SLOGAN ANTIKORUPSI HANYA OMONG KOSONG


SLOGAN ANTIKORUPSI HANYA OMONG KOSONG

 

Musim ujian nasional (UN) mulai dari SMU sampai SD telah usai. Sekarang mereka yang telah ujian tersebut berharap hasilnya menggembirakan. Dan bersiap-siap mendaftarkan diri ke kampus atau sekolah favorit mereka selanjutnya.

    Saya sebagai wali murid dari anak yang duduk di kelas 6 SD perlu memberikan catatan penting dari pelaksanaan UN tersebut. Tentu dengan memperhatikan berita fakta serta informasi yang masuk yang diberikan siapa pun kepada saya. Insya Allah tidak bohong.

Satu hal penting, UN bisa menjadi sarana tepat untuk mengukur sejauh mana upaya kecil kita dalam memberantas korupsi di negeri ini. Sekadar slogan omong kosong atau karakter. Semoga twit tanggal 8 Mei 2012 ini bisa dibaca siapa pun yang peduli dengan negeri ini.

(Gambar diambil dari sini)

  1. Masyarakat selalu gembar-gembor antikorupsi tetapi gak dulu melihat ke dalam & tanya sudahkah sy gak korupsi.
  2. Contohnya masih membiarkan anaknya jd calon koruptor dg membiarkan anak itu dpt kunci jawaban UN
  3. Kunci jawaban UN yg didapat dari guru atau sekolahnya langsung dibagikan sebelum ujian berlangsung.
  4. Loh bukannya sekarang soal & jawaban UN dikawal ketat oleh polisi. Itu cuma simbol. Formalitas. Faktanya banyak yg jebol jawaban UN.
  5. Jawaban UN dibeli oleh skolah negeri atau swasta. Dijual oknum. Semua bekepntingan. Oknum dpt duit. Sklh dpt prestasi & jaga kepentngn
  6. Kepentingan Sekolah negeri adalah kepentngan amankan kinerja kepsek & duit BOS. Sdgkan swasta untuk jaga kredibilitas nama sekolah.
  7. Apalagi dinas pendidikan punya alat ukur kinerja sekolah dg UN & target daerah 100% lulus. Itu bagus tp ditempuh dg cara haram.
  8. Yg dibawah harus taat. Klo gak, guru yg dimutasi. Makanya Segala cara ditempuh. Satu semester cuma belajar mata pelajaran UN.
  9. Lembaga bimbel masuk sekokah. Guru bisnisin jasa ajarnya ke anak didik. Bimbel dirumahnya.
  10. Yg terakhir cara haram itu ditempuh. Sekolah swasta yg gak mau cara itu dianggap pembangkang. Dan dianggap nyeleneh.
  11. Srkarang yg jujur dihina. Yg korup dipuji. Diapresiasi dg BOS. Dg dana rakyat yg dikumpul dari pajak.
  12. Cara lain adalah dg membeli pengawas. Pengawas diem bae saat contek2 masal terjadi. Merasa solider di sekolahnya jg lakukan yg sama.
  13. Coba bayangkan anak sedari kecil diajarkan cara curang tak jujur itu untuk raih kesuksesan. Gak diajarin proses. Selalu hasil & hasil.
  14. Gak ditanamkan nilai-nilai kejujuran. Nilai2 ihsan. Bahwa walo pengawas gak liat ada Allah yg mahamelihat.
  15. Gak ditanamkan nilai bahwa dapat nilai kecil tapi hasil dari jujur itu lbih baik daripada nilai besar tapi curang.
  16. Gak ditanamkan bahwa keberkahan itu lebih baik drpd hasil yg didpat dari kecurangan. Percayalah, efek dari unfair ini trasa di masa dpn.
  17. Apa? Timbul next generation yg instan. Gak mau capek dikit. Mudah menyerah. Hipokrit. Halalkan sgl cara. Manja. Dan pelanggeng korupsi.
  18. Semua ini salah siapa? Jelas sudah ada yg salah dalam sistem pendidikan kita. Cara perbaikinya gimana?
  19. Selagi sistemnya kayak gini ya sdah mulai dari diri sendiri dulu. Sambil jalan. Tanamkan kpd anak/anak didik nilai2 kejujuran&anticontek
  20. Tanamkan nilai ihsan bahwa semua yg kita lakukan dicatat oleh Allah. Satu soal yg dijawab dari menyontek satu dosa sudah dcatet.
  21. Tuk yg sekarang jadi orang tua & anaknya lg UN kalo menyetujui praktik ini & membiarkannya maka buat apa kecam anggota DPR sarang krptor
  22. Buat apa mengecam pemerintah skg korupsi kalo dianya jg ternyata pendukung praktik ketidakjujuran ini.
  23. Buat apa? Instrospeksi dulu yah… Semoga Allah lindungi kita dari perbuatan itu. *selesai.

     

Kesimpulan yang bisa diambil adalah jika kita curang dalam UN maka percuma teriak-teriak antikorupsi, itu hanya omong kosong.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:40 ditulis ulang pada tanggal 17 Mei 2012

 

Tags: ujian nasional, soal ujian nasional 2013, soal ujian nasional 2012, korupsi, kecurangan ujian nasional, kecurangan

ADZAN YANG DIKULTWIT


ADZAN YANG DIKULTWIT

Dulu saya mengira kalo ngetwit itu hanya sekadar igauan orang yang lagi tidur dan bisanya cuma membuat malas orang untuk menulis serta berpikir lebih tajam dan menukik. Pendapat saya itu ternyata kurang tepat. Menulis di manapun sebenarnya bisa. Termasuk dengan ngetwit.

Ngetwit tidak menghalangi orang untuk menulis. Bedanya memang ngetwit dibatasi dengan 150 karakter dalam setiap kicauan. Tetapi dengan batasan itu membuat kita berpikir lebih keras lagi agar kalimat bisa efektif, tidak mubazir, dan tepat pada sasaran. Ini menghindari juga kalimat yang berbusa-busa.

Yang memang tidak bisa digantikan dengan menulis biasa atau menulis di blog adalah pemakaian bahasa yang tidak sesuai dengan kaidahnya. Dengan demikian memang ngetwit dan menulis blog bukan untuk saling menyingkirkan keberadaannya masing-masing. Ngetwit adalah upaya yang sekadar menuliskan lintasan-lintasan ide dalam pikiran agar tidak hilang. Menulis konvensionalnya adalah jalan melengkapi ide-ide itu agar bisa dinikmati dan dimengerti lebih nyaman, dalam, dan rigid.

Maka daripada ide itu hilang, saya ngetwitlah. Contohnya saat di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) yang penuh itu, saya menuliskan lintasan ide tentang adzan ini. Daripada menghitung berapa lagi stasiun yang akan dilewati dan ngedumel karena KRL itu mogok lama di stasiun UI.

Saking asyiknya ngetwit, saya sampai tidak menyadari kalau KRL ini sudah terbuka pintunya di Stasiun Citayam. Silakan dikunyah.

clip_image001

(Muadzin kumandangkan adzan. Sumber gambar: Di sini)

1. #Adzan itu memang enak didengar. Keras ditelinga ataupun yang sayup-sayup. Apalagi klo yg adzan suara&langgamnya bagus.

2. #Adzan setiap waktu sholat punya langgamnya masing2. Ada yg bedain adzan shubuh dg maghrib itu dibedain. Apalagi klo dzuhur & ashar.

3. #Adzan waktu sholat siang kudu keras & membahana. Lantang. Karena harus bisa memenangkan desible dg kebisingan.

4. #Adzan tuk sholat di waktu gelap lebih lembut & menyahdukan. Muadzin yg pengalaman tahu soal ini.

5. #Adzan shubuh saking indahnya bahkan bisa bikin orang tidur lagi. :-p Tapi bukan karna ini ding. Niat, kemauan & hidayah Allah jd penentu

6. #adzan maghrib saya suka sekali. Apalagi klo lg naik kereta jakarta-bandung. Apalagi kalo lg di sawah. Syahdu sekali.

7. Kalo denger #Adzan jumat selalu inget waktu masih sd atawa smp sholat jumat di masjid muhammadiyah di kampung. Di pinggir sawah. Angin..

8. Anginnya semilir. Pokoknya #adzan jumat punya memori khusus. Bikin terkenang kampung halaman & masa lalu.

9. #Adzan shubuh akan bisa mengharukan kalo muadzinnya bagus.

10. Yang paling mengharukan adalah #adzan di masjdilharam. Mungkin karena hati sdh di frekuensi sama. Hati lg trance. Hati lg pasrah.

11. Hati lg deket bgt sama Allah. Jadinya setiap moment #adzan adlah kesmpatan bagus buat balas setiap kalimat adzan dg sebuah ksadrn betul

12. Allahu akbar. Kita balas dg Allahuakbar. Ditambah pemahaman kita & semua kecil kcuali Dia. Kalimat syahadat dll. Pokoknya gitu dah.

13. Maka bagusnya (bukan wajibnya) yg #Adzan yg punya suara bagus agar bisa gugah hati orang. Rasul SAw janjiin buat muadzin punya leher…

14. ..leher panjang di padang mahsyar sbg keutamaan buat mereka. Jgn artikan leterlek ye leher panjang kaya suku di Thailand.

15. Muadzin dpt kebaikan banyak karena dpt bangunkan orang dari lelap tuk sholat shubuh. Orang yg bangun shubuh dpt pahala banyak. Apalagi..

16. apalagi yg bangunin. Seorang ulama besar Mesir Hasan Al Banna punya kiat jitu tuk dapat kebaikan yg banyak daripada muadzin.

17. Caranya? Dia bangun lebih awal dan datang ke rumah muadzin yg mash tidur lalu bangunin muadzinnya. Mantap.

18. Mau dapat banyak kebaikan? Ya jadilah muadzin. Datang ke masjid atau musholla. Lalu berinisatif tuk adzan. Pamit dulu sama takmir/marbot

19. Nanti ada yg tanya kenapa anjuran itu tak buat perempuan? Perempuan jg pengn dpt kebaikan. Jwbnya: Karena perempuan tak punya kwajban…

20. …tak punya kewajiban ke masjid. Masalah kebaikan yg ingin didapat ada penggantinya. Apa? Perempuan bisa dg membangunkan suaminya,

21. Dan memintanya ke masjid untuk sholat. Bisa dg mematikan tv yg ditonton anak2 & meminta mrk ke masjid. Jgn dikira perbuatan itu sepele

22. Contoh lainnya banyak. Sekretaris prmpuan yg ingatkan bos waktusholat. "sudah adzan pak. Waktunya sholat.Rapat ditunda dulu." Pokoknya..

23. ..buat perempuan ada banyak stock kebaikan yg bisa diambil dg tidak #adzan di masjid. Jawab lain: karena suara prmpuan=aurat.

24. Inka Christy atawa Mel Shandy gak bisa jadi muadzin. Nanti nyimak & ngebayangin orangnya dah.

25. Jawab lain karena perempuan di setiap bulannya punya tamu yg sebabkan ia gak bsa ke masjid. Ini jawaban sy. Jawaban yg lebih fakih bisa

26. Liat di kitab fikihnya. So, sampai sejauh ini #adzan bagi saya waktu yg ingatkan sy tuk bersegera tinggalkan semua. Walau sy masih..

27. Berusaha dg keras tuk bisa penuhi panggilan itu. Masih belajar. Minimal punya rasa nyareset di hati & malu kalo gak bersegera.

28. Minimal jg gak ada penolakan sama #adzan. Atau bilang seperti ini: yg sayup2 lebih mengena di hati drpd yg keras2 volume toanya

29. Yg gak suka adzan keras & sayup2 itu cuma kuntilanak, siluman kebo, tuyul, genderuwo a.k.a setan yg lari terbirit2 masuk wc or

30. Karna takut kebakar. Panaaaas…panas.panas (ini bukan Armand maulana yg nyanyi) sambil tutup kuping.

31. Smoga kita jadi muslim yg baik yg tak lari terbirit2 denger suara #adzan atau yg ngedumel sambil bilang: "sholat lg sholat lagi."

32. Semoga kita diberikan kemudhan oleh Allah agar bisa bersegera tuk sholat waktu denger #adzan.

33. Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah tuk bisa ke masjid waktu denger #adzan. (yg ngetwit ini tundukkan hati)

34. Kalau masih silap ya Allah, ampuni aku.

35. Semoga Allah tidak menulikan hati dan telinga kita. Allahumma ‘aafini fi sam’ii. Aamiin. *selesai.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas KRL yang sedang alami cemburu

17.30 02 Mei 2012

PLURALISME ITU SAMPAH


PLURALISME ITU SAMPAH

    Seorang penuhan akal bilang di suatu jum’at, “jangan jadikan mimbar jum’at sebagai panggung untuk menebar kebencian terhadap pluralisme.” Tentu saya tak sepakat dengan pemikiran dari orang yang mendewakan akal ini dan ketika beragama maka Al Qur’an dan hadits diposisikan sebagai sesuatu yang layak untuk dikritisi. Dan itulah, menurutnya, cara berislam yang benar.

Kali ini tidak membahas akal manusianya itu, tetapi saya mengomentari pendapatnya dengan mengatakan padanya bahwa pluralisme agama itu hanya sampah. Tetapi sebelumnya saya akan mengenalkan definisi pluralisme sesuai dengan definisi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Soalnya mereka yang mengusung pluralisme ini masih tak sepakat dengan definisi dari pluralisme itu sendiri.

Pluralisme menurut Fatwa MUI Nomor: 7/Munas VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama, adalah:

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.


*Lambang-lambang agama (Sumber: di sini)

    Sekarang mengapa pluralisme itu sampah? Simak twit ini di @rizaalmanfaluth :

#mereka itu kalau ngeliat orang arab berjubah, langsung paranoid. Ini rasisme. Diskriminatif. Buah dari Plurali$me. Makanya sybilang: sampah

  1. Pluralisme: sampah. Karena memandang semua agama sama. Syariat di agama itu baik. Syariat Islam juga baik. Makanya kata #mereka, rukunlah
  2. Pluralisme: Sampah. Padahal Islam sudah dari dulu junjung pluralitas. Tolong bedain pluralisme dan Pluralitas.
  3. Pluralisme: sampah. Dg klaim semua agama sama, maka ini penghancuran syariat. Zina & Riba di Islam dilarang. Di agama lain belum tentu.
  4. Pluralisme:sampah walau tak mematikan smua agama melainkan memandulkannya . Gak ada kebaikanagamakarena dibalikin ke nafsu pribadi.
  5. Plurali$me: sampah krn jungkirbalikkan syariat. Alqur’an jadi mainan. Putar-putar ayat.Asal comot.Bebas tafsir. Pantes #mereka
    #salaharah
  6. Plurali$me=sampah Alqur’an digituin. Apalagi hadits. Ditolak kalau gak sesuai dg akal. Sholawat & kawinnya RasulSAW dipertanyakan.
  7. Pluralisme:sampah krn pd akhirnya #mereka ingin juga punya otoritas tafsir tersendiri. Tafsir sekarang yg dipakai umat adalah ortodoks.
  8. Pluralisme=sampah karena pengusungnya cuma omong doang. Harusnya #mereka berikan contoh. Mereka bisa rukun sama agama lain.
  9. Pluralisme=sampah. Kalo contoh itu mah Islam dah ngajarin dari dulu. Inklusifitas dalam sosial itu mah kudu sbg muslim.
  10. Plurali$me=sampah. Tetapi inklusifitas dalam akidah itu yang dilarang. #mereka
    #gagalpaham. Toleransi/campur baur dlm akidah NO WAY.
  11. Plurali$me=sampah. Kegagalan #mereka yg paling besar adalah mereka gagal memberikan contoh plurali$me yg #mereka usung dlm hidup sehari2
  12. Plurali$me=sampah.Anak #mereka gak mau anaknya kawin dg di luar agama mereka. Kasih contoh dong #mereka yang sudah praktikan?
  13. Plurali$me=sampah. Kalau #mereka mati, enggak dikubur, tetapi dibakar, dikremasi, dan abunya dibuang or mayat #mereka dilarung diGangga
  14. Plurali$me=sampah. #mereka gak kasih contoh haji di bulan muharram. Ke arafah, muzdalifah, mina. Iyalah gak ada temennya. Di sana sepi.
  15. Plurali$me=sampah. #mereka kan klaim bahwa jalan keselamatan ada pd semua agama. Tetapi #mereka gagal beri contoh untuk melepaskan…
  16. Plurali$me=sampah…melepaskanklaim formalitas keislamannya. #Mereka gak mau murtad. #mereka maunya jadi muslim tpi aturan Islam ditolak
  17. Plurali$me=sampah. Tapi ada salah satu dari #mereka yg berhasil memberikan contoh plurali$menya dg selingkuh. Selingkuh emang nikmat.
  18. Plurali$me=sampah. #mereka menolak poligami berketertiban, tapi sukses terapkan poligami barbar dg selingkuh. #mereka kan sdg bericontoh
  19. Plurali$me=sampah. Kalau urusan seks #mereka emang sukses tuk terapin formula plurali$menya, krn seks urusan paling dasar slain uang.
  20. Plurali$me=sampah, wajar kalau #mereka bilang kalau ciuman itu sedekah. Tapi sayang @syukronamin gak mau praktikkan plurali$me itu
  21. Plurali$me=sampah, dg mencium salah satu santri perempuan/jama’ah pengajiannya di hadapan audiennya. Padhal kalau sedekah dibalas 700x.
  22. Plurali$me=sampah, ini contoh terbesar kegagalan #mereka. artinya? #mereka takut tuk terapin apa yg diyakini mereka benar. @assyaukanie
  23. Plurali$me=sampah, #mereka masih gila hormat. Masih ingin dianggap sbg ustadz, kyai, gus, habib, lulusan yaman, agar bisa didengar massa
  24. Plurali$me=sampah. oleh masyarakat yg #mereka anggap sebagai fundamentalis karena mo menerapkan Islam dg kaffah. @syaltout
  25. Plurali$me=sampah, #mereka alergi sama term kaffah,makanya @assyaukanie sang generalisator & provokator ini PANIK UI ngadain lomba ngaji
  26. Plurali$me=sampah, atau gara2 paranoid sama yg berbau Arab Saudi?
  27. Plurali$me=sampah, padahal adalah hal lumrah UI mengadakan pekan budaya. Iran, China, Jawa, Kamoro dll. Tapi @assyaukanie & antek cuma
  28. Plurali$me=sampah, RISAU, GALAU, PANIK kalau pekan budaya itu berlabel Islam atau ada bau Arab Saudi. Tp #mereka tetep mau haji kesana.
  29. Plurali$me=sampah, so #mereka tak yakin dg kebenaran agama sendiri. Klo begitu knp masih ngotot sebagai muslim? #mereka tak bisa jawab .

Kita berlindung dari godaan pluralisme agama yang menyesatkan. Amin.

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:11 29 April 2012

 

Tags: jaringan iblis liberal, jil, luthi assyaukanie, ulil, ulil abshar abdilla, syukronamin, syukron amin, syaltout, pluralisme, pluralitas, pluralis, mui, majelis ulama indonesia

Lengang


image

Pagi ini Allah mudahkan urusan saya. Semoga sampai selesai hari ini dan selamanya. Amin. Berharap banget.

Tiba di stasiun Citayam awalnya berharap commuter line (comlen) jurusan Tanah Abang. Ternyata comlen jurusan Jakarta Kota belum tiba. Ya sudah naiklah saya ke comlen Kota itu.

Syukurnya pula, comlen ini tak biasanya, kosong. Tumben. Tapi selalu sih comlen Jurusan Kota ini lebih kosong daripada comlen yang menuju Tanah Abang. Mungkin karena comlen Kota jadwalnya lebih pagi.

Syukurnya pula saat berdiri di depan bangku khusus ada yang turun di Stasiun Depok Lama. Kesempatan langka dapat tempat duduk. Alhamdulillah. Walau harus bersiap-siap bangkit kalau ada yang lebih berhak untuk duduk di tempat itu.

Ada wanita muda masuk di Stasiun Depok Baru. Saya tak kasih duduk kepadanya. Terlihat tidak hamil. “Nanti ya Mbak, gantian,” saya berkata dalam hati. Saya juga orangnya tidak tegaan. Jiiiaaah.

Saat comlen mau masuk Stasiun Pasar Minggu saya bangkit. Sudah cukup untuk rehat kaki saya. “Sok atuh calik. Mangga.”

Bersyukurnya lagi adalah saya bisa ketik semua kejadian pagi ini, di KRL lengang ini. Tumben saya bisa menulis di KRL.

Sekarang comlen mau tiba di Stasiun Manggarai saatnya bersiap turun untuk transit dan naik KRL Ekonomi menuju Stasiun Sudirman. Keretanya persis di belakang comlen Kota ini.

Itu saja. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada semua roker (rombongan kereta) mulai pagi sampai KRL yang terakhir pergi dari Stasiun Jakarta Kota nanti malam.

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di pojok comlen dan pinggir peron 5 stasiun manggarai
06.24 20 April 2012

Foto diambil pada pagi pukul 05.44 WIB 20 April 2012.

18 TAHUN LAMPAU


18 TAHUN LAMPAU

 

Saya tak tahu apakah STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) akan buka pendaftaran enggak di tahun 2012. Tapi melihat antusiasme sebagian para lulusan SMU untuk masuk ke sana, saya jadi tertarik untuk ngetwit bagaimana pengalaman saya ikut ujian seleksi masuk STAN di tahun 1994. Waw, sudah hampir 18 tahun lamanya.

 

  1. #usmstan, melangkahkan kaki ke jakarta tuk daftar stan hanya ikut2an teman dari kampung di Cirebon.
  2. #usmstan milih spesialisasi pajak. Juga ikut2an teman. Punya satu bulan tuk belajar soal2nya.
  3. #usmstan maka belilah buku kumpulan soal stan dari tahun ke tahun di cirebon harganya 20rb. Termasuk mahal tuk saya & waktu itu.
  4. #usmstan belajar siang malam menghabiskan soal2 yg da di buku itu. Krn hanya berharap bisa kuliah gratis. Kampus lain? Boten gadah yatra.
  5. #usmstan habis2an belajar dan doa orangtua jadi upaya meraih cita.
  6. #usmstan sebulan berdarah2. Ini bahasa lebaynya. Pada waktunya pergi ke jkt menginap di rumah saudara bersama teman2.
  7. #usmstan pada hari h nya. Pergi dari cilandak mnuju senayan naik kopaja 66 lebakbulus senen.
  8. #usmstan bertemulah anak kampung dg mereka anak kota. Bawa banyak harapan. Minder jelas ada.
  9. #usmstan senayan yg begitu megah. Itulah pertama kali injakkan kaki di suatu artefak megah peninggalan king soekarno dr dinasti eralama.

     

  10. #usmstan ujian dimulai. Dimulai dg bismillah dan selesailah sampai siang. Cemas &berharap. Puluhanribu peserta yg diterima cuma ratusan.
  11. #usmstan setelah itu tak ngapa2in. Mnunggu saja. Seperti biasa malam dilalui dg numpang mnonton tv di hotel. Di rumah gak punya tv.
  12. #usmstan sampai pada waktunya di suatu malam. Sambil nonton tv pake telepon umum dilobi hotelnelpon temen di jakarta yg pantau kelulsan.
  13. #usmstan dulu gak spt skg. Gak ada hp, gak ada pager, internet apalagi. Dan sang teman yg telah pantau itu bilang kalau dia enggak lulus
  14. #usmstan dan saya? “kamu lulus,” katanya. Lemas dan gembira campur aduk kayak somay. Langsung sujud sukur di bawah tatapan banyak orang.
  15. #usmstan saya langsung pulang rumah. Beritahu ibu & bapak.Ibu berlinang air mata. Saatnya pergike jakarta. Satu2nya calon cpns dlm bani.
  16. #usmstan pelajaran yg bisa sy ambil: 1. Kerja keras tak mngeluh kejar masa depan 2. Doa tiada henti 3. Ridha dan doa orangtua.Itu kunci.
  17. #usmstan ini kunci yg bisa dipake siapa saja. Yg durhakasama orang tua niscaya gagal masuk stan. Kalobisa itu istidraj. Lena dari Allah.
  18. #usmstan tahun depannya adik saya lulus stan juga. Dia jurusan akuntansi. Sekarang dia di BPKP. Kami berdua jd kebanggaan orang tua.
  19. #usmstan kakak beradik masuk stan. Walau ada isu kami nyogok panitia #usmstan. Duit darimana? Dari.mbah sangkil?
  20. #usmstan Belajar tiada henti kuncinya. Yg bisa masuk bersyukurlah bisa ngalahin banyak orang. Yg belum lulus masih ada 2 kesempatan lg.
  21. #usmstan kalo masih belum bsa jg percayalah hidup tak berhenti. Masih banyak jalan menuju kesuksesan.
  22. #usmstan setelah diterima di stan perjuangn belum berhenti. Bhkan semakin keras berdarah2 lagi. Tapi itu ceritanya nanti. Skg yg penting
  23. #usmstan manfaatkan waktu sebaik mungkin dg belajar.
  24. #usmstan itu saja kali yah. Ohya jadilah orang yg + thinking. Khusnudhan sama Allah. Yakin Ia beri yg terbaik dg kamu masuk stan or not.
  25. Semoga bermanfaat. Teruslah hidup.

Habis ngetwit kayak gini, mulai jam 12 malamnya saya tidak bisa tidur sampai pagi. Maag kembali menyerang. Gara-gara tak bisa menjaga makanan dalam seminggu itu. Makan mie ayam tambah saos dan sambal pedas, sambel padang yang warnanya ijo itu, makan indomi rebus saat perut kosong, dan kebanyakan saos ayam goreng tepung. Akhirnya sabtu, minggu, dan senin cuma bisa di rumah. Menjadi pelajaran penting kalau sudah begini. Semoga tak terulang. Kepada para teman makan saya tolong ingatkan saya kalau sudah menyendok yang di atas itu. Terima kasih.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

7 April 2012 16:05

 

Gambar dari sini.

 

Tags: stan, sekolah tinggi akuntansi negara, pajak, akuntansi, bpkp, usmstan 2012, usmstan, senayan, kopaja 66, soekarno, orde lama

Negeri Atau Pesantren?


NEGERI ATAU PESANTREN?

 

Waktu saya masih di Jatibarang, Indramayu, sampai dengan tahun 1994-an yang namanya sekolah swasta Islam itu entah itu yang namanya Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, ataupun Nahdhatul ‘Ulama, semuanya itu adalah sekolah-sekolah yang tidak diminati. Semoga sekarang bisa lain ceritanya yah.

    Ada lagi sekolah swasta buat kalangan tertentu seperti Sekolah Dasar (SD) dan SMP Kristen. Disebut kalangan tertentu ini karena kebanyakan yang sekolah di sana adalah anak-anak keturunan Tionghoa yang kaya dan memegang kendali ekonomi Jatibarang. Yang menjadi populer dan jaminan mutu serta diminati oleh masyarakat pada saat itu adalah sekolah negeri, salah satunya SMP Negeri 1 Jatibarang. Setelahnya nanti bisa pergi ke Indramayu menuju Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 atau Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Indramayu atau ke Cirebon menuju SMA Negeri 1 dan 2 Cirebon.

    Bertahun-tahun kemudian setelah bekerja di Jakarta dan tinggal di Bogor lalu mempunyai anak-anak yang kini tumbuh dewasa dan siap lepas dari SD apakah SMP Negeri akan menjadi tujuan utama dari saya? Sungguh, demi Allah, tidak terpikirkan sama sekali, babar blas, walau anak pertama kami, Mas Haqi, menginginkan untuk bisa masuk SMP Negeri. Mengapa?

    Melihat kondisi dan situasi zaman sekarang terasa sekali bahwa sekadar sekolah gratis atau berlabel negeri plus RSBI, banyak prestasi yang diraih, pun dengan deretan piala yang terpajang tidak menjamin sekolah itu mampu membuat anak menjadi berakhlak dan kuat dalam menghadapi serangan-serangan modernitas. Muncul ketakutan-ketakutan yang terpikirkan seperti pergaulan yang salah arah hingga mengarah kepada pacaran sampai berhubungan seks, obat-obatan, serta akhlak yang tidak terpuji. Banyak pemberitaan yang mengabarkan hal itu.

Saya menyadari bahwa penilaian ini adalah penilaian subyektif dan relatif kami. Bahkan sebenarnya alasan yang paling mendasar adalah kelemahan kami berupa ketidakmampuan dalam memberikan pengawasan kepada anak-anak sehingga tidak berani untuk menyekolahkan anak kami di SMP Negeri.

Tetapi kami juga meyakini bahwa yang kami butuhkan untuk anak-anak kami adalah tidak sekadar sukses berprestasi secara akademik tetapi bagaimana mereka juga mampu untuk sukses berprestasi secara spiritual. Dan itu butuh miliu yang mampu membentuk semua itu. Pesantren, ya hanya pesantren yang ada dalam pikiran kami. Dari ribuan pesantren yang ada di tanah air ini, pilihan kami jatuh pada pesantren berbasis tarbiyah.

Pesantren berbasis tarbiyah bagi kami mampu untuk membentuk keduanya secara seimbang. Bahkan menukik pada orang per orang santrinya, lembaga seperti itu mampu untuk membentuk santri yang mempunyai akal yang cerdas, jasad yang sehat, dan ruh yang kuat. Bukankah itu adalah sebuah kombinasi dari sebuah ketawazunan?

Selain itu dalam pemikiran awam kami pesantren berbasis tarbiyah ini mampu bersikap moderat dalam fikih dan menekankan sekali pada interaksinya dengan alqur’an serta memberikan dasar-dasar atau pondasi tentang syumuliyatul Islam. Ini yang kami cari dan berharap banyak pada lembaga itu.

Dan bulan Desember tahun lalu, kami mulai browsing mencari pengumuman pendaftaran pesantren berbasis tarbiyah itu. SMPIT dan Pesantren Assyifa yang ada di Subang menjadi bidikan kami yang paling utama. Lalu terlacak dan terbayang alternatif lain seperti Pesantren Al Kahfi yang dekat dengan Lido, lalu Ma’had Rahmaniyah Al Islami asuhan Ustadz Bakrun Lc yang ada di Cilodong Bogor, serta SMPIT AlQalam. Yang terakhir ini tidak ada pesantrennya, hanya SMPIT.

Keempat-empatnya tidak mudah untuk dimasuki. Semuanya mengadakan tes seleksi masuk. Karena daya tampungnya masih lebih kecil daripada permintaan yang ada. Assyifa dan Al Kahfi dengan 1000 lebih pendaftar memang menjadi pesantren yang paling diminati.

Mas Haqi tidak lolos di Assyifa. Tidak apalah. Padahal kami memang berharap Mas Haqi bisa masuk ke situ. Hawa pegunungan yang melingkupi pesantren dan mendukung dalam proses belajar mengajar, serta sistem yang sudah mapan menjadi alasan utama kami memasukkan Mas Haqi ke sana. Ya sudah. Masih ada tiga alternatif lainnya.

Setelah mengetahui ketidaklulusan itu, kami langsung daftarkan Mas Haqi untuk tiga alternatif terakhir. Hanya dalam tiga hari kami sambangi semuanya. Jum’at (3/3) kami ke AlQolam, Sabtu ke Rahmaniyah, dan Ahadnya kami ke Al Kahfi. Sampai hari ini, Ahad (25/3) semuanya telah mengadakan tes seleksi masuk. Alhamdulillah Mas Haqi diterima di Al Kahfi dan AlQalam. Sedangkan pengumuman ujian Rahmaniyah nanti tanggal 3 April 2012.

Kami berdiskusi dengan Mas Haqi tentang harapan-harapan kami kepadanya. Dan kami memutuskan untuk mengambil Pesantren Al Kahfi sebagai tempat melanjutkan pendidikan Mas Haqi. Kami sudah daftar ulang. Dan Insya Allah tanggal 8 Juli 2012 kami harus bersiap-siap melepasnya karena pada tanggal itu adalah hari pertamanya di sana.

Masih ada satu ujian penting bagi kami dan Mas Haqi untuk bisa merealisasikan kehadirannya di tanggal 8 Juli 2012 itu yaitu memastikan bahwa Mas Haqi lulus dari Ujian Nasional. Ya, jika tidak maka tidak akan bisa untuk masuk pesantren itu. Bukankah syarat utamanya adalah lulus SD? Jadi kami meminta kepada Mas Haqi untuk tetap bersungguh-sungguh dalam belajar.

Semoga Allah meluluskan Mas Haqi, teman-temannya serta seluruh anak kelas 6 di seluruh tanah air, dalam Ujian Nasional nanti. Kepada pembaca, doakan kami juga.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:59 25 Maret 2012

Diunggah pertama di http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/26/negeri-atau-pesantren/

Gambar dari sini.

Tags: SMP Muhammadiyah, SMP Persatuan Umat Islam, PUI, SMP Nahdhatul ‘Ulama, SMP NU, SMP Negeri 1 Jatibarang, SMA Negeri 1, SMEA Indramayu, RSBI, syumuliyatul Islam, pesantren berbasis tarbiyah, SMPIT, Pesantren Assyifa, Subang, Pesantren Al Kahfi, Lido, Ma’had Rahmaniyah Al Islami, Ustadz Bakrun Lc, Cilodong, Bogor, SMPIT Al Qalam, pesantren Al Kahfi, Ujian Nasional, UN,

 

 

 

 

    
 

 

    
 

 

 

 

    
 

 

    

K A L A P


K A L A P

Niatnya pagi-pagi datang ke Islamic Book Fair (IBF) 2012 supaya benar-benar puas seharian di sana. Enggak jadi. Roda mobil baru menggelinding (tidak bermaksud mengutip judul bukunya Astuti Ananta Toer) dan betul-betul berangkat dari rumah sekitar 13.40.

Perjalanan harus ditempuh lama karena Citayam macet. Jalanan yang sudah sempit itu ternyata lagi ada gawean pemasangan kabel besar bawah tanah. Satu kilo ditempuh dalam jangka waktu setengah jam. Jalan tol lingkar dalam kota mulai dari Cawang sampai pintu keluar depan MPR juga padat sekali. Bahkan untuk masuk ke lokasi pameran saja antrinya luar biasa. Cari tempat parkir di dalam lokasi pameran juga susah. Kami sudah tenang keluar dari mobil pada pukul 15.30. Berapa lama tuh perjalanan menuju lokasi pameran? Itung aja sendiri.

Kami harus antri toilet dulu karena Kinan mau pipis. Setelah itu antri wudhu. Semua antrian itu panjang. Alhamdulillah kami sudah terbiasa. Belajar antri waktu di Mekkah, Arafah, Muzdalifah, Mina, dan Jeddah. Jadi diambil enjoy aja. Tapi yang pasti waktu untuk mengeksplorasi semua stan dalam pameran itu akan berkurang.

Demi efisiensi waktu kami membelah diri menjadi dua kelompok karena Ummu Haqi sukanya pernak-pernik yang ada di lantai 2 sedangkan saya sudah jelas jauh-jauh datang dari Bogor untuk cari buku yang ada di lantai 1. Haqi ikut sama saya. Sedang Ayyasy dan Kinan ikut umminya.

Ada teman yang kalap kalau di lantai 2 sedangkan saya biasanya kalap di lantai 1. Untuk mencegah kekalapan itu saya punya patokan yang kudu dipegang ketat seperti mafia Italia di AS yang pegang Omerta (pegang rahasia dan tak mau beritahu kepada polisi). Patokan itu adalah tak akan pernah beli buku yang tidak akan pernah dibaca seberapa pun menarik dan murahnya. Ingat itu!.

Dengan demikian buku-buku yang saya beli jelas memenuhi kriteria itu. Dengan waktu yang sangat terbatas maka kami berdua bergerak cepat menjelajahi sebagian ruang pameran. Lihat sana. Lihat sini. Bongkar sana. Bongkar Sini—ketahuan dah kalau yang dicari adalah buku obral. Banyak buku yang saya beli memang bukan buku baru. Tetapi ada satu yang sudah masuk radar kalap saya sejak lama sebelum adanya IBF ini, bukunya Akmal Sjafril yang punya judul: Islam Liberal 101. Dan satu lagi buku 3 tahunan ke belakang yang ditulis oleh Hiromi Sinya berjudul: The Miracle of Enzyme.

Buku baru Don Tejo Corleoncuk (Sudjiwo Tedjo) yang berjudul Ngawur Karena Benar, sempat tersentuh jemari midas saya. Tetapi sayangnya ia tak sempat menjadi Sang Terpilih. Nanti saja. Enggak prioritas. Sampai adzan maghrib berkumandang dua buku di atas belum ditemukan.

Kami berkumpul di rendezvous point yang disepakati di tribun atas depan panggung. Ternyata Ummu Haqi dan Ayyasy sudah shalat. Haqi dan saya pergi ke musholla Takaful, tempat kami shalat ashar tadi, dengan Kinan yang ingin ikut kami karena haus pengen es teh manis. Seperti biasalah kami harus antri panjang untuk wudhu. Ketika saya memanggil Kinan untuk duduk anteng supaya saya bisa mengawasinya dengan mudah, lelaki muda di depan saya menyapa dan mengatakan kalau anaknya juga punya nama sama dengan Kinan, tetapi anaknya itu laki-laki. Tak apalah.

Setelah shalat, saya langsung berburu buku sendirian. Yang lain duduk manis menunggu acara puncak di malam itu yakni 2nd Indonesia Nasyid Award 2012. Saya fokus seperti singa jantan di Kruger, tetapi tidak untuk memburu impala melainkan Islam Liberal 101. Akhirnya ketemu juga stan Media Dakwah itu. Ini mah stan yang tadi dilewati tapi saya enggak ngeh. Karena perburuan kami sebelum maghrib sebatas memperbanyak kuantitas stan yang dikunjungi dan tidak melihat nama-nama stannya.

Banyak buku yang didapat. Dan buku Akmal Sjafril itu adalah buku terakhir yang benar-benar saya tangkap. Itu buku didiskon semua. Amplop Rejeki cuma Rp20 ribu; The Mafia’s Greatest Hits Rp30 ribu; Keajaiban Sedekah dan Istighfar cuma ceban; Dari Jalur Gaza Ayat-ayat Allah Berbicara dan Serial Cintanya Anis Matta dibandrol Rp48 ribu; Zionisme dan Keruntuhan Amerika Rp15 ribu; Kebangkitan Pos-Islamisme, ini buku baru loh, dihargai Rp35 ribu; dan Islam Liberal 101 yang seharga Rp48 ribu. Bukunya Haqi, Ayyasy, dan Kinan enggak dihitung di sini.

Saya beruntung mendapatkan buku-buku di atas dengan harga murah. Sangat Puass (dengan huruf P besar dan s dobel). Saya berpikir, “O, inilah rasanya ibu-ibu setelah berhasil menawar kalau belanja sama tukang sayur keliling atau belanja di pasar tradisional.” Buku-buku itu sudah cukup mengenyangkan untuk dibaca sampai beberapa minggu ke depan seperti anaconda yang enggak makan lagi selama setahun setelah memangsa alligator.

Setelah mendapatkan semuanya itu saya menenangkan diri di tribun atas agar tidak kalap mata. Snada menjadi penghibur pertama kami. Dan penganugrahan nasyid solois jatuh kepada teman saya yang ada di Semarang, Mas DjayLazuardi Hayyanada yang bersaing dengan opick. Selamat Mas. Akhirnya tak sia-sia dukungan itu dikumpulkan.

Izzatul Islam menjadi penutup untuk kami segera beranjak meninggalkan IBF. Karena malam juga telah larut. Memang tidak semua stan dapat kami kunjungi tetapi sudah lumayan cukup untuk menuntaskan dahaga karena IBF tahun lalu yang terlewati tanpa kehadiran saya.

Semoga masih ada waktu untuk jadi singa di IBF tahun depan.

***,

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17:49 18 Maret 2012.

 

Tags: islamic booc fair 2012, Djay Lazuardi Hayya nada, Djaylazuardi hayyanada, ibf, snada, izzatul islam ,akmal sjafril, islam liberal 101, Hiromi Sinya, The Miracle of Enzyme, sudjiwo tedjo, don tejo corleoncuk, 2nd indonesia nasyid award, media dakwah, anis matta

Pegawai Pajak Juga Laporkan Harta Mereka


Pajak disorot lagi. Kasus DW membuat lembaga yang mengelolanya, Direktorat Jenderal Pajak, jadi bulan-bulanan media. Walau sempat mengirimkan hak jawab kepada Majalah Tempo atas pemberitaannya yang menyamakan pajak dengan palak, di media social seperti twitter dan facebook bahasan tentang pajak dan pegawainya tidak surut-surut.

Dengan adanya kasus ini, pajak yang dari semula memang fitrahnya tidak disukai oleh siapapun juga, semakin tersudutkan dengan banyaknya suara yang mempertanyakan kredibilitas para penggawanya dan penggunaan uang yang telah dikumpulkan DJP sebagai salah satu sumber penerimaan republik ini.

Banyak yang turut berkomentar. Apalagi yang merasa sebagai pembayar pajak yang berarti turut serta ikut langsung dalam memastikan bahwa Negara ini tetap berjalan dengan semestinya. Mempertanyakan duit gua kemana? Jamil Azzaini dalam akun twitternya berkomentar: “yang membuat kecewa, pajak terus ditagih tapi jalanan banyak yang berlubang dan rusak.”

Padahal DJP dengan slogan lunasi pajaknya, awasi penggunaannya sudah bilang kalau masalah penggunaan uang pajak itu sudah bukan lagi ada di wilayah DJP. Tetapi sudah masuk di wilayah satuan kerja para pengguna anggaran belanja Negara.

Ada yang menarik ketika follower Jamil Azzaini, juga ikut membalas kicauannya seperti ini: “yang menyedihkan lainnya kita harus lapor SPT, padahal harusnya orang pajak yang lapor uangnya sudah dipakai apa saja?”

Kalau diperkenankan untuk menanggapi tentang masalah pelaporan penggunaan harta para pegawai pajak ini maka sudah dapat dipastikan bahwa para pegawai pajak telah melakukannya. Pelaporannya lebih dari satu malah. Apa saja? Yuk kita simak.

Lapor SPT Tahunan

Berdasarkan aturan internal DJP, setiap pegawai pajak kudu punya yang namanya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Kalau tidak maka hak kepegawaiannya sulit untuk diberikan. Karena salah satu syarat kenaikan pangkat di DJP adalah pegawai tersebut harus memiliki NPWP. Upaya pewajiban memiliki NPWP bagi pegawainya bisa dilihat sebagai upaya untuk menjadi cermin keteladanan bagi masyarakat. Orang pajak minta rakyat Indonesia untuk memiliki NPWP sedangkan orang pajaknya sendiri belum memiliki NPWP, ini ironi.

Nah, konsekuensi dari memiliki NPWP adalah timbulnya kewajiban pelaporan SPT (Surat Pemberitahuan) Tahunan dari penghasilan yang diperoleh selama setahun itu. Setiap pegawai pajak yang menerima gaji atau penghasilan lainnya maka ia harus melaporkannya di dalam SPT Tahunan tersebut secara tepat waktu, benar, lengkap, dan jelas.

Dalam SPT Tahunan itu juga ada kolom harta yang harus diisi. Kolom ini mengisyaratkan jumlah harta yang dimiliki oleh pegawai pajak pada akhir tahun itu. Belum cukup, setiap kewajiban yang dimilikinya pun telah disediakan kolomnya untuk dicatat.

Maka bisa dilihat dan dianalisis dari mana ia dapat penghasilan dan digunakan untuk apa kekayaan para pegawai pajak tersebut. Walau sebagiannya tidak berwujud fisik barang maka paling banter adalah dalam bentuk uang kas atau tabungan yang dimilikinya. Terkecuali jika pasaknya lebih besar daripada tiang dikarenakan ia punya utang segede gaban atau habis dikonsumsi sehari-hari.

Masalah pelaporan SPT ini pun diatur oleh DJP. Dalam undang-undang disebutkan bahwa batas waktu pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi adalah paling lambat 31 Maret setiap tahunnya. Tetapi untuk memberikan contoh dan teladan yang baik kepada Wajib Pajak yang lain, maka DJP menginstruksikan kepada seluruh pegawai DJP untuk menyampaikan SPT Tahunan lebih awal. Di tahun 2012 ini batas pelaporannya adalah di tanggal 24 Februari 2012 yang lalu. Pelaksanaan penyampaian SPT Tahunan pegawai DJP ini dipantau betul oleh masing-masing unit kerja vertikalnya.

Lapor LP2P

Cukupkah dengan pelaporan SPT Tahunan? Tidak juga. Pegawai pajak seperti pejabat struktural, pejabat fungsional, pegawai yang memiliki pangkat Penata Muda (Golongan III/a) atau lebih tinggi, dan pejabat atau pegawai yang tugasnya terkait dengan pelayanan publik juga kudu lapor LP2P (Laporan Pajak-pajak Pribadi) kepada Menteri Keuangan.

Kewajiban ini sebenarnya sudah ada mulai tahun 1986, cuma sejak awal tahun 2011 pelaporannya lebih detil dengan adanya kewajiban pencantuman harta berupa tanah dan bangunan, kendaraan bermotor, uang tunai, deposito, giro, tabungan, setara kas, surat berharga seperti obligasi, saham, surat berharga lainnya yang dimiliki atau warisan dan hibah yang diperoleh.

Penyampaian LP2P dan daftar kekayaan ini paling lambat tanggal 30 April setelah tahun yang dilaporkan. Bagaimana bagi mereka yang tak mau lapor? Akan dikenai sanksi sesuai dengan perundang-undangan di bidang kepegawaian atau aturan lainnya. Penelitian dan penilaian LP2P ini dilakukan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan.

Lapor LHKPN

Nah ini ada satu lagi. Namanya Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang kudu dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Buat siapa saja kewajiban pelaporan ini? Buat pejabat Eselon I, Eselon II, Eselon III, Eselon IV, Fungsional Pemeriksa Pajak, Account Representative, Penelaah Keberatan, Fungsional Penilai Pajak Bumi dan Bangunan, Juru Sita Pajak, Pejabat Pembuat Komitmen, Bendaharawan, serta Panitia Pengadaan Barang dan Jasa.

Pengisian LHKPN ini lebih rumit dan detil daripada pengisian dalam SPT Tahunan ataupun LP2P. Menyangkut jumlah harta dan darimana harta itu diperoleh serta bukti-bukti kepemilikannya.

Setelah diisi, LHKPN ini wajib dilaporkan paling lambat dua bulan setelah pegawai pajak menduduki jabatan untuk pertama kali, saat dipromosikan atau dimutasikan atau pengangkatan, saat menduduki jabatan yang sama selama dua tahun, atau mengakhiri jabatan atau pensiun.

LHKPN dalam format pengumuman juga diumumkan oleh pegawai pajak sendiri di media yang telah disediakan seperti papan-papan pengumuman di kantor masing-masing. Tetapi rakyat Indonesia bisa mengaksesnya dengan mudah untuk melihat berapa kekayaan pegawai pajak itu melalui situs yang telah disediakan KPK.

Jadi sekarang Anda tak patut untuk sedih yah, karena mereka juga lapor SPT seperti Anda. Mereka juga lapor LHKPN dan LP2P. Dan ketahuilah kalau saya juga adalah pegawai pajak yang lapor ketiga-tiganya.

Semoga bermanfaat.

***

dipublikasikan dari: http://birokrasi.kompasiana.com/2012/03/14/pegawai-pajak-juga-laporkan-harta-mereka/

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

adalagi yang mempertanyakan?

21.36 13 Maret 2011

Madzi dan Koruptor


 

MADZI DAN KORUPTOR

Ngetwit di Twitter bisa berpahala dan bisa juga dosa. Apalagi kalau ngetwitnya itu dilakukan oleh orang yang punya follower ribuan. Bisa berpahala jama’ah bahkan sebaliknya, dosa jama’ah pula.

Berpahala karena ini menginspirasi banyak pengikutnya untuk sadar dan melakukan kebaikan. Bukankah Kanjeng Nabi pernah bilang untuk orang yang menunjukkan kebaikan maka pahalanya sama dengan yang melakukan kebaikan itu sendiri.

Akan berdosa jika kicauan itu menginspirasi orang untuk berbuat keburukan atau menempatkan prasangka-prasangka yang belum pasti kebenarannya di hati dan pikiran masing-masing. Kalau sudah tersimpan dalam memori susah untuk dihilangkannya. Maka nilai dalam Islam sudah membuat sebuah rambu kalau dzan (sangkaan) itu kebanyakan adalah dosa.

Bahas mani dan madzi panjang lebar di Twitter @syukronamin yang JIL ini memang keterlaluan. Sampai akhirnya berkicau begini:

Kamu lagi berduaan dg pacar, keluar madzi? Jangan panik. Cukup basuh madzi tsb. Jadi tetep bisa shalat jamaah berdua kan?

Jadi buat yg pacaran misalnya. Waktu lagi puasa, gara2 horny keluarlah madzi. Maka puasanya tdk batal. Jelas kan?

    Ya beginilah kalau orang-orang JIL punya pikiran. Karena dalam otak mereka adalah sebuah kewajaran sebuah energi kesalehan bercampur dengan energi kemaksiatan sekaligus. Ulil pintar mengaderisasi generasi penerusnya.

Belum lagi ghibah dan fitnahnya terhadap para ustadz dan keluarganya. Kepada Ustadz Yusuf Mansur yang dituduh sebagai ustadz matre, Ustadz Anis Matta sebagai koruptor di Banggar, dan Ustadz Salim Seggaf dan istrinya yang suka minta suap. Sama FPI? Apalagi. Tahu sendiri bukan kalau bicara suatu aib, bila benar jatuhnya kepada ghibah bila salah jatuhnya fitnah. Salut kepada Ustadz Yusuf Mansur mengomentari lulusan Universitas Yaman itu dengan: “semoga makin tawadhu’, banyak baik sangkanya, dan lebih banyak doanya.”

Nah, yang lebih seru lagi adalah saat @Gus_Sholah mengomentari pemberitaan Koran Tempo yang berjudul: Dhana, Kakak Kelas Gayus. Gus Sholah ngetwit begini: “Bg mrk, korupsi mgk adl cita2 sjk kuliah. Saya tahu dari retweet mbak @Listya_rien yang menanggapi Gus Sholah: “Statement anda menyakiti byk org gus..”

Terus terang yang tampak banget Gus Sholah sebut “mereka” itu bukan Dhana ataupun Gayus tetapi almamaternya. Apa? Sebut saja STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Ya sudah saya ikut komentari pernyataan beliau. Inilah egalitarianisme dunia maya. Seseorang yang sudah buka akun Twitter siap-siap untuk diuji argumentasi atas setiap pernyataan yang dibangunnya oleh siapapun ia. Dan itu harus diterima. Jika tak sudi, tutup saja akunnya. Pindah ke Mount Everest. Sepi dan aman cuma berteman dengan Yeti.

Gus, perkenalkan saya Riza kakak kelas Gayus dan adik kelas Dhana. Yang pasti jadi koruptor bukan cita-cita saya. Saya juga orang yang banyak dosa, tapi ingin jadi lebih baik. Dan jadi koruptor sekali lagi bukan sebuah cita. Pesantren dan universitas terkenal seperti UI bisa juga kita tanyakan kepada para alumni atau mahasiswanya: koruptor jadi cita-cita? Karena ada juga para koruptor itu punya latar belakang pendidikan dari pesantren dan UI. Tentu tak elok saya generalisir kepada dua institusi itu bahwa santri dan mahasiswanya punya cita-cita sebagai koruptor. Itu saja Gus. Maaf mengganggu siangnya.

Gus Sholah membalasnya. Tentang cita-cita saya tidak menjadi koruptor, beliau bilang, “Pasti dan syukur.” Tentang almamater beliau bilang, “dari pesantren dan ITB almamater saya tentu ada juga koruptor.” Tentang pernyataan @Listya_rien, Gus Sholah bilang: “tak bermaksud menyakiti.” Tentang Dhana dan Gayus, beliau bilang: “2 orang itu oknum, tdk mewakili yg lain.”

Tentang oknum saya juga bisa bilang: “Maafkan saya Gus. Kalau Gayus saya bisa katakan oknum. Tapi untuk Dhana saya tak bisa katakan oknum, selagi saya tahunya dari koran dan selama Pak Hakim belum memutuskan bersalah. Saya hormati asas praduga tak bersalah, tak semata dia dari instansi yang sama, tapi siapapun ia.”

    Ya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Selagi jari bisa mengetik, selagi mata bisa melihat, selagi telinga masih bisa mendengar, selagi mulut masih bisa bicara. Kita semua, apapun almamaternya, Insya Allah tak punya cita-cita untuk jadi seorang koruptor sewaktu dilantik jadi sarjana. Karena kita sepakat kalau korupsi itu harus dihilangkan seperti madzi yang najis itu. Kalau enggak, sholatnya batal, tidak sah. Sholat tapi masih korupsi, sholatnya jadi tanpa makna.

    Semoga kita, termasuk saya yang masih belajar untuk jadi bersih dan dijauhi dari dosa ini, dilindungi oleh Allah swt. Amin.

***

http://birokrasi.kompasiana.com/2012/02/26/madzi-dan-koruptor/

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 26 Februari 2012.

Lain kali kita bahas tentang generalisasi.