YULIA HASANAH


YULIA HASANAH
MENULIS ADALAH HIDUPNYA

Perawakan gadis ini biasa saja. Tingginya pun seukuran tinggi kebanyakan perempuan Indonesia. Kulitnya hitam manis. Dengan wajah dan matanya yang membulat. Menghasilkan sebuah karya yang fenomenal melebihi J.K. Rowling adalah obsesi terpendam gadis berjilbab bernama Yulia Hasanah ini. Oleh karena itu penyuka komik ini berusaha mewujudkannya dengan mengikuti Batre (Basic Writing Training for Beginner) Angkatan V yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Depok.
Tidak berhenti di sana, ia senantiasa berusaha menulis di setiap harinya agar kemampuan menulisnya semakin terasah. Dan terbukti seluruh tugas yang diberikan oleh tutor dalam pelatihan itu selalu dikerjakannya. Misalnya tugas merekonstruksi sebuah dongeng dunia yang bila dibaca ternyata terasa amat memukau.
Bagi anak terakhir dari lima bersaudara ini menulis adalah hobinya, menulis adalah hidupnya. Agar ia dapat hidup maka ia perlu membaca. Maka tak heran tas punggungnya yang selalu ia bawa kemana-mana itu berisi banyak buku untuk menyalurkan hobinya membaca.
Walaupun dirasa pendiam dan pemalu oleh temannya dalam pelatihan itu, juga pemalasnya yang ampun-ampunan dan suka menggampangkan persoalan seperti yang diakuinya sendiri, Yulia punya cita-cita luhur yaitu menjadi orang yang berguna di dunia dan akhirat. Ya, sebuah cita-cita yang amat mulia bagi perempuan yang teramat sangat untuk kuliah ini. Tapi sayang sampai saat ini keinginannya belum terpenuhi karena alasan klasik yang dialami sebagian besar pelajar Indonesia, yaitu masalah biaya. Jika saja masalah ini teratasi ia berkeinginan untuk masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Namun pada dasarnya inilah bentuk pengorbanannya kepada orang tuanya sebagai sebuah realisasi nyata dari cita-cita luhurnya itu, yaitu menjadi orang berguna. Bukan menjadi orang yang tidak berguna karena memaksakan diri dan orang tuanya untuk menguliahkan dirinya. Sungguh sebuah akhlak terpuji yang perlu ditiru bagi remaja Indonesia lainnya yang saat ini diserbu oleh hedonisme dan konsumerisme.
Semoga tetap istiqomah.

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s