MISSING LINK DAN MANASIK HAJI MASSAL


MISSING LINK DAN MANASIK HAJI MASSAL

 

Ada sesuatu yang hilang dari sistem pengurusan haji yang dilakukan oleh Kementerian Agama, dalam hal ini Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat. Sampai detik ini saya tidak pernah diberitahu secara tertulis tentang tahun pemberangkatan ibadah haji kami.

Seharusnya, sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat tentu tidaklah sulit untuk mengirimkan pemberitahuan tertulis. Bahkan lebih gampang daripada menelepon satu-persatu kepada lebih dari 3000 calon jama’ah haji Kabupaten Bogor.

Atau sebenarnya saya sudah ditelepon melalui handphone atau telepon rumah tetapi tidak tahu dan pas kebetulan tidak ada di rumah. Yang pasti pada bulan Januari 2011 itu ada selebaran dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) tentang penawaran untuk mengikuti bimbingan mereka. Tidak kami ambil karena kami memang berniat untuk menjadi jama’ah haji perseorangan atau mandiri.

Berarti kalau sudah ada penawaran maka seharusnya sudah ada daftar siapa-siapa yang akan berangkat haji tahun 2011 ini. Pun, sebenarnya waktu proses pendaftaran awal, kami sudah diberitahu oleh petugas Bank Mu’amalat dan petugas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor bahwa untuk nomor porsi yang kami miliki akan diberangkatkan tahun 2011. Namun itukan secara lisan dan tidak bisa dipegang.

Sebenarnya cukup dengan mengirimkan surat pemberitahuan kepada para calon jama’ah haji maka tidak ada lagi missing link dari sistem pengurusan haji di Kabupaten Bogor. Ditambah dengan menyediakan nomor hotline yang bisa dihubungi oleh para calon jama’ah haji jika mereka ingin menanyakan informasi haji.

Mungkin hal ini tidak akan terjadi kalau ikut KBIH karena KBIH sering mendapatkan informasi lebih cepat dan awal dari petugas Kantor Kementerian Agama tentang segala pernak-pernik haji. Memang merepotkan untuk memberitahu satu persatu. Makanya petugas Kantor Kementerian Agama cukup dengan memberitahu KBIH.

Tetapi ya itu tadi, yang ikut KBIH ataupun tidak mempunyai hak yang sama dalam pelayanan haji. Perlu dipikirkan cara efektif dan efisien agar semua informasi bisa tersalurkan kepada seluruh calon jama’ah haji.

Dan saya tahu bahwa kami menjadi peserta haji di tahun ini karena saya mempunyai teman di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bojonggede. KUA adalah ujung terdepan Pemerintah dalam pengurusan haji karena merekalah yang akan memberikan bimbingan manasik haji. Dari teman saya itulah saya diberitahu bahwa kami akan menjadi calon jama’ah haji untuk pemberangkatan tahun 2011. Sekalian juga diberitahu informasi akan adanya manasik haji massal se-Kabupaten Bogor.

Nah, urgensinya mengikuti manasik haji massal adalah karena di sana tempat segala informasi penting bagi jama’ah haji perseorangan. Karena lagi-lagi kalau yang mengikuti KBIH tentu semuanya sudah diinformasikan dan akan diurus oleh KBIH.

Manasik haji massal diselenggerakan empat kali. Dua kali sudah terlaksana di hari sabtu akhir bulan Mei 2011 lalu dan di awal Juni 2011. Dua kali lagi nanti pada saat praktik manasik massal di alun-alun depan Gedung Tegar Beriman Komplek Pemda Cibinong.

Di manasik haji massal diberitahu informasi berupa apa-apa yang perlu dipersiapkan oleh calon jama’ah haji, tata cara pembuatan passport, jadwal manasik haji, informasi kesehatan, dan jadwal pemeriksaan kesehatan. Akan saya tulis di tulisan yang lain tentang tata cara pembuatan passport, Insya Allah bila ada kesempatan.

Ini saja yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat buat para calon jama’ah haji Kabupaten Bogor terutama jama’ah mandirinya. Beberapa kata kunci buat para jama’ah haji perseorangan atau mandiri: aktiflah bertanya.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16.53 11 Juni 2011

 

Baca ini:

  1.  

 


Kementerian Agama, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bogor, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji, KBIH, jama’ah haji perseorangan, jamaah haji mandiri, Bank Mu’amalat, nomor hotline, kua, kantor urusan agama kecamatan bojonggede, bojonggede, manasik haji, manasik, manasik haji massal, Gedung Tegar Beriman Komplek Pemda Cibinong, bogor, kabupaten bogor.

[CATATAN SENIN KAMIS]: EUFEUMISME PARADOKSAL


EUFEUMISME PARADOKSAL

 

Bergumul dengan percakapan tadi malam dengan seseorang membuat saya menafsirkan ulang arti dari sebuah permintaan, pernyataan, ataupun penegasan akan sebuah keinginan. Inilah pentingnya memahami arti atau makna yang sebenarnya dari sebuah kalimat yang terlontar. Tanpa ada reduksi arti ataupun distorsi makna.

Pun, karena kita berada di sebuah tatar di mana sebuah kesopanan dijunjung di atas kepala setinggi-tingginya dengan sebuah aforisme 1000 kawan terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak maka yang tampak mengemuka adalah eufeumisme. Penghalusan ungkapan sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar, tidak menyenangkan, ataupun merugikan.

Maka akan banyak sekali kita temukan di negeri sejuta eufeumisme ini, semua penghalusan itu. Mulai dari kematian hingga menyangkut masalah apa yang ditelan manusia. Bahkan menular pada kehidupan perpolitikan negeri ini yang penuh basa-basi dan kehidupan kita sehari-hari.

Sebuah perusahaan ketika ingin memecat seseorang, maka yang dilakukan bukan seperti orang-orang di Barat yang tanpa tedeng aling-aling mudah untuk bicara “You are fired!!!” dengan berteriak di depan durja sang korban, hanya beberapa sentimeter saja jaraknya. Tidak seperti itu. Tetapi cukup dengan sebuah ungkapan “tidak membutuhkan Anda lagi” yang didahului dengan kata maaf.

Yang lebih halus lagi adalah ketika pinta itu direpresentasikan dengan hal-hal yang kontradiktif dari kalimat yang terucap—melanjutkan contoh di atas—misalnya, “Anda sepertinya butuh waktu untuk istirahat, dan kami dengan senang hati memberikannya kepada Anda.” Sebuah tawaran yang teramat baik dan terpuji. Tetapi dibaliknya adalah: “Kau dipecat!!!” Ironi. Paradoks. Menyakitkan.

Inilah eufeumisme paradoksal.

Hakim di Pengadilan Pajak sedang meneliti syarat formal pengajuan gugatan yang diajukan Penggugat. Dalam hal ini Penggugat kebetulan mencantumkan dua keputusan yang digugat dalam satu surat gugatan. Maka Majelis Hakim menilai bahwa gugatan ini tidak dapat diterima. Majelis hakim mengatakan kepada Penggugat, “Gugatan Penggugat tidak dapat diterima.” Sebenarnya itu cukup tapi terkadang ditambah dengan kalimat, “Lebih baik perbaiki saja surat gugatan ini.”

Padahal sia-sia saja untuk diperbaiki karena biasanya pemeriksaan gugatan dilakukan setelah batas waktu pengajuan 30 hari terlampaui. Penggugat tak akan bisa lagi mengajukan gugatan karena jatuh tempo pengajuan itu telah lewat. Dengan kata lain, “Percuma!” Tawaran hakim Inilah yang bisa disebut eufeumisme paradoksal.

Suatu malam di ujung telepon sana, atau di sudut layar telepon genggam, atau di layar putih surat elektronik, atau dalam gerak cepat layar chat box, seorang laki-laki menerima pesan terucap atau tertulis seperti ini, “Maukah kau melupakanku dari hidupmu, karena kau terlalu baik buatku. Tetapi aku tetap menjadi kawan atau adik terbaik buatmu.”

Laki-laki ini terkejut, hatinya karut seiring langit yang memuntahkan angkaranya dengan petir membahana. Ia tahu perempuan itu cuma mau bilang, “Kau, aku, selesai!” Sebuah pernyataan tentang kemuakan, kebencian, ketakbergunaan, tak perlu diingat lagi kepada laki-laki itu. Tetapi dibalut dengan eufeumisme “maukah kau melupakanku dari hidupmu.” Yang sebenarnya adalah “Gua empet lihat muka elo!” Plus paradoksal, “karena kau terlalu baik buatku.” Yang sejatinya terkatakan adalah: “Iblis bermuka nabi”. Inilah eufeumisme paradoksal.

Yitzak Rabin di tahun 1992 adalah Perdana Menteri baru buat Israel. Ini kali kedua setelah ia menjabat pertama kalinya sebagai Perdana Menteri di tahun 1974-1977. Ia dikenal dengan tangannya yang berlumuran darah rakyat Palestina.

Tahun 1948 ia melakukan teror dan pengusiran terhadap puluhan ribu rakyat Palestina dari tanah mereka. Ratusan ribu lainnya menyusul di tahun 1967. Pada saat gerakan intifadhah selama 4 tahun yang dimulai tahun 1987, Israel dibawah kendalinya sebagai Menteri Pertahanan melakukan pembunuhan, penyiksaan, pemotongan anggota badan, pemenjaraan, dan pengusiran terhadap bangsa Palestina.

Dan apa yang ditawarkan setelah ia menjabat sebagai Perdana Menteri Israel kala itu: menawarkan keinginan dan visi perdamaian. Tetapi sejalan dengan itu Rabin tetap memerintahkan penyelesaian 11 ribu unit perumahan yang belum jadi di Tepi Barat, menolak setiap kompromi terhadap kota Yerusalem, dan menolak pemberian kewarganegaraan Israel bagi orang-orang Palestina yang hidup di tanah pendudukan tersebut. Di tahun 1994, ia dianugerahi Nobel Perdamaian hanya gara-gara ia mau berdamai dengan Palestina di tahun 1993.

Tangan kanan Yitzak Rabin menyerukan salam perdamaian kepada rakyat Palestina dan dunia namun tangan kirinya tetap dengan cambuk yang siap untuk dilecutkan. Inilah eufeumisme paradoksal. Bahkan diabadikan sampai sekarang oleh seluruh penerusnya.

Rwanda di akhir abad 20 adalah contoh getir dari ketiadaan harga nyawa manusia dan pembiaran dunia internasional atau impotennya negara-negara pengoar-ngoar demokrasi dan hak asasi manusia.

Rwanda dengan mayoritas Hutu yang tambun, bulat, berkulit gelap, dan petani dengan minoritas Tutsi yang ramping, tinggi, berkulit kurang gelap, dan peternak. Berkaitan dengan benang sejarah lampau antara Hutu yang sahaya dengan Tutsi yang penguasa. Namun di awal tahun 90-an itu Rwanda dipegang oleh Hutu. Tentu dengan semangat penuh kebencian dan kemarahan warisan kolonialisme Belgia kepada minoritas Tutsi. Sebagian Tutsi kuat diluar perbatasan Rwanda melalui RPF (Front Patriotik Rwanda) dan siap merongrong pemerintahan Hutu yang berkuasa.

November 1992, Leon Mugessera—kuasa Hutu dalam pidatonya, menyerukan untuk mengirim Tutsi ke Ethiopia—karena menurutnya Ethiopia adalah negara sebenarnya buat Tutsi dan bukan Rwanda—melalui sungai Nyabarongo. Inilah eufeumisme paradoksal itu. Di tahun 1994, faktanya Nyabarango penuh dengan Tutsi, benar-benar penuh, hingga sampai ke Danau Victoria. Tapi dalam wujud bangkai. Genosida selama 100 hari—6 April hingga 18 Juli 1994—itu memakan korban sekitar 800 ribu orang terbunuh. Atau rata-rata 5 orang per menitnya.

Lima tahun berikutnya karena benci telah menemukan tempat strategisnya, Ambon pun membara. Tapi lidah kelu untuk bicara dan mengisahkannya karena banyak tikungan tragedi di sana. Atau ah, kalimat terakhir tadi cuma eufeumisme paradoksal untuk sekadar berkelit bahwa sesungguhnya saya memang ketiadaan pengetahuan tentangnya. Bisa jadi.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

geretap daun kena hujan

00.42 7 Juni 2011

 

Tags: eufeumisme, paradox, eufeumisme paradoksal, pengadilan pajak, rwanda, ethiopia, genosida, ambon, leon mugessera, danau Victoria, nyabarongo, hutu, tutsi, belgia, rpf, yitzak rabin, nobel perdamaian, palestina, yerusalem,

 

 

 

 

 

 

 

tabal di jeruji


tabal di jeruji

**

 

 

 

aku lapar

pada bayang -bayangmu

di jendela bus

di sepanjang perjalanan pulangmu

 

aku lapar

pada kantuk yang menusuk
matamu

hingga kau terantuk-antuk

dengan relavitas einstein

yang menggoda tabir memori:

lama

 

dan aku lapar

menjadi panorama

menjadi pepohonan

menjadi danau

menjadi sungai

menjadi rumah-rumah

menjadi gedung-gedung

menjadi tiang-tiang listrik

menjadi papan-papan reklame

menjadi lampu merah, kuning, dan hijau

menjadi penunjuk jalan

menjadi lampu penerang

menjadi gelap

menjadi mural-mural

menjadi toko-toko

menjadi layar-layar penutup warung

menjadi pemulung

menjadi mobil dan motor

menjadi pengasong

menjadi pengamen

menjadi slogan-slogan kampanye

menjadi bendera-bendera usang dan lapuk

menjadi apa saja yang kau lihat

di balik jendela

 

inilah tabal di jeruji sepi

pada lapar yang melangit

 

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam-malam ramai

10.18 03 Juni 2011

SALAH LAGI, SALAH LAGI


SALAH LAGI, SALAH LAGI

 

Hari ini memang aneh. Saya merasa diberikan pelajaran berharga sama Yang Di Atas. Untuk benar-benar ingat pada-Nya dan tak melulu dunia saja. Betapa tidak, Allah takdirkan saya untuk mengalami dua kejadian berturut-turut di pagi dan malamnya. Apa? Salah naik angkutan.

Pagi hari, setelah turun dari Kereta Rel Listrik (KRL) Pakuan Ekspress tujuan Tanah Abang di Stasiun Sudirman, saya seharusnya naik Metromini 640 Tanah Abang-Pasar Minggu. Metromini yang biasa saya naiki untuk sampai di depan kantor.

Di Stasiun Sudirman itu ada tiga bus yang biasa berhenti di sana. Satu Kopaja dan dua metromini M640-M15. Kopaja bisa dilihat dari warna hijaunya yang berbeda. Yang menyarukan memang dua metromini itu. Kalau tidak awas dengan nomor di bagian depan maka kita bisa keliru. Tetapi bagi yang jeli dan sudah terbiasa naik dari sana seharusnya tidak akan keliru.

Tapi pagi itu, saya yang memang mengalami kejadian ini. Dapat SMS dari teman, ingin langsung membalasnya, tetapi tak awas dengan metromini yang saya naiki. Pantas saja sedikit yang ikut dalam metromini itu. Tetapi baru sadar ketika di Semanggi, bus tipe sedang itu tidak belok ke arah kiri tetapi lurus untuk kemudian naik ke atas Semanggi dan menuju ke arah Slipi.

Segera saya berteriak, “Kiri…kiri…Pak!!!” Di atas jembatan Semanggi dan di tengah banyaknya polisi yang berada di pinggir jalanan, metromini itu tidak mau berhenti dengan sempurna untuk menurunkan saya. Setengah meloncat saya turun dan syukurnya masih bisa berdiri tegap di permukaan bumi.

Jam di tangan masih menunjukkan waktu yang lapang untuk bisa sampai di kantor tepat waktu. Dengan tas ransel di punggung dan tas jinjing berisi berkas-berkas di tangan kanan, saya songsong matahari dan memeluknya. Hangat sekali terasa. Lebih kurang 15 menit berjalan menyusuri Semanggi, Komdak, dan Plaza Mandiri akhirnya saya sampai di kantor dengan mengeluarkan banyak keringat. Ada hikmahnya: saya jadi bisa berolahraga. Ini kejadian pertama.

Kejadian berikutnya. Jakarta pukul 17.05. Semanggi macet. Sebelumnya sempat hujan memang. Begitulah Jakarta, hujan sedikit sudah membuat kemacetan. Saya kembali naik Metromini 640 menuju Sudirman. Saya pikir kemacetannya tak seberapa, ternyata tak biasanya hingga membuat saya sampai di Stasiun Sudirman dengan melewati dua jadwal kereta yang menuju Bogor. Yang menyakitkan adalah KRL 17.40 berangkat ketika saya sedang antri tiket.

Ya sudah, saya harus menunggu KRL Bojonggede Ekspress satu jam berikutnya. Sebelumnya saya Sholat maghrib dulu di sana. Lalu menuju Peron 1 untuk menanti KRL Bojonggede Ekspress. Saya sengaja ke Peron 1 untuk naik kereta yang menuju Tanah Abang dulu agar bisa duduk. Stasiun Sudirman memang terdiri dari dua peron. Peron 1 adalah untuk jalur kereta dari Manggarai menuju Tanah Abang, sedangkan Peron 2 sebaliknya.

Ketika ada pengumuman bahwa KRL Bojonggede Ekspress akan segera tiba dari Manggarai untuk menuju Tanah Abang terlebih dahulu, segera saya bersiap. Dan ketika pintunya berhenti tepat di depan hidung saya, segera saya meloncat ke dalamnya. Dan syukurnya saya dapat tempat duduk. Tidak panjang lebar saya kemudian buka ipod dan buku. Sesekali—atau berulang kali—balas sms teman.

KRL kemudian menuju Stasiun Tanah Abang dan berhenti sekitar 4 menit untuk kembali ke Stasiun Sudirman dan stasiun berikutnya. Seluruh pengumuman yang keluar dari pengeras suara dengan desibel tinggi tentang kereta yang saya naiki ini tidak mampu merubah persepsi saya bahwa KRL ini adalah benar KRL Bojonggede Ekspress. Sedikitnya orang yang naik dan tampangnya yang tidak familiar pun tidak merubah persepsi saya juga.

Barulah saya menyadari kalau saya salah naik KRL ketika KRL ini berhenti di stasiun yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. “Stasiun Klender…” kata penumpang sebelah saya kepada temannya. Saya tersentak dan alarm pertahanan diri mulai menyala.

Saya bertanya, “Bu, ini ke Bogor kan Bu?”

“Bukan, ini yang ke Bekasi,” jawabnya. Saya langsung tepuk jidat betulan. Geleng-geleng kepala. Kok bisa-bisanya saya sampai tertukar KRL. Dan ini sudah menjadi takdir saya kali yah, ketika saya sodorkan tiket kepada petugas dengan posisi terlipat dan tertutup, tiket ke Bogor itu tidak dibuka sama petugas dan langsung dilubangi begitu saja.

Saya pun turun di Stasiun Kranji kurang lebih setengah delapan malam. Segera ke loket untuk membeli tiket KRL Ekonomi AC menuju Stasiun Kota yang sebentar lagi akan tiba. Tak sampai tiga menit kereta itu datang. Saya masuk ke dalamnya. Dan banyak bangku yang kosong melompong. Sedikit sekali penumpangnya.

KRL melewati Stasiun Jatinegara, Pasar Senen, lalu berakhir di Stasiun Kota tepat pukul 20.05. Menuju loket lagi untuk membeli tiket. Ada dua pilihan jadwal yaitu KRL Ekonomi yang terakhir pukul 20.45 atau KRL Pakuan Ekspress jam sembilan malam. Saya pilih yang pertama. Waktu setengah jam lebih jelang keberangkatan, saya gunakan untuk menuliskan cerita ini. Dengan menggunakan laptop tentunya.

Kemudian KRL Ekonomi dari Bogor tiba di Peron 12, segera saya naik ke dalamnya. Kondisi penuh karena sudah diisi penumpang dari stasiun sebelumnya. Alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan untuk menyelipkan tubuh di kursi yang tersisa satu di deretan itu.

Kini alarm sudah saya siapkan agar tidak terjadi keteledoran lagi. Apa coba keteledoran yang kemungkinan akan terjadi? Kebablasan sampai Stasiun Bogor, karena stasiun terakhir saya adalah Stasiun Citayam—puluhan kilometer sebelum kota Bogor. Makanya saya tidak tidur. Walau kantuk dan capai mendera. Tidak ada aktivitas yang bisa saya lakukan kecuali mengutak-atik hp. Membaca buku jelas tak mungkin karena temaramnya lampu kereta kelas ekonomi ini. Terima saja nasib ini.

Lebih dari 45 menit perjalanan menuju Stasiun Citayam. Pada akhirnya sampai rumah jam sepuluh malam. Lima jam perjalanan hanya untuk pulang. Rumah sudah sepi. Di ruang tamu saya menyudutkan diri. Mengulang fragmen-fragmen yang berputar seharian ini. Mencoba menandai berapa banyak kelalaian yang telah dibuat. Sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki tak mampu mencukupi.

Sampai pada episode salah naik angkutan di pagi dan malamnya membuat saya terhenyak dan baru teringat kalau saya lalai di hari itu untuk melakukan dua hal. Infak dan baca doa ini: Allahumma arinal haqqa haqqa war zuqnattiba’ah wa arinal baathila baathila war zuqnajtinabah. Ya Allah tunjukilah kepada kami, yang benar itu benar dan dekatkanlah kami padanya, dan tunjukilah kepada kami yang salah itu salah dan jauhkanlah kami dari itu. Bukankah infak mencegah musibah? Pun dengan do’a ini agar tak terjadi salah ambil jurusan. Apalagi salah-salah lainnya.

Sampai di sini, sampai hitung-hitungan ini, salah-salah itu semakin bertumpuk. Dan saya tak mampu untuk menghitungnya.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Selasa 23.14 31 Mei 2011

 

Tags: Kereta Rel Listrik Pakuan Ekspress, krl, pakuan ekspress, tanah abang, metromini, kopaja, 640, 15, stasiun sudirman, stasiun tanah abang, stasiun kranji, stasiun jatinegara, stasiun senen, stasiun kota, pasar minggu, semanggi, slipi,komdak, plaza mandiri, bojonggede ekspress, manggarai, stasiun bogor, stasiun citayam

 

 

    

tasik mata


tasik mata

 

menakar tawar air waduk

di senja yang jatuh tersungkur di belakang

berkilau dengan kelap-kelip keramba

di deret tiga raksasa bisu bukit gelap

dan kau duduk di tepian

bercerita apa saja

dengan sebuah tatap lekat

ketika aku hidangkan padamu

kisah tentang awal sebuah pertemuan

saat itu binatang malam tak mau menjadi pecundang

berlomba-lomba menyeruakkan tala

kau mewujud menjadi halimun

melipur lara memilin rasa

senandungkan apa saja

di depanku

katamu: tak pernah kuduga

lantas kau tarik aku ke taman kota

di bayang gelap pohon-pohon tua

di antara lalu lalang para penjaja suara

diderai pendar lampu yang melukis wajahmu

kau tak bosan-bosannya

dendangkan apa saja

katamu: semuanya berubah

saat itu aku hanyalah angin

yang menelisik tasik matamu

dalam-dalam

kau temukan apa? tanyamu

indah semarak kataku

lalu sangkala menjadi musuh kita

karena terjaga

kita menjadi mula

sebelum menjadi halimun dan angin

karena kita bukanlah dev dan maya

kemudian sesaat

hujan membakar malam

di stasiun itu

aku sempatkan diri untuk berkata:

saatnya pergi

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dikejutkan

20.16 28 Mei 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ILUSI KATA


ILUSI KATA

 

Ada dalam sejarah seorang perempuan yang jika ia berbicara tak pernah untuk tidak menggunakan bahasa Alqur’an. Misalnya jika dia ditanya apa yang sedang dia kerjakan dan kebetulan sedang membaca maka perempuan itu akan menjawabnya dengan mengutip surat Al-alaq ayat 1 dan seterusnya: Iqra’ bismirabbikal ladziikholaq. Semata-mata agar tidak ada yang keluar dari mulutnya itu sebuah kesia-siaan.

Kalau itu yang terjadi pada kita, luar biasa bukan? Memang butuh modal yang luar biasa juga. Hafal Alqur’an, dekat dengan Al-qur’an, selaras perkataan dan perbuatan dengan Alqur’an. Wadaw, kalau saya? Tepok jidat beneran. Malu saya.

Kalau di tanya, “Za, apa yang sedang kau lakukan sekarang?” Saya tentu tak akan menjawabnya dengan mengutip Yaasiin ayat 72 pada saat saya sedang makan, “Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.”

Pertama karena saya tak hafal ayat-ayat Alqur’an mana yang berbicara tentang makanan. Tahunya sapi betina doang (Al Baqarah) atau hidangan (al Maa’idah maksudnya). Kedua, otak kanan saya—untuk saat ini—hanya bisa menstimulasi bahasa Indonesia. Maafkan saya ya Rabb atas kelemahan ini.

Dengan kaitan itu, suatu saat saya menemukan banyak sekali status di facebook yang dibuat oleh teman-teman ABG saya yang sedang pada jatuh cinta. Biasanya kalau malam minggu dinding home facebook saya diramaikan oleh celotehan mereka. Sampai dini hari juga mereka always
stay tune.

Status mereka itu contohya seperti di bawah ini, dan biasanya ada teman—atau teman—mereka yang menanggapinya. Kalau saya yang ditanya itu maka saya akan menulis atau berkomentar atau menjawab dengan rasa bahasa yang lain.

A = Anak Baru Gede (ABG), B = Temannya ABG, Saya = Saya sendiri

Cinta

A     : Apakah kau mencintaiku?

B    : ya,aku mencintaimu

Saya    : Diam adalah cintaku yang tak terkatakan buatmu

Cemburu

A    : Cemburu ya…?

B    : ya,jelas    

Saya     : Kau tahu musim salju? Turunnya antara akhir November hingga akhir Februari. Setelahnya adalah musim semi. Dan aku adalah musim semi yang marah karena salju turun hingga Maret akan berakhir.

Rindu

A    : Merindukanku?

B    : Betul sekali

Saya    : Aku adalah tanah kerontang di penghujung musim kemarau.

 

Butuh

A    : I need you

B    : Sekali……….

Saya    : Aku adalah pelangi yang adanya ada jika hujan tiba sebelumnya. Hujan itu adalah kau.

 

Bahagia

A    : Hari ini aku bahagia sekali…

B    : Sama.

Saya    : kau bahagia? aku tujuh huruf itu untukmu.

 

Kantuk

A    : Nguantuuuuuk…

B    : Boboooooooo…

Saya    : Biarkan malam beristirahat sejenak dari celotehanmu. Masih ada hari esok.

 

Bunga

A    : Ada yang bisa berikan aku setangkai bunga?

B    : Nih, segepok.*(*%$(&(

Saya    : Mengapa kau meminta bunga? Bukankah kau adalah bunga itu sendiri?

 

Sakit

A    : Atit kepala… L

B    : Cepat sembuh yah…

Saya    : Jadikan aku paracetamolmu.

 

Dipuji

A    : Makasih ya, emang engkau yang terbaik?

B    : Iya dong.

Saya    : Aku mi’raj ke langit ketujuh.

 

Lapar

A    : Malam-malam lapar.

B    : Ayuk sini makan berdua.

Saya    : Aku potong bulan separuh, kutaruh di atas piring. Nih…

 

Lupa

A    : Forget me…

B:    : Tak bisa

Saya    : Aku tak bisa meminta matahari untuk terlambat terbit satu detikpun besok

 

Berbunga-bunga

A    : Kau membuatku berbunga-bunga

B    : J

Saya    : Tak hanya senyum, masih akan banyak bunga lagi

Dan sebagainya.

Dedy Corbuzier dan David Copperfield boleh dibilang ahli dalam ilusi optik. Saya bisanya cuma memulung, mengumpulkan, dan memilah kata-kata untuk dapat diilusikan. Hanya yang memfungsikan otak kanannya yang bisa menikmatinya. Dan hanya AlQur’an sebaik-baik perkataan. Penyair di zamannya pertama kali muncul sampai sekarang tak mampu untuk menandinginya. Di dalamnya tak ada ilusi. Yang ada hanya kebenaran sejati. Hanya satu itu.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

20.58 26 Mei 2011

Sehari Dengan Dua Sungkawa


Sehari Dengan Dua Sungkawa

 

Dua kabar duka membuat hari Sabtu ini menangis. Habis shubuh, saya sudah mendapatkan berita meninggalnya Ustadzah Yoyoh Yusroh—anggota DPR RI dari Fraksi Keadilan Sejahtera yang getol sekali mengusulkan pembolehan pemakaian jilbab buat perempuan anggota TNI. Ia meninggal setelah mobil yang ditumpangi dari Yogyakarta itu mengalami kecelakaan di Cirebon, Jawa Barat.

Satu kabar lagi adalah meninggalnya tetangga satu RT saya. Pak Syamsiar namanya—mantan ketua RT 11, RT kami. Ketika itu jam sepuluh pagi kurang. Saya dikejutkan dengan berita pingsannya dia. Maka saya bergegas ke rumahnya dan melihat kalau ia sedang dimasukkan ke dalam mobil oleh tetangga yang lain dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Adik ipar yang menyetir, saya disampingnya, dan istri beliau di belakang memangku kaki suaminya. Badannya masih hangat. Saya tidak panik karena sudah pernah mengalami hal ini, sewaktu mengantarkan bapak yang kondisinya lebih buruk darinya. Kami akan mengantarnya ke rumah sakit. Ada dua pilihan: Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga Depok atau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong.

Bu Syamsiar—karena pernah mendapatkan pelayanan yang kurang memuaskan dari RSUD Cibinong—menginginkan untuk segera menuju ke RS Mitra Keluarga Depok tetapi karena jalanan Citayam menuju Depok selalu macet maka kami sepakati menuju RSUD Cibinong terlebih dahulu. Dekat dengan komplek Pemerintah Daerah (Pemda) Cibinong. Bu Syamsiar hanya pasrah dan menyerahkan segala urusannya kepada kami.

Dari kursi depan saya memegang tangan Pak Syamsiar dan terasa hangat. Sepanjang perjalanan, kami berempat hanya memanjatkan dzikir dan doa pada Allah agar tidak terjadi sesuatu apapun pada Pak Syamsiar.

Ketika sampai di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Cibinong, barulah kami tahu bahwa ia sudah tidak bernafas lagi dari dokter jaga yang memeriksanya. Menurut istrinya, pagi itu suaminya memang mengeluhkan sakit di ulu hati namun tidak dihiraukan sampai ia duduk-duduk di kursi teras rumah. Barulah ketahuan kalau kemudian ia sudah tak sadarkan diri.

Saya segera menelepon pengurus RW, RT, dan Masjid Al-Ikhwan. Di komplek kami itu, kalau ada kejadian begini, maka sudah ada tugasnya masing-masing. Pengurus RW mengurus urusan pemakaman mulai dari mengontak ambulan, tukang penggali kuburan, dan pengurus Tempat Pemakaman Umum (TPU). Sedangkan Pengurus RT mengurus persiapan di rumah duka, dan pengurus masjid menyiapkan tim pengurusan jenazah, tempat pemandian, proses pemandiannya juga, pengafanan, dan penyolatannya.

Pulangnya saya duduk di kursi depan ambulan sebagai penunjuk arah. Setelah sampai di rumah duka segera menghubungi tim pengurusan jenazah supaya siap-siap bertugas setelah sholat dzuhur. Masker dan sarung tangan sudah ada. Kami bertiga dari tim ini lalu mulai menggunting kain kafan dan mempersiapkan semuanya sebelum mulai memandikan. Kalau urusan membuat rangkaian kembang dengan daun pandan itu urusannya ibu-ibu. Setelah itu kami memandikan jenazah almarhum dan syukurnya kami dibantu pihak keluarga sehingga prosesi pemandian dapat berjalan cepat.

Kemudian kami mulai mengafani. Tidak ada hambatan pula. Sekarang tinggal menunggu waktu ashar. Kami akan menyolatkannya di Masjid Al-Ikhwan. Lalu langsung menuju pemakaman di TPU Pondok Rajeg. Setelah semua selesai, kami segera ke TPU walau diiringi insiden ambulan mogok, ternyata hanya karena kehabisan bensin.

Rangkaian penunaian hak terhadap saudara seiman itu akhirnya selesai saat jenazah Almarhum Pak Syamsiar diturunkan ke liang lahat lalu dikuburkan. Sudah. Urusan mendoakan bisa di tempatnya masing-masing.

Saya jadi teringat suatu saat Kanjeng Nabi pernah mengatakan kalau hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: menjawab salam, menengoknya jika sakit, mengantarkan jenazahnya, memenuhi undangannya, dan menjawab seorang yang bersin. Dalam perkataannya yang lain Kanjeng Nabi menambahkannya dengan jika meminta nasehat maka nasehatilah.

Sabtu itu, Insya Allah sudah banyak salam yang terjawab. Syukurnya pula tak ada teman dan tetangga yang kabarnya sedang sakit, sehingga tak ada yang perlu ditengok. Kalaupun ada semoga cepat sembuh dan saya diberikan kekuatan oleh Allah untuk dapat menengoknya. Belum ada undangan hajatan atau syukuran yang datang ke rumah, jika pun ada semoga Allah memberikan kesempatan yang luas kepada saya untuk bisa menghadiri undangan tersebut. Namun di depan saya tak ada yang bersin, jadi tak bisa bilang Alhamdulillah.

Mengantarkan jenazah sudah dikerjakan di Sabtu ini. Amalan ini terbagi dua tahap kata ulama. Mengantarkan jenazah dari rumah sampai selesai dishalatkan di masjid. Lalu mengantarkan dari masjid sampai selesai dikuburkan.

Dan yang terakhir jika meminta nasehat maka nasehatilah. Hari itu tak ada yang meminta nasehat kepada saya. Dan seharusnya tak perlu mereka meminta itu, karena saya seharusnya yang banyak-banyak dinasehati. Banyak lupa, lalai, dan apalagi dosa. Seharusnya pula seharian mendengar duka dan mengurusi kematian ini menjadi nasehat yang besar buat saya. Kalau nasehat besar saja tak sampai ke hati bagaimana pula dengan nasehat-nasehat biasa?

“Za, kau dengar?” terdengar suara dari Nur’aeni nurani.

Saya cuma bisa terdiam.

***

 

Selamat jalan Ustadzah Yoyoh Yusroh dan Pak H. Syamsiar.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

count the chapter flattered

03.42 22 Mei 2011

 

 

 

 

Tags : Fraksi keadilan sejahtera, yoyoh yusroh, syamsiar, RSUD Cibinong, pemda cibinong, pengurusan jenazah,

Rindu


Rindu

*

ada dua kata yang malu bersembunyi

di antara semak-semak huruf,

sebelumnya dan ini,

tapi pasti kau tahu

karena kita adalah kelindan

di antara februari yang pendek

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

*masih terkejut dengan sepi dering

06.15 19 Mei 2011

SATU


Satu

*

pagi ini,

ada detik yang berhenti sengaja di 06.01

di atas onggokan besi yang terpacu cepat

dihela mesin buatan dai nippon

terbangun dari koma

hari ini adalah bukan kemarin

di depanku

matahari meleleh

menjadi tetes-tetes air hujan

 

 

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

*menuju stasiun Sudirman

06.02 19 Mei 2011

M A E S T RO


M A E S T R O

 

Sengaja menuliskan ini dengan segera di tengah kemacetan yang melanda Jakarta di jumat petang ini (13/5). Apalagi setelah ada pengumuman dari tiga kementerian yang berbeda bahwa senin yang hari kejepit itu dijadikan cuti bersama. Sepertinya Jakarta bertambah macet lagi.

Saya menuliskannya pun di talam taksi, di tengah perjalanan menuju Stasiun Sudirman untuk mengejar kereta terakhir ke Bogor. Saya teringat tentang beberapa email yang mampir ke kotak surat saya. Tentang tulisan atau artikel yang dibuat oleh teman-teman saya yang mau memulai kembali hobi menulisnya. Saya mendapatkan semua email itu dengan senang hati. Karena bagi saya itu juga merupakan pembelajaran yang bagus buat saya. Jonru menyebutnya ATM: amati, tiru dan modifikasi tulisan orang lain agar kita dapat menulis dengan lebih baik lagi.

Pun karena saya ingat pengalaman beberapa tahun yang lampau, ketika saya mau mengawali menulis itu dengan intens. Saya butuh seseorang untuk dapat menilai tulisan saya itu. Saya haus akan komentar dan tanggapan, oleh karenanya saya kirim ke beberapa penulis yang sudah terkenal. Maklumlah saya ingin mengetahui bagaimana mereka menanggapi tulisan saya itu.

Ternyata pada kenyataannya sedikit sekali yang menanggapi, walau sudah berkali-kali saya kirim tulisan lainnya. Akhirnya saya bertekad bahwa saya tak perlu dengan komentar mereka dan saya akan tetap berusaha menulis dan menulis. Dan insya Allah sekarang saya bisa menulis.

Kemudian tibalah saatnya saya menjadi orang yang berada di posisi dulu yakni orang yang dimintakan tanggapannya. Padahal saya bukanlah penulis terkenal apalagi penulis yang sudah menghasilkan sebuah buku. Bukan. Tetapi menyadari bahwa saya tak mau menjadi orang yang pernah dimintakan tanggapan dan tidak memberi respon maka sampai saat ini saya berusaha untuk menjadi orang yang mudah untuk memberikan tanggapan atau penilaian, walaupun di tengah keterbasan waktu yang ada.

Karena saya menyadari bahwa sekadar komentar dan tanggapan saya bisa jadi membawa semangat yang luar biasa buat mereka yang memulai menulis itu. Makanya saya insya Allah tulus memberikan tanggapan. Dan maaf jika sampai saat ini ada yang merasa belum ditanggapi saya. itu bukan karena meremehkan tetapi karena saya perlu waktu untuk membacanya.

Sebenarnya saya yakin bahwa mereka itu, teman-teman saya ini, mempunyai kemampuan luar baisa menuangkan apa yang dirasa, dilihat, dan didengarnya dalam banyak kata yang tertulis. Tinggal diberikan pemantik dan di sisi mana sumbu itu mudah untuk dibakar.

Saya kemudian teringat sebuah cerita yang dikisahkan oleh teman saya tentang seorang perempuan penari hebat di sebuah kota kecil. Di suatu saat kota tersebut akan dikunjungi seorang maestro penari terkenal. Dan diumumkan kepada para penari di kota tersebut untuk ikut audisi yang diselenggarakan maestro tersebut. Bila lulus audisi maka akan dididik maesro itu dan ikutkan dalam setiap penampilannya. Maka, perempuan penari itu berlatihlah dengan keras dan keras untuk bisa menampilkan yang terbaik di depan maestro tersebut.

Sampai pada waktunya, ia diberikan kesempatan beberapa menit untuk menari di depannya, maestro itu mengangguk-angguk dan tiba-tiba ketika tarian itu belumlah selesai, maestro bangkit dan keluar ruangan audisi. Perempuan penari itu terkejut, langsung menghentikan tariannya, dan bertanya-tanya mengapa sang maestro itu meninggalkannya begitu saja. Ia berpikir bahwa meastro itu tidak menyukai tariannya. Pasti tariannnya tidak indah untuk dinikmati. Maka ia pun pulang. Kesedihan yang menghantamnya terlihat sangat.

Sampai-sampai pada sebuah kesimpulan bahwa buat apa dia menari lagi. Akhirnya ia pun bertekad untuk tidak menari dan menyimpan pakaian dan peralatan menarinya di sebuah peti. Tertutup dan terkunci rapat. Ia pun melarang anak-anaknya untuk menari.

Jawaban atas mengapa maestro itu pergi meninggalkannya pada saat audisi itu diketahui setelah belasan tahun kemudian. Sang Maestro datang kembali ke kota itu. Maka perempuan penari itu menyempatkan diri untuk bertemu lagi dengan Mestro dan mengajukan sebuah tanya yang membutuhkan jawaban itu.

Awalnya sang maestro tidak mengenalnya, tetapi kemudian setelah diberitahu bahwa perempuan yang di depannya adalah peserta audisi bertahun-tahun lampau, maka ia pun mengenalnya.

“Oh ini dia penari itu? Sekarang sudah kemana saja menari?”

“Tidak Tuan. Saya cuma jadi ibu rumah tangga. Saya mau bertanya mengapa Tuan Guru meninggalkan saya dan tidak melihat tarian saya sampai selesai?”

“Oh waktu itu saya tiba-tiba ingin ke belakang. Jadi saya meninggalkanmu. Dan sebenarnya sudah aku siapkan kartu nama untuk diberikan kepadamu, tetapi saat aku kembali kau sudah tidak ada.”

“Jadi hanya karena itu, lalu bagaimana dengan tarianku?”

“Kau penari hebat. Dan aku mengagumimu.”

    Terperangahlah perempuan penari itu. Ia terkejut. Setelah berterima kasih kepada Sang Maestro ia pulang dan segera membongkar pakaian dan peralatan menarinya dan bertekad untuk menari kembali serta berlatih keras membayar tahun-tahun yang lewat. Tidak ada kata terlambat. Inilah Kisah itu lebih dan kurangnya.

Andai saja bukan karena maestro itu yang tak mampu menahan dirinya untuk duduk lebih lama lagi dan sekadar memberi sepatah dua patah kata penyemangat atau karena prasangka terburu-buru perempuan penari itu maka yang terjadi tentu akan berbeda.

    Maka, kepada teman-teman yang ingin tulisannya dikomentari oleh saya, sila dikirim saja via email. Dan saya tidak akan seperti maestro itu meninggalkan kalian. Kapanpun. Apapun yang terjadi. Saya tak akan pernah bosan untuk menyemangati terkecuali kalian yang sudah bosan mendengar ceracauan saya. Kalau belum juga ditanggapi mohon saya untuk diingatkan. Semoga upaya kecil ini membuat kita semua bersemangat untuk menulis.

    Siang ini, sebelum saya mengedit tulisan ini sebuah pesan masuk dalam kotak surat, “Terimakasih banyak ya, tak bosan menyemangati saya. Semoga jadi amal sholih yang berkelanjutan, semoga juga menjadi sarana untuk membuat semangat Bapak jauh lebih berkobar. Menyemangati = tersemangati !!”

    Siapapun kau, dengan tetap adanya saya atau tidak, tetaplah menulis, karena menulis adalah mewariskan peradaban. Dan saya sudah cukup bahagia melihatmu—dari jauh—bisa menulis apa yang kau lihat, dengar, dan rasa.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

*izin membagi cerita penari itu di sini, Edelweis…

05.57 18 Mei 2011

Tags: Penari, penulis, maestro, jakarta, jonru