Menyebut Sebuah Nama


Ilustrasi: Dokter

Wajahnya oval. Bibirnya bersepuh lipstik warna pink. Matanya disembunyikan di belakang kacamata tipis. Tak irit dengan mesam-mesem. Kepalanya dibalut dengan jilbab hijau yang sepadan dengan rok panjang. Jas putih yang dipakai mempertegas keberadaan profesi yang disandang. “Bapak orang pajak yah?” tanyanya kepada saya. Pertanyaan yang sungguh menyentak.

Alamakjang, sekejap langsung tersadar. Saya memang belum sempat berganti baju saat berkonsultasi tentang hasil lab anak saya dengannya. Kaos Amnesti Pajak yang saya kenakan dengan tiga huruf besar “DJP” tercetak di lengan kaos sebelah kiri masih saya pakai malam ini sejak dari tugas piket di hari libur Nyepi, pagi tadi.

Dari bermula kaos inilah kemudian suasana formal meleleh seperti Gletser Carstensz. Perempuan dokter itu kemudian bercerita kalau dia banyak bergaul dengan orang pajak dan juga lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Bahkan kakaknya—sambil menyebut nama—pun petugas pajak yang berdinas di Indramayu. “Loh, itu kan tempat lahir saya, Dok,” kata saya sambil menyuguhkan mimik tertarik. Ini irisan pertama.

Ia meneruskan ceritanya. Kata dia, mantan calon suaminya juga orang pajak. Kembali ia menyebut sebuah nama. Sebuah asma yang saya kenal, bahkan menjadi teman Facebook saya. “Perlu saya colek, Dok?” tanya saya menggoda. “Jangan,” jawabnya sambil tertawa renyah. Ini irisan kedua.

Nah, ternyata dokter ini pun lulusan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Paingan dia tidak terkejut dan langsung tahu saat saya menyebut nama Tapaktuan. Walau bukan suku Aceh namun dia besar di Aceh. Ini irisan ketiga.

Malam ini, bermula dari kaos amnesti pajak, kemudian muncul irisan-irisan yang memproklamasikan satu hal saja: kalau semesta ini sungguh-sungguh sempit, kecil, serompok, dan sesak.

Tapi tentu, janganlah hati kita yang menjadi sempit. Meluaskannya bisa dengan senyum. Bukan cemberut. Maka engkau, sekarang, tersenyumlah. Karena senyummu, bagi dunia, bagi sesama, sungguh tak tepermanai.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tjitajam, 28 Maret 2017

Foto ilustrasi: gulf-times.com

Paingan=pantas saja dalam bahasa Sunda

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s