Pada zaman Kekhalifahan Utsmani, tepatnya di masa Sultan Abdul Hamid II, dibangunlah jalur kereta api dari Damaskus, Amman (Yordania), sampai ke Madinah. Jalur itu selesai dibangun pada 1908 dan mulai beroperasi pada 1912. Namun, sejak Perang Dunia I jalur itu mulai terbengkalai sampai sekarang. Stasiun Madinah dalam Jalur Kereta Hijaz itu menjadi museum belaka pada saat ini. Letaknya kurang dua kilometer dari hotel kami.
Namun, dari tempat mikat kami di Bir Ali, stasiun itu bukan tujuan kami, melainkan Stasiun Kereta Cepat Madinah. Stasiun ini sepi. Tidaklah seramai stasiun kereta yang ada di tanah air. Tempat parkir stasiun luas. Ada masjid juga. Bus yang mengantarkan kami langsung meninggalkan stasiun begitu semua penumpangnya turun. Tidak ada kendaraan lain, kecuali satu kendaraan polisi yang ikut meninggalkan stasiun juga. Sekilas saya melihat salah satu polisi itu merokok.
Sering kita mendengar perjalanan haji dengan menggunakan mobil, motor, sepeda, atau jalan kaki menuju kota suci Makkah dengan melewati banyak perbatasan negara. Kali ini, secara acak, saya melihat konten di media sosial tentang perjalanan haji unik dari Spanyol. Moda transportasi yang mereka gunakan adalah makhluk hidup: kuda.
Peziarah itu adalah Abdallah Hernandez, Abdelkader Harkassi, dan Tariq Rodriguez. Ada satu orang bernama Bouchaib Jadil berada di mobil yang mengiringi mereka untuk memberikan dukungan logistik. Baca Lebih Banyak
Pesawat Boeing 777-368 (ER) Saudia Airline ini berada di ketinggian 10.000 kaki. Di atas Laut Andaman. Masih ada ratusan kilometer lagi jauhnya dari Banda Aceh, bahkan sekitar tiga jam perjalanan lagi menuju Jakarta.
Di samping saya, di kursi tengah, adalah laki-laki yang berusia hampir 80 tahun. Namanya Aziar Abdul Muluk. Dalam rombongan kami ia sering dipanggil Kakek. Kakek Aziar ini sangatlah tangguh untuk mengikuti seluruh agenda yang diberikan oleh mutawif, berbanding terbalik dengan tubuhnya yang menua.
Stasiun Jatibarang pada 29 Desember 2017 (Foto milik pribadi).
Buat saya, mengingat sosok ayah adalah mengingat tentang literasi dan kereta api.
Di keluarga kami, anak-anak memanggil ayah dengan sebutan Bapak. Bapak adalah penjual majalah bekas, teka-teki silang (TTS), dan novel, selain menjual barang kelontong di rumahnya di kota kecil bernama Jatibarang, Indramayu.
Dari peristiwa jatuhnya Korean Air, kita menjadi tahu, cara berkomunikasi di dalam kokpit menjadi batas tipis antara hidup dan mati.
*
Kecelakaan Jeju Air pada 29 Desember 2024 menyentak dunia penerbangan. Sebanyak 179 penumpang dan kru pesawat meninggal dunia. Dua orang selamat. Insiden ini tak lama setelah jatuhnya pesawat Azerbaijan Airlines di Kazakhstan beberapa hari sebelumnya.
Dalam sejarah dunia penerbangan Korea Selatan, ada tragedi yang lebih parah lagi, yakni pada saat Korean Air meleset mendarat di Bandara Guam pada 6 Agustus 1997. Kejadian ini merenggut korban sebanyak 228 jiwa.
Namanya Arie Irawan. Bang Arie adalah panggilannya. Lelaki Betawi berpeci dan berambut panjang ini meneruskan usaha menjual kerak telor dari mendiang engkong dan babehnya. Sejak tahun 2000 ia menekuni usaha itu. “Setiap tahun saya juga jualan di PRJ (Pekan Raya Jakarta),” katanya. Kerak telor memang sudah menjadi ikon PRJ sejak dulu. Ada sekitar 60-an pedagang kerak telor di area dalam PRJ. Mereka tergabung dalam paguyuban penjual kerak telor.
Usai perhelatan itu, ia langsung membayar uang muka kepada paguyuban PRJ untuk memastikan tahun depan lapaknya tidak tergantikan. Nilainya besar sekitar puluhan juta rupiah. Biasanya ia mangkal di Kranji, di depan Kantor Kecamatan Bekasi Barat. Selain itu, ia mengikuti kegiatan UMKM di kantor-kantor. Contohnya di Kompleks Pajak Kalibata selama dua hari ini. Dari rumahnya di Bekasi, ia menyewa taksi daring untuk membawa pikulan dan peralatan masaknya ke Kalibata.
Langit gelap di atas Kalibata. Saat itu hujan hampir reda. Ikamah Asar berkumandang dari pelantang Masjid Salahuddin. Saya bergegas ke masjid dan mengambil air wudu.
Ada satu orang yang tidak salat. Anak belasan tahun dengan baju basah sedang memegang payung lebar. Sepertinya ia ojek payung yang sedang menunggu para jemaah menyelesaikan salat. Anak itu menunggu di luar halaman masjid. Hujan menyisakan gerimis. Baca Lebih Banyak
Saya kembali ke Bandung. Kota yang banyak meninggalkan kenangan sedari dulu. Goenawan Mohamad pernah menulis catatan pinggir dengan judul satu kata itu. Lead-nya demikian:
Di bawah celah di antara rimbun pohon-pohon hutan di Ohio, wanita tua itu memimpin pertemuan para bekas budak. Ia namai pertemuan itu “Call”. Ia tak berkhotbah. Baby Suggs hanya berkata, “Di tempat ini, di sini, kita daging, daging yang nangis, ketawa; daging yang menari dengan kaki telanjang pada rumput.”