RIHLAH RIZA #34: THE GLADWELL EFFECT


 

RIHLAH RIZA #34: THE GLADWELL EFFECT

 

 

Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuat keluarganya kaya raya.

(Pepatah Cina)

 

 

Ini pertama kalinya saya membeli buku secara online. Kurang dari tiga hari dua buku bertemakan psikologi sosial dari Surabaya itu sudah sampai di Citayam. Kenapa tidak dikirim ke Tapaktuan? Karena sudah jelas ongkos kirimnya hampir sama dengan harga bukunya. Kebetulan minggu depan saya akan pulang ke rumah, jadi bisa sekalian saya ambil dan bawa ke Tapaktuan nantinya.

Buku-buku karangan Malcolm Gladwell itu benar-benar ingin saya baca. Keinginan yang tak tertahankan. Penantiannya seperti bocah yang dibelikan sepatu baru dan dia tidak sabar menunggu esok hari untuk memakainya. Buku pertama berjudul Tipping Point: Bagaimana Hal-hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar. Sebuah buku lama yang terbit di tahun 2002 dalam bahasa Indonesia dan saya terlambat tahu. Sedangkan buku lainnya adalah buku yang terbit pada November 2013 berjudul David and Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa.

Buku-buku Gladwell—nenek dari nenek buyutnya adalah seorang budak di Jamaika yang diperistri oleh pendatang dari Irlandia di tahun 1784—lainnya seperti Blink, Outliers, dan What the Dog Saw sudah saya miliki dan baca sampai tuntas. Bukunya menarik, enak dibaca, ringan, menjungkirbalikkan pendapat dan pemikiran yang sudah mapan selama ini. Seperti pembahasan tentang perempuan yang haidnya tidak teratur. Mereka itulah yang sebenarnya lebih sehat daripada perempuan yang setiap bulannya haid. Ada lagi tentang kesuksesan itu tidak bisa dimungkiri karena faktor keberuntungan, tinggi badan, ketampanan atau saat tepat kapan Anda dilahirkan.

Perkenalan pertama saya dengan buku mantan jurnalis Washington Post ini adalah saat saya membaca buku best seller versi New York Times yang berjudul Outliers: Rahasia di Balik Sukses. Buku ini menyelip di antara berbagai hadiah yang saya terima sewaktu menjuarai Lomba Menulis Artikel Perpajakan di tahun 2012 itu. Akhirnya setelah membaca sampai tuntas saya tertarik dengan buku lainnya. Blink dan What the Dog Saw menyusul. Saya berburu buku secara offline di banyak toko buku untuk mendapatkan Tipping Point. Nihil. Dan setelah setahun lebih akhirnya pencarian itu bakalan berakhir. Beli buku online jadi solusinya.

 

Tiga buku itu (Foto koleksi pribadi)

 

Nah, di antara semua bahasannya yang menarik ada satu bab di buku Outliers yang ingin sedikit saya ceritakan di sini. Tepatnya di bab Bertani Padi dan Ujian Matematika. Bab yang bercerita tentang kegigihan bangsa Asia—terutama Cina, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, dan Jepang—di antara bangsa-bangsa lainnya. Kegigihan itu hasil dari kebudayaan yang dibentuk dari tradisi pertanian dan pekerjaan mereka yang berharga. Bagaimana mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan beras. Karena beras adalah panduan kehidupan mereka setiap hari. Sampai muncul peribahasa para petani seperti ini: Tidak ada seorang pun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuat keluarganya kaya raya.

Dalam Islam konsep kerja keras yang dimulai dari pagi hari termaktub dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Athabrani. Rasulullah SAW bersabda, “Seusai shalat fajar (shubuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” Dari hadis ini sudah mafhum kalau rezeki kita mau banyak dan bertambah maka bangunlah pagi. Saya yakin teman-teman saya di Jakarta sudah banyak yang menerapkan kaidah ini. Ya, bagaimana tidak kalau mereka sudah harus berangkat kerja bahkan sebelum azan subuh berkumandang. Jika terlambat bangun jangan berharap bisa masuk kantor tepat waktu berhubung jalanan Jakarta yang begitu padatnya.

Di Tapaktuan, Insya Allah saya mencoba mengamalkan ini. Saya berusaha dengan keras agar bisa salat subuh–yang ada di kisaran jam setengah enam pagi—ke masjid. Setelah itu membaca ayat-ayatNya walau sedikit. Lalu membaca buku. Berbaring sebentar sambil melihat-lihat hp. Membersihkan kamar. Membereskan apa yang perlu dibawa ke kantor. Kemudian sebelum jam tujuh pagi pergi mandi. Tak lama saya berangkat ke kantor sambil mampir terlebih dahulu ke warung langganan untuk membeli nasi gurih sebagai sarapan. Pokoknya sebelum jam setengah delapan pagi saya sudah ada di meja kerja. Bisa berangkat jam tujuh lebih itu adalah sebuah hal yang patut disyukuri, karena kalau di Jakarta mana mungkin bisa tiba di kantor tanpa terlambat, kecuali yang rumahnya hanya berjarak sepelemparan batu.

Saat saya datang, terkadang ruangan masih gelap, tidak ada siapa-siapa, atau sedang dibersihkan. Setelah saya duduk biasanya saya akan ambil buku agenda kerja dan menuliskan apa yang harus saya lakukan seharian ini. Pokoknya hari itu harus ada yang saya pikirkan dan lakukan untuk negara. Kasihan negara sudah bayar saya tapi saya tidak berbuat apa-apa. Pertanggungjawabannya bukan sekadar di dunia tapi juga di akhirat. Ini juga sebenarnya berkaitan dengan volume pekerjaan yang tentunya jauh lebih sedikit daripada pekerjaan yang ditangani teman-teman saya di Jakarta.

Datang sebelum jam setengah delapan pagi, presensi di finger print, tanpa balik lagi ke rumah adalah komitmen yang berusaha saya jaga betul. Bukan apa-apa, bukan pula merasa paling baik, bukan untuk bergaya, bukan merasa mantan orang kantor pusat DJP. Melainkan hanya sekadar untuk menjaga ritme yang sudah terbentuk selama ini di Jakarta. Soalnya khawatir kalau tidak dijaga, penyakit malas saya sebelum modernisasi DJP kumat lagi. Kalau sudah kumat maka pemulihannya butuh waktu lama. Juga dalam rangka persiapan ketika ditakdirkan menekuni kembali ritme kerja yang sudah harus dimulai dari kehebohan di pagi hari, maka saya sudah tidak perlu penyesuaian lagi. Hanya itu. Selainnya adalah efek samping.

Anda tahu efek utama dari bangun pagi? Banyaknya keberkahan dan keberuntungan. Yang bilang Nabi SAW sendiri. “Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan (HR Athabrani dan Al-Bazzar).” Apalagi Kanjeng Nabi SAW mendoakan umatnya mendapatkan keberkahan di pagi hari. Dan nilai keberkahan itu tidak bisa dibandingkan dengan gunungan harta yang ada di muka bumi ini. Tak sekadar akan menjadi kaya raya. Bahkan jauh lebih berharga dan tak ternilai. Bahagia adalah salah satu contohnya. Namun kebahagiaan ini tak bisa dibeli dengan uang.

Bicara bangun pagi maka analogi orang yang bangun pagi itu adalah orang yang start untuk sprint tepat pada waktunya. Yang tidak bangun pagi adalah orang-orang yang terlambat. Bangun pagi menjadi karakter utama dari para pekerja keras, walaupun frasa itu sekarang ini sedikit tergeser dengan frasa pekerja cerdas. Tapi tetaplah kerja keras menjadi tulang punggung dari sebuah keberhasilan. Lelah dan susah payah ketika bekerja keras sudah menjadi risiko. Selalu menyertai dari setiap usaha apa pun. Dan…

Bukankah Rasulullah SAW sudah menegaskan, “Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus dengan pahala salat, sedekah, atau haji namun hanya dapat ditebus dengan susah payah dalam mencari nafkah. (HR Athabrani). Sebagaimana hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. Siang dapat malamnya pun dapat. Lalu mau apalagi? Iya ada lagi, jika bekerja keras dan sebaik-baiknya itu diniatkan untuk mencari nafkah buat keluarganya. Ini sepadan dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. Subhanallah.

Terakhir. Sisi positif yang baru saya ketahui adalah bisa jadi bekerja di kota kecil ini menjadi sarana terbaik untuk men-delete catatan dosa yang selama ini menghitam di hati. Saya berharap betul. Nah, buat teman-teman, sayang kalau dilewatkan begitu saja kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk bisa bekerja keras dan sebaik-baiknya di Tapaktuan atau di mana saja berada. Keberhasilan dan kesuksesan itu bukan buat orang lain melainkan buat diri sendiri. Janganlah lihat orang lain. Ingat satu hal yang pernah diucapkan Colin Powell : “There are no secrets to success. It is the result of preparation, hard work, and learning from failure.”

Well, saya mendapatkan banyak hal dari Malcolm Gladwell.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 13 April 2014

Ditulis dalam rangka 14 tahun milad Mas Haqi.

 

Tiga Buku Al-I’tishom


image

Kemarin malam ada tamu yang menyerahkan tiga buku ini. Niatnya cuma beli buku yang paling atas. Eh, ditawarkan dua buku yang lainnya. Lumayan buat baca-baca.

KITAB WARISAN NABI


KITAB WARISAN NABI

Jika Anda berkesempatan untuk ziarah ke makam Nabi Muhammad saw di Masjid Nabawi, Madinah, entah pada saat umrah ataupun di musim haji, maka saya berpesan kepada Anda untuk bisa mendapatkan buku bagus yang satu ini.

    Banyak sekali memang buku yang dibagikan secara gratis di sana oleh pengelola Masjid Nabawi. Sebagian besar buku itu diterbitkan dengan tema-tema mazhab resmi Kerajaan Saudi Arabia. Dan menurut saya buku inilah yang terbagus. Saya rekomendasikan kepada Anda buku yang berjudul Miiraatsun Nabiy: Bi Lughatil Indunaysiyah ini. Artinya:
Warisan Nabi: Dalam Bahasa Indonesia.

    Kitab itu ditulis oleh ‘Ubaid As-Sindi, diterjemahkan oleh Abu Yusuf, dengan penyunting Abu Sulaiman. Judul terjemahannya adalah Fadhailul A’mal Menurut Sunnah Nabi. Ya, memang buku ini merupakan kumpulan hadits-hadit Nabi Saw bertemakan fadhailul a’mal dengan derajat shahih, minimal hasan.

    Buku dengan jumlah halaman 104 ini terbagi dalam 149 subbab ringkas. Beberapa subbabnya adalah tentang pahala sakit, pahala minum air zam-zam, pahala sabar atas bencana walau sedikit, pahala penduduk madinah, pahala sedekah kepada suami dan kerabat, pahala sifat malu, dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Jika bisa dikatakan kitab ini adalah miniatur dari Kitab Riyadhus Shalihin atau Kitab Targhib wa Tarhib Imam Al Mundzir. Kitab yang berisikan hadits-hadits anjuran dan larangan. Dan memang kitab tulisan Imam Nawawi adalah kitab yang harus ada dan menjadi bacaan di setiap rumah kaum Muslimin. Cuma bedanya, Kitab Warisan Nabi ini hanya bertemakan bab-bab anjuran (targhib), tidak ada tema tentang peringatan (tarhib). Maka jangan heran, tak akan ditemukan di sana kata-kata bid’ah itu sesat, sesat itu neraka seperti biasa terlontar.

Hadits-hadits yang ada di sana pun sudah diseleksi atau disaring dan diperas sedemikian rupa sehingga yang ada hanya hadits berderajat sebagaimana telah disebutkan di atas. Namun tetap saja ada kekurangan dari buku ini. Bukan pada isinya yang sudah jelas bagus-bagus itu, melainkan pada alat bantu yang seharusnya ada pada buku ini: daftar isi. Ketiadaannya memang menyulitkan buat pembaca dalam pencarian cepat hadits-hadits yang dikehendaki.

Di mana Anda bisa mendapatkannya? Saya lupa mencatat di pintu nomor berapa. Tetapi seingat saya mengaksesnya melalui pintu sisi kiri Masjid Nabawi. Ruangannya berada di lantai atas tepatnya di lantai tiga, naik via tangga dan bukan eskalator. Atau tanya saja kepada para penjaga masjid keberadaan maktabah. Ruangannya
sempit dan banyak buku serta cd audio dan video yang bertebaran di banyak meja yang ada di sana. Minta kepada penjaga perpustakaannya: miiratsun nabiy, insya Allah dikasih. Minta
yang banyak buat dibagikan di tanah air sebagai oleh-oleh.

Sekadar catatan, Masjid Nabawi itu ada tiga perpustakaan. Pertama Maktabah Masjid Nabawi yang berada di Babul Umar dan Babul Utsman, kedua: Maktabah Shauthiyah, dan ketiga: perpustakaan khusus untuk wanita yang berada di pintu nomor 24*). Nah, saya kurang mengetahui yang saya kunjungi itu perpustakaan yang pertama atau yang kedua. Jangan putus asa untuk mencari jika belum ketemu, pakai bahasa tarzan dengan bilang kepada penjaga masjid: Miiratsun Nabiy. Semoga ditunjukkan oleh Allah tempat itu.

 

***

*) Sedikit catatan diikutip dari blog: pustakakita.wordpress.com

Foto koleksi pribadi

 

Riza Almanfaluthi

@rizaalmanfaluth

12:17 23 Maret 2013    

diunggah pertama kali di http://Islamedia.web.id

    

Ini 6 Buku yang Didapat Kemarin


image

Total cuma Rp110.000,00.
1. Fikih Jihad cuma gocap;
2. Mensufikan Salafi dan Mensalafikan Sufi cuma Rp14.000,00;
3. Membagi Harta Waris cuma Rp15.000,00;
4. Mukijizat Kota Madinah cuma ceban;
5. 100 Kiat Bagi Orang Tua harganya ceban juga.
6. The Money Dragon cuma ceban.

Kriteria beli bukunya:
1. yang kudu dibaca. Kalau murah tapi tak dibaca tetap tak dibeli.
2. ada diskonnya. Tetep.

Sekarang lagi memulai buku nomor dua.

Selamat membaca untuk majunya peradaban.

Ceban-go Dua Buku


image

Ceritanya selesai sidang di Pengadilan Pajak. Lalu kami pergi ke kantin untuk makan siang. Depan koperasi ada lapak buku dadakan. Murah-murah bukunya. Dan saya menemukan dua buku ini: The Escape Story dan Michael Jackson-Unmasked. Yang pertama cuma 5000 perak, yang kedua cuma 10.000 emas perak. Total jenderal bintang tujuh 15.000 perak atawa Ceban-go saja. Ni homa? Beng cing ci abeng. Gong li….halah. Lumayan buat baca-baca di KRL. 🙂

Hadiah Besar Pagi Ini


image

Senin pagi ini (7/1) baru saja mau duduk di kursi kerja tampak satu tas berisi banyak barang di atas meja. Alhamdulillah, isinya ada mug, jam beker, tempat post it, sertifikat, dan yang utama adalah sebuah buku yang berjudul: Berbagi Kisah & Harapan: Untaian Kisah Perjuangan Penagihan Pajak.

Terima kasih saya ucapkan kepada Direktorat Kitsda yang telah memberi semuanya ini pada saya. Apa gerangan hubungan mereka, hadiah ini, dan saya? Saya cuma diminta untuk bantu menyunting naskah-naskah terpilih tentang kisah-kisah para jurusita ataupun pegawai yang terkait dengan penagihan pajak. Cerita dari para pegawai pajak di barat sampai timur Indonesia. Sekali lagi terima kasih banyak.

Senin yang saya rasa sudah suka di awal jadi tambah suka lagi. 🙂

***

Riza Almanfaluthi

07 Januari 2013

*Langsung di tulis di hp.

Masuk Radar


image

Alarm menyala. Ada yang rela untuk dimakan di bulan depan.

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

Kenapa yang Pertama Iwojima?


image

Sebelumnya sudah kebayang nanti kalau sudah sampai di toko buku itu saya bisa sepuasnya beli setiap buku. Tapi pada kenyataannya tetap saja yang saya beli adalah buku-buku yang benar-benar akan saya habiskan untuk satu bulan ini.

Kemarin Ayyash sudah saya bebaskan untuk beli apa saja. Eh dia cuma beli komik Naruto edisi terakhir. Dan beli mainan congklak atawa dakon atawa mancala yang dikombinasi dengan permainan kayak scrabble. Harganya diskon 50%. Kinan bagaimana?

Kinan sudah uring-uringan tak mau ke toko buku itu. Enggak ding. Awalnya mau eh pas lewat suatu mal berubah haluan dah niatnya untuk ke toko buku. Pengennya ke tempat bermain yang ada di mal itu. Tapi seberapa banyaknya tetesan airmatanya yang saya usap dari pipinya tetap tak menggoyangkan niat saya. 🙂 Maaf ya Nak…pan sudah pekan lalu kita mampir ke sana.

Setelah ngambeknya mereda seperti biasa dia jelajahi ruangan toko buku dan mengambil buku mewarnai dan buku latihan menempelkan stiker. Bahkan dia ambil tiga buku, lebih banyak daripada yang diambil kakaknya.

Beberapa buku terjemah juz 30 diambil Ummu Haqi, istri saya yang bernama Ria Dewi Ambarwati ini. Cuma itu bae. Tak ada yang lain. My beloved rose ini sudah sibuk jaga Kinan yang kemana-mana jadi tak sempat lihat-lihat buku secara mendalam.

Sekarang apa yang saya beli? Sudah saya twitkan kemarin kalau saya menemukan bukunya Malcolm Gladwell di toko buku itu. Saya tahu Malcolm Gladwell semasa saya menerima hadiah dari Direktorat Jenderal Pajak saat memenangkan juara pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Tahun 2012. Dari beberapa hadiah yang saya terima itu ada buku judulnya Outliers. Ditulis oleh Gladwell itu. Langsung dah kepincut sama dia. Tak perlu berpikir dua kali untuk ambil What the Dog Saw. Eeh…pas mau bayar ketemu lagi sama bukunya yang lain: Blink. Saya Ambil juga.

Gladwell itu memberikan yang baru dalam memandang sesuatu. Cara dia bagaimana mendefinisikan sukses di Outliers itu bagus banget. Kisah-kisah nyata yang ditulis di sana dibuat dalam gaya jurnalistik investigatif. Sangat Menarik. Intinya: darinya saya mendapatkan banyak ilmu dan kisah baru. Begitu yah kalau orang sudah punya kualitas menulis yang bagus maka untuk buku selanjutnya bisa jadi jaminan mutu sampai saya borong semua bukunya.

Hal sama saat saya beli buku tentang Karmaka Surjaudaja, pendiri OCBC NISP yang berjudul Tidak Ada yang Tidak Bisa. Kalau buku itu tidak ditulis oleh Dahlan Iskan saya tak akan mungkin membelinya. Saya suka buku yang ditulis Dahlan Iskan karena cara berceritanya bagi saya yang kayak “ngedongengin”. Bikin semangat. Bikin tumbuh banyak harapan.

Dua buku lain adalah tentang Perang Dunia II. Pertempuran di salah satu “hotspot”nya: Samudra Pasifik. Saat prajurit Amerika merebut Guadalcanal dan Iwojima dari tangan serdadu Jepang penguasa pulau pada waktu itu. Saya sudah punya film dokumenter perebutan Iwojima itu. Nah saya ingin melengkapi kajian pertempuran tersadis yang pernah ada ini dari bukunya.

Buku terakhir adalah buku seputar rahasia dan skandal yang pernah terjadi di Vatikan yang dilakukan para pausnya. Sejak awal berdirinya Vatikan sampai sekarang. Harganya didiskon hingga cuma Rp27 ribu kurang sedikit.

Nah itu beberapa buku yang saya beli di bulan ini. Dan saya yakin buku-buku itu adalah buku-buku yang bisa saya baca sampai khattam. Serta manfaat buat saya. Buat apa? Yakni untuk memenuhi dahaga intelektualitas (jiaaa…) saya, menghilangkan lapar kepenasaran saya tentang sejarah dunia, dan menyerap ilmu cara menulis yang baik.

Dan ngomong-ngomong tahu tidak, dari semua buku itu buku apa yang pertama kali saya baca? Tepat sekali… Iwojima 1945. Jangan tanya kenapanya. Karena tidak semua harus ditanyakan dengan kata “why”.

Sekian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara.

Ummulqura, Bogor.

Ditulis pada smartphone pada program thinkfree.

11.20 16 Desember 2012

Secuil Daftar Isi Spiritual Journey Emha Ainun Najib


image