MAZHAB SELANGKANGAN


MAZHAB SELANGKANGAN
By: Riza Almanfaluthi

Saat ini saya tidak membahas masalah perbedaan pendapat di ranah fikih hanya gara-gara menampilkan judul dengan kata awal: mazhab. Karena sudah jelas tidak ada kata yang kedua dalam pemikiran Islam. Tetapi saat ini saya hendak mengutarakan sesuatu yang menjadi polemik belakangan ini. Polemik yang hampir-hampir menyerupai pertarungan pemikiran di tahun 70-an antara Nurkholis Madjid dan H.M. Rasyidi dan berpuncak di tahun 1994 antara Nurkholis Madjid dan Daud Rasyid di Taman Ismail Marzuki (TIM), yaitu polemik dan benturan pemikiran Islam versus sekulerisme.
Setelah rehat beberapa saat—walaupun masing-masing telah bermetamorfosis membentuk lembaga-lembaga sesuai dengan keyakinan pemikirannya masing-masing seperti partai politik atau jaringan komunitas—maka polemik itu muncul kembali. Tidak di ranah yang sama, tapi di ranah yang sepi dari publikasi dan apresiasi masyarakat secara luas yaitu sastra. Maka dari itu kebanyakan yang mengetahui polemik ini adalah mereka selaku pegiat sastra Indonesia, baik pelaku, penikmat, penggembira atau sekadar kepura-puraan dari ketiganya.
Polemik itu dimulai dengan tulisan Hudan Hidayat (pengusung liberalisme sastra) di Jawa Pos (06 Mei 2007) yang “membuka front” dengan mengkritik Pidato Kebudayaan Taufik Ismail yang dibacakan (lagi-lagi) di TIM akhir tahun lalu. Dalam pidatonya itu Taufik Ismail membunyikan genderang perang terhadap para satrawan atau cuma setengah sastrawan yang mengusung Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) di setiap karya mereka. Maka setelah dipicu demikian, perang pemikiran sastra meledak dengan hebatnya. Entah melalui media nasional ataupun lokal dan diskusi-diskusi komunitas.
Kali ini saya tidak akan ikut berdiskursus dalam polemik itu, walaupun sudah jelas keberpihakan saya ada di mana. Bagian argumentasi disertai ribuan fakta biarlah mereka sendiri—para sastrawan—yang bersuara. Sedangkan bagian saya, biarlah yang remeh temeh. Dari berbagai wacana di kedua belah pihak itu saya cuma ingin menjelaskan kepada masyarakat luas atas sebuah ketidaktahuan bahwa inilah yang disebut Sastra Mazhab Selangkangan itu.

Apa itu Sastra Mazhab Selangkangan?
Sastra Mazhab Selangkangan (SMS) atau sering juga disebut Fiksi Alat Kelamin (FAK) ini menurut Taufik Ismail adalah sebuah genre baru dalam sastra Indonesia yang muncul setelah gelombang besar reformasi membawa perubahan politik di tanah air. Digerakkan oleh mereka yang permisif, adiktif, serta sesuai dengan karakteristiknya memang pantas untuk disebut sebagai bagian dari GSM (Gerakan Syahwat Merdeka).
Ciri sastra ini menurut Sunaryono menganut vulgarisme deskriptif selangkangan. Sedangkan menurut Wowok Hesti Prabowo adalah mazhab yang senantiasa menyebarkan aliran neo-liberalisme yang cenderung memperbolehkan pengikutnya berbuat apa saja sebagai perayaan “hak asasi manusia”. Juga bercirikan nonsens (tidak penting), porno-praxis (mendewakan tubuh dan seks), dan cenderung anti peran agama (sekuler). Sastra-sastra nonsense merayakan hal-hal sepele, seperti odol, sikat gigi, sepatu biru, celana dalam, sarung, dan sesekali agar keren juga mengeksplorasi daun mapel, pohon willow dan rumput azalea yang jarang bahkan sukar ditemukan di Indonesia.
Bahkan menurut Viddy beberapa media sastra Jakarta pun telah bertahun-tahun ikut merayakan kata-kata semacam rembulan tumbuh di dengkulku, kapal berlabuh di meja makan, pu**** su**mu patah di altar (maaf), atau malam biru menggoreng onde-onde yang cukup membingungkan bahkan bagi penyair dan budayawan senior sekelas Abdul Hadi WM waktu membedah puisi-puisi semacam itu di Cakrawala Sastra Indonesia yang diselenggaraan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Lalu Siapa Pelopor SMS?
Awal dan pertengahan tahun 2002, muncul Larung (Ayu Utami), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng), dan Ode untuk Leopold Van Massoch (Dinar Rahayu). Ketiga novel ini ini secara gamblang berbicara tentang seks. Larung adalah kelanjutan dari novel seksual juga yang berjudul Saman yang lahir dan menjadi pemenang dari Sayembara Menulis Novel DKJ.
Kemudian Djenar Mahesa Ayu secara menggemparkan di salah satu bukunya yang berjudul Waktu Nayla menceritakan tentang adegan oral seks antara seorang anak perempuan dengan ayah kandungnya! Luar biasa berani! Yang menurut Kathrin Bandel, seorang kritikus sastra, novel itu tidak mempunyai logika cerita.
Siapa Pendukung SMS?
Saat ini Komunitas Teater Utan Kayu (TUK) bisa disebut sebagai penarik gerbong kereta liberisasi sastra ini. Sejalan dan seide dengan liberalisasi pemikiran agama yang dilakukan oleh para dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL).
Didukung juga oleh media nasional dan lokal yang senantiasa perhatian terhadap karya-karya mereka. Sehingga sepertinya sastra Indonesia hanya berkutat pada sastra-sastra yang antimanfaat.
Dengan big boss-nya adalah jaringan globalisasi Yahudi, Viddy menulis: “Pemikir Islam, Yusuf Qaradhawi, pernah mengatakan, bahwa globalisasi kebudayaan adalah jalan untuk menghancurkan kearifan-kearifan lokal agar suatu bangsa hanya mengekor kepada satu kebudayaan global, yakni kebudayaan Yahudi-Free Mason. Filsuf-filsuf dunia yang mendukung “penghancuran kearifan lokal” seperti Roland Barthes, Michael Foucoult, dan Raman Shelden, telah lama dipuja-puja sejak awal kelahiran dan pendirian TUK.”
Apa yang Dilakukan Mereka Saat Ini?
TUK kini juga mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai tempat dan daerah, sebagai bagian dari “gerakan politik sastra” untuk liberalisasi. Pada tataran strategis mereka telah berhasil menguasai DKJ.
Lalu dominasi mereka di Koran-koran dan majalah mereka selama bertahun-tahun. Mengadakan anugerah seni dan sastra liberal. Serta dengan jaringan yang mengglobal, mereka dapat mengirimkan ke setiap pesta puisi internasional orang-orang yang hanya sejalan dengan pemikiran mereka.
Adakah yang Melawan Hegemoni Mereka?
Ada. Baik dengan karya maupun wacana. Taufik Ismail bisa jadi adalah lawan berat mereka. Juga Gola Gong dan Saut Situmorang (yang ini seorang Nasrani). Di belakangnya banyak tokoh komunitas dari Yogya, Medan, Depok, Pekanbaru, dan Banten berusaha untuk melawan ideologi sekuler tersebut. Forum Lingkar Pena (FLP) diharap banyak oleh para pelawan TUK ini, karena jumlah anggotanya yang banyak, tersebar di seluruh Indonesia, dan pembinaan calon penulis yang dikenal baik. Juga karena idealisme yang dipegang teguh sesuai dengan visinya yaitu menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan umat.
Tapi sayang, menurut Ketua FLP-nya sendiri, M Irfan Hidayatullah—melawan mereka FLP seringkali hanya bermodal semangat. Selalu kehabisan referensi dan tidak didukung dengan wawasan yang kaya. Ini disebabkan karena kurangnya budaya membaca. Oleh sebab itu ia menyarankan untuk senantiasa menumbuhkan semangat baca yang tiada padam. Tiada hari tanpa membaca. Tiada hari tanpa perkembangan wawasan keislaman, kebudayaan, dan kesastraan!
***
Apa yang saya sampaikan di sini adalah informasi mini dan singkat dari sebuah gerak sastra penganut paham kebebasan seenaknya. Lebih lanjut dan lebih luasnya pembaca dipersilakan untuk mengeksplorasi khazanah perdebatan sastra ini melalui publikasi media baik di dunia nyata ataupun maya. Lalu tinggal menentukan pilihan keberpihakan. Suatu kejanggalan bilamana seseorang tidak memilih.
Sebagaimana seorang teman memilih untuk bergenre feminisme—anak kandung dari liberalisme itu sendiri—dalam setiap karyanya, maka saya tidak bisa memaksa. Karena semuanya memiliki konsekuensi masing-masing. Semuanya kembali pada pilihan masing-masing. Tentunya sang teman pun tidak bisa memaksakan ideologinya kepada saya, mengutip Helvy, seperti yang dilakukan oleh sastrawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para sastrawan Indonesia untuk menulis dengan memakai ideologi mereka sebagai dasar.
Karena sesungguhnya, bagi saya menulis adalah suatu ekspresi yang harus bisa mencerahkan orang. Sekaligus sarana menganjurkan kebaikan dan menghindarkan kemungkaran. Dan di setiap huruf yang tertulis ada tanggung jawab yang diminta oleh Sang Mahapemiliksastra. Sang Pemilik Keindahan Sejati.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji:
1. Adian Husaini, Penyesatan Opini: Sebuah Rekayasa Mengubah Citra, Gema Insani Press: 2002;
2. Helvy Tiana Rosa, Segenggam Gumam, Syamil CIpta Media, Bandung: 2003;
3. Hudan Hidayat, Nabi tanpa Wahyu, Jawa Pos, 1 Juli 2007
4. Hudan Hidayat , Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya, Jawa Pos, Minggu, 06 Mei 2007 http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=283968
5. M. Irfan Hidayatullah, sebuah email untuk forum_lingkarpena@yahoogroups.com;
6. Taufik Ismail, 13 Wajah Gerakan Syahwat Merdeka,
Perspektif, Gatra Nomor 7 Beredar Kamis, 28 Desember 2006 http://www.gatra.com/artikel.php?id=100809;
7. Taufik Ismail, HH dan Gerakan Syahwat Merdeka , Jawa Pos, Minggu, 17 Juni 2007,
http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=290339;
8. Sunaryono Basuki Ks, Gonjang Ganjing Sastra Selangkangan: Bagian pertama dari Dua Tulisan;
9. S. Yoga, Puritisme dalam Sastra Indonesia: Tanggapan untuk Imam Cahyono;
10. Viddy AD Daery, Sebuah Tulisan.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:17 08 08 2007

Advertisements

7 thoughts on “MAZHAB SELANGKANGAN

  1. Ideologi mana yang harus menjadi dasar? Kemanusiaan? Agama? Nasionalisme? SMS mendapatkan tempat di atas karena tak ada karya sastra lain yang bisa menyainginya saat ini. Terus terang, saya ingin sekali muntah ketika membaca Saman dan Larung. Namun, tepat seperti itulah kondisi sosial di Indonesia. Sementara karya sastra yang sok berideologi hanya bicara tentang palestina, haramnya pacaran, indahnya pernikahan, dan remehan yang tak semua orang ‘ngeh. Ini yang menjadikan karya itu jadi eksklusif. Males aja bacanya. Begitu banyak novel-novel islami bertebaran, tapi coba survey ke toko buku, deh. Novel kayak gituan paling susah laku. Kalau nggak laku, berarti nggak dibaca, kalau nggak dibaca, berarti pesan yang mau disampaikan nggak nyampe. Gitu, lho. Tapi, salut buat ‘Ayat-ayat Cinta’. Tapi…. masih tapi nih. Sanggup nggak karya sastra orang-orang berideologi ini menyaingi teenlit, cheecklit, atau novel-novel metropop yang nggak nyastra, nggak ada manfaat kecuali hiburan, tapi laku di pasaran? Mmmhhh… tantangan nih.

    Like

  2. Itu menjadi tantangan bagi kita. Ada term yang kiranya perlu diluruskan tentang sok ideologi, dan tentang keremehtemehan palestina, haramnya pacaran, indahnya pernikahan, dan remehan lainnya. Bagi saya itu bukan sesuatu yang remeh temeh. Saya khawatir itu menjadi sekadar kambing hitam dari ketidakmampuan kita dalam menghasilkan karya. Banyak hal yang menjadi variabel sehingga SMS menjadi berkembang saat ini. Dari kondisi eksternal kaum muslimin dan tentunya yang Anda sebutkan yaitu kondisi internal kaum muslimin itu sendiri.
    Terimakasih atas komentarnya.
    🙂

    Like

  3. ideologi?
    semua aktivitas budaya adalah ideologis!
    jadi bukan cuman fiksi islami aja yang ideologis (yaitu islami!) tapi fiksi macam yang diproduksi Sastrawangi itupun sangat ideologis!!! ideologi kelompok terakhir ini yah wangi sastranya itu, seks dalam sastranya itu!

    persoalannya: apakah “sastra” itu?

    benarkah Sastrawangi itu “sastra”?

    nah ini baru pertanyaan ideologis!!!

    hahaha…

    Like

  4. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s