RIHLAH RIZA #4: BOSCH DAN KOPI


RIHLAH RIZA #4: BOSCH DAN KOPI

 

Kita tak pernah tahu teh dan kopi panas yang kita minum di saat coffe break ternyata punya cerita panjang di balik keberadaannya. Ada banyak jejak amis darah dan pengorbanan dari nenek moyang kita.

 

Setelah hampir bangkrut karena terlibat perang dengan Pangeran Diponegoro, maka selama lebih dari satu abad (1935-1940) penjajah Belanda menikmati kas negara yang berlimpah dari sistem tanam paksa. Sistem ini mewajibkan setiap desa menyisihkan 20% luas tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor seperti kopi dan teh. Jika tidak punya tanah maka penduduk desa wajib bekerja selama 75 hari di kebun-kebun penjajah. Inilah era yang dikenal sebagai era paling menindas dari penjajah Belanda di bumi pertiwi ini. Bahkan lebih kejam daripada VOC yang bangkrut duluan karena korupsi itu.

**

Ini masih di hari kedua di Banda Aceh. Setelah acara pelantikan dan rapat bersama Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Aceh, saya bersama dengan dua orang teman yang juga ditempatkan di Tapak Tuan bertemu dengan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapak Tuan Pak Jaelani. Kami memperkenalkan diri kepadanya. Singkat cerita, untuk lebih mengakrabkan diri, Pak Jaelani mengajak kami ngupi-ngupi nanti malam di kedai kopi. Tentunya kami bersedia.

Setelah bertemu dengan Pak Jaelani, saya menyempatkan diri bertemu dengan teman lama yang asli Aceh. Ia satu angkatan dengan saya di STAN Prodip Keuangan dulu. Kalau di grup Whatsapp kami, namanya Opa Lucu. Nama sebenarnya Nova Yanti. Sejak lulus sudah ditempatkan di Banda Aceh. Sekarang dia sebagai Penelaah Keberatan di Kanwil DJP Aceh. Dua teman saya yang sama-sama berangkat dari Jakarta, Slamet Widada dan Agung Pranoto Eko Putro, sudah silaturahmi duluan dengannya. Saya belakangan dan cuma sebentar ketemu Opa Lucu karena sudah ditunggu rombongan untuk pulang ke penginapan. Tak apalah, yang penting silaturahminya sudah. Itukan bikin panjang umur dan tambah rezeki kita.

Kami sampai di Hotel Medan maghrib. Hujan masih turun. Saya rehat sejenak. Sehabis makan malam saya menunggu jemputan untuk ngupi-ngupi itu. Jarum jam pendek udah melewati angka tujuh, lalu angka delapan, dan angka Sembilan. Tidak ada informasi jadi atau tidaknya. Sepertinya memang menunggu hujan dan gerimisnya reda. Baru pada pukul 21.46 ada informasi kalau jemputan akan datang ke Hotel Medan. Setengah jam kemudian saya telah berada di dalam mobil yang di dalamnya sudah berisi lima orang.

Ternyata ada Mas Hidra Simon yang nyetir. Mas Hidra Simon ini adalah Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV di KPP Pratama Banda Aceh. Wajahnya tak asing karena pernah kami undang untuk bersama-sama menghadiri persidangan banding di Pengadilan Pajak atas kasus sengketa pajak yang kami tangani sewaktu saya masih di Direktorat Keberatan dan Banding. Di sampingnya duduk Mas Afrizal Kurniawan Syarief, satu kantor dengan Mas Hidra Simon. Ia Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi III.

Selain itu ada Mas Oji Saeroji. Teman yang ditempatkan di KPP Pratama Tapak Tuan bersama-sama saya. Di KPP itu ia menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan. Ia adalah salah satu penulis Buku Berbagi Kisah dan Harapan (Berkah) Perjalanan Modernisasi Direktorat Jenderal Pajak. Ketemu pertama kali waktu ada workshop kepenulisan buat para kontributor Buku Berkah di akhir 2010. Terakhir ketemu waktu ada workshop Tax Knowledge Base di Bandung akhir Mei 2013. Dan dunia itu kecil. Sempit. Karena ternyata dia kenal juga dengan teman SMA saya. Alamaak…

Ada lagi yang sama-sama ditempatkan di Tapak Tuan, Mas Suardjono. Ia jadi Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan di KPP Pratama Tapak Tuan. Terakhir adalah Mas Maman Purwanto. Ia orang baru yang ditempatkan di KPP Pratama Subulussalam sebagai Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan juga. Jadi selain Mas Hidra Simon dan Mas Afrizal, kami berempat adalah orang baru di daerah Aceh ini.

Kami tiba di sebuah warung kopi besar: Aan ‘n Adua Kupi. Ada layar lebar seperti layar tancap. Yang diputar adalah film-film tv kabel. Sound system-nya gede. Warung ini berfasilitas wifi. Sudah banyak orang di warung itu. Kebanyakan anak muda dengan laptop masing-masing. Asap rokok pun membumbung ke mana-mana. Pak Jaelani bersama dua anaknya dan dua keponakannya sudah menunggu di warung. Pak Jaelani ini memang orang asli Aceh, setiap akhir pekan beliau pulang dari Tapak Tuan karena keluarganya tinggal di Banda Aceh.

 

Gambar kopi dari sini.

Saya pesan kopi biasa. Teman-teman yang lain pesan kopi sanger (kopi susu). Selain kopi dihidangkan pula roti dan gorengan tempe dalam sebuah piring kecil. Sambil ngupi-ngupi itu kami mengobrol lama. Ada rencana yang tersusun akhirnya. Nanti hari minggu Mas Oji dan Mas Suardjono akan berangkat ke Tapak Tuan satu mobil bersama Pak Jaelani. Berangkat jam sepuluh pagi dari Banda Aceh. Diperkirakan sampai di Tapak Tuan jam tujuh malam. Sedangkan saya masih memikirkan moda transportasi alternatif menuju Tapak Tuan pada satu pekan yang akan datangnya. Karena ada penugasan lain dari kantor lama saya baru satu minggu kemudian menyusul dua teman saya itu ke Tapak Tuan. Pak Jaelani sudah menawarkan saya untuk ikut mobilnya. Saya belum mengiyakan cuma tak enak saja karena takut merepotkan lagi.

Malam semakin larut. Akhirnya pertemuan silaturahmi awal ini pun selesai. Saya cuma bisa meminum segelas kopi saja. Tapi alhamdulillah lambung tak menolak seperti biasanya. Kami pulang. Pak Jaelani khawatir kalau ngupi-ngupi nya dilanjutkan lebih malam lagi, kami tak bisa beristirahat terutama saya yang kudu balik lagi ke Jakarta.

Warung kopinya tetap buka. Saya tak tahu kapan tutupnya. Warung kopi tak bisa dilepaskan dari kehidupan malam masyarakat Aceh. Pun kopi yang kami minum tadi. Ini warisan kerja rodi nenek moyang masyarakat Aceh sejak tanam paksa. Kita tinggal menikmatinya. Kita tak tahu tragedi apa yang ada di balik setiap tanaman kopi yang dipaksakan ditanam oleh penjajah Belanda ini. Seperti kita tak tahu pula tragedi apa yang dialami oleh nenek moyang kita dari setiap baut dan kayu jati yang tertempel di rel kereta api sepanjang utara Jawa.

Tanam Paksa (Gambar diambil dari sini)

Tapi yang pasti betapa banyak korban dari kekejaman sistem tanam paksa ini. Busung lapar dan kelaparan melanda Cirebon, Demak, dan Grobogan. Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pencetus cultuurstelsel malah dianugerahi gelar kebangsawanan Graaf atas jasa-jasanya dalam penerapan sistem kejam ini. Tapi karena perubahan politik di negeri penjajah itu sendiri, maka sistem tanam paksa dicabut di tahun 1870. Mekipun demikian era ini belumlah berakhir untuk daerah di luar Jawa. Penjajah Belanda mengembangkan penanaman besar-besaran yang difokuskan pada tanaman kopi. Contohnya di Tanah Gayo, Aceh, sejak tahun 1904.

Sekarang produksi kopi menjadi tulang punggung sebagian masyarakat Aceh terutama di Aceh Tengah dan Bener Merah. Dari data terakhir di tahun 2012 Aceh menjadi daerah penghasil kopi terbesar keenam setelah Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Bengkulu.

Catatan ini sudah terlalu panjang. Saatnya mengakhirinya dengan satu pesan: kini berpikirlah sejenak saat kita meminum kopi. Karena ada masa lalu yang mengikutinya.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

5:41 26 Oktober 2013

 

Thanks to: Mas Hidra Simon dan Afrizal Kurniawan Syarief karena telah mengantar kami untuk ngupi-ngupi. Thanks to Opalucu karena telah menerima kami.

 

Tags: Hidra Simon, Suardjono, oji saeroji, jaelani, kepala KPP Pratama Tapak Tuan, afrizal kurniawan syarief, maman purwanto, kpp pratama banda aceh, kpp pratama tapak tuan, kpp pratama subulussalam, aan ‘n adua kupi, opa lucu, nova yanti, @opalucu, slamet widada, agung pranoto eko putro, Johannes van den bosch, cultuurstelsel, cultuur stelsel, hotel medan, pangeran diponegoro, tanah gayo, kopi aceh, kopi gayo, graaf,

 

 

RIHLAH RIZA #3: BAGHDAD, BANDA ACEH, DAN BARMAKI


RIHLAH RIZA #3:

BAGHDAD, BANDA ACEH, DAN BARMAKI

 

Baghdad. Satu jam sebelum tragedi. Keluarga Barmaki sedang memamerkan kekayaan mereka, sutra yang lembut dan indah. Dalam suka cita, ketenteraman, dan jauh dari marabahaya. Mereka tidak tahu ada bencana mengintai yang akan melenyapkan semuanya. Dalam sekejap…

**    

Banda Aceh. Pelantikan itu diadakan di lantai 2 gedung Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Aceh bakda shalat Jumat. Gedung Kanwil DJP Aceh sendiri berada di dalam kompleks Gedung Keuangan Negara di jalan Tgk. Chik Di Tiro. Selain Kanwil DJP Aceh di dalam kompleks itu ada beberapa satuan kerja Kementerian Keuangan yang lain, seperti Kantor Wilayah I Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Percontohan Banda Aceh, Kantor Wilayah I Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, dan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Banda Aceh.

    Langit sudah mendung dengan mega hitamnya. Bahkan tak lama kemudian hujan mulai turun dan semakin deras. Sebelum kami diminta naik ke lantai 2, kami berkumpul di lobi gedung. Di dindingnya terpampang peta besar, peta Propinsi Aceh beserta letak kantor-kantor unit vertikal Kanwil DJP Aceh. Secara otomatis kami berkumpul dan melihat-lihat peta itu.

 

Peta Aceh dan Letak Kantor Pajak di Seluruh Wilayah Propinsi Aceh (foto pribadi)

    “Dua tahun lalu, pertama kali datang ke sini yang saya lihat peta ini,” kata Mas Hidra Simon, teman kami—senior saya—yang sudah lama bekerja di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Aceh. Dari peta itu saya baru tahu kalau di Kanwil DJP Aceh terdapat tujuh KPP dan belasan Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan. Dari peta itu juga saya bisa melihat utuh letak keseluruhan unit pengumpul penerimaan Negara yang berada di tanah rencong ini.

    Kami diminta untuk berkumpul di atas. Dalam sebuah ruangan tengah yang tidak seberapa luas acara pelantikan akan segera dilaksanakan. Kami diminta pula untuk menempati posisinya masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya. Di lantai sudah tersedia papan nama. Reflek saya melihat papan nama untuk mencari posisi berdiri. Saya melihat satu per satu. Ada tulisan Pejabat Eselon III, Pejabat Eselon IV, Rohaniwan, dan Pejabat yang Dilantik. Tak ada papan nama untuk Penelaah Keberatan atau pun jabatan pelaksana lainnya, padahal itu yang saya cari. Sedetik kemudian tersadar dan ngeh kalau sekarang saya tidak lagi jadi keduanya. “Ooo…kepala seksi itu pejabat yah,” pikir saya. Ternyata status saya sudah berubah setelah 16 tahun berada di hirarki terbawah jabatan di DJP. Seperti ada sesuatu yang berdesir dalam hati.

Namun desiran itu bukan seperti lenguhan Gollum—tokoh yang ditakdirkan harus ada dalam The Lord of The Ring—saat memandang cincin yang ia pegang selama ratusan tahun dengan mata berbinar-binar sambil berkata: “My precious…! My precious…!”

Desiran itu bukan karena bangga dengan jabatan baru. Tetapi lebih mengarah pada apa yang ada di balik itu. Pelaksana atau pun pejabat pada dasarnya sama saja. Karena mereka semua akan dimintakan pertanggungjawabannya atas amanah yang mereka emban. Pejabat setinggi apa pun tidak akan direken ketika ia mulai tidak amanah. Pelaksana atau pun pejabat di mata Allah yang dilihat cuma takwanya. Tidak lain.

Ya betul. Amanah itulah yang ada di balik semua jabatan yang tertera di masing-masing papan nama. Bisa tidak amanah itu diemban dengan sebaik-baiknya? Saya teringat pesan dan nasihat Ibu Direktur Keberatan dan Banding saat saya berpamitan dengannya, “Jabatan itu bukan hak, karena jika jabatan adalah hak maka bila haknya terlepas dari orang itu, ia bisa menuntut untuk mendapatkannya kembali. Sedangkan jabatan itu terkait dengan amanah. Amanah itu kepercayaan.”

Perkataan itu terngiang-ngiang dalam ingatan saya. Jadi karena amanah itu terkait dengan kepercayaan, maka bisa tidak kita menjadi orang yang dipercaya dan memegang kepercayaan itu dengan sebaik mungkin. Pun sejatinya yang memberi jabatan itu bukan manusia tapi Sang Pencipta Manusia itu sendiri. Dialah yang memberikan jabatan itu kepada siapa yang dikehendaki. Dan Dialah pula yang mencabut jabatan itu dari siapa yang dikehendaki. Bukankah ini adalah dzikir kita setiap pagi dan sore hari?

 

(Ali Imron:26)

Siapa yang tidak mengenal Yahya bin Khalid Al-Barmaki pada saat itu? Ia adalah perdana menteri nonarab yang diangkat oleh Khalifah Harun Al-Rasyid untuk mengurusi keuangan Negara, rakyat, dan pemerintahan dalam kekuasaan yang tidak terbatas. Masalah pemecatan, memperkerjakan orang, memberikan jabatan termasuk dalam urusan wazir itu.

Jabatan sang wazir kemudian diteruskan kepada sang anaknya Ja’far bin Yahya Al-Barmaki. Tetapi di sinilah ketika kekuasaan tanpa batas itu kemudian cenderung kepada korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Keluarga Barmaki memperkaya diri sendiri dari harta dan keuangan Negara bahkan kemewahannya hampir menyamai keluarga Istana.

Sampai di suatu pagi ketika ketinggian jabatan, kejayaan, dan kehormatan telah mencapai puncaknya dan melenakan mereka, prajurit Harun Al-Rasyid datang menyerbu, menghancurkan rumah, merenggut para budak, merampas 30,6 juta dinar, serta menumpahkan darah keluarga Barmaki. Yahya Al-Barmaki dipenjara. Ja’far bin Yahya Al-Barmaki disalib dan dibakar tubuhnya.

Allah mempergilirkan kekuasaan kepada siapa yang Ia kehendaki. Allah mengambil kejayaan keluarga Barmaki tanpa diduga-duga oleh orang terdekat mereka. Pagi mereka dalam keceriaan dan ketika malam menjelang mereka sudah berada di liang kubur. Ketika ketidakamanahan telah dilakukan maka yang tampak adalah sebuah kezaliman. Dan Allah sebaik-baik pemberi balasan bagi orang-orang yang zalim.

“Apa penyebab semua ini ayah?” tanya anak perempuan Yahya yang menjenguknya dalam penjara. ‘Aid Al-Qarny menulis dalam bukunya jawaban sang ayah ini: “Barangkali ini karena doa orang yang telah kami aniaya, doa yang melesat naik di tengah malam ketika kami tidak meyadarinya.”

Kami disumpah jabatan dalam acara pelantikan ini. Kemudian Kepala Kanwil DJP Aceh dalam arahannya memotivasi kami untuk tetap bekerja dengan penuh semangat dan berdedikasi walau berada jauh dari keluarga. Pesan lainnya pun kurang lebih sama, agar kami tidak menjadi keluarga Barmaki dan menjalankan tugas Negara ini dengan penuh amanah dan tanggung jawab. Pertanggungjawabannya tidak hanya di hadapan orang-orang yang hadir pada saat acara pelantikan ini, melainkan di hadapan Allah swt.

Kami, once upon a time in Banda Aceh, bukan di Baghdad berabad silam, di sebuah jabatan baru, daerah baru, dan kami bukan keluarga Barmaki. Insya Allah.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

5:54 24 Oktober 2013

 

tags: hidra simon, barmaki, yahya bin Khalid al-barmaki, yahya al-barmaki, ja’far bin yahya Al-barmaki, Baghdad, harun al-rasyid, direktur keberatan dan banding, catur rini widowati, Gollum, the lord of the ring, gedung keuangan Negara, kantor wilayah djp aceh, aceh, banda aceh,

RIHLAH RIZA 2: DE JAVU MUHAMMAD DAN FATHIMAH


RIHLAH RIZA 2: DE JAVU MUHAMMAD DAN FATHIMAH

Sultan Iskandar Muda ini menghukum mati adiknya—Meurah Pupok—yang berzina dengan istri seorang perwira. Ada kalimat yang difatwakannya ketika ia dihalangi oleh para penasehatnya untuk tidak menghukum sang adik, “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.”

**

Jam 6 pagi Banda Aceh masih gelap dan saya masih terbaring di atas kasur. Ke depannya lagi saya tidak akan berurusan dengan hal yang bernama Commuter Line di waktu yang sama, dengan manusia yang berjejalan di dalamnya, dengan aroma parfum yang menusuk hidung, dan ketergesaan ala orang-orang metropolitan.

Ini hari kedua kami di ibu kota propinsi paling barat Indonesia ini. Kami sepakat untuk jalan-jalan pagi sebelum sarapan. Kemana? Ke mana saja kaki ini akan membawa kami. Itu jawabannya.

image

Ini para mantan Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding di sebuah sudut Banda Aceh.(foto pribadi)

“Lokasinya dekat,” jawab saya atas sebuah pertanyaan teman tentang keberadaan masjid yang menjadi landmark kota Banda Aceh. Itu juga karena saya selalu ingat-ingat betul rute yang ditempuh mobil jemputan kami sepanjang perjalanan kemarin dari bandara menuju hotel. Letaknya lebih dari satu km dari tempat kami menginap.

image

Suasana Masjid Baiturrahman pagi itu (18/10). Foto pribadi.

Masjid Baiturrahman ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, seorang sultan yang membawa kesultanan Aceh pada kejayaan dan kemakmurannya. Masjid yang mulanya hanya satu kubah ini pernah terbakar pada saat agresi penjajah Belanda di 1873 dan dibangun kembali pada 1881. Pada 1935 masjid dipugar dengan menambah dua kubah. Di masa orde baru, tepatnya di tahun 1979 masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini dipugar kembali dengan menambah dua kubah dan dua menara di utara dan selatannya.

Dari segi arsitekturnya masjid ini indah banget. Dengan kolam yang berada di halaman depannya mengingatkan kita dengan Tajmahal di Agra. Sebuah bangunan indah peninggalan raja Mughal, Sultan Shah Jahan, yang kebetulan pula sebagian tahun pembangunannya bersamaan dengan masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda di Kesultanan Aceh.

image

(foto pribadi)

Karena keterbatasan waktu saya tak sempat untuk memasuki masjid itu. Saya hanya memandangnya dari luar saja. Insya Allah suatu saat saya akan shalat di dalamnya.

Dari masjid kami berjalan ke arah timur. Melewati sebuah lokomotif dan satu gerbong yang ditaruh di atas sebuah bangunan. Kami melihatnya dari jauh. Ada plang berkarat yang menginformasikan tentang sejarah perkeretaapian di Aceh.

Jalan kereta api di Aceh dibangun oleh Belanda dengan tujuan utamanya adalah untuk kepentingan politik dan ekonomi. Besi dan kayu didatangkan dari Singapura bulan Nopember 1474; kayu untuk bantalan rel dari Malaka tahun 1875 dan meterial untuk rel dari Inggris (1875). Jalan kereta api Ulee Lhee-Kuta Radja sepanjang 5 KM dibuka untuk lalulintas umum pada tanggal 12 Agustus 1876. Lintas Ulee Lhee-Kuta Radja terkenal sebagai lintas kereta api negara yang ada di Nusantara.

image

Lokomotif dan gerbong di Komplek Kereta Api Banda Aceh (foto pribadi)

Ada yang salah dari informasi di plang itu. Besi dan kayu didatangkan dari Singapura bulan Nopember 1474? Apakah benar? Yang benar mungkin 1874. Karena Belanda baru menduduki Banda Aceh di tahun 1873 setelah mengorbankan 80 serdadu mati dan tewasnya Jenderal Kohler dalam agresinya. Tahun 1474 saja Kesultanan Aceh belum berdiri. Sultan Ali Mughayat Syah mendirikannya di tahun 1514.

Dari sebuah buku yang ditulis oleh sejawaran Ahmad Mansur Suryanegara yang berjudul Api Sejarah maka kita akan mengetahui maksud adanya pembangunan rel kereta api di masa penjajahan Belanda.

Menurut teori geopolitik McKinder, kereta api sebagai alat transportasi dalam upaya penguasaan wilayah. Pada masa perang, kereta api berfungsi sebagai Benteng Stelsel dalam penguasaan teritorial. Serdadu Belanda dalam Perang Aceh menggunakan jasa kereta api sebagai sarana ruthless operation—operasi tanpa belas kasih, menumpas perlawanan ulama dan santri—santri insurrection. Malam harinya dihancurkanlah rel kereta api oleh gerilyawan Aceh. Di Pulau Jawa, dibangun jalan kereta api sebagai gurita yang menyempitkan ruang gerak ulama dan santri.

Dari komplek milik perusahaan kereta api kami terus menuju ke selatan. Melewati komplek perumahan militer. Di sana kami menjumpai Komplek Makam Kandang XII. Terdapat 12 makam sultan Aceh beserta keluarganya. Antara lain: Sultan Syamsu Syah, Sultan Ali Mughayyat Syah, Sultan Shalahuddin, Sultan Ali Riayat Syah AlQahar, Sultan Husain Syah—empat sultan terakhir secara berurutan ini merupakan para sultan di awal-awal Kesultanan Aceh, dan Malikul Adil.

image

Komplek Makam Para Sultan Aceh (foto pribadi)

Ada pagar tembok yang mengelilingi komplek ini. Kalau Anda mau menziarahinya silakan lewati pintu besi yang tak terkunci. Ingat adab-adab ziarah kuburan. Ucapkan salam dan doakan mereka. Assalaamu’alaikum ya ahlal qubur. Saya sekadar lewat dan tidak memasukinya karena teman-teman sudah jauh meninggalkan saya.

Kemudian ada area terakhir yang kami kunjungi—sebenarnya cuma lewat doang—untuk pagi itu, yakni Meuligoe Gubernur Aceh atau pendopo atau rumah dinas Gubernur Aceh. Dulu pendopo ini merupakan kediaman dari gubernur Belanda dan didirikan di tahun 1880 saat penjajah Belanda mulai menguasai Banda Aceh.

image

(foto pribadi)

Setelah itu kami kembali bergegas ke tempat kami menginap, karena kami harus bersiap-siap. Bakda sholat jumat nanti kami akan segera dilantik. Pak Andy Purnomo akan menjemput kami pukul 12.00 siang dan mengantarkannya ke Kanwil DJP Aceh.

Pagi itu ada jejak-jejak masa lalu yang saya dapatkan. Jejak dari sebuah kejayaan bangsa. Masa keemasan Sultan Iskandar Muda telah dicatat dalam sejarah sebagai masa yang paling gemilang bagi masyarakat Aceh. Dan kegemilangan serta kejayaan itu simetris dengan penegakan hukum tanpa pandang bulu yang dicontohkannya. Keteladanan yang patut ditiru oleh para penguasa saat ini di republik ini. Siapa pun orangnya, apa pun jabatannya.

Ia tak akan melindungi anaknya, adiknya, istrinya, kerabatnya, saat mereka melanggar hukum. Biarlah menjadi gema apa yang dikatakan Sultan Iskandar Muda ke dalam sanubari setiap anak bangsa saat ini: “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.” Ini seperti de javu episode Muhammad saw dan Fathimah 14 abad yang silam.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

18:45 21 Oktober 2013

RIHLAH RIZA: IBNU BATHUTHAH DAN SATE MATANG


RIHLAH RIZA: IBNU BATHUTHAH DAN SATE MATANG

 

Sekitar 659 tahun yang lalu Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Lawati atau Samsudin atau lebih dikenal orang dengan nama Ibnu Bathuthah—sang penjelajah Muslim, berkunjung
ke Samudera Pasai di masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik Zahir.

Berabad-abad kemudian Abu Kinan Fathiya bin Munawir bin Hasan Basri bin Orang yang tak diketahui lagi siapa namanya dan tak pernah disebut-sebut lagi itu atau lebih dikenal dengan sebutan Riza Almanfaluthi—muslim biasa-biasa saja—berkunjung ke tanah yang sama yang pernah diinjak Ibnu Bathuthah. Bedanya, Ibnu Bathuthah selama 15 hari berkunjung di sana, saya cukup tiga hari saja.

Seperti juga Ibnu Bathuthah yang menyambangi Mekkah terlebih dahulu daripada Aceh, saya pun demikian. Mekkah yang ngangenin telah saya sambangi di Oktober 2011. Dua tahun kemudian serambinya, Aceh baru saya datangi. Tepatnya di kota Banda Aceh untuk memenuhi kewajiban menghadiri pelantikan pejabat eselon IV di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Aceh. Setelah dilantik ini saya harus segera menuju ke Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, karena di sanalah sejatinya tempat saya bertugas: nagih-nagih utang pajak.

Banda Aceh, dengan segala informasi yang memenuhi pikiran saya akhirnya bisa dijejaki setelah menempuh penerbangan selama lebih dari dua jam setengah dari Jakarta dengan transit terlebih dahulu di Bandar Udara Internasional Kuala Namu Medan. Ini penerbangan yang kembali saya rasakan setelah penerbangan menuju Jeddah dua tahun lalu itu.

    Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda (BTJ) seperti bandara-bandara lainnya di kota-kota daerah, sepi. Di sana, kami berenam (Saya, Slamet Widada, Widodo, Teguh Pambudi, Marzaini, Agung Pranoto Eko Putro), disambut teman kami dari Kanwil Aceh, Pak Andy Purnomo, Kepala Seksi Bimbingan Pelayanan. Ini orang baiknya enggak ketulungan. Dia yang senantiasa mengantarkan kami ke mana-mana: ke hotel tempat kami menginap, ke tempat-tempat yang mengingatkan kami tentang tsunami, ke kantor wilayah tempat pelantikan, ke pusat oleh-oleh, ke rumah dinas yang akan dihuni teman saya, atau balik ke bandara mengantar kami pulang.

Bahkan dia yang menawarkan saya untuk menghubunginya kembali jika akan balik lagi ke Banda Aceh. Satu prinsip yang ia ajarkan kepada saya, siapa lagi yang akan menyambut dengan sebaik-baik sambutan kecuali sesama perantau. “Sudah jauh dari keluarga, ya jangan ditelantarkan,” tuturnya. Sungguh, Pak Andy ini sosok anshor buat kami para musafir.

Banda Aceh sudah barang tentu tidak seramai Jakarta. Kotanya tenang. Jalanannya masih lengang. Jam enam pagi masih sunyi. Geliatnya baru mulai terasa siangan dikit. Malam-malamnya warung kopi yang berfasilitas wifi dan layar besar buat nonton bareng-bareng, ramai dengan para pengunjung. Tak ada lagi wanita lepas jilbab, bercelana pendek, tank top, mondar-mandir pamer aurat. Laki-laki pakai celana pendek juga tak terlihat. Di sana tak ada yang namanya tukang tambal ban adanya tukang tempel ban. Di facebook teman saya sampai bertanya, ditempel apa bannya? Sholat jam lima pagi di sana haram hukumnya, karena pada saat itu waktu shubuh jatuh pada pukul 05.24 WIB.

Kami bermalam di Hotel Medan. Hotel yang pada saat tsunami dulu ada kapal nelayan yang terdampar di halamannya. Foto hotel dan kapal nelayan saat tsunami itu saat ini menjadi foto-foto yang menghiasi dinding-dinding hotel bahkan menjadi gambar utama yang tercetak di kartu kunci pintu kamar hotel.

(foto kompas)

Selama dua hari dua malam kami menginap di sana. Malam pertama kami isi dengan mencari warung makan. Tak perlu jauh-jauh karena lapar yang sudah sangat mendera, jadi kami ambil tempat di sebuah warung sate matang persis di pertigaan depan hotel kami. Sate matang adalah sate daging sapi. Dimakan bersama bumbu sate dan kuah yang disediakan di piring lain. Ditambah dengan gulai, lengkap sudah nikmatnya.

    Teman saya menikmati Mi Aceh. Mi Aceh ya Mi Aceh juga. Tak seperti warung sate di Madura atau pun warung nasi di Tegal yang menyembunyikan nama kotanya, di kaca etalase warung Mi Aceh terpampang gede-gede tulisan Mi Aceh.

    Setelah itu kami jalan-jalan sebentar. Lihat-lihat suasana malam di sekitaran tempat kami menginap. Suasana jembatan di atas sungai yang saya tak tahu namanya dan di pasarnya, masih ramai walau sudah jam 10 malam. Kalau di Citayam jam segitu sudah sepi. Tak jauh-jauh kami pergi karena kami harus mempersiapkan diri buat keesokan harinya.

Suasana di tepian krueng di Banda Aceh. Ada yang mancing di sudut kiri bawah foto.

    Ini cuma sekelumit, masih banyak yang akan terkisahkan. Seperti pula Ibnu Bathuthah yang mengumpulkan cerita perjalanannya keliling dunia dalam sebuah kitab fenomenal yang bernama: Rihlah Ibnu Bathuthah. Maka saya namakan pula kumpulan cerita perjalanan ini dalam sebuah kitab catatan ringan bernama: Kitab Wiro Sableng Kitab Putih Wasiat Dewa Rihlah Riza. Insya Allah.

(bersambung)

***

Thanks to: Pak Andy Purnomo, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan Anda dengan kebaikan yang berlipat ganda.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

3:40

20 Oktober 2013

 

Tag: Bandara sultan iskandar muda, kuala namu, banda aceh, ibnu bathutah, krueng aceh, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Aceh

RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI


RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI

 

Saya terbangun. Melihat jam dinding. Keluar dari kamar. Mengambil air putih hangat, duduk, dan meminumnya pelan-pelan. Sambil merenung. Dan akhirnya mandi di tengah malam tanpa kembang. Kalau pakai kembang setaman—ada mawar, anyelir, melati—oke juga, tak mengapa. Bikin wangi. Halal. Setelah itu buka laptop dan menuliskan sesuatu.

    Beberapa jam lagi ke depan saya sudah harus berangkat ke kantor. Naik commuter line ke stasiun Sudirman. Kemudian di sana saya menunggu teman, Uda Marzaini, yang membawa mobil taruna merah tuanya ke kantor pusat DJP. Saya jadi penebeng. Penebeng selain saya biasanya ada Bro Teguh Pambudi, biasa disebut TP, dan Kang Asep Wahyudin Nugraha—panggil saja dia Kang Awe.

    Kami berempat masuk ke Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) sama-sama di bulan September 2010 dari Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus. Ini sudah tiga tahun berlalu. Dan Allah menakdirkan kami berempat, di bulan September 2013 ini, mendapatkan penugasan baru. Kami disebar ke daerah yang jauh. Sejauh al masyriqi wal maghribi. Sejauh timur dan barat. Kami bertiga selain Kang Awe ditempatkan di Nanggroe Aceh Darussalam, sedangkan Kang Awe di wilayah Papua.

    Tepatnya, saya di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan, Uda Zain di KPP Pratama Langsa, dan Bro TP di KPP Pratama Meulaboh. Dan Kang Awe di Kantor Wilayah DJP Papua dan Maluku yang terletak di Jayapura.

    Perjalanan dari kota Banda Aceh menuju Tapaktuan ditempuh selama delapan jam perjalanan darat, sedangkan Meulaboh berada di tengahnya. Jadi cukup empat jam saja dari Kota Banda Aceh. Sedangkan Langsa malah lebih dekat dari kota Medan. Empat jam saja katanya. Sedangkan Kang Awe dengan delapan jam perjalanan udara dari Jakarta. Ini hampir seperti perjalanan Jakarta ke Jeddah saja. Indonesia bener-bener luas yah?

    Bertahun-tahun kami jadi tebenger di mobilnya Uda Zain. Sebentar lagi kami yang ada di mobil taruna OX nya ini akan berpisah. Dan saya yang sering banget numpang ini jelas akan kehilangan. Mobil Uda Zain ini bagi saya seperti telaga, ngademin gitu setelah berjibaku di sesaknya commuter line yang pengap. Masuk ke dalam mobilnya selalu ada sensasi nyeeeessss. Menyejukkan dan wangi. Terima kasih Uda selama ini rela ditumpangin. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda.

    Dan kami tetap menikmati perjalanan pagi dengan taruna merah itu sampai ada keputusan kapan kami harus berpisah. Dinikmati dan disyukuri saja waktu kebersamaan yang tinggal sisa-sisa ini. Kalau disyukuri sudah jelas ada pakemnya yaitu ditambah nikmatnya lagi. Mungkin dengan bentuk kenikmatan yang lainnya. Entah apa. Biar Allah saja yang tahu yang terbaik buat hambaNya. Yang penting bagi saya Allah tidak menggolongkan kami ke dalam golongan hamba-hambaNya yang tidak bersyukur.

    Sebentar lagi kami jadi musafir. Benar-benar musafir secara hakikat. Yaitu orang yang pergi dari tempatnya tinggal menuju sebuah tempat yang jauh. Kalau berdasarkan madzhabnya Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Hambali ada ukuran jarak minimal yang ditempuh seorang musafir yaitu 80,5 km plus 140 meter. Kami ribuan kilometer.

Dan musafir itu butuh bekal. Salah satu bekalnya adalah doa. Saya pun kembali mengutip Anis Matta dalam Setiap Saat Bersama Allah:

Beginilah sang musafir, bila mulai terbangun dari tidur panjangnya. Ia mulai membersihkan wajahnya dengan wudhu dan menjalani hari-harinya dengan munajat yang tak pernah putus. Hatinya telah terbang tinggi ke langit dan terpaut di sana. Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat lain dalam bumi, hatinya bercengkrama di ketinggian langit.

Kini sang musafir telah menyadari bahwa doa bukanlah pekerjaan yang sederhana. Doa bukanlah kumpulan kata yang kering. Doa bukanlah harapan yang dingin. Doa bukanlah sekadar menengadahkan kedua tangan ke langit.

Tidak! Kini, sang musafir menyesali mengapa ia terlambat memahami makna dan hakikat doa. Ternyata doa adalah “surat” dari sang jiwa yang senantiasa terpaut dengan langit. Doa adalah rindu kepada Allah yang tak pernah selesai. Maka setiap kata dalam doa adalah gelombang jiwa yang getarannya niscaya terdengar ke semua lapisan langit. Di sini, tiada tempat bagi kepura-puraan. Di sini, tak ada ruang bagi kebohongan. Begitulah jiwa sang musafir, terus berlari ke perhentian terakhir, ketika raganya masih berada dalam gerbong kereta waktu. Dengarlah munajat sang musafir ini:


Allaahumma a’inni ‘alaa dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibadatik

Ya Allah bantulah aku untuk senantiasa mengingatMu, mensyukuriMu, dan menyembahMu dengan cara yang baik. (HR Abu Dawud dari Muadz bin Jabal).

Kami sejatinya akan menjadi musafir, pelaku perjalanan jauh menuju tempat penempatan baru masing-masing. Walau sejatinya harus diakui bahwa kami hidup di dunia ini pun sudah jadi musafir sejak dari lahir untuk menuju kampung akhirat.

Kami sejatinya akan menjadi musafir, seorang perindu ulung yang tak pernah selesai dengan apa yang dirindukannya. Rindu padaNya dengan pedang doa. Rindu kampung halaman. Rindu kebersamaan.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03:03 02 Oktober 2013

gambar diambil dari sini.

    

 

WAJAH YANG TERASING


WAJAH YANG TERASING

 

Wajah dan penampilan saya tidak bisa dipercaya oleh Wajib Pajak sehingga sempat “disekap” di sebuah ruangan tertutup sambil ditanya macam-macam oleh karyawan Wajib Pajak. Sedangkan karyawan yang lainnya mengonfirmasi kebenaran saya sebagai PNS di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Tiga.

    Waktu itu saya masih sebagai Jurusita Pajak Negara. Kebetulan sedang tidak memakai seragam Jurusita. Sedangkan teman saya yang lain—Jurusita senior—juga sedang memarkirkan mobilnya dan sengaja membiarkan saya sendiri belajar menghadapi Wajib Pajak.

    Yang menerima telepon dari Wajib Pajak adalah Kepala KPP sendiri. Dan ia kebetulan pas lagi tidak ingat dengan nama saya. Kebetulan pula atasan saya, Pak Mubari, Kepala Seksi Penagihan, sedang berada di depannya. Pak Kepala KPP bertanya kepada Pak Mubari apakah benar ada yang namanya Riza Almanfaluthi sebagai pegawai KPP PMA Tiga. Langsung saja Pak Mubari mengiyakan.

    Selamat. Saya bisa pulang juga pada akhirnya dengan tetap meminta kepada Wajib Pajak untuk mematuhi apa yang tersurat di dalam Surat Paksa dalam jangka waktu 2 x 24 jam. Kalau tidak? “Mbuh.”

    Itu bertahun lampau. Kisaran 2004-an. Sekarang 2013. Pada akhirnya saya bergaul lagi dengan masalah penagihan setelah ada penugasan baru sebagai Kepala Seksi Penagihan di KPP Pratama Tapaktuan Oktober 2013 nanti. Tempat baru, teman-teman baru, jabatan baru, semua baru. Seperti biasa saya cuma bisa menyandarkan kepada Sang Maha Pengatur Segalanya. Agar pada saatnya nanti saya diberikan kekuatan untuk menjalankan amanah ini.

    Jadi ingat pada kalimat dalam sebuah buku yang ditulis oleh Anis Matta dalam bukunya yang berjudul: “Setiap Saat Bersama Allah”.

    Sering, tentu, kita bepergian dan bertemu dengan daerah baru atau orang baru. Lalu kita merasa terasing. Karena Rasulullah saw ingin agar kita kuat, maka beliau mengajarkan doa ini kepada kita: A’udzu bikalimatillaahitaammah min syarri maa kholaq. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang Mahasempurna ini dari segala kejahatan yang ada (yang diciptakan-Nya). Hadits riwayat Muslim.

    Sekarang kudu belajar undang-undang penagihan pajak lagi. Belajar prosedur penagihannya, pemblokiran, penyitaan, ilmu komunikasi, ilmu negosiasi, dan banyak lagi lainnya. Untuk bisa dipelajari dari Direktorat Keberatan dan Banding (tempat kerja yang akan saya tinggalkan ini) dapat juga kiranya dibawa putusan-putusan Pengadilan Pajak tentang gugatan Wajib Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak karena adanya kesalahan prosedur penagihan.

Ohya tidak akan lupa baca-baca buku yang satu ini: Berbagi Kisah & Harapan: Untaian Kisah Perjuangan Penagihan Pajak. Buku yang kebetulan saya menjadi anggota tim redaksinya.

    Buku ini merupakan kumpulan 43 tulisan yang ditulis oleh para pegawai pajak dari seluruh pelosok tanah air yang sehari-harinya bergerak dan bergaul di dunia penagihan pajak. Buku ini bercerita tentang pengalaman-pengalaman mereka dalam melakukan penagihan pajak dan menghadapi banyak tipe orang yang susah ditagih utang pajaknya.

    Beberapa hari yang lalu saya sempat menanyakan tentang penyebaran bukunya kepada teman yang kebetulan tahu betul. Ternyata baru beberapa KPP yang kebagian dan dicetak sedikit karena terkendala dana. Padahal itu buku bagus buat “sharing” pengalaman ke sesama petugas di Seksi Penagihan. Semoga tak lama lagi buku ini bisa tersebar ke seluruh pegawai pajak di tanah air.

    Saya akan bawa buku ini ke Tapaktuan untuk bisa dibaca buat teman-teman Seksi Penagihan di sana. Saya juga akan belajar banyak kepada mereka: Mas Rachmad Fibrian (pelaksana di Seksi Penagihan KPP Pratama Tapaktuan), Mas Rizaldy, dan Mas Fahrul Hady (Jurusita). Semoga mereka bisa menerima saya sebagai muridnya.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Hitung mundur menuju Tapaktuan.

17:40 28 September 2013