FOTO-FOTO BAKSOS


 

Assalaamu’alaikum.

Saudara-saudaraku semua , berikut saya tampilkan suasana baksos yang diselenggarakan pada hari Ahad tanggal 06 Juli 2008 yang lalu. Maunya saya sih menampilkan semua gambar yang telah terekam dalam kamera kami, namun apa dikata kapasitas gambar yang terlalu besar membuat gambar-gambar tersebut tidak dapat ditampilkan seluruhnya. Namun tak apalah. Semoga ini sebagai bentuk nyata pertanggungjawaban dari amanah yang telah diberikan Anda kepada kami.

Semoga Allah melimpahi kita dengan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin.

 

 

Tempat Baksos

 

Salah satu penyokong kegiatan Baksos

 

Spanduk Yayasan Kharisma Insani

Kang Tubagus Syunmandjaya Rukmandis memberikan wejangan saat mampir di tempat Baksos

 

Kepala Desa Masduki saat memberikan sambutannya, ia minta warga Desa Pabuaran supaya sejahtera dunia dan akhiratnya. 

 

Peserta dan Panitia Baksos saat menyimak dengan tekun wejangan para tetua. 

 

Beberapa peserta baksos asyik mengikuti acara baksos. Salah satunya asyik mencabuti jenggot yang sudah mulai memutih

 

Setelah selesai acara sambutan dan lain-lain, barulah para warga asyik mengantri satu-persatu untuk mendapatkan sembako murah dan gratisnya. 

 

“Mana Bu…tiketnya?” tanya salah satu panitia.

 

“Anak-anak minggir yah…tuh Ibunya lagi ngantri,” arah salah satu panitia. 

 

“Kayaknya bagus nih baju,” pikir anak muda. 

 

Lumayan baju Korprinya, khusus kalau berkebun di kebun jambu… 

 

Iya Bu, itu masih bagus loh… 

 

Masih mengincar mana nih baju yang bagusnya… 

 

Mainan dan tas yang masih tersisa, menunggu peminatnya. 

 

Eit, jangan berebut semua kebagian baju gratis ini. 

 

G atau H yah…mata nih sudah mulai kabur rupanya.

 

Pemeriksaan mata gratis, dipandu dengan sabar.

 

Suasana di ruang bekam.

 

Kantor Pos Lama


Kota Lama

Kantor Pos Besar Semarang di Saat Senja


Biasanya bangunan-bangunan tua berada di daerah Pecinan seperti banyak terlihat di daerah Jamblang, Cirebon dan kota Indramayu, seperti yang pernah saya lihat sekitar lima belas tahun yang lampau. Tapi entah, masihkah keasilan dan keasriannya terjaga hingga saat ini. Sedangkan kota lama yang di Jakarta seperti di daerah Beos terlihat masih terawat.
Agar masyarakat bisa memahami sejarah itu penting maka hendaknya bangunan-bangunan dan jalan-jalan itu perlu dilestarikan. Darinya bisa saja ada nilai historis yang tak ternilai. Tapi sayangnya selain diperlukan kepedulian dari masyarakat juga perlu adanya goodwill dari pemerintah kota (pemkot) sendiri. Bagaimana pemkot juga dapat mengalokasikan anggarannya untuk memelihara semua itu, tanpa tergoda oleh kepentingan bisnis yang tampaknya lebih menggiurkan.
Agar pemkot juga tidak percuma untuk mengeluarkan dana maka perlu adanya program terencana dan terukur agar masyakarat dapat mengambil manfaat besar darinya, seperti adanya agenda pariwisata di daerah tersebut. Seperti apa yang diperlihatkan oleh Pemkot Jakarta dengan adanya museum Fatahillah, atau Pemkot Semarang yang mengadakan Festival Dugderan, festival yang diadakan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Festival itu diadakan di bundaran air di depan stasiun Semarang Tawang. Selain adanya pasar malam juga terdapat pedagang kaki lima yang menjual barang-barang gerabah seperti celengan, tempat makan, dan lainnya mulai dari yang kecil sampai yang besar. Festival ini akan berakhir bila esoknya adalah hari pertama berpuasa.
Selain itu, program peduli bangunan kuno perlu juga dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pemkot dengan menyelenggarakan tur tahunan bagi anak-anak sekolah di daerah kota lama. Atau menyelenggarakan lomba penulisan dengan garis besar tema adalah penyelamatan dan pemeliharaan bangunan kuno, atau tema historisnya. Yang diharapkan dari semua itu timbul kecintaan terhadap kota lama yang dimulai dari diri kita sendiri hingga ke anak cucu.

dedaunan di ranting cemara
di antara—sekali lagi—ala kadarnya
10:41 19 September 2005

Dua Bocah dan Dua Lilin


27.09.2005 – Sebuah Foto: dua bocah dan dua lilin

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Ba’da tahmid dan salam.

Setelah enam hari rehat di kampung halaman qoulan syadiida, akhirnya saya kembali bergabung dengan kawan-kawan kembali. Banyak cerita dan pengalaman menarik yang menggelitik hati saya untuk menuliskannya dalam coretan-coretan. Mulai dari berburu foto di kota lama Semarang, berburu buku, mengunjungi dugderan, pengalaman pertama memakai beskap dalam seumur hidup saya, meruqyah orang yang kesurupan, sampai menjadi fotografer amatiran dalam pesta perkawainan.

Yang sudah jadi dalam bentuk tulisan hanya berburu foto dan buku dan dugderan. Yang lainnya menunggu mood, yang lagi-lagi hilang begitu saja. Tapi untuk sekadar pembukaan pada hari ini saya lampirkan foto dua bocah dan dua lilin yang saya ambil tadi malam, saat lampu mati selama hampir satu jam.

Haqi dan Ayyasy sedang memandang redupnya dua sinar lilin.

Itu saja. Kurang lebihnya mohon maaf.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.