Bertahan di Ambang Zaman


Ada sebuah dongeng lama tentang anak-anak muda yang berangkat ke kota dengan dada berdegup kencang dan sebuah peta di genggaman. Peta itu diwariskan oleh orang tua mereka, lengkap dengan garis tebal menuju puncak bukit. Kamu lulus sekolah, bekerja keras tanpa mengeluh, membeli rumah, menikah, lalu bertengger anggun di kursi kepemimpinan puncak.

Saat ini, mereka telah menjadi orang tua dan mewariskan apa yang mereka dapatkan kepada generasi setelahnya. Anak-anak generasi ketiga berangkat ke kota dan berharap menemukan hal yang sama seperti orang tua mereka dapatkan.

Continue reading Bertahan di Ambang Zaman

Respons Cepat dalam 1 Nanodetik



Sore itu, saya membuka koran digital langganan di laptop.  Saya tertarik pada sebuah berita yang berjudul “Bos Nvidia: Chip Buatan China Tinggal Hitungan Nanodetik Saja di Belakang AS”. Nvidia merupakan perusahaan teknologi Amerika Serikat yang terkenal sebagai produsen Graphics Processing Unit (GPU) terbesar dan paling maju di dunia. Bos Nvidia yang dimaksud dalam berita itu adalah pendiri sekaligus CEO Nvidia Jensen Huang.

Di dalam persaingan pembuatan cip, China dianggap tertinggal. Pada saat perang dagang antara Amerika Serikat dan China, China kelimpungan karena ada penerapan boikot Amerika Serikat pada pasokan cip ke China. Sebenarnya China dari beberapa tahun lampau sudah membaca ketergantungan ini. Supaya mandiri, mereka berjuang keras untuk bisa memproduksi mesin litografi—mesin pembuat cip. Di sini dunia masih menganggap China masih tertinggal jauh.

Continue reading Respons Cepat dalam 1 Nanodetik