Happy Eid Mubarak 1436 H


Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Di hari yang kesedihan tak boleh tampak ini selayaknya keluarga besar Almanfaluthi mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah terima amal ibadah kita selama Ramadhan yang baru saja lewat, dan memperkenankan kita untuk kembali mencumbuinya di tahun-tahun mendatang. Taqabalallaahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, ja’alanallaahu minal a’idin wal faizin.
Semoga pula kita menjadi pribadi-pribadi yang salih dan salih pula dalam bermasyarakat. Happy Eid Mubarak 1436 H.

Foto-foto:

image

                    Mas Haqi, Ummi Kinan, Kinan, Abi, Mas Ayyasy

Lihat Foto Lebih Banyak Lagi.

RIHLAH RIZA #66: Putus Harapan? Itu Gila!


Aroma opor yang harum menguar di dapur. Melata ke dinding-dinding dan singgah kepada mereka yang memiliki hidung di rumah ini. Otak mengolahnya menjadi sebuah informasi lalu mendapatkan sebuah konklusi: lebaran akan tiba.

Dan yang saya inginkan pada saat ini adalah agar waktu berhenti berputar. Atau kalau memang tak bisa dihentikan, kecepatannya cukup dikurangi saja menjadi 20 km/jam. Supaya momen-momen kebersamaan yang indah ini tak cepat berlalu dan tiba-tiba saya harus kembali lagi ke suatu negeri. Catatan ini saya tulis di Semarang, Kamis Legi, satu hari menjelang lebaran.

Baca Lebih Lanjut.

Lomba Lari Maraton, Laki-laki ini Tetap Berpuasa dan Finis


11209543_697095107102329_2474028134284029161_n

(IndoRunners)

Puasa tidak menghalangi orang untuk mengikuti lomba lari maraton. Ini dibuktikan oleh pemilik akun facebook Uchiha Sanuchi yang menjadi penamat di Gold Coast Airport Marathon 2015, Australia (5/7) dengan waktu 04:33:28 jam.

Baca Lebih Lanjut.

Wanita Ini Rela Pulang Pergi Bangkok Solo Bawa Air Susu Ibu Demi Kai


 Gunakan coolerbox ukuran kabin jika berniat on board, untuk menyimpan ASI dan blue ice.
(Dokumentasi Indy)

 

Kalau dulu kita mengenal Risa Fajarwati yang membawa cooler box berisi ASI pulang pergi Jakarta-Wates selama lebih dari setahun di akhir pekan dengan menggunakan kereta api, sekarang kita wajib mengenal perempuan inspiratif satu lagi. Tidak lagi ratusan kilometer yang ditempuh melainkan ribuan kilometer dengan menggunakan moda transportasi udara melewati batas negara.

Wanita kelahiran Solo 27 tahun lalu ini bernama lengkap Nindya Nindita Sari, biasa dipanggil Indy. Ia adalah mahasiswa pascasarjana yang mendapatkan beasiswa dari Kasetsart University Bangkok, Thailand. Indy harus meninggalkan anak pertamanya di Solo karena usianya yang belum tiga bulan membuat sang anak tidak boleh terbang.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #65: Mau Dibikin Apa?


image
Seplastik penuh jagung manis Meulaboh

Sehabis salat Jumat saya menuju pajak (pasar). Hari-hari “meugang” sudah lewat. Pasti sudah banyak yang berjualan. Niatnya mau beli bumbu-bumbu. Karena kemarin ada yang kasihan sama saya nyetatus masak seadanya begitu buat buka puasa.Iya memang betul, seadanya bukan karena diet atau apa melainkan karena tak ada yang bisa dibeli.

Nah siang ini niatnya mau beli telur, cabe merah, bawang putih, dan bawang merah. Yang penting beli dulu, buat apanya itu nanti. Paling buat menambah-nambah rasa gitu. Menu buka kemarin yang hanya kentang, bakso beku, dan ikan tongkol dijadikan satu tanpa diberi bumbu apa pun itu ternyata tetap asin. Barangkali sari pati dari ikan atau bumbu yang melekat di bakso sapi tadi sudah membaur dalam air sewaktu direbus. Begono.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #63: Warung Pengelana, Warung Termahal di Dunia


image

“Berapa Bu? Tanpa nasi, pakai sayur, telor dadar, dan ikan itu? Tanya saya sambil menunjuk ikan merah di etalase.

“Lima belas juta…” jawabnya.

“What the…” tiba-tiba dada ini terasa memelihara Fir’aun.

Warung yang letaknya di terminal Tapaktuan ini warung “termahal” sedunia. Menu makanannya berharga jutaan rupiah. Dijual oleh wanita “tertua” sedunia pula. Entah “bego” entah kenapa,  tetap saja pengunjungnya banyak. Termasuk saya yang bersedia datang ke sana. Tak peduli tunjangan kinerja naik atau tidak.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #62: Jangan Beri Mereka Harapan


image
Salah satu sudut Tapaktuan

Hope. It is the only thing stronger than fear. A little hope is effective. A lot hope is dangerous. A spark is fine, as long as it’s contained. ~~~President Snow dalam The Hunger Games.

Setelah beberapa minggu meninggalkan Tapaktuan karena tugas, akhirnya Senin (31/5) kemarin bisa ngantor  lagi. Ada yang patut saya syukuri dari perjalanan menuju Tapaktuan di hari Ahad kemarin itu.

Baca Lebih Lanjut.

Smiling is the Way the Soul Says Hello


image

Melina, saya, Cimot, Rachmat Riyadi

Lagu Bryanna dari telepon genggam memecahkan keheningan dini hari. Itu berarti sebentar lagi teman sekamar saya ini bangun dan pergi mandi. Ia tak memedulikan dinginnya air Mega Mendung, Puncak. Tak lama kemudian dia sudah berpakaian rapih. Baju koko putih dan sarung menjadi aksesorisnya untuk pergi ke masjid. Padahal waktu Shubuh masih 30 menit menjelang.

Pantaslah kalau Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Banten ini didaulat di malam keakraban  Siswa Peleton 1 Gelombang 2 Pendidikan Pelatihan (Diklat) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) DJP di Pusat Pendidikan Reserse Kriminal (Pusdik Reskrim) sebagai Terkonsisten paling duluan mandi dari keseluruhan anggota peleton yang berjumlah 30 orang itu. Ada tiga orang lain lagi yang mendapat “anugrah” TER di malam pelepasan ini.

Ada yang mendapatkan gelar “Tergokil”. Karena selama diklat yang diselenggarakan selama satu bulan itu kerjaannya “ngelucu”. Dan memang betul dia itu lucu banget dan bikin anggota peleton lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Salah satu kegokilannya ditunjukkan dengan cara bernyanyi tiba-tiba saat sedang proses belajar mengajar. Kebetulan dosennya adalah seorang Polwan sekaligus Psikolog Kriminal di Mabes Polri. Salah satu dosen dengan penampilan necis ala sosialita. Lirik lagu dangdut yang ditujukan kepada Ibu Dosen cantik yang hanya bisa tersipu-sipu itu. Dialah yang bernama Cimot–pemilik nama asli Yulianto, Kepala Seksi Administrasi Bukti Permulaan dan Penyidikan di Kantor Wilayah DJP Kalimantan Timur.

Gelar TER lainnya jatuh pada seorang perempuan. Dia satu dari dua perempuan di peleton kami. Prestasi TER-nya di bidang yang biasa didominasi laki-laki. Dan dia mampu mengalahkan kami. Dialah pemegang nilai tertinggi dalam menembak: Melina Harveyanti, pegawai Direktorat Keberatan dan Banding, Kantor Pusat DJP. Selain punya kemampuan ‘menembak’ dengan kamera dia pun ternyata mampu menembakkan, memuntahkan, serta mengarahkan proyektil peluru ke sasarannya. Patut jadi anggota Perbakin.

Nah, terakhir ternyata TER dengan kategori paling ‘aneh’. Terkonsisten tak makan nasi selama sebulan di Pusdik Reskrim. Itulah saya sendiri. Hehehe…saya tak menduga terpilih sedemikian ini. Teman-teman saya memang tahu persis kebiasaan saya. Mereka langsung menyodorkan lauk pauk tersisa kepada saya untuk dihabiskan. Biasanya lauknya itu adalah daging sapi,daging ayam, dan ikan goreng sebagai sumber protein tinggi pengganti karbohidrat. Saya memang mengganti nasi dengan karbohidrat yang lain.

Sebulan pun berlalu. Saatnya kami kembali bertugas ke tempat masing-masing. Membawa ilmu penyidikan yang diharapkan bisa langsung diaplikasikan. Sebagai bekal, kami disiapkan surat pengantar untuk disampaikan ke Korwas (Koordinasi dan Pengawasan PPNS) masing-masing daerah. Entah di Polres, Polda, ataupun di Mabes Polri-nya.

Sebulan kebersamaan pun berakhir. Tapi sepertinya berasa ada yang janggal. Seperti belum ada yang “move on”. Kebiasaan selama sebulan harus diganti dengan rutinitas seperti biasanya. Tidak ada lagi suara sirine buatan Cimot, tak ada lagi suara teriakan “ayo ayo ayo ayo” di lorong barak sebagai pengingat waktu “moving” telah tiba, tak ada lagi kumpul ramai-ramai di depan tv, dan banyak lagi tak ada tak ada lainnya.

Memang sudah semestinya demikian. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Perjumpaan selalu diakhiri dengan perpisahan. Dan tetap dengan senyum kita berpisah. Karena senyum adalah cara jiwa ucapkan halo. Begitulah ingatan saya menuntun pada apa yang dikatakan Jarod Kintz.

“Smiling is the way the soul says hello. Obviously a frown means goodbye. Is there a word halfway between hello and goodbye? Because that’s what my soul is saying right now.

image
Loncat semua. (Foto dokumentasi teman)

image

“Siap Komandan…!” Pose para Jenderal eselon dua DJP. Kika: Pak Cucu, Pak Samon Jaya, Pak Mekar, dan Pak Rudi Gunawan Bastari

image
“Mau nembak apa Ndan?” Kumendan Alex Diantara dan Danton Agung Karmanta

image
Di sebuah sudut Pusdik

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan dinranting cemara
25 Mei 2015
Foto-foto di atas adalah foto dokumentasi bukan milik saya melainkan milik teman-teman satu peleton.

Cuma Satu yang Tak Akan Berkurang Walau Dibagi


Jalan rusak Citayam-Bojonggede via metropolitan.id

Jalanan Citayam-Bojonggede rusak berat. Menjelma kubangan kerbau dan kawah-kawah menganga yang lebar dan dalam. Tetapi menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilewati oleh mobil hitam yang berisi wanita kesakitan dan senantiasa berzikir karena hendak melahirkan.

Saya berusaha melewati setiap lubang itu dengan pelan dan tenang. Karena setiap guncangan yang terjadi maka menyebabkan kontraksi yang semakin menjadi. Seiring dengan itu tentu teriakan kesakitan mengisi kembali ruang dan waktu. Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #61: Diserbu Densus 88


image

Suara tembakan pecah di dini hari. Memekakkan telinga. Saya yang sedang tidur lelap terbangun dan terperanjat. Tapi saya tahu ini akan terjadi. Anggota Densus 88 itu akan menyerbu kamar kami.

Baca Lebih Lanjut.