180 Derajat Yang Kedua


image
(i.ytimg.com)

Yang biasanya menemani kita adalah mereka yang mampu bertahan menjadi teman di kala nestapa. Bukan hanya di gempita. Tapi perempuan ini tidak. Di kala jaya sang idola, maka ia menjadi bulan sebagai teman dari bintang. Namun, ketika sang idola mendapat petaka maka ia berbalik arah. Menengok pun tidak. Ini klise. Sebuah adegan dari video klip 180 Degree Tamer Hosny. Lagi-lagi saya mau bilang seperti di 180 Derajat awal, kalau 180 Degree di sini bukan bercerita tentang roman klasik seperti itu, melainkan…..

perjalanan balik kami yang 180 Degree, berbeda, dari tahun sebelumnya. Selamat menikmati.

Sudah waktunya pulang setelah berlama-lama di Semarang, Ambarawa, dan Magelang. Saatnya singgah ke Indramayu dan setelah itu balik ke Jakarta. Rabu sore, 22 Juli 2015, pukul 15.00, kami berangkat dari Semarang.

Saya pilih waktu itu dengan memikirkan sudah tidak ada lagi keramaian pasar tumpah di beberapa kota di Jawa Tengah. Tentunya pula dengan pertimbangan hawa adem saat menempuh perjalanan panjang ini. Apalagi orang-orang yang harus masuk kerja Rabu tentunya sudah berangkat duluan ke Jakarta. Insya Allah jalanan sepi.

Perjalanan dari Semarang sampai masuk Pekalongan alhamdulillah lancar. Tapi di Kota Pekalongan padat merayap, entah kenapa. Terutama saat menyeberangi perlintasan kereta api. Pada saat itu azan isya sudah berkumandang. Anak-anak sudah pada kelaparan. Apalagi bensin sudah mau habis.

Kami berhenti di Batik International Rest Area. Masuknya berbayar. Tempat parkirnya luas. Banyak toko batik dan tentunya food court. Kami buka bekal yang dipaksa-paksakan harus dibawa oleh kerabat di Semarang. Kami makan di atas mobil di area parkir yang beratapkan kerangka baja itu. Setelah itu kami salat jamak qashar di mushallanya yang luas dan cukup representatif.

Tempat ini bisa dijadikan bookmark buat beristirahat di Pekalongan. Biasanya kami sudah menandai tempat-tempat terbaik buat kami beristirahat.  Seperti kalau Tegal di SPBU Muri, Pekalongan di Sari Raos Bandung, Alas Roban di Sari Raos Bandung. Tentunya dengan pertimbangan utama adalah WC-nya bersih dan Musholla-nya representatif.

Lalu setelah selesai semua kami berangkat lagi. Jalanan ramai dan lancar. Masuk Pemalang saya sudah mulai mengantuk. Target berhenti selanjutnya adalah SPBU Muri buat tempat istirahat. Saya harus berhati-hati menahan kantuk karena masih belasan kilomerer untuk sampai di sana. Jam 11 malam kami tiba lalu tidur. Hanya serombongan nyamuk yang masuk kabin mobil dan mengganggu tidur kami yang bisa membangunkan kami.

Jam 01.30 dinihari (23/7) kami berangkat lagi. Mata saya sudah segar kembali. Jalanan tetap ramai dan lancar. Di Brebes kami diminta untuk tidak melewati jalan tol Brebes-Pejagan yang berdebu itu. Sedari awal kami ogah untuk lewat situ. Bahkan kami pun tidak lewat jalan tol Pejagan-Kanci-Palimanan. Kami sengaja tidak lewat jalan iti. Kami memang akan pergi ke Indramayu via Karangampel.

Jalanan Pejagan-Cirebon lancar bahkan sepi. Satu dua ada bus atau mobil pribadi. Motor-motor pemudik masih tetap jadi raja jalanan. Nah, yang paling 180 derajat lagi adalah di jalanan Cirebon-Karangampel.

Buat pembaca ketahui, sebelum tol Cipali berfungsi, jalanan Cirebon-Karangampel ini adalah jalanan alternatif yang tidak banyak diketahui orang. Padahal jalanannya lebar sepanjang 50 km. Jalanannya pun bermedian. Masing-masing ada dua lajur.

Dulu, malam-malam saya sering menjumpai banyak mobil yang lewat jalan ini, tapi untuk tahun ini benar-benar sepi sama sekali. Sedikit bahkan hampir tidak ada mobil yang mengikuti saya di belakang dan tidak ada pula yang di depan saya. Pokoknya malam itu jalanan jadi milik saya. Istri mengingatkan saya untuk tetap berhati-hati karena dalam kondisi seperti itu banyak yang lengah dan terjadi kecelakaan tunggal.

Sampai di Segeran, Indramayu–rumah bibi saya tinggal–jam tiga pagi. Dari Karangampel memang tidak jauh. Di situlah kami beristirahat nanti siangnya kami akan bersilaturahmi dengan keluarga jauh almarhum bapak saya yang ada di Jatibarang sekalian nyekar ke makam bapak dan ibu saya.

Jatibarang-Cikampek
Setelah semua urusan selesai, Kamis sore kami berangkat ke Jakarta. Tepatnya jam 17.20. Kami tidak melalui tol Cipali. Kami ingin mencoba jalur pantura. Setahun lalu kami harus menyediakan waktu 12 jam untuk bisa sampai di Jomin dari Jatibarang. Dan benar-benar terbukti perkataan orang yang bilang dengan adanya jalan tol Cipali pantura sepi. Memang terbukti.

Pantura lengang dari mobil pribadi. Yang banyak truk, bus, dan motor. Tapi sebanyak-banyaknya mereka tetaplah lengang daropada tauunnlaiu. Benar-benar tak ada kemacetan sama sekali. Bahkan Jomin sepi sekali. Hanya butuh waktu dua jam kurang tujuh menit untuk sampai di Jomin.

Kami sampai di SPBU favorit kami di Jomin. SPBU Kharisma Baitussalam II. Di belakang SPBU ini ada kompleks boarding school. Di antara SPBU dan kompleks itu ada musholla nyaman dan WC bersihnya.

Kami buka bekal makan malam yang dibawakan bibi saya. Ada nasi, krupuk melarat, blekutak, krupuk udang, tempe, perkedel, kentang goreng, dan masih banyak lagi lainnya. Kami makan dengan santai di pelataran musholla, di tengah suasana sepi menggigit yang berbeda dengan tahun lalu.

Setelah salat dan istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan lagi. Sayangnya pilihan kami ini kurang tepat. Kami melaju ke arah pintu tol Cikopo (Cikampek). Kosong sih. Tapi mendekati kilometer 70, kendaraan sudah mulai merayap. Kejadian malam sebelumnya semoga tak terulang, yang dari berita sebelumnya telah terjadi kemaceran parah hingga sebabkan banyak mobil kehabisan bensin.

Sisa-sisa kemacetan itu ditunjukkan dengan banyaknya sampah berceceran di kanan kiri jalan tol. Semuanya karena rest area. Dan itu betul, walau tidak separah malam sebelumnya, kepadatan yang merayap dirasakan hingga gerbang tol Cikarang Utama. Ini berarti sekitar 50-an kilometer.

Karena saya kelelahan maka saya berhenti di rest area KM-42 yang kebetulan tidak padat. Parkirnya pun tidak sampai masuk ke dalam. Cuma di dekat pintu masuknya saja. Tidur selama tiga jam membuat saya segar kembali.

Setelah keluar tol Cikampek dan masuk ke jalan tol Lingkar Luar saya memilih keluar di pintu tol Pasar Minggu. Sengaja saya tidak memilih jalan tol Jagorawi karena jalur non-tol ini pendek daripada jalan tol Jagorawi. Pun, saya pikir jalanan Tanjung Barat sampai Depok hingga Citayam sepi. Dan benar sepi sekali. Akhirnya tiba di rumah jam tiga pagi.

Ada jalan alternatif yang kiranya layak untuk dicoba kalau tiba di Jomin saat malam hari karena dimungkinkan sepi dan lancar-lancar saja. Yakni tak perlu lewat jalan tol melainkan lurus ke arah jalan lama non-tol. Ke Kahuripan, Cikarang, hingga Kota Bekasinya. Baru di Bekasi masuk lagi via pintu tol Bekasi Timur. Insya Allah tahun depanlah.

‘Ala kulli hal, selesai sudah cerita mudik dan balik kami ini. Insya Allah banyak kemudahan yang didapat dari perjalanan itu. Apalagi pelajaran hidup. Kelak saya akan menuliskannya di lain waktu. Entahlah, apa akan ada orang yang membacanya? Pun, membaca ini. Apatah lagi ketiadaan gunanya. Betulkah? Anda sendiri yang menilainya.

***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
27 Juli 2015

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s