RIHLAH RIZA #3: BAGHDAD, BANDA ACEH, DAN BARMAKI


RIHLAH RIZA #3:

BAGHDAD, BANDA ACEH, DAN BARMAKI

 

Baghdad. Satu jam sebelum tragedi. Keluarga Barmaki sedang memamerkan kekayaan mereka, sutra yang lembut dan indah. Dalam suka cita, ketenteraman, dan jauh dari marabahaya. Mereka tidak tahu ada bencana mengintai yang akan melenyapkan semuanya. Dalam sekejap…

**    

Banda Aceh. Pelantikan itu diadakan di lantai 2 gedung Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Aceh bakda shalat Jumat. Gedung Kanwil DJP Aceh sendiri berada di dalam kompleks Gedung Keuangan Negara di jalan Tgk. Chik Di Tiro. Selain Kanwil DJP Aceh di dalam kompleks itu ada beberapa satuan kerja Kementerian Keuangan yang lain, seperti Kantor Wilayah I Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Percontohan Banda Aceh, Kantor Wilayah I Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, dan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Banda Aceh.

    Langit sudah mendung dengan mega hitamnya. Bahkan tak lama kemudian hujan mulai turun dan semakin deras. Sebelum kami diminta naik ke lantai 2, kami berkumpul di lobi gedung. Di dindingnya terpampang peta besar, peta Propinsi Aceh beserta letak kantor-kantor unit vertikal Kanwil DJP Aceh. Secara otomatis kami berkumpul dan melihat-lihat peta itu.

 

Peta Aceh dan Letak Kantor Pajak di Seluruh Wilayah Propinsi Aceh (foto pribadi)

    “Dua tahun lalu, pertama kali datang ke sini yang saya lihat peta ini,” kata Mas Hidra Simon, teman kami—senior saya—yang sudah lama bekerja di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Aceh. Dari peta itu saya baru tahu kalau di Kanwil DJP Aceh terdapat tujuh KPP dan belasan Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan. Dari peta itu juga saya bisa melihat utuh letak keseluruhan unit pengumpul penerimaan Negara yang berada di tanah rencong ini.

    Kami diminta untuk berkumpul di atas. Dalam sebuah ruangan tengah yang tidak seberapa luas acara pelantikan akan segera dilaksanakan. Kami diminta pula untuk menempati posisinya masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya. Di lantai sudah tersedia papan nama. Reflek saya melihat papan nama untuk mencari posisi berdiri. Saya melihat satu per satu. Ada tulisan Pejabat Eselon III, Pejabat Eselon IV, Rohaniwan, dan Pejabat yang Dilantik. Tak ada papan nama untuk Penelaah Keberatan atau pun jabatan pelaksana lainnya, padahal itu yang saya cari. Sedetik kemudian tersadar dan ngeh kalau sekarang saya tidak lagi jadi keduanya. “Ooo…kepala seksi itu pejabat yah,” pikir saya. Ternyata status saya sudah berubah setelah 16 tahun berada di hirarki terbawah jabatan di DJP. Seperti ada sesuatu yang berdesir dalam hati.

Namun desiran itu bukan seperti lenguhan Gollum—tokoh yang ditakdirkan harus ada dalam The Lord of The Ring—saat memandang cincin yang ia pegang selama ratusan tahun dengan mata berbinar-binar sambil berkata: “My precious…! My precious…!”

Desiran itu bukan karena bangga dengan jabatan baru. Tetapi lebih mengarah pada apa yang ada di balik itu. Pelaksana atau pun pejabat pada dasarnya sama saja. Karena mereka semua akan dimintakan pertanggungjawabannya atas amanah yang mereka emban. Pejabat setinggi apa pun tidak akan direken ketika ia mulai tidak amanah. Pelaksana atau pun pejabat di mata Allah yang dilihat cuma takwanya. Tidak lain.

Ya betul. Amanah itulah yang ada di balik semua jabatan yang tertera di masing-masing papan nama. Bisa tidak amanah itu diemban dengan sebaik-baiknya? Saya teringat pesan dan nasihat Ibu Direktur Keberatan dan Banding saat saya berpamitan dengannya, “Jabatan itu bukan hak, karena jika jabatan adalah hak maka bila haknya terlepas dari orang itu, ia bisa menuntut untuk mendapatkannya kembali. Sedangkan jabatan itu terkait dengan amanah. Amanah itu kepercayaan.”

Perkataan itu terngiang-ngiang dalam ingatan saya. Jadi karena amanah itu terkait dengan kepercayaan, maka bisa tidak kita menjadi orang yang dipercaya dan memegang kepercayaan itu dengan sebaik mungkin. Pun sejatinya yang memberi jabatan itu bukan manusia tapi Sang Pencipta Manusia itu sendiri. Dialah yang memberikan jabatan itu kepada siapa yang dikehendaki. Dan Dialah pula yang mencabut jabatan itu dari siapa yang dikehendaki. Bukankah ini adalah dzikir kita setiap pagi dan sore hari?

 

(Ali Imron:26)

Siapa yang tidak mengenal Yahya bin Khalid Al-Barmaki pada saat itu? Ia adalah perdana menteri nonarab yang diangkat oleh Khalifah Harun Al-Rasyid untuk mengurusi keuangan Negara, rakyat, dan pemerintahan dalam kekuasaan yang tidak terbatas. Masalah pemecatan, memperkerjakan orang, memberikan jabatan termasuk dalam urusan wazir itu.

Jabatan sang wazir kemudian diteruskan kepada sang anaknya Ja’far bin Yahya Al-Barmaki. Tetapi di sinilah ketika kekuasaan tanpa batas itu kemudian cenderung kepada korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Keluarga Barmaki memperkaya diri sendiri dari harta dan keuangan Negara bahkan kemewahannya hampir menyamai keluarga Istana.

Sampai di suatu pagi ketika ketinggian jabatan, kejayaan, dan kehormatan telah mencapai puncaknya dan melenakan mereka, prajurit Harun Al-Rasyid datang menyerbu, menghancurkan rumah, merenggut para budak, merampas 30,6 juta dinar, serta menumpahkan darah keluarga Barmaki. Yahya Al-Barmaki dipenjara. Ja’far bin Yahya Al-Barmaki disalib dan dibakar tubuhnya.

Allah mempergilirkan kekuasaan kepada siapa yang Ia kehendaki. Allah mengambil kejayaan keluarga Barmaki tanpa diduga-duga oleh orang terdekat mereka. Pagi mereka dalam keceriaan dan ketika malam menjelang mereka sudah berada di liang kubur. Ketika ketidakamanahan telah dilakukan maka yang tampak adalah sebuah kezaliman. Dan Allah sebaik-baik pemberi balasan bagi orang-orang yang zalim.

“Apa penyebab semua ini ayah?” tanya anak perempuan Yahya yang menjenguknya dalam penjara. ‘Aid Al-Qarny menulis dalam bukunya jawaban sang ayah ini: “Barangkali ini karena doa orang yang telah kami aniaya, doa yang melesat naik di tengah malam ketika kami tidak meyadarinya.”

Kami disumpah jabatan dalam acara pelantikan ini. Kemudian Kepala Kanwil DJP Aceh dalam arahannya memotivasi kami untuk tetap bekerja dengan penuh semangat dan berdedikasi walau berada jauh dari keluarga. Pesan lainnya pun kurang lebih sama, agar kami tidak menjadi keluarga Barmaki dan menjalankan tugas Negara ini dengan penuh amanah dan tanggung jawab. Pertanggungjawabannya tidak hanya di hadapan orang-orang yang hadir pada saat acara pelantikan ini, melainkan di hadapan Allah swt.

Kami, once upon a time in Banda Aceh, bukan di Baghdad berabad silam, di sebuah jabatan baru, daerah baru, dan kami bukan keluarga Barmaki. Insya Allah.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

5:54 24 Oktober 2013

 

tags: hidra simon, barmaki, yahya bin Khalid al-barmaki, yahya al-barmaki, ja’far bin yahya Al-barmaki, Baghdad, harun al-rasyid, direktur keberatan dan banding, catur rini widowati, Gollum, the lord of the ring, gedung keuangan Negara, kantor wilayah djp aceh, aceh, banda aceh,

Advertisements

6 thoughts on “RIHLAH RIZA #3: BAGHDAD, BANDA ACEH, DAN BARMAKI

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s