FREELETICS WOCHE 8: Masih Sebagai Manusia Bebas



http://www.insideoutretreats.com

Bagaimana rasanya kalau kita terbangun di sebuah kamar hotel dan menyadari bahwa sebenarnya kamar itu adalah sebuah penjara? Ya, benar-benar penjara. Hanya diatur sedemikian rupa persis menyerupai kamar hotel. Ada kasur empuknya, televisi, kamar mandi, toilet, dan menu ransum setiap hari yang sama, chinese food.

Joe Doucett tidak tahu siapa yang menculik dan memenjarakan dirinya sedemikian rupa. Dan tak tahu pula apa salahnya. Memulai hidup sebagai orang yang terenggut kebebasannya ia stres. Tapi lama kelamaan kesadarannya tumbuh untuk tetap hidup, meloloskan diri, meraih kebebasan, dan mencari tahu siapa penyekapnya.

Ia mengambil keputusan untuk mengubah dirinya. Vodka yang menjadi teman ransumnya itu dibuang. Ia mulai hidup sehat, berolahraga, dan membentuk tubuhnya dengan situp dan pullup. Ada transformasi pada dirinya. Perutnya yang gendut berubah menjadi rata dan tangannya mulai berotot. Joe mulai belajar beladiri dari tayangan televisi yang menayangkan acara itu secara rutin.

Dan tak kalah pentingnya, Joe bertahun-tahun mengikis tembok kamar mandi sebagai jalan meloloskan diri. Dua puluh tahun ia disekap, dan pada hari pelariannya itu, tiba-tiba muncul asap yang biasa menidurkannya, ketika terbangun ia sudah berada di tengah lapangan rumput. Ia bebas. Cerita selanjutnya Anda bisa lihat di film Hollywood hasil remake dari film Korea dengan judul yang sama: Oldboy.

Kebetulan saya menonton film itu di sebuah kamar hotel di Medan. Pas habis dinas di kota terbesar ketiga di Indonesia itu. Awalnya tidak mau nonton karena saya “takut” kejadian Joe Doucett itu benar-benar menimpa saya. Ada perasaan tidak nyaman saja saat melihatnya. Ngeri-ngeri begitu. Lebih tepatnya ada perasaan dicabut kebebasannya dan dikurung dalam sebuah penjara bawah tanah. Perasaan ngeri itu benar-benar ada pada saya. Tapi akhirnya tetap lanjut karena penasaran apa akhir cerita film itu.

Waktu itu minggu kedelapan Freeletics. Sudah berjalan empat latihan dari lima latihan yang ada dalam pekan itu. Sorenya, sebelum saya menonton film itu di malam hari, saya memang latihan di kamar hotel. Apa menunya? Hades. Loh, larinya bagaimana? Ya cukup bolak -balik di kamar hotel saja. Lalu pullup-nya? Hehehe, gantungan besi buat pakaian di lemari hotel itu ternyata kuat menahan beban berat badan saya. Insya Allah tidak rusak.

Ya, menu minggu kedelapan ini adalah sebagai berikut:


Tantangannya adalah membuat Hades dengan bintang. Artinya bagaimana gerakan di dalam Hades itu pakai gerakan utama semua dan tidak menggunakan gerakan alternatif. Berarti bisa tidak buat saya pullup-nya tidak dengan negative pullup?

Dan ini hasil seminggu itu.


Latihan minggu kedelapan ini kebanyakan latihan “strength”. Makanya saya tambahkan menu lari. Syukurnya bisa bikin pace terbaik. Larinya pun lari tanpa henti bersama anak sulung saya yang berumur 14 tahun. Pace-nya bisa 7,19 menit/km mungkin karena larinya bersama anak muda yang masih punya tenaga besar itu.

Di minggu ini saya bisa mencetak Personel Best (PB) buat Situps Max, lari, 50 Squats, 50 Situps, dan Hades. PB Hades itu yang saya lakukan di kamar hotel, bahkan bisa dengan STAR. Pullup saya sudah bisa standar. Tidak lagi pakai negative pullup. Ternyata memang yang membuat waktu saya lama adalah pullup saya ini. Kalau sudah pakai gerakan standar bahkan bisa memangkas waktu lebih banyak.

Sehingga di minggu kedelapan ini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa tahapan latihan Freeletics ini kalau diikuti dengan benar bisa membuat orang mencapai kekuatannya secara perlahan namun pasti. Menunya dari minggu pertama sampai minggu terakhir memang sudah diatur sedemikian rupa secara bertahap untuk mencapai kesuksesan di akhir.

Di minggu pertama, mana mungkin saya bisa pullup. Ya memang harusnya begitu. Jadi jangan berputus asa buat kita yang tidak bisa pullup. Lakukan saja workout yang ada pullup-nya itu sebisanya. Atau pakai negative pullup dulu. Nanti lama kelamaan bisa juga pullup standarnya.

Kalau kita memilihnya Cardio & Strength, ya minggu-minggu pertama dikikis dulu berat badannya walaupun minggu kedua sudah mulai diperkenalkan pullup di Artemis. Di minggu pertengahan latihan strength-nya mulai dominan.

Nah, begitulah ceritanya minggu ini. Pada akhirnya sampai pagi hari saya bangun untuk check out, tidak
ada gas yang keluar dari langit-langit untuk menidurkan saya dan pintu kamar hotel masih bisa terbuka. Saya tetap Riza dan bukan Joe Doucett. Masih sebagai manusia bebas yang tidak terpenjara selama 20 tahun.

Walau kita menjadi manusia bebas, seringkali pikiran kita terpenjara pada kesulitan-kesulitan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Padahal itu sama sekali belum terjadi. Dan pada kenyataannya kesulitan itu memang tidak akan pernah terjadi. Di situlah kadang saya merasa sedih. Halah


Transformasi itu butuh perjuangan.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

28 Februari 2015


Advertisements

One thought on “FREELETICS WOCHE 8: Masih Sebagai Manusia Bebas

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s