Seperti Menu Indomie Paling Enak di Warung Kopi


Beberapa waktu lalu, akun Instagram saya ditandai oleh @dannyarttt. Dalam akun Instagramnya itu ia mengeposkan foto disertai narasi tentang ulasannya terhadap buku Kita Bisa Menulis, Belajar kepada Mereka yang Tak menyerah.

Menurut saya ulasannya ciamik banget. Saya tak perlu berpanjang kata menerangkan maksudnya apa dengan keciamikan ulasannya itu. Saya ingin pembaca langsung membacanya.

Silakan menikmati. Oh ya, ia sangat peduli bahasa oleh karena itu saya tidak menyuntingnya sama sekali. Saya membiarkannya. Saya fokus pada substansinya. Terima kasih, Mas @dannyarttt.

Seusai Hujan Reda
Oleh: @dannyarttt

Seusai hujan reda, saya bersiap untuk pulang sore itu. Seorang rekan kemudian memanggil saya dan menyodorkan sebuah buku. Katanya, buku ini akan membuat saya kembali ke awal untuk lebih memahami fondasi dalam dunia tulis-menulis. Saya menerima buku itu dengan semringah. Sampul bukunya berwarna merah, berani.

Dua hari kemudian, saya mulai membacanya. Dalam kata pengantar, sang penulis, Riza Almanfaluthi (@riza_almanfaluthi), mengatakan bahwa buku ini dibuat dalam waktu dua bulan. Butuh jam terbang dan konsistensi tinggi untuk bisa menyelesaikan sebuah karya dalam waktu sesingkat itu. Beranjak ke daftar isi, saya bisa membayangkan betapa runut dan praktis ilmu yang akan disampaikan. Sesuai dengan komitmen Mas Riza, beliau tak ingin terlalu banyak berteori.

Benar saja, dalam setiap babnya Mas Riza menyampaikan materi seirama dengan pengalaman. Beberapa tulisan beliau juga dilampirkan untuk menjadi contoh pada bab-bab yang relevan. Saya bisa menangkap maksud setiap babaknya dengan gamblang. Berbagai referensi dicantumkan untuk melengkapi wawasan pembaca. Yang paling saya tengarai adalah berbagai sumber dari Tempo dan saya rasa Mas Riza juga nge-fans sama Chatib Basri dan Andrea Hirata.

Pemaparan tentang Teknik Menulis menjadi inti dari buku ini menurut saya dan saya 100% puas dengan kurikulumnya. Mulai dari cara membuat judul, lead, outline, paragraf, sampai penutup tulisan.

Di samping itu, Mas Riza juga memberikan bonus tip dan trik terkait bagaimana memenangkan lomba menulis, latihan menulis sehari-hari, proses penyuntingan, hingga menerbitkan buku. Komplet! Seperti menu Indomie paling enak di warung kopi.

Epilog pada halaman 187 mengingatkan apa yang mungkin terlupa setelah melahap habis tujuh bab sebelumnya. “Kemauan” menjadi modal penting untuk mempelajari hal baru, tidak hanya menulis. Berpola pikir tumbuh, menangguhkan identitas diri sejenak, mengasingkan diri untuk menyelami dunia baru, dalam hal ini, semua orang bisa menulis terlebih menerbitkan buku sendiri.

Setelah menutup kover belakang, saya teringat petuah Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”


**

Buat pembaca yang hendak mengetahui isi buku ini silakan untuk mengeklik tautan berikut https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
27 Oktober 2022

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.