MENCIUM BIBIRNYA


MENCIUM BIBIRNYA

 

Terbangun di tengah malam itu sesuatu. Dua jam berikutnya hanya terpaku pada mainan baru bernama WhatsApp di android 2011 saya. Mengecek satu-persatu siapa saja yang pada pukul 00.00 masih saja terlihat jejaknya. Last seen today at 00:00.

Memergoki keponakan di tanah seberang yang masih melek. “Durung turu tah, Nok?” tanya saya. Basa Cerbon menjadi sarana komunikasi semut kami. “Tangi tas nyusui, Ang. Priben, priben?” Pernyataan dan pertanyaan adalah responnya. Ohya maaf bagi yang tidak mengerti dialog kami, santai saja Bray, di bawah akan ada terjemahannya.

Gerak selanjutnya adalah membuka benda hitam—netbook—yang teronggok di atas meja. Terdiam sejenak dan berpikir mau menulis apa. Tiba-tiba sudut mata saya jatuh pada sebuah album foto yang hampir rusak. Saya membukanya. Dan satu persatu saya melihat rekaman hidup yang tergambar di setiap lembar kertasnya.

Kemudian menemukan foto setengah badan saya. Foto di tahun 1997. Latar belakang hijau. Pakai baju putih. Pakai dasi dan jas pemberian waktu saya jadi panitia wisuda di tahun 1996. Saya pun waktu itu masih kurus. Sedikit ada senyum di wajah. Dan jenggot tipis di dagu. Apa lagi pentingnya saya deskripsikan di sini buat Bray yah?

Dan seperti adegan di film-film biasanya. Saya mengambil foto itu dari plastiknya lalu membalik foto itu. Ah…sebuah tulisan tangan ada di sana. Sebuah tulisan tangan yang saya tentunya tahu betul siapa pemilik dari goresan tinta hitam itu. Ada dua alinea. Beberapa kalimat. Dengan dua kata pertama yang dicoret biru agar tak bisa dibaca.

“…… …… saat mendengar antum menerima ane. Meski keraguan itu masih ada, ane menerima untuk menjalani apa yang ada.”

“Ya akhi rahimakillah, hanya ketsiqohan ane kepada Umi dan Pak Hasan, yang membuat ane berani menyatakan “iya”. Bukan keraguan tentang keimanan antum yang m’buat ane bimbang.”

Ini jejaknya. Saya teringat kalau foto ini adalah foto yang saya berikan padanya saat ta’aruf. Dan itu masa lalu. Belasan tahun terlampaui. Sekarang kita tahu diri kita masing-masing. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Kita saling menutupi kelemahan diri kita. Kita terus berusaha dan belajar memahami.

Saya menghentikan sejenak tulisan ini. Segera bergegas masuk ke dalam kamar. Melihat sosok perempuan itu terlelap. Dan mencium keningnya. Ada Kinan di sebelahnya. Khusus untuk perempuan kecil lucu ini, tidak lain tidak bukan, bibirnya saya cium. Sambil berkata, “Zawwadakillaahuttaqwa.” Ucapan doa yang saya kutip dari Ustadz Fathur—semoga Allah senantiasa menyehatkan beliau—yang artinya kurang lebih: “semoga Allah membekalimu taqwa.”

Saat melanjutkan tulisan ini jarum pendek jam sudah menusuk di angka 3. Bergegas untuk segera menyelesaikannya. Saya butuh tidur lagi. Sebentar saja. Sebagai penutupnya saya teringat sebuah dialog dengan perempuan ini, siang tadi.

“Bersyukurlah punya istri yang tidak minta macam-macam,” katanya.

Sambil berpikir, meresapi kalimat yang ia ucapkan, saya pun menyetujuinya. Polos saya berkata, “Betul, karena barangsiapa yang bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmatnya.”

“Wuih…enggak sopan,” tegurnya sambil melirik tajam.

“What &(%($*#&*??”

*

Semoga ini bukan pencitraan. Saya ini pembelajar saja. Setiap pembelajaran tentu ada salahnya. Kalau orang memanggil saya dengan sebutan terhormat, aduh saya sungguh tidak pantas. Masih banyak dosanya. Masih saja terus berbuat salah. Masih saja enggak mau “nyadar”. Nyadar nikmat, nyadar umur, nyadar Allah masih terus menutupi aib-aib saya, dan nyadar-nyadar yang lainnya.

Kalau kamu, Bray, nemuin saya salah, terjerembab, sadari Bray, saya juga manusia. Mohon dimaafkan. Saya cuma pembelajar. Semoga Allah mengampuni saya selalu. Kita.

**

Terjemahan:

  1. Durung turu tah, Nok?     : Belum tidur, Nok?
  2. Nok         : Panggilan kepada adik perempuan, anak perempuan, perempuan yang dimudakan.
  3. Tangi tas nyusui, Ang. Priben, priben?    : Bangun habis menyusui, Ang. Bagaimana, bagaimana?
  4. Ang        : Panggilan kepada kakak laki-laki.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tak saya edit lagi. Apa adanya. Selesai di 03.14

12 November 2012

 

tags: whatsapp, android, ustadz Fathurrahman, ustadz fathur, curahan hati, kinan, perempuan, ria dewi ambarwati, cerbon, mamuroh, ma’muroh, maam, ma’am,

ROKOK, AQUA, TISU


ROKOK, AQUA, TISU

 

Teman saya tidak menyangka kalau saya adalah salah satu saksi sekaligus pelaku dalam tulisan berjudul “Mel” yang saya ikut sertakan untuk Lomba Penulisan Artikel Perpajakan 2012 Direktorat Jenderal Pajak. Tulisan ini adalah satu dari dua yang saya kirim. “Mel” akhirnya jadi pemenang kesatu.

Ya betul, waktu itu saya masih SMP kelas 2. Pengasong rokok di stasiun Jatibarang dan di atas kereta api. Saya memang mengasong pada hari minggu dan libur panjang. Biasanya pagi keluar dari rumah menyusuri pinggiran jalan menuju stasiun sembari menawarkan rokok pada tukang-tukang becak.

Jam 7 pagi Stasiun Jatibarang ramai penuh calon penumpang menuju Jakarta. Mereka akan naik Kereta Api Gunung Jati dari Cirebon. Itu saat terbaik untuk mengasong. Setelah kereta itu lewat, saya baru pergi ke pasar yang letaknya di depan stasiun. Di sana ramai juga, apalagi kalau hari pasaran, hari rabu dan minggu. Para pedagang kain dari seluruh penjuru Indramayu, Cirebon, Brebes datang, tumplek blek di sana. Wuih…sesuatu banget kalau melihat kerumunan orang.

Setelah berjibaku di sana, menjelang dzuhur saya pulang dengan arah yang berbeda dari waktu berangkat. Kembali menawarkan pada para pengguna trotoar. Rokok! Rokok! Rokok! Aqua! Tisu! Hati berbunga kalau ada dari mereka yang membeli barang satu atau dua batang rokok.

Sampai rumah biasanya saya makan, istirahat, dan sholat. Lalu “kulakan” kepada bapak saya sebagai ‘distributor’ sekaligus pemilik toko kecil-kecilan di rumah. Ada barang yang sudah habis saya beli kepadanya. Beliau yang mencatatnya. Bayarnya kalau sudah selesai mengasong sore nanti.

Sekitar jam satu siang saya kembali jualan. Topi sudah terpasang di kepala. Kotak bertali berisi penuh dagangan terselempang di depan. Semangat sudah terkokang penuh untuk mencapai target penjualan dalam sehari. Saya sering berharap air minum dalam kemasan laku keras karena ia penyumbang keuntungan terbesar saya.

Sekarang tujuan utama saya adalah tetap ke stasiun. Jam siang begini tempat itu penuh calon penumpang baik ke Jakarta ataupun ke Jawa. Kalau kereta apinya belum datang saya mengasong di darat, susuri dari peron ke peron, menyapa setiap orang, “Rokok Pak!”

Kalau kereta apinya datang saya ikutan naik bersama puluhan pedagang lainnya ke atas gerbong. Mengais rezeki dari penumpang dalam waktu yang tidak lama. Berharap ada yang beli di tengah persaingan ketat antar-pedagang. Kalau ada bule saya sapa padanya, “Smoke, Sir.” Seumur hidup saya ngasong, bule itu tidak pernah beli.

Yang paling menegangkan kalau ada yang membeli pada saat pengumuman pemberangkatan kereta api. Saya buru-buru melayaninya. Apalagi pada saat menyerahkan uang kembalian kereta apinya sudah bergerak perlahan. Saya panik kalau sudah begitu. Saya segera lari ke pintu kereta dan lompat. Hup! Kaki duluan.

Hanya sekali saya gagal. Ini karena saya salah ambil posisi tubuh. Seharusnya menghadap searah gerak kereta. Saya tidak. Saya langsung lompat. Gaya gravitasi pun bekerja, saya terjungkal di tengah teriakan orang di stasiun. Alhamdulillah tidak menggelinding ke kolong kereta. Kotak asongan yang bertuliskan Pemburu Dollar itu tumpah berantakan. Dan sedikit luka.

Karenanya saya selalu melarang adik saya—yang ikut ngasong juga—untuk turut naik jualan ke atas gerbong. Takut tak bisa turun atau terbawa kereta. Saya deg-degan mikirin dia. Takut ada apa-apa. Pernah sampai sore tak terlihat batang hidungnya di stasiun, bahkan sampai maghrib. Saya sudah cemas. Eh, betul dia terbawa kereta. Syukur bisa balik.

Waktu itu kalau kereta ekonomi tidak ada Polisi Khusus (polsus)-nya. Jadi banyak juga teman-teman pedagang yang ikutan naik kereta api itu sampai Haurgeulis ataupun Pegaden. Atau kalau ke arah Cirebonnya ikut hanya sampai Arjawinangun atau Bangodua.

Stasiun Arjawinangun *Sumber Wikipedia

Stasiun Bangodua (*sejutagaleri.wordpress.com)

Kalau ada polsusnya—terutama untuk kelas bisnis dan eksekutif—mereka tetap naik juga, tapi naik ke atap kereta api. Bukan untuk jualan melainkan untuk ikut kereta ini sampai di stasiun tujuan. Buat apa? Supaya bisa mencegat kereta api lainnya yang pedagang asongan bisa jualan di atas gerbongnya.

Naik ke atap kereta ini dilakukan oleh pria dan wanita pedagang. Ini berbahaya sekali. Saya tidak ikutan. Kalau terpaksa saya ikut, saya naik di atas gerbong kereta bersama yang lain dan patungan seribuan atau berapa untuk diserahkan kepada petugas. Dengan syarat tidak boleh mengasong di dalam kereta.

Pernah saya iseng ngasong juga. Pas melewati gerbong restorasi kebetulan di sana ada Kepala Stasiun Jatibarang yang ikut naik. Saya langsung ditampar. Niatnya kayak bintang film India Amitabhbachan, kalau ditampar sekali tidak lari, tapi menatap lagi. Eh betul, saya ditampar lagi. Sakit euy. Langsung saya ngibrit. Gagal jadi bintang film. Wajah Kepala Stasiun Jatibarang itu sampai sekarang masih saya ingat betul.

Salah satu trik agar bisa tetap jualan di atas gerbong kereta sudah saya ceritakan di tulisan yang berjudul “Mel” itu. Menghentikan laju kereta dengan beberapa bungkus rokok yang diikatkan pada sebatang ranting pohon.

Kalau sedang tidak naik kereta saya biasanya kumpul bareng bersama teman pedagang lainnya. Ngobrol ke sana ke mari. Saya mungkin masih dianggap anak-anak atau junior tapi pergaulan saya bisa diterima oleh pedagang lainnya. Dari hubungan itu saya bisa tahu bagaimana taktik mereka agar jualannya laris. Dari yang pakai klenik sampai sogok-menyogok kepada petugas.

Jam setengah lima sore biasanya saya siap-siap pulang. Saya balik ke rumah sambil bawa oleh-oleh kesukaan. Wingko babat dan nasi rames tambah sate ayam yang dijual sesama pedagang asongan. Sedap banget apalagi pakai duit sendiri.

Sampai rumah, Bapak yang menghitung berapa banyak barang dagangan yang laku. Hitungannya begitu detil. Setiap batang rokok yang terjual dan berapa perak keuntungannya dicatat. Sehari dapat untung lima sampai sepuluh ribu saja sudah bersyukur. Uangnya ditabung untuk biaya melanjutkan sekolah ke SMA (SMU sekarang) nanti.

Namun kalau malam minggu saya tidak hanya sampai sore ngasongnya tapi sampai malam. Saya pergi ke gedung bioskop. Nah di sana juga ramai. Laku juga. Biasanya saya hanya sampai para pengunjung masuk ke dalam gedung. Setelah itu pulang.

Semua ini adalah bagian dari sejarah hidup yang menempa kepribadian saya hingga saat ini. Banyak pengalaman yang didapatkan, diiringi kekhawatiran ibu setiap hari karena anak-anaknya yang belum pulang di petang-petang yang lama. Ataupun kengerian melihat darah yang mengalir dari atap gerbong, di sana ada sosok tubuh dengan kepala hancur terkena jembatan. Mimpi buruk menjelma.

Tapi ada selimut kegembiraan walau dalam senyap, karena saat itu saya sudah bisa pegang uang dan tak minta ke orang tua. Tidak malu menghadapi orang dewasa ataupun teman sekolah. Yang lain pacaran, saya ngasong. Belajar tetap nomor satu. Prestasi sekolah masih bisa dipertahankan.

Dari sana ada yang bisa dijadikan pembelajaran, kalau keberhasilan atau kesuksesan itu tak bisa dicapai tanpa keringat yang menetes dan pengorbanan. Sampai-sampai saya menulis sebuah kalimat dengan gaya kaligrafi di atas slop pembungkus rokok dan menempelkannya di dinding rumah: tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Sungguh. Dua puluh dua tahun kemudian saya baru tahu kalau Rasulullah saw pernah bilang: “Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan sholat.” Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “bersusah payah dalam mencari nafkah.”

Berpayah-payahlah dalam mencari nafkah teman. Niscaya ada akhir yang baik di ujungnya. Menulis pun demikian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13.22 20 Oktober 2012

Terima kasih kepada Ustadz Fathurrahman yang telah mengirim hadits riwayat Bukhari itu.

 

tags: stasiun jatibarang, stasiun arjawinangun, stasiun pegaden, stasiun bangodua, stasiun haurgeulis, lomba menulis artikel perpajakan, direktorat jenderal pajak, kereta api gunung jati, pemburu dollar, mel, kepala stasiun jatibarang, tips menulis,

SURAT YANG MEMBUATNYA GEMETAR


SURAT YANG MEMBUATNYA GEMETAR


    Surat pemanggilan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu telah membuat keluarga besar istrinya terperanjat dan risau. “Apa salah suami saya? Kena kasus apa?” tanya Sang Istri. Tentu saja juga membuat dirinya yang sedang memulai iktikaf di hari pertama Ramadhan itu gamang. Bagaimana bisa kondisi ini ada ketika ia benar-benar ingin memulai iktikafnya secara penuh mulai hari pertama sampai hari terakhir nanti. Tapi ia menyadari bahwa ini semua takdir Allah.

    Yang membuatnya sedikit tenang adalah ia dipanggil oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu kapasitasnya hanya sebagai saksi atas sebuah kasus yang terjadi di sebuah perusahaan asuransi, tempatnya ia bekerja. Bukan sebagai tersangka ataupun terdakwa. Tapi itu saja sudah membuatnya menguras energi dan mengalihkan fokusnya.

    Berulang kali ia membaca surat itu. Pelan-pelan. Lalu ia pahami betul setiap kata yang ada. Agar tidak ada kata yang tidak dimengertinya. Ia mengontak teman-temannya untuk berkonsultasi tentang kasusnya ini. Semua dipersiapkan dengan betul supaya tenang dalam persidangan dan ia mampu menjawab semua pertanyaan Majelis Hakim.

    Selama proses itu ia mengamati cara berpikir dan tindakannya sendiri. Di sinilah ia mengerti bahwa telah ditampakkan di hadapan dirinya sebuah pelajaran maha penting. Pelajaran tentang laku yang seharusnya ia kedepankan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

    Seharusnya ia lebih gemetar saat menerima ‘surat-surat’ dari Allah itu tinimbang surat dari Pengadilan negeri jakarta Selatan. Surat dari Sang Pencipta Manusia yang kedudukannya jelas sangatlah jauh daripada Majelis Hakim yang hanya makhluk fana. Apatah lagi saat membacanya. Ia seharusnya gemetar saat mendapat ancaman-ancaman jika Ia tidak memenuhi apa yang telah dijanjikannya saat ia masih berada di alam ruh.

    Seharusnya ia berlinang air mata saat ia tak mampu memahami setiap makna dibalik kata yang tertulis di sana. Apatah lagi saat ia menyadari bahwa ia tak mampu untuk melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.

    Seharusnya ia lebih takut dihadapkan pada sebuah pengadilan kelak yang benar-benar tanpa intervensi uang dan kekuasaan. Pengadilan yang membuat setiap manusia terperanjat ngeri karena kedahsyatan suasananya. Apatah lagi Sang Hakimnya di sana.

    Pun seharusnya ia lebih mempersiapkan diri sesempurna-sempurnanya untuk mencari bekal terbaik. Agar kelak ia tak terjerembab karena dilempar dengan buku amalnya dari belakang. Duhai diri…berbeda sekali diri menghadapi dua hal ini.

     “Karena yang satu adalah material dan yang satunya lagi adalah masalah iman,” ujarnya. Ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari milyaran manusia yang hidup di muka bumi ini dan berada pada zaman serba materialistis. Tapi tak serta merta harus terpalit, tersert-seret, dan terjerumus pada semua yang menggodanya.

    Tekad pun tercetus, materialisme bolehlah hidup tapi bukan di hatinya tapi cukup di tangannya. Di hatinya hanya untuk Al Qur’an yang kembali ia baca setiap harinya satu juz setelah Ramadhan meninggalkan dirinya. Ia tartilkan bacaannya, karena setiap huruf di dalamnya punya hak masing-masing untuk dibaca dengan benar. Ia bertekad kuat memahami makna yang dikandungnya, selain pula menambah pundi-pundi kekayaan hafalannya. Tertatih-tatih dengan memohon perlindungan-Nya agar ia selamat dalam mengumpulkan sebaik-baik bekal.

    Saya termenung mendengar tuturannya pada saat acara mabit tadi malam. Ini adalah sebagian kecil dari upayanya meri’ayah (memelihara) amalan-amalan Ramadhan agar tetap tumbuh dan bersemi setelah Ramadhan dan Syawal usai. Sebuah telatah yang patut dijiplak mentah-mentah tanpa perlu membayar royalti. Biar Allah SWT yang membayarnya saja dengan balasan banyak kebaikan.

**

Riza Almanfaluthi

@rizaalmanfaluth

Citayam, 23 September 2012

dimuat di Dakwatuna di

http://www.dakwatuna.com/2012/09/23125/surat-yang-membuatnya-gemetar/

Gambar diambil dari situs: http://www.iol.co.za/

SHARING IS AMAZING


SHARING IS AMAZING


    Selalu saja perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada perjalanan berangkat. Kantuk tidak mendominasi seperti biasanya. Nyupir pun jadi enteng. Saya juga heran kenapa bisa seperti ini? Eh, ternyata karena di sepanjang perjalanan balik dari Bandung ke Jakarta itu saya mengobrol terus. Ngobrolin apa saja dengan Ibu W Arifah, Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi di Kantor Pelayanan Pajak Bogor. Ibu Arifah ditemani putranya yang baru berumur 15 bulan dan pengasuhnya.

    Selama tiga hari, sejak Rabu, kami mengikuti Workshop Tax Knowledge Base (TKB) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pelayanan, Penyuluhan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), di Grand Royal Panghegar.

    Workshop itu dimaksudkan untuk mencari masukan dan dalam rangka pengembangan TKB. TKB itu apa? TKB itu seperti situs kumpulan peraturan perpajakan yang berjalan di intranet DJP. TKB diharapkan menjadi rujukan bagi para pegawai DJP untuk mendapatkan peraturan yang valid, mutakhir, dan dapat dipercaya.     

    Nah dalam workshop itu kami dibekali tentang praktik manajemen data peraturan perpajakan dari pengelola situs Ortax. Situs ini cukup dikenal bagi para pencari peraturan perpajakan. Saya saja kalau bingung mencari peraturan terkait sengketa persidangan di Pengadilan Pajak selalu mencari di Google dengan menambahkan kata “ortax” sebagai kata kunci tambahan. Semata agar Google dapat langsung menampilkan indek pencariannya dengan Ortax menempati daftar urutan pertama hasil pencarian.

    Itu di hari pertama. Di hari kedua kami dibekali ilmu tentang Knowledge Management (KM) Sederhananya begini KM itu. Misal ada pegawai baru masuk di Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) untuk jadi Petugas Banding. Pegawai ini belajar dari awal semua tentang ilmu-ilmu yang ada di DKB, mulai dari pengetahuan dasar keberatan dan banding, teknik berkomunikasi, teknik beracara di Pengadilan Pajak, dan lain sebagainya. Sampai dia menjadi seorang ahli dan rujukan dari teman-temannya dalam masalah sengketa di persidangan.

    Eeh…tiba-tiba gelombang mutasi menerpa pegawai tersebut. Ya sudah pegawai itu meninggalkan begitu saja DKB dengan membawa semua pengetahuan berharga yang ia miliki yang seharusnya bisa dimanfaatkan optimal di DKB. Inilah yang disebut tacit knowledge, yaitu pengetahuan yang hanya ada di kepala Sang Pegawai itu yang belum terbagi.

    Pegawai baru yang menggantikan ternyata mulai dari nol lagi untuk bisa seperti pegawai yang pindah itu. Nah, dengan KM itulah tacit knowledge dipecahkan dengan cara berbagi pengetahuan.

    Ohya kami dilatih juga cara membuat matrik “from business strategy to knowledge“, sebuah matrik yang menjabarkan cara agar pengetahuan tentang strategi bisnis bisa didapat dan dibagi. That’s great. Ilmu baru buat saya.

    Satu pertanyaan adalah mengapa perlu ilmu KM pada workshop kali ini? Jawabnya adalah bahwa pengembangan kesempurnaan TKB tidak lain dan tidak bukan juga didapat dari para pegawai DJP sebagai kontributor utamanya. Dan itu hanya bisa dilaksanakan jika semangat berbagi sudah tumbuh. KM menjadi pemantik tumbuhnya semangat berbagi.

    Malamnya ada sesi motivasi dari seorang motivator. Kami diajak untuk sama-sama membuang kotak problem hidup yang ada dalam benak kami, yang dari alam bawah sadar seringkali hal itu menghambat kami untuk bisa sukses. Tentu pada akhir sesi itu kami diajak untuk saling berbagi. Tidak hanya teori, kami diajak untuk merealisasikannya saat itu juga. Semangat berbagi ini berbuah donasi sebesar lebih dari tiga juta rupiah untuk disumbangkan kepada yatim piatu.

**

    Dua setengah jam perjalanan Bandung sampai Tanjung Barat. Kami langsung berangkat jam dua siang selesai shalat jum’at dan makan. Tidak ada acara jalan-jalan bahkan untuk sekadar cari oleh-oleh. Oleh-oleh sudah dipesankan oleh adiknya Ibu Arifah. Jalan-jalan di Bandung mah nanti saja. Cari waktu yang lebih luang. Kami ingin cepat-cepat sampai di Jakarta seperti itu karena tidak mau terjebak macetnya Jakarta di petang hari, apalagi di hari jum’at.

    Workshop kami di hari Rabu dan Kamis sampai larut malam. Sedang di hari terakhir, kami dibatasi sampai waktu check out pukul 12.00 siang. Jadi di pagi hari Jum’at itu kami melakukan finalisasi gagasan untuk TKB serta mempresentasikannya.

    Empat kelompok telah memberikan masukan yang amat berharga buat TKB. Setelah terkumpul semua kami berharap TKB dapat disempurnakan dan diluncurkan segera untuk bisa dipakai oleh seluruh pegawai DJP.

    Yang terpenting untuk tidak dilupakan adalah selayaknya pula para peserta workshop ini untuk menularkan semangat berbaginya kepada teman-teman pegawai DJP lainnya. Karena berbagi itu menakjubkan, berbagi itu untuk menerima, dan berbagi itu membahagiakan. Ayo berbagi!

***

 

 

Riza Almanfaluthi

Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding

dedaunan di ranting cemara

15 September 2012

Sumber gambar dari sini.

 

 


 

KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK


KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK

image

“Jika belum adanya keturunan yang membuatmu gelisah di penghujung malam ini mintalah Allah ta’ala dengan do’a Nabi Zakariya.” Satu kalimat yang ditwitkan oleh Moh. Fauzil Adhim pada dini hari ini membuat saya termenung. Sebuah kebetulan bahwa pada malam itu saya ingin menuliskan sebuah cerita tentang kegundahan seorang teman akan hadirnya buah hati dalam umur perkawinannya yang baru mencapai lima bulan. (Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI).

Sebuah waktu yang tidak bisa disetarakan dengan waktu sepi yang dimiliki oleh Nabi Zakariya dalam sebuah penantian yang panjang dan endapan keniscayaan kalau istrinya yang mandul tidak pernah mungkin akan punya keturunan. Maka hanya doa yang bisa terlantun: “Tuhanku, jangan biarkan aku sendiri. Dan Engkaulah sebaik-baik Waris (QS. 21: 89)”

Dalam sebuah percakapan maya, di pertengahan ramadhan 1433 H yang penuh keberkahan, tercetus sebuah kegalauan betapa pusing teman saya ini memikirkan istrinya yang juga belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan.

“Kamu mau enggak saya beri solusi?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban. Karena dengan mengemukakan masalahnya pada saya saja setidaknya ia merasa sudah cukup gelisah itu terkurangi.

“Kamu dan istri kamu lakukan dua hal ini.”

“Apa?”

“Istighfar dan sedekah. Perbanyaklah. Misalnya saat mau berhubungan intim, saat kamu berdiri di dalam kereta, saat kamu bekerja. Insya Allah kita akan lihat hasilnya dalam sebulan ini.”

Hanya itu yang bisa saya sampaikan padanya persis seperti apa yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah dalam Musnadnya, dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw sambil berkata: “Wahai Rasulullah! Aku tidak dikaruniai seorang anak pun dan aku tidak memiliki anak.” Maka Rasulullah saw bersabda: “Lalu di mana kamu dari banyak beristighfar dan banyak bersedekah, karena engkau akan diberi rizki anak karena sebab keduanya.” Lalu laki-laki ini memperbanyak sedekah dan istighfar. Jabir berkata, “Maka orang ini dikaruniai sembilan anak laki-laki.”1)

Saya meyakinkannya untuk melakukan dua hal itu. Apalagi sudah jelas kalau dalam Surat Nuh (71: 10-12) disebutkan tentang janji Allah kepada orang yang meminta ampunan kepadaNya, maka Ia akan memberikan banyak rupa kebaikan dan salah satunya adalah memperbanyak harta dan anak. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Kepada para jamaah shalat tarawih saya sampaikan cerita teman ini dan berharap ada keajaiban yang datang dalam sebulan ini. Pengharapan besar, doa yang terucap sepenuh keyakinan, sedekah yang seikhlas-ikhlasnya, permintaan ampunan tertuturkan dengan sebenar-benarnya permintaan, dari hati yang dilembutkan oleh madrasah ramadhan, pada waktu yang mustajabah, variabel manalagi yang akan membuat Allah tidak mewujudkan semua asanya?

Ramadhan usai, Syawal menjelang. Hiruk-pikuk mudik, lebaran, dan baliknya menyita perhatian semua. Tidak terkecuali saya. Tapi ada mekanisme takdir Allah yang sedang berjalan. Hari ke-9 Syawal sang teman memberitahu saya, “Aku mengucapkan terima kasih untuk saran dan doa kamu bulan puasa kemarin. Subhanallah walhamdulillah. Aku telah memastikan secara medis kalau kandungan istriku sudah berjalan kurang lebih lima minggu.”

Allah Maha Besar, nikmat mana lagi yang hendak diingkari. Allah tunjukkan keajaiban sedekah dan istighfar itu pada kami, walau baru sebatas janin. “Terus perbanyak sedekah dan istighfarnya, karena sedekah dan istighfarmu yang konsisten akan menjaga kandungan istrimu.”

Istighfar itu tanda kepasrahan dari hamba yang sesadar-sadarnya kalau dirinya lemah, membawa kedamaian, menjadikan lapang atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, dan membuka datangnya rizki dari arah yang tiada terduga. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara pribadi sebagaimana shalat.

Sedekah berkelindan dengan istighfar. Sedekah itu pembuktian adanya iman di dada, ia menghapus kesalahan, menjauhkan dari kematian yang buruk, menghindarkan dari musibah, ia mengobati orang-orang yang sakit. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara sosial sebagaimana zakat.

Inilah ikhtiar. Dan setelah kawan saya itu, keajaiban apalagi yang akan muncul di hadapan Anda dari banyaknya istighfar dan sedekah yang tertunaikan?

Untuk berkonsultasi dengan saya silakan melalui Facebook Messenger dan Whatsapp.

**

Catatan: Kisah-kisah sejenis dapat dibaca secara lengkap dalam buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Buku ini  terbit pada Februari 2020 dan pada saat ini telah memasuki Cetakan Kelima.

Untuk membaca sinopsisnya silakan mengeklik tautan berikut: laman ini.

Untuk pemesanan buku silakan kunjungi: https://linktr.ee/RizaAlmanfaluthi

 

WhatsApp Image 2020-05-03 at 10.47.59.jpeg

Terkait artikel ini JANGAN LUPA baca juga yang ini:

ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI

SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA

Kisah Nyata: Ini Dia 7 Ikhtiar Dalam 7 Tahun untuk Mendapatkan Momongan

DUA PULUH TUJUH TAHUN MENANTI, AKHIRNYA HAMIL JUGA

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

Maraji’:

1) Musnad Abi Hanifah, syarah Mulia Ali al-Qari dalam Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam; Keajaiban Sedekah & Istighfar

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

30 Agustus 2012

Sumber Gambar diambil dari sini.

Diunggah pertama kali untuk: Citizen Fimadani

Tags: Zakariya, Moh. Fauzil Adhim, Jabir bin Abdullah, Abu Hanifah, Musnad Abi Hanifah, Sedekah, istighfar,

MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA PUASA QADHA ADALAH KESALAHAN?


MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA PUASA QADHA

ADALAH KESALAHAN?

 

Islamedia
Zaman sekarang orang begitu mudahnya menyalah-nyalahkan yang lain dalam melakukan suatu ibadah. Apalagi kalau tidak sesuai dengan perkataan ustadz, syaikh atau kyainya. Dirinya yang benar yang lain salah. Padahal pada masalah fikih ini sudah jelas-jelas telah disediakan ruang perbedaan di dalamnya.

Salah satunya adalah pada masalah mana yang didahulukan antara puasa Syawal dengan puasa qadha. Dalam sebuah artikelnya Muhammad Abduh Tuasikal langsung menghakimi salah kepada sebagian wanita yang langsung memulai puasa syawalnya daripada puasa qadhanya. Langsung juga melarang dan menganggapnya sebagai perbuatan sia-sia, tanpa pahala yang didapat.

Ketika saya tanya kepada teman diskusi tentang dalilnya kesalahan mendahulukan puasa Syawal daripada puasa qadha maka ada tiga dalil sama persis seperti yang diketengahkan Muhammad Abduh Tuasikal sebagai berikut:

Dalil Pertama:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Dalil Kedua:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

Tidaklah hambaku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib hingga aku mencintainya” (HR. Bukhari no. 6502)

Dalil Ketiga:

Sa’id bin Al Musayyib berkata mengenai puasa sepuluh hari (di bulan Dzulhijjah),

لاَ يَصْلُحُ حَتَّى يَبْدَأَ بِرَمَضَانَ

Tidaklah layak melakukannya sampai memulainya terlebih dahulu dengan mengqodho’ puasa Ramadhan.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Dalil pertama semua sudah sepakat bahwa dalil itu adalah dalil tentang anjuran dan keutamaan puasa enam hari di bulan syawal. It’s Ok. Tetapi ketiga-tiganya itu tidak menunjuk secara khusus adanya larangan mendahulukan berpuasa sunnah Syawal daripada puasa qadha Ramadhan. Sebagaimana juga tidak ada dalil khususnya tentang larangan mendahulukan puasa qadha daripada puasa Syawal.

Ulama yang membolehkan mendahulukan puasa syawal tidak memakai dalil yang kedua yaitu hadits qudsi itu sebagai pelarangan mendahulukan puasa sunnah. Lengkapnya dalil kedua ini sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan sunnat-sunnat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pandangan yang untuk mendengarnya, penglihatan yang untuk melihatnya, tangan yang untuk menamparnya dan kaki yang untuk berjalan olehnya. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberinya. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti kebimbanganKu terhadap jiwa hambaKu yang beriman yang mana ia tidak senang mati sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadapnya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

 

Dalil yang dipakai dalam pembolehan ini adalah dalil Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyebutkan:

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

Aku dahulu masih punya utang puasa dan aku tidak mampu melunasinya selain pada bulan Sya’ban“(HR. Bukhari no. 1950).

Artinya apa? Ulama menafsirkan masih dimungkinkannya untuk membayar puasa Ramadhan sampai bulan Sya’ban sebelum Ramadhan berikutnya. Syari’at memberi ruang keleluasaannya bagi mereka yang punya udzur untuk mengqadha setelah bulan Syawal. Atau dengan kata lain seseorang bisa mengambil jalan tengah untuk bersegera mengambil puasa Syawal dan setelah itu bersegera melaksanakan puasa qadha tanpa tunggu apa-apa lagi.

Walau ada juga ulama lain yang menafsirkan bahwa Aisyah melakukannya karena sibuk mengurus Baginda Kanjeng Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lagi-lagi ini kembali bagaimana para ulama memahami dan mengambil hadits ini sebagai landasan hukum suatu peribadatan. Dan yang perlu diingat Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak pernah tahu sampai kapan beliau masih hidup dan akan meninggal.

Sedang dalil yang ketiga ini adalah kaitannya dengan puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah bukan puasa Syawal. Kalau ada yang mengatakan bahwa dalil ini bisa dikaitkan dengan puasa syawal karena sama-sama puasa sunnah maka ini dikembalikan lagi kepada tafsir ulama memahami dalil ini. Sebagian ulama memakai dalil ini dan sebagian lainnya tidak. Bukankah yang biasanya kaku itu sering memakai dalil khusus untuk menghukumi sesuatu? Yang dari Sa’id bin Musayyib bukan dalil khusus.

Yang terpenting adalah saya yang juga sebagai penuntut ilmu meminta dengan sangat untuk diterangkan dan dipahamkan apakah yang dari Sa’id bin Musayyib ini merupakan perkataan Nabi atau merupakan perkataan Sa’id bin Musayyib sendiri yang merupakan tabi’in senior di zamannya. Seringkali yang awam seperti saya ini sering kecele kalau setiap yang dari Bukhari adalah hadits Nabi.

Kalau saya lihat, dalil itu bukan hadits Nabi karena Muhammad Abduh Tuasikal pada hadits Bukhari lainnya mampu menyebut HR (hadits riwayat) Bukhari dan mencantumkan nomor haditsnya. Dalil itu menurut saya yang bodoh ini merupakan ijtihad dari Sa’id bin Musayyib sendiri yang dikenal sebagai ulama yang mumpuni. (Soal ini saya serahkan kepada para ahlinya).

Muhammad Abduh Tuasikal juga menulis dalam artikelnya bahwa untuk mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh, puasa Ramadhan haruslah
dirampungkan secara sempurna, baru diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Dalilnya? Enggak ada. Lagi-lagi ini
adalah ijtihad yang ulama lain pun bisa mengambil ijtihad yang berbeda. Benar dapat dua pahala, salah dapat satu pahala.

Jika ada yang mengatakan bahwa tidaklah mengapa wanita tidak melaksanakan ibadah sunnah ini karena masih banyak ibadah utama lainnya yang tidak dapat dikerjakan oleh laki-laki, kita kembalikan kepada hukum awal daripada puasa enam hari di bulan Syawal yakni sunnah: dikerjakan dapat pahala, ditinggal tidak dapat apa-apa atau tidak berdosa. Laki-laki pun jika meninggalkan perbuatan sunnah ini juga tidak berdosa. Tetapi saya katakan: baik perempuan ataupun laki-laki yang meninggalkannya sayang saja atau rugi, karena ia tidak mendapatkan pahala mengikuti sunnah nabi dan pahala puasa setahun penuhnya.

Bagi saya tidak masalah orang mau mengambil yang mana. Apakah dia mau mengambil puasa Syawal dahulu atau puasa qadhanya? Semua punya dalil masing-masing. Mana yang lebih kuat? Subyektif jawabnya. Ulama lain menganggap bahwa bolehnya puasa Syawal didahulukan daripada puasa qadha didukung dalil yang kuat tetapi itu belum tentu kuat buat ulama yang lain. Sebagaimana ada ahli hadits yang menguatkan satu hadits tetapi ulama lain melemahkan hadits tersebut.

Yang masalah bagi saya adalah pada yang menyalah-nyalahkan satu sama lain bahkan sampai menganggap sebagai perbuatan yang sia-sia tanpa pahala sedikitpun. Terlalu berani. Padahal dalam masalah ini—mengutip Ahmad Sarwat—tak satupun yang melanggar batas halal haram ataupun wilayah akidah.

    Saya jadi ingat perkataan seorang ulama yang mengatakan: “Para ulama adalah orang-orang dengan keluwesan (tawsi’a). Mereka yang berfatwa tidak pernah berhenti untuk berbeda, sehingga seorang membolehkan sesuatu, sedangkan yang lainnya melarangnya, tanpa menyalah-nyalahkan yang lainnya ketika dia tahu pendapat lainnya.”

Wallaahua’lam bishshowab.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita semua.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

yang senantiasa berusaha keras sama antara kata dan laku

13:44 23 Agustus 2012

Dimuat di Islamedia tanggal 23 Agustus 2012

 

Tags: muhammad abduh tuasikal, puasa syawal, puasa qadha, mendahulukan puasa qadha daripada puasa syawal, mendahulukan puasa syawal daripada puasa qadha, ahmad sarwat, sa’id bin musayyib,

HAMPIR DUA TAHUN


HAMPIR DUA TAHUN

Hampir dua tahun lalu kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang mengakibatkan 34 korban jiwa dan puluhan lainnya luka berat ataupun ringan. Kecelakaan maut antara kereta api (KA) Eksekutif Argo Bromo Anggrek dengan KA Senja Utama, Sabtu (5/10/2010) di Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah.

Semuanya menyisakan kesedihan yang mendalam, terutama bagi kami di Direktorat Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak. Karena salah satu korban tersebut adalah teman kami yang bernama Nanang Supriyanto.

Ia seperti biasa, di hari jum’at itu dan setelah sepekan atau dua pekan bekerja di Jakarta, menggunakan KA Senja Utama untuk pulang ke Semarang karena istri dan dua orang anaknya tinggal di sana. Tetapi takdir kematian menjemputnya sebelum bertemu dengan keluarganya itu.

Kami hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan tempat yang terbaik buat sosok baik ini, memberikan ampunan kepadanya, dan memasukkan beliau ke tempat orang-orang shalih berada selayaknya.

Dan seperti biasa teman-teman di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi menjelang hari lebaran 1433 Hijriah ini menunjukkan empatinya yang luar biasa dengan mengirimkan bingkisan kepada anak-anak Mas Nanang. Mungkin ini tak seberapa. Tetapi ada sebuah pesan terkirim dan terunggah: bahwa kami senantiasa mengingatnya. Ada silaturahim yang harus dijaga. Ada jiwa-jiwa yang harus disayang. Ada trauma yang harus dihilangkan. Ada gembira serta bahagia yang harus disemai. Ada cinta yang harus ditumbuhkan. Tahadu tahabbu. Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencinta.

Ini bukan apologi purba tapi tulus dari garputala rasa yang didentingkan dari hati yang paling dalam. Semoga bisa diterima.

Teruntuk:

Ananda Nadia Sifa Khoirunisa dan Ananda Huwaida Rana Khoirunisa

Anak-anakku…

Apa kabarnya?

Semoga bulan ramadhan ini membawakan keberkahan yang banyak untuk kita semua. Sebentar lagi lebaran akan tiba. Semoga pula di waktu itu akan selalu banyak kebahagiaan yang dirasa. Sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh Abi di sana karena banyaknya doa yang terlantun dari kalian.

Allaahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa Robbayani Shaghiira…

(Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa orang tuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi aku di waktu kecil.)

Sebagaimana kebahagiaan yang dirasa Ummi karena melihat kalian tumbuh besar menjadi anak-anak yang sholihat, sehat, dan cerdas.

Tetaplah menjadi yang terindah di mata Ummi, Nak…

Tetaplah menjadi penyejuk mata Ummi, Nak…

Tetaplah selalu mendoakan Abi dan Ummi, Nak…

Anak-anakku…

Senantiasa bergembiralah di lebaran ‘Id seiring takbir yang berkumandang di langit.

Kami pun bergembira melihat kalian bergembira.

Kami pun bahagia melihat kalian bahagia.

Dari kami:

Teman-teman Abi

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

hanya ini yang bisa ada di ramadhan

08:21 15 Agustus 2012

Terima kasih kepada teman-teman Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi atas laku filantropinya. Kearifan yang laik sekali untuk ditiru oleh mereka yang memiliki maruah sebagai manusia bumi.

HARUS SAKIT DULU UNTUK BISA MAKAN BUAH?


HARUS SAKIT DULU UNTUK BISA MAKAN BUAH?

 

Tidak terlalu lama setelah menghitung betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada saya dan betapa bedanya saya dengan manusia mulia yang bernama Ayub itu, Allah benar-benar memberikan rasa sakit itu kepada saya.

    Senin malam saya merasakan sesuatu yang kembali sering mendera beberapa bulan terakhir ini. Ada yang bergolak di lambung. Seperti sayatan pisau yang menghunjam di dinding-dindingnya. Saya paksakan untuk tidur berharap agar di pagi harinya rasa sakit itu hilang.

    Ternyata tidak. Tetapi saya memaksakan untuk tetap berangkat ke kantor. Nanti sampai di sana, sebelum berangkat ke Pengadilan Pajak, saya pergi dulu ke klinik untuk memeriksakannya ke dokter jaga dan meminta obat.

    Tetapi obat itu masih belum mampu untuk segera menghilangkan rasa sakit yang semakin menggila. Saya angkat tangan. Saya minta izin untuk pulang. Perjalanan dari stasiun Gambir sampai Citayam benar-benar sebuah perjalanan yang terasa lama sekali. Berdiri setengah limbung dengan mual dan rasa ingin muntah yang menghebat. Tapi saya bertahan agar tidak ada cairan yang keluar yang akan menghebohkan satu gerbong kereta itu.

    Sampai di rumah terbuanglah segalanya dan setelah itu meringkuk dengan merapatkan lutut ke dada menjadi salah satu cara untuk dapat meringankan rasa sakit, walaupun ternyata tak berefek sama sekali. Otomatis selasa siang itu sampai pagi rabu menjadi hari dan malam yang tidak bisa membuat mata terpejam.

    Rabu siang saya tidak tahan. Saya pergi ke dokter yang saya pernah kunjungi dua bulan sebelumnya dan Alhamdulillah obatnya mampu menghilangkan sakit itu. Tetapi ternyata dia angkat tangan juga kali ini. “Ini sudah tidak bisa ditangani lagi. Jangan sampai menunggu sore atau malam, segera pergi ke rumah sakit,” katanya. Saya terperanjat. Seumur hidup saya tidak pernah sakit dan dirawat di rumah sakit. Apakah ini sudah saatnya?

    Sorenya saat istri pulang cepat mendengar berita ini, kami segera pergi ke rumah sakit yang dulu pernah merawat bapak. Ternyata selama hampir satu jam, saya tidak ditangani segera di UGD karena kamar yang penuh dan biaya administrasi yang harus dipenuhi sebesar belasan juta dalam waktu sesegera mungkin. Apalagi sudah divonis operasi karena perut yang sudah tegang. Saya putuskan pindah penanganan ke rumah sakit yang lain.

    RSUD Pasar Rebo menjadi pilihan. Jam setengah delapan malam kami tiba di sana. Dan tanpa basa-basi langsung ditangani. Dicek tensi, diajak dialog oleh dokter muda untuk didiagnosa penyakitnya, diambil darahnya, diberi obat melalui (maaf) dubur, diberikan cairan infus, dimasukkan selang ke lambung (NGT), dirontgen abdomen, dan kesimpulannya adalah suspect ileus. Penyumbatan usus.

    Besoknya, hari kamis, saya diambil darahnya kembali, di USG, dan dirontgen pada bagian dada. Diagnosa terakhir dari dokter adalah saya mengalami dispepsia tetapi tidak perlu dioperasi. Pengertian dispepsia lebih tepatnya bisa dicari di google. Tapi dalam bahasa awamnya adalah gangguan pencernaan yang menyebabkan rasa sakit di sekitar perut, mual, kembung, bersendawa, tidak bisa buang air besar, atau buang angin.

    Saya harus puasa. Cairan yang keluar dari lambung awalnya berwarna oranye, setelahnya hijau bercampur warna hitam, dan pada jum’at pagi sudah berwarna putih. Ini berarti lambung sudah mulai beranjak membaik walau kerja usus masih belum terlihat karena tidak adanya bising usus. Tetapi saya sudah diperbolehkan minum dan makan.

Benar-benar dah. Sejak rabu sore sampai jum’at pagi, saya tidak diperbolehkan makan dan minum. Itu membuat saya merasakan betapa nikmatnya kalau saya bisa minum satu gelas air putih dan memasukkan satu suap nasi ke dalam mulut.

Inilah yang membuat sejarah. Apa? Karena pada hari jum’at (15/6) siang saya merasakan ternyata buah melon itu enak sekali. Saya memang tidak suka semua buah sedari kecil.Saya selalu merasa jijik kalau melihat buah. Terkecuali apel yang mulai belajar memakannya sejak tahun 1997. Itu pun makannya harus di rumah karena kebersihannya terjamin. Enaknya melon yang selama ini dirasa hanya melalui ekstraknya dalam minuman, sekarang bisa dinikmati langsung oleh mulut saya. Sorenya saya diberi pepaya. Dan syukurnya pula saya dapat menelan buah itu.

Memang disadari hal terbesar yang mendorong saya untuk memakan sesuatu yang tidak saya suka dalam hidup saya itu dikarenakan lapar dan keinginan agar bisa buang air besar dengan lancar. Dan untuk saat ini cukup tiga jenis buah dulu itu yang bisa masuk dalam pencernaan saya tanpa saya harus memuntahkannya kembali. Dengan berharap di suatu masa akan bertambah pula perbendaharaan jenis buah yang bisa saya makan. Untuk kesehatan. Semata-mata. Tetapi pertanyaan yang mengganjal adalah apakah harus sakit dulu agar bisa makan buah? Tentu tidak ah.

Selasa di pekan selanjutnya, saya minta pulang kepada dokter spesialis penyakit dalam yang memeriksa saya walau masih ada sedikit rasa sakit dan kembung, tetapi bising ususnya sudah terdengar. Dokter mengizinkan.

Enam hari sudah saya berada di rumah sakit. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Yang paling utama adalah sakit membuat ibadah tidak bisa optimal. Tidak bisa kerja. Tidak bisa berbuat apa-apa. Pantesan banyak ustadz bilang kalau nikmat sehat itu nikmat Allah yang berharga sekali.

Hal lainnya adalah saya harus mengubah pola hidup terutama pola makan. Pedas-pedas adalah hal pertama yang harus disingkirkan. Karena selama ini kalau makan tanpa sambal pedas itu seperti makan sayur tanpa garam.

Dan saya ingat betul, kalau maag saya sedang mampir, maka dapat dipastikan kalau selama satu minggu ke belakang itu saya tidak bisa menjaga apa yang dimakan. Pedasnya gila-gilaan, makan bebek pedas, pecel lele pedas, mi rebus dengan saus pedas, gorengan dan plus sambal kacang pedas, dan lain-lainnya. Sekarang semua itu harus ditinggalkan. Bisakah saya bertahan? Insya Allah.

Dan yang kedua saya kudu bisa menjaga jadwal dan ritme makan saya agar tidak telat makan. Kata dokter sih bilang kalau makan jangan banyak-banyak melainkan sedikit-sedikit tetapi sering.

Sekarang saya juga harus pilih-pilih makanan. Pertanyaannya sederhana, “baikkah ini buat lambung saya?” Pokoknya bahan makanan yang mengandung gas dan asam juga perlu dijauhi seperti brokoli, kol, sawi, permen karet, gorengan, cokelat, lemak, susu full cream, masakan dengan bumbu yang menyengat, durian dan nangka (ini mah memang dari dulu enggak doyan), minuman yang bersoda, kopi, saus pempek dan martabak.

Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga nikmat makan yang Allah cabut dari saya. Sedih juga. Tapi tak apa-apalah. Yang terpenting Allah ganti dengan nikmat yang lain dan jangan sampai nikmat rasa kasih sayang, rahmat, dan keberkahan Allah yang dicabut dari saya. Dunia dan akhirat. Semoga tidak.

Terima kasih kepada teman dan saudara yang telah menjenguk atau mendoakan kesembuhan buat saya. Semoga Allah memberikan banyak keberkahan kepada Anda semua.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

04.42 30 Juni 2012

Gambar dari sini.

Tags: rsud pasar rebo, ngt, makanan yang dijauhi saat maag, lambung, maag, dispepsia,

    
 

    

    

SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU


SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU

 

Islamedia Jum’at, pada sebuah khutbah yang membuat air mata jatuh. Paradok dengan sengatan matahari yang menggigit karena saya kebagian tempat di bagian luar masjid. Terkisahkan kembali cerita yang menjadi abadi dan teramat sangat bagus untuk dibagi kepada semua. Cerita itu sudah saya dengar sejak dari kecil tapi seperti baru ketika disampaikan sang khothib.

Ada seorang manusia yang kaya raya, hidupnya bahagia dan tenteram, dengan anak-anak dan istrinya yang taat kepada Tuhannya. Sudah tajir sholeh lagi. Dan Allah mengujinya satu persatu dengan berbagai musibah, akankah ia tetap taat dalam keimanannya?

Bagaimana Allah uji manusia baik dan selalu bersyukur itu? Pertama, Allah cabut kekayaannya. Kalau zaman sekarang mah mulai harta berupa hp, mobil, emas, rumah mewah, kebun sawit, peternakan kuda, dan saham-sahamnya ludes enggak karuan. Bangkrut semua bisnisnya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kedua, Allah uji iman manusia itu dengan mengambil jiwa semua anak yang dicintainya. Coba bayangkan satu anak kita yang sedang lucu-lucunya, yang sedang tumbuh-tumbuhnya diambil kembali oleh Allah. Kita sudah sedih bukan main rasanya. Tapi manusia ini diuji imannya dengan diambil seluruh anak-anaknya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Ketiga, tidak berhenti sampai di situ Allah uji kembali manusia itu dengan mengambil kesehatannya. Tiada yang sehat seluruh anggota tubuhnya melainkan hati dan lisannya. Sampai-sampai semua keluarganya menjauh karena takut tertulari. Bahkan istrinya yang sehat pun dikucilkan pula. Lengkap sudah penderitaan manusia ini. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Jiwanya tidak terguncang. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kekayaannya dicabut, dimiskinkan permanen. Anak-anaknya dimatikan. Dan tubuhnya disakitkan selama 18 tahun. Kalau saja manusia itu adalah saya, tak tahulah apa yang terjadi. Tapi sungguh cerita ini menjadi keteladanan bagi umat manusia yang beriman. Dan manusia itu adalah Ayub As.

Sabtu, pada suatu dhuha yang hangat, dengan mengendarai mobil menyusuri jalanan lengang komplek Pemda Cibinong, dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya saya mencoba menghitung kembali nikmat yang saya rasakan. Alhamdulillah sehat, alhamdulillah dengan istri dan anak-anak yang masih lengkap, alhamdulillah juga masih bisa ibadah walau sedikit, alhamdulillah masih diberikan ketenangan. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Ahad, pada suatu petang, handphone itu tak ada di saku. Saya panik dan segera mencarinya. Jantung berdegup kencang tak seperti genderang perang. Saya segera mengingat-ingat tempat yang baru dilewati. Di tempat parkir barusan? Di musholla? Di sepanjang koridor menuju ruang utama? Di tempat makan? Atau di mana?

Alamaak!! Hp yang satunya ketiadaan pulsa. Niatnya untuk ngebel hp yang hilang itu dan ini berarti saya harus pinjam hp teman. Sedangkan teman-teman pada jam menjelang isya ini kebanyakan sudah kumpul di ruangan utama. Bergegas saya ke sana. Menemui teman dan meminjam hpnya. Belum juga dering kedua berbunyi mata saya tertumbuk pada sebuah meja makan. Dan benda warna hitam itu masih anteng di sana. Pfffhtt…

Hp saya itu hp China. Jadul. Masih pakai tombol untuk pencet nomornya. Tidak touchscreen. Sudah bulukan. Itu pun dikasih sama teman. Enggak tahu apa masih laku kalau dijual. Nomornya pun bukan nomor cantik atau yang sudah diketahui banyak teman. Tapi itu saja sudah membuat saya seperti kehilangan sesuatu yang paling berarti, seperti kehilangan seluruh harta benda. Seperti enggak ikhlas. Ck…ck…ck… Ini tanda-tanda apa yah? Cinta dunia? Bisa jadi. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Dua tahun yang lalu di awal Juni, api membakar dan menghancurkan bagian atas rumah saya. Mengingat itu saya teringat perkataan Ishaq yang dikutip Aidh Al Qarni, “Barangkali Allah akan menguji seorang hamba dengan suatu malapetaka, tetapi kemudian menyelamatkannya dari kehancuran. Oleh sebab itu, sebenarnya malapetaka bisa menjadi karunia.” Insya Allah waktu itu saya mampu untuk tegar.

Saya memang bukan Ayub tapi berusaha untuk menjadi Ayub yang mampu menghadapi semua perusak kenikmatan dunia itu. Petaka lalu setidaknya memberikan banyak pelajaran kalau harta yang hampir hilang sebatas hp itu seharusnya tak membuat perhatian teralihkan dari mengingat Allah. Cukuplah Allah sebagai penolong untuk segala urusan. Kali ini saya tak setegar waktu itu, Yaa Rabb…

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Twitter: @rizaalmanfaluth

dedaunan di ranting cemara

03 Juni 2012

Sumber gambar: diambil dari Islamedia

Tags: ayub, pemda cibinong

NA ADONG HEPENG


NA ADONG HEPENG

 

Mau cerita saja kejadian hari kamis di pekan lalu. Pagi itu di depan pasar Citayam ban meletus. Doorrr!!! Saya kira ban motor orang lain. Ternyata ban belakang motor saya. Terasa ada yang berbeza. Terasa bergoyang.

Kejadiannya jam 05.37 pagi. Sedangkan jadwal Kereta Rel Listrik (KRL) pukul 05.45. Ya sudah saya dorong motor ke tempat penitipan motor. Untung tak jauh cuma 100 meter-an. Yang terpenting adalah menitipkan motor dulu. Naik KRL dulu. Ke kantor dulu. Absen dulu. Alhamdulillah tak telat. Tak jadi dipotong. Motor mah urusan belakangan.

Dua hari sebelumnya, seorang teman bercerita kalau ada Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ban motornya bocor. Lalu ia meninggalkan motornya sampai sore sama tukang tambal ban. Dianya kemana? Ke kantor. Kok meninggalkan motor dinas di abang tukang tambal ban? Semuanya demi absen.

Eh, ini kejadian pada saya. Tapi saya meninggalkannya di tempat penitipan motor. Pagi masih dimudahkan. Tapi sorenya harus ekstra kerja keras. Niatnya ngelembur karena banyak pekerjaan di kantor. Tapi tak jadi karena harus urus motor dulu. Takutnya nanti tak ada tukang tambal ban yang buka malam-malam.

Oleh karena itu jam lima sore langsung cabut. Sampai di Stasiun Citayam jam 18.15. Sholat dulu, lalu ke tempat parkiran. Ditawarkan pompa tangan untuk isi angin. Posssss… 1000 kali pompaan juga taka akan pernah bisa. Ban luar sobek karena sudah tipis. Berarti ada robekan besar di ban dalam.

Segera saya menuju ke tukang tambal ban. Ban luar dibuka. Betul juga ban dalamnya pecah sepanjang 3 cm. Saya pikir percuma kalau ditambal dengan ban luarnya yang masih sobek. Kudu beli ban luarnya juga. Saya tanya pada sang tukang berapa harga banya. “Seratus empat puluh limar ribu rupiah,” katanya.

Ngok… Duit di dompet cuma Rp 65 ribu. ATM pun jauh. Malas ambil duitnya. Jadi saya bilang ke Si Lae-nya: “Lae, simpan SIM saya ditambah Uang saya,mau? Besok saya bayar lunas.” Si Lae-nya diam saja. Geleng kepala. “Oh tak bisaaa,” katanya.

“Ya sudah ditambah KTP saya, bagaimana?”

Tetap saja dia tak mau. SIM ditambah KTP ditambah Rp 65 ribu, tetap tidak mau juga?

“STNK saja,” kata dia.

Ya sudah saya girang mendengarnya. Cek dompet. Pooosssss….Tak ada. Ngik.

“Yaaah gak ada Lae. Ketinggalan di rumah. Bagaimana kalau SIM, KTP, duit 65 Ribu ditambah hp saya?” Harga hp seken saya itu 10 kali lipat harga ban itu. Terlalu tinggi ya? Ya sudah 5 kali saja deh.

Ogah. Dia diam bae. Idealismenya tak bisa dibeli. Tik…tik…tik…gerimis jatuh. Saya memutuskan untuk menambal ban dalamnya saja. Mendengar putusan itu Si Lae-nya sudah merasa segan saja bawaannya.

“Tak bisa ditambal nih,” katanya. Saya ngotot, “sudah tambal saja, masih bisa kok.” Pada akhirnya dia menambal juga. Soor…soor…soor…suara hujan. Deras banget. Petir sambar-menyambar. Depan toko sudah tergenang air setinggi lutut bebek. “Lae, nanti yang bolongnya dilapis ban dalam bekas yah, ” kataku padanya.

Saat dia menambal ban, saya berpikir sampai tidak motor ini ke rumah. Minimal ke ATM dulu dan setelahnya sekalian ke bengkel beli ban luar. Si Lae menunggu tambalan matang menonton tv siaran langsung Inter Milan lawan Liga Selection. Saya berdiri menatap rinai hujan dan merenungi nasib. Merenungi kenapa Si Lae ini masih tak percaya sama saya. Hihihi tampang jenggot tak bisa jadi garansi.

Anehnya dingin-dingin begitu saya beli teh botol dingin. Haus. Walau ada air putih di tas. Sepuluh menit kemudian selesai penambalan.

“Berapa Lae?”

” 8000,” katanya.

Saya tak bisa pulang langsung karena hujan masih deras. Tulalit tulalit weeeks hp samsulku mati kehabisan daya. Lengkap sudah. Tersandera. Unconnecting people. Setengah jam lamanya saya menunggu hujan reda. Ternyata tak betah juga. Langsung saya ambil keputusan untuk menerobos rerimbunan hujan ini. Yang penting selamatkan dulu barang-barang elektronik di bawah jok. Saya tak bawa jas hujan. Tak pernah menyiapkan soalnya. Karena jarak rumah dengan stasiun dua kilo saja.

Setelah tas ransel kugendong dipunggung. Grung…pelan-pelan saya mengendarai motor. Duduknya juga tak bisa di tengah jok. Di ujung jok saja agar bebannya tak sampai ke ban belakang.

Tak pakai jas hujan. Tak pakai jaket. Tak pakai helm (jangan ditiru). Tak pakai topi. Pelan-pelan lagi. Telak banget hujan leluasa menyetubuhi saya. Maksud saya, hujan telak menguyupiku. Setelah 600 meter lewat saya mampir ke ATM. Berrrr… alat pendingin ATM bertiup menambah dingin yang saya rasakan. Ambil hepeng. “Lae, nih aku adong hepeng,” batinku.

Saya segera naik motor lagi dan menemukan bengkel. Ya sudah saya sekalian mampir. Yang terpenting menemukan ban luar dengan merek dan kualitas apapun. Harga ban denganmerek random yang tak jelas itu Rp150 ribu. Bisa kurang goceng kalau pasang sendiri. Ngok, memangnya saya punya alatnya apa? Jadi tetap tuh itu barang saya beli.

Lebih dari 15 menit Si Mas itu memasang ban. Tapi kayaknya 20 menit lebih deh. Di tengah pemasangan ban itu hujan mereda. Ehh pas selesai, baru menempelkan
tangan di stang motor, hujan kembali datang. Tapi tak apa, aku tetap harus menerobos hujan. Yang penting saya segera bisa sampai rumah.

Sekarang, dengan ban berperforma maksimal, saya bisa geber kecepatan. Herannya setiap saya tambah kecepatan, hujan pun semakin deras. Saya pun berkejaran dengan hujan. Semuanya basah. Sepatu basah. Baju basah. Kepala basah. Tas basah. Kuyup semua.

Sayang enggak ada rombongan penari di belakang saya. Dua puluh orangan begitu. Dan saya juga tak bawa tambur besar. Kalau ada kan saya bisa nyanyi India. Dung dung tak tak dung dung tak tak. Tum …namaste. Nyanyi apa yaaaah? Kasih tau enggak yaaa….? Pokoknya suasana mendukung banget buat setting film India. Tiang listrik dan pohon banyak.

Sedang membayangkan itu, motor sudah sampai di rumah. Tiiin…tiiin…klakson motor berbunyi. Pintu rumah dibuka. Langsung saya memasukkan motor ke dalam rumah. Apa yang terjadi setelah ini kawan? Kinan datang menyambutku. “Ujan-ujan ya Bi?” tanyanya. Ini dia foto Kinan di suatu hari:

Langsung lenyap capek saat melihatnya. Bahagia. Walau tampang saya tampang tak bisa dipercaya tapi wajah saya tetap disambut dengan gembira olehnya.

Jam setengah sembilan lebih saya sampai rumah. Ini berarti 3,5 jam dari kantor. Dan selesailah sudah timeline twitter yang saya buatkan narasinya ini. Cuma mau cerita saja.

Khattam.

 

Riza Almanfaluthi

dedauan di ranting cemara

ngetwit tanggal 25 Mei 2012

08.14 pagi.

 

Tags: citayam, lae, batak, kinan, shah rukh khan