TATA CARA / PROSEDUR PENDAFTARAN HAJI DI KABUPATEN BOGOR (1)


TATA CARA / PROSEDUR PENDAFTARAN HAJI DI KABUPATEN BOGOR

===TAHAP AWAL===

Pembaca, saya coba cari di Google dengan kata kunci sebagaimana judul tulisan ini, hasilnya nihil. Saya coba juga membuka laman Departemen Agama Republik Indonesia hasilnya sama. Singgah di laman Kabupaten Bogor sama juga. Apatah lagi Kantor Departemen Agama Kabupaten Bogor juga tak punya laman sama sekali di internet.

Akhirnya saya tahu secara langsung prosedur pendaftaran haji itu dengan melakukannya sendiri berbekal sedikit informasi dari bank tempat saya menabung haji. Saya ingin membagi pengalaman ini kepada pembaca agar ketika ingin mendaftar haji sudah tahu apa yang harus dipersiapkan. Entah persiapan dokumen yang harus dibawa, jumlah biaya yang harus dikeluarkan, dan mental tentunya karena kita akan berhadapan dengan gunung rintangan yang bernama birokrasi.

Semoga ini bermanfaat bagi para pembaca khususnya dari Kabupaten Bogor yang ingin menunaikan haji ke tanah suci. Bisa jadi prosedur pendaftaran haji di setiap daerah berbeda-beda. Saya mendengarnya demikian dari berbagai orang yang sudah pernah mengalaminya. Kata mereka prsoedurnya tidaklah serumit di Kabupaten Bogor. Wallahua’lam bishshowab.

Yang harus dipersiapkan oleh Pembaca ketika ingin mendaftar haji dan pergi haji tentunya adalah niat yang lurus bahwa saya ini pergi haji adalah semata-mata hanya karena Allah. Bukan untuk piknik, berdagang, mencari gelar haji, penaikan status, dipandang masyarakat, dan lain-lainnya. Niat yang lurus ini akan membuat kita pasrah pada-Nya. Ketika ada niat-niat yang sudah mulai melenceng segera luruskan saja dan minta ampun pada Allah.

Yang kedua adalah perbanyak do’a dan shalawat. Loh kok prosedur kayak ginian aja butuh ini sih? Tentu sangat dibutuhkan, karena seperti yang sudah saya bilang di awal kita akan menghadapi gunungan birokrasi yang akan menguji kesabaran kita. Dengan perbanyak do’a dan sholawat kita berharap pada Allah agar IA memudahkan semuanya.

Yang ketiga persiapkan waktu dengan secermat mungkin. Karena tidak bisa sehari atau dua hari untuk menuntaskan semua ini. Karena banyak dokumen yang harus dipersiapkan. Bagi yang berkantor kalau bisa coba minta cuti atau izin kerja setengah hari untuk mengurus pendaftaran ini.

Yang keempat selalu berangkat lebih pagi untuk mendapatkan pelayanan yang lebih awal di kantor apapun. Entah di Kantor Kepala Desa, Puskesmas, ataupun di Kantor Departemen Agama (selanjutnya disingkat Kandepag) Kabupatan Bogor. Karena kalau Anda datangnya sudah terlalu siang—yang sebenarnya menurut kita masih waktunya jam kerja—siap-siap saja Anda akan disuruh pulang dan datang kembali keesokan harinya.

Pembaca, setahu saya kalau kita ingin mendaftar haji harus sudah ada tabungan Rp20 juta dulu di bank lalu datang ke Kandepag dengan cukup membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Ternyata masih banyak yang harus kita bawa.

Baik dokumen apa saja yang harus dipersiapkan dan ktia bawa untuk pendaftaran Haji di Kandepag Kabupaten Bogor?

Ada dua tahap. Tahap awal dan tahap kedua. Tahap awal adalah tahap pendaftaran setelah kita sudah punya tabungan sebesar Rp20 juta di bank. Tahap kedua adalah tahap pendaftaran setelah kita mendapatkan nomor porsi dari bank.

Dokumen tahap awal sebagai berikut:

  1. Fotokopi buku tabungan;
  2. Fotokopi KTP;
  3. Fotokopi KK;
  4. Fotokopi Surat/Akta Nikah;
  5. Fotokopi Akta Kelahiran/Surat Kenal Lahir/Ijazah;
  6. Fotokopi Surat Pernyataan Bermeterai dari Kepala Desa/Lurah yang diketahui oleh Kecamatan (asli dibawa);
  7. Fotokopi Surat Keterangan Sehat (asli dibawa).

    Masing-masing rangkap satu.

    Saya akan jelaskan yang memang perlu untuk diberikan penjelasan.

Untuk memudahkan kita dalam masalah tabungan haji ini, saya sarankan untuk membuka di bank yang cabangnya berdomisili satu propinsi dengan Kandepag Kabupaten Bogor artinya masih di Jawa Barat. Tetapi saya lebih sarankan lagi Anda buka tabungan hajinya di bank yang satu kabupaten/kota saja.

Jangan mengulangi apa yang pernah saya alami. Saya membuka tabungan haji di Bank Muamalat Kantor Kas Cawang Jakarta ternyata untuk mendaftar haji saya harus menutup dulu tabungan itu dan membuka tabungan baru di Bank Mualamat Kantor Kas Cibinong.

Ribet, dipotong biaya penutupan, dan menyita waktu banyak. Akibatnya saya tidak bisa mengejar kesempatan untuk mendaftar di Kandepag Kabupaten Bogor, mengurus surat kesehatan di Puskesmas dan Kantor Kepala Desa.

Pastikan bahwa yang difotokopi adalah halaman sampul buku tabungan, halaman pertama yang memuat nama dan keterangan kita, serta halaman yang menerangkan saldo terakhir kita. Walaupun di prosedurnya tidak diterangkan halaman berapa yang harus kita fotokopi tapi kita fotokopi saja yang saya terangkan di atas tadi. Untuk apa? Supaya lengkap dan tidak memberikan kesempatan petugas peneliti di Kandepag Kabupaten Bogor untuk menyuruh kita pulang.

Oh ya, dokumen yang harus saya bawa untuk membuka tabungan haji adalah cukup fotokopi KTP saja.

Akta Kelahiran/Surat Kenal Lahir/Ijazah masing-masing saya fotokopi. Walaupun di prosedurnya tandanya adalah garis miring yang berarti cukup salah satu saja namun saya fotokopi juga semuanya. Agar, lagi-lagi, supaya berkas kita tidak dianggap tidak lengkap.

Untuk Surat Pernyataan Bermeterai dari Kepala Desa/Lurah yang diketahui oleh Kecamatan maka terlebih dahulu Anda datang ke Kantor Kepala Desa sambil membawa meterai Rp6000, fotokopi KTP, fotokopi KK, serta surat keterangan atau pengantar dari RT dan RW. Untuk yang terakhir ini Anda bisa urus sendiri malam sebelumnya. Jalan pintas langsung datang ke Kantor Kepala Desa tanpa surat pengantar memang bisa tetapi itu tidak mendidik.

Untuk ke Kecamatannya Anda bisa uruskan ke petugas desa. Tetapi karena saya ingin cepat selesai saya sendiri yang akan datang ke Kantor Kecamatan. Biaya administrasi di Kantor Desa Rp20.000,00.

Saya datang ke Kantor Kecamatan dengan membawa fotokopi KTP, KK dan surat pernyataan tersebut. Langsung ditandatangani oleh salah satu Kepala Seksi yang ada di sana. Cepat dan tidak berbelit-belit. Biaya administrasinya sebesar Rp20.000,00 juga.

Jangan lupa setelah itu fotokopi surat pernyataan bermeterai tersebut sebelum kita serahkan ke Kandepag Kabupaten Bogor.

Oh ya, karena Puskesmas itu jam tutupnya adalah jam setengah 12 siang, maka sebelum ke kantor Kecamatan saya terlebih dahulu ke Puskesmas untuk meminta surat kesehatan. Cukup bayar Rp5000, antri sebentar, dan diperiksa ala kadarnya, tal…tul…, tal…tul… stetoskop, surat keterangan sehat sudah didapat. Ada pengecualian tentang datang lebih pagi ke Puskesmas. Mungkin karena datangnya siang malah antrian sudah pendek dan tidak banyak orang. Kalau pagi wuih…jangan dikira panjang antriannya. Setelahnya segera fotokopi saja surat kesehatan tersebut.

Kini tiba saatnya datang ke Kandepag Bogor. Siapkan mental karena di sana akan dilayani oleh sedikit petugas di sebuah ruangan yang sempit di Kandepag Kabupaten Bogor, tepatnya di ruangan Seksi Pelayanan Haji dan Umroh (kalau tidak salah karena saya sudah tidak ingat lagi).

Jangan membayangkan ruangan pendaftaran haji ini senyaman ruangan pelayanan di bank-bank atau Tempat Pelayanan Terpadu Kantor Pelayanan Pajak yang pernah Anda kunjungi. Ruangannya cuma 12 meter persegi yang penuh berkas tanpa petunjuk harus menghadap ke mana dan siapa terlebih dahulu.

Saya harapkan Anda datang ke sana pada pukul 09.00 sampai pukul 10.00 pagi. Lebih dari itu siap-siap saja berkas Anda akan ditolak dan disuruh datang lagi keesokan harinya. Karena petugas disana membatasi jumlah orang yang mendaftarkan haji cukup 35 pendaftar saja. Masalahnya ini berkaitan dengan proses pengambilan foto dan sidik jari yang memakan waktu bisa sampai lima jam lamanya.

Alhamdulillah berkas saya diterima walaupun saya datangnya pukul 12.30 WIB. Ini dikarenakan sedikit kengototan saya karena sudah disuruh pulang di hari kemarinnya. Ditambah sedikit kebaikan yang diberikan petugas di sana kepada saya.

Setelah mengisi formulir pendaftaran yang diberikan petugas—itupun sambil berdiri karena bangkunya sedikit dan ruangan sudah penuh orang—serta memeriksa kelengkapan berkas saya dan istri, saya disuruh petugas pergi ke koperasi untuk membayar biaya foto sebesar Rp60.000,00 dan setelahnya pergi ke ruangan pemotretan.

Nah di sini kesabaran diuji lagi karena petugas yang melayani kami pada sesi ini cuma satu orang. Kami menyerahkan kuitansi pembayaran dan berkas pendaftaran pada pukul 12.30 WIB, pemotretannya baru dilakukan pada pukul 15.15 WIB. Pengambilan sidik jari tiga perempat jam kemudian. Lalu kami menerima banyak lembaran foto berbagai ukuran dan CD-nya serta berkas pendaftaran ditambah dengan Surat Pendaftaran Pergi haji (SPPH) tiga rangkap pada pukul 16.15 WIB dari petugas pemotretan.

Dan kemudian balik lagi ke petugas yang memeriksa berkas kita di awal tadi. Berkas kita akan dicek kembali oleh petugas dan kita disuruh menyerahkan foto ukuran 1×1 yang tadi kita terima. Lalu mengembalikan dua rangkap SPPH kepada kita untuk diserahkan kepada bank dan satunya untuk kita arsipkan sendiri. Saya baru pergi dari Kandepag Kabupaten Bogor jam setengah lima sore.

Bersambung…

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09:52 26 Oktober 2009

IBROHIM DAN MARIA OZAWA


IBROHIM DAN MARIA OZAWA
Belum hilang dari ingatan kita jenazah Ibrohim—salah satu pelaku pengeboman hotel JW Marriot dan Ritz Carlton—ditolak untuk dikuburkan di kampung halamannya oleh berbagai pihak. Begitu pula dengan Urwah, pelaku terorisme yang ditembak mati oleh Densus 88, jenazahnya sempat ditolak untuk dikuburkan di tempat keluarga besarnya berada.
Penolakan itu diiringi pula dengan adanya demo-demo baik yang pro maupun kontra dari berbagai elemen kemasyarakatan yang ada di Solo dan Kudus. Yang menolak menyandarkannya pada argumentasi daerahnya tidak mau disebut-sebut sebagai sarang teroris.
Pada hari-hari ini juga masyarakat kita disibukkan dengan adanya penolakan kedatangan Miyabi atau Maria Ozawa yang dikenal sebagai bintang film porno di Jepang sana. Walaupun kedatangan Miyabi ini bukan untuk main film esek-esek tetapi untuk berperan di film komedi, rencana kedatangannya sudah disambut dengan demo dari berbagai kalangan yang perhatian betul dengan dunia moral dan pendidikan. Terutama dari Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam.
Tak luput banyak pula komentar mendukung kedatangan Miyabi bersileweran di media massa dan mengecam pelarangan-pelarangan tersebut. Ada yang dari artis, praktisi perfilman, pegiat hukum, bahkan menteri sekalipun. Yang terakhir ini sempat berkomentar bahwa secara legal dan kepantasan, pemerintah tidak berhak melarang orang yang tidak melakukan kesalahan hukum datang ke Indonesia selaku wisatawan. Bagus betul…?!
Nah berkaitan dengan kasus Ibrohim dan Miyabi ini ada sesuatu yang perlu dicermati bersama. Ibrohim sudah terlanjur dikenal oleh masyarakat sebagai ikon terorisme. Sedangkan Miyabi sudah dikenal sebagai ikon sekitar perdadaan dan perselangkangan.
Praktis tak ada artis, pegiat hukum, bahkan menteri sekalipun berkomentar terhadap penolakan penguburan jenazah Ibrohim yang dilakukan oleh masyarakat di sana. Walaupun secara legal dan kepantasan tidak ada satu aturan pun di negeri yang bernama Republik Indonesia ini yang melarang pemakaman jenazah para penjahat sekelas apapun di kampung halamannya.
Semuanya diam tak bersuara. Hening. Kata orang Betawi: “kagak urusan gue.” Tapi kalau masalah Miyabi, karena ini menyangkut masalah kenikmatan purba manusia, semuanya bersuara. Kata orang Betawi lagi: “nyang eni baru urusan gue.” Meskipun suara dari hati nurani yang paling dalam itu berusaha diperhalus dengan bahasa hukum, intelek, dan seberadab-adab mungkin.
Terorisme adalah sebuah kejahatan. Begitu pula dengan pornografi sebagai anak kandung dari kapitalisasi, komersialisasi, dan industrialisasi aurat. Dua-duanya sama-sama menjadi zat adiktif yang berbahaya bagi otak dan tubuh. Setahun tidak ngebom seluruh tubuh menjadi sakau, gelisah, dan pusing-pusing. Pemuasannya dengan melakukan pengeboman yang pada akhirnya memberikan ketenangan dan kebahagiaan melihat simbahan darah dan tangisan para korban dan keluarganya.
Pornografi tidak sekasar itu. Tetapi daya rusaknya sama saja. Kecanduannya membuat otak tak mampu berpikir siapa dan apa yang perlu untuk disetubuhi (maaf beribu-ribu maaf). Banyak penelitian yang membuktikan ini.
Kesamaan lainnya, keduanya sama-sama membidik anak-anak muda sebagai penerus ide dan gerak (baca aksi) dari isme-isme itu. Bedanya, terorisme “mudah” untuk diberantas. Sedangkan pornografi sebaliknya. Karena masalahnya adalah pada kontradiksi asasi keduanya. Terorisme menyakitkan tubuh dan rasa aman. Sedangkan pornografi menikmatkan rasa purba manusia. Apatah lagi kenikmatan itu disokong 100% dengan kerja iblis dan para prajuritnya.
Kalau sudah demikian wajib ‘ain kalau dua-duanya ditolak sebagai upaya penyelamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)—argumentasi yang juga biasa dipakai oleh pendukung kedatangan Miyabi—sekaligus Miyabi sebagai ikonnya. Karena melindungi moral generasi mendatang adalah modal utama NKRI.
Kalau tidak? Coba pakai uji etika ini. Setujukah Anda jika ibu Anda, saudara perempuan Anda, atau anak perawan Anda menjadi generasi penerus Miyabi sebagai bintang pornografi Indonesia?

https://dirantingcemara.wordpress.com
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:19 14 Oktober 2009

DAPAT DUIT 23 JUTA RUPIAH


DAPAT DUIT 23 JUTA RUPIAH, ALHAMDULILLAH…

Ahad itu, saya sedang membersihkan mobil untuk persiapan berangkat ke acara Silaturahim Du’at se- Kabupaten Bogor yang diselenggarakan oleh IKADI (Ikatan Da’I Indonesia). Tiba-tiba datang sepasang suami istri—tetangga saya namun beda RT—meminta bertamu dan berbincang-bincang sejenak karena ada suatu keperluan.

Saya mempersilakan mereka berdua untuk masuk dan duduk di ruang tamu yang cuma dialasi dengan karpet plastik itu. Sang suami itu mulai bicara pada saya, “Pak saya mau menyerahkan uang INI sebagai nadzar kami atas kesembuhan anak kami.” Ia menyodorkan bungkusan plastik putih. Tebal.

“Memang Bapak bernadzar apa?” tanya saya lebih lanjut.

“Anak kami sakit ginjal. Di dalam ginjalnya itu terdapat cairan. Menurut medis anak kami ini harus dioperasi. Kami tidak mau. Lalu kami mencari pengaobatan alternatif yang Insya Allah sesuai syar’I dan Alhamdulillah sembuh. Kami sudah cek kembali ke dokter. Alhamdulillah, kata dokter sudah tidak ada cairannya dan tak perlu dioperasi lagi,” kata sang suami.

Istrinya menyela, “sebelumnya kami bernadzar, kalau anak kami sembuh kami akan berinfak.”

“Nah ini sebagai pemenuhan kewajiban kami. Uang ini untuk masjid Pak. Dua puluh tiga juta,” kata sang suami lagi.

Subhanallah walhamdulillah, mata saya langsung berkaca-kaca. Saya tahan saja airmata yang sepertinya ingin berlarian keluar dari pelupuk mata. Allah telah mengabulkan do’a para jama’ah masjid Al-Ikhwan.

Ya, jama’ah Masjid Al-Ikhwan berencana ingin membuat tangga ke bawah agar tempat wudhu yang berada di lantai atas (ruang utama masjid) bisa dipindahkan ke bawah dekat ruang TPA. Awalnya kami cuma punya uang kurang lebih enam juta rupiah saja. Sedangkan biaya pembangunan yang disodorkan oleh pemborong berkisar 38 juta rupiah, naik dari proposal awalnya yang hanya sebesar 27 juta rupiah.

Dengan berkah bulan ramadhan akhirnya kami bisa mengumpulkan infak sebesar 20 juta rupiah. Dengan modal awal itu kami bisa memulai pembangunan tangga. Pemborongnya yang merupakan langganan kami itu termasuk orang baik.

Ia rela memberikan nafas dan kesempatan kepada jama’ah Masjid Al-Ikhwan untuk mencicil sisanya sebesar dua juta rupiah per bulan selama sembilan bulan. Ia pun tahu kami tidak menunda-nunda dalam pembayarannya. Karena dari pengalaman lalu ketika kami menerapkan metode cicilan ini, kami selalu membayar cicilan lebih dari yang seharusnya kami setor. Dengan hal ini kami bisa lebih cepat dalam melunasi hutang masjid. Prinsip kami kalau ada uang segera bayar hutangnya.

Dan selama bulan ramadhan yang merupakan bulan penuh keberkahan, rahmat, dan terkabulnya banyak doa itu kami senantiasa memanjatkan do’a agar Allah memberikan kepada kami kepercayaan, kekuatan, dan kemampuan untuk membangun tangga tersebut. Karena selama ini kami hanya mengandalkan pada donator bulanan untuk membiayai operasional masjid. Tidak ada proposal yang dikirim kepada para warga. Kami hanya mengandalkan proposal yang dikirim ke Departemen Agama yang sampai dibuatnya tulisan ini sumbangannya belum juga didapat.

Kami yakin Allah mahakaya. Allah pemilik sejatinya masjid Al-Ikhwan itu. Allah yang akan membangun dan menjaga masjid kami itu. Dan Allah maha mendengar. Maka kami perbanyak do’a di bulan ramadhan apatah lagi di sepuluh hari terakhirnya agar Allah memenuhi segala kebutuhan Masjid Al-Ikhwan itu.

Sungguh Allah mendengar do’a kami. Belum habis bulan syawal 1430 H ini Allah memenuhi kebutuhan kami dengan jumlah yang pas dan mencukupi sehingga kami tidak perlu berhutang. Kami akan membayar dengan kontan. Allah mahabesar.

Dan dengan kedatangan suami istri itu, saya dipertontonkan sebuah bentuk keikhlasan. Sebuah bentuk proteksi dari terciderainya amal kebajikan. Mereka tidak mau dibuatkan kuitansi penerimaan uang, tidak mau ditulis namanya di laporan bulanan, dan tidak mau nama mereka disebut-sebut di pengumuman hari jum’at.

“Cukup hamba Allah saja,” kata mereka.

Untuk semua yang Allah pertunjukkan kepada saya, saya hanya berdoa semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik kepada mereka dari apa yang mereka berikan kepada kami. Infak mereka adalah penjauh malapetaka dan penyembuh segala luka. Dan semoga Allah menyehatkan anak-anak mereka dan menjadikan anak-anak mereka anak-anak yang sholih.

Dan menjadikan kami termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikan. Terima kasih ya Allah.

Riza Almanfaluthi

Episode Ahad

dedaunan di ranting cemara

09.22 WIB 12 Oktober 2009.

SURAT PEMBACA UNTUK PTKA


SURAT PEMBACA UNTUK PTKA

Siang ini saya ingin bercerita. Cerita yang sebetulnya sudah pernah saya ceritakan kepada beberapa kawan sebelumnya. Namun tak apalah untuk saya ceritakan kembali khususnya kepada yang belum tahu saja. Mengapa demikian? Karena ini ada kaitannya dengan dimuatnya surat pembaca saya di halaman situs ini.

Senin tanggal 28 September 2009 itu saya berbincang-bincang dengan kawan saya di atas Kereta Rel LIstrik (KRL) Ekspress Depok-Tanah Abang. Hari itu hari pertama saya masuk kantor setelah liburan lebaran sehingga tentu apa yang kami bicarakan tidak jauh cerita tentang perjalanan mudik kami. Sebelum ngobrol itu, teman saya menaruh tas ranselnya di rak atas KRL di samping tas kecil saya sambil berkata, “Mas, tolong ingatkan saya untuk mengambil tas ini ya kalau mau turun. Soalnya saya sering lupa.”

“Insya Allah,” jawab saya. Tapi permintaannya tidak saya penuhi sampai kami keluar dari KRL itu karena dia tetap ingat dengan tas yang ia taruh.

Besoknya, ternyata bukannya dia yang lupa dengan tasnya tetapi saya sendiri yang lupa. Dan sungguh, baru kali ini saya lupa dengan apa yang saya bawa. Ini sebenarnya juga teguran buat saya untuk tidak mentang-mentang atau sok dengan pengalaman tidak pernah lupa dengan barang bawaan.

Pagi itu, seperti biasa saya berdiri di pintu KRL dengan menaruh tas saya di raknya. Kali ini saya mengobrol dengan teman yang saya kenal. Beliau adalah Kepala Seksi di sebuah kantor pemerintahan di komplek yang sama dengan kantor saya. Asyik betul kami mengobrol hingga sampai juga kami di Stasiun Cawang.

Di stasiun Cawang, saya berpindah peron ke peron yang menuju Bogor untuk menunggu KRL yang mengantarkan kami kembali ke Stasiun Kalibata. Tapi…saya sepertinya mengalami suatu hal yang ganjil. Sepertinya ada yang hilang dari tangan saya yang terbiasa memegang sesuatu. Deg…tas saya mana?!!

Hilang!

Ketinggalan!

Cepat-cepat saya menghubungi petugas porter di Stasiun Cawang—seperti anjuran teman-teman yang lain. Petugas tersebut kemudian mengantarkan saya menuju ruang operator perjalanan kereta api. Dan petugas operator tersebut segera menghubungi petugas di Stasiun Sudirman dan Stasiun Tanah Abang untuk mengambil tas saya yang berada di gerbong kedua dari belakang.

Ciri-ciri tas itu saya beritahukan kepada petugas termasuk mereknya apa dan benda-benda apa saja. Ada telepon genggam, foto-foto jadul waktu pernikahan, ipod nano, dan yang terpenting sekali adalah harddisk eksternal yang berisi dokumen pekerjaan kantor dan ribuan foto berharga.

Saya sudah pasrah. Tapi rada-rada optimis juga karena tas itu ketinggalan di kereta ekspress AC. Artinya seperti kebanyakan petugas PTKA bilang prosentase ketemunya adalah 80:20. Kalau ketinggalannya di kereta kelas ekonomi, “ikhlaskan saja deh,” kata petugas tersebut.

Karena tidak sabaran untuk menunggu akhirnya, saya putuskan untuk ke kantor terlebih dahulu. Sampai di kantor saya absen dan berniat sholat dhuha. Karena biasanya setelah sholat dhuha selalu ada jalan keluar yang terbaik buat saya. Eh ternyata lain, baru sebatas niat saja Allah sudah mengabarkan kabar gembira kepada saya. Pada saat saya duduk di teras masjid untuk membuka sepatu ada telepon masuk yang ternyata dari petugas stasiun Cawang. Mereka memberitahukan bahwa tas saya sudah diketemukan dan sekarang berada di Stasiun Tanah Abang.

Saya lihat jam yang ada di HP. Kurang lebih 30 menit tas itu sudah ketemu. Saya cabut ke stasiun Cawang untuk bertemu dengan dua petugas yang akan mengantar saya ke stasiun tanah Abang. Sampai di sana saya dengan mudahnya saya dapat mengambil tas saya itu.

Dari pengalaman itu dan terutama kesan pada kecepatan pelayanan yang diberikan petugas PTKA, sebagai balas jasa terhadap apa yang diberikan mereka, saya berkata dalam hati, saya akan mengirimkan surat pembaca agar bisa diketahui oleh banyak orang. Tentunya ini sebuah sikap keberimbangan karena selama ini yang diungkap di surat pembaca mengenai PTKA kebanyakan adalah keluhan dan gugatan atas pelayanan PTKA yang kurang memuaskan pelanggan.

Dan pada hari ini situs detikcom menayangkan surat pembaca tersebut.

 

Jumat, 09/10/2009 11:58 WIB
Terima Kasih dan Salut Atas Layanan PT Kereta Api
Riza Almanfaluthi – suaraPembaca

 

Jakarta – Pada tanggal 29 September 2009 saya naik Kereta Rel Listrik (KRL) Depok Ekspress Jurusan Tanah Abang dari Stasiun Depok Lama. Karena asyik ngobrol dengan teman ketika turun di Stasiun Cawang saya tidak menyadari tas saya tertinggal di KRL.  Baru sadar ketika kereta tersebut sudah berangkat kembali.

Lalu saya melapor ke petugas PT Kereta Api (PT KA) di stasiun tersebut. Dibantu petugas operator yang menghubungi petugas PT KA di stasiun berikutnya akhirnya dalam waktu setengah jam tas saya bisa diketemukan kembali.

Dengan diantar dua petugas dari Stasiun Cawang yaitu Bapak Triyono dan Sugiarto saya pergi ke Stasiun Tanah Abang untuk mengambil tas yang berisi harddisk eksternal dan di dalamnya terdapat dokumen-dokumen penting kantor dan keluarga.

Untuk ini saya ucapkan terima kasih dan salut atas kecepatan pelayanan yang diberikan PT KA kepada para pelanggannya.

Riza Almanfaluthi

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/10/09/115833/1218508/283/terima-kasih-dan-salut-atas-layanan-pt-kereta-api

 

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di Ranting Cemara

14:49 10 Oktober 2009

 

 

 

 

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/10/09/115833/1218508/283/terima-kasih-dan-salut-atas-layanan-pt-kereta-api

ALUMNI ATAU ALUMNUS?


ALUMNI ATAU ALUMNUS?

Bulan syawal adalah saat yang tepat untuk mengadakan acara silaturahim. Contohnya acara temu kangen dengan teman-teman satu almamater. Acara itu dikemas dengan sangat informal dan biasanya diberi label temu alumni. Masalahnya kita seringkali gagap dalam memakai kata yang benar antara dua kata ini alumni atau alumnus.

Sebenarnya dua kata itu baku untuk dipakai kalau pemakaiannya pun tepat sesuai dengan maknanya. Oleh karena itu sebelum kita melangkah lebih jauh tentang pemakaian kata yang benar dari dua kata tersebut kita perlu mengetahui terlebih dahulu maknanya.

Alumni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring adalah orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi. Sedangkan alumnus menurut kamus yang sama mempunyai pengertian orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi.

Coba, kalau kita cermati maka kita bisa temukan bedanya. Bahwa alumni adalah bentuk jamak dari alumnus. Alumni menunjukkan banyak orang sedangkan alumnus adalah bentuk tunggal yang menunjukkan satu orang saja. Dengan kata lain alumni adalah para alumnus atau kumpulan alumnus.

Maka dengan demikian kita sudah tahu bagaimana pemakaian yang benar dari dua kata tersebut.

Suatu hari setelah saya memikirkan tentang makna alumni dan alumnus, kebetulan pula pada hari yang sama habis shalat isya saya bersalaman dengan remaja yang baru duduk di kelas 1 SMP. Ia memakai kaos hitam yang di punggung kaosnya terdapat tulisan besar ALUMNUS 2009 dan di bawahnya terdapat kotak yang berisi nama teman-teman lulusan sekolahnya dalam satu angkatannya.

Tentu dilihat dari maknanya pemakaian kata alumnus dalam kaos itu tidak tepat. Seharusnya memakai kata alumni yang menunjukkan banyak orang yang tamat dari sekolahnya.

Langsung saja saya berikan contoh-contoh lainnya sebagai berikut:

Yang salah     : Saya alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Angkatan 1997

Yang benar    : Saya alumnus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Angkatan 1997

Yang salah    : Dipersilakan kepada para alumni untuk menempati kursi yang telah disediakan.

Yang benar    : Dipersilakan kepada para alumnus untuk menempati kursi yang telah disediakan.

Yang salah    : Kita adalah alumnus ramadhan yang senantiasa harus dapat mempertahankan nilai- nilai ramadhan itu di sebelas bulan berikutnya.

Yang benar     : Kita adalah alumni ramadhan yang senantiasa harus dapat mempertahankan nilai- nilai ramadhan itu di sebelas bulan berikutnya.

Yang salah    : Ikatan Alumnus SMUN Bojong Kenyot

Yang benar    : Ikatan Alumni SMUN Bojong Kenyot

Contoh terakhir ini sedikit saya komentari. Mengapa? Karena alumnus adalah hanya satu orang saja sehingga tidak perlu diikat dalam sebuah ikatan. Yang pas adalah dengan memakai kata alumni karena menunjukkan banyaknya lulusan satu sekolah yang perlu diikat dalam satu ikatan. Mentang-mentang bahwa kata alumnus itu berasal dari kata asing (Latin) dan segala sesuatu dari bahasa asing–terutama Bahasa Inggris—sesuatu yang banyak atau menunjukkan jamak itu memakai akhiran s atau –es maka seringkali kita terkecoh dengan memakai kata alumnus untuk menunjukkan banyaknya lulusan suatu sekolah.

Demikian uraian saya, semoga bermanfaat. Kalau ada komentar atau informasi yang menunjukkan adanya kesalahan pada artikel ini mohon untuk dibetulkan. Terimakasih.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:38 09 Oktober 2009

ORANG PAJAK DIKASIH THR CUMA RP8.000,00


ORANG PAJAK DIKASIH THR CUMA Rp8000,00

Sabtu, 19 September 2009

Waktu itu jelang maghrib, saya masih di depan televisi untuk melihat saluran mana yang memberitakan mengenai sidang isbat 1 Syawal 1430 H. Dus, cari saluran mana yang cepat dalam mengumandangkan adzan maghribnya. He…he…he…Kalau pembaca membaca tulisan saya terdahulu pada saat-saat itu juga saya sedang lemas-lemasnya karena habis menempuh perjalanan mudik yang panjang—berkisar 526 Km dalam 30 jam tempuh.

Tiba-tiba, saya didatangi Ayyasy—anak kedua saya—sambil menyodorkan kepada saya empat lembaran uang kertas bergambar Pangeran Antasari.

“Apaan nih Nak?” tanya saya. Dia diam saja sambil tersenyum-senyum.

Umminya yang sedang di dalam kamar menyahut, “Itu loh Bi, Ayyasy ulang tahun hari ini, jadi dia kasih uang traktiran. Ummi dikasih, Haqi dikasih, Kinan juga dikasih.”

“Subhanallah, Terima kasih ya Nak,” kata saya, “Ini THR-nya Abi nih…”

Uangnya Ayyas itu dari kita-kita juga yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Pun, dari imbalan ataupun pemacu kalau puasanya bisa sehari penuh.

Yang menarik bagi saya dari peristiwa kecil itu bukan besar kecilnya uang itu yang cuma delapan ribu perak, tapi timbulnya rasa kepedulian pada anak tujuh tahunan —sekali lagi bagi saya—itu adalah hal yang teramat luar biasa. Juga timbulnya keinginan membahagiakan orang lain. Saya berharap sampai gede pun demikian.

Umminya pernah bilang dalam suatu kesempatan, “Ayyasy bilang nanti kalau setiap ulang tahun mau kasih duit. Itu juga kalau Ayyasy punya duit.”

“Ayyasy kalau sudah gede dapat gajian sepuluh juta, buat umminya berapa?” tanya Ummu Ayyasy iseng-iseng berhadiah.

“Buat Ummi semuanya,” kata Ayyasy.

“Kalau Haqi berapa?” tanya Ummi lagi.

“Sejuta saja, he…he…he…” kata Haqi.

“Alhamdulillah…”

(Ini dialog kayak di VCD Islami saja yah…tapi betulan loh…)

***

Segala puji bagi Allah, ramadhan telah mendidik mereka untuk bisa saling berbagi. Haqi dan Ayyasy selama dalam perjalanan mudik pun tidak bisa meninggalkan kota infak masjid yang kami singgahi tanpa mereka mengisi terlebih dahulu kotak itu dengan uang yang mereka miliki sendiri. Begitu pula dengan para peminta-minta. Insya Allah.

Saya meminta pada Allah agar kami dijauhi dari sikap bakhil, pelit, koret, medit. Allahumma inni a’udzubika minal jubni wal bukhl

Begitu pula dengan anak-anak kami. Amin.

Riza Almanfaluthi

orang pajak

dedaunan di ranting cemara

07:27 24 September 2009

INDRAMAYU-SEMARANG LANCAR


INDRAMAYU-SEMARANG LANCAR

Malam-malam, bibi saya kaget. Ia menyangka mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya adalah mobilnya yang sedang pergi ke Jakarta. Ketika membuka garasi, baru ia “ngeh” kalau yang datang adalah keponakannya. Perjalanan yang begitu panjang sebelumnya seperti enggak terasa karena ada kebahagiaan dalam pertemuan ini. Apatah lagi makan malam berat ditemani dengan sayur dan tahu buatan bibi setelah sekian lama. Nikmat banget.

Karena kepala saya pusing, nyut-nyutan, akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Semarangnya besok pagi dini hari. Saya minum obat pasaran kegemaran saya, yang kalau diminum sakit kepalanya langsung hilang. Cukup satu biji saja. Setelah itu tidur.

Sabtu, 19 September 2009

Jam dua malam kami bangun untuk bersiap-siap berangkat kembali. Di Dapur Bibi, sibuk sekali menyiapkan makanan untuk sahur kami. Sayur bening dan telur dadar. Subhanallah, walaupun sederhana tapi lezat nian. Sepertinya ini sahur terlahap yang pernah saya ingat di ramadhan ini. Pula, bisa jadi ini adalah sahur yang terakhir di ujung ramadhan.

Tiga kurang delapan menit, angka yang ditunjukkan oleh jam di mobil kami. Kami berangkat dari rumah bibi. Sebelum pergi, saya bilang kepada Bibi saya Insya Allah Sabtu mendatang, sewaktu akan balik ke Jakarta, kami datang kembali ke rumah Bibi .

Bibi saya berpesan, kalau mau balik lagi ke sini bilang dulu, supaya dirinya bisa mempersiapkan oleh-oleh yang harus kami bawa untuk ke Jakarta. Ia, katanya mau membuatkan kami koci, makanan khas Indramayu yang bentuknya segitiga dan di dalamnya ada isi kacang hijau. Oke Bi…

Mata sudah melek betul ketika kami menyusuri jalanan jalur Karang Ampel Cirebon yang bermeridian, lebar, mulus, dan sepi. Kecepatan bisa dipacu sampai 100 km/jam. Benar-benar kami seakan-akan pemilik sejatinya jalan itu. Dan kami baru menemukan rombongan pemudik lain, kala kami sampai di pertigaan Kanci.

Sholat Shubuh kami lakukan di daerah sekitar Tanjung, Brebes. Kami singgah di Masjid di sana. Namun sungguh tak representatif sekali. Kamar kecil dan airnya sedikit sekali. Jadi diputuskan masjid ini bukan untuk tempat istirahat kami.

Secara umum perjalanan kami lancar-lancar saja. Kemacetan walaupun ada jarang kami temui. Dan tentunya tidaklah separah hari kemarinnya.

Ketika kantuk mulai terasa, kami memutuskan untuk berisitrahat di Posko Toyota di Alas Roban. Awalnya kami sudah membayangkan apa yang pernah diiklankan di situsnya tentang posko lebaran Toyota seperti fasilitas kursi pijat atau istirahat yang nyaman. Tapi nyatanya jauh api dari panggang. Kami mampir dan tidak ada fasilitas itu. Sekadar mencari kursi tersisa untuk tempat duduk pun enggak ada. Mungkin karena banyak pemudik yang lagi menunggu kendaraannya diperbaiki.

Jadi kami tidak istirahat di sana. Hasilnya sambil terkantuk-kantuk saya hampir menabrak pengendara motor. Sedetik saya kehilangan kesadaran. Alhamdulillah yang masih melindungi kami. Segera kami cari SPBU untuk mengistirahatkan mata ini barang lima atau sepuluh menit.

Setelah istirahat kami cabut lagi. Tentunya dengan kondisi badan yang sudah lebih baik dari seperempat jam yang lalu.

Dan tepat pada pukul 12.05 WIB kami sampai di rumah.

Masalahnya kawan, maghrib masih lama. Sedangkan badan terasa lemas banget. Sampai di rumah saya langsung tidur. Bangun tidur masih jam dua. Tidur lagi, bangun lagi belum maghrib juga. Baru kali ini saya puasa sambil melihat
jam terus. Jam tiga…Jam empat…Benar-benar berat…

Tapi tenang saja, maghrib di Semarang lebih cepat daripada maghrib di Jakarta. Dan pada waktunya…

Allahuakbar…Allahuakbar…Syawal pun tiba.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17.30 23 September 2009

kencangkan ikat pinggang

JAKARTA – INDRAMAYU 13,5 JAM


JAKARTA – INDRAMAYU 13,5 JAM

Jum’at, 18 September 2009

Dari kilometer 0 tepat pukul 05.56 WIB kami memulai perjalanan mudik ini. Sedari awal kami sudah niatkan bahwa mudik ini buat ibadah. Bukan untuk apa-apa. Jadi perjalanan panjang pun harus diiringi dengan ibadah itu. Maka kami pun bertekad walaupun Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa bagi para musafir, kami tidak akan memanfaatkan fasilitas itu.

Dengan banyak alasan tentunya. Yang paling utama adalah rasa beratnya mengganti puasa di luar bulan ramadhan. Di saat orang lain tidak berpuasa dan miliu kebaikan tidak sekental di bulan Ramadhan. Alasan lain, kami ingin merasakan kenikmatan yang luar biasa di saat berbuka puasa di tengah perjalanan mudik. Bagaimana dengan nikmatnya nanti akan saya ceritakan kemudian.

Dari rumah sampai tol Cikampek perjalanan kami lancar. Walaupun selalu diberitakan dari radio yang saya pantau bahwa di ujungnya akan terdapat kemacetan yang mengular panjang. Tetapi kami bertekad perjalanan itu jangan sampai dibelokkan dari jalur yang tidak pernah saya lalui, misalnya melalui jalur alternatif Sadang.

Dan betul Allah selalu memudahkannya, ketika kendaraan-kendaraan lain diarahkan ke jalur alternatif, eh…pas untuk kendaraan saya tetap diarahkan ke jalur utama. Dua kali saya mengalaminya. Tetapi resikonya benar-benar berat.

Dari satu kilometer menjelang pintu tol Cikampek hingga Pertigaan Jomin dan 30 kilometer setelahnya, saya harus menempuhnya selama kurang lebih 5 jam kawan. Jalan yang tidak lebar dan hanya dua lajur, kepadatan kendaraan, ribuan pemudik motor, serta penumpukan kendaraan di SPBU, ketidaktertiban poara pengendara adalah beberapa penyebabnya.

Ini benar-benar puncak dari arus mudiknya. Kamis kemarin, sebagaimana diinformasikan teman-teman di facebook, perjalanan mudiknya amat mudah, masih lengang. Bayangkan saja, Jakarta Brebes hanya ditempuh selama 6 jam perjalanan.

Tapi kini kawan…sungguh berat perjalanan ini. Mau tidak mau, kami harus melaluinya untuk bisa bersilaturahim dengan sanak keluarga. Dan ini seninya mudik. Lalu saya, istri, dan anak-anak diberikan pemandangan yang amat menggiurkan.

Di tengah kemacetan dan panas terik yang membakar, betapa banyak para musafir itu meminum air dingin yang menyejukkan. Luar biasa…Apatah lagi para pedagang air minum itu sengaja menawar-nawarkankanya kepada kami dengan air kemasan yang sengaja dibuat berembun agar kelihatan segarnya.

Khadimat yang ikut saya sudah saya tawarkan untuk membatalkan puasanya karena terlihat sudah lemas betul ia. Tapi Alhamdulillah ia menampik tawaran itu. Maunya tetap puasa sampai akhir. Syukurlah…

Sedangkan untuk anak-anak saya tidak berikan penawaran itu karena sudah pasti mereka akan menerimanya sebelum saya menyelesaikan kalimatnya. Saya bujuk mereka untuk berpuasa sampai akhir.

Setelah lepas dari kemacetan, perjalanan itu sudah mulai terganggu dengan rasa kantuk yang tiba-tiba menyergap dan rasa capek yang luar biasa. Saya harus istirahat untuk memulihkan tenaga. Dan saya menemukan masjid yang representatif—masih di sekitar Kabupaten Subang sebelum masuk Indramayu—untuk menghilangkan rasa berat di mata.

Setelah menjama’qashar, saya langsung tidur pulas, setengah jam kemudian pada pukul 15.30 WIB saya bangun dan badan sudah mulai terasa segar kembali. Bapak saya sudah beli nasi timbel dan sate kambing ketika mau berangkat kembali, “untuk persiapan buka,” katanya. Buka masih lama pak.

Subang sampai Indramayu tepatnya di daerah Lohbener, lancar-lancar saja. Walaupun juga sempat ada kemacetan karena pasar tumpah. Dan ketika sudah mendekati Jatibarang, terdengarlah adzan yang menggema. Subhanallah, akhirnya kami bisa berbuka juga. Kami minggir sebentar untuk membeli sekadar makanan dan minuman kecil pembuka puasa. Hanya dengan seteguk air sudah menghilangkan beban yang sedari pagi menumpuk.

Ini nih…janji Allah bagi orang yang berpuasa. Dua kenikmatan yang diberikan yaitu berjumpa dengan Allah dan nikmatnya saat berbuka. Yang terakhir ini saya rasakan betul sebagai nikmat yang teramat luar biasa diberikan Allah kepada kami hari itu. Seperti yang juga Allah pernah berikan waktu mudik di tahun 2007.

Akhirnya sampai juga kami di Jatibarang. Dan setelah menurunkan Bapak di suatu tempat kami pun melanjutkan perjalanan kami karena Jatibarang bukan daerah tujuan mudik kami.

Eh…Allah berkehendak lain, ketika mau berangkat saya baru ngeh kalau ban belakang kanan mobil saya sudah kempes. Syukurnya ada ban serep. Masalahnya selama dua tahun umur mobil ini saya belum pernah mencoba-coba buka tempat ban serep. Utak-atik selama 20 menit tidak terbuka-buka juga baut penahan ban serep. Akhirnya saya putuskan tetap berjalan walaupun dengan pelan-pelan. Dengan pertolongan Allah 500 meter di depan ada tukang tambal ban.

Setengah jam kemudian kami sudah meneruskan perjalanan kami dengan tenang. Kami memakai jalur alternatif Jatibarang-Karangampel-Cirebon. Kami tidak memakai jalur yang biasa ditempuh para pemudik lainnya untuk menuju Jawa Tengah yaitu jalur Jatibarang-Tol Palimanan-Kanci.

Alasannya, saya sudah berkali-kali menempuh jalur alternatif itu. Dan saya sudah merasakan betul kenyamanannya selama berkali-kali lebaran. Jalannya lebar, mulus, dan sepi dari pemudik. Saya sampai berpikir, “aneh juga kenapa para pemudik motor ataupun mobil sedikit yang menempuh jalur ini.”

Kalau mobil bolehlah mereka tidak lewat sini, mungkin mereka berpikiran ada jalur tol. Tapi lebaran kayak begini tol juga macet sampai setengah perjalanannya. Kalau pemudik motor kemungkinannya satu menurut saya, mereka tidak tahu. Itu saja.

Alasan lainnya saya menempuh jalur ini adalah saya bisa mampir ke bibi saya di Segeran, sebuah kampung sebelum masuk Karangampel. Dan kami memutuskan untuk menginap di sana. Perjalanan mudik tahap pertama kami berakhir dulu.

Total jenderal waktu yang ditempuh adalah 13,5 jam kawan.

Melelahkan juga nikmat…

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21 September 2009 08:46

MBAH SURIP DAN ANAK SAYA


MBAH SURIP DAN ANAK SAYA

 

Kematian Mbah Surip bagi saya biasa-biasa saja. Tidak semengejutkan dengan kematian Michael Jackson. Dan memang tak bisa untuk dibanding-bandingkan antara mereka berdua. Tapi sebagai seorang muslim saya tetap mendoakan semoga Allah menerima segala amal Mbah Surip, mengampuni segala dosanya, dan menempatkannya di tempat yang terbaik.

Kemarin sore, dari kantor, saya menelepon anak saya yang ada di rumah untuk menanyakan apakah baret pramukanya sudah terbeli atau belum? Yang menerima telepon adalah Ayyasy, anak kedua saya, baru kelas 2 SD, satu sekolah dengan anak sulung saya, Haqi.

“Bi, tadi pulang mobil jemputannya ziarah dulu ke makamnya Mbah Surip,” katanya.

“Memangnya makamnya deket dengan sekolah Ayyasy?”tanya saya.

“Enggak jauh. Tadi habis do’a di kuburannya masak Haqi nyanyi ‘tak gendong’!” kata Ayyasy dengan polos.

Itu adalah sedikit pembicaraan kami.

Pagi ini, seperti biasa saya berangkat ke kantor. Dari rumah di Citayam naik motor ke Stasiun Depok untuk naik Kereta Rel Listrik (KRL) Ekspress jurusan Tanah Abang dan Bekasi. Di KRL sambil menggelar kursi lipat saya membaca Koran Media Indonesia yang harganya cuma seceng (Rp1.000,00), harga khusus kereta. Lumayan buat menghabiskan waktu di perjalanan.

Kereta berhenti di Stasiun Cawang, dan saya bersama dengan banyak kawan pajak anggota KRL Mania pindah peron untuk melanjutkan perjalanan dengan KRL yang menuju Stasiun Kalibata. Sambil menunggu KRL yang segera tiba saya melihat-lihat koran yang dijual pedagang koran yang ada di peron tersebut. Satu persatu saya baca headline masing-masing koran tersebut. Berita Antasari dan Mbah Surip masih mendominasi.

Dan mata saya langsung terpaut pada judul besar yang terpampang di halaman pertama Harian Umum Berita Kota, Kamis 06 Agustus 2009, headlinenya adalah Anak Mbah Surip Ngamuk. Tapi yang membuat saya terkeju dan tidak percaya adalah foto yang terpampang di bawah judul besar itu. Di sana ada foto anak saya yang sedang berdoa di makamnya Mbah Surip.

“Haqi Masuk Koran!!!” seruku pada teman sebelah. Langsung saja saya beli koran tersebut. Di sana tergambar sejumlah pelajar SD Al-Hikmah yang sedang berdoa di makam Mbah Surip. Anak saya kedua dari kiri. Yang ketiganya adalah anak tetangga saya, Abdan—hari Ahad sore kemarin dia gabung pertama kalinya di kelompok pengajian anak-anak di rumah saya.

Langsung saya kirim pesan pendek kepada omnya Haqi yang masih ada dirumah. Balasannya bahkan mengejutkan, Omnya Haqi bilang Haqi tadi masuk di berita pagi SCTV. Saya coba lihat di situsnya SCTV untuk mengunduh video itu, tapi gak bisa. Nanti sajalah.

Bagi saya, terus terang saja, ini sesuatu yang mengejutkan. He…he…he…

Sekarang kematian Mbah Surip jadi tidak biasa bagi saya.

Turut berduka cita buat keluarga Mbah Surip.

Itu saja dari saya.

Ini fotonya:

 

 

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

11.25 06 Agustus 2009

THAGHUT ITU KECIL!!!


THAGHUT ITU KECIL!!!

Sebenarnya kisah ini sudah pernah saya baca, dulu, dulu sekali. Kisah tentang detik-detik menjelang digantungnya Sayyid Quthb. Dan pagi ini saya menemukannya kembali artikel tersebut saat saya sedang berselancar di dunia maya. Kali ini kesan yang saya tangkap begitu berbeda. Ada bening-bening kaca di mata saat membacanya lagi. Apatah lagi saat membaca apa yang diucapkan oleh Sayyid Quthb ketika ia menolak penawaran pengampunan dari rezim Mesir yang berkuasa saat itu.

Berikut saya kutip sebagian kisah itu.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…” (Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”.

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…” Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!” *)

***

Ada yang selalu saya ingat dari sosok ayah saya saat bercerita tentang orang-orang besar. Ia selalu hafal kalimat-kalimat terkenal yang pernah diucapkan dari para tokoh itu, entah nasional atau dunia, dan ia mengucapkannya secara atraktif di hadapan kami para anak-anaknya sewaktu masih kecil. Itu amat mengesankan bagi saya. Yang sering ia ulang-ulang adalah ucapannya presiden pertama RI, IR. Soekarno. Sampai sekarang pun saya masih ingat walaupun tidak hafal perkataan tersebut. Yaitu tentang bagaimana nenek moyang kita yang berusaha mengusir penjajah Belanda dari tanah air Indonesia dengan mengucurkan keringat dan darah mereka.

Kali ini pun kiranya aku bergerak untuk mencontoh ayah saya. Ada kalimat yang amat mengharukan dan menggugah saya sehingga hampir-hampir saja saya menangis di depan komputer. “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”

Sungguh inilah natijah (buah) dari syahadatain, yang menolak setiap thoghut yang ingin menjadi setara dengan Pencipta dirinya. Inilah realisasi dari keimanan yang amat kuat hingga mampu merasakan dan mengatakan bahwa kehidupan dunia tidaklah sebanding dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Bila saya ada dalam posisinya, bisa jadi saya akan mengiyakannya, mengaku bersalah, meminta maaf, serta langsung menandatangani surat itu sebelum sang pembawa surat selesai mengucapkan kalimatnya. Tentunya dengan alasan karena saya belum menikmati seluruh kehidupan dunia ini. Na’udzubillah.

Sungguh mudah mengucapkan dan mengajarkan materi-materi tarbiyah tentang Syahadatain dan Ma’rifatullah, tapi teramat berat dalam merealisasikannya karena di sana ada musuh abadi yang senantiasa mengintai dan menghalangi-halangi, setan dan hawa nafsu.

Bagi saya Syaikh Asysyahid Sayyid Quthb adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mampu merealisasikan nilai-nilai tarbiyah islamiyah dalam sebenar-benarnya kehidupannya. Maka dari akhir orang yang seperti itu mengapa masih banyak orang menghinakannya sedang ia terbukti mampu untuk menjual kehidupan dunianya dengan kehidupan akhiratnya sedang orang-orang yang berbicara sinis tentangnya belumlah teruji dengan pahit manisnya jihad fi sabilillah melawan thagut.

Sungguh ia akan dikenang dengan pemikirannya dan semangat jihadnya yang tak pernah mati. Bahkan orang sekelas Gamal AbdulNasser, Yusuf Kalla dan Hendropriyono pun tak akan mampu mematikannya. Ia mati tapi sesungguhnya ia tetaplah hidup.

Sungguh tidak ada jihad sebelum iman.

Allah Maha Besar! Thaghut itu kecil!

***

*) Kutipan kisah diambil dari sebuah situs internet.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:47 30 Juli 2009

setelah sekian lama tidak menulis