PERGILAH KAU KARTU KREDIT


Saya ini orangnya enggak enakan sama orang lain. Makanya ketika salesman kartu kredit menghampiri saya, memelas, dan mendesak saya untuk membuat kartu kredit BNI, dengan terpaksa saya mengiyakan serta mengisi aplikasi pendaftaran.
Padahal dari dulu saya sangat berhati-hati sekali dengan kartu kredit. Karena sudah banyak saya dengar dan saya baca bagaimana akhir dari orang-orang yang tidak bijak memakai kartu kredit. Mulai dari diteror dan diintimidasi oleh para juru tagih, bunga yang mencekik tinggi, atau tagihan asal-asalan karena kelalaian administrasi dari penerbit kartu itu. Alasan satu lagi sebenarnya adalah saya sedang belajar untuk menghindari transaksi-transaksi ribawi.
Lalu pada kasus ini kenapa saya menerima dan mengisi aplikasi tersebut? Waktu itu saya berpikir karena tahun pertama tidak ada iuran gratisnya, juga beralasan bisa membeli barang-barang 0% bunga dengan cara mencicil, fasilitas gratis di eksekutif lounge dan banyak tempat lainnya. Itu saja sih.
Kejadiannya sudah setahun lalu di bulan November tahun 2006. Akhirnya saya dapat kartu kredit BNI VISA GOLD yang limit pengambilan tunainya bisa lebih dari 10 juta. Sesuatu yang diirikan oleh teman saya karena kenapa dirinya tidak mendapatkan limit yang tinggi seperti yang saya dapatkan. Dan apa yang terjadi teman-teman setelah saya mendapatkan kartu emas itu?
Saya kok merasa seperti memegang bara api. Takut-takut saya tergoda dan terjerumus dalam ketidakterkendalian pengelolaan keuangan saya. Walhasil saya cuma menaruhnya di laci lemari saya di rumah. Saya tidak pernah memakainya sama sekali. Dulu pernah mau saya pakai saat saya mau ke Surabaya. Di bandara saya mau memanfaatkan fasilitas executive lounge gratisnya. Tapi dilarang masuk karena fasilitas itu hanya boleh untuk satu orang saja, sedangkan saya membawa teman. Akhirnya tidak jadi deh saya masuk. Saya tentu tidak bisa meninggalkan teman seperjalanan saya ini sendirian.
Saya juga tidak pernah mengambil tunai karena biaya administrasinya lebih besar daripada saya mengambil tunai di ATM. Saya juga tidak pernah memesan barang dengan fasilitas 0% bunga itu karena khawatir ribet masalah pembayarannya, soalnya saya sudah tidak punya lagi rekening BNI-nya. Jadi benar-benar saya merasakan tidak ada manfaatnya bagi saya kartu kredit itu.
Lalu saya bertekad sebelum saya kena charge karena sudah memasuki tahun kedua, maka sebelum tahun pertama berakhir saya harus mengakhiri kepemilikan kartu kredit saya. Dan pada hari ini, Kamis tanggal 08 Nopember 2007 saya menutupnya dengan sebelumnya saya hubungi dulu BNI Call 24 Hour.
Saat ditanya pihak mereka kenapa saya mau menutup kartu kredit ini saya jawab karena tidak ada manfaatnya bagi saya dan kudu bayar iuran tahunan. Walaupun ditawarkan fasilitas pembayaran 50% iuran tahunan saya tidak mau. Pokoknya saya mau tutup. Saya tidak mau memegang kartu ini. Pergilah kau kartu kredit!.
Alhamdulillah, teman-teman kini saya sudah tidak memiliki kartu kredit lagi. Saya sudah lega. Plong banget rasanya. Tapi teman kalau ada yang menawarkan kepada saya kartu kredit berbasis syariah, kayaknya saya mau tuh. Kayaknya itu lebih nyaman dan lebih berkah bagi saya. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01.40 07 Nopember 2007

Mencari Kawan Lama


Pagi ini setelah tiba di kantor saya langsung membuka Ciblog, lalu login dan saya mengklik tombol Add New Entry. Bukannya langsung menuliskan apa yang ingin ditulis, saya cuma memandang layar komputer dengan lama. Bingung apa yang mau ditulis.

Karena lama tidak mendapatkan ide maka saya melakukan kegiatan lain yaitu membuka-buka email di inbox pajak. Membaca beberapa email dan pada saat saya membaca salah satu email itu mata saya tertumpu pada sebuah nama penerima email dari sekian banyak penerima email forward-an itu: Sulis. Saya tidak mengenalnya, tapi saya jadi teringat seorang teman saya yang juga ada nama-nama sulisnya. Tapi saya lupa nama lengkapnya.

Untuk itu saya membuka homepage browser saya: situs kepegawaian. Lalu mengetik nama sulis di kolom pencarian data kepegawaian. Byarrr…dari result-nya bisa banyak juga nama yang mengandung kata sulis didalamnya. Dan saya melihatnya satu persatu fotonya yang sudah lama tidak saya lihat. Yup, akhirnya ketemu juga. Foto itu dari zaman dulu belum diganti pula, masih dengan jilbab birunya.

Akhirnya saya ingin menghubunginya, dengan niat menjalin silaturahim yang sudah lama terputus. Dulu saya punya nomor telepon genggamnya, tapi hilang saat telepon genggam saya lenyap entah kemana. Setelah itu hubungan kami terputus begitu saja. Entah sudah berapa tahun yah…Kalau tidak salah dua tahun lebih kali.

Untuk memulai usaha saya menghubunginya itu, saya telepon kantor pelayanan pajak (KPP) tempat di mana ia bekerja sebagaimana tercantum dalam data kepegawaian tersebut. Tapi sebelumnya karena saya tidak punya nomor telepon KPP itu maka saya coba mencari alamat dan nomor teleponnya di portaldjp. Dan saya menemukannya. Lalu saya langsung menghubungi nomor telepon itu. Nomor pertama tidak ada yang mengangkat. Saya beralih ke nomor telepon yang kedua. Alhamdulillah ada yang mengangkat.

“Selamat Pagi Bu,” sapa saya.
“Pagi,” jawab suara perempuan di seberang sana.
“Bu saya mau tanya, apa Ibu Sri Sulityaningsih, korlak PPN, ada di sini?”
“Sri Sulistyaningsih…Sri Sulistyaningsih…. Kayaknya enggak ada deh. Sudah pindah kali.”
“Oh ya Bu, sebenarnya KPP Jakarta Cilandak ini sudah jadi KPP moderen belum sih Bu?”tanya saya lagi.
“Oh sudah…sudah…”jawabnya.

Saya mengakhiri pembicaraan dengannya setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih banyak atas informasi yang diberikannya kepada saya. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa data di kepegawaian belum ter-update. Iya soalnya mana ada korlak PPN Perdagangan di KPP moderen.

Ya, sampai saat ini saya belum mengetahui keberadaan kawan lama saya ini. Jadi dimohon kepada para blogger yang mengetahui keberadaannya, dimohon untuk memberitahu saya melalui email di riza.almanfaluthi@pajak.go.id atau pesawat telepon saya di 0817 79 5050. Loh…loh…loh…kok kayak iklan mencari orang hilang di televisi, radio, dan koran saja sih. Namanya juga usaha.

Ngomong-ngomong tentang dia, saya mengenalnya dulu sekali di tahun 2003 saat heboh-hebohnya chating mirc ditrikpa di channel #pajak dan #halaqoh. Bersama dengan yang punya nickname Dandelion, Atik, Ananda, Wongkito dan nama-nama lainnya yang sudah tidak dapat saya ingat lagi. Mbak Sulis ini dulu punya nickname eyes.

Walaupun kami saat itu intens sekali mengelola #halaqoh, kami tidak pernah bertemu muka dan mengenal wajahnya sama sekali, terkecuali dandelion yang memang satu komplek perkantoran dengan saya. Atik, yang saat itu masih jejaka–dan ternyata kenal dengan sahabat karib saya waktu di SMP, karena temannya saya itu adalah teman SD-nya yang pindah ke daerah saya–pun sama, belum pernah bertatap muka dengan saya. Apalagi Mbak Sulis ini yang kantornya juga jauh dari kantor saya walaupun sama-sama di Jakarta, saya belum pernah ketemu dengannya. Saya cuma tahu wajahnya dari foto kepegawaian itu. An sich.

Mbak Sulis kesukaannya–kalau tidak salah–baca novel. Dan pada saat itu yang lagi marak novelnya Dewi Lestari–personel RSD yang berkarier solo di dunia kepenulisan–yang berjudul, kalau tidak salah, supernova.. Gara-gara dia suka baca novel dan menghebohkan bagusnya novel itu di #halaqoh, membuat saya ikut-ikutan tertarik untuk membelinya.

Mbak Sulis ini juga sering memosting hal-hal yang berbau tasawuf, sampai-sampai pada saat itu saya hapal betul kalimat-kalimat andalannya. Pula–kalau tidak salah–Mbak Sulis ini suka puisi. Punya kesukaan yang sama dengan saya. Makanya sering kali kami berbalas puisi di forum itu.

Ya itulah sedikit tentang Mbak Sulis ini. Tapi terus terang saja, saya terbata-bata mengingat semuanya itu. Ingatan di atas pun saya dapatkan dengan mengais-ngais memori lama itu. Maaf Mbak, bukannya saya mau melupakan Anda dan memutuskan silaturahim itu. Tapi semata-mata karena memori saya ini memang pendek sekali. Tidak hanya Mbak, tapi banyak kawan saya di #halaqoh. Insya Allah saya berusaha menyambung silaturahim ini. Tidak ada kata terlambat di dalamnya.

Mungkin saya cukupkan di sini saja semuanya.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:03 WIB 02 Nopember 2007

MENGELUHKU TENTANG HUJAN


Pagi itu cuaca mendung, langit hitam tidak membiarkan mentari pagi memberikan secercah sinarnya pada bumi. Saya sudah berpikir bahwa biasanya kalau Citayam sudah gelap, berarti di Jakarta juga sama akan turun hujan. Dan saya melihat ke langit utara, betul sama gelapnya. Saya sudah menyiapkan mantel yang kugantungkan di buntut motorku. Saya tidak ingin kehujanan masuk ke kantor seperti dulu saat saya meremehkan alam dengan mengatakan, “ah, paling hujannya sebentar.”
Saya sudah terlambat lima menit dari kebiasaan berangkatku setiap paginya. Apalagi tangki motorku kosong, maka saya harus mampir dulu ke kios penjual bensin untuk mengisi bensin barang satu atau dua liter. Sudah barang tentu ini akan memperlambat perjalanan lagi. Ditambah kalau benar-benar hujan dengan ban sudah hampir gundul dan jalanan Jakarta yang tidak bisa diprediksikan kemacetannya saya tidak akan bisa melajukan kendaraan dengan cepat. Hati saya sudah deg-degan. Khawatir terlambat.
Dan betul tidak lama kemudian, hujan turun walaupun baru rintik-rintiknya. Saya harus menepi untuk memakai mantel hujan. Ini pun memakan waktu. Setelah selesai memakainya, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya baru teringat bahwa walaupun saya memakai mantel tapi mantel ini belumlah mampu untuk menahan air hujan yang amat deras masuk membasahi pakaian saya. Kalau gerimis-gerimis saja sih Insya Allah mantel itu mampu melindungi saya dari kebasahan.
Dengan situasi seperti itu saya memasrahkan diri pada Allah dan cuma bisa berdoa pada-Nya, “Ya Allah, kalaulah engkau menghendaki bahwa pagi ini hujan, turunkanlah hujan. Namun sampaikanlah aku ke tempat tujuan tepat waktu, tidak terlambat, dan janganlah membuat pakaianku basah kuyup.” Saya tidak meminta-Nya untuk tidak menurunkan hujan, karena saya pikir hujan adalah rahmat Allah yang sangat dibutuhkan buat masyarakat yang air sumurnya tidak bisa dipompa karena sudah kering kerontang.
Sambil tetap fokus, berhati-hati mengendarai motor saya ini, dan memikirkan hal lain, tidak terasa perjalanan saya sudah sampai di Tanjung Barat. Saya baru sadar kalau saya sendiri yang memakai mantel hujan. Saya baru sadar juga kalau cuaca tidak semendung di Citayam. Tercetuslah dari mulut saya, ”Ya Allah kok tidak jadi turun hujan, kenapa enggak sekalian saja menurunkan hujannya. Saya kan sudah berhenti dan capek-capek pakai mantel hujan.” Saudara-saudara, saya ngedumel, mengeluh, dan kecewa pada-Nya hanya gara-gara saya sudah terlanjur memakai mantel hujan dan ternyata tidak jadi hujan.
Tidak lama kemudian saya tersadar dari kekhilafan saya. Saya ini harusnya sadar bahwa doa saya ternyata telah benar-benar dikabulkan Allah. Ya betul, doa saya benar-benar dikabulkan-Nya karena saya masih punya waktu yang cukup untuk sampai ke kantor dan yang paling penting lagi baju saya tidak kehujanan.
Saya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan saya ini, “dasar manusia, lupa kalau doanya dikabulkan, lupa kalau sudah diberi nikmat banyak, lupa pada yang memberi, bisanya cuma mengeluh doang. Oh my God, sungguh terlalu Anda.”
Sejenak saya merenung. Saya mengakui kelalaian saya, dan saya cuma bisa berharap Allah mengampuni saya dan memasukkan saya ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.
Seorang penyair Arab berkata:
betapa seringnya kita meminta kepada Allah
bila kita dirundung penderitaan
tapi kita segera melupakan-Nya, begitu derita itu hilang
bila berada di lautan, kita memohon agar Dia menyelamatkan kapal kita
bila kita kembali mendarat dengan selamat, ktia mengingkari-Nya
kita terbang di langit dengan aman dan nyaman
dan kita tidak jatuh karena pelindung kita adalah Allah.

Seorang teman menasehati saya ketika saya berjumpa dengannya saat menanti kumandang iqamat sholat Ashar dan menceritakan padanya tentang kebahagiaan saya di bulan ramadhan, dengan sebuah nasehat: “banyak-banyaklah bersyukur.”
Nasehat biasa dan pendek-pendek saja tapi subhanallah menghunjam sekali di hati saya hingga Ashar itu seperti Ashar di ramadhan lalu. Indah nian…
Teman, dan Anda para pembaca sekalian, ajaklah saya menjadi bagian dari Anda, bagian dari orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat-Nya. Ajaklah saya selalu.
***

Syair di atas bisa dibaca pula di: Don’t be Sad: Cara Hidup Positif Tanpa Pernah Sedih & Frustasi, Dr. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA, hal. 473, Edisi Revisi, Maghfirah Pustaka

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
lantai tiga kalibata
09:49 pagi 26 Oktober 2007

KUHADIAHI DIA DENGAN CIUMAN GANASKU


Di saat pulang kerja, atau pulang dari mana saja, atau di saat apapun, dan di saat kerinduan saya merayap ke sekujur tubuh pada anak-anak saya, maka seringkali saya meminta pada anak-anak saya untuk berkumpul setelah mereka mencium tangan saya.
“Haqi, Ayyasy ke sini! Abi bawa hadiah nih,” teriakku kepada mereka berdua. Mereka kalau sudah mendengar kata ‘hadiah’ girangnya bukan main.
“Hadiah apaan Bi?” tanya si bungsu, Ayyasy, yang biasanya paling antusias. Iya, dia yang paling duluan merebut kantong plastik hitam yang biasa tergantung di stang motorku kalau saya pulang dari kantor. Kayaknya dia seneng banget kalau ada saja yang dibawaku.
Kali ini tidak ada kantong plastik hitam itu. “Hadiahnya adalah cium abi dong,” jawabku. Serempak mereka berdua berkata, “yahhhh….” Walaupun demikian mereka tetap menciumku. Caranya adalah saya menyodorkan pipi kanan saya kepada mereka lalu mereka mencium pipi saya itu. Lalu menyodorkan pipi kiri saya dan mereka melakukan hal yang sama. Terakhir saya akan mencium bibir mereka masing-masing. Tapi, sejak Haqi sudah kelas dua, Ia sudah tidak mau lagi dicium bibirnya oleh saya. Geli kali…Untuk Ayyasy kuhadiahi dia dengan bonus ciuman ganasku pada pipinya, karena pipinya yang tembem itu loh, menggemaskan.
Di saat saya memberikan hadiah yang sebenarnya kepada mereka atau membawa oleh-oleh untuk mereka, maka seringkali saya meminta kepada mereka untuk menciumku. Setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…
Dan tidak lupa pula saya selalu menanyakan sesuatu kepada mereka setelah kami saling berciuman, “Haqi, Ayyasy, sayang Abi enggak? Mereka akan menjawab serempak: “sayang.” Terkadang si Haqi menyeletuk dengan jawaban ini: “Enggak sayang.”
“Bener nih? Kalau enggak sayang Abi tak akan kasih uang jajan loh,” tanyaku. Dan biasanya Haqi akan menjawab: “Eh iya…iya Haqi sayang Abi.” Saya cuma tersenyum mendengar jawabannya itu.
Lagi-lagi setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…
Saya merasakan setidaknya ini menjadi pelipur dari ketidakdekatan kami secara kuantitas karena saya harus berangkat kerja sebelum mereka bangun tidur dan pulang ke rumah saat maghrib telah menjelang.
Ciuman untuk mereka menurut saya adalah hadiah immaterial terbaik dari saya untuk mereka. Sebenarnya tidak hanya ciuman bisa kita berikan kepada mereka sebagai hadiah immaterial-nya, bisa pula berupa pujian, dekapan, membacakan buku cerita, main game bersama, mendongeng, menjawab segala pertanyaannya, atau ke masjid bersama-sama.
Ciuman untuk mereka bagi saya adalah upaya kecil saya menjalin kedekatan jiwa dengan anak melalui sentuhan kasih-sayang. Rasulullah Saw. biasa mencium putri dan cucunya. Bahkan terkadang Rasulullah Saw. turun sejenak dari mimbar untuk mencium cucunya Al-Hasan dan Al-Husain yang datang berlari kepadanya. Rasulullah Saw. juga pernah menggendong Umamah—cucunya dari Zainab binti Rasulullah Saw.—sedangkan beliau melakukan shalat.
Ciuman untuk mereka menurut saya, mengutip dari Muhammad Fauzil Adhim, adalah upaya kecil saya untuk bisa belajar—sekali lagi saya dalam proses belajar—menerapkan positive parenting. Apaan tuh? Intinya sih bagaimana menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita. Memangnya kita selama ini tidak baik kepada mereka? Memangnya ada orang tua yang jahat pada anaknya? Wuiihhh…di dunia yang sudah seperti daun kelor ini karena saking tidak ada batasnya, sudah sering kita mendengar kekejaman dan kebuasan yang dilakukan orang tua pada anak-anaknya. Tak perlu saya ceritakan di sini, cukup Anda, para pembaca, membaca dan mendengar dari media massa dan elektronik di setiap harinya.
Ciuman untuk mereka bisa juga menjadi sebuah kiat mengatasi kerewelan anak sebagaimana telah saya baca sebuah ceritanya dari Ibu Yana di Karet Kuningan, Setiabudi Jakarta Selatan berikut ini:
Saya kadang dibikin repot sama anak kedua saya, Himmah. Ia agak lain dari kakak dan adiknya. Mungkin karena ia anak tengah. Kata orang, anak tengah selalu ingin tampil beda. Bedanya, Himmah lebih bawel bin rewel dari kakak dan adiknya. Karena kerewelannya, sejak bayi hingga sekarang berusia empat tahun, Himmah tidak pernah jatuh dari tempat tidur. Tiap kali bangun tidur, ia selalu memberikan pengumuman. Bunyinya sederhana, tapi kencangnya luar biasa. “Huwaaaaaaaa!!!!”
Di usia empat tahun ini, saya seperti sudah terbiasa dengan Himmah. Ada kiat khusus buatnya, terutama kalau lagi rewel. Kalau rewelnya hampir mencapai maksimal, saya langsung memeluknya. Saya cium pipinya yang kiri, kemudian yang kanan. Setelah itu, saya cium juga dahinya. Setelah selesai, saya bilang sama Himmah, “Mah, Umi sudah cium kamu. Sekarang, kamu cium Umi, ya!” Nah, kalau Himmah mau membalas ciuman saya maka ia bisa menghentikan rewelnya untuk beberapa saat. Mana mungkin bisa nyium sambil rewel. Saya yakin, kerewelannya berbanding lurus dengan posisinya di tengah. Dan, cara itu memang efektif. Ngiri, kali!
Ciuman untuk mereka bagi saya adalah upaya kecil saya agar Allah senantiasa mengekalkan rasa kasih sayang dari hati saya, sebagaimana dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari: Suatu saat Rasulullah saw mencium cucunya. Seorang pembesar bernama Aqra’ bin Habis At-Tamimi melihatnya, lalu berkomentar, ”Aku punya sepuluh orang anak, tetapi tidak satu pun dari mereka yang pernah kucium.” Rasulullah saw lalu menjawabnya dengan ungkapan yang fasih, ”Apa dayaku bila Allah telah mencabut kasih-sayang dari hatimu!”
Yah, sekali lagi ciuman adalah penuntasan kerinduan saya kepada mereka. Walaupun bagi orang lain bisa jadi hal itu merupakan hal yang biasa dan sepele, bagi saya, ia adalah hal yang amat luar biasa dan berkesan bagi saya.
Dan ungkapan sayang mereka ibarat alunan seruling yang mengalun meritmis di sela-sela bukit-bukit dan lembah-lembah di tatar Pasundan. Indah dan menghanyutkan.
Pembaca, ciumlah anak-anakmu, rasakan kebahagiaan itu sebagaimana kebahagiaan yang saya rasakan. Semoga keindahan itu pun akan dirasa…

Maraji’:
1. Dan Anak Kita Penulis: Tim Buah HatiSumber: alhikmah.com, Senin, 28 Oktober 2002;
2. Promoting Attachment (Mohammad Fauzil Adhim), keluargamuslim.com, Kamis, 23 Januari 2003;
3. Kiat Mengatasi Anak Rewel, Ummigroup, Rabu, 25 September 2002

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
03:35 24 Oktober 2007

Cerita Mudik: 540


540
Adalah kilometer yang harus saya tempuh dalam perjalanan balik saya dari Tlogosari, Semarang ke Pabuaran, Bojonggede. Ini adalah pengalaman pertama dalam seumur hidup saya mengendarai sendiri mobil yang menempuh jarak ratusan kilometer. Waktu mudik di H-1, hari Jum’at (12/10) keluarga di Semarang belum memercayai saya untuk memegang sendiri kemudi sehingga harus mengirimkan orang terpercaya di keluarga kami untuk pegang kendali perjalanan mudik itu.
Ohya, perjalanan mudik kami saat itu terasa menyenangkan. Mengapa? Karena perjalanan kami lancar-lancar saja dan tidak terjebak kemacetan berjam-jam seperti yang diberitakan di malam sebelumnya atau di H-2 dan H-3-nya. Ini dikarenakan kami berangkat ba’da shubuh, tepatnya pukul 05.30 WIB di Jum’at itu. Coba kalau kami memaksakan diri untuk berangkat di malamnya, pasti kami terjebak di Tol Cikampek atau Tol Kanci yang padat merayap.
Dari pengalaman mudik dari Jakarta ke Semarang yang menarik itu saya bertekad bahwa nanti kalau balik dari Semarang ke Jakarta, saya sendiri yang harus menyupiri. Orang lain? No way. “Bener, nih?” tanya ipar saya setengah tidak percaya. “Insya Allah,” tegas saya.
Maka untuk mempersiapkannya, saya sering jalan-jalan menyusuri jalanan Semarang dan paling jauh ke rumahnya Mbah Redjo*) di sekitar Borobudur, Magelang dengan menempuh jarak 80 kilometer lebih dengan jalan dua arah yang sempit dan tidak selebar jalan pantura Jawa Barat. Apalagi terasa beratnya menaiki jalanan mendaki di sekitar Ungaran dan berliku di Bawen. Alhamdulillah berhasil juga sampai ke Magelang. Ini menambah kepercayaan diri saya bahwa saya bisa pergi ke Jakarta sendiri.
Agar perjalanan balik itu terasa nyaman dan mengasyikkan—sebagaimana slogan Polri dalam Operasi Ketupat tahun ini , Mudik itu Asyik—maka saya cuci mobil itu sebersih-bersihnya dan sekinclong-kinclongnya. Ruang dalamnya saya bersihkan dengan vacuum cleaner agar tidak ada sedikitpun kotoran yang tersisa. Saya isi bensin full tank dengan membayar Rp182.500,00. Tekanan ban saya cek terlebih dahulu, ini penting banget karena saya melihat bannya kok seperti kempes. Dan betul setelah dicek ternyata tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Tekanan ban depan yang seharusnya ukurannya 31 psi ternyata cuma 29 psi. Dan ban belakang tidak sesuai ukuran yang seharusnya 35 psi.
Akhirnya saat itu pun tiba, Sabtu (20/10) pagi, tepatnya pukul 06.30 WIB, setelah berpamitan, mengenolkan odometer agar bisa diketahui seberapa jarak yang telah kami tempuh, memasang seatbelt dengan benar, bersama-sama berdoa: bismillahi majreha wamursaha inna robbi laghofururrohiim, memperbanyak sholawat, berangkatlah kami berlima, istri saya, dua anak saya, dan saudara kami, ke Jakarta.
Dengan hanya bermodal papan petunjuk arah yang dipasang di sepanjang jalan pantura saya mulai melakukan perjalanan jauh ini. Yang harus saya waspadai adalah pengendara motor. Sudah cukup banyak berita yang saya dengar tentang banyaknya jumlah korban yang tewas kebanyakan dari para biker itu. Untuk itu saya selalu menjaga jarak, menjaga kecepatan—tidak pernah lebih dari 80 km/jam, dan senantiasa pergunakan lampu sen untuk berpindah jalur.
Batang, Kendal, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes saya lalui dengan lancar walaupun sempat tersendat saat melintasi kota Pekalongan karena jalan yang sempit, banyaknya pertigaan dan penyeberang jalan. Kami beristirahat di SPBU sebelum Tol Kanci. Setengah jam kemudian kami sudah melanjutkan perjalanan.
Menuju tempat bibi saya di Segeran, Indramayu, sengaja saya tidak lewat jalan Tol Kanci. Saya lewat kota Cirebon dan melalui jalan alternatif menuju Karangampel, rute jalan yang dulu kami lewati saat berangkat mudik. Jalanannya lebar 4 jalur, sepi dan berseparator. Benar-benar asyik!
Bertahun-tahun kami selalu lewat sini, tapi saya pikir, aneh juga kenapa banyak pemudik yang tidak mengambil rute bagus ini. Jalur konvensional Lohbener-Jatibarang-Palimanan-Kanci itu selalu padat dengan pemudik terutama pengendara motor dan rawan kemacetan. Seharusnya kalau mereka tahu betapa bagusnya rute ini yaitu Lohbener-Jatibarang-Karangampel-Cirebon, pasti mereka akan kesengsem untul melewatinya. Ohya, jangan ambil rute Lohbener-Indramayu-Karangampel-Cirebon karena jalan itu adalah jalan alternatif yang terlalu jauh memutar.
Sampai di tempat bibi saya jam setengah tiga sore. Beristirahat sebentar, makan-makan dulu, lalu diberi oleh-oleh mangga asli Indramayu yang tanpa obat dan pengawet, saya lalu berpamitan menuju Jatibarang untuk bertemu dengan bapak saya dan bersilaturahim dengan saudara-saudara saya di sana.
Di Jatibarang, saya sempat gregas-greges, masuk angin, pusing-pusing, dan berkeringat dingin. Saya paksakan untuk tidur sebentar, sekitar 10 menit. Ganti baju dan meluluri tubuh dengan minyak kayu putih dan balsam, sedikit banyak mampu mengusirnya.
Pukul 17.30 WIB dari Jatibarang, kami—yang sekarang berenam, ditambah adik saya yang ikut menumpang—melanjutkan kembali perjalanan balik ini. Suasana remang-remang, jalanan yang mulai padat, tidak sedikit pemudik motor yang tetap berkendara, penyeberang jalan yang sembarangan, pengemudi mobil yang tidak sabaran membuat saya harus menambah konsentrasi dan tetap waspada. Karena, lagi-lagi, berkendara malam adalah petualangan pertama saya. Dan saya bertekad untuk tidak beristirahat terkecuali di saat jelang tol Cikampek.
Kandanghaur, Pamanukan, Ciasem, Sukamandi sudah saya lewati. Perasaan sudah jauh kok Cikampek belum juga nyampe-nyampe. Dari Sukamandi masih 24 kilometer lagi. Phuihhhh….kaki sudah kaku minta istirahat. Di kilometer 19 sebelum Cikampek jalanan sudah macet, kendaraan mulai merayap. Ternyata di ujung sana ada truk gandengan yang mogok dan memakan setengah badan jalanan sehingga jalan yang tadinya dua jalur menjadi satu jalur.
Beberapa lama kemudian kami sampai juga di SPBU sebelum pintu tol Cikampek. Di sanalah kami beristirahat, makan mi seduh, dan sholat. Empat puluh lima menit kemudian tepatnya pukul 20.48 WIB kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami masuk tol Cikampek. Masih 140 kilometer lebih jarak yang harus ditempuh kami untuk sampai rumah.
Menurut saya, perjalanan di tol Cikampek sangat menegangkan. Situasinya tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk bersantai-santai atau berkecepatan minimum. Semuanya seperti memburu sesuatu di depan. Saya sering diklakson bus AKAP atau ditembak dengan lampu jauh dari mobil yang di belakang, padahal saya telah sampai pada batas maksimum kecepatan yang ditoleransi. Dan selama tujuh puluh kilometer itulah saya kembali berkonsentrasi penuh hingga pintu tol JORR.
Di lintasan tol JORR, kepadatan pengguna jalan tol tidaklah sepadat tol Cikampek, begitupula dengan tol Jagorawi. Saya sudah bisa bernafas lega, tapi saya merasa sendirian sekarang, soalnya semua sepertinya sudah terlelap. Saya hanya ditemani muhasabah yang mengharu biru dari seorang ustadz di radio Dakta 107,0 FM. Tanda-tanda kantuk sudah mulai terasa dengan seringnya saya menguap, tapi saya tahan. Alhamdulillah berhasil hingga pintu tol Citeureup.
Lagi-lagi saya bisa bernafas lega. Kalau sudah keluar dari tol, perjalanan sampai ke rumah, Insya Allah, sudah tidak menegangkan dan tidak akan lama lagi. Syukurlah, tepat dua jam perjalanan dari Cikampek, dan tepat pada kilometer 540 akhirnya kami sampai di depan rumah.
Saya bersyukur Allah memberikan kemudahan pada saya untuk mengadakan perjalanan mudik dan balik ini dengan lancar, tanpa halangan, tanpa kurang suatu apapun juga. Perjalanan mudik tahun ini, bagi saya adalah pengalaman yang amat membahagiakan, menyenangkan, dan mengasyikkan.
Semoga ini adalah buah dari doa yang senantiasa saya panjatkan di ramadhan, keselamatan, kebahagiaan dunia akhirat. Dan sebenarnya tidak hanya perjalanan mudiknya itu, kontemplasi selama ramadhan itu pun membuat hati saya tenang dan bahagia. Suasana malam-malamnya, tarawih, qiyamullail, tilawah, silaturahim, penjagaan hati, mata, dan telinga, serta iktikafnya. Saya berharap semoga tidak hanya saya saja yang mengalaminya, Anda juga, para pembaca, mendapatkan sejumput keberkahan ramadhan itu.
Hingga terasa sekali kerinduan pada ramadhan tahun depan. Kerinduan agar ramadhan segera datang menghampiri kita. Meramadhankan hati kita, meramadhankan semuanya, meramadhankan masjid kita yang kini mulai sepi, dan meramadhankan perjalanan mudik balik kita. Cuma satu saja pertanyaannya, akankah kita menjumpai ramadhan tahun depan? Allohua’lam bishshowab.
Terimakasih pada semuanya.

*) Mbah Redjo ini bukan dukun, tapi mbahnya istri saya.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
04:47 21

SEKEHENDAKMU, UMMI!


Sore itu, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, menyusuri jalan rindang penuh rerimbunan pohon, di jalan setapak Kampus Universitas Indonesia.
“Alhamdulillah, Ummi bersyukur punya suami kayak Abi,” bisiknya meningkahi deru motor.
“Syukurnya kenapa?”tanyaku penasaran. Maklum pembicaraan ini seumur-umur baru terdengar.
“Jangan geer yah…”tegasnya padaku.
“Insya Allah enggak.”
“Syukurnya Abi tidak banyak menuntut macam-macam. Kayak menghalangi Ummi untuk dibina dan membina.”
“Ah masak?”
“Betul kok…”
“Emang ada contoh yang menghalangi istrinya untuk itu?” tanyaku lagi. “Banyak,” jawabnya sambil menyebut nama salah seorang dari ustadz kami.
“Sebenarnya satu saja bagi Abi untuk membiarkan Ummi tetap menjalani apa yang Ummi kehendaki. Itu ‘kan komitmen awal kita sebelum menikah bukan? Masak lupa sih?”
“Terus apa lagi?” tanyaku lagi tentang kesyukuran dia memilikiku.
“Ummi enggak masak, Abi tidak marah.”
“Karena dalam biodata Ummi ‘kan sudah jelas ditulis tidak bisa masak, ya Abi pasrah saja. Nrimo apa adanya. He…he…he….”
“Ada lagi?” tanyaku.
“Cukup itu saja dulu.”
“Kayaknya banyak deh yang harus Ummi banggakan dari diri Abi ini,” kataku.
“Iya sebanding pula dengan kelemahan yang ada pada diri Abi,” tukasnya.
“He…he…he…tahu saja Ummi sih…” jawabku sambil tersenyum.
***
Pembicaraan di atas motor tadi adalah sarana paling efektif yang sering kami lakukan untuk bisa saling memahami. Di atas motorlah, di sepanjang perjalanan pulang, kami membicarakan apa saja yang bisa kami bicarakan sampai tuntas untuk membunuh rasa jenuh saat melintasi jalanan dengan rute yang sama dari hari ke hari. Tapi terkadang kami sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama kalau dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari. Sehingga bisa jadi tanpa sepatah katapun saling terucap. Tidak mengapa.
Ada pertanyaan buat kami, mengapa pembicaraan itu tidak dilakukan ketika sampai di rumah ketika kita semua sudah dalam keadaan tubuh yang segar dan sedang istirahat? Jawabannya adalah bahkan kalau di rumah sepertinya kami tidak bisa berkomunikasi dengan efektif karena selalu diganggu oleh anak-anak dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sehingga seringkali kami memanfaatkan waktu yang ada di manapun berada untuk berkomunikasi dengan efektif. Dan di atas motor itu adalah salah satu cara terbaik bagi kami walapun terkadang dengan suara yang harus dikeraskan karena sering ditingkahi oleh deru kendaraan yang lain.
Dalam majalah Safina No. 1/ Th II Maret 2004 ditulis tentang pentingnya komunikasi buat pasangan suami istri.
Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga Islam adalah komunikasi dan dialog yang intensif dan sehat antara suami istri. Pada saat ini tidak jarang terjadi adanya sumbatan komunikasi diantara pasangan suami istri. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal itu, misalnya kesibukan kerja, terlampau letih dan lain-lain. Bahkan karena begitu sibuk dan letihnya, ada pasangan bertatap mukapun tidak sempat. Sebagai akibatnya, tentu saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi satu dengan lainnya.
Komunikasi yang hambar biasanya mengakibatkan hubungan kemesraan menjadi berkurang. Bahkan tidak jarang menimbulkan ketegangan dan terjadilah perselisihan, kalau sudah begini suami istri akan mengalami penderitaan. Sangat disayangkan apabila hubungan yang hambar ini terjadi pada keluarga muslim yang dibangun dalam rangka beribadah kepada Allah. Diperlukan pengertian yang mendalam dari kedua pasangan agar komunikasi dapat berjalan secara kontinyu.
Tidak ada yang menjamin bahwa saat kita sudah merasa sekufu, satu agama, sama-sama ngaji, sama-sama aktifis dakwah, setara, sama, cocok, dan percaya seolah-olah semua urusan rumah tangga akan beres. Padahal, banyak pasangan gagal meneruskan bahtera rumah tangga mereka karena kurang peduli dengan urusan komunikasi seperti ini.
Dengan komunikasi di atas motor itulah saya bisa tahu apa yang diinginkan oleh istri saya, bagaimana perasaan saya pada saat itu terhadapnya atau sebaliknya. Dan adanya keterbukaan yang terjalin pada saat itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hingga terbentuknya rasa kerinduan di hati saat ia tidak membonceng di belakang saya karena ia pulang duluan.
Saya senantiasa berharap komunikasi yang senantiasa kami jalankan di setiap harinya, dengan cara kami sendiri itu, bisa menyadarkan kami betapa komunikasi itu sangatlah penting untuk bisa saling memahami. Dengan pemahaman itulah saya harapkan dia bisa mengerti apa yang aku kehendaki dari dirinya dan sebaliknya, hingga saya bisa berkata pada dirinya: “Sekehendakmu saja, Ummi!”

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01:59 09 Oktober 2007

MUMPUNG DIA DEKAT


Saya ingin jadi orang baik. Saya ingin jadi tetangga yang baik buat tetangga-tetangga saya. Saya ingin agar Allah tidak memberikan beban yang sungguh tidak sanggup saya untuk memikulnya. Saya ingin menjadi bagian dari golongan orang-orang yang senantiasa ikhlas, bisa menjaga lidahnya dari perkataan-perkataan buruk dan menyakitkan.
Saya ingin agar Allah memberikan saya pandangan yang jelas agar tampak kebenaran itu adalah kebenaran dan kebatilan itu adalah kebatilan. Pun saya ingin agar Allah memberikan saya hati yang sensitif terhadap kebenaran, mata yang mudah menangis, dan kekuatan untuk bangun di tengah malam. Meminta pada-Nya, mengadu pada-Nya, untuk menuntaskan segala hajat dan permasalahan dunia dan akhirat saya.
Saya ingin agar Allah memberikan saya kesehatan, juga kepada istri dan anak-anak saya. Agar Allah memberikan hidayah-Nya kepada bapak saya. Agar Allah melapangkan kubur ibu saya. Dan mengampuni mereka, serta mengasihi mereka sebagaimana mereka mengasihi saya di waktu kecil.
Saya ingin agar Allah memberikanku kekayaan yang berkah lalu menjadikan saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mensyukuri nikmat-Nya. Saya ingin Allah menjadikan anak-anak saya sholeh, pintar, dan cerdas. Dan menjadikan mereka pejuang-pejuang agama-Nya.
Saya ingin agar Allah menetapkan saya untuk tetap komitmen di jalan “menyeru” ini. Juga agar Allah senantiasa memberikan bimbingan kepada para pendukung dakwah di manapun mereka. Agar cahaya Islam ini tetap benderang di segala penjuru.
Saya ingin agar Allah tidak menimpakan malapetaka dan bala kepada saya dan keluarga saya. Dan saya ingin agar khadimat saya mau lagi untuk tinggal bersama kami selama bertahun-tahun ke depan. Dan semoga Allah senantiasa memudahkan kehidupan saya dan keluarga di tahun-tahun mendatang.
Dan saya selalu berharap Allah mematikan saya dalam syahid. Selamat dunia dan akhirat. Serta berkumpul dengan istri, anak-anak, dan keluarga serta orang-orang yang beriman lainnya di Jannah Firdaus-Nya.
***
Semua yang saya ungkapkan di atas itu adalah sebagian kecil dari permintaan saya kepada Allah Yang Maha Pengabul Permintaan dalam setiap panjatan doa dan keluh kesah saya. Karena saya merasa sebagai manusia yang tidak punya apa-apa, miskin, dan lemah, maka kepada siapa lagi saya harus meminta segalanya baik yang besar maupun remeh temeh terkecuali kepada-Nya. Dia Yang Maha Kaya dan Maha Pemilik Segala. Mumpung Dia dekat dengan saya, dan mumpung saya masih bertemu ramadhan tahun ini.
Dari awal ramadhan sampai hari ini, saya sudah tiga kali mendengar dari para penceramah di masjid komplek saya, Masjid Al-Ikhwan, berbicara tentang Allah yang lagi dekat dengan kita yang berpuasa. Saya kok sepertinya baru merasa mendapatkan sesuatu tema yang baru dan belum sekalipun diketahui oleh saya. Apa karena dulu hati saya masih tertutup sehingga tidak bisa peka mendengar segala bentuk kebaikan atau pas kebetulan saja hati saya ini, di ramadhan ini, lagi sensitif-sensitifnya sehingga baru dirasakan ngeh oleh saya.
Kata para ustadz itu, dari rangkaian ayat sebanyak lima ayat di surat Al-Baqarah yaitu tepatnya di ayat 183 sampai dengan 187 yang berbicara tentang puasa, tiba-tiba terselip ayat 186 yang berbicara tentang penegasan Allah bahwa diri-Nya itu dekat. Coba kita simak dulu ayatnya yah:
186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Maka dapat diartikan bahwa di ramadhan inilah Allah menegaskan bahwa Allah itu dekat, tidak jauh, tanpa hijab dari hamba-hambanya yang berdoa, yang meminta apa saja kepada-Nya, asal kitanya ini senantiasa memenuhi perintah-Nya dan beriman pada-Nya. Tuh kan, ada syarat yang harus dipenuhi dulu sebelum Dia mengabulkan permintaan kita.
Ini berarti-intinya-kita harus berupaya dulu. Kita berdoa setelah usaha, ikhtiar, dan kerja keras karena menurut Abdurrahman Muhayar, doa dalam pengertian yang sebenarnya bukan hanya sekadar wujud ketakberdayaan yang memaksa seseorang merengek kepada Allah SWT.
Tapi menurut saya senantiasa kita –saya dan Anda—berdoa kapanpun, di manapun dan dalam kondisi apapun saja. Agar kita tidak dianggap sebagai orang yang sombong karena tidak pernah meminta pada-Nya. Memang kita orang yang kuat apa? Kita orang yang tidak punya kebutuhan apa? Atau semuanya kita bisa upayakan dengan usaha kita sendiri? Ah, sungguh terlalu…
Di ramadhan ini dengan kedekatan-Nya itu, dengan tanpa hijab-Nya itu, maka sudah selayaknya saya—yang dengan tertatih-tatih mendekati-Nya di luar ramadhan, tapi merasa kurang optimal hasilnya ini—bergembira dan bertekad untuk tidak melewatkan waktu tanpa berdoa pada-Nya, bertekad untuk meminta segala hajat saya. Begitu pula Anda teman-teman. Mumpung Dia dekat.
Kita merasakan ketenangan ba’da ramadhan tahun lalu sampai hari ini, bisa jadi, Insya Allah, karena Allah mengabulkan doa kita yang dipanjatkan saat ramadhan lalu. Kita bisa menyelesaikan tugas akhir kuliah, mempunyai kendaraan, rumah yang sederhana, anak-anak sehat, suami atau istri semakin sholih dan sholihah, pekerjaan kantor bisa diselesaikan dengan baik, tidak ada masalah dengan tetangga, punya anak lagi, tidak pernah terlambat masuk kantor dan gaji tidak dipotong absen, kalaupun dipotong itupun cuma sedikit sekali, semakin banyak berinfak, semakin rajin ke masjid, bicara yang secukupnya, selalu antusias mendengarkan nasehat kebaikan bisa jadi semua itu karena Allah mengabulkan doa kita.
Ya, cukuplah itu menjadi nasehat bagi diri saya sendiri. Maka mumpung kita lagi berpuasa, Dia dekat, berdoalah, berdoa apa saja. Berdoa demi kebaikan dunia dan akhirat kita. Setelah itu kita tinggal menikmati semuanya itu. Insya Allah.
***

* Doa adalah otak ibadah. (HR Ibn Hibban dan at-Tirmidzi).
* Doa adalah senjata orang yang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi. (HR al-Hakim)

Maraji’:
1. Alqur’an Mulia;
2. Abdurrahman Muhayar, Berdoa, Republika, 11 Mei 2006

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
07:12 27 September 2007

SEMUANYA BERKAH


SEMUANYA BERKAH

Sungguh nikmatnya ukhuwah saya rasakan pada hari-hari ini. Betapa tidak permohonan baju layak pakai dan dana untuk kegiatan bakti sosial (baksos) yang saya edarkan melalui email dan forum diskusi mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa positifnya.
Dering telepon dan email balasan yang masuk banyak menanyakan teknis pengambilan baju layak pakai, bahkan hingga jam-jam terakhir juga masih ada yang menanyakan nomor rekening bank saya untuk bisa mentrasfer dana untuk kegiatan itu.
Dari Denpasar dikirim satu kardus penuh baju layak pakai. KPP LTO, Madya Jakarta Timur, hingga Kantor Pusat adalah tempat-tempat yang saya kunjungi untuk diambil baju layak pakainya. Dari teman-teman satu kantor pun banyak juga yang memberikan barang yang sama pula hingga terkumpul satu troli penuh. Tidak hanya itu dana yang terkumpul baik secara tunai ataupun melalui rekening bank adalah sebanyak Rp1.700.000,00. Dengan dana yang dikumpulkan dari teman-teman panitia yang lain terkumpul total dana empat juta lebih.
Subhanallah jumlah yang sangat luar biasa besarnya bagi saya dan teman-teman panitia. Hingga kami memutuskan untuk menambah paket sembako yang semula 150 paket seperti tahun yang lalu menjadi 200 paket sembako. Terdiri dari beras empat liter, satu kilogram minyak goreng curah, dua bungkus mentega simas, satu kilogram tepung terigu, dan satu kilogram gula pasir. Yang kalau diuangkan maka satu paket sembako itu seharga Rp38.500,00. Sehingga total dana yang harus kami sediakan adalah sebesar kurang lebih delapan juta rupiah.
Dengan dana awal 4 juta itulah kami membeli sembako ke pedagang sembako langganan baksos kami yang sudah tiga tahun ini menjalin kerjasama. Dengan bermodal kepercayaan, pedagang sembako mau menyediakan paket dan sisa uangnya nanti diberikan setelah acara baksos selesai. Kami optimis kekurangan dana yang ada akan bisa ditanggulangi dari hasil penjualan baju layak pakai.
Ohya, tidak hanya paket sembako yang bersubsidi yang kami berikan. Kami juga menjual sembako eceran dengan harga yang amat murah. Simas satu bungkus kami hargai seribu rupiah. Satu liter minyak goreng seharga tujuh ribu rupiah. Sekilo tepung terigu kami hargai lima ribu rupiah. Gula pasir empat ribu rupiah sekilonya.
Alhamdulillah, acara kemarin berlangsung dengan sukses. Terasa dan terlihat kegembiraan pada wajah-wajah mereka yang mendapatkan sembako gratis dan murah, pakaian yang amat layak pakai (terutama yang dari kantor pajak). Tetapi kami juga tidak bisa menutupi kekecewaan mereka yang tidak mendapatkan kupon paket sembako gratis dan murah itu.
Dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena semata-mata keterbatasan yang ada pada kami. Namun kami mempersilakan mereka untuk membeli baju layak pakai dan sembako eceran yang harganya pun jauh sekali dari harga pasaran. Bila mereka pun ingin memiliki baju layak pakai, tetapi tidak memiliki uang kami persilakan mereka untuk berbicara kepada panitia tentang ketidaksanggupannya, dan kami akan berikan apa yang mereka minta.
Pakaian yang amat layak pakai itu kami jual seharga Rp7000,00 sampai Rp500,00 (lima ratus perak). Bahkan ada yang kami bagikan gratis. Dan juga agar semua daerah yang ditengarai menjadi kantong-kantong kemiskinan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan baju layak pakai ini, maka kami bersepakat untuk tidak menggelar semua barang itu di hanya satu lokasi saja.
Pada akhirnya ada teman lain yang bergerak untuk mengevaluasi hasil baksos tersebut. Dari hasil evaluasi itu kami juga bersepakat bila ada dana yang tersisa dari hasil keuntungan baksos tersebut, maka agar menjadi keberkahan bagi para donator yang telah menginfakkan hartanya, sebagian dana tersisa akan diberikan untuk menyubsidi kekurangan dana iktikaf. Pelaksanaan iktikaf ini merupakan acara yang yang pertama kalinya diselenggarakan untuk tiga desa yang dipusatkan di masjid di desa kami.
Yaitu untuk menambah kekurangan dana menu makanan berbuka puasa buat para shoimin dan juga sahur para peserta iktikaf. Insya Allah ini akan menjadi suatu keberkahan, karena pahala yang akan didapat adalah sama seperti pahala puasanya orang yang berbuka puasa itu. Subhanallah. Dan tidak ada sepeserpun untuk kami para panitia. Insya Allah semuanya berkah.
Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya bagi teman-teman yang telah menyumbangkan baju layak pakainya, seperti Ichal, Arya, Mbak Titik Minarti dan kawan-kawannya, Mbak Julianti, si Lay Erwinsyah M, Mbak Ardiana, Mbak Dewi Wiwiek, Mas Erfan, Ibu Mona Junita, dan Mas Purnomo di Denpasar.
Juga kepada teman-teman yang telah menginfakkan uangnya tunai ataupun transfer melalui rekening Bank Mandiri saya seperti (maaf saya menyebutnya dengan nama inisial, agar tidak mencederai niat baik ini) AR sebesar Rp500.000,00. Hamba Allah sebesar Rp100.000,00 (sampai saat ini saya belum mendapatkan konfirmasi nama donator ini). Ayr sebesar Rp250.000,00. Ich sebesar Rp100.000,00. Sebesar Rp250.000,00 telah disumbangkan oleh 6470. Mbak A*is*h sebesar Rp250.000,00 dan kawan lama saya yang menelpon di detik-detik terakhir: Mbak Listy sebesar Rp250.000,00.
Saya tidak bisa memberikan apa-apa kepada para donator sebagai balasannya . Saya hanya berharap semoga Allah senantiasa melimpahkan balasan kebaikan yang berlipat ganda atas semua kemurahan hati mas-mas dan mbak-mbak donatur. Sungguh bukan karena tulisan saya, sungguh bukan karena kenal dengan saya semua ini terjadi. Semuanya semata-mata karena Allah telah menggerakkan segumpal daging bernama hati untuk senantiasa sensitif terhadap kebersamaan dan kepedulian. Terimakasih.
Dan saya yakin bagi yang belum berkesampatan untuk turut serta dalam kebersamaan ini, bukan berarti tidak peduli, tapi karena semata-mata ada prioritas yang lebih dekat, yang lebih membutuhkan, yang lebih penting di daerahnya masing-masing. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita semua. Amin.
Jazakalloh khoiron katsiro.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:26 24 September 2007
Sekadar laporan sekilas. Foto digital ada tapi belum saya terima.

Baju Layak Pakai Anda Dibutuhkan Mereka


Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan keberkahan kita di bulan ramadhan yang mulia ini. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan sehingga bisa mengoptimalkan ibadah di bulan penuh pahala ini. Semoga kita senantiasa tetap mencintai rasulullah SAW dengan melaksanakan semua sunnah-sunnahnya.
Saudara-saudaraku semua, Insya Allah saya bersama teman-teman di Desa Pabuaran, Bojonggede, Bogor akan mengadakan Bakti Sosial di daerah minus di kampung kami yaitu di daerah PARKO. Di sana banyak sekali saudara-saudara kita yang kekurangan, dan Insya Allah bantuan kita yang sedikit sangat diharapkan sekali oleh mereka.
Teknisnya kita akan menjual sembako 150 paket dengan harga yang telah di subsidi dari dana-dana dan infak-infak yang diberikan oleh donator. Tidak hanya itu selain menjual sembako kami juga akan memberikan secara cuma-cuma kepada yang betul-betul tidak mampu. Insya Allah. Selain itu, berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman bertahun-tahun mengadakan bakti sosial, baju layak pakai yang kami kumpulkan sungguh-sungguh sangat diharapkan sekali oleh mereka.
Baju-baju layak pakai itu awalnya kami hargai dulu sesuai dengan masih bagus atau tidaknya baju itu. Biasanya harganya sekitar Rp4.000,00, Rp3.000,00, Rp2.000, Rp1.000,00 atau gratis sama sekali. Tetapi terkadang mereka tidak membeli, mereka menunggu sampai acara itu selesai untuk mendapatkan secara gratis baju-baju itu. Bagi kami tidak masalah. Karena itu pun memang untuk mereka semua. Kami beri harga juga bukan untuk kami, tetapi untuk menutupi kekurangan subsidi atau penambahan jumlah paket sembako tersebut.
Insya Allah apa yang antum semua berikan kepada mereka, akan menjadi keberkahan bagi saudara-saudara kita yang berkekurangan tersebut. Apalagi di bulan ramadhan yang mana Allah telah menjajikan kepada kita semua atas pelipatan ganda pahala atas semua kebaikan yang kita berikan apalagi memberikan infak kepada yang membutuhkannya. Sudah waktunya kita tidak melepaskan kesempatan besar ini.
Insya Allah acara itu akan diselenggarakan pada:
Hari/tanggal : AHAD BESOK, 23 SEPTEMBER 2007
Tempat : PARKO, DESA PABUARAN, BOJONGGEDE, BOGOR

Bagi antum semua yang mau memberikan baju layak pakainya, bisa saya tunggu sampai hari jum’at nanti tanggal 21 September 2007, bagi yang berkantor di Kalibata atau sekitarnya yang dekat dan bisa saya jangkau dengan motor saya, Insya Allah saya akan jemput di kantor masing-masing.
Dan bagi antum yang berniat untuk sedekah dan berinfak bisa juga saya ambil langsung (kalau dekat dengan daerah sekitar Kalibata), atau juga antum semua bisa transfer ke rekening:

RIZA ALMANFALUTHI
Bank Mandiri
0060005113XXX

(Agar tidak tercampur dengan uang saya yang ada di bank Mandiri yang memang tinggal Rp110.000 , mohon untuk konfirmasi kepada saya melalui PM di DSHNet (username: riza almanfal) atau melalui email pajak: riza.almanfaluthi@pajak.go.id atau via HP: 0817 79 5050. Ditunggu sampai hari Jum’at tanggal 21 September 2007).

Sungguh kepedulian kita semua sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Saya tidak bisa memberikan balasan kepada antum semua yang sudi dan berkenan atas kesediaannya untuk berbagi kepada sesame dan mempercayakannya kepada saya. Hanya Allah yang berhak untuk membalas kebaikan antum dengan kebaikan berlipat ganda. Harapan terbesar saya adalah semoga kita dikumpulkan oleh Allah di Jannah-Nya yang keindahannya tidak pernah dilihat, didengar, dan dirasa oleh manusia. Semoga. Amin.

Barokallohu fiikum.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Riza Almanfaluthi

scramblezone@halaqoh


15.12.2005 – scramblezone@halaqoh

Tidak biasanya saya begitu bersemangat dengan chatting kali ini. Dan sudah lama saya tidak antusias dengan mIRc sejak tahun 2003. Script-script yang saya punyai dan saya kuasai dulu hilang dan tidak saya kuasai lagi. Hingga untuk mengucapkan dan menjawab salam saja harus ketik panjang dan tentu ditambah kesalahan ketik. Namun kali ini setelah jaringan di kantor lebih cepat daripada tiga minggu kemarin, saya mencoba mengikuti dunia perchatingan, tentu disela-sela pekerjaan yang kini semakin menepis persediannya untuk diselesaikan.
Awalnya biasa saja, setelah itu–tepatnya kemarin–saya begitu bersemangat. Ada game baru di #halaqoh, scramblezone namanya. Menjawab pertanyaan yang diajukan si bandar dengan jawaban berupa huruf yang sudah diacak sedemikian rupa. Yang berhasil menjawabnya maka akan mendapatkan nilai 1. Semakin banyak dia berhasil menjawab maka ia akan memperoleh nilai 1 yang lebih banyak.
Saya pernah mengenal permainan ini, dulu, tapi swear, saya tidak tertarik. Namun ada bedanya kali ini di #halaqoh. Pertanyaannya berkisar di dunia Islam, mulai nama-nama kota negara Islam sampai urusan fikih. Jawaban yang terkadang konyol sampai-sampai membuat saya tertawa, lucu banget. Permainan ini terkadang tidak melihat soalnya terlebih dahulu asal ia ingat susunan huruf apa yang diacak, bisa langsung dijawab tapi kalau begini terkadang ngaco.
Contohnya ini:
» Petunjuk : merk
» Huruf : qomcap preorsai
Saya jawab: capgomeh barongsai, ternyata salah. Memang kagak nyambung. Yang benar adalah compaq presario.
Ada juga yang protes, dilayarnya dia yang pertama menjawab tapi ternyata ia tidak mendapat point 1, keduluan sama yang lain. Tapi memang ini semua tergantung siapa yang masuk terlebih dahulu ke komputer si bandar. Berarti kualitas jaringan berpengaruh terhadap kecepatan menajwab. Bisa saja ia duluan menjawab tapi jaringannya sedang jelek, maka-siap-siap saja jawabannya didahului sama yang lain. Yang parah, banyak juga yang sudah dapat nilai banyak tapi jaringannya juga jelek dan tiba-tiba ia terputus dari koneksi atau disconnected, maka disaat ia kembali lagi ia harus mengumpulkan nilai dari nol lagi. Sungguh malang…But, the game is the game. Namanya juga permainan, terima sajalah. (hehehehe, maaf yah).
Terkadang juga koma di atas (tuts sebelah angka 1) yang diinginkan si Bandar tidak sama dengan koma di atas (tuts dekat enter) yang dimaksud oleh para peserta, maka kalaupun ngetik sampai benjut juga ya tetap salah. Juga kalau si bandar kehabisan pertanyaan, maka ia kasih soal yang kayak gini:
» Petunjuk : bandar kentekan soal
» Huruf : temmu
Bagi orang Jawa, soal seperti ini gampang banget. Jawab saja: mumet, selesai. Saya dapat poin satu. Tapi bagi yang bukan orang Jawa, waduh…ini yang susah. Makanya saya sarankan kepada si Bandar supaya beli atau pinjam buku ensklopedia dunia Islam yang ada 6 jilid itu untuk bisa membuat soal yang bermutu gitu (bukan begitu enigma???:-)
Betewe, untuk permulaan permainan ini asyik banget buat mengisi waktu luang. Tapi jangan sampai lupa pekerjaan yah…
Allohua’lam bishshowab.
dedaunan di ranting cemara
salam buat mas squall, mbak al1f1a, enigma, dll dah…
15:36 15 November 2005