Belajar ke Seoul


Seorang CEO hotel prestisius di New York pergi ke Seoul, Korea Selatan, dua kali dalam setahun. Ia menginap di hotel yang sama dalam dua kesempatan itu. CEO terkesan dengan sikap pegawai hotel itu yang mengucapkan, “Selamat datang, Pak! Senang bertemu Anda kembali.”

Sepulangnya dari Korea Selatan, ia segera berkonsultasi dengan para ahli. Mereka merekomendasikan kepada CEO untuk memasang kamera-kamera dengan peranti lunak pengenal wajah (face recognition). Kamera itu akan memotret wajah tamu dan memberi tahu resepsionis apabila tamu yang datang itu pernah menginap di sana sebelumnya.

Sayangnya sistem itu memakan biaya jutaan dolar Amerika Serikat. Tak sanggup membayangkan jumlah uang yang dikeluarkannya, CEO pergi kembali ke Seoul dan dengan malu-malu menanyakan secara langsung kepada resepsionis hotel untuk mendapatkan jawaban cara kerja sistem pengenal tamu.

Jawabannya sederhana saja. Pihak hotel membayar supir taksi untuk mengorek informasi dari tamu yang akan menginap di hotel itu. Jadi, di sepanjang perjalanan menuju hotel, supir taksi akan berbincang-bincang dengan tamu dan mengajukan pertanyaan penting apakah mereka pernah menginap di hotel itu sebelumnya.

Kalau tamu belum pernah sama sekali menginap, maka supir taksi akan memberi kode kepada resepsionis dengan cara menaruh bagasi tamu di samping kiri meja resepsionis. Kalau sudah pernah, maka supir taksi menaruh bagasi di sebelah kanan meja. Sederhana dan murah.

Drew Boyd dan Jacob Goldenberg menulis cerita menarik itu dalam buku berjudul Inside the Box. Buku ini menyajikan fakta keunggulan berpikir di dalam kotak untuk berinovasi, bukan di luar kotak, apalagi dengan brainstorming.

Buku lain menceritakan tentang keunggulan berpikir simpel dalam versi berbeda. NASA mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan pulpen yang bisa digunakan di pesawat atau stasiun luar angkasa. Pulpen itu harus bisa berfungsi pada gravitasi lemah. Pulpen yang tidak terpengaruh dengan gaya gravitasi.

Lalu dalam cerita tersebut mengemuka pertanyaan tentang mengapa harus berpikir rumit begitu? Mengapa tidak memakai pensil saja? Sesederhana itu. Namun, ternyata penggunaan pensil di luar angkasa memiliki risiko besar.

Argumentasi penolakan penggunaan pensil sudah bertebaran di internet. Salah satunya ada dalam film 3 Idiots yang dirilis 10 tahun lalu pada 2009. Ketika sang direktur sekolah tinggi bernama Viru Sahastrebuddhe mengatakan kepada mahasiswanya bernama Rancho, jika ujung pensil yang digunakan di luar angkasa itu pecah, maka pecahan itu akan mengapung dalam gravitasi nol, masuk ke mata, hidung, dan menyebar ke mana-mana. Yang paling parah jika pecahan itu merusak instrumen vital pesawat luar angkasa. Artinya, pensil bukan solusi sederhana dan kesederhanaan tidak selalu memberikan jawaban.

Maka, benarlah apa yang disampaikan Albert Einstein: “Buat semuanya sesederhana mungkin, tetapi jangan terlalu sederhana.”

***
Riza Almanfaluthi
Artikel ini ditulis untuk dan pertama kali dimuat di Majalah Media Keuangan Vol.XIV/NO.147/Desember 2019
Edisi lengkap Media Keuangan nomor tersebut bisa diunduh di sini.

 

 

2 thoughts on “Belajar ke Seoul

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.