bias


Bias


*

hujan mengetuk jendela

aku terjaga

“buka cepat! aku kedinginan…” rintihmu

derit reot mencoba membuat garis lurus di tengah

“namamu siapa?”

“derai!”

 

hujan meramaikan sudut menjadi onggokan hidup

aku terjun pada kebekuan

apa yang kau inginkan derai?

jawabmu bagiku adalah

:sepucuk tanya untuk kau kirimkan pada drupadi

“jika api menjadi debu, kapan kau akan injakkan kaki di bara hati?”

ah, pasopati di balik punggung membara.

derai menjadi partikel

fana tapi ada

 

tapi di sebelah kamar

hujan mengetuk jendela

“buka cepat! aku kedinginan…” rintihmu

terlelap dalam hutan mimpi jadi kunci untuk lari

aku bias

menjadi bunga di atas meja

tanpa nama

 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas krl tanah abang bogor, aku teringat drupadi

17:54 23 desember 2011

 

Gambar di ambil dari sini

JANGAN CERITA YANG SERAM-SERAM


JANGAN CERITA YANG SERAM-SERAM

    

    “Ayo, mumpung masih muda segera saja ke sana. Nikmat banget. Beneran!” seru saya pada teman baik saya agar tidak menunda-nunda lagi pergi haji. Minimal sudah mulai mendaftar atau menabung. Jawabannya setengah mengagetkan. “Enggak ah, takut. Masih banyak dosanya,” timpalnya berulang kali.

    Kalau memikirkan dosa kapan bisa perginya sedangkan manusia tempatnya lupa dan lalai. Tetapi kekhawatiran itu wajar juga. Seminggu sebelum berangkat saja saya masih berpikir saya ini layak enggak sebenarnya untuk pergi ke sana. Banyak dosanya begini. Saya sampai berdiskusi via Gtalk dengan teman yang saat itu sudah berada di Makkah tentang kekhawatiran ini. Khawatir tentang apa sih? Takut dibalas sama Allah di sana atas segala kelakuan buruk selama di tanah air. Jawabnya gampang saja: “daripada dibalas di akhirat.”

    Ketakutan teman itu juga dan kebanyakan calon jamaah haji yang lain karena seringkali mendengar cerita-cerita menyeramkan tentang keadaan di sana, seperti kisah tak bisa melihat Kakbah, tersesat berhari-hari, diperkosa sama orang Arab, sakit dari awal sampai akhir, hilang uang dan barang, dan semua kesulitan yang terjadi di sana. Semuanya selalu dianggap sebagai pembalasan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Yang tampak adalah Allah sebagai Tuhan yang Maha Pembalas. Mana kasih sayangnya Allah?

Sebenarnya ada perspektif yang perlu dipahami. Pertama, Allah adalah pemilik rumah itu. Sebagai Tuan Rumah yang baik sudah barang tentu Allah tidak akan pernah menyengsarakan dan menelantarkan tamunya. Maka yakinlah dengan ini terlebih dahulu.

Kedua, berusahalah untuk selalu menjadi tamu yang baik pula. Adab-adab bertamu hendaklah diindahkan. Merendahkan diri, bersikap sopan, dan tidak sombong. Bukankah yang berhak sombong itu hanya Allah? Bukankah kesombongan adalah selendangnya Allah? Maka wajar saja ketika setitik kesombongan itu ada di hati yang tidak berhak, maka yang berhak sombong akan menuntutnya.

Maka seringkali kita mendengar cerita-cerita kurang enak itu. Misalnya ada orang yang bilang, “ah segini sih mudah?” Sedikit keangkuhan yang terucap di Tanah Haram baik di lisan atau di dalam hati itu pada akhirnya berbuah kesulitan. Lalu kenapa langsung dibalas? Sebagaimana layaknya do’a yang langsung dikabulkan, begitupula dengan kesalahan yang tercipta maka akan langsung ditegur. Semata-mata karena di sana itu Allah sangat dekat.

Yang ketiga bukankah mereka yang mau bertekad bulat untuk pergi haji senantiasa dianjurkan untuk bertaubat terlebih dahulu, menyesali dosa yang lampau, dan berusaha kuat untuk tidak mengulanginya. Walaupun sejatinya bertaubat pun tidak perlu menunggu sampai mau pergi haji saja. Kalau sudah demikian mengapa khawatir kalau Allah akan menghukum kita di sana? Jika memang kita mendapatkan kesulitan di sana maka muhasabah saja dulu jangan-jangan taubat kita memang taubat yang hanya di mulut saja. Taubat yang perlu ditaubati.

Selanjutnya adalah jika memang kesulitan itu benar-benar terjadi menimpa pada diri kita, semoga jangan, anggap saja ini adalah teguran dan semata-mata kasih sayang Allah yang ingin menaikkan derajat keimanan kita. Betul kata teman saya, lebih baik dibalas di dunia atas kesalahan yang kita lakukan daripada dibalas akhirat, karena pembalasan di sana lebih keras adanya.

Berikutnya adalah bercerita yang nikmat-nikmat dan enak-enak saja sepulang dari haji. Ini yang kelima. Ada hal yang menarik di sini. Ada teman saya, salah seorang jamaah Masjid Al-Ikhwan, yang pergi haji di tahun 2007. Sampai sekarang ia sama sekali tidak pernah menceritakan kisah perjalanan hajinya yang enggak enak-enggak enak. Semuanya adalah cerita yang menyenangkan. Sehingga membangkitkan semangat yang mendengar ceritanya untuk bisa segera pergi ke Tanah Suci.

Selayaknya memang demikian, kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan yang pernah kita alami pada saat haji hendaknya tak perlu diceritakan serta merta. Cukup menjadi pembelajaran bagi kita saja, menjadi pengingat kala bermuhasabah, dan jadi nasehat bagi yang benar-benar membutuhkan.

Dikhawatirkan kalau diceritakan, kita seperti menjadi hamba yang tidak bersyukur, yang bisanya mengeluh tentang kelelahan-kelelahan di sana, yang punya dada sempit dan tidak lapang terhadap segala kenikmatan yang sebenarnya telah ditunjukkan Allah di sana. Ini sudah jelas akan membuat orang enggan untuk pergi haji.

Maka berceritalah tentang keberkahan yang kita dapatkan di sana. Perasaan dekatnya kita dengan Allah, keagungan bangunan hitam itu, kekhusyu’an thawaf kita, kemegahan Masjidil Haram, keanggunan Masjid Nabawi, syahdunya Arafah, kesejukan pagi Muzdalifah, semangat membara melempar di jamarat untuk menanggalkan segala bentuk jejak-jejak iblis pada diri kita serta kedamaian kita saat berziarah mengunjungi Nabi Saw. Pokoknya jadilah jama’ah haji yang gembira atas nikmat yang diberikan Allah karena telah dimudahkan untuk datang mengunjungi rumahNya.

*Tampak jamaah haji asal Pakistan tertidur di atas kursi yang biasa dipakai oleh syaikh untuk mengajar di majelis taklim Masjidil Haram. Nikmaaat…(Dhuha, 24 November 2011)

Kalau sudah tahu perspektif ini, maka sudah seharusnya pula kita tak bertanya kepada yang baru datang dari berhaji dengan pertayaan seperti ini: “ada yang aneh-aneh enggak di sana?” Pun, jika kita di tanya seperti itu tak perlu terpancing dengan bercerita yang serba menyusahkan. Take it easy.

Lalu bagaimana jika ketakutan pergi haji waktu muda itu karena nanti setelahnya tak bisa ngapa-ngapain lagi? Itu bahasan lain. Semoga kita tidak demikian. Insya Allah.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ada gak ada saya, kudu nulis

23.12 20 Desember 2011

ELEGI 3: MALAM INI MALAM TERAKHIR BAGI KITA


ELEGI 3: MALAM INI MALAM TERAKHIR BAGI KITA

 

Sosok paling terhormat, paling mulia, paling dicinta oleh seluruh umat islam sejak dahulu kala sampai saat ini terbujur kaku dan abadi di bawah bangunan berpagar hijau ini. Dialah Kanjeng Nabi Muhammad saw. Tak jauh darinya terdapat makam beserta dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ashshidiq, dan Umar bin Khaththab. Di sebelahnya lagi konon terdapat lubang kosong yang sudah disiapkan untuk makam Nabi ‘Isa. Ke sanalah saya pergi mengunjungi mereka untuk terakhir kalinya.

    Ahad dini hari (4/12), pukul 01.00 waktu Madinah, saya keluar dari hotel menuju Masjid Nabawi yang dinginnya benar-benar menusuk tulang. Kebetulan pada saat itu Madinah sudah mulai memasuki musim dingin. Jam 7 pagi kami harus sudah ada di dalam bus yang akan membawa kami menuju Bandar Udara Madinah, jadi malam ini adalah malam terakhir kami di Madinah. Oleh karena itu saya berusaha untuk berpamitan dan berziarah sebagai bentuk perpisahan.

*Suasana lengang dini hari di pelataran Masjid Nabawi.

    Pintu masjid Nabawi sebagian besar masih tertutup. Hanya Babussalam Gate dan pintu-pintu disampingnya yang terbuka. Saya melangkahkan kaki memasuki masjid. Walau sudah jam segitu, masih saja raudhah ramai dengan orang. Pelan-pelan melewati orang mencari tempat kosong di sana yang beralaskan karpet hijau itu. Shalat untuk beberapa raka’at dan berdo’a. Lagi-lagi saya memastikan diri untuk tak ada satu pun harap yang terlewatkan.

 

    Saya membayangkan wajah-wajah dari teman-teman di tanah air. Wajah Bapak A, Ibu B, Mbak C, Mang D, Teteh E, Mas F, Bibi G, Lik H, Aa I, dan saya bayangkan wajah-wajah orang-orang yang telah mendoakan kami kala kami hendak berangkat ke tanah suci. Saya meminta pada Allah, “Ya Allah begitu banyak do’a-do’a yang dititipkan kepada kami oleh sanak saudara dan teman-teman kami, kabulkanlah semuanya yang mereka titipkan itu ya Allah. Dan begitu banyak yang telah mendoakan kami untuk menjadi haji yang mabrur, maka pada malam terakhir di raudhah ini, kami meminta padamu ya Allah, jadikan pula mereka haji yang mabrur dan berilah kesempatan untuk datang mengunjungi makam kekasihMu.”

    Sudah jam setengah tiga pagi. Saya memutuskan untuk meninggalkan raudhah dan tentunya berjalan ke depan untuk bisa melewati makam Nabi saw. Sebelumnya saya salami salah satu askar yang berdiri di pintu Raudhah. Saya ucapkan salam dan terima kasih kepadanya. Karena merasa bahwa askar-askar ini lebih ramah daripada teman mereka yang berada di Masjidil Haram. Mereka lebih mengutamakan pelayanan kepada jama’ah, dan tak sekadar pengawasan serta penghukuman.

    Ketika melewati makam Nabi itu, tak terasa lagi kalau air mata ini jatuh. Emosional lagi. Saya pun mengucapkan banyak shalawat dan salam kepadanya. “Assalaamu’alaika ya Rasulullah, warahmatullah, wabarakaatuh.” Begitu pula kepada dua orang sahabatnya, salam pun teruluk untuk mereka. Untuk Abu Bakar, sahabat mulia yang begitu perasa, yang ketika mengimami shalat seringkali tidak terdengar suara karena tangisannya. Untuk Umar bin Khaththab, seorang yang keras kepala sebelum Islam datang menghampirinya lalu menjadi seorang lembut, tegas, dan zuhud ketika hidayah itu datang.

  • Salah satu sudut makam Nabi saw.

Sebelum benar-benar keluar dari Baqee Gate (tempat keluar dari makam Nabi saw), saya berdoa lagi untuk ketiga orang mulia itu. Ya Allah kumpulkanlah kami bersama Kanjeng Nabi Muhammad saw dan para sahabat di Firdaus A’laa. Dan berilah kesempatan kepada kami untuk bisa datang kembali.

*Baqee Gate yang terekam pada tanggal 26 November 2011.

Shubuh masih lama dan saya memutuskan untuk pulang ke hotel kembali. Kembali saya dipeluk dingin. Tapi ini untuk yang terakhir kalinya. Dan saya tak menengok lagi ke belakang.

Dari ketiga cerita itu, saya pun akhirnya berkesimpulan bahwa pada dasarnya saya tak sudi untuk sebuah kata yang disebut perpisahan. Apalagi dengan orang dan sesuatu yang kita cintai. Tapi perpisahan memang sebuah kemestian jika ada pertemuan di awalnya. Maka apa mesti bahwa pertemuan itu yang harusnya disesali daripada perpisahan itu sendiri. Tidaklah. Itu cuma ada di negeri dangdut. Di sini pertemuan pun adalah sebuah kemestian. Apalagi perpisahannya. Yang terpenting adalah jangan sampai kita dipisahkan dari rahmat Allah sampai hari nanti itu. Semoga.

***

Selesai

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tak ada lagi elegi setelah ini?

10:02 19 Desember 2011

    

Tags: menara abraj al bait, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar,

 

 

ELEGI 2: I’LL BE RIGHT BACK


ELEGI 2: I’LL BE RIGHT BACK

 

Tiga hari menjelang keberangkatan ke Madinah, sekitar 11 hari setelah ritual haji, suasana kota Makkah sudah mulai sepi. Banyak jama’ah haji Indonesia atau dari negara lain yang sudah pulang ke tanah air atau mulai meninggalkan kota Makkah menuju Madinah.

Hotel atau pondokan sudah mulai ada yang di gembok dengan rantai karena sudah kosong. Toko-toko sepi dan siap-siap tutup untuk buka kembali di tahun depan, karena konsumen utama mereka—jama’ah haji Indonesia—telah menyusut. Setiap hari ada saja rombongan bis  yang sudah nongkrong di depan hotel untuk mengangkut jama’ah haji yang mau pulang.

Masjidil haram pun demikian, sudah sedikit mulai kosong dan tidak seperti sebelum ritual wajib haji yang begitu padat dan berjubel. Kami masih mendapatkan dengan mudah posisi strategis dengan melihat Kakbah langsung pada saat shalat. Pun posisi shaf perempuan di lantai 1 sudah mulai maju tanpa khawatir diusir oleh para askar. Lantai paling atas, lantai 4 yaitu lantai untuk tempat sa’i telah ditutup. Tak ada lagi jama’ah yang berdiri di pagarnya untuk melihat kerumunan orang thawaf.

Suasana itu membuat saya nelangsa. Dan berpuncak pada saat pelaksanaan thawaf wada ba’da Shubuh di pagi jum’at (25/11). Karena setelah thawaf ini kami harus langsung pulang dan tak boleh kembali lagi shalat di masjidil haram. Saya putari Kakbah itu  tujuh kali. Berdo’a lagi banyak-banyak. Menatap lekat-lekat bangunan yang dirindu oleh jutaan manusia di dunia. Tak henti-hentinya air mata jatuh.

Setelah tujuh itu terlampaui, kami pun menuju barisan yang searah multazam untuk berdo’a lagi. Lalu shalat sunnah dua raka’at. Berdo’a kembali. Banyak. Lama. Kembali meyakinkan diri tidak ada yang terlewat. Dan berulang-ulang saya berharap untuk bisa diberikan kesempatan untuk kembali ke sini.

Emosional sekali  kala itu ketika saya mengulang-ulang sebuah harap ini. “Ya Allah jadikan hati kami adalah hati yang senantiasa merindukan-Mu dan rumah-Mu.  Ya Allah jikalau Engkau rela padaku maka tambahkanlah keridhaan itu padaku. Jika tidak ya Allah, maka berilah aku anugerah sekarang ini, saat ini juga, sebelum aku jauh dari rumah-Mu. Ya Allah janganlah Engkau  jadikan waktuku ini masa terakhir bagiku dengan rumah-Mu. Sekiranya engkau jadikan masa ini adalah masa terakhir, maka gantilah masa itu dengan surga untukku dengan rahmatMu.”

Setelah minum air zam-zam, kami  langsung pulang dengan hati yang masih berdebar-debar. Tidak ada jalan mundur. Saya menguatkan hati betul untuk tidak ada lagi air mata yang jatuh lagi setelah sesi do’a itu. Lamat-lamat bangunan hitam itu hilang dari pandangan mata tertutup tiang-tiang megah Masjidil Haram.

Di pelataran Masjidil Haram pun, kami segera memakai sandal dan bergegas. Tidak dengan jalan mundur pula dan bertekad untuk tidak menengok-nengok ke belakang lagi.  Tak ada foto-fotoan juga. Tapi saya luruh kembali. Di antara tinggi bangunan Menara Abraj Al Bait dan Bin Dawood Super Store, saya berhenti sejenak dan menengok ke belakang untuk menatap dinding marmer putih Masjidil Haram yang tertimpa matahari dhuha. Selamat tinggal Masjid Mulia dan I’ll be right back, insya Allah.

*Abraj Al Bait Tower.

***

Bersambung ke Elegi 3.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tak ada yang dicari

10:02 19 Desember 2011

Tags: menara abraj al bait, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar

 

ELEGI 1: PADA PANDANGAN PERTAMA


ELEGI  1: PADA PANDANGAN PERTAMA

Pertanyaan dari seorang sahabat ketika bertamu itu membuat saya berpikir keras, “apa yang paling berkesan selama di tanah suci yang bisa dijadikan pelajaran buat kami?” Pertanyaan ini terus terang menyentak dan membuat saya terdiam. Menjawabnya pun jadi lama, karena saya harus berpikir dulu. Ada beberapa kemungkinan, ini dikarenakan memang tidak ada yang luar biasa di sana atau semuanya luar biasa sehingga sulit menemukan yang paling luar biasa.

Pertanyaan ini pun sejenis dengan pertanyaan seperti ini, “apa yang paling membuat kamu emosional di sana?” Seringkali saya mendengar banyak cerita dari orang, keluarga, dan teman saat pertama kali melihat Kakbah. Tidak ada yang tidak menangis. Tidak ada yang tidak emosional. Tidak ada yang tidak terharu.

Tapi sungguh saya tidak emosional melihat bangunan hitam itu pertama kali dengan nyata di depan mata. Tak ada air mata yang jatuh. Dan saya tidak bisa berpura-pura untuk menangis sesenggukan karena jama’ah yang lain dalam satu rombongan sudah pada menangis.  Saya sampai berkata dalam hati, “hatiku telah mati ya Allah?”

Memasuki Masjidil Haram pertama kali dengan do’a (25/10) melalui pintu Raja Malik ‘Abdul ‘Aziz, masih dengan dua lembar pakaian ihram, rambut masih gondrong, melihat Kakbah pertama kali, lalu menuju sudut Hajar Aswad untuk memulai thawaf umrah sebagai rangkaian pertama dari haji Tamattu’. Di belakang saya ada istri dan sepasang kakek nenek yang mengikuti kami karena terpisah dari rombongan.

“Bismillahi Allahu Akbar…!” seru saya serasa mengangkat tangan kanan memulai thawaf. Saya membaca semua doa dan dzikir yang saya hafal. Dan tentu do’a Robbana Atina ketika melewati Rukun Yamani sampai Rukun Hajar aswad. Bukankah begitu sunnahnya? Bagaimana dengan sunnah Raml? Berlari-lari kecil tiga  putaran pertama thawaf? Tidak bisa dilakukan karena terlalu padatnya pelataran utama Masjidil Haram.

“Banyak dosa membuat hati saya mati,” lagi-lagi saya berpikir demikian. Memikirkan banyaknya dosa, aib, maksiat, tidak diampuninya semua itu, dan tidak diterimanya amal-amal saya malah membuat saya luruh. Dan pada putaran kedua itulah tak ada yang bisa ditahan oleh mata. Semuanya keluar. Deras. Dan pada saat itulah saya tahu antara titik harap dan takut pada-Nya.

*Suasana Thawaf pada tanggal 26 Oktober 2011, saat pertama kali kami datang.

 

Itu yang paling emosional? Tidak. Kalau saya bisa urutkan adalah pada saat wukuf di Arafah, pada saat thawaf wada, dan pada saat ziarah yang terakhir kali di makam nabi saw.

Seperti diketahui bersama kalau Islam telah memerintahkan kepada yang mampu untuk berhaji dan haji adalah wukuf di Arafah. Kami berwukuf di dalam tenda yang telah dipersiapkan. Sudah suci dari hadas kecil dan besar sejak jam 11 karena sebentar lagi pelaksanaan khutbah wukuf dan shalat jama  takdim dhuhur dan asar.

*Suasana pagi tanggal 9 Dzulhijjah 1432 di Arafah.

Mental sudah saya siapkan untuk waktu wajib wukuf itu yaitu sejak tergelincirnya matahari sampai matahari tenggelam. Pun karena waktu wukuf adalah salah satu hari yang terbaik di dunia. Yaitu hari di mana Allah paling banyak membebaskan hamba dari neraka. Saat di mana Allah mendekat. Pun tertawa.. Saat Ia membanggakan kepada para malaikat orang-orang yang bermunajat pada-Nya di hari itu serta berfirman, “apa yang mereka kehendaki.” Piye jal?

*Jama’ah haji dari negara lain yang berdo’a di luar pagar tenda pada waktu ashar.

Apalagi terasa sekali bagi saya kalau waktu itu seakan-akan waktu yang paling mahal yang pernah dirasa. Waktu yang mungkin hanya dijumpai sekali dalam seumur hidup saja adanya. Waktu yang terasa pendek untuk do’a, talbiyah, Istighfar, tahlil, dan shalawat.

Seperti yang sudah pernah saya katakan sebelumnya kalau waktu wukuf itu pun bagi saya seakan-akan waktu terakhir di mana besok akan dihukum mati. Ibaratnya seperti kedatangan malaikat maut yang bilang: “Za, besok pagi kamu mati!” Maka detik itu langsung tobat, langsung minta ampun, berdo’a yang macam-macam untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Teks khutbah wukuf yang dibacakan oleh Ketua Kloter 65 bagi saya terasa indah, seperti pukulan untuk menyadarkan sanubari bahwa masih adanya banyak kesalahan pada diri, serta menghanyutkan dengan do’a-do’a muhasabah panjangnya.

*Suasana sore di Arafah.

Apalagi menjelang maghrib, saya benar-benar harus meyakinkan diri bahwa tidak ada yang tertinggal dari do’a-do’a itu. Do’a untuk diri, istri, anak-anak, keluarga, teman-teman, tanah air, dan kejayaan umat Islam. Semoga tetesan air mata itu menjadi saksi buat kami.

***

Bersambung ke Elegi 2

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

masih mencari

10:02 19 Desember 2011

Tags: menara abraj al bait, abraj al bait tower, bin dawood super soter, makkah, arafah, wukuf, masjid nabawi, masjidil haram, madinah, muhammad, Abu Bakar Ashshidiq, Umar bin Khaththab, raudhah, askar

 

 

Tak Kutinggalkan Foto Kita Berdua di Jabal Rahmah


Tak Kutinggalkan Foto Kita Berdua di Jabal Rahmah

Di tanah suci macam-macam saja kebiasaan jama’ah haji Indonesia ini. Salah satunya kebiasaan bersandar di tembok atau tiang masjid di tanah air yang ternyata terbawa sampai ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

    Di Masjid Nabawi tampak mencolok wajah melayu, bertubuh kecil, memakai baju batik yang berleha-leha di tiang-tiang masjid sambil menunggu waktu shalat. Ini masih mending karena jama’ah Masjid Nabawi tidaklah sebanyak Masjidil Haram. Kalau di Masjidil Haram kebiasaan itu akan merugikan jama’ah haji sendiri. Mengapa?

Harga shaf di Masjidil Haram sangatlah mahal. Paha yang dilipat bersila menandakan masih adanya tempat yang leluasa untuk bisa diselipi oleh orang lain. Dan itu dimanfaatkan betul oeh jamaah dari negara lain yang tanpa basa-basi meminta kita untuk bergeser walaupun sudah tahu bahwa shaf sudah penuh.

Nah, jamaah haji kita kalau dekat tiang seharusnya duduk merapat tiang agar tidak bisa digeser oleh orang, tetapi karena kebiasaan bersandar itu jadi menyebabkan terlihat mencolok space yang kosong. Mau tidak mau seharusnya dia yang dapat tempat yang nyaman untuk duduk malah disingkirkan oleh jama’ah haji yang melihat adanya ruang yang kosong itu. Karena orang Indonesia orangnya santun, tak enakan, dan ngalahan maka ia pun terpaksa duduk dengan melipat kaki ke dada.

Ada lagi yang lain. Saya pernah menjumpai ibu-ibu jamaah haji Indonesia yang mendekati petugas kebersihan Masjidil Haram dan memohon-mohon dengan sangat sambil mengangkat jari telunjuk menandakan angka satu dan menunjuk-nunjuk kain pel. Artinya ibu-ibu itu meminta kepada Petugas Kebersihan satu helai kain pel. Untuk apa sih? Saya juga tidak tahu. Mungkin buat bahan cerita di tanah air, “nih kain pel asli dari Makkah buat membersihkan Masjidil haram. Asli.” Klenik? Tidak tahu juga. Hanya Allah yang tahu.

Orang Indonesia saja yang demikian? Tidaklah. Jama’ah haji Pakistan seringkali menggerak-gerakkan jari-jari mereka seperti menulis ketika habis shalat di lantai Masjidil Haram. Entah apa yang ditulis. Mungkin nama mereka agar bisa datang lagi ke Mekkah. Apalagi waktu di Jabal Rahmah, Padang Arafah. Suatu tempat pertemuan Nabi Adam dengan Siti Hawa. Kalau jamaah haji yang lain pakai spidol, mereka tidak. Cukup dengan menggunakan jari tangan mereka.

*Jurus Tulisan Tanpa Bayangan?

Selain itu di Jabal Rahmah ini banyak sekali foto-foto yang bertebaran. Foto sendiri atau foto berdua. Katanya kalau meninggalkan foto di sini atau menulis di batu-batunya bisa dipanggil lagi untuk berkunjung ke tempat itu atau jodohnya awet.

  • Salah satu foto yang saya temukan. Ada nama di balik foto itu.

  • Lembaran foto lainnya. Ada nama mereka berdua di balik foto itu.

Karena melihat kebiasaan itu, maka seringkali para askar atau penjaga yang bertugas di Jabal Rahmah menegur dan melarang mereka untuk melakukan hal tersebut. Karena tidak pernah ada syari’atnya untuk itu. Syukurnya kami pun tidak melakukan itu. Berdoa di sana pun tidak.

Di sekitar tugu yang berada di puncak Jabal Rahmah tampak terlihat dijaga ketat sekali oleh para askar. Para askar yang berbaju gamis, berjenggot panjang, dan bersurban itu senantiasa berteriak serta menasehati para peziarah untuk tidak menyentuh tugu dan berdoa menghadap tugu persis, tetapi diminta oleh mereka untuk menghadap kiblat. Kalau tidak dijaga, maka tugu Jabal rahmah rawan jadi tempat shalat, thawaf, dan dicoret-coret.

Kalau yang berziarahnya itu terlihat bermuka melayu maka yang dihadapkan adalah askar dari Malaysia. Kalau orang Afrika maka askar yang ditugaskan adalah askar yang berkulit hitam dan mampu berbahasa orang Afrika. Jadi para askar yang bertugas di sana dari berbagai macam bangsa pula.

*Tampak para askar sedang menjaga tugu di puncak Jabal Rahmah

Ada lagi yang menarik. Seringkali kita melihat kalau di sekeliling tembok Kakbah itu banyak sekali orang yang menyapu kopiah, peci, surban, sajadah, baju mereka ke tembok Kakbah. Awalnya saya menduga, semua barang itu nanti akan jadi barang kenang-kenangan dan tidak akan pernah dicuci karena bekas kena batu dinding Kakbah. Mungkin bagi sebagian orang iya. Kemudian saya berbaik sangka kalau mereka itu sebenarnya memang hanya ingin mengetahui wangi Kakbah itu seperti apa.

Karena ternyata, sebelum shalat jama’ah dimulai, dinding Kakbah yang steril dari manusia karena dijaga ketat para polisi itu, selalu diberi minyak wangi oleh petugas khusus. Begitu pula dengan hajar aswadnya. Nah itu yang diperebutkan oleh seluruh jama’ah di dekat Kakbah ketika imam selesai salam bahkan sebelum imam selesai mengucapkan salam pertamanya. Saat pertama itulah kopiah, peci, surban, sajadah, baju menyapu bersih wangi parfum Kakbah.

Jadi siapa bilang kalau hajar aswad itu selalu wangi. Wanginya itu wangi sebelum dicium oleh puluhan ribu orang. Baru tercium wangi kalau Anda jadi yang pertama mencium hajar aswad. Tentu itu butuh pengorbanan yang luar biasa. Mau?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

selalu berdoa untuk pertemuan itu

22.41 15 Desember 2011

Tags: hajar aswad, jabal rahmah, jurus tulisan tanpa bayangan, jurus, Kakbah, masjidil haram, masjid nabawi, mekkah, makkah, mecca, macca, medinah, madinah, kota nabi

KENA SANKSI ADMINISTRASI


Ibu Puspa mengirim email kepada saya dan menanyakan tentang hal ini:
Saya membaca di internet tentang konsultasi pajak. Kami didatangi petugas kantor pajak yang menyatakan telat bayar PPN tahun masa pajak – 12122009. Tanggal jatuh tempo 15 Januari 2010, tanggal bayar 10 Desember 2010, telat 10 bulan.

Perusahaan kami baru berdiri jadi pada tahun 2009 belum ada yang menangani pajak. Kami baru masuk bulan November 2010, dan pembayaran pajak baru dilakukan bulan Desember 2010. Pada saat itu tidak ada yang menangani. Mohon tips untuk mengatasi masalah ini. Terima kasih banyak sebelum dan sesudahnya. Sangat kami tunggu.
*
Ibu Puspa yang saya hormati, kalau sudah didatangi oleh petugas pajak itu berarti sudah dalam proses penagihan aktif karena ada Surat Tagihan Pajak (STP) yang sampai dalam jangka waktu tertentu belum juga dilunasi oleh perusahaan Ibu.

Kalau dari apa yang diterangkan oleh Ibu, memang betul telah terjadi kelalaian berupa keterlambatan dalam pembayaran PPN Masa Pajak Desember 2009 tersebut yang seharusnya ibu bayar paling lambat tanggal 15 Januari 2010 tetapi baru dilakukan pembayaran pada tanggal 10 Desember 2010.

Kantor Pelayanan Pajak atas keterlambatan pembayaran tersebut menerbitkan STP untuk menagih sanksi administrasi berupa bunga itu kepada perusahaan Ibu. STP tidak segera dilunasi maka diterbitkan surat teguran. Setelah ditegur juga tidak dilunasi segera dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka diterbitkan surat paksa yang kemudian disampaikan oleh petugas pajak ke domisili perusahaan Ibu.

Tidak ada tips lain dari saya terkecuali perusahaan ibu segera melakukan pembayaran atas STP tersebut. Karena secara formal dan material penerbitan STP tersebut sudah benar. Sedangkan alasan bahwa di tahun 2009 tidak ada orang yang menangani pajak di perusahaan tidak bisa diterima.

Saya dapat sedikit menyimpulkan bahwa Ibu datang di perusahaan tersebut di bulan November 2010 untuk menangani masalah pajak dan mengetahui adanya pembayaran PPN yang belum dilakukan lalu Ibu berinisiatif untuk melakukan pembayaran tetapi tidak disadari bahwa ternyata akan timbul sanksi administrasi. Apa yang dilakukan Ibu adalah suatu hal yang sudah benar, karena jika pembayaran PPN itu tidak dilakukan atau ditunda-tunda karena khawatir akan dikenakan STP maka malah akan menambah besarnya sanksi administrasi tersebut. Tentu ini akan memberatkan perusahaan juga.
Saran saya konsultasikan lebih lanjut dengan Account Representative perusahaan ibu di KPP.

Demikian jawaban saya semoga dapat dipahami.
***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11.35 13 Desember 2011

Tags: surat tagihan pajak, stp, bunga, telat bayar pajak, pajak pertambahan nilai, ppn, telat bayar, konsultasi pajak, konsultasi pajak gratis

CARA DAPAT ALQUR’AN GRATIS


CARA DAPAT ALQUR’AN GRATIS

Ini ilmu yang perlu diketahui  seluruh calon jama’ah haji Indonesia. Kata Ketua Rombongan saya ilmu yang baik ini harus dibagi. Okelah kalau begitu. Soalnya beliau saja yang sudah pergi bolak-balik ke tanah suci saja belum tahu kalau ada ilmu seperti ini. Saya kira sudah tahu.

Ini berguna buat halaqah, majelis taklim, yayasan, masjid, musholla, madrasah, ma’had, lembaga pendidikan, pengajian RT, pengajian RW, pengajian PKK, pengajian desa yang ingin mengganti atau menambah Alqur’an buat jama’ahnya.

Sudah tiga periode sejak tahun 2007 Masjid Al-Ikhwan menitipkan proposal permintaan Alqur’an kepada pengurusnya yang pergi haji untuk disampaikan kepada Pengurus Masjid Nabawi, Madinah. Sebut saja pengurus karena kita tidak tahu nama sebenarnya dari lembaga pewakaf Alqur’an tersebut.

Nah, tentu syarat utama dari keberhasilan proposal ini adalah kerelaan dari yang dititipkan untuk dibebani banyak Alquran dengan berat total sebesar 10 kg itu. Karena mau tidak mau amanah ini akan mengurangi jatah berat maksimal dalam kopor untuk dirinya. Atau minimal bikin ribet selama perjalanan pulang kalau ditenteng.

Proposalnya seperti apa sih? Sebenarnya cukup surat satu lembar saja. Rinciannya begini:

  1. Kop Surat. Saya lihat ada juga yang tidak pakai. Tetapi lebih baik surat tersebut memakainya sebagai tanda bahwa permintaan ini resmi.
  2. Pakai bahasa apa? Bahasa Arab boleh. Bahasa Indonesia juga boleh. Bahasa Betawi Bojong juga tidak apa. Tidak dibaca soalnya.
  3. Ditujukan kepada siapa surat tersebut? Tulis saja Pengurus Masjid Nabawi.
  4. Struktur suratnya bagaimana? Salam, kalimat pembukaan seperti biasa yang terdiri dari rasa syukur dan shalawat, inti surat yang isinya bahwa lembaga kita butuh alqur’an, dan penutup.
  5. Tanda tangan pengurus. Dalam surat saya ditambah pula tanda tangan Ketua RW.
  6. Cap. Ini penting banget. Mereka, para penjaga, akan meminta cap kalau dalam surat itu—di atas tanda tangannya—tidak ada cap. Walaupun pada akhirnya tetap akan diberi. Saya sarankan untuk memakai cap buat surat itu. Selesai.

Proposalnya disampaikan kemana? Kalau sudah sampai di Masjid Nabawi pergilah ke pintu 18. Gate 18 ini seingat saya bernama Gate Umar Bin Khaththab. Masuklah dari Gate King Fahd lalu cari di sebelah kanan. Di sana akan ditemukan ruangan kecil yang d idepannya ada tempat antrian untuk masuk ke ruangan itu dan mengambil Alqur’an.

Saya lupa di hari ke berapa saya bawa proposal itu ke sana. Tetapi saya masih ingat saya mengambilnya pada waktu dhuha. Sekitar jam 10-an pagi. Kalau memang belum buka coba tanya-tanya sama penjaga pintu Masjid Nabawi, pakai bahasa tarzan sambil menunjukkan surat itu Insya Allah mereka paham.

Tak hanya orang Indonesia yang bawa proposal, orang Tajikistan, orang Turki, orang dari negeri seberang banyak juga tuh yang bawa. Pokoknya yang enggak bawa proposal sudah pasti tidak boleh masuk. Nanti akan ada penjaganya yang menyortir setiap pengantri bawa proposal atau tidak. Kebetulan saya lihat yang jaga sambil nyortir juga dzikir pakai biji tasbih. Pikir saya di pusat gerakan salafy ini ada juga orang dzikirnya memakai biji tasbih yang katanya bid’ah itu.

Karena saya bawa surat saya diperkenankan untuk masuk. Di sana surat hanya dilihat sebentar (tidak dibaca) oleh para penjaga yang lain lalu diberi lembaran kertas yang divalidasi olehnya dan diberikan kepada saya. Lalu saya disuruh masuk ke ruangan yang lain dengan menunjukkan lembaran kertas kecil tersebut.

Di tanya oleh penjaga yang berada di ruangan itu: “ustadz fi madrasah?” Saya jawab: “Na’am”. Saya enggak bohong kok jawabnya. Saya memang seorang guru dalam sekolah informal pekanan. Lalu saya diberi satu kardus berisi Alqur’an.

Karena saya dari Indonesia, Sang Penjaganya memberi tambahan lagi satu Alquran Terjemah dan satu buku tafsir. Tapi saya diharuskan minta validasi lagi ke penjaga sebelumnya. Satu hal yang perlu diingat kertas validasi itu jangan sampai hilang.

Mau bawa berapa proposal? Mau bawa tujuh proposal dan antri setiap harinya enggak apa-apa, yang penting bisa tidak bawa pulangnya ke tanah air. Saya cuma bawa satu saja cukup. Ada juga jama’ah haji Indonesia yang bawa dua proposal. Dua proposal berarti dua kardus.

Kardus itu berat sekali. Pada saat penimbangan tas kopor dilakukan saya iseng untuk menimbang kardus alqur’an wakaf itu ternyata beratnya berkisar 10 kg. Lalu bagaimana cara bawa kardus itu ke tanah air? Soalnya para jama’ah haji sudah ditakut-takuti oleh para petugas haji sejak di tanah air sampai pemulangan itu bahwa kita tidak boleh bawa tas tenteng selain tas tenteng berlogo maskapai penerbangan. Ah, masa iya sih?

Alternatif cara pertama adalah mengirimkannya dengan kargo. Hitung saja kalau ongkosnya sekitar 8 real per kilonya. Berarti total 80 real. Kalau dikurskan ke rupiah berkisar 200 ribu rupiah. Ini sama saja dapat Al Qur’an enggak gratis. Tapi tidak masalah kalau yang dititipkan memang ikhlas dan berniat infak serta tak mau direpotkan dengan membawa banyak barang tentengan.

Alternatif kedua adalah dengan memasukkannya ke dalam kopor. Tentu saja ini akan makan tempat apalagi tas kopor para jama’ah haji dibatasi beratnya hanya maksimal 32 kg. Tapi sebenarnya tak apa beratnya melebihi itu yang penting berat total satu kloter tidak melebihi batas maksimal 32 kg dikalikan jamaah dalam satu kloter.

Paling tidak jika beratnya melebihi batas yang telah ditentukan biasanya akan jadi perahan para pekerja perusahaan kargo. Untungnya Ketua Rombongan kami tahu trik ini jadi ketika diperas Ketua Rombongan kami dengan tegas menolak permintaan uang tambahan itu karena yang jadi patokan adalah berat total dalam satu kloter itu. Kebetulan banyak juga dari jamaah haji rombongan kami yang beratnya tidak melebihi 32 kg.

Kalau memang tasnya masih kempes dan hanya diisi dengan sedikit oleh-oleh tidaklah mengapa kalau kopor itu diisi dengan Alqur’an itu. Masalahnya adalah bisa tidak kita mengemas Alqur’an sebanyak 19 buku itu dalam kopor? Kalau masih muat silakan saja.

*Jumlah 19 Kitab Alqur’an wakaf ini baru diketahui setelah tiba di tanah air.

Alternatif ketiga adalah dengan menentengnya. Petugas haji Indonesia yang garang-garang di bandara itu tidak akan mungkin untuk meminta kita untuk membuang kardus wakaf alqur’an ini. Jika ditanya isinya apa, jawab saja Alqur’an wakaf dan siapkan kertas validasi jika mereka enggak percaya. Mereka cuma pegang-pegang kardusnya pada saat pemeriksaan untuk mengecek kalau-kalau ada air zam-zam di dalam kardus itu.

Cara alternatif ini tentu merepotkan tapi tidaklah mengapa jika yang bawanya ikhlas. Semoga amalnya dihitung oleh Allah sebagai amal kebaikan. Repotnya gimana sih? Ya karena rawan lupa atau tertinggal barang bawaannya. Apalagi kalau sudah tiba di bandara tanah air dan embarkasi. Sedikitnya ada 4 bawaan di setiap jamaah antara lain Tas tenteng di tangan kanan, tas paspor yang digantung di leher dan diikat di pinggang, tas gemblok di punggung, dan air zam-zam 5 literan di tangan kiri, ditambah satu kardus Alqur’an entah di tangan yang mana lagi.

Satu saran saya terakhir jika memang kardus itu mau ditenteng, siapkan saja sapu tangan tebal untuk ditaruh di talinya. Tanpa sapu tangan itu siap-siap saja tangan lecet kena tajamnya tali kardus. Itu saja.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

semoga kita dipertemukan kembali…

14.55 12 Desember 2011

Tags: masjid nabawi, pintu 18, gate 18, proposal alqur’an gratis, gate King Fahd, gate umar bin Khaththab, cara dapat alqur’an gratis, proposal alqur’an.

SELALU ADA SENJA DI LAUT MERAH


SELALU ADA SENJA DI LAUT MERAH

    Ada waktu senggang yang kami manfaatkan setelah ritual wajib haji telah tertunaikan yaitu rihlah ke berbagai tempat di Makkah dan sekitarnya. Yang akan sedikit saya ceritakan kali ini adalah Masjid Terapung di Jeddah. Sebenarnya bukan terapung begitu saja, tetapi masjid ini didirikan dengan tiang pancang pondasinya yang tertancap persis di pinggir Laut Merah. Sehingga ketika Laut Merah sedang pasang airnya maka masjid ini dikelilingi air dan seakan-akan mengapung di atas air laut.

    Kami berangkat dari pondokan di Makkah jam dua siang melalui jalan lama Mekkah Jeddah. Karena katanya kalau melalui jalan baru nanti akan melewati pos pemeriksaan dan urusan akan ribet. Jarak Mekkah Jeddah melalui jalan lama sekitar 85-an kilometer.

Dalam perjalanan kami mampir dulu ke peternakan unta. Foto-foto bersama unta dan seumur hidup baru kali itu bisa mencium unta yang baunya “prengus” karena sejak lahirnya ia tak pernah mandi. Lalu beli satu botol susu unta murni yang nantinya akan saya sesali. Hu…hu…hu…

Ketua Rombongan sudah bilang untuk tidak langsung meminum susu itu. Dan itu sudah saya turuti. Karena bagi yang tidak cocok dengan susu murni seperti itu walaupun terasa gurih dan enak, isi perut bisa keluar semua.

    Sampai di Masjid Terapung, kalau tidak salah sudah hampir jam 4. Shalat ashar di sana lalu menikmati pemandangan yang ada sambil menunggu maghrib tiba. Benar-benar tepat singgah di sana sewaktu sore. Tersajikan sebuah pesona alam yang sungguh indah dipandang mata.

    Lengkungan kubah dan tiangnya, menara tinggi menjulang, angin yang menderu kencang, Laut Merah dengan ombak kecilnya, langit hitam, dan matahari senja yang hendak turun ke peraduan membuat hati saya tergetar. Subhanallah indahnya.

*Suasana senja di Masjid Terapung

*Pemandangan lain di sekitar Masjid Terapung

    Saya tak dapat menggambarkan lagi apa yang saya rasakan di sana. Ada kebahagiaan dan ketenangan yang didapat saat menikmati semuanya itu. Hasrat untuk memainkan kata-kata mulai timbul. Tapi sungguh hanya cuma terlintas dalam hati. Dan tak dapat tertuliskan sampai kemarin. Jika boleh, inilah huruf-huruf yang bisa terangkai hari ini.

    selalu saja ada senja di setiap sudut

    pun di laut merah

    jika angin yang menerpa dan cahayanya melukis di wajahmu

    akankah ada ufuk hanya untukku

    langit hitam takkan menjadikanku hitam

    tapi serinai siluetmu

menerobos kelalimanku

aku menjadi putih di merah hatimu.

**

Aduh biyunggg…tobaat…Cuma kata-kata itu yang bisa tertangkap. Banyak foto indah yang bisa dibuat. Tapi tak bisa saya unduh di sini. Paling di facebook. Insya Allah. Lihat saja di sana. Hanya sedikit ini.

  • Selalu ada senja di setiap sudut

    

    *Salah satu sudut Masjid Terapung

    

  • Di mana-mana ada senja. Bolehkah aku gunting dan kulipat engkau di sakuku?

Setelah foto-foto, kami menikmati jagung bakar yang dijaja di sana. Penjualnya bisa memikat hati para pengunjung yang mayoritas orang Indonesia dengan sedikit kepintarannya berbahasa Indonesia. “Lima real…! Lima Real…!” Satu biji setara Rp12.500,00.

Setelah makan jagung bakar yang dibeli dan nasi kotak yang disediakan oleh Ketua Rombongan, adzan maghrib berkumandang. Saya mengambil air wudhu di toilet Masjid. Jangan bayangkan seperti di Masjidil Haram yang berlimpah air dan banyak WC serta krannya, di Masjid Terapung sarananya minim, kami harus antri panjang untuk sekadar mengambil air wudhu.

Ada yang membuat hati saya bergetar kembali. Bacaan imamnya itu indah sekali. Walaupun di saat maghrib itu penuh dengan jamaah namun saya membayangkan jika tidak di musim haji. Imam yang sudah sepuh itu memimpin segelintir jamaah di suatu maghrib, di tepi laut merah. Syahdu. Berasa seperti shalat maghrib atau shubuh di sebuah desa di pegunungan atau di puncak Bogor. Tiba-tiba saya membayangkan saya punya pesawat jet, maka sabtu atau minggu pergi dari tanah air untuk sekadar shalat maghrib di sana. Mustahil? Insya Allah tidak.

Setelah shalat maghrib, perjalanan rihlah dilanjutkan ke Masjid Qishosh, melewati air mancur setinggi 100 meter lebih, melewati pula makam Siti Hawa, dan berakhir di pusat perbelanjaan Corniche Commercial Centre, Balad. Beli apa di sana? Beli unta-untaan made in China buat Kinan dan keponakan. Unta-untaan itu kalau ditepuk langsung nyanyi: “Ya Thoybah…ya Thoybah…”. Di Jeddah, di Makkah, dan di Madinah harganya sama, 15 Real.

Tidak lama setelah itu kami pulang. Sampai di pondokan jam 11 malam. Dan berakhir sudah rihlah di hari itu.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

mana senjamu?

17.51 11 Desember 2011

Tags: hajj 2011, mekkah, madinah, jeddah, corniche commercial centre, siti hawa, masjid terapung,

MUSTAJAB BANGEEET…


MUSTAJAB BANGEEET…

    Bagaimana cara bertemu dengan teman yang kita tidak tahu nomor kloternya berapa, tinggal di sektor mana, rumah pondokannya berapa? Suatu hal yang mustahil saya mencari satu orang di antara ratusan ribu jama’ah Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru mata angin kota Makkah.

    Tapi di sana tidak ada yang mustahil. Tinggal berdoa saja di depan Kakbah, di sebuah tempat yang paling mustajab, di waktu yang mustajab, dengan 100% keyakinan pada Allah, maka tunggu dan biarkan mekanisme doa itu berjalan sendirinya untuk kita. Dan saya hanya terlongong-longong ketika teman saya itu muncul di hadapan saya begitu saja. Terpana. Tak dinyana. Tak terduga. Allah Akbar.

Mustajab banget doa di sana. Banyak sekali doa yang dikabulkan. Oleh karenanya tak pandang sepele semua keinginan saya panjatkan. Dengan bahasa Arab ataupun pakai bahasa orang Bojong. Doa kecil ataupun doa besar. Maksudnya? Doa kecil itu semisal minta supaya saya tak ada masalah pada saat mengantri toilet di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMINA). Doa besar semisal agar saya bisa dikumpulkan dengan orang-orang yang saya cintai di Firdaus A’laa bersama Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Saran saya buat yang mau berangkat haji di tahun-tahun mendatang adalah siapkan stok doa sebanyak mungkin. Doa berbahasa Arab yang sudah kita hapal, kita pahami betul maknanya sehingga tak sekadar diucapkan di lisan. Bahkan jika kita hanya punya satu doa andalan—doa sapu jagat, Robbana aatina—tak mengapa itu diulang ribuan kali atau menjadi doa pada saat thawaf dan sa’i. Jika sudah selesai dengan doa yang berbahasa Arab berdoalah dengan doa berbahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang kita kuasai. Allah Maha Mendengar.

Jangan malu untuk buka-buka buku pada saat doa di sana. Buku paket doa dan dzikir yang dibagikan pemerintah di tanah air itu juga bisa mencukupi. Atau dengan buku yang dibagikan pada saat kita mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Di buku itu ada tulisan Arabnya dan terjemahannya. Saya pakai buku yang terakhir dan membaca terjemahannya di saat berdoa karena saya anggap isinya bagus banget.

Jangan sepelekan buku dzikir dan doa yang dibagikan oleh pemerintah yang isinya juga bagus-bagus. Mentang-mentang tak ada keterangan doa ini dari hadits (Nabi) atau dibuat oleh siapa jadi enggak dipakai. Padahal buku doa dan dzikir dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KAS) pun sama bae. Enggak ada keterangan doa itu riwayat dari siapa atau ditakhrij oleh siapanya.

Keuntungan yang dimiliki oleh orang-orang Makkah dan Madinah adalah mereka punya tempat yang mustajab untuk berdoa—di Makkah yakni di Multazam sedangkan di Madinah yakni di Raudhah—yang bisa mereka kunjungi kapan saja. Tak ada kendala jarak dan waktu.


Tampak seorang Pakistan berdoa dengan khusyu’ memandang Kakbah

di lantai paling atas tempat sa’i Masjidil Haram (18/11)

Tapi Allah Mahaadil, Allah memberikan kepada kita—kaum Muslimin secara keseluruhan—saat yang mustajab untuk kita berdoa. Oleh karena betapa susahnya kita doa di tempat yang mustajab itu maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya saat-saat yang tepat itu dan jangan sekali-kali meremehkannya. Saat-saat itu adalah antara lain waktu sahur, sepertiga malam terakhir, turun hujan, antara adzan dan iqamat, berbuka puasa, dan pada saat khatib jumat duduk.

Berdoalah apa saja sesuai hajat kita dengan sepenuh hati. Pun dengan adab-adab doa yang telah kita ketahui bersama antara lain seperti memulai dan mengakhirinya dengan mengucapkan rasa syukur dan shalawat, mengangkat tangan, khusyuk, serta penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan Allah.

Satu hal lagi adalah ada saat berdoa yang mustajab yang tidak bisa dimiliki oleh kaum muslimin hatta penduduk Makkah dan Madinah sekalipun kecuali mereka yang berhaji yaitu pada saat wukuf di Arafah. Jangan sia-siakan waktu yang enam jam itu untuk kita tuntaskan semua hajat kita dengan doa. Waktu itu dimulai saat tergelincirnya sampai terbenamnya matahari.

Kebanyakan dari jama’ah haji Indonesia hanya memanfaatkannya sebentar yaitu pada saat dimulainya khutbah wukuf sampai selesainya. Atau paling lama sampai waktu ashar tiba. Saran saya adalah berdoalah sampai benar-benar maghrib tiba. Saya merasakan sekali betapa waktu itu terasa pendek dan teramat berharga. Seperti merasa waktu itu hanya akan mampir cuma sekali dalam seumur hidup. Seperti merasa hanya punya waktu sehari saja untuk hidup di dunia atau mau dihukum mati besok harinya. Oleh karenanya di penghujung waktu itu saya ulangi semua hajat dan keinginan terbesar saya dan minta agar saya bisa kembali untuk menjumpainya.

Semoga kita bisa menjumpai saat itu dan memanfaatkan waktu yang terbaik untuk berdoa dengan sebaik-baiknya.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lagi, bukan di depan bangunan hitam itu kita dipertemukan

03.15 11 Desember 2011