Merasa Sedikit Lebih Pulang


Setelah melepas Bu Hanna, saya segera berganti pakaian. Sebentar lagi masuk waktu salat Jumat. Saya tidak perlu jauh-jauh mencari masjid karena ada masjid di belakang kantor. Namanya Masjid Shalahuddin. Masjid ini dibangun di masa kepemimpinan kepala kantor sebelumnya, yaitu Pak Haris FM.

Dari cerita teman-teman di sini, pendirian masjid dilatarbelakangi adanya pegawai yang sewaktu mau salat Subuh di luar sempat mengalami pemukulan. Akhirnya daripada keluar jauh-jauh cari masjid, Pak Haris FM berinisiatif mendirikan masjid di dalam kompleks perkantoran KPP Pratama Jayapura.

Continue reading Merasa Sedikit Lebih Pulang

Tifa di Hari Pertama


Lampu di ujung pesawat saat meninggalkan Jakarta.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya pernah meminta kepada pramugara Batik Air itu untuk membangunkan saya di waktu sahur, tetapi justru saya terbangun oleh suara samar-samar pengumuman. Saya beruntung bisa terbangun.

Pengumuman itu menginformasikan kalau waktu Subuh akan segera tiba 20 menit lagi. Jam ponsel menunjukkan pukul 03.10. Masih dalam mode Waktu Indonesia Barat. Saya segera menyantap roti yang disiapkan sebelum berangkat. Bismillaah, saya iringi pula dengan niat berpuasa Ramadan. Di luar jendela belum terlihat apa-apa selain gelap dan kelap-kelip lampu di ujung sayap pesawat.

Continue reading Tifa di Hari Pertama

Empat Jam dari Jakarta: Menyingkap Keberadaan Suku Terasing


Indonesia masih memiliki suku terasing sampai di era modern ini, seperti suku Togutil di Halmahera Utara, Suku Kombai dan Korowai di Papua, atau Suku Kubu di Jambi dan Sumatera Selatan.

Keterasingan ini bisa karena keterisolasian secara geografis. Namun, tidak jauh dari Jakarta, sejarak 160-an km, atau kurang dari empat jam perjalanan, tinggallah Suku Baduy di wilayah Provinsi Banten. Suku ini mengisolasi diri dari kemajuan peradaban. Jika mengutip penelitian Yunita dkk. (2025), suku Baduy merupakan suku bangsa yang masih teguh mempertahankan adat istiadat dan tradisi mereka.

Baca Lebih Banyak

Orang-Orang Kazakh


Menuju Makkah Almukarramah.

Pada zaman Kekhalifahan Utsmani, tepatnya di masa Sultan Abdul Hamid II, dibangunlah jalur kereta api dari Damaskus, Amman (Yordania), sampai ke Madinah. Jalur itu selesai dibangun pada 1908 dan mulai beroperasi pada 1912. Namun, sejak Perang Dunia I jalur itu mulai terbengkalai sampai sekarang. Stasiun Madinah dalam Jalur Kereta Hijaz itu menjadi museum belaka pada saat ini. Letaknya kurang dua kilometer dari hotel kami.

Namun, dari tempat mikat kami di Bir Ali, stasiun itu bukan tujuan kami, melainkan Stasiun Kereta Cepat Madinah. Stasiun ini sepi. Tidaklah seramai stasiun kereta yang ada di tanah air. Tempat parkir stasiun luas. Ada masjid juga. Bus yang mengantarkan kami langsung meninggalkan stasiun begitu semua penumpangnya turun. Tidak ada kendaraan lain, kecuali satu kendaraan polisi yang ikut meninggalkan stasiun juga. Sekilas saya melihat salah satu polisi itu merokok.

Continue reading Orang-Orang Kazakh

Kembali ke Bandung dan Sajak-Sajak Kecil kepada M


Saya kembali ke Bandung. Kota yang banyak meninggalkan kenangan sedari dulu. Goenawan Mohamad pernah menulis catatan pinggir dengan judul satu kata itu. Lead-nya demikian:

Di bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas budak. Ia namai pertemuan itu “Call”. Ia tak berkhotbah. Baby Suggs hanya berkata, “Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang pada rumput.”

Baca Lebih Lanjut

Seperti Umur Manusia, Serupa Usia Dunia, Perjalanan Ini Singkat Belaka


Perjalanan ini singkat belaka.

Kamis sore itu, usai mengikuti diklat di bilangan Pancoran, Jakarta, saya langsung menuju Stasiun Pasar Senen.

Saya diantar oleh tukang ojek pangkalan yang biasa mangkal di depan Kantor BPJS Ketenagakerjaan di Jalan Jenderal Gatot Subroto. Karena sudah berlangganan, pria asal Madura itu bersedia menjemput di mana dan kapan saja saya membutuhkan jasanya.

Sebelum sampai di Stasiun Pasar Senen, saya memintanya untuk singgah sebentar ke Kantor Pelayanan Pajak Jakarta Menteng Satu. Ada barang yang harus saya titipkan ke Pak Satpam di sana: pena Galaxy Samsung S8. Pena itu milik Mbak Ais, teman diklat, yang kebetulan terjatuh di tempat parkir mobil dan syukurnya berhasil saya temukan.

Baca Lebih Lanjut

Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko


Sabtu pagi itu, setelah salat subuh, saya segera check out dari tempat saya bermalam. Saya kemudian memesan taksi daring menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Jalanan lengang sehingga mobil yang saya tumpangi tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.

Saya kemudian mengantre di konter maskapai penerbangan untuk mendapatkan kertas fisik boarding pass. Sesuatu yang mestinya tidak saya lakukan karena ternyata di sudut lain bandara ada mesin untuk mencetak boarding pass secara mandiri.

Continue reading Cerita Perjalanan: Ini Bukan Kopi, Ini Cuko

Pengalaman Tes GeNose C19 di Stasiun Gambir


Gambar dari ugm.ac.id

Sebagai syarat perjalanan menggunakan kereta api, PT KAI mewajibkan para calon penumpang untuk menjalani tes bebas Covid-19. Sejak 5 Februari 2021, PT KAI menyediakan Tes GeNose C19 sebagai alternatif tes cepat antigen dan tes usap PCR.

Kali ini saya ingin menceritakan tentang pengalaman terbaru saya menjalani Tes GeNose C19 ini. Yang pasti karena sekarang zaman digital maka pembelian tiket dan kereta api dan pembayaran Tes GeNose C19 bisa secara daring.

Baca Lebih Lanjut

Semangkuk Empal Gentong Untuknya


Sekeluarnya dari peron Stasiun Cirebon, saya dipepet bapak tukang becak yang menawarkan jasanya. “Mau ke mana, Pak? Saya antar ya, Pak?” kata tukang becak itu dengan logat Cirebonnya yang kental-kental manis.

“Enggak, Pak,” tukas saya. Saya memang hendak ke penginapan yang tak jauh dari Stasiun Cirebon, namun spanduk besar berwarna kuning bertuliskan Empal Gentong Mang Darma sangat merisak selera saya di waktu jam makan siang ini.

Continue reading Semangkuk Empal Gentong Untuknya

Linouw dan Titik Nol Asa Bermula


Kepulan asap dari dunia di bawah Linouw.

Sepanjang tiga tahun dan empat bulan di Serambi Mekkah, tidak membuat saya mampu melancong ke Titik Nol Indonesia di Sabang atau Danau Laut Tawar yang berada di Takeng​​on, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.

Namun, pada suatu masa, akhirnya ada penugasan yang membawa saya ke suatu danau. Terletak di suatu tempat yang tidak pernah terpikirkan kalau saya bisa mengunjunginya: Danau Linouw, Tomohon, Sulawesi utara.

Baca Lebih Lanjut