Di Atas Kereta Api Malam


Ini kursi kereta api malam. Bukan kursiku. Kursiku di sebelah, telah ada seorang laki-laki mendengkur di atasnya. Aku tak mau merebut mimpinya dan meletakkan di kepalaku. Aku sudah tak peduli. Aku telah lelah. Aku ingin tidur segera. Aku ingin menjamahmu dalam mimpi-mimpi.

Tetapi aku curiga, kursi ini telah membuang mimpiku ke luar kereta api. Terjungkal, tergilas roda, dan terpotong-potong. Membiarkannya dimangsa cahaya bulan pemakan bangkai. Sedetik pun aku tak sempat bermimpi dan menengokmu.

Menengokmu dengan sepasang mata yang mencintai pejam dengan kesumat tak berkesudahan. Walaupun disengat lebah yang terbang berlelah-lelah dari sarang neon. Walaupun didekap dingin pendingin yang ingin, aku punya selimut merah. Walaupun bantal biru yang tak akan pernah menjadi pengganjal kepala, tempat muasal segala mimpiku.

Aku harusnya sadar, mimpiku hanyalah dicuri olehmu sebentar. Sedang mampir, di lelapmu yang fakir. Besok pagi, ia akan kembali. Membawa banyak cerita, untuk sebuah puja. Saat aku sudah tiba, di Jatinegara.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
26 November 2017

 

Menggelandang di Sekujurmu


Perangkaplah aku dalam bayang-bayang hitammu. Di pinggiran sungai kesepian, kucabik uap-uap kabut tipis pembawa pesan, ah, champ de mars, aku tiba di sini dari rue sedilliot, menjadi penggelandang, menjadi pengenang, menjadi rumput-rumput yang kauinjak, menjadi anak-anak tangga yang kaupijak. Malam itu, aku penggelandang, pengenang, di sekujurmu.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 25 November 2017

Semacam



Semacam lara, tak perlu ditambah marah, untuk semakin parah.
Semacam perih, tak perlu ditambah sedih, untuk semakin pedih.
Semacam rindu, tak perlu ditambah pilu, untuk semakin biru

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
22 November 2017

Dusseldorf


Aku merah kayu bakar yang menjulang di tepian jalan saat kaupergi menekur, setiap sentimeter Dusseldorf yang tak pernah jatuh tidur.  Di suatu masa, aku ingin menjelma sepatumu.

Aku espresso yang kau pesan seharga 3,8 Euro di sebuah resto,  saat kau memuntahkan lelahmu yang datang tergopoh-gopoh. Di suatu waktu, aku ingin menjadi kopi Gayo yang kauminum.

Aku permenungan yang kauperam dan pada saatnya menetas menjadi tawa yang getas. Di suatu masa, aku ingin menjelma kesedihan yang kaubuang ke dasar Rhine.

…untuk menjadi amaryllis, menjadimu.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
19 November 2017 

Cokelat


 

Cokelat seperti rindu. Sedikit, menggoda. Banyak, mencandu.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13 November 2017

Aku terbakar


Aku terbakar bermenit-menit, bergolak dalam keramaian menuju kau. Aku mau memamahmu, tidak dalam butiran yang biasa, melainkan cairan dengan asap yang mulai tiada. Bau terbakar mulai ada, seadanya matahari selepas hujan. Dengan basah belumlah jua sirna dari jalanan. Ingat satu perihal ini: ketika kautuang aku di sebuah cawan retak kehilangan, kenang-kenanglah aku seperti genangan, di daun jendela matamu, atau di sudut segitiga sama kaki bibirmu. Aku yang terbakar perih di sini, engkau yang menjadi asap menuju sesap.”

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 11 November 2017

Sekuntum Senar Biola


Jari jemarimu sungguh tangguh memetik sekuntum senar biola yang kaupegang di tangan, setangguh buku-buku jarimu yang pernah kaualukan ke tembok tinggi penuh onak, tajamnya seperti mahkota duri yang pernah disematkan di kepala bahaduri yang seolah-olah.

Darimu lahir kelopak-kelopak bunyi yang sengaja kauperosokkan ke dalam got depan rumah sakit. Wanginya merah. Serupa puisi yang sengaja kaugodok di ceret yang pernah kaubeli di pinggir jalan, di suatu hari yang ganas.

Ceret itu berteriak-teriak kepanasan meminta untuk segera diangkat dari pembakaran tanur tinggi, meminta diselamatkan dari nyala api. Pelan-pelan kukucurkan puisi ke atas bubuk kopi. Lagi-lagi wanginya merah, semerah peribahasa yang kausembunyikan dalam hati.  Atau sudah kaulempar ke tebing tinggi?

Puisi hitam ini tak sesederhana pikiranku, tetapi tak serumit ihwalmu. Pejam-pejamlah. Biarkan kuhirup putih wangimu yang malam ini tiba-tiba lewat dan melesak ke dalam hidungku. Masih sama rupanya. Biarkan kudengar debar jantungmu dengan sekuntum senar biola yang kusematkan di dadamu. Masih lama kiranya.

***
Lagi, fotonya Mastah Fotografi #DoF Pak @Harris_motret
Danke, danke, danke schon, Mastah. ​

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
04 November 2017.

Pernah Percaya


Aku pernah percaya pada putih geligimu yang legam, seperti yang pernah kautancapkan di leherku di suatu malam. Bekasnya merah.

Kau pernah percaya pada air mataku yang jatuh di pipi, seperti yang pernah kuceritakan padamu di suatu hari. Beningnya tabah.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Oktober 2017

Photograph by @paulnicklen from @natgeo

Ada Sepotong Pagi


Ketika pagi sudah menjulurkan lidah terangnya, yang saya bisa lakukan di waktu itu adalah bersiap menerima takdirnya, tentu setelah memerintahkan sel-sel di sekujur tubuh untuk tidak bergeming. Sabtu, 28 Oktober 2017, di kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta ribuan orang berkelimun. Ada family gathering dan lomba lari di sana. Dan saya memilih yang terakhir untuk bergabung bersama mereka di sepotong pagi itu.

 

Ada sepotong pagi membentang di langit, kutaruh sepotong lainnya di bentangan sepatumu, di sana, aku harap kautemukan setiap keindahan pagi yang ditulis penyair: matahari yang tak bersedih, kabut yang tak melangut, embun yang tak melamun, dan doa dengan tak sedikit asa. Doa baik-baik, sungguh-sungguh, sepenuh seluruh, agar langit gaduh dan riuh.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 Oktober 2017

Aku Menaruh Matamu di Mataku


Aku mengira wajahmu telanjur berdebar saat melihatku memanen bulir-bulir terang di matamu yang asri seperti bungalo di tepian telaga. Saat menyingkap gelap yang menyelinap di halaman-halamanku yang kaubaca. Saat dinding jantungmu belumlah cukup tebal untuk melindungi dari cemburu buta. Saat gemetarmu, tertawamu, kedikmu menyusut menjadi kelopak-kelopak mekar padma. Dan aku mendengarmu. Dan aku terjun menjadi abu setelah kaubakar aku dengan perasaan-perasaan paling dalam perigimu. Dan aku mendengarmu. Dan aku hanyalah sehelai benang yang jatuh dari jalinan zirahmu. Dan aku mendengarmu. Dan kau yang meraba hurufku dengan bening jari di pejam netramu yang bercahaya. Dan aku mendengarmu. Dan kau yang menghujani jantungku dengan rinai rindu di putih gaunmu yang merajalela. Sekarang, aku menaruh matamu di mataku.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Oktober 2017

Lagi, lagi, dan lagi. Fotonya Mastah Fotografi #DoF Pak @Harris_motret yang sungguh-sungguh berbunyi ini diinfakkan kepada saya, untuk dikata-katai. 😀 Danke, danke, danke schon, Mastah.