SUKSES DUNIA BUKAN SUKSES SEJATI


SUKSES DUNIA BUKAN SUKSES SEJATI

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at rahimakumullah,

Segala rasa syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt yang sampai detik ini Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan islam yang atas kehendaknya pula kita akan pegang sampai akhir hayat nanti.

Pula kita senantiasa bersyukur atas nikmat sehat yang diberikanNya hingga dengan demikian kita bisa berkumpul di tempat mulia ini untuk bersama-sama melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai seorang muslim yakni shalat jum’at berjama’ah.

Kita bersyukur pula kepada Allah yang sampai saat ini Allah masih menutupi aib-aib kita, sehingga kita masih bisa berjalan di muka bumi dengan muka yang tegak dan langkah yang tegap, orang masih menghormati dan menghargai kita sebagai orang sholeh dan mulia, padahal Allah tahu, kalaulah ia membeberkan aib kita, orang akan meludah di hadapan kita.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, satu-satunya teladan terbaik dalam kehidupan kita, yang senantiasa kita harapkan syafaatnya di yaumil hisab nanti, yakni baginda Nabi Besar Sayyidina Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, para sahabatnya, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan kepada para pengikutnya yang senantiasa istiqomah memegang panji-panji alqur’an dan assunnah. Semoga kita yang berada di masjid Shalahuddin ini adalah termasuk bagian dari umat dan pengikut Rasulullah saw tersebut. Amin ya robbal ‘alamin.

Pada kesempatan yang mulia ini, melalui mimbar khutbah jum’at ini , saya selaku khotib mewasiatkan dan mengajak diri khotib dan para jama’ah sekalian untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, karena sesungguhnya taqwa adalah kunci dari kesuksesan kita hidup di dunia dan akhirat.


Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (An Naba’)

Hadirin Jama’ah shalat jum’at Rahimakumullah.

Ketika kita berbicara tentang sebuah kesuksesan maka kita akan selalu melihat kepada orang lain, orang-orang terdekat kita. Kita merasa orang lain lebih sukses daripada kita. Orang lain sukses dalam pekerjaannya, dalam perniagaannya, dan dalam usahanya. Parameter yang dipakai adalah kekayaannya yang terlihat kasat mata di depan kita. Kerja di tempat yang enak, terkenal di mata orang, dihormati banyak orang, pendidikan yang tinggi, rumah tangganya yang adem ayem, anak-anaknya berpendidikan tinggi dan semuanya sukses. Atau karirnya melesat jauh meninggalkan kita. Hingga kita terbengong-bengong sampai bertanya-tanya kapan kita akan memiliki kesuksesan yang sama atau melampauinya.

Padahal sesungguhnya Allah telah memberikan banyak kesuksesan-kesuksesan itu kepada kita. Yang saking banyaknya kesuksesan-kesuksesan itu hingga kita tak bisa menghitungnya bahkan kita sampai melupakannya. Betullah apa yang Allah firmankan betapa banyak manusia yang tak mampu menjadi orang-orang yang mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Betapa sedikit hamba-hambaNya yang mampu untuk untuk bersyukur.

Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (Saba’: 13)

Tetapi apakah betul bahwa kesuksesan itu adalah kesuksesan sejati? kesuksesan yang berupa banyaknya kenikmatan dunia yang bisa kita raih dan rasakan pada saat ini.


3.185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Hadirin Jama’ah shalat jum’at Rahimakumullah.

Pada ayat ini Allah mengawalinya dengan sebuah penegasan tentang sesuatu yang memutus segala kenikmatan yakni kematian—yang tema ini dibahas dengan sangat apik oleh khotib pada pekan lalu di masjid shalahuddin ini yakni oleh al-Ustadz Halawi Makmun.

Setiap yang bernyawa pasti akan menghadapi kematian, bagaimanapun kesuksesan yang telah dicapai orang tersebut, mati tetap akan datang menjumpai kita sebagai manusia. Dan sungguh kematian adalah pemutus segala kesuksesan yang ada? Lalu apakah kesuksesan yang diraih kita di dunia ini adalah kesuksesan sejati? Kesuksesan yang abadi?

Jawabannya adalah pada kelanjutan ayat tersebut. “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah sukses, sungguh ia mendapatkan kemenangan, sungguh ia mendapatkan kesuksesan. Inilah kesuksesan sejati. Inilah kesuksesan abadi. Jauh dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Kesuksesan sejati bukan karena pangkat, kehormatan, dan kekayaan yang ia miliki. Kesuksesan sejati adalah bagaimana pada akhir cerita kita adalah kita jauh dari neraka dan masuk ke dalam surga.

Hadirin Jama’ah shalat jum’at Rahimakumullah.

Allah mengakhiri ayat ini dengan dengan sebuah taujih yang teramat berharga buat kita. Sebagai bekal hidup kita di dunia ini, yakni kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Allah telah menciptakan manusia untuk condong kepada kenikmatan. Allah mempersilakan kita meraih kesuksesan dunia tetapi tetap diingatkan dengan sebuah pernyataan bahwa kesuksesan dunia yang kita raih adalah kesenangan yang memperdaya.

Ayat ini bagi kita yang saat ini masih terjerembab dalam kesulitan hidup adalah sebuah ayat optimisme, yang membuka peluang untuk kita bisa sukses di akhirat, walaupun selama kita hidup di dunia tidak mengalami kesuksesan.

Ayat ini pula bagi kita yang telah mendapatkan banyak kesuksesan adalah sebuah ayat peringatan agar kita tetap waspada, agar kita tidak jumawa, agar kita dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya bekal.

Hadirin Jama’ah shalat jum’at Rahimakumullah.

Lalu dengan cara apa kita bisa jauh dari neraka dan masuk ke dalam surga. Pertanyaan klasik dan jawabannya adalah klasik sejak 14 abad yang lalu. Sehingga dengan klasiknya jawaban itu kita seringkali lupa dan mengabaikannya dan bahkan menjadi bagian dari pasukan Iblis.


“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa” (QS. 2 Al Baqarah : 197).

Taqwa itu artinya menjauhi segala larangan dan melakukan/mena’ati perintah Allah Swt. “Menjauhi larangan dan mena’ati perintah” lingkupnya yang luas sekali. Sebab itu, amalan-amalan praktis yang karenanya kita disebut bertaqwa—tidak terbatas jumlahnya, meliputi bidang ibadah atau keakhiratan (shalat, puasa, haji, zakat, dll) dan bidang mu’amalah atau pergaulan duniawi (sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, pendidikan, dll).

Dengan ungkapan lain, orang bertaqwa adalah orang yang bisa membina hubungan baik dengan Allah (hablun minallaah) dan baik dengan sesama manusia (hablun minannaas). Baik dalam urusan agama dan baik dalam urusan dunia. Kedua urusan itu dilakukan sesuai norma agama dan logika/pengetahuan secara serius/sungguh-sungguh, pantang menyerah, disiplin, dan tulus. 1)

Hadirin Jama’ah shalat jum’at Rahimakumullah.

Semoga kita adalah orang-orang yang sukses tidak hanya di dunia tetapi di akhirat karena sesungguhnya kesuksesan sejati adalah dijauhkannya kita dari neraka dan dimasukkanya kita ke dalam jannahNya Allah.

Cukup sudah? Ternyata belum wahai saudara-sadaraku yang dimulyakan Allah ta’ala. Ada tugas yang lain buat kita. Allah tidak ingin kita menjadi sukses tapi sukses sendiri.

At-Tahrim (66) : 6


66.6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

Di antara penjelasan tafsir fi Zhilaalil Qur`annya Sayyid Qutb tentang surat at-Tahrim ayat 6 ini adalah bahwa setiap mukmin diwajibkan untuk memberikan petunjuk kepada keluarganya dan memperbaiki seluruh anggota keluarganya, sebagaimana ia diwajibkan terlebih dahulu memperbaiki dirinya.

Islam adalah suatu agama yang mengatur keluarga, maka ia mengatur kehidupan berumah tangga. Rumah tangga yang Islami akan menjadi dasar terbentuknya masyarakat yang Islami. Seorang ibu harus memiliki pribadi dan prilaku Islami sebagaimana pula seorang ayah harus memiliki pribadi dan prilaku Islami sehingga mereka dapat mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. 2)

Kita para bapak-bapak dan calon bapak-bapak, ternyata mempunyai kewajiban pula agar kita bisa membuat sukses istri dan anak-anak kita. Kita ditugaskan untuk membuat istri kita bisa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Begitupula kita ditugaskan untuk membuat anak-anak kita bisa dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Tugas berat memang.

Tapi Allah memberikan jalan keluarnya, yaitu menyuruh kita, istri dan anak-anak kita mempersiapkan bekal taqwa. Sedikit kiat buat menjaga istri dan anak kita dari api neraka adalah dengan:

a. Mengajarkan aqidah yang benar
Keimanan ( aqidah )adalah hal terpenting yang harus senantiasa diperhatikan oleh orangtua. Karena jika aqidah seseorang baik dan kuat maka segi-segi yang lainpun akan menjadi baik.

b. Tauladan dalam ibadah dan akhlaq
Keteladanan merupakan faktor penting dalam sebuah pendidikan. Baik atau buruknya akhlak seorang anak sangat tergantung dari keletadanan yang diberikan oleh orangtua.

c. Menumbuhkan nilai-nilai ketaqwaan
Bertaqwa kepada Allah adalah awal dari segalanya. Semakin tebal ketaqwaan seseorang kepada Allah, semakin tinggi kemampuannya merasakan kehadiran Allah. Allah SWT. menginginkan manusia agar bertaqwa dengan sebenar-benarnya. Berbagai cara yang dapat kita lakukan, sebagai contoh: berjalan di jalan Allah, melakukan perbuatan baik, mengikuti contoh-contoh yang diberikan para rasul, menaati serta memperhatikan ajaran-ajaran Allah, dan sebagainya. 2)

Hadirin Jama’ah shalat jum’at Rahimakumullah.

Semoga khutbah singkat ini menjadikan pelajaran bagi kita untuk senantiasa kita bisa memiliki kesuksesan sejati dan dapat sukses membawa misi selanjutnya yakni menjauhkan istri dan anak-anak kita dari api neraka dan masuk ke surganya Allah ta’ala. Amin.

Allohua’lam bishshowab.

Sumber Kutipan:

1. http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/component/content/article/1-tanya-jawab/912-amalan-amalan-praktis-orang-bertaqwa

2. http://anugerah.hendra.or.id/pasca-nikah/6-rumah-tangga/jagalah-dirimu-dan-keluargamu-dari-api-neraka-%C2%81/

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Disampaikan untuk Khutbah Jum’at 19 Februari 2010 di Masjid Shalahuddin

Kalibata Jakarta Selatan

PERALATAN WAJIB DIBAWA UNTUK MUKHOYYAM


PERALATAN WAJIB DIBAWA UNTUK MUKHOYYAM

Ini adalah oleh-oleh dari mukhoyyam (berkemah) yang saya ikuti sejak tanggal 28 sampai dengan 31 Januari 2010. Tentang apa-apa yang harus dibawa oleh kita sebagai peserta mukhoyyam. Tentunya catatan ringan ini buat kita-kita para amatiran yang memang bukan pecinta alam sejati yang kesehariannya mereka sudah terbiasa bercengkrama dengan alam terbuka.

Yang pasti alat-alat ini adalah alat-alat yang mesti kita bawa, amat diperlukan, membuat kita mandiri, tidak merepotkan orang lain, tetapi juga bukan memindahkan isi rumah ke tempat kita mukhoyyam, dan agar kita bisa siap dalam kondisi apapun.

Kalau kita mengenal mukhoyyam maka kita mengenal adanya longmarch—acara yang wajib ada, oleh karenanya alat-alat yang kita bawa pun harus yang benar-benar diperlukan agar perjalanan bisa aman dan tidak mengganggu.

Berikut alat-alat tersebut dengan penjelasan ringan tentangnya.

  1. Tas ransel, pastikan yang talinya kuat. Tas khusus untuk naik gunung itu lebih baik tentunya.
  2. Tali pramuka, bisa juga untuk membuat bivak (tenda sederhana)
  3. Ponco, untuk melindungi kita dari hujan dan terpenting untuk membuat bivak.
  4. Pisau, yang lipat bisa juga, terpenting adalah mampu untuk menebas dan memotong kayu;
  5. Matras, penting banget buat alas bivak.
  6. Kantung sampah atau plastik yang lebar dan besar, penting buat mengantongi semua barang di dalam tas agar terlindung dari kebasahan.
  7. Sleeping Bag, penting banget agar tidak kedinginan ketika bermalam. Survey membuktikan peserta mukhoyyam yang melakukan longmarch dan sampai di basecamp pada malam hari mengalami kedinginan yang luar biasa terkecuali mereka yang memakai sleeping bag. Alhamdulillah, saya yang tidak persiapan dan tidak membawa ponco—jangan tiru saya—tidak mengalami kedinginan walaupun di tengah hujan dan mampu tidur lelap sampai bangun jam empat pagi dengan kondisi segar karena saya tidur di atas matras, mengganti baju basah dengan yang kering, lalu masuk ke dalam sleeping bag, dan ditutupi dengan kantong plastik besar.
  8. Sepatu khusus gunung, kalau tidak ada sepatu olah raga biasa saja, tapi pastikan telah tersol dengan kuat. Karena faktanya ada juga yang bawa sepatu pantovel—sepatu berhak buat kerja—untuk mukhoyyam. Ada yang sepatunya jebol pada saat longmarch, jadinya pakai sandal jepit. Pastinya payah banget. Makanya sampai rela membeli sepatu bootnya penduduk setempat yang berjualan air mineral di basecamp seharga Rp70.000,00 plus kaos kakinya. Bapak penjual air itu kuat juga yah jalan naik turun gunung tanpa pakai sepatu…
  9. Lampu Senter dan Baterai, ini penting bangeeeeet buat longmarch malam-malam dan jurit malam. Gak usaha ikut mukhoyyam kalau tak bawa alat ini. Ohya jangan lupakan baterai cadangannya.
  10. Pakaian perjalanan, untuk baju usahakan kaos yang berlengan panjang agar bisa melindungi lengan pada saat acara outbound dan longmarch. Sediakan 3 stel lengkap termasuk yang dipakai pada saat memulai mukhoyyam. Pastikan semua baju itu yang kuat dan nyaman dipakai. Jangan yang terlalu ketat.
  11. Botol air minum, kemasan ukuran 0,5 liter sudah cukup. Bagi saya membawa botol dengan ukuran yang lebih dari itu ternyata merepotkan. Refill-nya tersedia banyak di sana. Di Gunung Bunder (Bogor)—tempat utama mukhoyyam bagi para peserta dari Jabodetabek—dan sekitarnya berlimpah dengan air gunung. Dinginnya tak kalah dengan air yang ada di kulkas. Jadi tinggal minum saja air yang di sana.

    Kalau di Gunung Halimun bolehlah bawa yang lebih dari ukuran itu, karena di sana jarang ditemui aliran air gunung. Tapi jangan khawatir banyak juga penduduk sana yang sengaja naik ke Gunung Halimun untuk menjual air gunung mentah itu seharga Rp5000,00 dalam botol ukuran 0,5 liter.

    Ternyata ini yang membedakan. Kenapa pada saat saya ikut mukhoyyam di Kedung Badak tahun 2006 lebih menyengsarakan daripada di Gunung Bunder? Karena saya tidak punya air pada saat saya kehausan dan makanan pada saat saya kelaparan. Yang membuat saya cukup kuat adalah salah satunya dengan banyak minum air dan perut tidak kosong.

  12. Obat-obatan pribadi, biasanya saya membawa minyak tawon atau minyak kayu putih sebagai penghangat tubuh, obat merah, plester pembalut luka.
  13. Kantung plastik, bawa yang banyak sebagai tempat untuk menaruh buku, baju kotor, sandal jepit, atau barang yang tidak tahan air, seperti dompet atau handphone.
  14. Sarung, buat ganti baju di sana dan tentunya sholat.
  15. Jaket yang cukup untuk menghangatkan badan, ini dipakai pada saat bermalam saja. Bahkan pada saat longmarch tidak dipakai karena hanya akan menimbulkan badan cepat berkeringat dan cepat haus.
  16. Peralatan makan seperti sendok, gelas, dan piring. Cukup masing-masing satu saja dan berbahan plastik. Tentunya yang telah memenuhi standar kesehatan. Untuk memilih wadah plastik yang aman lihat artikel yang dulu pernah saya tulis di sini.
  17. Peralatan mandi, sebenarnya cukup dengan membawa sikat dan pasta gigi. Praktis karena di sana tak ada waktu untuk mandi terkecuali kita mencuri-curi waktu dan kesempatan.
  18. Kaos kaki dan cadangannya. Saya bawa dua ternyata yang dipakai tetap satu saja, karena semua acara dikondisikan selalu berakhir dengan kotor-kotor atau basah. Jadi sekalian tanggung pakai yang satu saja.
  19. Topi atau skebo agar kepala kita terlindung dari tetesan air hujan.
  20. Makanan, penting untuk longmarch seperti biskuit, kentang, buah-buahan, telor rebus, coklat dan susu kental manis yang berkalori tinggi atau madu lebih bagus.
  21. Sarung tangan untuk pelindung dan penahan dingin. Berguna pada saat outbound dan longmarch.
  22. Tongkat, ukuran satu meter sudah cukup sebagai teman dalam menaiki dan menuruni gunung dan bukit pada saat longmarch. Bisa dibuat langsung di tempat pada saat akan memulai longmarch.
  23. Peluit, penting banget sebagai alat komunikasi terutama saat tersesat dari rombongan.
  24. Alqur’an, penting sekali sebagai bekal ruhiyah.

Itu yang penting banget diukur dari kebutuhannya. Sebenarnya peralatan di atas memang untuk mukhoyyam yang disetting di mana semua logistiknya disediakan oleh panitia karena peserta diwajibkan membayar biaya mukhoyyam. Dengan demikian tak perlu membawa kompor dan tabung gas ukuran 3,5 kg, serta peralatan memasak.

Yang kebutuhannya tidak mendesak—tak perlu-perlu amat—tapi menambah kenyamanan pada saat muhoyyam adalah sandal. Sandal berguna pada saat waktu rehat untuk sholat, mengambil jatah makanan, mandi, cuci, kakus (MCK). Tinggalkan sandal jika Anda mau longmarch terkecuali Anda ingin berpayah-payah pada saat pendakian.

Lampu badai tidak perlu-perlu amat juga. Tidak ada alat ini mukhoyyam tetap jalan. Dan tentunya akan merepotkan dibawanya pada saat memulai longmarch. Alat tulis juga tak diperlukan sebenarnya, cuma ini diwajibkan oleh panitia sebagai alat pencegah rasa kantuk ketika acara taujih dimulai.

Itu saja yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa bermanfaat buat Anda yang mau mukhoyyam.

Semoga Allah menjadikan kita kader-kader militan untuk Allah, Rasulullah SAW, dan Islam.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.40 02 Februari 2010

SPICE IKLAN


SPICE IKLAN

 

Suatu saat ketika dalam perjalanan dari Semarang menuju Magelang saya banyak menjumpai papan reklame berukuran besar di sepanjang jalan. Sebagian terisi dengan iklan tentunya dan sebagian masih kosong. Yang kosong biasanya ada tulisan dengan huruf-huruf besar seperti “DISEWAKAN” atau “FOR RENT”
yang diikuti dengan nomor yang harus dihubungi.

    Saking semangatnya sampai ada yang menulisnya demikian “SPICE IKLAN DISEWAKAN”. Betul Pembaca, Anda tidak salah membacanya. Mereka menulisnya dengan huruf i bukan a. Tentu bagi yang memahami bahasa Inggris SPICE berarti rempah. Seharusnya yang betul adalah SPACE pastinya, yang berarti ruang. Space, spice kalau diucapkan hampir-hampir mirip memang. Maunya keren tapi salah, jadinya malu-maluin.

    Tapi apakah penggunaan kata space iklan juga sudah betul ? Memangnya bahasa Indonesia belum mengakomodasi istilah asing itu. Tentunya tidak. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui laman Glosariumnya menginformasikan kepada kita untuk memakai istilah ruang untuk menggantikan istilah asing space.

    Jadi yang tepat seharusnya bukan space iklan apalagi spice iklan melainkan ruang iklan. Atau kalau merasa masih belum keren pakai saja istilah media luar ruang. Belum keren juga? Ingatlah Sumpah Pemuda 1928. J

Papan reklame kosong iklan itu sayangnya tidak saya abadikan dengan kamera sebagai bukti yang bisa saya sodorkan kepada Anda semua. Namun yang dibawah ini ada foto yang bisa menggambarkan—sekali lagi—keinginan keren tapi salah, jadinya malu-maluin.

Saya yakin Pembaca sudah mengenal yang namanya sandwich (roti lapis)
yang menurut
Wikipedia Bahasa Indonesia sandwich adalah makanan berupa dua potong roti yang menjepit daging, sayuran, keju atau berbagai teman makan roti dan biasanya diberi bumbu atau saus sehingga rasanya menjadi lebih enak. Berbagai jenis roti bisa digunakan untuk sandwich dan bergantung pada isi, permukaan roti biasanya dioles sedikit mayones, mentega, margarin, atau minyak zaitun yang berfungsi sebagai perekat dan penambah aroma.

Nah, kalau yang ini sandwich bukan yah? Memang betul sih sandwich tapi tulisannya itu loh…


SUNWIHS…

Saya menemukannya di sebuah pusat perbelanjaan ternama di bilangan Cibinong, Kabupaten Bogor. Mungkin kalau ditulis roti lapis oleh penjualnya, dagangannya tidak akan laku walaupun dijual dengan harga yang teramat spesial. Pun, mungkin pembelinya juga mau beli karena merasa kalau menyantap makanan yang tulisannya pakai bahasa Inggris terasa tidak biasa, diluar kebiasaan, serasa makan makanannya orang bule, terasa keren. Roti lapis sih sudah biasa.

Inikah yang namanya rasa rendah diri yang teramat sangat dari bangsa ini? Atau mengutip Farranasir—seorang dokter pecinta kata-kata—inikah yang namanya bahasa Indonesia diselingkuhi bahasa Inggris?

Allohua’lam bishshowab.

 

Maraji’:

Wikipedia Bahasa Indonesia (Online) (http://id.wikipedia.org/wiki/Roti_lapis , diakses 28 Januari 2009)

Farranasir. 05 Oktober 2009. Internasionalisasi dan Budaya Rendah Diri.
(Online) (http://politikana.com/baca/2009/10/05/internasionalisasi-dan-budaya-rendah-diri.html
, diakses 28 Januari 2009)

    

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

28 Januari 2009 09.28

 

NOTULENSI, NOTULEN, ATAU NOTULA?


NOTULENSI, NOTULEN, ATAU NOTULA?

(Dimuat dan Diambil dari Situs BahasaKita.com)

Jum’at sore, saya membaca sebuah hasil rapat yang terdiri dari beberapa halaman. Judul lembaran itu adalah NOTULENSI RAPAT. Karena saya merasa sudah pernah berburu kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia di laman Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia saya mencoba mengoreksi judul tersebut. Tapi yang membuat lembaran hasil rapat tersebut bersikeras bahwa yang betul adalah notulensi.

Oke, saya akan berbagi kepada Anda semua. Tapi sebelumnya saya memberitahukan kepada Anda jika Anda mengetik kata notulensi di laman pencarian seperti Google maka Anda akan mendapatkan pemakaian kata notulensi banyak dipakai oleh instansi-instansi beken di republik ini.

Dan kepada siapa kita akan merujuk tentang bentuk kata yang benar dari sebuah kata? Maka jawabannya adalah tentu kepada sebuah instansi pemerintahan yang berwenang dan kapabel dalam menangani ini. Pusat Bahasa tentunya.

Di laman Kamus Besar Bahasa Indonesia yang telah disediakan oleh Pusat Bahasa itu maka dapat dicari banyak kata dasar. Kalau kita memilih bentuk pencarian “memuat” dan mengetikkan kata notul pada kotak yang disediakan tersebut maka daftar kata yang ditampilkan ada tiga:

  • Notula;
  • Notulen;
  • Notulis.

Coba lihat tak ada kata notulensi di sana. Saya tidak tahu darimana kata ini berasal. Apakah KBBI yang lupa memasukkan kata ini atau adakah sumber lain yang meyakinkan saya bahwa kata ini memang layak untuk dipakai.

Mungkin maksudnya karena ini berkaitan dengan dokumen dan kata dokumen berdekatan dengan kata dokumentasi, maka kata notulen didekatkan pula dengan imbuhan “si” di belakang sehingga menjadi notulensi. Pengaitan yang salah.

Mari kita cari tahu definisi ketiga kata itu.

no·tu·la
n catatan singkat mengenai jalannya persidangan (rapat) serta hal yg dibicarakan dan diputuskan: — rapat merupakan dokumentasi penting

no·tu·len ? notula

no·tu·lis
n orang yang bertugas membuat notula (catatan rapat)

Terkadang orang juga banyak yang bingung dalam pemakaian kata siapa yang bertugas membuat catatan rapat. Notulis atau notulen? Tentu setelah Anda membaca pengertian di atas semoga tidak keliru untuk memakainya.

Contoh yang salah dari pemakaian kata notulen:

Saya butuh seorang notulen yang mengerti tentang isu pencemaran udara.”

“Saya diminta sama seorang teman buat jadi notulen di acaranya yang cukup berbau internasional.”

Yang benar adalah:

“Saya butuh seorang notulis yang mengerti tentang isu pencemaran udara.”

“Saya diminta sama seorang teman buat jadi notulis di acaranya yang cukup berbau internasional.”

Jadi singkatnya, catatan rapat itu disebut notula sedangkan yang membuat notula adalah notulis.

Pakailah kata notula atau notulen jangan notulensi. Dan pakailah notulis jangan notulen untuk menunjukkan siapa yang membuat catatan rapat.

Semoga informasi ini berguna buat Anda semua.

***

Baca: Dari Tanzania ke Tapaktuan, Titik Tak Bisa Kembali, Kisah Lelaki Menaklukkan Ego dengan Berlari

Baca: Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini

Catatan: yang tidak setuju tentang catatan kecil saya ini coba tunjukkan kepada saya sebuah landasan yang betul dari pemakaian kata notulensi.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ditulis untuk laman Bahasa Kita yang diasuh oleh Wieke Gur

09.09 16 Januari 2009

TENGGELAM ATAU MENYELAM


TENGGELAM ATAU MENYELAM

Ada lagi nasehat dari ustadz lain.

“Apa nasehatnya, Dek Riza?”

“Nih ceritanya Pak…”

Apa yang harus dipersiapkan oleh Anda untuk bisa tenggelam? Tidak perlu persiapan adalah jawabannya. Bisa jadi karena kecelakaan atau karena Anda menyengaja dengan menceburkan diri ke dalam kolam berkedalaman lebih dari tiga meter misalnya kemudian tinggal menunggu sentuhan dari malaikat maut. Itu pun jika tidak ada orang lain yang menolong Anda.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang harus dipersiapkan oleh Anda untuk bisa menyelam? Banyak tentunya. Misalnya adalah mencari tempat untuk menyelam, teknik menyelam yang harus Anda kuasai, memakai peralatan khusus menyelam seperti tabung oksigen, regulator, sarung tangan, pakaian selam, masker, snorkel, fin (sepatu katak), speargun jika Anda ingin berburu, dan lain-lainnya. Setelah itu Anda akan bisa menikmati keindahan alam bawah laut dengan segala sensasinya.

Tenggelam dan menyelam. Dua-duanya berada dalam media yang sama yaitu air. Tapi yang pertama tak perlu persiapan dan yang kedua sebaliknya butuh persiapan yang matang betul. Begitu pula dengan keberadaan kita di dunia ini untuk bisa eksis di kehidupan selanjutnya yaitu akhirat.

Bagi yang menginginkan sebuah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan yaitu surga dan bertemu dengan Allah, maka perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tentunya dengan menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Bagi yang tidak mau—maunya cuma tenggelam—ya sudah nikmati kehidupan dunia ini tanpa ada batas tentang halal dan haram. Resikonya adalah bagaimana mau menikmati keindahan alam sedangkan memikirkan bagaimana ia agar tetap selamat saja susah. Hanya itu saja.

Saya mengangguk-angguk lagi.

Terimakasih atas nasehatnya, Tadz. Semoga terkantuk-kantuknya saya dan ngilernya saya mendengar nasehat ustadz di majelis ‘ilmu menjadi bekal kebaikan saya di sana. Amin.

***

Riza Almanfaluthi

banyak nasehat yang saya dapatkan ketika bergaul dengan orang-orang masjid

dedaunan di ranting cemara

17:40 10 Januari 2010

PENJARA BUAT TIGA MENTERI


PENJARA BUAT TIGA MENTERI

Seorang ustadz pernah bercerita. Begini ceritanya:

Ada seorang raja memerintahkan kepada tiga menteri utamanya untuk mencari buah-buahan. Dengan syarat mereka harus mencari sendiri tanpa menyuruh lagi bawahan mereka. Maka mendengar titah raja, tiga menteri utama itu segera pergi mencari buah-buahan tersebut.

Menteri pertama dengan senang dan gembira mencari buah-buahan yang terbaik, segar-segar, merah-merah, dan manis-manis untuk dipersembahkan kepada rajanya yang ia cintai betul. Sedangkan menteri kedua dengan setengah bersungut mencari buah-buahan itu. Ia pikir tugas mencari buah itu bukanlah tugas buat dirinya yang memiliki jabatan terhormat di seantero negeri itu. Maka menteri itu mendapatkan buah dengan asal-asalan. Yang kuning ataupun merah, yang segar ataupun sudah setengah busuk, yang matang ataupun belum, yang manis ataupun asam bahkan pahit ia kumpulkan jadi satu.

Sedangkan menteri ketiga sebelum mencari saja sudah marah-marah. Ia pikir pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang masuk akal. Bukan level dirinya. Seorang menteri harus berjalan panas-panas dan keluar masuk pasar sendiri hanya untuk mencari buah-buahan. Mengganggu kenikmatannya saja yang selama ini ia dapatkan dari jabatannya itu. Maka dengan penuh kejengkelan bukannya buah-buahan yang akan ia serahkan kepada rajanya itu tapi rumput-rumputan yang ia masukkan ke dalam keranjang.

Singkat cerita ketiganya menghadap raja. Sang raja memperhatikan persembahan ketiga menteri utamanya itu. Tanpa basa-basi sang raja memerintahkan kepada pengawalnya untuk memenjarakan ketiga menteri utama itu dalam penjara yang terpisah selama satu bulan tanpa diberi makanan kecuali dengan apa yang ada dalam keranjang mereka masing-masing.

Walhasil, selama satu bulan menteri pertama itu makan dengan menikmati buah-buahan manis dan matang yang ia peroleh. Sedangkan menteri kedua setengah sengsara memakan buah-buahan yang terkadang manis dan terkadang pahit. Lebih sengsara lagi menteri ketiga selama satu bulan makannya rumput doang. Mbeeekk….

Cerita ini mengajarkan kepada kita untuk menaati perintah—yang enak ataupun buruk—dari Allah sebagai Raja Alam Semesta dengan mencari bekal yang sebaik-baiknya sebagai persiapan untuk akhirat kita. Amal kebaikan yang kita lakukan dan kumpulkan di dunia adalah ibarat buah-buahan yang akan kita nikmati di akhirat. Tentu kita tidak ingin mencontoh perbuatan menteri kedua yang setengah-setengah dalam beramal atau seperti menteri ketiga itu yang telah banyak diberikan kenikmatan di dunia namun menjadi kufur nikmat.

Saya mengangguk-angguk.

Jazaakallah atas nasehat besarnya, Tadz…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17:45 10 Januari 2010

SEBELUM PERTEMPURAN SELESAI


SEBELUM PERTEMPURAN SELESAI

Ahad pagi yang lalu teman saya yang sedang mencalonkan diri jadi Ketua RW di komplek kami menelepon saya untuk menyiapkan dokumen yang hendak disampaikan dalam pidato kekalahannya. Padahal penghitungan suaranya saja belum dilakukan. Rencananya jam sepuluh siang nanti akan dibuka kartu suara yang terkumpul.

Saya mencoba memaklumi suasana kebatinan yang ada pada dirinya. Sebenarnya dia tidak berniat untuk menjadi Ketua RW. Karena saya dorong untuk maju membawa misi menyelamatkan kepentingan masjid,  barulah ia mau.  Formulir pendaftarannya itu pun baru ia serahkan beberapa jam sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Dia hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan diri melawan satu calon lain yang sudah dikenal oleh warga.

Yang menjadi beban berat baginya adalah fitnah ataupun kampanye hitam yang bersileweran tentang dirinya.   Seperti isu tentang dirinya yang menjadi anggota ataupun pengurus sebuah partai politik. Padahal ia adalah seorang Pegawai Negeri Sipil Departemen Keuangan yang dalam kode etiknya disebutkan tentang pelarangan untuk menjadi anggota ataupun simpatisan aktif partai politik.

Kemudian saya mencoba mengirim pesan singkat untuknya. “Sebelum pertempuran benar-benar selesai pantang untuk berbicara kekalahan. Insya Allah Anda yang menang.”

Jam setengah dua belas siang sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak surat telepon genggam saya. “Alhamdulillah, dengan kekuasaan Allah ikhwan kita terpilih menjadi ketua RW. Wassalamu’alaikum.” Selisih suaranya  lima puluh suara. Cukup signifikan  dan cukup untuk sebuah legitimasi kepemimpinan selama tiga tahun ke depan.

Saya mengirim nasihat untuk teman saya itu. “Pak Haji Sholeh, amanah berat sudah menghadang Anda. Saya berpesan kepada Anda jadilah pemimpin yang adil dan amanah. Pemimpin yang menjauhi forum ghibah dan fitnah. Senantiasa menyayangi rakyat,  mustadh’afin, dan anak yatim. Selalu memudahkan urusan orang lain hingga Allah pun akan memudahkan urusan Anda. Ketika pemimpinnya bertaqwa maka RW.17 pun akan diberikan keberkahan Allah. Semoga anda masuk surga. Amin. Wassalam. Riza.

**

Ya, saya ulang. Sebelum pertempuran benar-benar selesai pantang bicara tentang kekalahan. Karena ketika kita berbicara kekalahan maka pikiran akan mengondisikan seluruh tubuh untuk menerima aura kekalahan, kekalahan, dan kekalahan. Maka kita pun akan kalah. Dan Allah pun hanya berdasarkan prasangka hamba-Nya.

Apa yang saya dapatkan dari komik  Naruto mulai Chapter 1 hingga 477 hanya sebuah pesan besar tentang SEMANGAT PANTANG MENYERAH. Semangat untuk tidak berputus asa ketika nyawa masih ada di badan. Semangat untuk tidak menyerah pada keadaan, semangat untuk senantiasa berbuat baik, semangat untuk merubah keadaan, semangat untuk senantiasa menjadi pemenang.

Yaa Ayyuhal ikhwah, semangat itulah yang seharusnya menjadi milik kita! Bukan mereka! Karena kita punya Allah. Dan tidaklah sebuah kemenangan melainkan di sisi Allah. Pun janji-janji-Nya tak pernah diingkari: sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.

Kepada Anda yang hari ini sedang berputus asa. Kepada Anda yang hari ini menyerah pada suatu kondisi. Kepada Anda yang hari ini cuma menjadi pecundang saya berkata:

“Karena Anda masih punya nyawa pada saat ini, karena Anda bukanlah bangkai, karena pertempuran belum selesai! maka BANGKITLAH! HIDUPLAH! SEMANGATLAH! Raih harapan Anda. Allah menyertai kita semua. Yakinilah.”

***

Allahua’lam bishshowab

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:24 08 Januari 2010

HITAM DAN SERIBU PERAK


HITAM DAN SERIBU PERAK

Kalau kita sudah terlena oleh kenikmatan dunia maka nasehat bisa menjadi obat untuk menyadarkan kita kembali tentang kesejatian hidup di dunia. Nah, nasehat itu bisa datangnya dari siapa saja. Bisa manis ataupun pahit nasihat itu dirasa. Saya akan menceritakannya sedikit.

Di suatu siang yang amat terik, habis sholat dzuhur saya menyalami tetangga saya. Profesinya adalah tukang bangunan. Saat itu dia sedang mengerjakan pemlesteran dinding pagar masjid.

“Kang Asep, kerja siang hari begini kulitnya jadi hitam banget yah,” kata saya sambil melihat tangannya yang terbakar matahari tidak seperti biasanya

“Ia Pak, tapi enggak apa-apa sih. Lebih baik hitam di dunia
daripada hitam di akhirat.”

“Wah bagus…bagus,” puji saya tulus. Singkat tapi mantap. Benar loh, ini pernyataan yang luar biasa bagi saya di siang itu. Membuat saya berpikir tentang bekal apa yang harus saya persiapkan buat di sana. Memikirkan banyaknya dosa dan aib yang menumpuk dan menggelapkan hati saya. Pada akhirnya pernyataan Kang Asep membuat saya bisa introspeksi diri.

Itu indahnya sebuah nasihat.

Nah, selesai sudah cerita tentang nasihat ini. Tapi ada yang berkesan lagi di hari itu, di hari yang sama pada saat nasihat itu diberikan.

Baru saja tiba dari menjemput istri, saya tidak bersegera memasukkan motor ke dalam rumah. Tapi saya berteduh di bawah pohon rindang di seberang rumah. Kemudian saya melihat seorang pengamen muda dengan sebuah gitar yang talinya diselempangkan di bahunya sedang mengamen di rumah tetangga saya. Sebentar lagi giliran rumah saya didatanginya. Suaranya biasa saja. Lagu dan nada gitarnya tak selaras membentuk sebuah harmoni.

Tapi apapun yang terjadi saya memang sudah berniat untuk infak. Cuma seribu rupiah saja. Kata seorang ustadz dalam sebuah pengajian, “jangan membiarkan pengamen atau pengemis lewat dari rumah kita dengan tangan kosong, karena bisa jadi itu menjadi ladang amal dan awal dari banyaknya kebaikan yang akan datang kepada kita di hari itu.” Saya ingat betul nasihatnya.

Nah, pada saat ia menyumbangkan sebuah lagunya di depan rumah saya. Saya langsung memanggilnya dari seberang.

“A, di sini A!”

Ia kaget dari mana suara yang memanggilnya itu berasal. Tapi setelah ia tahu ia langsung menghampiri saya. Kemudian saya menyerahkan uang seribu rupiah itu.

“Terima kasih Pak Haji,” kata pengamen itu sambil tersenyum dan berlalu.

Saya surprise, ia memanggil saya dengan sebutan Pak Haji, mungkin karena saat itu saya sedang memakai kopiah, walaupun bukan warna putih. Bagi saya sebutan itu adalah sebuah do’a. Dan dalam hati, saya mengaminkan do’anya. Saya memang belum pergi ke Makkah, tapi saya senantiasa merindukan untuk datang tempat itu. Bisa jadi dari do’anya itu saya mampu untuk pergi ke sana. Allah yang berkehendak, seribu rupiah jadi wasilah untuk pergi naik haji. Amin. Siapa tahu bukan?

***

Siang Terik di Tengah Desember

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:11 19 Desember 2009

 

 

VISIT TASIKMALAYA


VISIT TASIKMALAYA

Dari perjalanan dinas saya sejak bulan Oktober 2009 bisa jadi perjalanan ke Tasikmalaya adalah perjalanan yang paling mengesankan. Hingga membuat saya berusaha untuk menuliskannya di sini.

Ke Tasikmalaya ada kewajiban yang harus saya tunaikan di sana. Saya harus meminta penjelasan dari Wajib Pajak tentang kelalaiannya tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan selama dua tahun berturut-turut.

Oleh karenanya perjalanan itu saya rancang sedetil mungkin. Mulai dari mencari hotel yang representatif, alamat Wajib Pajak dan kantor pajak setempat, serta transportasi yang harus saya tempuh, dan tentunya tak lupa tempat kuliner yang mengasyikkan.

Syukurnya saya dibantu sama teman maya saya di sana. Yang nama aslinya dan raut mukanya pun baru saya tahu ketika saya mengunjungi kantor pajak tempat ia bekerja. Bahkan ia menawarkan suaminya untuk mengantarkan saya ke hotel, ke lokasi Wajib Pajak, dan ke Pool Bus Budiman saat saya akan pulang ke Jakarta.

Kamis (3/12) pagi itu saya mengawali perjalanan dengan menaiki Kereta Lis Listrik (KRL) Bojonggede Express. KRL yang sepengetahuan saya biasa berhenti di Stasiun Manggarai ternyata berhenti di stasiun yang lebih jauh lagi yaitu Cikini.

Sampai di sana saya langsung pergi ke loket untuk membeli tiket KRL yang menuju arah sebaliknya yaitu Stasiun Kalibata. Di loket sudah banyak antrian. Antrian siapa? Ya antrian orang yang baru turun dari kereta yang sama dengan saya untuk membeli tiket pulang sore harinya. Masalahnya adalah pas antri itu ada pesan dari pengeras suara bahwa KRL yang menuju Depok akan segera sampai Stasiun Cikini dari Stasiun Gondangdia.

Segera setelah mendapatkan tiket itu saya dengan tas ransel di punggung dan laptop di tangan berlari ke atas untuk mengejar KRL. Pas banget. Saya melihat kereta sudah berjalan pelan dan saya masih sempat meloncat masuk ke dalam KRL. Alhamdulillah. Phuih…setelahnya segera saya update status facebook dulu. J

Sampai di Stasiun di Kalibata saya tidak segera ke Kantor. Saya isi perut dulu yang sedari tadi belum terisi dan sudah mulai terasa perih. Setelahnya saya baru ke kantor untuk menemui dua teman saya yang akan berangkat sama-sama ke Bandung. Niatnya saya menumpang mobil teman saya itu lalu kami akan berselisih jalan di Bandung. Karena tujuan kami memang berbeda.

Kami berangkat pukul 08.20 pagi. Saya amat menikmati perjalanan itu. Karena saya akan ke Bandung walaupun sekadar lewat dan Tasikmalaya tentunya. Dua daerah yang amat berkesan bagi saya. Tasikmalaya apalagi. Daerah yang berpemandangan dan berpegunungan menarik. Membuat saya ingin selalu berpuisi.

Mobil kami keluar pintu tol Buah Batu. Di pertigaannya kami berpisah. Dua teman kami itu sudah dijemput oleh Wajib Pajak menuju lokasinya. Sedang saya? Jalan kaki menuju Pool Taksi Blue Bird yang akan mengantarkan saya menuju Pos Kontrol Bus Budiman di Cileunyi. Ongkosnya Rp75.000,00. Mau ngirit ongkos tidak naik Travel Cipaganti malah ngorot. He..he…he… Sama saja ini sih…

Kurang lebih jam dua belas siang saya sudah berada di atas Bus Budiman Bandung Tasikmalaya. Mulailah saya menikmati pemandangan sepanjang jalan itu. Tentunya dengan kenangan masa kecil saat liburan sekolah yang selalu diajak untuk menyusuri pematang sawah di Salawu, Tasikmalaya.

Tiga jam diguncang di atas Bus akhirnya saya sampai di pinggiran kota Tasikmalaya. Dari sana saya naik angkot 05 dan 01 menuju Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tasikmalaya yang berada di Jalan Sutisna Senjaya. Cukup dengan setengah jam perjalanan kurang lebih.

Untuk apa sih saya ke KPP itu? Ah, seperti biasa tradisi perjalanan dinas di kantor kami , saya harus meminta tanda tangan pejabat di KPP setempat sebagai penanda saya telah datang di lokasi. Dan birokrasinya tak berbelit-belit cukup diwakili oleh Kepala Subbagian Umum Pak Herman yang kebetulan pula adalah orang Depok surat jalan saya sudah ditandatangani.

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Pak Herman akhirnya saya tinggal menuju hotel yang direkomendasikan Ummu Fayi, yaitu Hotel Asri yang berada di Asia Plaza di Jalan K.H. Zaenal Mustofa. Sebelumnya juga saya sudah melakukan
pencarian di Google dan saya mendapatkan testimoni dan foto yang bagus tentang hotel itu. Apatah lagi saya mendapatkan diskon khusus 30% karena dari instansi pemerintah dengan memakai Government Rate.

Niatnya langsung menuju hotel tetapi terbersit di hati saya untuk bertemu dengan Ummu Fayi. Tentunya tak ada salahnya untuk bersilaturahim atawa kopi darat. Dan betul kalau silaturahim itu menambah rezeki. Buktinya setelah bertemu pertama kali dengannnya saya sudah ditawari untuk diantar oleh suaminya. Terimakasih Umm…

Dan tak lama bertemu pertama kali dengan suaminya kami sudah langsung akrab. Langsung nyambung kata Kang Hendra Sentosa—nama suami Ummu Fayi—itu. Ikatan batin yang dijalin oleh hubungan akidah dan tarbiyah membuat kami mampu meruntuhkan sekat-sekat kaku.

Saya diantar oleh Kang Hendra menuju hotel untuk check in. Hotel itu berada di atas Mal Asia Plaza. Fasilitas internetnya bagus, ada hotspotnya. Walaupun cuma di lobby yang tidak seperti Hotel Bentani Cirebon yang bisa sampai ke kamar masing-masing.

Setelah check in, saya menuju kamar untuk menaruh barang-barang. Dan Kang Hendra, sudah saya ajak untuk sarapan pagi bersama di hotel keesokan harinya sebelum berangkat ke lokasi Wajib Pajak.

Karena siang belum makan saya menuju ke area food court.
Ndak ada yang istimewa di sana. Di Jakarta juga banyak. Saya pesan siomay biasa saja. Setelah itu saya langsung ke kamar karena saya merasa seperti buaya air asin yang berada di kolam air tawar. Bukan habitatnya!

Istirahat? Tidak! Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang benar-benar tidak ada kaitannya dengan kunjungan saya ini. Pekerjaan penyelesaian putusan pelaksanaan banding sebanyak tiga berkas. Senin harus selesai. Sebelum maghrib saya sudah menyelesaikan satu berkas risalah.

Habis Isya saya keluar untuk makan malam. Seperti yang saya baca di sebuah blog yang tidak di-update lagi tentang perjalanannya di Tasikmalaya saya mencoba untuk makan nasi ayam goreng Hen-Hen, sekitar 300 meter dari Mal Asia Plaza. Dan sungguh lidah saya masih kurang berkenan, terlalu manis, kayaknya diolah pakai bumbu bacem. Pantas saja blogger itu cuma memberi nilai dua dari skala lima. Tak bisa dibandingkan dengan Sari Raos Bandung yang ada di dekat Masjid Kauman dan Alun-alun Pekalongan.

Setelahnya saya segera pulang ke kamar. Istirahat? Tidak lagi. Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan itu. Dapat satu berkas. Barulah saya bisa tenang. Satu berkas lagi kapan? Saya bertekad habis sholat shubuh berkas risalah itu sudah bisa saya selesaikan.

Saatnya untuk tidur. Kapan tidur? Lagi-lagi penyakit saya kambuh: tak bisa tidur di tengah suasana baru. Dan saya hanya bisa terlelap pada jam dua pagi. Aduh…

Shubuh bangun. Saya melanjutkan lagi pekerjaan tersisa. Konsenstrasi sebentar. And show must go on… Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Pekerjaan sudah selesai semua. Saya siap-siap untuk sarapan dan pergi ke tempat Wajib Pajak. Jam delapan pagi kurang Kang Hendra sudah menjemput saya. Setelah sarapan bersama kami cabut menuju Linggajaya, Mangkubumi. Lokasinya dekat dengan SMPN 6 Tasikmalaya.

Saya bilang ke Kang Hendra untuk tidak menunggu saya karena sudah pasti pertemuan ini akan berjalan lama. Saya hanya meminta padanya untuk menunjukkan rute angkot yang menuju hotel agar waktu pulang nanti tidak tersasar.

Uhh…ternyata perusahaan garmen PMA itu tak sebesar yang saya bayangkan. Kecil dan terpencil. Tapi yang sungguh luar biasa para pekerjanya sebagian besar memakai pakaian, kerudung atau jilbab seragam serta kain warna hijau yang talinya diikatkan di leher dan pinggang mereka.

Kurang lebih dua jam kemudian saya sudah menyelesaikan acara pembinaan, konsultasi, dan foto-foto lokasinya. Terpenting lagi Wajib Pajak sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kewajiban perpajakannya seperti penyampaian SPT Tahunan PPh Badan.

Kang Teddy—wakil perusahaan—kemudian mengantarkan saya ke hotel karena dia butuh software e-spt masa dan tahunan yang ada di harddisk eksternal saya yang ketinggalan di hotel. Kalau dia yang butuh bolehlah saya menumpang mobilnya. Kalau dia tidak butuh biarlah saya pulang sendiri, tak perlu diantar dan cukup numpang angkot sahaja. Ohya Kang Teddy ini tinggalnya di Ciamis dan sempat menjadi calon Bupati Ciamis dari jalur independen walaupun tidak terpilih.

Setelah selesai urusan dengan Kang Teddy saya pergi ke Masjid untuk Sholat Jum’at yang berada dekat dengan tempat parkir Mal Asia Plaza. Masjidnya kecil hingga tidak bisa menampung para jama’ah. Inti khutbah jum’atnya adalah ajakan untuk berkomitmen pada Alqur’an dan Sunnah yang kalau memegangnya pada saat ini seperti memegang bara api dan karena sesungguhnya umat Nabi Muhammad pada akhir zaman akan dianggap sebagai orang asing. It’s oke uraian ustadz salafy itu.

Sampai di kamar hotel telepon dari front office sudah berdering. Menanyakan kapan saya akan check out. Saya bilang sampai sekitar pukul 3 atau 4 sore. “Akan ada charge tambahan,” kata perempuan di seberang sana. Tidak apa-apa saya bilang. Soalnya saya mau istirahat dan tidur untuk menggantikan waktu yang terlewat tadi malam.

Eh…ketika baru saja terlelap tidur, pintu sudah digedor. Saya lupa memasang tanda “do not disturb” di pintu. Benar juga patugas kebersihan hotel mengatakan kamar akan dibersihkan. Saya bilang saya sudah memperpanjang waktu check out saya. “Enggak ada koordinasi juga nih pegawai,” kata saya dalam hati.

Setelah itu otomatis saya tidak bisa memejamkan mata barang sedetikpun. Akhirnya saya packing untuk persapan pulang. Saya pikir saya nanti bisa tidur di Bus. Ternyata pada saat check out saya
tidak dikenakan biaya tambahan lagi. Jam tiga sore Kang Hendra sudah datang menjemput untuk mengantarkan saya ke Pool Bus Budiman.

Di Pool Bus Budiman pemberangkatan terdekat adalah pukul 16.00 WIB. Sebentar lagi, karena sekarang sudah jam setengah empat. Dan betul tepat pukul empat sore sesuai jadwal bus itu berangkat menuju Kampung Rambutan, Jakarta. Tepat sih tepat. Tapi masalahnya bus itu ngetem dulu di terminal Tasikmalaya dan baru berangkat lagi jam lima sore. Lama yah…

Ada kejadian yang membuat saya was-was yaitu pada saat pengisian solar di SPBU 34-46114 yang letaknya di antara jalur pool dan terminal Tasikmalaya. Pada saat yang sama ada juga Bus Budiman jurusan Bandung Yogyakarta yang mengisi solar bersebelahan dengan bus kami.

Dengan santainya sang kenek bus itu menyalakan korek api dan merokok di depan pintu yang jaraknya dengan selang pengisian solar itu kurang lebih dua sampai tiga meter. Petugas SPBU mendiamkan saja. Bukankah ini amat berbahaya? Di SPBU itu sudah terpampang dengan tulisan besar-besar: DILARANG MEROKOK. Saya kirim sms ke nomor pengaduan yang tertera di mesin SPBU agar bisa ditindaklanjuti. Saya tidak tahu apakah ada proses follow-upnya atau tidak.

Perjalanan ke Jakarta saya nikmati betul sampai bus sudah memasuki wiayah Malongbong, Garut. Pegunungan yang berkabut tebal di atasnya, jalanan yang berkelak-kelok, sawah-sawah yag terhampar, mega yang bermendung hitam semuanya saya rekam di otak saya sebagai sejumput memori yang tak mungkin akan terlupakan, Insya Allah.

Sisa-sisa kilometer tersisa menuju Bandung saya nikmati dengan tidur lelap. Terbangun saat bus sudah berada di tol Padalarang. Lalu berlanjut tidur lagi hingga bus benar-benar memasuki terminal Kampung Rambutan tepat pukul 22.00 WIB. Benar kata Kang Hendra perjalanan Tasikmalaya-Jakarta itu cukup ditempuh dengan lima jam saja.

Untuk sampai ke rumah tidak seperti di Tasikmalaya yang kemana-mana bisa ditempuh dalam jangka waktu 15 menit. Saya harus naik angkot 112 menuju Depok. Turun di Pertigaan Ramanda lalu nyambung dengan angkot 05 hingga turun di Komplek Aira atau Depag. Di sana menunggu sebentar sekitar lima menit lalu muncul tukang ojek yang ternyata pernah menjadi pengantar dan penjemput anak saya sekolah. Kebetulan nih…

Kurang lebih jam 12 malam saya sampai dirumah. Cek anak-anak yang sudah terlelap, saya pun siap-siap untuk istirahat agar bisa mempersiapkan diri rapat kerja keesokan harinya di Cipanas, Puncak.

Terimakasih Allah yang telah melancarkan perjalanan saya. Dan terimakasih pada semuanya terutama untuk Ummu Fayi Ibu Desi Sulistiyawati dan Kang Hendra Susanto semoga Allah memudahkan urusan kalian karena telah memudahkan urusan saudaranya di Tasikmalaya.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya.

***

Riza Almafaluthi

dedaunan di ranting cemara

di dinginnya Cipanas yang menggigit

06 Desember 2009 07.16

TATA CARA / PROSEDUR PENDAFTARAN HAJI DI KABUPATEN BOGOR (2)


TATA CARA / PROSEDUR PENDAFTARAN HAJI DI KABUPATEN BOGOR (2)

===TAHAP KEDUA===

Selesai? Ya, pendaftaran tahap awal sudah selesai. Kita akan melangkah ke pendaftaran tahap kedua. Sebelumnya kita harus ke bank terlebih dahulu untuk mendapatkan nomor porsi. Tentunya saya pergi keesokan harinya. Apa yang perlu dipersiapkan untuk mendapatkan nomor porsi itu?

Bank Muamalat Indonesia Cabang Bogor mensyaratkan dokumen yang harus dibawa, yakni:

  1. Fotokopi Buku tabungan dengan asli yang akan kita perlihatkan;
  2. SPPH asli untuk Bank;
  3. Fotokopi KTP 1 lembar;
  4. Fotokopi KK.

Saya akui pelayanannya untuk tahun ini bagus. Dibandingkan dengan pelayanan yang didapat oleh teman saya setahun lalu dikarekan petugasnya masih gatek dengan aplikasi SISKOHAT-nya. Alhamdulillah, tak lama kemudian saya sudah mendapatkan nomor porsi yang tertera di formulir Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) sebanyak empat rangkap itu. Ini berarti uang pendaftaran awal sudah ditransfer ke rekening Menteri Agama. Tentunya petugasnya belum tahu kami berangkat untuk tahun kapan. Ternyata yang tahu dan menentukan keberangkatan itu dari Kandepag Kabupaten Bogor.

Segera setelah dari bank saya pergi ke Kandepag Kabupaten Bogor. Sampai di sana pukul setengah satu siang. Saya sudah mempersiapkan semua dokumen yang harus saya bawa untuk pendaftaran tahap kedua ini. Apa saja? Ini dia:

Dokumen tahap kedua sebagai berikut:

  1. BPIH asli tiga lembar, satunya milik kita sebagai arsip yang tak boleh hilang;
  2. Fotokopi SPPH;
  3. Fotokopi KTP;
  4. Fotokopi KK;
  5. Fotokopi Surat/Akta Nikah;
  6. Fotokopi Akta Kelahiran/Surat Kenal Lahir/Ijazah;
  7. Fotokopi Surat Pernyataan Bermeterai dari Kepala Desa/Lurah yang diketahui oleh Kecamatan (asli diserahkan juga ke petugas);
  8. Fotokopi Surat Keterangan Sehat (asli diserahkan juga ke petugas).

    Fotokopi tersebut masing-masing sebanyak empat lembar.

Tetapi malang tak tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Saya disuruh pulang saja oleh petugasnya untuk kembali hari jum’at, senin, atau selasa. Karena hari rabu dan kamis diperuntukkan khusus untuk mengurus dokumen jama’ah haji yang akan berangkat tahun ini.

Mengapa baru diberitahu sekarang? Seharusnya kemarin pada saat penyelesaian foto diberitahu agar kami tak bolak-balik ke kantor ini. Yah…sedikit kecewa dengan birokrasi saya terpaksa pulang padahal cuma untuk mengecek lengkap atau tidak berkas kami ini. Saya yakin tidak makan waktu lima belas menit. Oke saya akan datang hari jum’atnya.

Pada hari jum’atnya, ruangan di seksi tersebut sedikit lengang tetapi di pintunya sudah dipasang pemberitahuan bahwa pelayanan pendaftaran tidak bisa dilayani karena Siskohatnya lagi bermasalah. Tetapi nyatanya saya lihat ada beberapa tamu yang sedang dilayani.

Tanpa banyak bicara saya menyerahkan dokumen itu yang saya yakini lengkap sekali. Dan betul petugasnya tanpa banyak bicara menelitinya dan menyatakan berkas saya sudah lengkap. Sama petugasnya diberitahu kita akan berangkat tahun kapan.

Dokumen tiga rangkap diserahkan kepada petugasnya. Satur angkap lagi untuk saya sebagai arsip. Yang terpenting ada dua dokumen asli ada pada kita yaitu SPPH dan BPIH lembar calon jema’ah haji. Jangan sampai hilang. Simpan yang baik. Kalau bisa Anda pindai dengan mesin scanner sebagai dokumen softcopy.

Lalu apa lagi yang harus kita perbuat? Tidak ada, terkecuali berdoa dan menunggu. Dan tentunya yang ini:

  1. Menabung lagi supaya bisa melunasi ongkos naik haji (ONH) yang telah ditetapkan;
  2. Pada bulan Mei tahun pemberangkatan misalnya tahun 2011 kita harus pergi ke Kandepag Kabupaten Bogor karena biasanya pengumuman calon jama’ah haji yang berangkat sudah keluar.
  3. Bulan Juni tahun 2011 biasanya kita ditelepon untuk melunasi BPIH;
  4. Setelah lunas biasanya pula kita akan dipanggil untuk melakukan sesi pengurusan passport hijau khusus haji ke kantor imigrasi. Tak ada biaya dalam pengurusan ini karena sudah ada dalam komponen biaya yang telah kita bayarkan. Bagi yang sudah punya passport tak perlu ikut sesi ini cukup lampirkan dan menyerahkan fotokopi passport-nya kepada Kandepag kabupaten Bogor.
  5. Belajar fikih haji dan ikut manasiknya. Itu saja.

Wuih…capek deh. Demikian yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat buat Anda semua.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09:52 26 Oktober 2009