Pagi ini saya mendapatkan email dari seseorang tanpa menyebutkan nama. Bertanya tentang masalah perpajakan yang dia hadapi.
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Pak, maaf saya mau tanya mengenai sewa ruko. Harga sewa Rp 100 juta tapi pemilik ruko tidak mau dipotong pajak final 10% dari biaya sewanya. Maunya cash Rp 100 juta gitu. Solusinya bagaimana Pak kalau ada orang pajak menemui kasus ini? Mohon solusinya. Terima kasih.
Sejak kecil saya memang belajar Alquran dengan mushaf standar Indonesia. Baru masuk STAN–tahun 1994—saja saya mengenal mushaf timur tengah. Perbedaan di antara keduanya terbatas pada penggunaan harakat, tanda baca, dan tanda waqaf.
Awalnya saya kesulitan. Pernah didaulat untuk tilawatilquran dalam sebuah acara. Dan itu pertama kalinya membaca mushaf timur tengah Akhirnya saya terbata-bata membacanya di hadapan khalayak ramai.
Mushaf timur tengah itu juga sering disebut mushaf pojok yakni mushaf Alquran yang pada pojok halaman bawah kiri merupakan akhir ayat. Mushaf ini sering dipakai oleh para penghafal Alquran karena memudahkan dan membantu ingatan mereka.
Seorang petinggi partai datang ke negeri Cina. Bos televisi yang sering menyuarakan sekulerisasi ini terantuk sebuah masalah. Fotonya yang sedang merangkul mesra seorang wanita tersebar ke dunia maya. Senyatanya ia datang dalam rangka menerima penghargaan. Entah penghargaan apa yang mau diterima.
Mantan wartawan yang suka pindah partai menjadi jubirnya sekarang. Memberi klarifikasi untuk sang bos. Katanya perempuan itu anggota rombongan. Tak ada yang salah dari foto itu, tambahnya. Ingatan kita lalu terjebak pada seorang petinggi partai lainnya. Ia berpiknik bersama artis ke Maladewa dan berfoto mesra pula. Tidak berduaan saja memang. Perlakuan yang mereka terima dari media sekuler berbeda sekali. Tapi saya tidak akan membahas orang terakhir ini.
Demi mengejar jumlah kunjungan, media online menempuh berbagai cara. Antara lain dengan membuat judul yang bombastis terutama berkaitan dengan artis. Nama mirip artis bahkan pejabat dijadikan barang jualan sekalipun isi beritanya tidak berkaitan sama sekali dengan yang empunya nama sebenarnya.
Republika Online (ROL) pada tanggal 6 September 2014 menurunkan berita dengan judul: “Tak Kuat Hadapi Cobaan, Ari Wibowo Nekat Bunuh Diri”. Kedaulatan Rakyat Online di hari berikutnya menurunkan berita semacam dengan judul: “Ari Wibowo Akhirnya Tewas”.
Berlanjut pada hari ini Minggu, 21 September 2014, ROL juga menurunkan berita heboh lagi, “Dewi Lestari Minum Racun Karena Dimarahi Gurunya”. Mundur ke belakang pada bulan Januari 2014, Detiknews juga membuat berita berjudul “Nia Daniati Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumah”. Baca Lebih Lanjut
Sudah lama saya ngeblog. Awalnya di media internal Direktorat Jenderal Pajak. Lalu mulai merambah ke dunia maya yang lebih besar seperti blogspot. Tak bertahan lama, karena pernah kejadian tiba-tiba blog saya itu diblok secara sepihak oleh adminnya selama enam bulan. Tidak tahu alasannya apa. Ya sudah, saya pindah ke lain hati, ke WordPress.
Tanggal 30 November 2007 mulai ngeblog di WordPress dengan nama dirantingcemara.wordpress.com. Dalam tahun-tahun panjang perjalanan itu selalu terpikirkan untuk bisa punya situs atau website atau domain dengan nama sendiri.
Yang selalu menghambat keinginan itu adalah keruwetan memindahkan semua tulisan di blog lama ke blog baru. Juga karena tak mau memulai dari awal lagi untuk membuat blog baru.
Ternyata WordPress memahami itu. Dengan membeli domain di wordpress kita bisa memiliki situs dengan nama kita sendiri atau nama lain. Iklannya setiap saat selalu ada di atas dashboard WordPress saya. Menggoda.
Kinan pulang dari sekolah merajuk ke saya. “Bi, besok Kinan gak mau sekolah,” katanya. “Ada yang nakal Bi. Nyubit Kinan sampe pedes,” katanya lagi saat ditanya kenapanya. Penuturan Kinan membuat saya memahami apa yang terjadi. Kinan telah mengalami semacam “bullying” (baca: penindasan).
Selain secara fisik, penindasan pun dapat dilakukan secara verbal, atau dalam bentuk pemerasan, perkosaan, pengasingan, dan lain sebagainya. Anak-anak di sekolah rawan akan tindakan ini. Jika penindasan ini dibiarkan maka semakin menambah deret panjang korban penindasan yang terkadang berakhir dengan kematian.
Bersyukur Kinan mampu untuk berkomunikasi kepada abinya. Karena tidak semua anak-anak memberi tahu kepada orang dewasa tentang penindasan yang dialaminya. Namun mereka tetap tidak bisa membohongi kita sebagai orang tua. Biasanya mereka memberikan tanda-tanda. Oleh karenanya sebagai orang tua perlu kenal, cermat, dan memahami tanda-tanda itu.
Buku terbitan Serambi yang berjudul Stop Bullying! Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah hingga SMU dan ditulis oleh Barbara Coloroso ini mengulas ke-14 tanda-tandanya.
Kyai tua itu duduk-duduk di depan teras masjid sambil memandang ufuk timur yang penuh semburat mentari pagi. Posisi masjid yang lebih tinggi dan berada di atas tebing membuatnya leluasa untuk memandang pesona alam.
Halimun masih saja menyelimuti atap-atap rumah penduduk desa di bawah sana. Kicau burung membahana diiringi gemericik air pancuran yang berada di samping masjid itu. Ada geliat para petani menuju sawah dengan cangkul yang tergantung di pundak masing-masing.
Benar-benar deskripsi klasik dari sebuah pemandangan pedesaan bumi Pasundan. Semuanya terukir jelas pagi itu. Pagi yang seperti biasa ia lalui bertahun-tahun ini dengan zikir-zikir Almatsurat usai subuh yang terlontar dari mulutnya dan mulut para santrinya.
Setelah itu ia akan sendiri duduk-duduk di teras masjid dengan mushaf berada di pangkuannya. Membiarkan cahaya memandikan dirinya. Menghangatkan tubuhnya yang mulai merenta hingga duha jelang. Sedangkan para santrinya sekarang mulai mengisi kekosongan pagi itu dengan aktivitas rutin.