Buku Kita Bisa Menulis: Memudahkan Saya Membayangkan Suasana


Kak Elfrida Simbolon, Fungsional Penilai Pajak Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, memberikan testimoninya terhadap buku Kita Bisa Menulis, Belajar kepada Mereka yang Tak Menyerah.

Kata-kata kunci ulasan terhadap buku Kita Bisa menulis ini adalah, “Penyajian tulisan yang sangat detail namun tetap menarik untuk dibaca, memudahkan saya membayangkan suasana yang seperti diceritakan dalam tulisan tersebut.”

Terima kasih banyak, Kak Elfrida. Setelah membaca buku ini, saya tunggu tulisan-tulisannya. Berikut testimoninya.

**

Tepat di hari Senin, 03 Oktober 2022, buku ini ada di meja kantor saya.

Setengah bagian dari buku “Kita Bisa Menulis” ini sudah selesai saya baca. Adapun bagian yang sudah saya baca adalah Bab Mewariskan Peradaban, Bab Jenis Tulisan, Bab Tahapan Menulis, dan sebagian dari Bab Teknik Menulis.

Saat mulai membaca bukunya, rasa penasaran muncul untuk meneruskan ke halaman-halaman selanjutnya. Tidak membosankan sama sekali. Pilihan kata, susunan kalimat, irama yang sangat baik, membantu saya lebih mudah memahami pesan yang disampaikan oleh Penulis (Bapak Riza Almanfaluthi).

Beberapa poin yang menarik perhatian saya dari buku ini adalah:

    1. Buku ini memotivasi saya untuk bisa menulis dengan sistematis dan supaya enak dibaca sesuai dengan yang disampaikan Penulis dalam Prakata buku ini.
    2. Kutipan Penulis menyampaikan bahwa ada dua jenis pola pikir (mindset) di dunia ini. Pola pikir tetap (menganggap bahwa kecerdasan itu adalah pemberian genetik dan kita tidak bisa mengubahnya) dan pola pikir tumbuh (menganggap seberapa pun kecerdasan yang kita miliki, kita bisa mengubahnya).
    3. Obat mengatasi ketakutan menulis adalah cuek. Biarkan mengalir apa adanya. Lalu berhentilah sejenak saat kita telah menemukan titiknya. Lalu setelahnya kita harus bisa menjadi penyunting bagi tulisan kita sendiri.
    4. Ide ada di mana-mana atau datangnya bisa kapan saja. Lebih baik kita segera menyimpan dan menabung ide. Suatu saat jika diperlukan, kita tinggal mengambilnya untuk dijadikan tulisan.
    5. Sebaiknya tidak menunda menulis jika ide, topik, dan pengalaman yang akan ditulis baru dirasakan. Supaya tidak lupa dan “roh” atau suasana objek tulisan masih bisa dirasakan.
    6. Tulisan yang berjudul “Jamu Jun Yanti, Pengudar Kahanan Rindu” sangat menarik untuk dibaca. Penyajian tulisan yang sangat detail namun tetap menarik untuk dibaca, memudahkan saya membayangkan suasana yang seperti diceritakan dalam tulisan tersebut.

Terima kasih Pak Riza, untuk penulisan buku ini. Sangat bermakna dan bermanfaat, Pak. 🙏😇

**
Terima kasih atas ulasan atas buku Kita Bisa Menulis. Buat para pembaca yang hendak mengetahui atau meninjau buku ini silakan untuk mengeklik tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 Oktober 2022

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.