Ri, yang cantik…


KE MANA?
(CATATAN PERJALANAN 1)

Selasa, 20 Juni 2007 WIB
Ri, tugas itu mendadak sekali diberikan kepadaku. Aku harus pergi ke Surabaya untuk membahas mengenai permasalahan PPN atas Jasa Maklon di Kawasan Berikat dengan Badan Penanaman Modal (BPM) Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Pihak Kanwil Khusus sepertinya meminta satu orang dari KPP PMA Empat untuk menemani pejabat Kanwil.
Ibu Kepala Seksi meminta kepada saya dan teman saya yang kebetulan sama-sama menangani Wajib Pajak yang mau dibahas permasalahannya di BPM. Saya sudah menawarkan kepada teman saya untuk dia saja yang pergi ke Surabaya, tapi karena ada berkas yang mau jatuh tempo maka dia menyerahkannya kepada saya. Alhasil saya yang ditunjuk untuk pergi.
Ri, saya bergegas untuk membuat surat tugas, SPPD, memesan tiket, mengontak pemeriksa untuk mengetahui permasalahan sebenarnya tentang Wajib Pajak tersebut, menyalin peraturan-peraturan perpajakan untuk amunisi saya saat ditanya oleh Wajib Pajak dan BPM di forum tersebut. Semuanya tidak ada masalah sampai sore hari saat tiket diantar oleh pihak travel.
Ternyata Ri, saya dipesankan tiga tiket. Tiket pertama atas nama saya untuk perjalanan ke Surabaya hari Rabu tanggal 20 Juni 2007 pukul 17.00 WIB. Tiket kedua adalah atas nama saya juga untuk perjalanan ke Surabaya hari Kamis 21 Juni 2007 pukul 06.00 WIB. Tiket ketiga untuk pejabat dari Kanwil yang berangkat hari kamis jam enam pagi.
Bagaimana mungkin saya bisa berangkat dalam jangka waktu tersebut. Saya menolak untuk membayarnya. Ibu Kepala Seksi pun ikut membantu saya. Ada kesalahan di operator penerima pemesanan tiket. Mereka tetap menyalahkan saya dan berusaha untuk menagihnya atau melakukan pembatalan dengan membayar Rp65.000,00. Semuanya ditolak mentah-mentah oleh Ibu Kepala Seksi saya. Dan akhirnya kurirnya bisa menerima walaupun diantara mereka sepertinya masih ada ganjalan. Pihak travel tetap menginginkan ada pembayaran pembatalan tersebut. Tapi selesai juga dengan kekukuhan kita.
Saya berharap perjalanan ini tidak akan terjadi lagi hal-hal lain yang menghambat seperti peristiwa ini Ri. Cukup sudah.

Rabu, 20 Juni 2007 08.00 Pagi.
Ri, saya berusaha belajar memahami persoalan tentang permasalahan Wajib Pajak yang mengadukan persoalan PPN Jasa Maklon ini kepada BPM. Insya Allah saya sudah siap menerima pertanyaan apapun atau permintaan penjelasan tentang hal ini. Ohya dinihari tadi saya sudah packing, cukup dengan satu stel pakaian saja dan dua dasi. Merah dan Biru. Satunya untuk cadangan saja.

Rabu, 20 Juni 2007 12.00 WIB.
Ri, sudah kucium pipi dan dahi mereka, Haqi dan Ayyasy. Dua hari ini tentunya saya akan merindukan mereka. “Selamat tinggal , Nak…”
Ri, entah kenapa hati saya masih saja tetap tidak enak. Apakah karena ketakutan saya bertemu dengan orang-orang yang tidak saya kenal? Juga apakah karena akan dihadapkan dengan para pejabat-pejabat BPM sana? Entahlah, untuk mengatasi semua kecemasan ini saya memperbanyak sholawat dan doa Nabi Musa saat akan menghadapi Fir’aun Raja Durjana.
Kereta Rel Listrik jurusan Jakarta Kota tiba di Stasiun Citayam, saya menaikinya Ri untuk turun di Stasiun Pasar Minggu. Cukup dengan karcis seharga Rp1500.00. Nanti dari Stasiun Pasar Minggu saya jalan ke arah terminal Pasar Minggu untuk menaiki Bus Damri yang akan membawa saya ke Bandara Soekarno Hatta.
Rabu, 20 Juni 2007 14.30 WIB
Kakiku menuruni tangga Bus, kembali saya menginjakkan kaki di Bandara. Kini saya sudah tidak katro, tidak ndeso lagi seperti saat saya baru pertama kali dating ke tempat ini. Dulu di Desember 2005—seperti yang sudah pernah saya ceritakan kepadamu Ri, saya sempat berdiri cukup lama di depan loket maskapai untuk melakukan check in. Saya disadarkan calo tiket, katanya kalau mau check in harus masuk dulu melalui pintu utama lalu antri di depan loket check in yang berjajar memanjang dari berbagai perusahaan penerbangan dalam negeri. Ternyata tempat itu memang bukan tempat untuk check in, tempat itu adalah tempat untuk membeli tiket. Pantesan tidak ada orang yang mengantri di depannya. Kini saya tidak kampungan lagi Ri, Saya langsung menuju tempat check in.
Rabu, 20 Juni 2007 17.00 WIB
Menunggu memang pekerjaan yang membosankan Ri, sudah dua jam lebih saya menunggu untuk masuk ke pesawat. Tapi entah kenapa panggilan itu belum datang juga. Sore ini, hujan sudah tidak lebat lagi turunnya. Tapi langit masih tetap menghitam. Sepertinya akan mencurahkan isinya lagi. Sudah dua koran nasional saya baca. Dan sudah berkali-kali saya bolak-balikkan lembarannya untuk mencari berita menarik yang mungkin terlewati. Dan ternyata sudah semua saya baca. Kini saya tinggal memandang ke arah kejauhan melihat ruang kosong beraspal dan berumput tempat pesawat mendarat dan tinggal landas.
Ri, jadinya saya menulis puisi:

Ke mana?
ke arah mana engkau akan bertiup
selatan?
atau barat?
Ikuti aku
Ikuti jejakku
percayalah ada belahan sukma
yang menggapai-gapai asa
merinduimu
menaruh setengah cintanya untukmu
pada langit yang memerah selendangnya
pada bulan yang separuh cahayanya
lalu
masih saja kau ragu
ke arah mana engkau akan bertiup?
Ke mana?
****
Rabu, 20 Juni 2007 18.10
Ri-ku yang cantik, tadi di pesawat saya mengalami dua kali guncangan. Cuaca yang buruk membuat pesawat terbang yang saya naiki seperti roll coaster di dunia fantasi. Perut bagian bawahku seperti tertarik searah gravitasi bumi menuju pusatnya. Saya bertakbir Ri, pun saya bersholawat. Bayangan buruk tentang jatuh dari angkasa menghantui saya Ri. Tapi Alhamdulillah saya dan semua penumpang selamat. Mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa perjalanan udara hal itu adalah hal biasa. Tapi bagi saya tentunya beda, itu adalah sesuatu yang di luar biasa.
Bandara Juanda masih ramai Ri, terutama dari para penjemput yang sudah berdiri menunggu di depan pintu keluar. Saya bingung Ri, taksi mana yang harus saya tumpangi menuju Jalan Jagir Wonokromo. Saya sudah ditawari banyak calo taksi untuk menaiki kendaraannya. Cuma saya ingat pesan tetangga saya yang mewanti-wanti saya untuk memesan tiket di loket resmi saja. Awalnya saya tidak menemukannya. Tapi setelah berpura-pura menelpon seseorang agar tidak ditanyai terus oleh calo tersebut saya menemukan counter taksi itu. Ternyata tepat di sebelah kiri pintu keluar.
“Mau ke mana Pak?” tanya petugas wanita di counter tersebut.
“Jagir”
“Lima puluh lima ribu rupiah.”
Setelah menyerahkan uang yang diminta saya mendapatkan sebuah karcis. Dan saya bingung Ri, di mana taksi yang harus saya tumpangi. Seorang petugas di depan loket itu menyadari kebingungan saya dan menunjukkan kepada saya taksinya.
“Bapak tahu hotel yang ada di Jalan Jagir? tanya saya pada supir taksi. Bapak itu berpikir dan menjawab: “sepertinya tidak ada”.
“Ya sudah Pak ke Hotel Fortuna di Jalan Darmo Kali,” pinta saya sesuai sms dari tetangga saya yang sudah tahu seluk beluk Surabaya.
“Kalau begitu tarifnya beda Pak, kurang Rp10.000,00 lagi. Bagaimana?”
“Ya sudah tidak apa-apa,” jawab saya. Insya Allah SPPD saya cukup
Ri, Surabaya di malam hari ternyata sama saja dengan Jakarta. Jalan Ahmad Yani di Surabaya saya pikir ramainya sama dengan jalan Pasar Minggu Jakarta. Saya merenung di jendela taksi. Memandang temaram malam dengan lampu-lampu merkuri yang menyesakkannya. Ri, saya jadi ingat pusi yang saya buat beberapa tahun yang lalu. Tapi puisi itu sudah hilang Ri entah kemana. Suasana yang membangun puisi itu sama persis dengan melankolis malam ini Ri.

Rabu, 20 Juni 2007 19.15 WIB
Ri-ku yang menawan. Aku (kata gantinya kuganti saja) berjalan memasuki pintu hotel Fortuna. Bergegas menuju meja resepsionis. Dan memilih kamar yang yang tidak terlalu mewah. Tentunya seukuran SPPD-ku. Aku memilih yang harganya Rp209.000,00. Dengan harga yang sama kamar hotel ini masih kalah indah dengan kamar hotel di Pasuruan dulu. Harganya pun lebih murah daripada yang di sini.
Ri, ternyata perkiraanku salah. Dulu waktu pergi ke Pasuruan aku sengaja membawa perlengkapan mandi ternyata di sana sudah tersedia lengkap. Tapi saat aku berpikir bahwa untuk perjalanan ke Surabaya ini aku tak perlu perlengkapan mandi, aku salah Ri. Di sini aku tidak menemukan sikat gigi dan pastanya. Kiranya aku perlu ke luar hotel untuk mencarinya sekalian mencari pengisi perut yang sedari siang belum terisi. Di pesawat aku cuma diberi segelas air putih dalam kemasan 220 ml.

Rabu, 20 Juni 2007 21.00 WIB
Ri, kini malam semakin menjelang. Saatnya untuk istirahat Ri. Melepaskan penat setelah setengah harian tadi menempuh ratusan kilometer. Ohya Ri, saya (kiranya Ri, kata ganti saya lebih akrab di telinga daripada aku) kok merasakan “keanehan“ di luar biasanya, saat membeli nasi goreng di warung nasi di pertigaan jalan dekat hotel. Warnanya merah dan masalahnya kok seperti tidak ada rasanya yah… atau lidah saya yang belum bisa menerima “keanehan” ini. Nasi goreng kok warnanya merah. Saya tidak tahu apa nama nasi ini. Saya belum menanyakannya pada teman-teman dari Surabaya Ri.
Ri, saya tinggal dulu yah. Saya mau tidur. Saya sudah capek. Saya harus mempersiapkan sebaik mungkin untuk hari esok. Acara televisi sudah tidak menarik minatku lagi. Semoga engkau bermimpi indah malam ini. Lembaran putihmu saatnya untuk tidak kucoret malam ini. Tapi aku sendirian Ri….

To be Continued…

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:04 22 Juni 2007

Advertisements

One thought on “Ri, yang cantik…

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s