Kita Adalah Para Pengantre di Telepon Umum Kampus


Saya merasa terhormat untuk membaca satu per satu cerita yang ditulis oleh para penulis dalam buku ini. Mereka adalah para senior saya di Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Program Diploma Keuangan (STAN Prodip Keuangan). Mereka lulus dari kampus itu pada tahun 1993, sedangkan saya baru masuk setahun kemudian di tahun 1994.

Seiiring dengan berjalannya waktu, saya mengenali dengan karib sekitar dua belas orang dari mereka. Ada Pak Harris Rinaldi, Pak Sardana, Pak Rachmat, Mbak Darmini, Pak Swartoko, Pak Widodo, Pak Bagyo, Pak Ikun, Pak Ali Saman Harahap, Mbak Rika, Mbak Nana Diana, dan Mbak Lusi. Masya Allah, Direktorat Jenderal Pajak itu memang sangatlah sempit.

Pak Harris yang mendorong saya untuk membaca draf buku ini: Kisah 30 Tahun Mengabdi, Cerita Kelas Pajek Bukan PBB Ora, 1992-2022. Saya berusaha membatasi antara lima sampai sepuluh tulisan untuk dibaca setiap harinya. Saya batasi karena saya ingin menikmati setiap tulisan itu. Jika membaca lebih dari itu, saya sekadar skimming (membaca sepintas lalu) dan itu saya sangat hindari. Pada akhirnya, saya mendapatkan ruh buku ini. Kami, saya dan mereka, sangatlah—mengambil istilah generasi Z saat ini—relate.

Bagaimana tidak, kita sama-sama anak kampung, hidup di zaman Orde Baru, dan mengikuti ujian STAN Prodip Keuangan di Gelora Bung Karno.  Kita generasi Kantata Takwa, Barry Prima, dan Advent Bangun. Kita lulus litsus (penelitian khusus). Kita mengenal Warung Akang dan Eceu, tetapi saya tidaklah sampai mengambil remahan gorengan seperti Pak Harris.

Kita adalah para pengantre di telepon umum untuk mengabarkan kepada sanak di kampung kalau kita baik-baik saja sambil tak pernah bilang kepada mereka tentang keperihan kita dalam menuntut ilmu dan bayang-bayang ancaman drop out. Dulu belumlah ada meme dengan petikan nasihat dahsyat Imam Syafi’I seperti ini: “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan.”

Membaca buku ini, benar-benar membuat ingatan saya terbang jauh kembali ke masa lalu ketika kuliah di kampus itu dan mampu membuat saya trenyuh, haru, sedih, tersenyum simpul, dan tertawa terbahak-bahak sampai dikomentari oleh teman kubikel sebelah saya.

Ya, ada cerita tentang celana kebesaran jangan sampai dilewatkan. Cerita perjalanan menuju Padang Sidempuan, mengingatkan perjalanan saya menuju Tapaktuan, Aceh Selatan. Sesama kombatan Aceh, Pak Widodo dan Pak Ali Saman tentulah paham itu semua. Ternyata saya juga memiliki mimpi yang sama dengan Mbak Reni Agustini. Barangkali semua pemilik LDR akan mempunyai harapan dan mimpi tak berbeda. Ingin bisa terbang ke tempat tujuan dalam sekejap. Ya, betul. Sewaktu saya di Tapaktuan, saya juga berkhayal ada pesawat jet yang menjemput saya di Bandara Cut Ali setiap Jumat sore agar bisa sampai di Citayam, Bogor satu jam kemudian. Lalu balik lagi Senin pagi. Jelas ini konyol. Namun, mengapa takut bermimpi? Bukankah mimpi itu gratis?

Di antara nama penulis dalam buku ini hanya satu nama yang membuat saya penasaran sehingga mendorong saya mengecek SIKKA untuk mengetahui profilnya. Namun sayang, nama yang saya ketikkan tidak ditemukan. Kata Pak Harris, mengetikkan nama Triles jelas salah. Harusnya ada spasi yang memisahkan antara dua suku kata. Pasti akan ketemu pemilik nama yang sangat memperhatikan kondisi ibu dan keluarganya. Hormat saya untuknya.

Di dalam buku ini, saya menemukan para cerpenis dan penutur yang baik. Ada yang menceritakan kisah cintanya seperti dalam cerpen di majalah Anita Cemerlang. Majalah ini tahu bukan? Ada pula cerita tentang surat-surat dari para pengagum rahasia yang dibakar atau tentang mesin ketik yang tiba-tiba mengetik sendiri di suatu petang. Saya pun bersua dengan para petualang yang berkelana di negeri-negeri jauh. Saya hanya mampu membuka jendela dunia (baca buku), sedangkan ia sudah benar-benar nyata menghirup molekul-molekul O2 di tempat-tempat itu.

Oh, iya. Saya menemukan dua manikam saat membaca buku ini. Lagi-lagi dari Mbak Reni Agustini. Ia yang menulis, “Indah untuk dikenang, tetapi bukan untuk diulang.” Begitu ya, Mbak? Dan satu lagi dari Pak Agung Darono, “Tulis yang kamu ajarkan dan ajarkan yang kamu tulis.” Terima kasih banyak. Dua manikam ini akan selalu saya ingat.

Sampai di sini saya kemudian memastikan satu postulat: menulis yang paling gampang itu adalah menulis soal pengalaman diri sendiri karena sang penulis adalah “dewa” yang mengetahui detail kronologis peristiwa yang menyertai. Para penulis di sini pada akhirnya menghasilkan karya yang bisa dibaca dan hikmah yang bisa dibagi kepada siapa pun. Terutama kepada anak dan cucu. Inilah cerita saya, kami, dulu di Kampus Jurangmangu dan perantauan.

Menulislah terus karena menulis itu mengekalkan persahabatan dan mewariskan peradaban. Buku ini jua.

Tabik.

 

***
Riza Almanfaluthi
Penulis Buku
24 Juni 2022
Artikel ini menjadi Kata Pengantar Buku Kisah 30 Tahun Mengabdi, Cerita Kelas Pajek Bukan PBB Ora, 1992-2022.

2 thoughts on “Kita Adalah Para Pengantre di Telepon Umum Kampus

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.