya beri’tikaf pada malam harinya, sedangkan pagi sampai sorenya masih pergi mencari segenggam berlian (baca: nafkah).

Dengan keberadaan mereka tentu kami sebagai pengurus masjid perlu memikirkan bagaimana melayani mereka terutama untuk makanan berbukanya. Karena untuk masalah sahur—selama bertahun-tahun pengalaman penyelenggaraan i’tikaf—tidak ada masalah. Masih banyak donator yang bersegera untuk menyuplai hidangan sahur.

Sedangkan untuk berbuka puasa memang belum ada daftar donaturnya, karena selama ini pula hanya makanan ta’jil yang diberikan para donator. Namun syukurnya ternyata banyak juga para munfiq yang bersedia untuk mengirimkan makanan berat untuk berbuka puasa.

Agenda Acara Malam

    Seperti yang telah diprogramkan, setelah acara tarawih ada tadarusan bersama dengan target dua juz permalam. Insya Allah target itu tercapai. Kemudian tidak ada agenda bersama lagi. Para mutakifin dipersilakan untuk mengisi malam dengan agenda masing-masingnya.

    Jam dua malam bangun dengan insiatif sendiri. Untuk melakukan shalat malam 4 raka’at atau aktifitas ibadah pribadi lainnya seperti membaca Al-Qur’an, berdoa dan berdzikir. Baru pada jam tiga paginya kami melaksanakan shalat malam berjama’ah 4 raka’at saja.

    Ohya, selain orang dewasa yang ikut i’tikaf ada juga anak-anak hingga remaja yang mengikuti acara tersebut. Dan kepada para anak-anak dan remaja itu diwajibkan untuk ikut shalat malamnya, terutama anak SD minimal dua raka’at saja. Ini sebagai pembelajaran kepada mereka bahwa i’tikaf di masjid itu bukan hanya sekadar memindahkan tempat tidur dan makan sahur dari rumah ke masjid saja. Alhamdulillah—ditambah dengan sedikit pelototan saya—mereka patuh dan mau untuk ikutan shalat malam, minimal 15 menit dalam dua rakaatnya tersebut.

    Enaknya shalat malam berjama’ah kami ringan (ini menurut saya loh…) karena dipimpin oleh Al-Hafidz dari rombongan tamu yang bacaannya enak didengar. Satu rakaat menyelesaikan dua halaman Al-Qur’an. Setengah jam kami telah menyelesaikannya rangkaian shalat malam itu.

Lalu pada jam setengah empat pagi kami sahur dengan hidangan sahur yang telah disediakan di atas 17 nampan. Kami makan secara berjama’ah. Satu nampan bisa tiga sampai empat orang. Waktu malam ke-25 bahkan satu nampan bisa sampai berlima karena pesertanya membludak sampai kurang lebih 85 orang.

Makan berjama’ah terasa sekali guyubnya. Saya tidak jijik untuk melaksanakan sunnah tersebut. Bahkan saya yang biasanya menghabiskan butiran-butiran nasi terakhir yang ada di atas nampan. Bagi yang belum terbiasa mungkin rasanya gimana gitu…

Nah…di antara jama’ah Al-Ikhwan yang tinggal di komplek itu terdapat para spesialis. Ya spesialis yang menginfakkan nasi dan lauknya di setiap malam. Mereka sangat istiqomah. Bahkan ada spesialis nasi kebuli untuk santap sahur di malam ke-27. Hmmmm…lezat.

Jam empat pagi biasanya acara sahur telah selesai. Kami bersiap-siap menyongsong shubuh. Agenda acaranya masing-masing. Dan baru ketika selesai shalat shubuh ada pembacaan hadits dan kuliah shubuh. Seringnya acara yang terakhir ini tidak saya ikuti karena harus pesiapan berangkat ke kantor.

Prediksi Keramaian

    Dari penyelenggaraan i’tikaf tahun ini maka didapat pengalaman berupa prediksi malam keberapa para peserta i’tikaf bisa hadir banyak. Ini diperlukan untuk memperkirakan berapa banyak nasi dan lauk yang harus dipersiapkan.

Untuk malam-malam genap kehadirannya normal terkecuali untuk malam Ahad atau malam yang keesokan harinya tanggal merah. Apalagi kalau malam ganjilnya bertepatan dengan besoknya libur. Bsia tambah ramai. Kalau malam ganjilnya bertepatan dengan hari minggu malam senin, jumlah peserta i’tikaf kurang lebih sama dengan malam-malam genap.

Malam Terakhir

Dan malam terakhir biasanya malam yang sepi. Tarawihnya sepi, shalat malamnya juga sepi. Dan ini menyedihkan saya. Ini adalah akhir dari semarak ramadhan di Masjid Al-Ikhwan yang selama satu bulan itu penuh dengan keramaian dan keberkahan. Masjid Al-Ikhwan akan kembali sepi sebagaimana banyak masjid-masjid dan mushola-mushola lainnya.

Tugas berat menghadang di depan bagi para kyai dan ustadz untuk berjibaku menyadarkan umat agar dapat kembali ke masjid sebagai pusat kegiatan kehidupan muslim, tidak hanya di bulan ramadhan saja. Pun agar saya tidak kesepian lagi.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08 09 2010 10:44

kantor sudah mulai sepi