Kenapa yang Pertama Iwojima?


image

Sebelumnya sudah kebayang nanti kalau sudah sampai di toko buku itu saya bisa sepuasnya beli setiap buku. Tapi pada kenyataannya tetap saja yang saya beli adalah buku-buku yang benar-benar akan saya habiskan untuk satu bulan ini.

Kemarin Ayyash sudah saya bebaskan untuk beli apa saja. Eh dia cuma beli komik Naruto edisi terakhir. Dan beli mainan congklak atawa dakon atawa mancala yang dikombinasi dengan permainan kayak scrabble. Harganya diskon 50%. Kinan bagaimana?

Kinan sudah uring-uringan tak mau ke toko buku itu. Enggak ding. Awalnya mau eh pas lewat suatu mal berubah haluan dah niatnya untuk ke toko buku. Pengennya ke tempat bermain yang ada di mal itu. Tapi seberapa banyaknya tetesan airmatanya yang saya usap dari pipinya tetap tak menggoyangkan niat saya. 🙂 Maaf ya Nak…pan sudah pekan lalu kita mampir ke sana.

Setelah ngambeknya mereda seperti biasa dia jelajahi ruangan toko buku dan mengambil buku mewarnai dan buku latihan menempelkan stiker. Bahkan dia ambil tiga buku, lebih banyak daripada yang diambil kakaknya.

Beberapa buku terjemah juz 30 diambil Ummu Haqi, istri saya yang bernama Ria Dewi Ambarwati ini. Cuma itu bae. Tak ada yang lain. My beloved rose ini sudah sibuk jaga Kinan yang kemana-mana jadi tak sempat lihat-lihat buku secara mendalam.

Sekarang apa yang saya beli? Sudah saya twitkan kemarin kalau saya menemukan bukunya Malcolm Gladwell di toko buku itu. Saya tahu Malcolm Gladwell semasa saya menerima hadiah dari Direktorat Jenderal Pajak saat memenangkan juara pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Tahun 2012. Dari beberapa hadiah yang saya terima itu ada buku judulnya Outliers. Ditulis oleh Gladwell itu. Langsung dah kepincut sama dia. Tak perlu berpikir dua kali untuk ambil What the Dog Saw. Eeh…pas mau bayar ketemu lagi sama bukunya yang lain: Blink. Saya Ambil juga.

Gladwell itu memberikan yang baru dalam memandang sesuatu. Cara dia bagaimana mendefinisikan sukses di Outliers itu bagus banget. Kisah-kisah nyata yang ditulis di sana dibuat dalam gaya jurnalistik investigatif. Sangat Menarik. Intinya: darinya saya mendapatkan banyak ilmu dan kisah baru. Begitu yah kalau orang sudah punya kualitas menulis yang bagus maka untuk buku selanjutnya bisa jadi jaminan mutu sampai saya borong semua bukunya.

Hal sama saat saya beli buku tentang Karmaka Surjaudaja, pendiri OCBC NISP yang berjudul Tidak Ada yang Tidak Bisa. Kalau buku itu tidak ditulis oleh Dahlan Iskan saya tak akan mungkin membelinya. Saya suka buku yang ditulis Dahlan Iskan karena cara berceritanya bagi saya yang kayak “ngedongengin”. Bikin semangat. Bikin tumbuh banyak harapan.

Dua buku lain adalah tentang Perang Dunia II. Pertempuran di salah satu “hotspot”nya: Samudra Pasifik. Saat prajurit Amerika merebut Guadalcanal dan Iwojima dari tangan serdadu Jepang penguasa pulau pada waktu itu. Saya sudah punya film dokumenter perebutan Iwojima itu. Nah saya ingin melengkapi kajian pertempuran tersadis yang pernah ada ini dari bukunya.

Buku terakhir adalah buku seputar rahasia dan skandal yang pernah terjadi di Vatikan yang dilakukan para pausnya. Sejak awal berdirinya Vatikan sampai sekarang. Harganya didiskon hingga cuma Rp27 ribu kurang sedikit.

Nah itu beberapa buku yang saya beli di bulan ini. Dan saya yakin buku-buku itu adalah buku-buku yang bisa saya baca sampai khattam. Serta manfaat buat saya. Buat apa? Yakni untuk memenuhi dahaga intelektualitas (jiaaa…) saya, menghilangkan lapar kepenasaran saya tentang sejarah dunia, dan menyerap ilmu cara menulis yang baik.

Dan ngomong-ngomong tahu tidak, dari semua buku itu buku apa yang pertama kali saya baca? Tepat sekali… Iwojima 1945. Jangan tanya kenapanya. Karena tidak semua harus ditanyakan dengan kata “why”.

Sekian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara.

Ummulqura, Bogor.

Ditulis pada smartphone pada program thinkfree.

11.20 16 Desember 2012

HAJI KHOIR DAN SANG BANGOR


HAJI KHOIR DAN SANG BANGOR

clip_image001

 

 

Gedoran keras di pintu kamar itu membuat saya terbangun. “Bangun! bangun! Siap-siap Shubuh!” teriak paman saya. Dengan malas saya bangkit dari ranjang besi dan melongokkan kepala sambil teriak, “Iya Liiik!”

Setelah tahu kalau saya sudah bangun, maka ia beranjak pergi ke musholla tua untuk adzan. Saya yang juga tahu kalau ia sudah pergi, maka saya datangi kembali kasur untuk saya dengkuri. Tapi itu tak lama, karena bibi sudah datang menggedor, “Bangun Za! Bangun!”

Itu berarti titah tak terbantahkan. Saya pun ke kamar mandi, ambil wudhu, dan pergi ke musholla. Shubuh dilakoni dengan mata terpejam, dengan kantuk yang luar biasa akibat begadang. Maklum, karena semalam belajar matematika habis-habisan.

Setelah sholat shubuh saya punya tugas yang tak bisa dialihkan kepada siapa-siapa. Saya hampiri bibi yang tengah memasak nasi dengan kayu bakar. “Nih uangnya. Beli tahu dan tempe seperti biasa,” katanya sambil menyodorkan gumpalan uang lusuh dari dompet kecilnya. Saya terima uangnya dan mengambil sepeda ontel tua yang masih enak dipakai itu.

Saya pergi ke warung yang jaraknya 500 meter dari rumah bibi. Bibi memang jualan nasi yang dicampur dengan oreg. Tahu dan tempe goreng menjadi teman yang enak buat nasinya. Saya kesengsem sama tahu dan tempe gorengnya itu. Setelah dari warung saya harus mengisi bak kamar mandi yang ukurannya tiga meter kubik. Biasanya pada timbaan yang keseratus bak kamar mandi sudah penuh. Dan itulah aktivitas saya di pagi hari selama tiga tahun di rumah bibi, waktu masih di SMA. Antara tahun 1991 sampai dengan 1994 yang lampau.

Bibi saya ini sebenarnya saudara jauh sepupu Bapak. Tetapi karena berdasarkan catatan nasab keluarga besar, bahwa keluarga Bapak itu termasuk yang paling tua, maka saya tidak memanggil bibi—yang umurnya bahkan jauh lebih tua daripada Bapak—dengan panggilan uwak. Dalam keseharian saya juga sebenarnya tidak memanggil beliau dengan sebutan Bibi, tapi memanggilnya dengan sebutan Mimi. Mimi itu panggilan khas masyarakat Cirebon, panggilan anak kepada ibunya.

Kepada suaminya yang bernama Haji Khoir, saya tetap memanggilnya Lik (paman). Tubuh lelaki ini sudah membungkuk sebagai pertanda usia yang telah sepuh. Dia adalah guru ngaji saya setiap bakda isya setiap harinya. Mengaji kitab kuning. Salah satunya kitab safinatunnajah. Tapi khusus malam minggu ada liburnya karena beliau pergi ke pesantren Kempek, pergi ke komunitasnya untuk ngaji bareng lagi belajar kitab. Walau sudah tua semangat menuntut ilmunya juga masih tinggi.

Aktivitas bakda maghrib saya saat itu adalah belajar mengaji Alqur’an pada anaknya—ini berarti sepupu saya—yang sudah hafidz 30 juz. Kepada semua muridnya dipersyaratkan seperti ini: untuk bisa membaca kitab Alqur’an yang tebal itu—yang merupakan prestise dan level pembeda—semua muridnya harus hafal juz 30 terlebih dahulu. Mulai dari surat Alfatihah , Annaas, sampai surat Annaba.

Kalau sudah hafal Annaba lalu sudah boleh pegang Alqur’an begitu? Tidak. Harus kembali diperdengarkan (disimak) kepadanya dari Annaba sampai ke Annaas, dan Alfatihah. Satu hari satu surat. Kalau ada bacaannya yang masih salah jangan harap berpindah surat untuk esok harinya. Alfatihah saja lama banget untuk pindahnya. Butuh waktu satu bulan supaya melafalkan alfatihah dengan benar.

Ohya jangan lupa, tongkat rotannya siap menghantam paha kalau kita salah. Padahal yang tasmi’ kepadanya tidak satu orang dalam waktu bersamaan melainkan bisa sampai empat orang. Tapi kok ia tahu saja kalau saya salah lidah. Kayaknya ia punya telinga banyak deh. Enggak hanya dua. Dan tahukah kalian, dalam tiga tahun itu saya ‘sukses’ enggak pernah pindah ke Alqur’an. Masih saja menghafal juz 30. Kalah sama anak SD.

“Za, pergi ke kebun sana. Ambil setandan pisang,” kata Lik Haji pada sebuah siang. Saya ambil dan kayuh sepeda ontel kesayangannya yang berat tapi mantap itu. Sepertinya saya juga sudah sejiwa dengan sepeda itu karena ketika saya mengayuhnya saya sampai bisa lepas tangan tak pegang kemudi, jauh dan lama.

Sepeda itulah yang selalu nemenin saya pergi ke komplek perumahan pabrik semen untuk main basket, atau pergi ke Kempek setiap malam minggunya, bukan untuk ke pesantrennya, tapi untuk “main”. You know-lah.

Yang saya ingat dari diri Lik Haji ini adalah pesannya saat kami mengaji kitab di musholla, di suatu malam, di bawah lampu bohlam lima watt yang temaram, kepada dua muridnya ini, saya dan teman saya. “Jangan buku pelajaran umum saja yang dipelajari, tapi kitab juga kudu dibuka. Kudu dibaca. Buku umum saja yang bisa sampai rusak karena sering dibaca, tapi kalau kitab kuning bukunya bagus terus karena tak pernah tersentuh, tak pernah dibuka-buka.” Sebuah pesan kuno tapi benar yang hari ini kalah dan takluk dengan semarak gaya hedonisme yang abai pada hal-hal transendental.

Pesan itu memang ditujukan buat saya dan untuk menyindir saya. Karena pada saat itu—ditengah bangor dan badegnya (baca: kebandelan) saya—beliau selalu melihat saya rajin belajar, selalu buka-buka dan membaca buku pelajaran. Tapi tidak untuk kitab kuning. Kalau dalam pemahaman saya waktu itu, inti pesannya adalah: sebaiknya buku pelajaran itu ditinggal saja. Biar fokus ngaji kitab kuning belaka.

Belasan tahun kemudian salah satu cucunya bisa diterima di STAN, yang saya yakini betul kalau cucunya ini selalu rajin belajar, selalu buka-buka dan membaca buku pelajaran. Kalau tidak? Enggak akan mungkin diterima di almamater saya itu.

**

Rabu pukul 20.41. Kecipak air tanda pesan japri Whatsapp masuk terdengar. Dari Ma’am, cucu Lik Haji Khoir yang telah ditempatkan di salah satu kantor pelayanan pajak di Sumatera sana.

“Assalaamu’alaikum wrwb ang rija.”

“Maap wasap bengi2, nembe kelingan ngupai kabar.”

“Mama tuwa tutup yuswa mau awan.”

Deg…Innalillaahi wainnaailaihi rooji’uun. Pesan yang mengagetkan. Paman saya, guru ngaji saya, telah berpulang ke Rahmatullah siang tadi dalam umur 87 tahun. Saya segera menelepon Bapaknya Ma’am dan meminta maaf karena tak bisa datang. Darinya saya mengetahui kalau penguburan dilangsungkan bakda isya tadi. Insya Allah khusnul khotimah. Akhir yang baik buat Lik Haji Khoir yang meninggal dengan wajah tersenyum bercahaya serta jasad yang mewangi berdasarkan persaksian banyak orang.

Saya cuma bisa berdoa semoga Lik Haji Khoir diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt, dilapangkan kuburnya, ditemani dengan amal baiknya, dan diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah swt. Insya Allah ada pahala yang selalu mengalir karena ada ilmu yang bermanfaat yang telah diwariskan kepada saya dulu. Ya Rabb, kabulkanlah doa ini.

**

Terjemah:

“Assalaamu’alaikum wrwb Ang Riza.”

“Maaf WhatsApp malam-malam, baru teringat untuk memberi kabar.”

“Mama tua tutup usia tadi siang.”

*Mama tua panggilan Ma’am kepada kakeknya, Lik Haji Khoir.

*Bangor; badeg; bahasa sunda yang sepadan dengan bandel.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.30 13 Desember 2012

Gambar diambil dari situs ini.

Tags: bangor, badeg, bandel, haji khoir, stan, kantor pelayanan pajak, ma’am, ma’muroh, whatsapp, stan, safinatunnajah

BIAYA PENINGKATAN STATUS HAK GUNA BANGUNAN MENJADI HAK MILIK


BIAYA PENINGKATAN STATUS

HAK GUNA BANGUNAN MENJADI HAK MILIK

 

sertifikat tanah

 

Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

Harga yang harus dibayar untuk ongkos jasa Notaris dalam pengurusan menaikkan status sertifikat dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik sebesar Rp750 ribu terdengar biasa saja. Tapi yang mencengangkan adalah harga sebenarnya yang harus dibayar di Badan Pertanahan Nasional Cibinong.

Ceritanya begini, rumah kami ini jangka waktu cicilannya berakhir di tahun 2015. Ada rezeki datang di tahun 2012, maka kami putuskan untuk membayar lunas saja. Dari Bank Tabungan Negara saya mendapatkan sertifikat banyak dokumen antara lain Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB).

Tentu keinginan dari seluruh pemilik rumah adalah agar Sertifikat HGB tersebut berubah menjadi sertifikat Hak Milik. Maka saya pun segera mengurusnya. Pertama kali saya datangi Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Cibinong untuk mendapatkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan membayar sejumlah rupiah PBB yang harus saya bayar.

Singkat cerita, setelah urusan PBB selesai saya datang ke kantor notaris untuk mendapatkan informasi persyaratan apa saja yang harus dilengkapi dalam pengurusan penaikan status tersebut. Pun untuk mengetahui berapa ongkos pengurusannya.

Mendengar harganya sebesar itu saya datang langsung ke kantor BPN. Dalam kunjungan pertama ini saya mendapat informasi dari petugas helpdesk kalau biaya pengurusannya cukup hanya membayar Rp 500 ribuan. Di sana saya diberitahu dokumen apa saja yang harus dilengkapi.

Pada kunjungan kedua dengan dokumen lengkap saya datang ke BPN pada pukul 13.55. Dan ditolak karena waktu pelayanan sudah habis. Jadi saya ingatkan bagi Anda yang berurusan dengan loket BPN Cibinong bahwa jam pelayanan di sana hanya sampai pukul 14.00. Saya mengira jam pelayanannya sama dengan di kantor pajak yang melayani Wajib Pajak sampai pukul 17.00. Ternyata tidak.

Nah pada kunjungan ketiga inilah saya datang tepat pukul 10.45. Dengan membawa dokumen lengkap berupa:

1. Map dan Lembar Permohonan. Ini dibeli di Koperasi BPN Cibinong seharga Rp10 ribu. Di dalam map ada dua lembar dokumen yang harus diisi, yaitu lembar permohonan itu sendiri dan surat pernyataan dari pemohon. Siapkan satu materai untuk ditempel di surat pernyataan;

2. Sertifikat HGB asli;

3. Fotokopi IMB;

4. Fotokopi KTP;

5. Fotokopi SPPT PBB tahun terakhir.

Langsung saja menuju Loket Dua tempat penerimaan surat. Kalau tidak tahu, tanya satpam saja. Biasanya satpam juga tanya-tanya apa yang mau diurus dan buka-buka dokumen kita. Bilang saja sudah lengkap. Supaya urusan bisa lebih resmi dan cepat.

Setelah diterima saya diminta untuk menunggu. Hampir satu jam kemudian saya dipanggil dan saya menerima Blanko Pembayaran. Blanko ini harus diserahkan ke loket pembayaran untuk dimintakan tanda tangan dari Bendahara Penerimaan. Dan tentu saya harus membayar biaya perubahan hak dari HGB menjadi HM untuk RS/RSS hanya sebesar Rp50 ribu saja. What? Iya betul cuma Rp50 ribu saja. Saya juga heran kenapa cuma sebesar itu. Jauh sekali dari apa yang disebutkan oleh petugas helpdesk dan diminta notaris dulu.

Setelah dari loket pembayaran, saya segera kembali ke loket dua, loket penerimaan surat itu. Saya menyerahkan blanko pembayaran yang telah ditera Bendahara Penerimaan. Lalu saya mendapatkan dua lembar dokumen dari petugas, yaitu:

1. Tanda Terima Dokumen;

2. Bukti Pembayaran.

Dua dokumen ini jangan sampai hilang dan harus dibawa pada saat pengambilan sertifikat. Salinan atau fotokopi dokumen ini tidak dilayani.

Satu jam lebih sedikit urusan penyerahan dokumen permohonan ini selesai. Saya akan datang kembali satu bulan kemudian untuk pengambilan sertifikatnya sebagaimana Petugas Penerimaan Surat itu katakan kepada saya. Dan yang membuat saya masih geleng-geleng kepala selama perjalanan pulang itu adalah biayanya yang murah banget. Tapi saya tak tahu apakah nanti pada saat pengambilan dokumennya ada harga yang harus dibayar lagi?

Kita tunggu saja. Kita lihat saja.

Semoga bermanfaat.

TAMBAHAN:

Pada hari Rabu, 23 Januari 2013 saya datang ke BPN untuk mengambil sertifikat Hak Milik itu. Saya datang langsung ke loket “Penerimaan Sertifikat” lalu menyerahkan Tanda Terima asli. Saya disuruh menunggu. Tidak lama, dalam jangka waktu kurang lebih 5 menit saya dipanggil. Saya disodorkan formulir untuk ditandatangani. Formulir bukti bahwa saya telah menerima sertifikat tersebut. Dan kemudian saya diberi sertifikat lama di atas yang sudah dicoret tulisan Hak Guna Bangunannya diganti dengan Hak Milik. Selesai sudah.

TIDAK ADA BIAYA SAMA SEKALI. PELAYANAN CEPAT.

Itu saja informasi tambahannya. Semoga bermanfaat. Kita tunggu dan kita lihatnya sudah terjawab. Terima kasih semoga bermanfaat.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08.48 08 Desember 2012

Sumber gambar dari sini

 

BACA JUGA:

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

MENGURUS PENINGKATAN STATUS HGB KE HM DI BPN JAKARTA SELATAN

DIPELUKMU, ADA SAYANG YANG ABADI


DIPELUKMU, ADA SAYANG YANG ABADI

 

HuG_by_1uno

 

Anak itu gagal mendapatkan bintang biru sebagai tiket ke Jakarta dalam ajang audisi Idola Cilik 2012. Tangis yang menyertainya tidak meluluhlantakkan hati seorang ibu untuk menghiburnya, untuk memeluknya. Yang ada adalah kemarahan dan kekesalan yang ditumpahkan pada sang anak. “Kamu sih…salah kostum.”

Sang suami kecewa terhadap perlakuan istri terhadap anak mereka. “Sudah…sudah! Sekarang tidak ada lagi acara libur-liburan di Bandung ini. Kita langsung pulang saja ke Jakarta,” kata sang suami. Acara senang-senang setelah audisi yang semula direncanakan itu gagal total hanya karena sang ibu salah menyikapi kegagalan sang anak. Salah yang berbuah luka.

Di waktu lain. Sebuah pesan masuk ke dalam perangkat selular seorang ayah. Dari anaknya yang tengah belajar di pesantren di suatu lembah antara Gunung Gede dan Gunung Salak. “Abi janji enggak akan marah kalau nilai merahnya banyak?” Sang ayah terdiam lalu membalas pesan pendek itu, “Kita lihat saja nanti.”

Saat liburan Idul Adha tiba, sang anak pulang ke rumah dan menyerahkan lembaran rapot sementaranya. Lebih dari tujuh mata pelajaran terbakar dengan warna merah menyala. Sang ayah menatap sang anak yang sudah ketakutan itu. Sang ayah merentangkan kedua belah tangannya lebar-lebar dan bilang, “Peluk Abi.”

Sang ayah tahu betul, di saat itu sang anak tak butuh ceramah apalagi amarah. Yang dibutuhkan adalah pelukan untuk menguatkan dan meneguhkannya. “Masih ada waktu. Ayo perbaiki,” cuma pesan itu yang terkatakan. Ada sayang yang abadi.

Di lain waktu, ia, seorang sahabat sangat karib, sudah bertekad untuk tak menceritakan apapun kesusahan dan derita kepada ayahnya, walau sudah tak tertanggungkan oleh dirinya. Apa sebab? Hanya semata-mata ayahnya pernah berkata, “pokoknya Papa tidak mau tahu urusanmu. Jangan buat Papa mati.” Tak ada komunikasi, apalagi pelukan yang menghangatkan dan membakar lara.

Pun seharusnya pelukan itu mendamaikan. Jika itu dilakukan tanpa hipokrasi. Maka adalah niscaya untuk para politikus yang berada di Senayan. Saat mereka melancarkan kekerasan verbal yang membuat gaduh negeri ini. Bagaimana tidak, kata-kata seperti “dicincang” mudah keluar dari mulut seorang Gus Choi saat mengomentari tingkah Sutan Bhatoegana yang dianggap melecehkan Gus Dur. Ayolah berpelukan.

Pelukan itu adalah hasrat memaafkan. Percaya tidak jika memaafkan orang yang bersalah itu melegakannya, sedangkan memaafkan orang yang tak bersalah itu melegakan kita? Pelukan itu mendamaikan dan perdamaian membutuhkan memaafkan.

Maka ingatkah Anda kapan pelukan terakhir itu hinggap dibahumu seperti hujan yang mengguyur kegersangan di awal musimnya? Atau ada amnesia yang menjelma karena Anda lupa kapan terakhir memeluknya?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Ri, aku semakin mencintaimu

12:42 06 Desember 2012

Sumber gambar dari sini.

WHATSAPP YANG MERAMPAS?


WHATSAPP YANG MERAMPAS?

 

Tanpa disadari atau sengaja tidak menyadari kalau dunia WhatsApp mengalihkan perhatian saya. Aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 100 juta kali itu adalah aplikasi messenger yang dapat mengirimkan teks, video, gambar, dan suara kepada teman-teman dan kontak yang ada di hp kita masing-masing. Ini juga karena saya masuk ke grupnya. Mungkin kalau tidak bergabung ke dalamnya, dunia per-whatsapp-an saya juga sepi-sepi saja.

    Saya juga berpikir inilah yang mungkin menyebabkan Blackberry digilai oleh sebagian pengguna gadget di Indonesia karena semata kehebatan dari BBM-nya. Tapi BBM ini tersaingi karena kehadiran WhatsApp yang tidak mengharuskan penggunanya untuk memakai perangkat Blackberry. Lintas smartphone, lintas operator, lintas OS. Gtalk kalau saya bandingkan dengan WhatsApp juga lewat.

    Saya tak berusaha detil untuk mengulas WhatsApp di sini, saya cuma mau mengatakan bahwa zaman sekarang orang sudah terhubung dengan berbagai macam cara. Tentu di sana selain kelebihan yang didapat ada pula kelemahan atau mudharat yang kudu diwaspadai oleh semua penggunanya. Layaknya pisau ada ditangan siapa. Atau seperti pisau karton dalam cerpen Motinggo Busye?

    Sejak kenal grup dalam WhatsApp itu jarang sekali perjalanan pulang dalam kereta menjadi perjalanan yang membosankan. Asal handphone-nya sudah dicharge terlebih dahulu tentunya. Kalau enggak, matilah gaya sudah pasti. Untuk itu, setiap jam tiga sore handphone sudah harus dicolok kabel charger. Kalau sudah jam lima teng kurang sedikit barulah dicabut. Lumayan bisa untuk satu sampai dua jam ke depan.

    Di dalam kereta, walau desak-desakkan dan sedikit panas, perhatian bisa teralihkan ke gadget. Tersenyum dan tertawa bisa muncul di saat ikutan grup WhatsApp itu. Walau harus tertawa tertahan agar tidak dilihat oleh penumpang yang lain. Apalagi kalau japri sama teman-teman di sana yang rada-rada minha. Minha itu kata teman berasal dari bahasa arab yang artinya setengah atau sebagian atau sedeng gitulah. Sebenarnya teman-teman saya tak seperti itu kok. Mereka baik-baik. Mereka tahu batas tentang bercanda dan serius. Mereka para guru. Dan sudah tentu otak mereka semua genap. Insya Allah ahli surga semua. Amin.

Kegilaan saya terhadap WhatsApp tetap ada batasnya. Dan memang harus dibatasi agar jangan merampas hidup saya. Ada waktu khusus saya yang tidak bisa diganggu gugat oleh WhatsApp. Yaitu setiap pagi saat saya naik kereta rel listrik. Ada yang harus saya kerjakan sambil berdiri yang tak bisa tergantikan olehnya. Dan Alhamdulillah masih bisa bertahan walau dering sms dan bunyi kecipak air tanda pesan WhatsApp memekik-mekik.

Dan yang kudu diperhatikan juga adalah jangan sampai hubungan kita dengan WhatsApp mengalahkan hubungan personal kita di dunia nyata. Sampai rumah ya sudah, buang itu gadget jangan dipegang terus. Kehangatan ruang grup WhatsApp tetap tak bisa mengalahkan kehangatan ruang keluarga kita. Terhadap yang mencintai kita dan kepada celoteh-celoteh riang yang memenuhi ruang itu.

Bolehlah kembali ke ruang maya itu saat mereka tidur semua tapi ingat kalau besok adalah hari yang pepat. Hari yang membutuhkan kesiapan fisik kita secara paripurna, yang tidak bisa disediakan oleh tubuh yang kekurangan tidur.

Saat menekan tombol titik setelah kata tidur di atas, saya langsung menguap. Tanda alarm kalau tubuh saya juga butuh tidur. Besok adalah hari Ahad, banyak sekali yang harus saya lakukan. Saya akhiri saja kali yah keterpesonaan saya kepada makanan baru bernama grup WhatsApp ini. Pesona yang sama saat bule-bule pertama dan berulang kali datang ke Raja Ampat.

Sebenarnya maksud saya mengungkapkan semua ini semata hanya ingin menulis. Enggak ada maksud lain. Terus terang saja, grup WhatsApp telah mengalihkan fokus saya dari menulis. Dan kalau seminggu saya tidak menulis badan saya meriang. Ada virus kegelisahan yang memenuhi pembuluh darah saya. Makanya saya paksakan menulis sekarang. Karena enggak ada tema-tema berat yang harus saya tulis, ya tentu yang ringan-ringan saja yang saya tulis. Seperti tentang WhatsApp ini.

Kalau sudah menulis kan bisa plong. Saya bisa berpikir yang lain. Saya bisa mengamati keadaan dan suasana yang berbeda. Tidak suntuk lagi. Ini sudah bagus saya bisa menulis sekali seminggu. Kalau bisa mah sehari sekali. Tetapi mungkin saya belum sampai ke taraf itu, karena setiap melakukan pergulatan ide (baca menulis) saya mengalami kelelahan setelahnya. Ah, itu cuma alasan saja kali yah. Iya memang betul cuma alasan. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis. Kudu menulis kapan pun, setiap saat.

Agar apa? Agar bisa dipastikan bahwa otak kita masih waras. Tidak minha. Masih bisa diajak untuk berpikir. Untuk mengamati keadaan. Dan tidak dementia atau pikun. Berbagai studi telah membuktikan, supaya kita tidak mengalami kepikunan maka menulis bisa menjadi salah satu cara pencegahannya. Menulis merupakan kegiatan yang dapat menstimulasi sel-sel saraf otak

Itu aja kali yah monolog malam ahad ini. Semoga bisa bermanfaat buat yang lain. Terutama sih untuk diri saya pribadi. Semoga besok adalah hari yang menyenangkan buat kita semua. Amin. Tabik.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00:06 Ahad 25 November 2012

MENCIUM BIBIRNYA


MENCIUM BIBIRNYA

 

Terbangun di tengah malam itu sesuatu. Dua jam berikutnya hanya terpaku pada mainan baru bernama WhatsApp di android 2011 saya. Mengecek satu-persatu siapa saja yang pada pukul 00.00 masih saja terlihat jejaknya. Last seen today at 00:00.

Memergoki keponakan di tanah seberang yang masih melek. “Durung turu tah, Nok?” tanya saya. Basa Cerbon menjadi sarana komunikasi semut kami. “Tangi tas nyusui, Ang. Priben, priben?” Pernyataan dan pertanyaan adalah responnya. Ohya maaf bagi yang tidak mengerti dialog kami, santai saja Bray, di bawah akan ada terjemahannya.

Gerak selanjutnya adalah membuka benda hitam—netbook—yang teronggok di atas meja. Terdiam sejenak dan berpikir mau menulis apa. Tiba-tiba sudut mata saya jatuh pada sebuah album foto yang hampir rusak. Saya membukanya. Dan satu persatu saya melihat rekaman hidup yang tergambar di setiap lembar kertasnya.

Kemudian menemukan foto setengah badan saya. Foto di tahun 1997. Latar belakang hijau. Pakai baju putih. Pakai dasi dan jas pemberian waktu saya jadi panitia wisuda di tahun 1996. Saya pun waktu itu masih kurus. Sedikit ada senyum di wajah. Dan jenggot tipis di dagu. Apa lagi pentingnya saya deskripsikan di sini buat Bray yah?

Dan seperti adegan di film-film biasanya. Saya mengambil foto itu dari plastiknya lalu membalik foto itu. Ah…sebuah tulisan tangan ada di sana. Sebuah tulisan tangan yang saya tentunya tahu betul siapa pemilik dari goresan tinta hitam itu. Ada dua alinea. Beberapa kalimat. Dengan dua kata pertama yang dicoret biru agar tak bisa dibaca.

“…… …… saat mendengar antum menerima ane. Meski keraguan itu masih ada, ane menerima untuk menjalani apa yang ada.”

“Ya akhi rahimakillah, hanya ketsiqohan ane kepada Umi dan Pak Hasan, yang membuat ane berani menyatakan “iya”. Bukan keraguan tentang keimanan antum yang m’buat ane bimbang.”

Ini jejaknya. Saya teringat kalau foto ini adalah foto yang saya berikan padanya saat ta’aruf. Dan itu masa lalu. Belasan tahun terlampaui. Sekarang kita tahu diri kita masing-masing. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Kita saling menutupi kelemahan diri kita. Kita terus berusaha dan belajar memahami.

Saya menghentikan sejenak tulisan ini. Segera bergegas masuk ke dalam kamar. Melihat sosok perempuan itu terlelap. Dan mencium keningnya. Ada Kinan di sebelahnya. Khusus untuk perempuan kecil lucu ini, tidak lain tidak bukan, bibirnya saya cium. Sambil berkata, “Zawwadakillaahuttaqwa.” Ucapan doa yang saya kutip dari Ustadz Fathur—semoga Allah senantiasa menyehatkan beliau—yang artinya kurang lebih: “semoga Allah membekalimu taqwa.”

Saat melanjutkan tulisan ini jarum pendek jam sudah menusuk di angka 3. Bergegas untuk segera menyelesaikannya. Saya butuh tidur lagi. Sebentar saja. Sebagai penutupnya saya teringat sebuah dialog dengan perempuan ini, siang tadi.

“Bersyukurlah punya istri yang tidak minta macam-macam,” katanya.

Sambil berpikir, meresapi kalimat yang ia ucapkan, saya pun menyetujuinya. Polos saya berkata, “Betul, karena barangsiapa yang bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmatnya.”

“Wuih…enggak sopan,” tegurnya sambil melirik tajam.

“What &(%($*#&*??”

*

Semoga ini bukan pencitraan. Saya ini pembelajar saja. Setiap pembelajaran tentu ada salahnya. Kalau orang memanggil saya dengan sebutan terhormat, aduh saya sungguh tidak pantas. Masih banyak dosanya. Masih saja terus berbuat salah. Masih saja enggak mau “nyadar”. Nyadar nikmat, nyadar umur, nyadar Allah masih terus menutupi aib-aib saya, dan nyadar-nyadar yang lainnya.

Kalau kamu, Bray, nemuin saya salah, terjerembab, sadari Bray, saya juga manusia. Mohon dimaafkan. Saya cuma pembelajar. Semoga Allah mengampuni saya selalu. Kita.

**

Terjemahan:

  1. Durung turu tah, Nok?     : Belum tidur, Nok?
  2. Nok         : Panggilan kepada adik perempuan, anak perempuan, perempuan yang dimudakan.
  3. Tangi tas nyusui, Ang. Priben, priben?    : Bangun habis menyusui, Ang. Bagaimana, bagaimana?
  4. Ang        : Panggilan kepada kakak laki-laki.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tak saya edit lagi. Apa adanya. Selesai di 03.14

12 November 2012

 

tags: whatsapp, android, ustadz Fathurrahman, ustadz fathur, curahan hati, kinan, perempuan, ria dewi ambarwati, cerbon, mamuroh, ma’muroh, maam, ma’am,

ROKOK, AQUA, TISU


ROKOK, AQUA, TISU

 

Teman saya tidak menyangka kalau saya adalah salah satu saksi sekaligus pelaku dalam tulisan berjudul “Mel” yang saya ikut sertakan untuk Lomba Penulisan Artikel Perpajakan 2012 Direktorat Jenderal Pajak. Tulisan ini adalah satu dari dua yang saya kirim. “Mel” akhirnya jadi pemenang kesatu.

Ya betul, waktu itu saya masih SMP kelas 2. Pengasong rokok di stasiun Jatibarang dan di atas kereta api. Saya memang mengasong pada hari minggu dan libur panjang. Biasanya pagi keluar dari rumah menyusuri pinggiran jalan menuju stasiun sembari menawarkan rokok pada tukang-tukang becak.

Jam 7 pagi Stasiun Jatibarang ramai penuh calon penumpang menuju Jakarta. Mereka akan naik Kereta Api Gunung Jati dari Cirebon. Itu saat terbaik untuk mengasong. Setelah kereta itu lewat, saya baru pergi ke pasar yang letaknya di depan stasiun. Di sana ramai juga, apalagi kalau hari pasaran, hari rabu dan minggu. Para pedagang kain dari seluruh penjuru Indramayu, Cirebon, Brebes datang, tumplek blek di sana. Wuih…sesuatu banget kalau melihat kerumunan orang.

Setelah berjibaku di sana, menjelang dzuhur saya pulang dengan arah yang berbeda dari waktu berangkat. Kembali menawarkan pada para pengguna trotoar. Rokok! Rokok! Rokok! Aqua! Tisu! Hati berbunga kalau ada dari mereka yang membeli barang satu atau dua batang rokok.

Sampai rumah biasanya saya makan, istirahat, dan sholat. Lalu “kulakan” kepada bapak saya sebagai ‘distributor’ sekaligus pemilik toko kecil-kecilan di rumah. Ada barang yang sudah habis saya beli kepadanya. Beliau yang mencatatnya. Bayarnya kalau sudah selesai mengasong sore nanti.

Sekitar jam satu siang saya kembali jualan. Topi sudah terpasang di kepala. Kotak bertali berisi penuh dagangan terselempang di depan. Semangat sudah terkokang penuh untuk mencapai target penjualan dalam sehari. Saya sering berharap air minum dalam kemasan laku keras karena ia penyumbang keuntungan terbesar saya.

Sekarang tujuan utama saya adalah tetap ke stasiun. Jam siang begini tempat itu penuh calon penumpang baik ke Jakarta ataupun ke Jawa. Kalau kereta apinya belum datang saya mengasong di darat, susuri dari peron ke peron, menyapa setiap orang, “Rokok Pak!”

Kalau kereta apinya datang saya ikutan naik bersama puluhan pedagang lainnya ke atas gerbong. Mengais rezeki dari penumpang dalam waktu yang tidak lama. Berharap ada yang beli di tengah persaingan ketat antar-pedagang. Kalau ada bule saya sapa padanya, “Smoke, Sir.” Seumur hidup saya ngasong, bule itu tidak pernah beli.

Yang paling menegangkan kalau ada yang membeli pada saat pengumuman pemberangkatan kereta api. Saya buru-buru melayaninya. Apalagi pada saat menyerahkan uang kembalian kereta apinya sudah bergerak perlahan. Saya panik kalau sudah begitu. Saya segera lari ke pintu kereta dan lompat. Hup! Kaki duluan.

Hanya sekali saya gagal. Ini karena saya salah ambil posisi tubuh. Seharusnya menghadap searah gerak kereta. Saya tidak. Saya langsung lompat. Gaya gravitasi pun bekerja, saya terjungkal di tengah teriakan orang di stasiun. Alhamdulillah tidak menggelinding ke kolong kereta. Kotak asongan yang bertuliskan Pemburu Dollar itu tumpah berantakan. Dan sedikit luka.

Karenanya saya selalu melarang adik saya—yang ikut ngasong juga—untuk turut naik jualan ke atas gerbong. Takut tak bisa turun atau terbawa kereta. Saya deg-degan mikirin dia. Takut ada apa-apa. Pernah sampai sore tak terlihat batang hidungnya di stasiun, bahkan sampai maghrib. Saya sudah cemas. Eh, betul dia terbawa kereta. Syukur bisa balik.

Waktu itu kalau kereta ekonomi tidak ada Polisi Khusus (polsus)-nya. Jadi banyak juga teman-teman pedagang yang ikutan naik kereta api itu sampai Haurgeulis ataupun Pegaden. Atau kalau ke arah Cirebonnya ikut hanya sampai Arjawinangun atau Bangodua.

Stasiun Arjawinangun *Sumber Wikipedia

Stasiun Bangodua (*sejutagaleri.wordpress.com)

Kalau ada polsusnya—terutama untuk kelas bisnis dan eksekutif—mereka tetap naik juga, tapi naik ke atap kereta api. Bukan untuk jualan melainkan untuk ikut kereta ini sampai di stasiun tujuan. Buat apa? Supaya bisa mencegat kereta api lainnya yang pedagang asongan bisa jualan di atas gerbongnya.

Naik ke atap kereta ini dilakukan oleh pria dan wanita pedagang. Ini berbahaya sekali. Saya tidak ikutan. Kalau terpaksa saya ikut, saya naik di atas gerbong kereta bersama yang lain dan patungan seribuan atau berapa untuk diserahkan kepada petugas. Dengan syarat tidak boleh mengasong di dalam kereta.

Pernah saya iseng ngasong juga. Pas melewati gerbong restorasi kebetulan di sana ada Kepala Stasiun Jatibarang yang ikut naik. Saya langsung ditampar. Niatnya kayak bintang film India Amitabhbachan, kalau ditampar sekali tidak lari, tapi menatap lagi. Eh betul, saya ditampar lagi. Sakit euy. Langsung saya ngibrit. Gagal jadi bintang film. Wajah Kepala Stasiun Jatibarang itu sampai sekarang masih saya ingat betul.

Salah satu trik agar bisa tetap jualan di atas gerbong kereta sudah saya ceritakan di tulisan yang berjudul “Mel” itu. Menghentikan laju kereta dengan beberapa bungkus rokok yang diikatkan pada sebatang ranting pohon.

Kalau sedang tidak naik kereta saya biasanya kumpul bareng bersama teman pedagang lainnya. Ngobrol ke sana ke mari. Saya mungkin masih dianggap anak-anak atau junior tapi pergaulan saya bisa diterima oleh pedagang lainnya. Dari hubungan itu saya bisa tahu bagaimana taktik mereka agar jualannya laris. Dari yang pakai klenik sampai sogok-menyogok kepada petugas.

Jam setengah lima sore biasanya saya siap-siap pulang. Saya balik ke rumah sambil bawa oleh-oleh kesukaan. Wingko babat dan nasi rames tambah sate ayam yang dijual sesama pedagang asongan. Sedap banget apalagi pakai duit sendiri.

Sampai rumah, Bapak yang menghitung berapa banyak barang dagangan yang laku. Hitungannya begitu detil. Setiap batang rokok yang terjual dan berapa perak keuntungannya dicatat. Sehari dapat untung lima sampai sepuluh ribu saja sudah bersyukur. Uangnya ditabung untuk biaya melanjutkan sekolah ke SMA (SMU sekarang) nanti.

Namun kalau malam minggu saya tidak hanya sampai sore ngasongnya tapi sampai malam. Saya pergi ke gedung bioskop. Nah di sana juga ramai. Laku juga. Biasanya saya hanya sampai para pengunjung masuk ke dalam gedung. Setelah itu pulang.

Semua ini adalah bagian dari sejarah hidup yang menempa kepribadian saya hingga saat ini. Banyak pengalaman yang didapatkan, diiringi kekhawatiran ibu setiap hari karena anak-anaknya yang belum pulang di petang-petang yang lama. Ataupun kengerian melihat darah yang mengalir dari atap gerbong, di sana ada sosok tubuh dengan kepala hancur terkena jembatan. Mimpi buruk menjelma.

Tapi ada selimut kegembiraan walau dalam senyap, karena saat itu saya sudah bisa pegang uang dan tak minta ke orang tua. Tidak malu menghadapi orang dewasa ataupun teman sekolah. Yang lain pacaran, saya ngasong. Belajar tetap nomor satu. Prestasi sekolah masih bisa dipertahankan.

Dari sana ada yang bisa dijadikan pembelajaran, kalau keberhasilan atau kesuksesan itu tak bisa dicapai tanpa keringat yang menetes dan pengorbanan. Sampai-sampai saya menulis sebuah kalimat dengan gaya kaligrafi di atas slop pembungkus rokok dan menempelkannya di dinding rumah: tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Sungguh. Dua puluh dua tahun kemudian saya baru tahu kalau Rasulullah saw pernah bilang: “Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan sholat.” Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “bersusah payah dalam mencari nafkah.”

Berpayah-payahlah dalam mencari nafkah teman. Niscaya ada akhir yang baik di ujungnya. Menulis pun demikian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13.22 20 Oktober 2012

Terima kasih kepada Ustadz Fathurrahman yang telah mengirim hadits riwayat Bukhari itu.

 

tags: stasiun jatibarang, stasiun arjawinangun, stasiun pegaden, stasiun bangodua, stasiun haurgeulis, lomba menulis artikel perpajakan, direktorat jenderal pajak, kereta api gunung jati, pemburu dollar, mel, kepala stasiun jatibarang, tips menulis,

SURAT YANG MEMBUATNYA GEMETAR


SURAT YANG MEMBUATNYA GEMETAR


    Surat pemanggilan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu telah membuat keluarga besar istrinya terperanjat dan risau. “Apa salah suami saya? Kena kasus apa?” tanya Sang Istri. Tentu saja juga membuat dirinya yang sedang memulai iktikaf di hari pertama Ramadhan itu gamang. Bagaimana bisa kondisi ini ada ketika ia benar-benar ingin memulai iktikafnya secara penuh mulai hari pertama sampai hari terakhir nanti. Tapi ia menyadari bahwa ini semua takdir Allah.

    Yang membuatnya sedikit tenang adalah ia dipanggil oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan itu kapasitasnya hanya sebagai saksi atas sebuah kasus yang terjadi di sebuah perusahaan asuransi, tempatnya ia bekerja. Bukan sebagai tersangka ataupun terdakwa. Tapi itu saja sudah membuatnya menguras energi dan mengalihkan fokusnya.

    Berulang kali ia membaca surat itu. Pelan-pelan. Lalu ia pahami betul setiap kata yang ada. Agar tidak ada kata yang tidak dimengertinya. Ia mengontak teman-temannya untuk berkonsultasi tentang kasusnya ini. Semua dipersiapkan dengan betul supaya tenang dalam persidangan dan ia mampu menjawab semua pertanyaan Majelis Hakim.

    Selama proses itu ia mengamati cara berpikir dan tindakannya sendiri. Di sinilah ia mengerti bahwa telah ditampakkan di hadapan dirinya sebuah pelajaran maha penting. Pelajaran tentang laku yang seharusnya ia kedepankan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an.

    Seharusnya ia lebih gemetar saat menerima ‘surat-surat’ dari Allah itu tinimbang surat dari Pengadilan negeri jakarta Selatan. Surat dari Sang Pencipta Manusia yang kedudukannya jelas sangatlah jauh daripada Majelis Hakim yang hanya makhluk fana. Apatah lagi saat membacanya. Ia seharusnya gemetar saat mendapat ancaman-ancaman jika Ia tidak memenuhi apa yang telah dijanjikannya saat ia masih berada di alam ruh.

    Seharusnya ia berlinang air mata saat ia tak mampu memahami setiap makna dibalik kata yang tertulis di sana. Apatah lagi saat ia menyadari bahwa ia tak mampu untuk melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.

    Seharusnya ia lebih takut dihadapkan pada sebuah pengadilan kelak yang benar-benar tanpa intervensi uang dan kekuasaan. Pengadilan yang membuat setiap manusia terperanjat ngeri karena kedahsyatan suasananya. Apatah lagi Sang Hakimnya di sana.

    Pun seharusnya ia lebih mempersiapkan diri sesempurna-sempurnanya untuk mencari bekal terbaik. Agar kelak ia tak terjerembab karena dilempar dengan buku amalnya dari belakang. Duhai diri…berbeda sekali diri menghadapi dua hal ini.

     “Karena yang satu adalah material dan yang satunya lagi adalah masalah iman,” ujarnya. Ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari milyaran manusia yang hidup di muka bumi ini dan berada pada zaman serba materialistis. Tapi tak serta merta harus terpalit, tersert-seret, dan terjerumus pada semua yang menggodanya.

    Tekad pun tercetus, materialisme bolehlah hidup tapi bukan di hatinya tapi cukup di tangannya. Di hatinya hanya untuk Al Qur’an yang kembali ia baca setiap harinya satu juz setelah Ramadhan meninggalkan dirinya. Ia tartilkan bacaannya, karena setiap huruf di dalamnya punya hak masing-masing untuk dibaca dengan benar. Ia bertekad kuat memahami makna yang dikandungnya, selain pula menambah pundi-pundi kekayaan hafalannya. Tertatih-tatih dengan memohon perlindungan-Nya agar ia selamat dalam mengumpulkan sebaik-baik bekal.

    Saya termenung mendengar tuturannya pada saat acara mabit tadi malam. Ini adalah sebagian kecil dari upayanya meri’ayah (memelihara) amalan-amalan Ramadhan agar tetap tumbuh dan bersemi setelah Ramadhan dan Syawal usai. Sebuah telatah yang patut dijiplak mentah-mentah tanpa perlu membayar royalti. Biar Allah SWT yang membayarnya saja dengan balasan banyak kebaikan.

**

Riza Almanfaluthi

@rizaalmanfaluth

Citayam, 23 September 2012

dimuat di Dakwatuna di

http://www.dakwatuna.com/2012/09/23125/surat-yang-membuatnya-gemetar/

Gambar diambil dari situs: http://www.iol.co.za/

SHARING IS AMAZING


SHARING IS AMAZING


    Selalu saja perjalanan pulang terasa lebih cepat daripada perjalanan berangkat. Kantuk tidak mendominasi seperti biasanya. Nyupir pun jadi enteng. Saya juga heran kenapa bisa seperti ini? Eh, ternyata karena di sepanjang perjalanan balik dari Bandung ke Jakarta itu saya mengobrol terus. Ngobrolin apa saja dengan Ibu W Arifah, Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi di Kantor Pelayanan Pajak Bogor. Ibu Arifah ditemani putranya yang baru berumur 15 bulan dan pengasuhnya.

    Selama tiga hari, sejak Rabu, kami mengikuti Workshop Tax Knowledge Base (TKB) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pelayanan, Penyuluhan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas), Direktorat Jenderal Pajak (DJP), di Grand Royal Panghegar.

    Workshop itu dimaksudkan untuk mencari masukan dan dalam rangka pengembangan TKB. TKB itu apa? TKB itu seperti situs kumpulan peraturan perpajakan yang berjalan di intranet DJP. TKB diharapkan menjadi rujukan bagi para pegawai DJP untuk mendapatkan peraturan yang valid, mutakhir, dan dapat dipercaya.     

    Nah dalam workshop itu kami dibekali tentang praktik manajemen data peraturan perpajakan dari pengelola situs Ortax. Situs ini cukup dikenal bagi para pencari peraturan perpajakan. Saya saja kalau bingung mencari peraturan terkait sengketa persidangan di Pengadilan Pajak selalu mencari di Google dengan menambahkan kata “ortax” sebagai kata kunci tambahan. Semata agar Google dapat langsung menampilkan indek pencariannya dengan Ortax menempati daftar urutan pertama hasil pencarian.

    Itu di hari pertama. Di hari kedua kami dibekali ilmu tentang Knowledge Management (KM) Sederhananya begini KM itu. Misal ada pegawai baru masuk di Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) untuk jadi Petugas Banding. Pegawai ini belajar dari awal semua tentang ilmu-ilmu yang ada di DKB, mulai dari pengetahuan dasar keberatan dan banding, teknik berkomunikasi, teknik beracara di Pengadilan Pajak, dan lain sebagainya. Sampai dia menjadi seorang ahli dan rujukan dari teman-temannya dalam masalah sengketa di persidangan.

    Eeh…tiba-tiba gelombang mutasi menerpa pegawai tersebut. Ya sudah pegawai itu meninggalkan begitu saja DKB dengan membawa semua pengetahuan berharga yang ia miliki yang seharusnya bisa dimanfaatkan optimal di DKB. Inilah yang disebut tacit knowledge, yaitu pengetahuan yang hanya ada di kepala Sang Pegawai itu yang belum terbagi.

    Pegawai baru yang menggantikan ternyata mulai dari nol lagi untuk bisa seperti pegawai yang pindah itu. Nah, dengan KM itulah tacit knowledge dipecahkan dengan cara berbagi pengetahuan.

    Ohya kami dilatih juga cara membuat matrik “from business strategy to knowledge“, sebuah matrik yang menjabarkan cara agar pengetahuan tentang strategi bisnis bisa didapat dan dibagi. That’s great. Ilmu baru buat saya.

    Satu pertanyaan adalah mengapa perlu ilmu KM pada workshop kali ini? Jawabnya adalah bahwa pengembangan kesempurnaan TKB tidak lain dan tidak bukan juga didapat dari para pegawai DJP sebagai kontributor utamanya. Dan itu hanya bisa dilaksanakan jika semangat berbagi sudah tumbuh. KM menjadi pemantik tumbuhnya semangat berbagi.

    Malamnya ada sesi motivasi dari seorang motivator. Kami diajak untuk sama-sama membuang kotak problem hidup yang ada dalam benak kami, yang dari alam bawah sadar seringkali hal itu menghambat kami untuk bisa sukses. Tentu pada akhir sesi itu kami diajak untuk saling berbagi. Tidak hanya teori, kami diajak untuk merealisasikannya saat itu juga. Semangat berbagi ini berbuah donasi sebesar lebih dari tiga juta rupiah untuk disumbangkan kepada yatim piatu.

**

    Dua setengah jam perjalanan Bandung sampai Tanjung Barat. Kami langsung berangkat jam dua siang selesai shalat jum’at dan makan. Tidak ada acara jalan-jalan bahkan untuk sekadar cari oleh-oleh. Oleh-oleh sudah dipesankan oleh adiknya Ibu Arifah. Jalan-jalan di Bandung mah nanti saja. Cari waktu yang lebih luang. Kami ingin cepat-cepat sampai di Jakarta seperti itu karena tidak mau terjebak macetnya Jakarta di petang hari, apalagi di hari jum’at.

    Workshop kami di hari Rabu dan Kamis sampai larut malam. Sedang di hari terakhir, kami dibatasi sampai waktu check out pukul 12.00 siang. Jadi di pagi hari Jum’at itu kami melakukan finalisasi gagasan untuk TKB serta mempresentasikannya.

    Empat kelompok telah memberikan masukan yang amat berharga buat TKB. Setelah terkumpul semua kami berharap TKB dapat disempurnakan dan diluncurkan segera untuk bisa dipakai oleh seluruh pegawai DJP.

    Yang terpenting untuk tidak dilupakan adalah selayaknya pula para peserta workshop ini untuk menularkan semangat berbaginya kepada teman-teman pegawai DJP lainnya. Karena berbagi itu menakjubkan, berbagi itu untuk menerima, dan berbagi itu membahagiakan. Ayo berbagi!

***

 

 

Riza Almanfaluthi

Penelaah Keberatan Direktorat Keberatan dan Banding

dedaunan di ranting cemara

15 September 2012

Sumber gambar dari sini.

 

 


 

KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK


KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK

image

“Jika belum adanya keturunan yang membuatmu gelisah di penghujung malam ini mintalah Allah ta’ala dengan do’a Nabi Zakariya.” Satu kalimat yang ditwitkan oleh Moh. Fauzil Adhim pada dini hari ini membuat saya termenung. Sebuah kebetulan bahwa pada malam itu saya ingin menuliskan sebuah cerita tentang kegundahan seorang teman akan hadirnya buah hati dalam umur perkawinannya yang baru mencapai lima bulan. (Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI).

Sebuah waktu yang tidak bisa disetarakan dengan waktu sepi yang dimiliki oleh Nabi Zakariya dalam sebuah penantian yang panjang dan endapan keniscayaan kalau istrinya yang mandul tidak pernah mungkin akan punya keturunan. Maka hanya doa yang bisa terlantun: “Tuhanku, jangan biarkan aku sendiri. Dan Engkaulah sebaik-baik Waris (QS. 21: 89)”

Dalam sebuah percakapan maya, di pertengahan ramadhan 1433 H yang penuh keberkahan, tercetus sebuah kegalauan betapa pusing teman saya ini memikirkan istrinya yang juga belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan.

“Kamu mau enggak saya beri solusi?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban. Karena dengan mengemukakan masalahnya pada saya saja setidaknya ia merasa sudah cukup gelisah itu terkurangi.

“Kamu dan istri kamu lakukan dua hal ini.”

“Apa?”

“Istighfar dan sedekah. Perbanyaklah. Misalnya saat mau berhubungan intim, saat kamu berdiri di dalam kereta, saat kamu bekerja. Insya Allah kita akan lihat hasilnya dalam sebulan ini.”

Hanya itu yang bisa saya sampaikan padanya persis seperti apa yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah dalam Musnadnya, dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw sambil berkata: “Wahai Rasulullah! Aku tidak dikaruniai seorang anak pun dan aku tidak memiliki anak.” Maka Rasulullah saw bersabda: “Lalu di mana kamu dari banyak beristighfar dan banyak bersedekah, karena engkau akan diberi rizki anak karena sebab keduanya.” Lalu laki-laki ini memperbanyak sedekah dan istighfar. Jabir berkata, “Maka orang ini dikaruniai sembilan anak laki-laki.”1)

Saya meyakinkannya untuk melakukan dua hal itu. Apalagi sudah jelas kalau dalam Surat Nuh (71: 10-12) disebutkan tentang janji Allah kepada orang yang meminta ampunan kepadaNya, maka Ia akan memberikan banyak rupa kebaikan dan salah satunya adalah memperbanyak harta dan anak. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Kepada para jamaah shalat tarawih saya sampaikan cerita teman ini dan berharap ada keajaiban yang datang dalam sebulan ini. Pengharapan besar, doa yang terucap sepenuh keyakinan, sedekah yang seikhlas-ikhlasnya, permintaan ampunan tertuturkan dengan sebenar-benarnya permintaan, dari hati yang dilembutkan oleh madrasah ramadhan, pada waktu yang mustajabah, variabel manalagi yang akan membuat Allah tidak mewujudkan semua asanya?

Ramadhan usai, Syawal menjelang. Hiruk-pikuk mudik, lebaran, dan baliknya menyita perhatian semua. Tidak terkecuali saya. Tapi ada mekanisme takdir Allah yang sedang berjalan. Hari ke-9 Syawal sang teman memberitahu saya, “Aku mengucapkan terima kasih untuk saran dan doa kamu bulan puasa kemarin. Subhanallah walhamdulillah. Aku telah memastikan secara medis kalau kandungan istriku sudah berjalan kurang lebih lima minggu.”

Allah Maha Besar, nikmat mana lagi yang hendak diingkari. Allah tunjukkan keajaiban sedekah dan istighfar itu pada kami, walau baru sebatas janin. “Terus perbanyak sedekah dan istighfarnya, karena sedekah dan istighfarmu yang konsisten akan menjaga kandungan istrimu.”

Istighfar itu tanda kepasrahan dari hamba yang sesadar-sadarnya kalau dirinya lemah, membawa kedamaian, menjadikan lapang atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, dan membuka datangnya rizki dari arah yang tiada terduga. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara pribadi sebagaimana shalat.

Sedekah berkelindan dengan istighfar. Sedekah itu pembuktian adanya iman di dada, ia menghapus kesalahan, menjauhkan dari kematian yang buruk, menghindarkan dari musibah, ia mengobati orang-orang yang sakit. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara sosial sebagaimana zakat.

Inilah ikhtiar. Dan setelah kawan saya itu, keajaiban apalagi yang akan muncul di hadapan Anda dari banyaknya istighfar dan sedekah yang tertunaikan?

Untuk berkonsultasi dengan saya silakan melalui Facebook Messenger dan Whatsapp.

**

Catatan: Kisah-kisah sejenis dapat dibaca secara lengkap dalam buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Buku ini  terbit pada Februari 2020 dan pada saat ini telah memasuki Cetakan Kelima.

Untuk membaca sinopsisnya silakan mengeklik tautan berikut: laman ini.

Untuk pemesanan buku silakan kunjungi: https://linktr.ee/RizaAlmanfaluthi

 

WhatsApp Image 2020-05-03 at 10.47.59.jpeg

Terkait artikel ini JANGAN LUPA baca juga yang ini:

ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI

SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA

Kisah Nyata: Ini Dia 7 Ikhtiar Dalam 7 Tahun untuk Mendapatkan Momongan

DUA PULUH TUJUH TAHUN MENANTI, AKHIRNYA HAMIL JUGA

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

Maraji’:

1) Musnad Abi Hanifah, syarah Mulia Ali al-Qari dalam Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam; Keajaiban Sedekah & Istighfar

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

30 Agustus 2012

Sumber Gambar diambil dari sini.

Diunggah pertama kali untuk: Citizen Fimadani

Tags: Zakariya, Moh. Fauzil Adhim, Jabir bin Abdullah, Abu Hanifah, Musnad Abi Hanifah, Sedekah, istighfar,