PAGI CANTIK: LAGI TENTANG KEAJAIBAN ISTIGHFAR


PAGI CANTIK: LAGI TENTANG KEAJAIBAN ISTIGHFAR

 

Ada yang rumit dari sebuah pagi, detilnya. Kali ini, pagi ini, demikian pula. Walau ada sebuah cerita mengiringinya. Ini sungguh terkait dengan keajaiban istighfar seperti yang sudah saya ceritakan kepada Anda semua di “Cring”.

Tadi malam saya i’tikaf di masjid komplek desa lain. Sahurnya pun disitu. Pas sahur air minum kemasan gelas habis. Mau mengambil air yang ada di dispenser tak ada gelasnya. Sudahlah, saya minumnya nanti, di rumah saja. Pun, karena saya harus kembali ke rumah segera untuk dapat sholat shubuh di Masjid Al-Ikhwan. Ada ceramah shubuh di sana.

Setengah jam menjelang adzan shubuh, saya memacu Fit di jalanan Bojonggede yang sepi. Di tengah perjalanan, saya baru ingat kalau jarum penunjuk fuel sudah menyentuh garis merah. Mentok sementok-mentoknya di dasarnya. Lupa belum diisi. Wah gawat kalau benar-benar dorong motor pas mau puasa. Ngelak tenan ik

Saya ingat nasehat ustadz. Perbanyak istighfar niscaya Allah kasih kelonggaran atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, rezeki dari arah yang tidak terduga. Langsung dah saya istighfar sebanyak mungkin, “ya Allah cukupkanlah bensin di motor saya ini sampai ketemu tukang bensin.” Saya percaya Allah akan menolong saya. Akankah keajaiban itu datang? Ternyata tidak saudara-saudara!

Motor benar-benar berhenti jauh dari tempat tukang bensin jualan. Saya turun dari jok dan mendorong motor itu. Speaker masjid dari mana-mana sudah terdengar menyuarakan pemberitahuan bahwa imsak akan datang sebentar lagi. Seratus meter dorong sambil cari warung pinggir jalan yang jualan air minum. Tak ada. Dan ujian akan tambah berat lagi. Di depan saya, kurang dari 100m, ada jembatan. Ini pertanda saya harus mengerahkan tenaga ekstra lagi untuk bisa melaluinya karena jalanannya menaik. Saya pasrah. Ini takdir yang harus dijalani di hari ke-26 Ramadhan.

Dan di titik inilah, di saat kepasrahan itu menjelma, keajaiban istighfar datang menghampiri. Seorang pengendara motor , anak muda, berhenti dan menanyakan kepada saya apa yang terjadi. Setelah mengetahui kondisinya, ia langsung menawarkan untuk nyetut
motor saya. Stut motor itu mendorong motor yang saya naiki dengan kakinya atau dorki (dorong kaki). Alhamdulillah ini sangat membantu. Kurang lebih 500 meter ia dorong motor saya sampai di tukang bensin terdekat. Dan ia langsung pergi tanpa berhenti untuk sekadar menerima ucapan terima kasih saya. Semoga Allah memudahkan urusannya dan membalasnya dengan kebaikan yang banyak.

Ilustrasi dari sini.

Saya beli dua botol bensin. Sebelumnya saya bertanya sambil melirik kulkas apakah ada air kemasan yang dijual. Ibu itu bilang tidak ada. Tapi ia langsung mengambil air segelas besar penuh dan memberikannya kepada saya. Ia tahu betul kalau saya lagi kehausan. Ucapan terima kasih lagi-lagi saya haturkan kepada orang baik kedua yang telah menolong saya. Inilah keajaiban istighfar yang kedua pas imsak tiba.

Di pagi yang rumit itu saya mendapatkan tiga keutamaan sekaligus dari istighfar. Allah hapus kegalauan saya karena harus mendorong motor di pagi buta, disebabkan ada orang yang mau membantu saya. Allah kasih jalan keluar atas setiap kesempitan karena ada orang yang kasih solusi dengan nyetut dan tukang bensin yang tak sebegitu jauhnya. Lalu Allah kasih rezeki segelas penuh air minum gratis menjelang waktu shubuh untuk menghilangkan dahaga dan bekal seharian berpuasa. Nikmat mana lagi yang mau diingkari jeh? Astaghfirullahal’adziim…

Maka untuk merayakan pagi yang tak rumit lagi ini bolehlah saya teriakkan: “Pagi Cantik…” Semoga amal ibadah kita di Ramadhan ini bagus semua, cantik semua. Lalu Allah menerimanya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di pojokan masjid

04 Agustus 2013

 

C R I N G


CRING

Kalau di surga, Adam jika menginginkan sesuatu maka ia tinggal bilang lalu “cring”. Segalanya sudah ada di hadapannya. Sungguh kenikmatan yang tiada tara. Dalam kesendiriannya naluri sebagai seorang manusia menghendaki adanya seorang teman. Lalu diciptakanlah Hawa dari tulang rusuknya. Maka kenikmatan apa lagi yang dapat menandingi kenikmatan yang mereka miliki? Sampai terjerumus oleh Iblis dengan memakan buah terlarang. Kenikmatan dua manusia pertama itu dicabut dan mereka berdua turun ke bumi. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercipta akan mengurangi banyak kenikmatan.

Di bumi, walaupun tidak sedahsyat surga, tetapi jika Adam menginginkan buah ia masih tinggal memetiknya dari pohon. Keturunannya sudah semakin banyak. Dengan sebuah pelajaran yang teramat berharga—terusirnya mereka dari surga—lalu membuat anak keturunan Adam tidak berbuat dosa? Dosa-dosa pun tercipta. Lalu mereka tak bisa memetik buah dari pohon, mereka harus menanamnya mulai dari biji-biji yang mereka dapatkan. Ada upaya keras tercipta untuk mendapatkan sebuah kenikmatan. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercatat akan mengurangi banyak kenikmatan.

Dosa-dosa selanjutnya membuat manusia semakin sukar mendapatkan apa yang diinginkannya hingga untuk mendapatkan kebutuhan yang paling pokokpun mereka harus memiliki sesuatu yang berharga untuk bisa ditukar. Sistem barter pun mulai berjalan. Satu postulat yang pasti: setiap satu dosa tercatat akan mengurangi banyak kenikmatan.

Lalu apa yang membuat antagonis dari postulat tersebut? Hingga sebabkan satu “something” itu dilakukan maka akan menambah banyak kenikmatan yang lain. Istighfar. Ya Istighfar. Istighfar itu dekat dengan kenikmatan. Dekat dengan surga. Istighfar itu sebuah pengakuan kelemahan diri akan sebuah dosa yang dilakukan, dan berharap kepada Sang Pemilik Ampunan agar menghilangkan bintik-bintik dosa di sekujur tubuh yang memberatkan sisi timbangan amal sebelah kiri.

Duhai…manusia, janji Allah yang tersebut dalam Surat Hud ayat 3 sudah menjadi sebuah keniscayaan. “dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus).”

Apalagi janji Rasulullah yang tak pernah teringkari: “Barang siapa yang melazimkan istighfar, Allah akan menjadikan dari setiap kesedihan kelonggaran, dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Sunan Ibnu Majah 3809).

Sudahlah, hapus segala galaumu dengan istighfar. Longgarkan jalanan macet dengan istighfar. Commuter Line tidaklah manusiawi hingga tak tahu lagi kemana kaki berpijak dan tangan yang tergantung, luaskan semua itu dengan istighfar. Tak percaya? Lakukan saja.

Dalam sebuah perjalanan. seorang ustadz bertemu dengan muridnya yang pengangguran di sebuah musholla. Sang Ustadz lagi banyak rezeki, maka ia pun membagi barang satu lembar kertas merah bergambar Soekarno Hatta kepada Sang Murid. Lalu mereka shalat bersama jama’ah yang lain. Setelah salam Sang Murid menghampiri Sang Guru, mencium tangannya kembali dan berkata, “Ya Ustadz seharian saya mencari pekerjaan tapi tak dapat juga. Dan akhirnya saya singgah ke musholla ini. Saya mulanya tak tahu akan makan apa hari ini karena tak dapat uang sepeserpun. Saya teringat pesan Ustadz untuk senantiasa beristighfar, maka saya pun beristighfar. Banyak. Terus menerus. Sampai Ustadz datang dan menyerahkan uang 100.000 an itu. Subhanallah Ustadz. Jazaakallah. Allah maha menepati janji.”

Tidak ada manusia yang tak luput dari dosa. Maka ia pun selayaknya untuk selalu beristighfar. Pun karena Allah mencintai orang-orang yang senantiasa beristighfar dan bertaubat. Allah gembira dengan orang yang bertaubat melebihi kegembiraan seorang musafir di tengah gurun pasir yang terik di saat menemukan kembali ontanya yang hilang.

Kalau saja nabi Yunus tidaklah mengucapkan doa ini niscaya ia akan selamanya terkurung dalam kegelapan perut ikan yang besar. Pada akhirnya Nabi Yunus terbebas dari kesempitan yang akan membuatnya mati.

clip_image002

Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa beristighfar dan bertaubat di sisa-sisa terakhir ramadhan. Setelahnya pun demikian. Selamanya. Hingga nafas terakhir kita. Ingat pulalah yang satu ini: Satu dosa menghancurkan kenikmatan, satu istighfar akan mendatangkan kenikmatan. Kita berharap kelak akan bisa seperti Adam dulu, di surganya Allah, dengan sebuah “cring…” Segalanya ada.

***

Riza Almanfaluthi

29 Juli 2013

dari sebuah ceramah yang diremark

Banyak Pegawai Pajak Seperti Dia, Bukan Gayus


Banyak Pegawai Pajak Seperti Dia, Bukan Gayus

image

Para penumpang secara bersamaan memandang motor yang berhenti persis di samping angkot itu. Motor yang dinaiki oleh lima orang. Di atasnya ada sepasang suami istri dengan tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Anak paling besar di depan jok, anak keduanya di tengah, sedangkan yang kecil di gendongan Sang Ibu. Mereka tidak tahu kalau yang mengendarai motor itu adalah pegawai pajak.

Sudah 13 tahun lamanya, pegawai yang bernama Rizky Syabana ini, bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementerian Keuangan. Tahun ini tahun kesembilan bekerja di lingkungan Kantor Pusat DJP. Menurutnya bekerja di direktorat yang mengurusi 75% penerimaan Negara ini tidak harus identik dengan kemewahan. Pun, PNS Pajak itu sama saja dengan PNS-PNS lainnya yang hidup bersahaja. Apalagi kesederhanaan itu adalah pilihan dan integritas adalah kewajiban.

Tentu ada masa baginya kalau integritas yang ia pegang teguh akan diuji. Syukurnya, seluruh ujian itu bisa dilewati dengan baik. Tawaran dari Wajib Pajak untuk dibantu dalam proses penyelesaian keberatan dengan imbalan yang menggiurkan, ditampiknya dengan sopan. Ia cuma mengisyaratkan kalau bersikap profesional adalah tuntutan untuk bekerja di direktorat yang terus berbenah sejak tahun 2002.

Tidak bisa tidak, ada tiga faktor yang mendukungnya untuk tetap bisa memegang teguh integritasnya itu. Pertama, paradigma tentang rezeki: jangan mengambil yang bukan haknya. Halal itu berkah. Dan keberkahan bukan berasal dari banyaknya harta. Tetapi istri, anak, kondisi rumah tangga yang selalu sehat itulah hartanya yang tak ternilai.

Kedua, merasa cukup dengan apa yang ada. Tak adanya tuntutan berlebihan dari orang tua dan istri kepada dirinya sebagai pegawai pajak yang “kata orang” harus punya ini dan itu. Ketiga, lingkungan kerja dan rumah tangga yang selalu mendukung. Sekaligus budaya di tempat kerja yang sudah baik seperti mematuhi jam kerja, berdoa sebelum bekerja, pengumuman adzan, saling mengingatkan untuk tetap menjaga integritas, dan masih banyak lagi lainnya.

Ramadhan telah tiba. Ada sesuatu yang unik di kantornya sekarang. Jika ia pergi ke Masjid setelah pengumuman waktu shalat, maka sudah dipastikan ia akan kebagian di barisan belakang karena Masjid sudah penuh oleh pegawai pajak lainnya. Ini yang dirindukan dari bulan Ramadhan. Semua seperti berlomba-lomba dalam kebaikan. Semua dilatih kejujurannya.

Tak pelak ini menumbuhkan harapannya bahwa kecambah integritas di setiap pegawai pajak akan terus terpelihara setelah bulan suci usai. Dilihat, didengar, diberitakan orang maupun tidak, di tempat yang sepi ataupun ramai. Kecambah itu akan menjadi tumbuhan yang kokoh, akarnya menghunjam jauh ke dalam tanah, batangnya kuat, cabangnya melangit, daunnya hijau dan rindang, buahnya manis.

Gayus -teman satu tim banding di Pengadilan Pajak– cuma daun kering dan tua yang memang sudah waktunya untuk jatuh. Tetapi komitmen dengan kejujuran yang dipegangnya membuat Rizki tak ikut terseret kasus yang mencederai semangat dan membuat luka hati setiap pegawai pajak yang sedang dalam proses perubahan itu.

Walau sempat dicaci, tapi ia menganggapnya sebagai risiko dari sebuah perubahan. Menyulitkan memang. Tapi bukankah semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh? Ia teringat kutipan John Gray itu. Dan ia percaya bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan.

Sampai sekarang, pagi dan sorenya, Rizky tetap konsisten mengarungi 34 kilometer dari rumah menuju kantornya, pulang dan pergi, dengan motor yang setia menemani. Tetap dengan sederhananya. Tetap dengan integritasnya. Banyak Pegawai Ditjen Pajak berintegritas seperti Rizky bukan Gayus.

Seperti kesederhanaan dan integritas para pegawai pajak lainnya yang berada di daerah terpencil. Jauh dari keluarga dan pusat keramaian, tinggal di rumah dinas berkamar pengap tanpa AC dengan ranjang berkelambu, siang hari tanpa listrik, infrastruktur yang tidak memadai. Semua dijalani dengan sikap penuh kerelaan dan tanggung jawab.

Ini semata agar denyut pembangunan bisa dirasakan oleh setiap penduduk Republik ini. Oleh karenanya negeri ini butuh pegawai berintegritas seperti mereka dan perlulah berbangga terhadap para ksatria pajak dengan sikap sederhananya yang telah berjuang dan bekerja keras tanpa pamrih demi mengumpulkan penerimaan Negara.

***

Riza Almanfaluthi

di sebuah tuts keyboard

Gambar milik Direktorat Keberatan dan Banding/Puji.

KARENA ITU BAHAGIA KAMI, BILA?


KARENA ITU BAHAGIA KAMI, BILA?

Ini hari kelima Ramadhan. Di sebuah sore. Selalu ada de javu. Tentang makanan khas dan kenangan masa kecil. Tapi yang paling bahagia saat ini—ketika puluhan tahun kenangan itu tertinggal di belakang—tentunya buka puasa bersama dengan keluarga. Hari Sabtu dan Minggu adalah dua hari yang dimanfaatkan betul untuk melakukan ritual itu. Ritual yang sama diharapkan oleh milyaran penduduk muslim sedunia para pelaku ibadah puasa.

Bukankah ini satu dari dua kenikmatan yang didapat bagi orang yang berpuasa? Selain yang satu lagi adalah bertemu dengan wajah Allah kelak. Memang betul, nikmat sekali bukan kalau kita berbuka puasa? Tak ada orang yang memungkirinya. Kenikmatan itu berlipat ketika merasakannya bersama-sama dengan keluarga. Ada kehangatan. Ada suka cita. Kita merayakannya bersama. Entah di atas meja makan atau di atas tikar yang digelar di lantai.

Tapi itu tidak untuk hari lainnya yaitu di hari kerja biasa. Mengapa? Pada bulan selain ramadhan saya dan teman-teman Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Keuangan biasa pulang pada pukul 17.00. Di bulan puasa kami mendapatkan ‘dispensasi’ untuk pulang tidak seperti biasanya yaitu pulang pada pukul 16.30. Itu pun sebenarnya bukan dispensasi karena waktu istirahat kami dipotong 30 menit sebagai kompensasinya.

Dispensasi pulang cepat jam 16.30 ini juga berbeda dengan PNS-PNS lainnya yang pulang lebih cepat berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 7 tahun 2013 tentang Penetapan Jam Kerja Pegawai Negeri Sipil pada Bulan Ramadhan. Jelas betul dalam surat edaran itu tentang tujuan dikeluarkannya penyesuaian jam kerja tersebut yaitu dalam rangka peningkatan kualitas pelaksanaan ibadah puasa bulan Ramadhan.

Instansi pemerintah yang memberlakukan lima hari kerja, masuk jam 08.00. Untuk hari Senin – Kamis, pulang jam 15.00, dengan waktu istirahat jam 12.00 – 12.30. Sedangkan hari Jumat, pulang jam 15.30, dengan waktu istirahat jam 11.30 – 12.30. Adapun bagi instansi yang memberlakukan enam hari kerja, masuk jam 08.00. Sedangkan pulang kerja hari Senin – Kamis dan Sabtu pada jam 14.00, dengan waktu istirahat jam 12.00 – 12.30. Sedangkan hari Jumat, pulang jam 14.30 dengan waktu istirahat jam 11.30 – 12.30.

Dengan penetapan ini, jumlah jam kerja bagi instansi pemerintah baik pusat maupun daerah, yang menerapkan 5 hari atau 6 hari kerja, selama bulan Ramadhan sebanyak 32,5 jam per minggu.

Kami tetap masuk seperti biasa, paling lambat jam 07.30. Lalu pulang jam setengah lima sore. Jika di daerah, itu waktu yang cukup untuk mendapatkan saat berbuka bersama keluarga di rumah. Tapi kalau di seputaran Jabodetabek itu adalah hal yang bisa dibilang mustahil. Mengingat kemacetan dan jarak yang harus ditempuh oleh banyak moda transportasi.

Maka ketika adzan berkumandang, kami terbiasa mendengarnya di atas Commuter Line yang teramat padat. Atau di atas sepeda motor dengan ribuan biker lainnya. Atau di atas busway yang jalannya terbajak kendaraan bermotor lainnya, atau di atas bus jemputan. Bahkan ada yang selama 12 tahun kerja di Jakarta amatlah bisa dihitung dengan jari kesempatan berbuka puasa bersama keluarga di hari kerja biasa. Akhirnya terkadang juga tarawihnya pun tertinggal.

Ini bukan sebuah keluhan. Ini bukan pula sebuah gugatan. Bukan pula bentuk ketidaksyukuran kami atas nikmat masih berkumpulnya kami dengan keluarga. Tapi hanya sebuah keinginan tulus kami dari hati yang paling dalam bahwa kami juga ingin sama dengan PNS-PNS lainnya. Kami ingin lebih khusyu’ lagi beribadah di bulan Ramadhan sebagaimana tujuan dari dikeluarkannya edaran Menpan. Karena itu pun adalah bahagia kami. Bila?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

6 Ramadhan 1434H

Ilustrasi dari sini

    

MENERBITKAN ITU MUDAH, KONSISTENSINYA BUTUH PERJUANGAN


MENERBITKAN ITU MUDAH, KONSISTENSINYA BUTUH PERJUANGAN

Terinspirasi adanya selebaran pengumuman tarhib yang habis pada Jum’at lalu (28/6) saya akhirnya tekadkan diri untuk membuat buletin Jum’at Masjid Al-Ikhwan. Insya Allah buletin ini akan mulai diluncurkan Jum’at pekan ini (5/7). Sebenarnya sebelumnya saya ditawarkan untuk mengisi dan mengasuh buletin di Masjid lain tapi belum diiyakan karena kesibukan dan tentunya komitmen untuk menulis dengan tema serius setiap minggu .

Sudah sedari awal pendirian masjid Al-Ikhwan belum ada buletin Jum’atnya. Padahal buletin itu penting buat menginformasikan agenda masjid dan penyebaran pemikiran kepada umat. Maka saya berharap penerbitan buletin ini untuk memenuhi kekosongan itu. Sembari menunggu Khatib Jum’at naik mimbar dan adzan berkumandang buletin ini menjadi bacaan para jama’ah, selain Al-Qur’an yang tentunya lebih utama, dan bisa dibawa pulang.

‘Alaa kulli hal, menerbitkan buletin itu mudah tapi mewujudkan konsistensinya yang luar biasa butuh perjuangan ekstra keras. Tak tahu sampai kapan buletin yang saya namakan Al-Ikhwan ini akan terbit. Harapannya tentu untuk selama-lamanya. Oleh karenanya, kudu bentuk tim dan sistemnya agar konsisten terbit setiap pekan. Jangan hanya bertumpu kepada satu orang saja. Karena tidak setiap saat waktu luang itu mendekati dan menyapa saya.

Kalau di tempat lain pakai aplikasi keren dan canggih, saya cukup sederhana saja: Word dengan template yang sudah bertebaran dan disediakan oleh orang yang mau berbagi ilmu dan pengalamannya. Dan ini isi edisi pertamanya:

Tarhib Ramadhan Masjid Al-Ikhwan

“Salah satu dampak dari keberhasilan Ramadhan adalah ketika ia mampu untuk beraktivitas sosial dengan masyarakat,” kata Bapak Uche Ismail, dalam sambutannya pada Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan di Masjid Al-Ikhwan, Ahad, 30 Juni 2013 lalu.

Sambutannya adalah hanya salah satu rangkaian acara yang ada pada tarhib tersebut. Sebelumnya Ananda Muthia dan Ananda Dini mengawali acara dengan memperdengarkan hafalan surat di juz-29 yaitu Surat Al-Qiyamah. Setelah sambutan Ketua DKM yang berbicara tentang pentingnya ukhuwah di antara umat Islam, Tasmi’ul Qur’an selanjutnya memperdengarkan surat Al-Mulk yang dilantunkan oleh Ananda Maulvi.

Acara tasmi’ ini semata diselipkan agar memacu semangat kepada umat agar senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an. Setelah membaca, menghafal, memahami, maka mengaplikasikan AlQur’an dalam keseharian adalah sebuah kewajiban.

Puncak acara yang diselenggarakan oleh DKM Al-Ikhwan bekerjasama dengan PKK RW.17 ini adalah taushiyah yang disampaikan Ustadz H. Fathurrahman, S.sos. yang mengetengahkan tema tentang 5 Penghalang Keshalihan dan bagaimana mempersiapkan diri dalam menyambut bulan mulia Ramadhan 1434H.

IMG-20130630-WA0002

*Ustadz Fathurrahman sebelah kiri bersama siapa yah? (foto ini tidak dimasukkan ke dalam buletinnya.)

Sebagai apresiasi terhadap para peserta tarhib yang datang terlebih dahulu dan para penanya aktif, PKK RW.17 memberikan doorprize menarik kepada mereka. (Rz)

Ta’jil dan Sahur

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw.

Tak terasa Ramadhan 1434 H sebentar lagi akan tiba. Sebuah bulan penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah swt. Bulan yang dinanti-nanti oleh orang-orang yang beriman dan memang hanya untuk orang yang beriman perintah itu diberikan. Sebagaimana firman Allah swt. dalam Al-Qur’anul Karim:

image

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2:183)

Menjadi agenda al-Ikhwan membuat Ramadhan ini lebih bermakna buat umat pada umumnya dan masyarakat Puri Bojong Lestari Tahap II pada khususnya. Oleh karenanya Masjid Al-Ikhwan telah menyusun program Ramadhan yang pada tahun ini mengambil tema: “Ramadhan, Saatnya Kembali KepadaNya, Saatnya Berbagi Kepada Sesama.”

Tema ini bukan berarti bahwa hanya pada Ramadhan sajalah kita menjadi muslim sejati yang bertaubat kepada Allah swt dan kita menjadi orang dermawan sedermawan-dermawannya, melainkan Ramadhan adalah saat tepat untuk kembali menghitung diri apakah taubat kita adalah taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka jika tidak, Ramadhan adalah waktu paling baik untuk kembali jujur bahwa kita selayaknya kembali kepadaNya karena Ia membukakan pintu ampunanNya selebar-lebarnya. Sungguh merugi orang yang berpuasa ketika Ramadhan berakhir ia tidak mendapatkan ampunanNya.

Ramadhan pun–dengan tema ini—bukan pula berarti bahwa berbagi kepada sesama itu hanya di bulan Ramadhan melainkan bahwa Ramadhan menjadi saat yang tepat untuk melatih jiwa sosial kita menjadi lebih peka lagi. Yang semula di luar Ramadhan sedekahnya kurang maka di Ramadhan dilatih untuk berinfak lebih besar. Dan bagi yang sudah terbiasa untuk berinfak besar di luar Ramadhan maka di dalam Ramadhan dilatih semangat berbaginya agar tetap isiqamah.

Al-Ikhwan membuka kesempatan kepada para warga Puri Bojong Lestari II untuk berbagi dengan menyediakan program ta’jil/berbuka puasa bersama. Di sanalah masyarakat dipersilakan untuk menyediakan penganan/makanan berbukanya. Sungguh, orang yang memberikan makanan untuk berbuka puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tersebut.

Selain ta’jil, program lainnya adalah makanan sahur buat para peserta iktikaf. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para donatur berbondong-bondong untuk memberikan sebagian hartanya berupa uang ataupun makanan sahur buat para peserta iktikaf. Pengurus DKM Al-Ikhwan hanya bisa memberikan do’a agar Allah membalas kebaikan para donatur tersebut dengan kebaikan yang berlipat ganda. (Rz)

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:26 02 Juli 2013

BIAR AIR MINUMNYA AKU AMBIL SENDIRI


Biar Air Minumnya Aku Ambil Sendiri

I.
Karena kau mencumbu beribu kertas yang berserakan di otakmu, aku tergugah dari tidur, membuyarkan jenak, dan membuatnya menjadi kepingan kecil serupa serutan es campur. Satunya tercabik di sudut ruangan ini, digigit semut, dan dibawa ke sarang, buat Sang ratu dan anak cucunya. Satunya lagi terjun dari lantai 19 bersama jutaan ekor gerimis yang tak sempat kau hitung. Satunya lagi menyamar bersama debu-debu di layar komputer bertanduk hingga membentuk mural akrilik. Dari sebuah pintu gerbang negeri dongeng kau hanya satu-satunya yang menyambut jenak itu. Lalu pikiranku terkilir. Perutku terpelintir bersama kecoa-kecoa busuk. Aku ingat waktu itu kau tersenyum mengejek bersama si Tua Ernest Hemingway. “Aku tak jadi pergi,” katamu. Sejak Saat yang mula menggencetku mampu bicara, aku seperti terjun di oase Gurun Gobi. Hausku hilang. Tak berbilang. Hingga ke pulau seberang. Istirahatlah.

II.
Aku bisa tabah. Hanya dengan sepiring senyummu sehari. Biar air minumnya aku ambil sendiri.
***

Riza Almanfaluthi
18:19 Lantai 19 Gedung Utama
dedaunan di ranting cemara
Didedikasikan buat Teman-teman Penelaah Keberatan
di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi yang tadi pagi
bergembira mendengar kabar itu.

SERUPA MUSA DI HADAPAN KHIDIR


SERUPA MUSA DI HADAPAN KHIDIR

Baka sira deleng blog e kita sekien, sira pasti mikir baka kita wis suwe belih nulis. Ya wis belih papa baka kedelenge mengkonon mah. Tapi baka sira weruh, kita sebenere nulis bae. Nulis kontinyu mengkonon. Nulis apa bae. Tapi kadang belih ke pablis ning wong-wong. Soale tergantung proyek e. Sekien ana proyek sing kudu mari dina senen mbuh selasa. Tapi sekien kih proyek nulise durung dadi-dadi. Ning pikirane kita lagi pengen nulis kanggo kita dewek dingin. Pengen nulis kanggo blog e kita dewek. Pengen nulis sing ana ning ati dingin.

Makane kita sore kien buka laptop langsung nulis. Eh kelingan karo basa dermayu kah, makane kita nulis nganggo basa wong tua, basa ibu, sing senget cilik kita omong karo wong tua, karo sedulur. Mbuh pada ngerti belih karo sira sing dudu wong Cerbon apa Dermayu. Sing keturunane Nok Ratminah atawa Kang Baridin mah pasti weruh. Tapi kedelenge wong Brebes karo wong Tegal rada-rada ngerti. ya wis syukur baka ngerti sih. Terus pengen nulis apa maning kien? Mbuh. Terjemahe ning esor yaa…

    Seperti sudah saya bilang, kalau saya itu selalu belajar dari orang lain. Kalau baik, saya ingat amal kebaikannya itu dan ingin menjadikan target dari amal kebaikan yang akan saya lakukan. Jika jelek, tentunya sudah cukup itu menjadi pemikiran saya dan tidak menjadi aksi.

    Saya punya teman. Teman ini selalu punya keyakinan, kalau rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tentu Allah Sang Maha Pemberi Rezeki yang mengaturnya. Bukan atasan dan bukan pula negara. Jadi sejak dulu dia selalu punya azzam kalau ada pekerjaan yang mengganggu ibadahnya maka pekerjaan itu akan ditinggalkan senyaman apapun hasil yang diperoleh. Kalau waktunya sholat—apalagi kalau sudah shalat Jum’at—ia selalu meninggalkan pekerjaannya walau sedang sibuk atau sedang rapat ataupun sedang mengantar Direktur dan tamu asingnya. Tapi ia tak peduli.

    Ia selalu punya keyakinan rezeki akan datang menghampirinya saat ia sedang butuh walau ia tak tahu dari mana datangnya rezeki itu. Tentu ia pun bukan seorang nihilisme—orang yang pasrahnya keterlaluan. Ia tetap berikhtiar dan kerja sekuat tenaga mencari rezeki itu. Dan faktanya memang demikian, rezeki itu selalu ada saat ia membutuhkannya, misal saat anaknya harus mendaftar ulang sekolah yang tentunya membutuhkan biaya banyak. Ada saja tiba-tiba orang menyerahkan uang kepadanya. Entah karena bisnisnya atau ada yang membayar utangnya.

    Satu saja untuk semua itu: ia punya keyakinan mendalam bahwa Allah itu tergantung dari kita sendiri sebagai hambaNya. Dan ia memberikan pelajaran kepada saya bahwa mengarungi hidup itu harus dengan pandangan positif kepada Allah. Kalau kita yakin Allah akan menolong kita, maka Allah pasti akan menolong kita. Kalau kita yakin Allah akan memberikan rezekinya maka Allah pasti akan memberikan perbendaharaan kekayaannya kepada kita. Begitu pula sebaliknya. Maka ia selalu berpikir positif, bukankah Allah tergantung prasangka hambaNya? Malam itu, saat mendengar ceritanya, saya menjadi murid kehidupannya.

    Seorang trainer dari sebuah perusahaan finance kendaraan bermotor. Pekerjaannya memberikan pelatihan kepada semua cabangnya di seluruh Indonesia. Dan pekerjaan sampingannya adalah menuntaskan kredit yang tak kunjung dibayar atau kredit macet. Selalu saja pekerjaannya itu—entah yang pokok atau sampingannya—berbuah kesuksesan.

    Dewan direksi melihat pekerjaannya, apalagi kalau menyangkut bagaimana mengurai kredit macet, selalu ada sisi positif yang didapat: omzet naik, grafik kredit macet turun, target tercapai dalam setiap bulan, urusan dengan pihak eksternal selalu terselesaikan dengan mulus. Satu kemampuan tambahannya adalah dia pelobi dan negosiator handal. Oleh karenanya CEO setuju untuk menaikkan jabatannya menjadi seorang manajer kredit—semula dia hanya bekerja di bagian HRD—dengan mendapatkan fasilitas tambahan berupa kenaikan gaji lumayan gede, tunjangan tambahan, dan mobil dinas.

    Untuk merayakan dan mensyukuri keberhasilannya itu ia mengajak istri dan anak-anaknya makan-makan di sebuah restoran. Saat makan-makan itu salah satu dari tiga anaknya bertanya kepada Sang Ayah detil apa dan bagaimana pekerjaannya. Sang Ayah menjelaskan dengan lantang dan bersemangat. Tapi satu pernyataan dari anak keduanya yang bersekolah di SMPIT itu membuatnya tersedak: “Berarti Ayah bergaul dan makan uang riba secara langsung dong. Ngeri Yah.”

    Sejak saat itu kebimbangan menyertainya. Ini membuat gulana. Karena di bagian kredit itu ia memang secara langsung tahu bagaimana detil dari aktifitas riba yang berlangsung dan dijalankan dalam sistem pembiayaan di perusahaan tersebut. Ia shalat istikharah. Dan pada akhirnya ia berkeyakinan untuk resign walau perusahaannya berkutat menahan sekuat tenaga agar aset berharga dan utamanya ini tidak keluar. Tapi ia bergeming. Ia tetap keluar walau ia tidak tahu akan kemana lagi ia bekerja. Ia cuma punya satu keyakinan kalau Allah tidak akan meninggalkannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih halal.

    Di saat menjalani hari-hari terakhirnya di kantor itu ia mendapat telepon kalau perusahaan temannya membutuhkan seorang trainer. Sang teman itu memintanya kalau ada kenalan yang mau ikut bergabung di sebuah perusahaan kesehatan. Ia langsung menangkap peluang itu, walau sang teman terkejut kalau sebenarnya jabatan itu bukan untuk dirinya karena tidak level. Tapi ia tetap meyakinkan temannya kalau ia mau masuk dan tidak mempermasalahkan tentang grade jabatan dan take home pay-nya yang pasti berkurang.

    Ia tak perlu lagi mengikuti tes tertulis yang biasa dilakukan buat pendatang baru karena sang Direktur sudah tahu tentang kredibilitas dirinya dari wawancara yang dilakukan. Aura keyakinan dirinya sudah tertangkap Sang Direktur, juga pada keyakinannya pada rezeki dan takdir. Kalau yang halal itu sudah jelas kehalalannya dan yang haram itu sudah jelas keharamannya. Shubuh itu, saat mendengar ceritanya, saya menjadi murid kehidupannya.

    Yang tertangkap dari dua teman saya itu adalah keyakinan yang tidak tergoyahkan pada sesuatu yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran dan syariat. Dan saya yakin bahwa itu semua adalah refleksi dari keimanan yang tinggi kepada takdir dan janji-janji Allah. Sebuah keyakinan yang saya perlu belajar banyak dari mereka berdua. Dan saya bukan apa-apanya dari mereka. Saya serupa Musa di hadapan Khidir.

    Wallaahua’lam Bishshowab.

**

Terjemah:

    Kalau Anda melihat blog saya sekarang, Anda pasti berpikir kalau saya sudah lama tidak menulis. Ya Sudah tidak apa-apa kalau terlihatnya demikian. Tapi kalau Anda tahu, saya sebenarnya menulis selalu. Menulis kontinyu seperti itu. Menulis apa saja. Tapi terkadang tidak terpublikasikan kepada siapa-siapa. Soalnya tergantung proyek menulisnya. Sekarang ada proyek menulis yang harus jadi hari Senin atau Selasa besok. Tapi sekarang proyek menulis itu belum selesai-selesai. Yang jadi pikiran, saya ingin menulis untuk saya dulu. Ingin menulis buat blog saya sendiri. Ingin menulis yang dari hati saya dulu.

Makanya saya sore ini buka laptor langsung menulis. Eh, teringat dengan Bahasa Indramayu begitu, makanya saya menulis pakai bahasa ibu ini, yang dari kecil saya pakai ketika berbicara dengan orang tua dan saudara-saudara. Tak tahu apakah Anda yang bukan orang Cirebon atau Indramayu mengerti tulisan ini? Yang keturunannya Nok Ratminah dan Kang Baridin pasti tahu. Tapi kelihatannya orang Brebes dan Tegal mengerti juga. Ya sudah, syukur kalau mengerti. Terus ingin menulis apa lagi sekarang? Tak tahu. Terjemahan di bawah yaa…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Jelang Nisyfu Sya’ban

17:41 23 Juni 2013

Gambar dari sini.

KATA ORANG IA DIMAKAN BUAYA


KATA ORANG IA DIMAKAN BUAYA

Waktu saya masih SMP apa yang selalu dinanti di setiap hari menjelang sore? Berenang di Sungai Cimanuk. Mulai jam 2 siang sampai mau maghrib. Makanya kulit saya jadi item begini. Kalau musim kemarau, sungai terbesar di Jawa Barat ini kering menyisakan hamparan dasarnya yang berpasir. Di sanalah saya dan teman-teman membuat bola-bola pasir yang dikeraskan lalu diadu sama lain dengan cara menjatuhkan bola pasir itu ke bola pasir lawan. Bola yang masih utuh dan tidak pecah itulah pemenangnya.

    Biasanya kami berenang berempat: saya, adik saya, teman saya dan kakaknya. Kami punya tempat khusus berenang di sana. Dekat batu cadas yang sering jadi tempat penyeberangan bagi warga desa sebelah—Desa Bangkaloa—menuju Jatibarang. Awalnya tidak banyak yang berenang di sana, karena kami memulainya di kemudian hari banyak juga yang pada ikutan berenang di tempat itu. Dan lama kelamaan tempat itu jadi semakin dalam. Waktu saya sekolah SMA di Palimanan, kabar terakhir tempat itu telah memakan korban satu orang tenggelam. Kata orang ia dimakan buaya.

    Ada yang khas di Sungai Cimanuk yang melintasi Jatibarang ini. Di bagian sisinya ada bangunan beton panjang yang menjorok ke sungai. Tingginya bisa sampai lima meter dari permukaan air Sungai Cimanuk di saat kering. Kami sering menyebutnya “baro” atau “paku alam”. Jarak baro yang satu dengan yang lain kurang lebih 50 Meter.

Fungsi baro ini untuk menahan derasnya air agar tidak menggerus tepian sungai. Nah, biasanya baro ini jadi papan loncat tempat kami terjun bebas ke sungai. Tidak semua baro bisa jadi tempat kami terjun karena kami harus melihat-lihat lokasinya. Yang jelas-jelas dalam dan tak seorang pun mandi di sana tentu bukan jadi pilihan. Ingat, Sungai Cimanuk yang mengalir mulai dari Garut, Sumedang, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu ini memang sering kali makan korban.

060913_1621_KATAORANGIA1.png

Beginilah saya dulu kalau loncat terjun ke sungai. Biasanya gaya batu. Sumber gambar: Sini

Selain berenang saya sering main layangan di sana, adu layangan juga. Pernah suatu saat saya terbangkan layangan tinggi-tinggi. Seng ada lawan. Makanya benang saya ulur terus. Tinggi dan semakin tinggi. Tidak terasa kalau benangnya sudah habis mentok ke kalengnya. Pas ngelamun benang lepas dari tangan, ya sudah akhirnya layang-layang itu terbang membawa kalengnya juga. Saya cuma melongo. Saya kejar tak bisa ketangkep itu benang. Yang paling bahagia adalah anak kampung sebelah yang membawa galah panjang. Dengan penuh suka cita dan kemenangan ia menangkap benang itu dengan gampangnya. Sepertinya ia ikhlas menerima rezeki nomplok itu. Saya meringis.

Kalau banjir Sungai Cimanuk ini mengerikan. Airnya deras. Tingginya sampai benar-benar mencapai permukaan tanggul paling tinggi. Ladang-ladang di pinggirannya sampai tenggelam. Baronya juga. Tak ada orang yang berani menyeberangnya. Bahkan dengan jukung (sampan) sekalipun. Tapi ini jarang terjadi.

060913_1630_KATAORANGIA3.png

Di pertigaan jalan–berwarna kuning di peta–itu rumah saya dulu. Nyebrang jalan langsung dah bisa main ke Sungai Cimanuk

Sampai sekarang saya masih merasakan bau sampah terbakar di pinggir sungai pemasok irigasi bagi kawasan Cirebon dan Indramayu ini. Bau ubi terbakar yang kami cabut dari pinggir-pinggirnya. Dan tentunya teringat dengan cemberutan ibu yang jengkel karena anak-anaknya baru pulang mefet-mefet mepet-mepet maghrib.

Saya tak tahu lagi kondisi Sungai Cimanuk tempat berenang saya dulu sekarang. Sudah lama tidak melihatnya lagi. Cuma lewat doang kalau mudik lebaran. Tapi Cimanuk sudah membuat banyak kenangan buat saya. Tak bisa terlupakan.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tanpa edit sebab ngantuk

23:18 9 Juni 2018.

BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH


BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH

Setiap kali sidang dicukupkan maka berkas sidang seharusnya segera dirapihkan, dibuat checklist-nya, dan dikirim ke subdirektorat tetangga, Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi (PKE). Tapi ini kebanyakan tidak segera dikerjakan oleh Petugas Banding karena tersita waktunya untuk menangani berkas persidangan yang sedang berjalan.

Lama kelamaan berkas itu menggunung dan terabaikan. Terus terang ini membuat saya tidak nyaman. Seperti ada yang selalu membebani. Ini tak bisa dibiarkan. Saya harus segera membereskannya karena mau tidak mau saya akan meninggalkan Subdirektorat Banding dan Gugatan II ini. Saya tak mau menyelesaikannya sampai lembur segala di akhir nanti.

Saya berusaha mengerjakannya sedikit demi sedikit walau untuk memulainya terasa berat. Saya ambil berkas yang isinya tipis atau ringan-ringan dulu. Yang tebal dan berat itu dikerjakan nanti. Beberapa modal “mindset” penting untuk menyelesaikan sesuatu yang membebani adalah:

  1. Man Jadda wa jadaa, orang yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasilnya;
  2. Semua bisa dikerjakan asal dengan ketekunan;
  3. Memulainya dengan yang mudah atau sederhana terlebih dahulu.

Alhamdulillah dengan modal itu berkas yang tadinya bersembunyi di kolong meja dan di atas lemari samping saya bisa terselesaikan semuanya. Kadang dengan kerja lembur. Dan hasilnya meuaskan, lebih dari 250 berkas sidang berhasil saya rapihkan dan kirim. Yang paling membahagiakan adalah teman-teman pun yang tadinya cuek beybeh jadi tergerak ikut membereskan berkasnya masing-masing.

Mulai 3 Juni 2013 lalu, saya tidak lagi ikut persidangan di Pengadilan Pajak. Saya telah dipindahkan ke Subdirektorat PKE karena adanya mutasi internal di Direktorat Keberatan dan Banding. Saya jadi Penelaah Keberatan yang mengurusi pembuatan Memori Peninjauan Kembali dan Kontra Memori Peninjauan Kembali.

Sederhananya begini. Kalau ada putusan Pengadilan Pajak yang mengalahkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan setelah dievaluasi layak untuk dilakukan Peninjauan Kembali maka saya membuatkan Memori Peninjauan Kembali untuk disampaikan ke Mahkamah Agung. Dan kalau ada Wajib Pajak dikalahkan di Pengadilan Pajak lalu tidak terima dengan putusan tersebut kemudian mengajukan Peninjauan Kembali dengan membuat Memori Peninjauan Kembali maka saya membuat Kontra Memori Pengajuan Kembali-nya.

Dan kepindahan saya ini syukurnya tidak dibarengi dengan beban penyelesaian pekerjaan lama seperti pemberkasan di atas. Semua sudah saya selesaikan. Laporan sidang juga semuanya telah dibuat. Tinggal beberapa berkas sidang saja yang belum dibuatkan laporan sidang cukupnya. Insya Allah sambil jalan dan sekarang saya bisa langsung move on di tempat baru tersebut.

Pekerjaan di Subdirektorat PKE ini semuanya adalah hal baru bagi saya. Jatuh temponya juga harian. Saya yakin dengan izin Allah saya bisa menyelesaikan semuanya. Learning by doing-lah jarene wong Inggris. Tiga hari ini pun saya sudah belajar banyak. Jadi pembelajar cepat. Walau memang butuh waktu untuk mengikuti ritme teman-teman di sana.

Salah seorang teman bilang kepada saya, “Di sini nanti Mas Riza tak bisa menulis di Kompasiana lagi saking sibuknya.” Insya Allah kalau menulis mah tetap jalan yah. Kapan pun dan di mana pun. Dan selama di subdirektorat yang lama juga saya selalu menulis di rumah. So, tinggal memenej waktunya saja. Tapi bisa jadi pernyataan itu tantangan buat saya untuk tetap produktif menulis.

Akhirul kalam, siapa bersungguh-sungguh ia dapat tetap jadi pegangan saya dalam bekerja. Saya juga ingat yang ini: ” ada sebuah dosa yang tidak bisa terhapus dengan pahala shalat, sedekah, atau haji, kecuali dengan bersusah payah dalam mencari nafkah.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:32 05 Juni 2013

ngantuk…

gambar diambil dari sini

Dodolan Dawet Sik Yoo


image

image

Karena dawetnya belum mateng ya mikul pikulannya dulu sama Kinan keliling kampung.