Di Bawah Bayang


Seringkali aku belajar pada puisi, ia guru yang sabar mengajariku cara menempatkan gerimis yang ritmis dan jatuhnya rindu di sela-sela dedaunan pohon mangga.

​Paling jauh aku diminta puisi,  guru yang sederhana, untuk memilih, membongkar-pasang, menghapus deretan kata-kata atau sekadar baiknya menaruh titik dan koma.

​Tapi dari semua itu, aku bisa belajar pada puisi, guru yang rendah hati dan tahu bagaimana cara terindah menyembunyikan mahaduka di sela-sela rerimbunan kata.

 

​***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 11 Juli 2017

Percakapan Bubuk Kopi



kita memesan dua gelas kopi instan kepada ibu pedagang minuman di depan stasiun itu sambil melihat lalu lalang, untuk bersama menikmati butiran pahit dan menyesali gula-gulanya.
​tapi kita tahu tak ada yang kebetulan dari semua persuaan ini serupa percakapan bubuk kopi dan panasnya air di suatu gelas, kini, agar waktu tak cepat pulang ada yang terus mengiba.

:​tenggelamlah ke dasar gelas, bercengkerama dengan ampas, dan kembalilah lekas-lekas.

 

​***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Stasiun Cawang, 10 Juli 2017

Di Bawah Pohon Mati


​Senja melolong perih kepada awan gelap yang ikut merintih saat satu burung terbang hinggap di dahan pohon mati yang memeluk senyap di Tarangire. Burung yang nanar menatap perempuan di bawah pohon itu masih memungut satu-satu gumpalan perih yang tercecer dari jantung sedihnya, berdegup kencang, dan berwarna darah. Terus berharap merupa angin untuk kembali menganyam waktu-waktu yang telah lewat. Ia tak berhak menjadi namanya, menjadi dirinya.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 7 Juli 2017

Tempat Keduanya Membanjir


aku membenci kenangan
karena itu akhir sebuah perjalanan

aku membenci renjana
karena itu awal jarak yang menjelma

lebih-lebih,
aku membenci syair-syair
tempat keduanya membanjir

aku penyair

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 6 Juli 2017

Sebermulanya Kau Dipelukku


​Perempuanku,
sebermulanya kau dipelukku
aku akan mendaku
engkau segala
untuk kuberi bahagia
engkau pelita
untuk kutaruh cahaya

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 5 Juli 2017

Burung-burung Nebraska


sebelum ke utara
di setiap musim semi
burung- burung tinggi
datang ke Nebraska,
sewaktu

sesudah masa isya
di setiap musim mimpi
bayang-bayangmu kembali
terbang di kepala,
selalu

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 4 Juli 2017

Pelangi di Atas Brooklyn


 

di antara celah mega mendung
bidadari kecil turun dari surgawi
menaiki gerimis lembayung
mampir di kota tak pernah sunyi

selendangnya bertaburan puisi
berisi pesan wangi kesturi
sehelainya menyentuh pipi
membawa kenanganku pergi

 

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 2 Juli 2017

Satu Daun yang Tak Pernah Risau


Berulangkali kau memuntahkan lahar dari perutmu yang bergolak sedari tengah malam. Yang jatuh di lantai kamar mandi yang mengilat itu adalah secuplik dua cuplik kata-kata dan kalimat  berwarna hitam yang langsung kauguyur dengan air kemudian menghilang menuju lubang pembuangan, menuju selokan kecil, ke selokan yang lebih besar, ke sungai, dan memuara ke Laut Jawa.  Semrawut apa yang kaumakan sebelumnya? 

Coba kauingat dulu. Atau barangkali kau memakan mimpi-mimpimu sendiri. Getir dan manisnya yang kaucoba mamah dengan setiap perasaan yang timbul dan tenggelam. Perasaan ini adalah perihal yang paling sulit diterima dari seorang pemimpi sekaligus pecinta. Mabuk dengan mimpi-mimpi kesturi namun dijerembabkan kepada kenyataan yang sebenarnya ketika terbangun di suatu Subuh yang suaranya parau memanggil-manggil.

Baca Lebih Lanjut.

Angin yang Menyulut Api


Entah kenapa kuburan ini membisu. Tentu membisu karena ketiadaan hidup. Di suatu waktu duha, di bawah pohon beringin raksasa, dengan dahan dan daunnya memayungi petak-petak baka dan segala keresahan, angin menyulut api berisik, menggoyang daun-daunnya, tapi yang jatuh bukan daun-daun yang tak mau jatuh itu, melainkan ribuan kelopak bunga dengan desirnya yang menyayat seperti musim gugur. Keracapnya itu membuat nada yang tak bisa dipahami oleh telingaku yang busuk. Saat ia jatuh tak berdaya ke tanah tak mampu juga untuk ditatap mataku yang penuh dunia dan untuk dimaknai sebagai apa. Tetapi, saat itulah, suatu sayatan pisau waktu menyobek ingatan tentang segelas kopi dan roti yang terbelah dua. Di sebuah stasiun. Remah-remah yang tersisa. Kelopak bunga yang berguguran.

Entah kenapa kafe ini membisu. Tentu membisu karena ketiadaan daya padahal di tempat yang sama begitu banyak orang menanam benih kegembiraan di pekarangan waktu mereka. Di suatu malam-malam yang ranum, harum, dan menyala, betapa keinginan meminum segelas kopi atau dua atau tiga atau terserahlah begitu merasuk dalam nadi pikirku yang apabila kusayat salah satunya di pergelangan tangan, meneteslah butiran sunyi. Setiap tetesan yang runtuh bukanlah hal yang sia-sia. Ada manis dan pahitnya. Makanya aku butuh segelas kopi atau dua atau tiga atau terserahlah untuk membumihanguskan aula malam, altar, dan segala isinya. Untuk satu perihal: ceracau cerita sendiri tak habis-habisnya. Sampai pagi. Sampai aku pulang.

Entah kenapa kuburan dan kafe ini membisu. Padahal kuburan dan kafe: sama saja. Telaga terelok para pecinta menenun kesunyiannya.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Tlogosari, 27 Juni 2017

Subuh di Suatu Dusun


Sementara kita mengabaikan Ramadan yang baru saja pamit sehari nan purba, maka pagi yang masih buta mengajak tanah becek untuk bersemedi, kabut untuk melayang, dingin untuk mendekap, suara bayi terganggu tidurnya untuk menggema, kokok ayam untuk melakukan kebiasaan sehari-harinya setiap pagi, tetes satu-satu air hujan bekas semalam yang menggelayut di daun-daun pohon untuk kemudian jatuh lunglai ke atas genting. Bunyinya memeluk antero. Tik, tik, tik. Meluruh seluruh-luruhnya. Dan ketika langkah kaki menginjak lantai dingin musala kecil, terperangahlah pada renta-renta yang segelintir menjadi pencari rukuk, kunut, dan sujud. Rukuk yang membuka kotak sepi, kunut yang menutup lubang pedih, dan sujud yang mewangikan ragi perih. Tiba-tiba ada yang meloncat dari sebuah raga dan melarikan diri untuk melihat segala dari sebuah ketinggian. Melihat sosok dirinya sendiri sedang terdiam, terpejam, dan khusyuk. Ia yang menjelma menjadi kabut, mendaki bukit, dan menghilang bersama waktu. Ada menjadi tiada.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lari Wringinputih-Borobudur
2 Syawal 1438H