Gemerisik


Bahkan ketika keterisian menjadi nebula, bahkan ketika kekosongan menjadi neruda, bahkan ketika keduanya menjadi aku, Puisi adalah gemerisik daun pisang yang menengadah sambil tabah berdoa di suatu Subuh. Coba kata apalagi yang hendak kausebut?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Jalanan, 2 Oktober 2017

50 Tips Meningkatkan Kekuatan Otak


“Don’t get it right, just get it written.”

Beberapa hari yang lalu, kembali saya mendapat email berlangganan dari WritetoDone, situs menulis dari luar negeri itu. Isinya tentang tips menulis dari Laura Tong, berjudul: 50 Productivity Tips to Boost Your Brainpower As A Writer. Tips-tips yang disajikan dengan infografis.

Sebelumnya Laura Tong mengutip kalimat Stephen King, “Bakat lebih murah daripada garam meja. Yang membedakan individu berbakat dari mereka yang sukses adalah kerja kerasnya.”

Baca Lebih Lanjut.

Tak Perlu Lari


Alat yang menunjukkan waktu kini tidak lagi ada di pergelangan tangan.  Ia telah beralih ke gawai. Dan angka digitalnya sudah menunjuk angka 07.24 pada pagi ini, di Stasiun Cawang

Pagi yang luruh dengan gerimis kecilnya. Gerimis yang mengiringi perjalanan commuter line dari Stasiun Citayam. Jadwal sedikit berantakan karena ada laju kereta yang dihentikan lama di stasiun-stasiun antara.

Ketika keluar dari Stasiun Cawang, saya masih punya waktu setengah jam untuk tidak terlambat. Hari ini saya niatkan untuk tidak naik ojek. Saya akan naik bus APTB itu. Dan saya harus berlari menuju pangkalan bus di tengah gerimis yang semakin cerewet. Lari? Tapi apakah memang perlu berlari di tengah hujan seperti itu?

Pada saat hujan memang sebaiknya tak perlu lari, cukuplah jalan. Karena hidup ini bukanlah pelarian, melainkan sebuah perjalanan. Selamat menikmati pagi nan mewah karena hujan adalah keberkahan.

Tiba-tiba saya ingat, pagi ini saya belumlah mencicipi kepahitan. Kopi, mana kopi?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 3, 28 September 2017

Saat Menonton Televisi di Tetangga Sebelah


Foto siang tadi

DI WAKTU KECIL***dulu, saya dan adik saya kalau menonton televisi pergi ke tetangga yang keturunan Tionghwa. Kalau malam, sehabis isya, saya mengetuk pintu rumah tetangga kami itu, “Papih! Papih!” teriak kami kepada bapak tua yang biasa kami panggil demikian. Istrinya pun kami panggil Mamih.

Kalau kami datang, anjing kecilnya bernama Bleki, karena warna bulunya yang hitam, menyambut kami dengan gonggongan atau geramannya. Saya memang tidak pernah akur dengan asu itu. Jadi di depan televisi itu saya mengangkat kaki ke atas kursi, duduk bersila, bukan bermaksud tak sopan, ini sekadar menghindari kaki-kaki kami terkena sentuhan sang asu. Baca Lebih Lanjut.

Ibu dari Segala Kerinduan


Jakarta pagi ini sangatlah muram. Hujan menderasi apa yang menyudut di kota ini. Saya harus berangkat lebih awal untuk menyambut peserta Workshop Kontribusi Konten yang berdatangan dari seluruh penjuru tanah air.

Dari Stasiun Cawang saya jelas tidak akan pergi ke tempat mangkal bus APTB yang jauh itu. Saya tak bawa payung sama sekali. Ojek daring juga bukan pilihan karena ordernya yang lama sekali. Saya tahu dari percakapan yang ada di grup.


Pilihan ideal adalah ojek pangkalan dan saya memilih abang ojek yang jas hujannya paling lebar agar saya bisa berteduh dan tidak kebasahan.

Dan selama perjalanan ke kantor itu, saya tak melihat jalanan, saya hanya melihat punggung abang ojek berjaket merah itu. Tapi tetap saja, walaupun diselubungi jas hujan yang lebar itu sebagian saya basah. Basah?

Sebasah-basahnya tubuh yang dihujani rinainya, tak sebasah jiwa yang dihujani kenangan. Dan tahukah kamu apakah itu kenangan? Aku beritahu kepadamu, sesungguhnya kenangan adalah ibu dari segala kerinduan.

Maka di pagi ini, saya ucapkan kepada Anda sekalian, selamat datang di Jakarta, selamat berhujan-hujan, selamat mengenang-ngenang, selamat merindui, dan dirindui. 🙂

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 3, 27 September 2017

O, Nuh



O, Nuh…
Apakah badai di luar kapal ini sudah berhenti?
Kapan kapal ini akan bersandar ke tepi?
Minta kepada Tuhanmu agar kasihani kami
Agar bah-Nya taklah singgah di hati
kami yang hanya bertaring dan bergigi
hanya sepasang-sepasang hewani
tanpa mimpi, amarah, apalagi kendali.

O, Nuh…
Kami takut api Tuhanmu
dan apa yang bangkit dari masa lalu.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
25 September 2017

 

Dua Pungguk


Kita dua pungguk, berteduh di bawah daun, saat penghujan. Mendekatlah ke sini, bahkan ketika barulah gerimis, bahkan saat mengalir di kedua matamu yang belum sempat memejam, bahkan ketika menyentuh jari-jari kakimu,  bahkan ketika ia akan meratap ke tanah, bahkan  ketika semua usai, bahkan ketika penghujan akan cuma sisa, bahkan kalau daun itu mulai mengering, bahkan ketika aku menjelma matamu, bahkan ketika aku menjadi hoo-hoo-hoo-hoo mu, bahkan ketika aku menjadi bulumu, bahkan ketika aku adalah sayapmu, bahkan saat waktu adalah aku yang rindu repetisi. Kita dua pungguk, berteduh di bawah daun, saat penghujan. Mendekatlah ke sini, bahkan…

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 24 September 2017

Seperti Gita yang Kau Sampaikan kepada Janardana



seperti gita
yang kau sampaikan
ada janardana
mendengarnya
di padang kuru,
semua berseteru
seluruh meluruh
o, janaka

seperti cerita
yang tak meledak,
ada gada batu
membuatku bisu
di sabana jiwaku,
semua mengguruh
menjelma lupaku
o, bisma

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 September 2019

Hati Merpati


Lelaki sendiri di senja piazza san marco
berbincang dengan merpati-merpati
matanya menelisik jauh ke balik dada
hati mereka, mana rumahnya untuk pulang

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 September 2017
Gambar dari: wikimedia

Lelaki yang Dimakan Kabut


Jangan menghilang
jangan pergi,
jangan jauh-jauh,
dekat-dekat saja,
cukup di sini,
di inti jantungku.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 22 September 2017