H E N D A K


Tiga orang ini mengais-ngais kata dalam tumpukan mulut. Menjadi puisi. Yang menafsirkan tentang malam. Dengan tafsirnya masing-masing. Di sebuah kota kecil. Ramai dengan sepi. Angkuh dengan gemuruh ombak. Karenanya tempat mana lagi ketika kata-kata dijaja dengan murah sedangkan kami di sini menjadikannya pualam. Indah didengar. Itu pun jika tidak tuli. Izinkan ia memusikalisasinya.

H E N D A K
**
aku hendak mengukur malam
dengan secangkir kopi panas
dan sebatang ingatan menyala
yang asapnya bertengkar
siapa harus pertama
menggapai angkasa

aku hendak mengukur malam
dengan banyak mulut para penyair
dan huruf-huruf lara derita
yang tercatat teliti
dalam sajak-sajak siapa
harus mati lebih dulu
diterkam sepi berwajah srigala

aku hendak mengukur malam
sesaat untuk kali ini saja
dengan siapa yang didamba para pecinta
:rindu yang tak pernah muara
***

Riza Almanfaluthi
Tapaktuan 22:29, 12 April 2014

HENDAK

**

Aku juga hendak mengukur malam
Sepanjang ombak yang semakin lama semakin keras menerjang…
Sedalam luka sepi yang menganga serupa jahanam…
Selarut serpihan doa yang berkecamuk dalam samudra keniscayaan…
Saat pagi datang, malam masih saja tak mau pulang…
***

Sofan

HENDAK

**

inginku mengukur malam dengan apapun yang mencoba mengusik lelapku,.
serasa manis terbenam dilidahku..
senada lagu menelusup telingaku..
seriak ombak buyarkan nadi pikirku..
inginku mengukur malam dengan sebongkah asa esok kan hadir lagi..
***

Sudirman Napitupulu

Menjadi Hujan


image

Obituary yang kupesan seminggu lalu


Obituary yang kupesan seminggu lalu

 

sang penulis doa sedang duduk-duduk
di depan rumahnya di senja yang tipis dan tua
penanya gesit menulis obituari
tintanya pelangi, pekat
suatu detik ada hitam yang menyelip
baunya mawar menjadi merpati kemana-mana
menempel di sudut kursi
di balik daun-daun
di ujung antena televisi
bahkan di lipatan tangannya yang pesulap
ah, ada yang salah tulis
ia ambil sedikit kepingan matahari
yang biasa ia simpan di saku baju
menjadikannya penghapus
dan membiarkan kertasnya penuh bola-bola api
kian mengecil dan lincah menulis sebuah nama:
aku…….

Riza Almanfaluthi

Di lantai 19

12 September 2013

14:37

 

gambar diambil dari sebuah blog.

BULAK DALAM REMAH-REMAH SAJAK


BULAK DALAM REMAH-REMAH SAJAK

 

 

empat puluh katanya ekor monyet

yang membelit pohon-pohon

di atas nisan-nisan terbujur kaku

berdebu dan baru

aku jatuh dalam bayang-bayang

berwindu-windu lalu

di sebuah akhir ramadhan

dan syawal yang cuma segaris

dari tahun ke tahun

dengan tukang becak yang mengayuh peluh

atau kaki Werkudoro yang mendorongku ke sana

ke sebuah festival

mencumbui pasar malam

dan aku tersasar dalam kerumunan martabak, tahu petis, arum manis

bahkan aku menjadi pertapa

di bawah biduan-biduan Jakarta

moksa dengan tangan, kaki, tubuh

tersandera nada-nada dari seruling dan kendang

seketika aku tak tahu ada 40 pasang mata menatap cemburu

dari atas semak belukar yang gelap

atau dari riuh orang-orang yang memasuki gua hantu

atau dari cipratan adrenalin mesin-mesin retak

atau dari bawahku tulang-tulang

terserak gembira dalam sunyi

bermalam-malam cahaya menjadi bunting

melahirkan banyak anak

setelah matahari terbit yang ke sekian usailah pesta

pesta yang tak abadi

yang abadi cuma

empat puluh katanya ekor monyet

yang membelit pohon-pohon

***

Riza Almanfaluthi

di sebuah Bulak

di sebuah Jatibarang

22:28 25 Agustus 2013

 

Gambar diambil dari sini.

Teh dan Cutter di Suatu Hari dengan Matahari Cuma Jadi Pajangan


2013-04-29 08.39.43

Setumpuk pekat teh dan gula pasir terajang cairan panas, menggeliat kesakitan. Uap nanahnya menguar kemana-mana terbang melayang, menyelinap, dan memberontak hingga masuk ke hidung berdebu dan minggat tanpa pamit ke langit-langit yang dengan duka-cita menyambut. Kurang ajar. Ia tak tahu kalau aku kedinginan semalam dan butuh kehangatannya. Sedetik yang baru saja lewat, kita tak tahu untuk apa kita minum teh? Merayakan senin atau membuang gulana yang sudah jadi daki di leher? Sampan di ujung dermaga kayu ini telah siap melayarkanmu, dan terjun bebas di Niagara. Selamat pagi.

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

29 April 2013

 

 

S A L J U


S-A-L-J-U

hanya ada salju

tak ada yang lain

yang lebih putih di bulan Desember

aku nanar menatap pepohonan

karena ia menjelma menjadi dirimu

dalam sengkarut jiwa

yang menghapus jejak-jejak kaki

bahkan ingatan akan sakura

aku terbakar dalam dingin

merepih jilatannya yang tak berkesudahan

di dahan rantingmu

aku siap terbang

menjadi elang

mengangkasa

dan mencumbu rahasiamu

hitungan hari bersimbah detik-detik

lalu ia terhenti selamanya.

**

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

26 November  2012

Laki-laki yang Pernah Mampir di Situ Buleud


Laki-laki yang Pernah Mampir di Situ Buleud    


Tidak tahu pada apa yang merana di Situ Buleud, aku datang mencangklong takdir dengan rambut basah sisa-sisa gerimis petang tadi, seperti raja yang tersandung selendang nyai-nyai tonil. Tidak tahu pada apa yang bahagia di Situ Buleud, aku merajuk pada angin yang telah menemukan tempatnya untuk bersembunyi di kisi-kisi tubuh, seperti pengemis rakus menatap lubang kuburan yang akan menelannya besok. Tidak tahu pada apa yang tak ingin pergi di Situ Buleud, aku mendengar teriakan daun jatuh bersalto berkali-kali di udara menghinaku: “hai, itu perempuanmu!” Waktu jadi nol seketika.

***

29 Januari 2012

Riza Almanfaluthi, seorang PNS, penulis yang lahir di Indramayu 36 tahun lalu. Berpendidikan terakhir sarjana strata dua dan sekarang tinggal di Bogor. Pernah mengikuti Basic Writing Training for Beginner dan bergabung di Forum Lingkar Pena Depok sejak tahun 2007. Aktif menulis sebagai blogger dalam blog pribadinya di https://dirantingcemara.wordpress.com sampai sekarang.

Cerita pendeknya Titin Baridin mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik diskusi bulanan FLP Depok Agustus 2007. Puisi-puisinya pernah menjadi pemenang kedua dalam perlombaan Menulis Puisi Al Amanah Fair 2011.

Gambar diambil di sini

Jalanan di Suatu Malam Senin


image

Tak ada katak yang menjerit
Tak ada denting pedang
Selarik cahaya jatuh di hati
Sudah larut, segera tidurlah.

Sang A itu Aku


Sang A itu Aku

Di sebuah senja yang kehilangan merahnya karena gerimis yang cemburu, di sebuah kerumitan yang tak mudah terurai dalam kepadatan gerbong KRL, sang B, petang ini pulang menunggang lelah. Di selatan yang jauh dan biru, sang A, berdiri di sebuah stasiun sambil bersyukur, “Ah, kereta tadi kosong nian.”

Lalu ada yang mengejutkan ingatannya, bahwa ia harus mengirimkan sesuatu pada Sang B. Pesan maya terbang dari ujung handphonenya menuju pemancar terdekat, lalu ke langit, menuju angkasa, menuju sebuah satelit dan mengirimkan kembali kepada sebuah pemancar penerima, dan terbentuk sebuah tulisan di layar handphone Sang B. Saling berbalas.

Sang A    : Sudah di mana?

Sang B    : Baru di Manggarai?

Sang A    : Lagi berdiri atau duduk?

Sang B     : Ya pasti berdirilah. Hari gene duduk? Ngimpi kali.

Sang A    : Kenapa tak berdiri di ruang hatiku saja? Tak ada mimpi di sana.

Sang B    : Gedubrak, plekenthus… hi…hi…hi…

Sang A    : Tawamu mengisyaratkan putik yang jatuh di tanah basah

Sang B    : Preketieewwww

Sang A    : Itu cuma buih di pantai putih pikiranku.

Sang B    : &$&*#))*)(%$)(*

*

Sang A     : Aku

Sang B    : Kamu

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17.58 03 Februari 2011

Wangi-wangi Aini


Wangi-wangi Aini

 

Namamu Aini

sering kudengar teriak-teriakmu di bising pinggiran Jakarta

sepulang kerja yang memeluh dalam larut tak berkesudahan

 

Namamu Aini

sering kudengar celotehmu

yang begini dan begitu:

Hari ini tak masak woi,
capek nian rasanya,
kadang iri loh woi sama ibu-ibu rumah tangga itu,
yang cuma di rumah, belanja-belanji, ke salon, berkebun, nge-mal, senam, deesbe deesbe.

Ingin sekali bangun pagi-pagi, colek-colek suami, cium-cium sedikit,

dorong-dorong suami ke kamar mandi, memandikannya pakai air teh basi, menyuruhnya ke masjid,

menyiapkan baju buat ke kantor, cium-cium lagi, terus dadah-dadah di depan pagar.

Kalau suami sudah tak kelihatan,

balik masuk rumah, tidur-tiduran sambil nonton tipi, nonton sinetron
yang pemerannya sering mengoceh sendirian seperti orang kena skizofrenia

Jam 9 belanja sama ibu-ibu komplek, balik rumah sudah siang saja,

habis itu mandi, terus ke salon, pulang dari salon sudah sore,
mandi lagi deh biar wangi, terus menyusul suami ke kantor,

pura-puranya mau jemput begitu.

Mengajak suami ke Semanggi,

minta ditraktir nasi goreng udang yang enak nendang-nendang di lidah,
pulangnya minta es krim magnum 3 biji rasa almond,
habis itu pulang dan bobo manis.

Ah masak iya
bukankah kau sempat bilang pada suamimu sambil berbisik:

lupakan belanjaan yang tadi dibeli karena itu cuma buat memenuhi kulkas aja

setelah ini apa?

 

Namamu Aini

Sudah kubilang padamu

Di sebuah pagi yang basah

Di sebuah hari yang tak kerontang

Di langit yang selalu kelabu dan menjadi hitam

Kalau ibu rumah tangga pun sering berimajinasi

mereka iri padamu, pada sebuah nama yang sering

meloncat-loncat, tak dapat kutangkap di ingatanku

kalau engkau pekerja kantoran,

yang tak mululu melihat tembok rumah 4×3 itu

yang tak melulu mengurus anak.

Sepertinya enak kalau melulu pakai blazer, bedak, gincu, dan wangi,

melulu Louis Vuitton di tangan kiri

melulu tenteng Blackberry di tangan kanan,

dan melulu jadi alien saat di krl atau di bis atau di mobil dalam perjalanan

karena saking asyiknya Bb-an dan Twitteran.
Melulu dapat gaji di tanggal 25 atau awal bulan,

melulu shoping di jam istirahat di mal-mal,

melulu hangout habis kerja di kafe-kafe

sambil buka-buki laptop cari hotspot gratis,

update itu status:

"hai asyik juga steak di sini, elo semua kudu ngerasai enaknya, cheessss."

Melulu jadi sosialita, untung enggak ngedrag dan nyekek, kalau iya,

aku khawatir engkau jadi Apriani.

Melulu bisa cipika-cipiki dengan teman-teman yang juga sama

rapih dan wanginya.

Enggak dengan ibu rumahan yang melulu dasteran,

masih bau dapur dan ompol anak.

Melulu curi-curi pandang sambil berkata: oh my God

kepada pria-pria metroseksual yang kadang hampir saja

jadi banci tulen di dalam kesendirian mereka.

deesbe…deesbe…

 

Ah…namamu Aini

pada sebuah nama yang sering

meloncat-loncat, tak dapat kutangkap di ingatanku

ada yang bisu di sajak ini

karena kau pernah bilang ini cuma imajinasi yang sekarat menjadi delusi

tapi kalau kau tahu

ini memaksa tanah untuk memilin wangimu,

memanggil namamu

berseru dalam sunyi yang hitam:

datang padaku!!

**

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

27 Januari 2011