BINTANG DAVID DI MANA-MANA


BINTANG DAVID DI MANA-MANA: “Gue Israel Loh…”
( http://10.9.4.215/blog/dedaunan )

Dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari dengan sepeda motor, di tengah keramaian lalu lintas Jakarta, seperti biasa saya mengambil sisi kiri jalan untuk dapat melaju lebih lancar. Saya dikejutkan dengan stiker yang ditempelkan di bagian belakang motor di depan saya. Tentu stiker ini tidak akan mempunyai makna apapun bila tidak ada kejadian yang mengharubirukan siapapun yang masih punya hati nurani melihat kebiadaban bangsa penjajah di Timur tengah sana pada pekan-pekan ini.
Stiker ini berupa bintang sudut enam berwarna putih, Bintang David. Ya, semua orang yang mengikuti perkembangan berita dunia tahu tentunya bahwa ini adalah simbol kebanggaan dan kejayaan bagi bangsa Israel. Tapi sayangnya kebanggaannya itu adalah dengan mengorbankan ribuan nyawa tak bersalah. Dan kejayaan yang dicita-citakannya adalah berdiri di atas pondasi berupa tumpukan tulang-tulang yang direkatkan dengan gelimangan darah ribuan manusia. Mengerikan.
Saya gemas sekali melihat stiker ini. Rasanya saya ingin benar-benar menegurnya apakah ia masih mempunyai nurani dan sensisitivitas atau memang ia tidak tahu atau benar-benar menantang. Tapi saya cuma bisa berdiam diri saja dengan banyak alasan dan memendam kegemasan tentunya.
Dan anehnya sore hari itu pula, di saat dalam perjalanan pulang, kembali saya menemukan stiker itu lagi. Kalau stiker yang saya temukan di pagi hari itu cuma Bintang David putih saja, kali ini benar-benar Bintang David berwarna biru di antara dua strip. Nah…kalau yang ini benar-benar bendera Israel, si penjajah La’natullah. So, saya meyakini benar bahwa orang ini benar-benar tidak sensitif. Saya kira ia benar-benar menantang dengan pemajangan stiker itu. ”Nih Gua Israel Loh…”.
Dan kali itu saya benar-benar ingin menghentikannya, tapi ditegur oleh istri saya.
”Jangan emosi, mungkin dia benar-benar orang Yahudi,” istri saya memperingatkan.
”Loh, kalau ia memang orang Yahudi, tidak selayaknya ia bersikap demikian karena ia hidup di tengah mayoritas Muslim yang sedang prihatin dengan kejadian di Palestina dan Libanon itu, dong,” tangkis saya panjang.
”Saya hentikan dia saja yah, saya marah nih, bener, swer…!”
”Tidak usah, percuma, ini bukan karena Allah kok ” kata istri saya.
”Loh, ini benar karena Allah, saya marah karena Allah kok, melihat kedzaliman ini.”
”Iya memang benar marah, tapi biasanya kalau sudah marah orang biasanya tidak bisa berpikir rasional lagi. Sudahlah saya tidak mau ribut, sekarang pun sudah maghrib lagi.”
Lagi-lagi saya tidak mampu untuk berbuat apapun. Saya cuma bisa omong besar doang. Di tengah penyesalan dan pemakluman di hati bahwa ini merupakan selemah-lemahnya iman karena tidak bisa dengan tangan ataupun bahkan dengan mulut merubah suatu kedzaliman ini, saya berpikir kok bisa-bisanya saya menjumpai bintang ini dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Dan saya berpikir apakah orang-orang sudah tidak mempunyai nurani lagi tentang hal ini setelah kasus Dani Dewa yang memakai Bintang David saat pertunjukkannya. Entahlah…tapi yang paling diuntungkan tentunya Israel juga. Dengan pemajangan simbol ini secara tidak langsung merupakan upaya pengakuan eksistensi dari Israel itu sendiri di muka bumi ini.
Tentunya kita tidak pernah lupa, bahwa bangsa yahudi adalah bangsa yang sangat menyukai simbol-simbol. Dan menjadikan simbol paling utama dari keberadaannya adalah Bintang David itu sendiri. Maka dalam suatu kesempatan, di sebuah milis, setelah akuisisi Indosat oleh perusahaan Singapura dan ditengarai dimiliki oleh perusahaan investasi milik Israel, saya dikecam oleh para peserta milis ketika mengungkapkan hal ini. Tapi faktanya benar-benar bahwa simbol Indosat adalah gradasi dari Bintang David. Ini meneguhkan pernyataan bahwa bangsa Yahudi ini sangat penyuka dengan simbol dan perlambangan.
Dan kasus terbaru tentang Bintang David adalah pemakaian lambang ini oleh Tora Sudiro di acara Extravaganza. Hidayatullah.com memberitakannya sebagai berikut:
Sebagaimana diketahui, TransTV, pada Senin tanggal 7 Agustus 2006 lalu saat acara hiburan, Extravaganza, salah seorang pemainnya, Tora Sudiro, mengenakan sebuah kalung terbuat dari ‘Bintang David’. Sebuah lambang kebesaran Yahudi.
Dalam tayangan tersebut, pihak TransTV berupaya untuk mengelabuhi
pemirsa dengan cara menutup dan mengaburkan simbul penjajah yang kini
sedang menyerang Palestina dan Libanon itu.
(http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3447&Itemid=65)

Kembali ini meneguhkan bahwa betapa banyak orang Indonesia yang sudah tidak mempunyai sensitivitas dan hati nurani lagi untuk berempati dengan saudaranya sendirinya. Bahkan kalau kita runut ke belakang betapa ghozwul fikri ini sudah merambah ke sekolah-sekolah, sehingga dengan bangganya para siswanya membuat grafiti dan coretan-coretan di banyak dinding dengan lambang Bintang David yang ditengahnya terdapat huruf besar-besar: ISRAEL.
Atau jangan-jangan saya yang aneh karena memikirkan kulit saja daripada substansi. Tapi bagi saya, untuk kali ini, kulit dan substansinya adalah sama saja, yakni representasi dari kebiadaban dan keganasan Iblis berbulu domba (emang ada…? biasanya diilustrasikan oleh barat sebagai iblis berkepala kambing)
Ah…saya harap ini cuma segelintir orang saja di tanah air tercinta ini. Yang bahkan perlu diwaspadai lagi adalah jasadnya secara fisik melayu tapi pikiran, tindak tanduknya, fatwanya, lidahnya adalah kepanjangan dari yahudi itu sendiri. Ini dia yang bisanya menusuk dari belakang. Menggunting dalam lipatan. Lempar batu sembunyi tangan. Dan penuh sifat kelicikan dan kepengecutan. Sungguh ini yang perlu diwaspadai.
Ah, terlalu banyak omong dan mencela seringkali melupakan aib diri sendiri. Semoga kegeraman ini berlanjut untuk tidak selama-lamanya dengan selemah-selemahnya iman. Semoga mulut saya dan tangan saya bisa membantu saudara-saudara saya di sini dan di sana. Harap saya yang senantiasa meluncur ke langit. Berharap menembus pintu-pintuNya. Semoga.

Celaan, ejekan, makian, hinaan, cacian, kutukan sila ajukan ke: riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:16 11 Agustus 2006

TINGIPOKNYAR: MEMENEJ CONTACT


Monday, August 7, 2006 – TINGIPOKNYAR: MEMENEJ CONTACT

Judul TINGIPOKNYAR di atas tidak ada kaitannya dengan tema yang saya tulis untuk antum semua. Ini hanyalah eye cathching tapi tetap ada mengenai ini di bagian paling bawah.

MEMENEJ CONTACT

Satu pekan lamanya saya tidak menulis. Entah kenapa beberapa pekan ini saya selalu hampa dari kebaruan tema. Sepertinya waktu libur benar-benar saya manfaatkan untuk beristirahat setelah lima hari lamanya bekerja di bawah tekanan lalu lintas Jakarta. Otomatis tuts-tuts keyboard komputer rumah seringkali menganggur dari tekanan jari-jari saya. Bahkan seringnya komputer cuma dipakai dalam rangka menyalurkan semangat jihad qital yang terpendam karena tidak mampu secara fisik pergi ke Libanon dan Palestina untuk bertempur dengan Israel dengan memainkan War Craft III: Frozen Throne.

Saya berusaha membatasi untuk menyentuh game ini, karena masih banyak yang harus saya lakukan. So, saya bertekad bahwa ini cuma sebagai pembuang waktu setelah makan siang dan sebelum tidur siangnya. Soale, tentunya kita tahu, kita tidak boleh langsung tidur setelah makan bukan?

Nah, omong-omong soal tulis menulis ini, tiba-tiba pagi hari ini saya tergugah untuk mengunjungi situs yang sudah lama tidak pernah saya buka. Situs yang beralamatkan di http://www.penulislepas.com memang dikhususkan untuk pengembangan dunia kepenulisan entah di dunia yang sebenarnya atau di dunia maya seperti di internet ini. Saya harap di saat saya mengunjunginya saya mendapatkan inspirasi untuk menulis dan ternyata benar.

Mata saya terpaku pada sebuah tulisan di kategori Kiat/Ilmu Kepenulisan yang berjudul: Mengapa Kita Menulis? Penulis, Ibn Ibrahim, menjelaskan alasan-alasan yang menjawab pertanyaan itu. Ada lima alasan:

1. Menulis adalah Salah Satu Langkah Menuju ke Keabadian;

2. Menulis Berarti Menata Pikiran;

3. Suatu Tulisan Berpotensi Tersebar Sangat Luas;

4. Menulis itu Menyehatkan;

5. Membantu Mendapatkan dan Mengingat Informasi Baru;

6. Meniru Tradisi Para Ulama.

Saya tertarik pada alasan pertama yang diajukannya yakni menulis adalah salah satu menuju langkah ke keabadian. Apa maksudnya, sih? Tidak usah berpanjang lebar, saya langsung kutip saja tulisannya.

Pada subjudul ini penulis menggunakan kata keabadian, karena merujuk kepada hadits nabi tentang amal yang tiada terputus. Sesungguhnya apabila setiap anak Adam telah mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholih yang senantiasa mendoakannya. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Tulisan dapat menjadi semacam passive income (passive income merujuk kepada istilah yang digunakan Robert T Kiyosaki pada bukunya Cash Flow Quadrant. Istilah ini berarti penghasilan yang diperoleh tanpa harus bekerja, seperti deposito, reksadana dan lain-lain). Tatkala kita sudah tidak mampu beramal lagi, Allah masih mencatatkan pahala apabila tulisan kita masih menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.

Perlu ditekankan di sini, perbuatan baik bukanlah semata mengerjakan ibadah-ibadah mahdloh. Ilustrasinya begini. Misalnya Anda menulis artikel tentang penggunaan CVS dan mengirimkannya ke situs http://www.ilmukomputer.com Kemudian artikel tersebut dimanfaatkan oleh seorang programmer dalam membuat repository untuk suatu aplikasi. Programmer tersebut memperoleh upah dari aplikasi yang dia buat. Upah tersebut, katakanlah, dipergunakannya untuk modal menikah. Nah, menikah adalah suatu perbuatan baik, dan bernilai ibadah jika diniatkan demikian. Programmer tadi memperoleh pahala atas ibadahnya, dan Anda, si pengirim artikel, yang mungkin tidak kenal sama sekali dengan programmer yang berbahagia tadi, dengan izin Allah akan memperoleh pahala juga. Indah sekali bukan?

(http://www.penulislepas.com/more.php?id=2111_0_1_0_M13)

Apa yang diilustrasikan oleh Ibn Ibrahim benar-benar menggugah saya. Amal yang tiada putusnya. That is the point!. So, dengan sedikit ilmu yang saya punyai saya berkeinginan untuk menyebarkan sedikit pula kebaikan yang saya miliki. Contohnya ilmu baru yang saya dapatkan dari seorang teman pada penggunaan media kirim terima surat elektronik Outlook Ekspress.

Ya, saya harapkan sedikitnya ilmu ini berguna bagi pembaca sekalian. Tentunya ini bukan ditujukan kepada pembaca yang memang sehari-hari sudah berkutat dan familiar sekali dengan program bawaan Microsoft Windows ini. Jadinya khusus untuk pembaca yang memang kesulitan waktu untuk mengeksplor atau mendalami program ini dan bisanya cuma terima apa adanya.

Tentunya pula harapan saya adalah ini akan memudahkan pembaca untuk mengirimkan email kepada yang lain. Jika dirasa mudah maka pembaca pun tidak akan malas mengirim berita-berita atau artikel-artikel yang memuat kebaikan kepada orang lain. Seperti yang diungkapkan oleh penulisnya lagi:

Bayangkan ‘keuntungan’ yang dapat Anda peroleh, apabila satu persen saja dari pembaca Anda memperoleh hidayah (baca: terinspirasi berbuat kebaikan) setelah membaca tulisan yang Anda buat. Barangkali, seperti kata hadits, hal itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.

Bila ini terjadi maka pembaca dan saya Insya Allah akan mendapatkan kebaikan yang lebih baik daripada dunia dan seiisinya. Indah bukan. Semoga. Okelah tidak usah berlama-lama saya langsung saja, berikan ilmu ini. Sekali lagi ini khusus untuk yang belum tahu saja, yah… .

Saking banyaknya nama di Contact, seringkali ini membuat kita menjadi kebingungan sendiri. Soalnya nama yang tercantum di Contact adalah displayname. Yaitu nama singkat yang bukan nama lengkap dan disertai dengan nama server emailnya. Nama ini biasanya given dari sang pengirim email. Atau nama yang biasanya diciptakan sendiri oleh kita untuk lebih mudah mengenalnya atau berupa nickname.

Contohnya nama pengirim email dalam Contact saya adalah Awe Tea. Nama Awe Tea ini adalah nama yang diset oleh teman saya di setting emailnya. Ini langsung masuk ke dalam Contact saat saya mau me-reply email dari Awe Tea. Atau saat meng-klik kanan nama di inbox lalu klik add sender to address book.

Jadi nama yang tecantum itu tidak disertai nama lengkap dari server emailnya seperti nama awe tea tadi. Baru kalau kita klik kanan nama di contact lalu klik properties maka akan terlihat bahwa aklamat email lengkap dari awe tea adalah asep.nugraha@pajak.go.id.

Dengan demikian, kesulitan akan muncul di saat kita akan mengirim email khusus dan tertentu kepada teman-teman yang lain bila di dalam Contact sudah ada ratusan nama. Karena tentunya kita terkadang lupa teman kita ini dari komunitas mana. Kita tentunya tidak mau bukan kalau email rahasia kelompok kita bisa tersebar ke orang yang bukan anggota komunitas kita sendiri hanya gara-gara kita salah menganggap orang lain adalah bagian dari komunitas tertentu kita.

Contohnya, kita kirim email tentang kekejaman Israel kepada teman kita yang pro Israel misalnya. Atau artikel keagamaan dari Manajemen Qalbu yang kita kirimkan pula kepada sahabat kita yang berbeda keyakinan. Atau di saat kita menerima email dari komunitas pajak yang menanyakan objek ini dipotong pajak atau tidak lalu kita menjawabnya dengan pesan singkat: Potong saja. Dan ternyata email itu pun kita kirimkan kepada teman yang lain yang ternyata anggota dari komunitas hobi terjun payung, dan pas saat itu di komunitas itu sedang di bahas mengenai simpul parasut, maka ini bisa gawat tentunya bukan…? Oleh karena itu kita harus tepat sasaran untuk mengirimnya.

Dan dengan banyaknya nama ini pun kesulitannya adalah di saat kita ingin mengirimkan email kepada banyak orang misalnya kepada lima puluh teman kita. Tentunya kita merasa bete sekali kalau kita klik satu persatu . Dan selama ini saya yang berkecimpung selama satu tahun lebih dalam dunia Outlook Ekspress ini melakukan hal yang demikian. Maka seringkali saya malas untuk mengirimkan kepada teman-teman yang lain karena harus klik satu persatu nama-nama teman saya. Jadinya memang saya termasuk orang yang seirng menerima tapi tidak pernah memberi. Otomatis, kebaikan yang saya sebarkan pun terlalu sedikit.

Jadinya kita memang kudu menej ulang Contact kita supaya bisa memudahkan kita. Caranya kita mengelompokkan nama-nama teman kita yang satu kelompok dalam sebuah grup khusus.

Misalnya kita mau kelompokkan kedalam empat grup.

1. Grup pertama, adalah teman-teman yang bisa dikirimkan dan merasa nyaman menerima email ruhani, maka kita buat misalnya: Penerima Kebenaran;

2. Grup kedua misalnya dikhususkan untuk teman-teman eks KPP PMA Tiga, maka saya namai grup ini dengan ex PMA Tiga;

3. Grup ketiga misalnya khusus untuk milis-milis yang kita ikuti, maka kita namai grup ini dengan milis saya;

4. Grup keempat untuk teman-teman dari wajib pajak. Misalnya untuk ajang pengiriman peraturan terbaru dan konsultasi. Dengan nama grup adalah Wajib Pajak.

Lalu coba setelah kita membuka outlook ekspress, kita klik ikon bergambar buku yang terbuka atau ikon yng bernama addresses di toolbar. Setelah kita klik akan muncul display: Address Book – Main Identity.

Klik ¬File lalu klik New Group. Sebenarnya kita bisa langsung dengan menekan Ctrl dan G. Dan muncul display: Properties.

Pada tab Group kita isi nama grup yang kita inginkan. Misalnya kita isi dengan Penerima Kebaikan. Lalu kita klik tombol Select Member untuk memilih nama-nama teman kita yang ingin kita masukkan ke dalam grup ini.

Muncul display Select Group Members, kita pilih nama-nama itu lalu klik tombol select. Lalu setelah cukup lengkap dengan daftar nama yang kita kehendaki, klik tombol OK. Lalu kita bisa menambah detil grup kita dengan meng-klik tab Group Details. Tapi biasanya tidak saya lakukan karena informasi nama saja sudah cukup bagi saya. Kalau sudah kita bisa melanjutkan dengan membuat grup-grup yang lainnya. Dan bila sudah membuatnya kita keluar dengan menutup semua display yang ada.

Sekarang di Contact kita sudah muncul nama-nama grup kita tanpa menghilangkan nama-nama dari teman kita yang dimasukkan ke dalam masing-masing grup tersebut. Oke kita langsung mencobanya dengan mengirimkan email percobaan.

Ketika kita klik Create Mail, dan muncul display new message lalu di To: kita tulis nama grup kita yang akan menerima email kita dengan cukup menulis satu atau sampai tiga huruf depan dari nama grup kita. Misalnya pen atau ex atau mil atau waj. Maka otomatis akan langsung muncul nama grup yang kita kehendaki.

Dan di saat kita kirim email tersebut maka email itu hanya akan muncul kepada nama anggota dari grup tersebut. Memudahkan bukan? So, selamat tinggal gaya manual dengan meng-klik satu persatu nama email teman kita di To:, Cc:, atau BCc:.

Semoga bermanfaat. Tentunya saya yang pertama kali merasankan manfaat ini. Walaupun terlambat karena gagap teknologi tapi tidak mengapa daripada tidak sama sekali. Percayalah ini sangat membantu sekali. Dan menambah semangat saya untuk selalu menyebarkan kebaikan. Tentunya anda tidak mau kalah dengan saya bukan…?

***

Maaf tiada terkira. Segala caci maki, hinaan, ejekan, dan kutukan sila untuk dikirim kepada saya di riza.almanfaluthi@pajak.go.id.

Intermezo:

“Namamu siapa jeng?” tanya Bokir.

”Tingipoknyar” jawab perempuan bermuka pucat, berbaju putih, dan berambut panjang.

”Apaan tuh neng,” tanya Bokir lagi, penasaran.

”Ma…Ti…Wi…Ngi…Ka…Pok-e…A…Nyar…” jawab perempuan itu pelan sambil tertawa ngikik.

Membalikkan punggungnya, terlihat lubang penuh darah dan belatung.

Hi….hi….hi….

Bokir pucat lalu pingsan.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10:27 07 Agustus 2006

Tingipoknyar: Mati Kemarin Kapuknya Masih Baru.

Mengapa Kita Harus Mengutuk Israel La’natullah


Mengapa Kita Harus Mengutuk Israel La’natullah

Saat ini dunia sedang dipertontonkan dengan kebiadaban dan kebengisan dari sebagian bangsa Yahudi di tanah Suci Palestina dan Libanon. Sudah ratusan nyawa melayang sejak penyerbuan Israel ke Libanon tersebut. Bahkan sudah tak bisa terhitung lagi berapa nyawa yang melayang sejak bangsa terkutuk tersebut menginjakkan kakinya di awal abad 20 dan kemudian mendirikan negara Israel di tahun 1948.
Dengan kecanggihan teknologi, tontonan kebengisan itu seperti benar-benar tampak nyata di hadapan kita. Realistis, cepat, dan up to date. Dengan demikian tak sedikitpun yang terlewatkan. Dan dunia pun sadar, terkejut, mengutuk pada apa yang dilakukan Israel—terkecuali para antek-antek dan sekutunya.
Kemarin (01/08), satu halaman penuh, Media Indonesia mempublikasikan foto-foto berukuran besar tentang korban-korban yang timbul atas serangan rudalnya ke bangunan sipil. Begitu banyak korban dari anak-anak dan wanita yang belum sempat mengungsi.
Seorang petugas relawan Libanon sampai menangis melihat keadaan itu di saat melakukan evakuasi. Bagaimana tidak ia melihat seorang anak kecil berumur dua tahun yang pada pakaiannya masih tergantung dotnya. Atau seorang ibu yang meninggal dengan posisi melindungi anak-anaknya. Semuanya tewas tertimpa runtuhan bangunan. Semoga Allah memberikan kesyahidan kepada mereka.
Dunia memang terkejut dengan apa yang menimpa warga sipil Libanon. Dan seharusnya dunia pun lebih terkejut lagi sedari awal dengan apa yang dilakukan Israel di tanah Palestina di mana setiap pekannya berapa nyawa yang harus direnggut dari penduduk Palestina.
Bayi-bayi yang robek perutnya kerana peluru bengis Israel. Ribuan tawanan yang teraniaya di penjara-penjara Israel. Anak-anak yang telah kehilangan keriangan masa kecilnya, kehilangan masa belajarnya, kehilangan ibu dan bapaknya, dan kehilangan masa depannya. Atau mereka yang kehilangan semua anaknya. Mereka yang telah kehilangan suami atau istri dan saudara-sauadaranya yang tercinta. Sungguh dunia harusnya terkejut sejak 1948 atau sejak masa-masa sebelumnya.
Maka sudah sepatutnya kita mengutuk dengan kekejaman Israel tersebut. Dengan nama apa pun ia. Karena dibalik nama yang bagus sekalipun tetap saja ia adalah iblis yang menebarkan bencana dan angkara murka.
Maka sudah sepatutnya kita mengutuk Israel dengan segala kebiadabannya itu. Karena sesungguhnya bagi saya pemaknaan nama menjadi tidaklah penting. Bahkan tidak menyentuh sama sekali substansi dari persoalan dan keharusan umat Islam untuk membantu saudaranya di Palestina dan Libanon. Karena bila kembali kepada salah atau benarnya kutukan terhadap yahudi dengan penyebutan Israel (yang berarti hamba Allah), maka begitu banyak di Indonesia dan di dunia yang memakai nama ’Abdullah berada di penjara karena telah berlaku dzalim dengan melakukan pembunuhan, pencurian, korupsi, menipu, berzina, dan lain sebagainya..
Bahkan ada yang memakai nama terbaik yakni ’Abdurrahman tetapi tingkah lakunya seperti orang yahudi sendiri yang bisanya menusuk dari belakang perjuangan umat di tanah air dengan masalah liberalisme dan sekulerismenya.
Dan sungguh ketika kita mengutuk dan mencela tentang kejahatan dari oknum-oknum pemakai nama-nama terbaik itu, kita sesungguhnya tidaklah sedang mengutuk dan mencela ’Abdullah dan ’Abdurrahman lainnya di Indonesia dan di seluruh permukaan bumi ini sedangkan mereka adalah hamba-hamab Allah yang sebenarnya, yang ta’at, takwa, beriman dan beramal sholeh.
Dan sungguh bukanlah fenomena aneh yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin yaitu menyebut negara Yahudi yang dimurkai Allah dengan nama Israel, karena nama itu adalah nama yang tercantum dalam daftar negara pada adminsitrasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Mengapa bisa ia mengklaim nama itu dan umat Islam berdiam diri saja?
Ya jelas karena umat Islam tidak punya harga diri. Umat Islam pada saat ini berada di titik nadir dari kejayaannya. Tidak mampu berbuat apapun ketika di zalimi. Bahkan perang pun kalah, sehingga pada tahun 1948 itu berdirilah negara yang bernama Israel. Dan PBB (tentu dengan Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya) pun mengakuinya. Dan jika kita tidak menginginkan nama Israel itu dilekatkan pada bangsa Yahudi maka ”Wahai umat Islam, bersatulah…! Rebut kembali kejayaan itu! Kalahkan Yahudi! Kalahkan musuh-musuh Allah! Maka dengan semua itu, niscaya PBB pun tidak akan semena-mena lagi membiarkan segala kezaliman itu. Nama itu akan kita cabut dari daftar. Dan tidak perlu lagi ada tertulis di peta dunia.
Karena Yahudi Israel tidak punya hak mendirikan Negara di jantung negeri-negeri Islam sebagai hak yang syar’i (memiliki dasar hukum dalam syariat) dengan mengatasnamakan warisan Ibrahim dan Israel.
Karena kita pun mengakui bahwa Alqur’an mencela orang-orang yahudi dan mengutuk mereka dan Allah memberitakan kepada kita tentang kemurkaanNya terhadap mereka dengan sebutan “orang-orang yahudi” atau “orang-orang kafir dari kalangan Bani Israel”.
Karena kita mengakui bahwa orang-orang yahudi tidak memiliki hubungan din sedikitpun dengan Nabiyullah Israel (Ya’qub ‘alaihis salm) juga tidak dengan Ibrahim Khalilullah ‘alaihis shalatu wassalam.Dan mereka tidak memiliki hak sedikitpun atas warisan keagamaan keduanya. Karena warisan tersebut adalah khusus merupakan hak orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman(artinya) :”Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad) serta orang yang beriman kepada (Muhammad) dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman” (Qs.Ali Imran:68)
Dan karena kita pun meyakini dengan iman yang dalam bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam rangka melepaskan hubungan kekasihnya Ibrahim dari ikatan hubungan dengan kaum yahudi,nashara dan kaum musyrikin (artinya) :”Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik” (Qs.Ali Imran :67)
Dan karena Kaum muslimin tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi adalah keturunan Ibrahim dan Israel (Ya’qub ‘alaihis salam), tetapi mereka meyakini dengan mantap bahwa orang-orang yahudi itu adalah musuh Allah dan musuh-musuh para utusanNya seperti: Muhammad, Ibrahim, dan Israel. Kaum muslimin memutuskan(berdasarkan hukum syar’i) bahwa tidak bisa saling mewarisi antara para Nabi dan para musuhnya dari kalangan kafirin baik yahudi maupun nashara maupunn musyrikin arab dan yang lainnya, dan bahwa manusia yang paling dekat hubungannya dengan Ibrahim dan semua Nabi adalah kaum muslimin yang beriman kepada mereka,mencintai, dan memuliakan mereka serta mengimani kitab-kitab dan shuhuf yang diturunkan kepada mereka . Kaum muslimin memandang perkara ini sebagai salah satu prinsip dalam agama mereka. Karena itu merekalah pewaris para Nabi dan manusia yang paling dekat hubungannya dengan para Nabi. Dan bumi Alllah hanyalah milik hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya dan kepada para Rasul yang mulia. Maka musuh-musuh para Nabiitu tidak memiliki warsian bumi-terutama yahudi-di dunia ini dan bagi mereka di akhirat siksa neraka yang abadi.
Dan kita sungguh amat yakin bahwa kita tidak pernah menerima—walaupun masih ada sebagian dari kita yang masih mau—menerima klaim yahudi sebagai ahli waris tanah Palestina dan rencana pemugaran kembali Haikal Sulaiman, padahal kaum Yahudi itu kafir kepada Sulaiman dan melemparkan tuduhan keji kepada Beliau.”apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh;maka di antara mereka kamu dustakan dan yang lain kamu bunuh”(Qs.Al Baqarah:87)
Dan kita pun yakin bahwa sungguh demi Allah, niscaya akan datang suatu hari dimana kaum mu’minin yang benar-benar beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dan pada para Rasul serta risalah mereka akan menghancurkan kaum yahudi
Sungguh kami yakin. Insya Allah.
Maka dalam pandangan saya dan sekali lagi ini adalah pendapat saya bahwa hal ini bukanlah suatu perkara mungkar dalam perjuangan kaum muslimin melawan kemungkaran Yahudi Harb atau Israel la’natullah. Bahkan menjadi suatu perkara mungkar di saat kaum muslimin berjuang melawan kezaliman Israel ada sebagian dari kita mencela mereka padahal kita sendiri tidak pernah merasakan debu, keringat, dan darah dari peperangan tersebut. Bahkan menjadi suatu perkara munkar di saat anak-anak di sana menahan sakit dan derita berkepanjangan itu kita tidak mencari solusi tepat untuk membantu mereka malah dengan asyiknya mengejek mereka dan para pembela mereka sebagai pelaku kemungkaran yang wajib diperangi. Masya Allah…
Lalu….. Aina Anta…? Di mana saya, Anda dan kalian akan meletakkan diri sebagai batu karang dari sebuah benteng peradaban Islam yang kukuh, kuat, dan jaya sampai akhir nanti?
Hanya Allah yang tahu segalanya.
Sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah, dan segala kesalahan dari diri saya pribadi.
Mohon maaf tiada terkira.

Maraji: http://10.254.4.4/dshforum/forum_posts.asp?TID=7835&PN=1&TPN=1

Hamba Allah yang dhoif dan miskin ilmu
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:39 02 Agustus 2006

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL


Monday, July 31, 2006 – PORNOGRAFI ITU MASALAH KECIL

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL

“Saat ini ideologi Pancasila menjadi semakin jauh dari Bangsa Indonesia. Banyak tingkah laku yang tidak lagi mencerminkan nilai Pancasila. Bahkan sering kali, hal-hal kecil diributkan dan melupakan hal besar yang justru hilang dari kita. Misalnya saja sumber daya alam yang menipis karena dijual ke perusahaan asing.” (Kompas, 28/7)

Hal ini terungkap—seperti diberitakan Kompas—pada dialog publik yang diadakan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan pada hari Kamis yang lalu (27/7) bertema: ”Penegasan Sikap Kebangsaan Kita”. Sebagai pembicara pada acara ini adalah mantan Ketua MPR Amin Rais, mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, serta pengamat ekonomi Hartojo Wignyowijoto. Hadir dalam acara itu pula adalah Gubernur Sutiyoso dan tokoh-tokoh partai politik lainnya.

Tidak ada yang mengganjal di hati saya saat membaca berita tersebut sebelum dua paragraf terakhir yang berisi penegasan dari Amin Rais bahwa yang dimaksud hal-hal kecil yang diributkan itu adalah masalah RUU Pornografi.

Kita simak apa yang dikutip oleh Kompas:

Sebenarnya, menurut Amin, di situlah persoalan bangsa, yaitu dijualnya sumber daya alam kepada asing, bukan lalu banyak hal-hal kecil yang diributkan.

”Saya sudah lama mencari sebab mengapa bangsa ini mundur, ditinggal negara lain, bahkan oleh negara yang lebih muda. Kemudian banyak perdebatan, misalnya tentang RUU Antipornografi dan Pornoaksi, padahal bukan di situ masalahnya,” ujar dia.

Saya memang pernah mendengar sebelumnya bahwa Amin Rais pernah mengatakan hal yang demikian. Tapi saya anggap perkataannya adalah perkataan dari seseorang yang mengalami Post Power Syndrom. Jadi saya menganggapnya biasa-biasa saja dan cuma angin lalu. Nanti juga hilang dengan sendirinya.

Tapi dengan statement-nya pada acara itu, membuat saya berpikir lagi, bahwa Amin Rais memang konsisten dan serius dengan masalah keremehan dari pornografi dan pornoaksi tersebut. Dan ini jelas sungguh mengecewakan sebagian umat yang bekerja keras menyelamatkan bangsa ini dari jurang kehancuran.

Bagaimana tidak, hal itu dikatakan oleh seorang mantan ketua organisasi masyarakat Islam terbesar kedua di Indonesia dan pula yang pernah menjadi ikon perlawanan umat terhadap orde baru.

Dengan pernyataannya itu ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi:

Ia jelas menegasikan bahwa pornografi dan pornoaksi sebagai penyebab kehancuran bangsa ini. Dan ia konsisten sejak tahun 1997 bahwa semuanya karena perampasan sumber daya alam Indonesia oleh asing. Tidak ada yang salah jika ia tetap berkomitmen dengan perlawanannya itu namun seharusnya jika ia lebih bijak dan bisa menahan diri, tak perlu untuk membuat perbandingan atau peremehan terhadap tema besar perlawanan dari sebagian umat lainnya pada saat ini.

Pun dengan demikian ini jelas menimbulkan friksi dan prasangka berkepanjangan terhadap komponen umat lainnya yang seharusnya tidak ada. Bagi umat apa yang ia lakukan adalah seperti menggunting dalam lipatan.

Bahkan menurut saya dengan pernyataannya yang menganggap bahwa masalah bangsa ini bukan pada masalah pornografi dan pornoaksi, sebagai suatu penantangan terhadap ayat-ayat Allah yang begitu banyaknya membahas masalah kemunkaran ini. Dan seperti menafikan berbagai musibah yang datang ini karena ulah manusia akibat dari nafsu syahwat yang diumbar begitu saja.

Umat memang perlu disadari bahwa betapa kekayaan alam bangsa Indonesia ini dikuras habis dan hanya menguntungkan asing saja, sehingga dengan demikian timbul kesadaran bahwa umat perlu menjaga kekayaan ini dan menjaganya, mengelolanya untuk kepentingan umat juga.

Namun demikian umat pun tidak ketinggalan pula harus disadarkan bahwa pronografi dan pornoaksi sudah terang-terangan di depan mata dan akan menjadi bom waktu bagi generasi muda. Dan umat tidak menginginkan bahwa generasi ini menjadi generasi tanpa moral yang tidak menghormati nilai-nilai agama.

Sebenarnya dengan data statistik yang dikeluarkan oleh para pendukung RUU APP, menunjukkan bahwa betapa korban-korban dari ketidaktegasan pemerintah dalam memerangi kemaksyiatan itu senyatanya ada dan mengkhawatirkan bagi para aktivis dan pemerhati masalah moral. Karena korbannya kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya sendi-sendi kemajuan suatu peradaban yang kuat yaitu keluarga akan menjadi lemah dan rusak karena pornografi. Kita tidak menginginkan peradaban materialis ala Amerika Serikat yang ditopang oleh masyarakat yang sakit dan tanpa ikatan keluarga—karena ini pula banyak para ahli memprediksikan bahwa kehancuran Amerika Serikat tidak akan lama lagi.

Hamil di luar nikah, kawin cerai, single parent, anak tanpa ibu dan bapak, anak-anak jalanan, gank-gank hitam, lesbian, homoseks, narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, phedophilia menjadi penyakit masyarakat akut dalam keseharian di negara adidaya itu. Dan ini jelas semuanya adalah hal-hal yang sangat dihindari oleh umat Islam yang menginginkan kejayaannya kembali kepangkuannya.

Hal yang dilupakan oleh Amin Rais bahwa sesungguhnya peradaban suatu bangsa tidak bisa hanya fokus pada satu aspek saja dengan melupakan aspek yang lainnya. Sayyid Sabiq tidak melupakan kekuatan akhlak dan maal (harta) dalam enam prasyarat membangun suatu peradaban. Sehingga tidak bisa satu dengan yang lainnya saling menafikan. Tidak bisa untuk saling dikecilkan. Semuanya harus ada.

Akidah yang bersih, ilmu yang mumpuni, akhlak yang tinggi, ukhuwah yang erat, jama’ah yang kuat, dan maal yang banyak menjadi suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk membangun peradaban, untuk membangun Indonesia. Dengan sinergi dari berbagai komponen umat tentunya.

Sinergi dari Amin Rais yang berkomitmen tinggi untuk pengembalian harta umat kepada umat. Muhammadiyah dan Nahdhatul ’Ulama dengan pengembangan ilmunya. Ma’had-ma’had Ahlussunah Waljama’ah yang mengajarkan akidah yang bersih dari kemusyrikan. Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam masing-masing sebagai penjaga ukhuwah dan moral. AA Gym dengan pesantren Darut Tauhid-nya dalam penggemblengan pejuang Islam ber-akhlakul karimah. Dan masih banyak lagi peran-peran dari ormas atau komponen umat Islam lainnya yang saling mengisi dan bersinergi.

Maka bila ini terwujud, bangsa ini tidak mundur, dan persoalan yang dikhawatirkan Amin Rais akan cepat terselesaikan. Dan tidak akan ada lagi kegundahan seorang Amin Rais yang mengatakan pornografi dan pornoaksi itu cuma masalah kecil. Kegundahan yang malah melukai perjuangan umat.

Semoga.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

cuma resah belaka

22.11 30 Juli 2006

ADA CINTA DI KANTORKU


ADA CINTA DI KANTORKU
(Bedanya Kantor Lama dan Baru)

Hari ini tepat dua minggu sudah saya berada di kantor baru, KPP PMA Empat. Enak juga nih di sini. Beda banget dengan di KPP PMA Tiga. Perbedaannya adalah pertama masalah fasilitas untuk kemudahan kerja AR. Contohnya seperti mesin faksimili yang ada di ruangan saya, sepertinya setiap lantai ada masin tersebut. Telepon yang bisa keluar tanpa melalui operator dan bisa interlokal juga ada.
Pekerjaan sih tidak berubah tapi beban yang semula rada-rada banyak (ini pun karena ada PT Newmont Minahasa Raya) sekarang lumayan berkurang. Atau ini karena saya belum mengetahui detil bagaimana permasalahan di seksi saya. Lihat saja nanti lah… Saya cuma berusaha untuk bisa berbuat yang terbaik buat kantor ini.
Perbedaan yang kedua–ini yang membuat lebih hepi–adalah dekat sekali dengan masjid komplek Kalibata, Masjid Shalahuddin. Jelas ada banyak efek samping yang di dapat. Terutama masalah keikutsertaan sholat berjamaah yang lebih intensif lagi. Soale, speaker masjid benar-benar terdengar keras sekali dengan azannya yang berkumandang setiap waktu sholat tiba.
Yang ketiga, adanya fasilitas tenis meja–olahraga favorit saya selain bola basket–yang disediakan oleh kawan-kawan dari KPP BUMN yang masih satu gedung dengan kantor saya. So, setiap jum’at pagi Insya Allah saya akan bertekad untuk menguruskan badan dengan berolahraga. Kebetulan sekali ada teman-teman BUMN yang mengajak saya untuk ikut serta. Oke, saya niat olahraga lagi.
Yang keempat, berupa pekerjaan perekaman yang tidak lagi dilakukan oleh AR. Dulu, di kantor yang lama, AR melakukan perekaman lalu berkas dikembalikan lagi kepada Seksi Pelayanan melalui Seksi PDI. Tapi di sini, di kantor yang baru, pekerjaan perekaman dilakukan oleh Seksi PDI dan berkas tahun berjalan diarsipkan oleh AR.
Enak juga sih menurut saya. Karena sesungguhnya yang kami butuhkan adalah data-data SPT Masa dari WP-WP yang kita kelola. Dengan sistem yang dilakukan di KPP PMA Tiga menurut saya tidak efektif dalam melaksanakan tugas penting AR yakni melakukan pengawasan. Tapi sistem di KPP PMA Empat baru bisa berjalan efektif kalau semua WP sudah melaporkan SPTnya dengan e-spt. Soalnya kalau belum, yang ketiban enggak enaknya adalah kawan-kawan di Seksi PDI. Rekaman terus.
Lalu selain itu, bedanya lagi adalah di setiap lantai ada tempat rapat, sehingga tidak perlu lagi seperti di KPP PMA Tiga mengangkat-angkat kursi masuk ke ruangan Kepala Seksi ketika ada rapat interen mendadak. Di sana sudah disediakan meja besar dan kursi-kursinya. Menunjang sekali bukan.
Ya itulah kira-kira perbedaan antara kantor saya yang lama dengan yang dulu. Bukan berarti bahwa ini adalah pengungkapan sesuatu yang jelek, tapi memang setiap kantor selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Saya tidak bisa menafikan kelebihan-kelebihan yang saya dapatkan selama saya berkantor di sana selama 8 tahun 7 bulan dan 7 hari.
Kelemahan pun menjadi suatu yang tidak bisa dinafikan pula. Seperti penyedian fasilitas yang menjadi sorotan dari teman-teman AR baru yang sekarang menempati KPP PMA Tiga. Semula mereka yang bergelimang fasilitas memuaskan di kantor yang lama tiba-tiba dikejutkan dengan minimnya fasilitas yang diperoleh. Maka sudah barang tentu muncul suara-suara nyinyir, ketidakpuasan, dan tanpa bentuk yang memang sudah tidak dikumandangkan lagi oleh AR-AR lama pindah–karena sudah patah arang tentunya dengan kondisi yang ada. Itu saja.
Yang tak bisa dilupakan oleh saya adalah di sana ada pengalaman, ada cinta, memori indah, kebersamaan, kemesraan, pertemuan, perpisahan dan lain-lain. Dan untuk hal ini tiada yang dapat saya sampaikan kecuali ucapan terimakasih yang tiada terkira.
Satu hal terakhir, saya perlu bersyukur, kiranya Allah memberikan tempat yang terbaik buat saya. Pun saya berharap semoga Allah senantiasa memudahkan setiap permasalahan yang saya hadapai di kantor baru ini. Insya Allah.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
riza.almanfaluthi at yahoo.com
13:45 28 Juli 2006

30 TIDAK HARUS MENJADI TUA


Monday, July 24, 2006 – 30 TIDAK HARUS MENJADI TUA

Hari-hari ini angka yang menghiasi lembaran kehidupan saya adalah adalah angka 30. Angka yang menurut saya sudah menjadi sebuah kepastian pada hari ini. Dan menjadi batas anggapan bahwa orang itu masih muda atau sudah beranjak tua.
Hari ini saya merasakannya kini. Saya sudah tidak lagi muda. Saya sudah tua. Dengan rambut sudah mulai memutih (tidak banyak-banyak amat sih). Tidak bisa lagi ingin disebut pemuda. Tapi boleh juga kan kalau kita menginginkan jiwa kita tetap senantiasa jiwa pemuda. Jiwa yang penuh dengan gelora. Jiwa yang senantiasa enerjik. Penuh semangat dan pantang menyerah. Jiwa yang senantiasa siap memenuhi panggilan kebaikan yang dikumandangkan siapapun dan kapanpun. Inginnya sih begitu. Tapi kok ya tenaga sudah mulai tidak seperti dulu. Lebih mudah cepat lelah gitu loh.
By the way, syukuri saja yah nikmat usia yang kita terima. Saya harusnya lebih banyak bersyukur bahwa Allah masih memberikan nikmat usia ini. Masih memberikan kesempatan untuk dapat memperbaiki diri supaya menjadi lebih baik lagi. Tapi sayang kesempatan dan anugerah besar itu senantiasa pula sering saya lalaikan dengan urusan remeh temeh duniawi. Urusan yang senantiasa membuat neraca itu selalu berat ke arah timbangan ragawi bukan ukhrawi. Astaghfirullah….
Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberikan nikmat yang tiada tara pada diri saya.
Cukup di sini dulu ah…, saya benar-benar blank untuk menulis. Saya benar-benar kehabisan tema tiga minggu terakhir ini. Entah kapan saya bisa membanjiri isi kepala ini dengan semangat untuk menulis lagi. Semoga di usia yang tidak muda lagi ini, tetap masih punya semangat berkobar untuk tetap menulis. Sehingga di 30 tidak harus merasa tua bukan….?
Insya Allah.

riza almanfaluthi
14:16 24 Juli 2006
thanks berat untuk kawan-kawan yang masih sempat-sempatnya untuk menyapa saya yang hina dina ini. Seperti:
1. Jasoen;
2. Tukul Raka;
3. The Paar;
4. Sparkling;
5. Hari Santoso Penagihan;
6. Katyuzha;
7. Violet;
8. Tj;
9. Erwan;
10. Wahyu Diana;
11. Ruhama Bainakum;
12. Azzam;
13. Ananda;
14. Agung Priyo Susanto;
15. Zaenal Arifin;
16. Mas Sudewo;
17. Kawan lama saya: Mohammad Suroto.
Dan juga kepada kawan-kawan yang tak bisa saya sebut satu persatu, yang diam-diam tanpa sepengetahuan saya, senantiasa mendoakan saya untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat Anda semua. Amin.

BILA


Friday, July 21, 2006 – BILA

Melowku kambuh lagi nih. Padahal aku tidak sedang jatuh cinta. Tapi hasrat besar berbuah kata-kata manis menggelora di sudut jiwa. Tak tertahankan (kata-kata basi). Bergemuruh di antara ombak Pangandaran. Halahhhh…terlalu banyak pembukaan basi lagi jadinya.

:::::BILA::::::

kepak sayap kecilmu
membuatmu terbang jauh
membawa sejumput hati yang retak
tapi penuh kerinduan
pada yang kau dambakan untuk bersatu
:berselimutkan awan gelap
berdindingkan tetes hujan dari tepian genting
bergumul dengan desau angin dingin
menghitung setitik dua titik serpihan waktu
di balik jendela masih saja kau merenung
adakah kata-kata yang menjadi sederhana
tak berjarak dan menyekat,
adakah harap yang tidak berhenti menjadi mimpi
tetapi melaju pada kemestian dari sebuah kenyataan
adakah resah tak berkesudahan dan cuma koma ini
menemui sebuah titik
ah…sampai kapan?
sampai kepak sayap kecilmu kelelahan?
sampai sahara yang kau lewati mulai subur?
sampai mata air kesedihan ini habis terperas zaman?
Bila…?

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:54 21 Juli 2006

PROSEDUR PERPANJANGAN SURAT IZIN MENGEMUDI


PROSEDUR PERPANJANGAN SURAT IZIN MENGEMUDI

Saat ini Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya semakin giat untuk meperbaiki pelayanannya kepada masyarakat, terutama dalam hal pelayanan pembuatan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM). Contohnya dengan adanya layanan jemput bola berupa SIM keliling yang sangat membantu sekali agar warga tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk sekadar memperpanjang masa berlaku SIM-nya. Tinggal tunggu di tempat yang telah ditentukan dan ikuti prosedurnya, maka urusan ini pun semakin mudah.
Tidak hanya layanan di atas, pelayanan di kantor pun berusaha untuk diperbaiki agar dirasa memudahkan bagi warga. Seperti yang dialami oleh saya yang merasakan kemudahan itu di Kantor Polisi Resort Depok, Sabtu kemarin.Terasa ada perbedaan yang amat mencolok saat saya mendatangi Kantor Polres ini untuk membuat SIM C di tahun 2001 dengan saat ini. Tidak ada lagi calo-calo yang berkeliaran dan aparat yang terang-terangan menawarkan jasa untuk membantu pengurusan. Kini kantor ini terasa semakin rapih, tertib, dan tidak semrawut.
Kesan yang bagus inilah yang membuat saya tertarik untuk menuliskan pengalaman ini kepada Anda pembaca. Agar setidaknya stereotip tentang pelayanan yang diberikan polisi tidak profesional, rumit, berbelit-belit, sedikit banyak dapat terkurangi. Juga setidaknya untuk menjadi pengetahuan dan pedoman bagi Anda di saat kelak nanti akan memperpanjang SIM di Kantor Polres Depok.
Perlu diketahui bahwa urusan membuat SIM baru dan memperpanjang SIM dilakukan di Kantor Polres Depok—letaknya di depan Kantor Walikota Depok. Karena banyak juga orang sering keliru dan tidak tahu di kantor mana SIM bisa dibuat atau diperpanjang di Kantor Polres Depok atau di Kantor Samsat Depok. Tempat yang disebut terakhir inilah yang digunakan untuk membayar pajak kendaraan bermotor dan memperpanjang masa berlaku STNK.
Cakupan kerja Polres Depok adalah bagi masyarakat yang mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Depok ditambah dua kecamatan di Kabupaten Bogor yakni Kecamatan Bojonggede dan Tajur Halang. KTP saya adalah KTP Bojonggede, sehingga bisa membuat SIM di Polres Depok.
Bagi pembaca yang mau memperpanjang SIM—entah A,B, atau C—ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar proses penyelesaian perpanjangan SIM ini dapat berjalan lancar dan cepat.
Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan:
1. Fotokopi KTP yang masih berlaku, 2 lembar;
2. Asli Kartu SIM (A,B, atau C);
3. Pulpen/ Ballpoint, 1 buah (Ini penting untuk mengisi formulir, karena jika Anda tidak punya Anda harus membelinya di loket Asuransi. Atau kalau Anda punya muka tebal dan tidak malu Anda bisa meminjamnya ke orang lain yang sama-sama juga membutuhkan alat tulis ini. Tentunya jika Anda tetap lakukan bersiaplah Anda akan mendapatkan antrian yang lebih lama lagi);
4. Persiapkan uang pas, senilai:
Rp15.000,00 untuk tes kesehatan
Rp60.000,00 untuk biaya perpanjangan, (atau Rp75.000 untuk membuat SIM
Baru)
Rp15.000,00 untuk asuransi.
Total biaya untuk memperpanjang SIM sebesar Rp90.000,00;
5. Berangkat lebih pagi agar dapat pelayanan yang pertama. Juga karena jam pelayanan dibatasi, mulai Pukul 08.00 WIB sampai dengan 12.00 WIB;
6. Memperbanyak doa agar Allah senantiasa mempermudah langkah kita, pun agar apa yang kita kerjakan bisa bernilai ibadah di sisi-Nya.

Setelah semuanya kita persiapkan dengan matang, maka pertama kita menuju ke ruang pemeriksaan kesehatan untuk dilakukan tes kesehatan. Siapkan satu lembar fotokopi KTP untuk ditaruh di kotak yang disediakan petugas di sana. Lalu tunggulah di luar sampai giliran Anda dipanggil.
Setelah dipanggil, masuklah ke ruangan tes dengan mempersiapkan uang tes kesehatan sebesar Rp15.000,00. Lalu Anda akan diberikan dua tes. Tes uji buta warna dan tes mata. Setelah Anda melaluinya dengan mudah, maka Anda akan mendapatkan:
1. secarik kertas bukti tes kesehatan berwarna kuning;
2. fotokopi KTP yang Anda serahkan ke petugas tes kesehatan di awal.
Lalu bergegaslah menuju loket pembayaran, letaknya dekat dengan tempat ujian praktik mengemudi. Serahkan berkas di atas di tambah SIM asli serta uang sebesar Rp60.000,00 kepada petugas loket. Lalu petugas loket akan menyerahkan kembali berkas yang kita serahkan (tentunya tidak untuk uangnya) ditambah dengan resi bank dan satu lembar formulir isian. Kini di tangan Anda sudah ada lima macam dokumen.
Kemudian Anda menuju ke lokasi pendaftaran. Sebelumnya Anda harus melewati pintu gerbang yang dijaga oleh beberapa provost. Untuk dapat melewatinya Anda harus menunjukkan berkas yang ada di tangan Anda, lalu petugas akan mencap tangan Anda—seperti kita memasuki Wahana Dunia fantasi—dengan lambang kepolisian.
Setelah Anda memasukinya, barulah Anda dengan tenang mengisi resi bank dan formulir isian di meja yang telah disediakan. Contoh isian pada formulir tersebut sudah dipajang di dinding, sehingga Anda tak perlu bertanya cara mengisinya ke petugas atau orang lain.
Setelah formulir dan resi bank telah diisi dan ditulis dengan benar, Anda segera menuju loket pembayaran asuransi. Pembayaran ini untuk pembayaran premi Asuransi Kecelakaan Diri Pengemudi (AKDP) yang dikelola oleh PT Asuransi Bhakti Bhayangkara dengan masa tanggungan selama lima tahun.
Di loket inilah Anda tidak perlu menyerahkan berkas yang Anda bawa. Anda cuma menyerahkan satu lembar fotokopi KTP dengan uang senilai Rp15.000,00. Anda akan memperoleh satu lembar Tanda Terima Premi Asuransi (TTPA). Anda tidak lama lagi akan menerima AKDP.
Anda tidak perlu harus menunggu terlebih dahulu AKDP berada di tangan Anda. Anda bisa langsung menyerahkan semua berkas perpanjangan SIM Anda dengan menunjukkan TTPA ke loket pendaftaran. Oleh petugas loket TTPA itu dikembalikan kepada Anda.
Setelahnya, segera Anda menuju tempat tanda tangan yang berada di sebelah pintu masuk ruang pemotretan. Di sana ada bapak tua yang bertugas mengarahkan Anda. Anda memberikan tanda tangan di secarik kertas kosong. Jangan pakai pulpen yang Anda bawa karena di sana telah disediakan pulpen khusus. Setelah diteken, kertas itu Anda simpan untuk dibawa masuk ke ruang foto. Lalu tunggulah sampai nama Anda di panggil melalui pengeras suara untuk dilakukan pemotretan.
Sambil menunggu itulah, Anda bisa menikmati suguhan layanan yang diberikan Polres Depok, seperti air minum dari dispenser, permen, brosur-brosur lainnya, dan tentunya banyak koran harian untuk bacaan pembunuh rasa bosan. Di saat itulah, tidak berapa lama Anda akan mendapatkan AKDP.
Kurang lebih tiga perempat jam Anda akan dipanggil untuk masuk ruang foto. Di sana, Anda akan bergiliran difoto dengan pemohon yang lain. Lalu setelah difoto Anda kembali keluar dan menunggu lagi. Sekitar sepuluh sampai lima belas menit Anda sudah akan mendapatkan kartu SIM yang berlaku sampai lima tahun ke depan.
Selamat, Anda telah menyelesaikan semua prosedur perpanjangan SIM ini yang memakan waktu kurang lebih dua jam tersebut. Mudah dan tidak berbelit-belit jika Anda memahaminya. Untuk kali ini, saya salut kepada Polres Depok.
***
Demikian inilah yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat. Apabila ada kekurangjelasan silakan untuk hubungi email ini: dedaunan02@telkom.net.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
20:19 15 Juli 2006.

8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI


Friday, July 14, 2006 – 8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI

8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI

(Cuma Diary Belaka)

Hampir setahun yang lalu—tepatnya pada tanggal 19 Agustus 2005—saya menulis di Ciblog ini tentang kegembiraan saya bisa pindah dari Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Tiga ke KPP PMA Empat—yang pada akhirnya tidak jadi itu. Karena walaupun surat keputusan tentang kepindahan sudah dikeluarkan tapi secara definitif pelaksanaannya baru bisa direalisasikan pada pekan ini. Entah kenapa…?

Ya, setelah ada pergantian pejabat eselon dua dan tiga di Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Jakarta Khusus rencana perpindahan itu kembali menguat apalagi telah dilakukan pelantikan pada hari Senin kemarin (10/7) kepada seluruh Account Representative (AR). Walaupun pada saat pelantikan tersebut terdapat insiden yang tidak diinginkan. Pada saat pelantikan Kepala Kanwil Jakarta Khusus menegur peserta pelantikan yang tidak mengindahkan kekhidmatan upacara tersebut. Maklum saja ada kurang lebih 350 orang berada di aula kecil KPP PMA Dua & Tiga.

Berdasarkan kesepakatan informal antara seluruh Kepala KPP di lingkungan Kanwil Jakarta Khusus, AR baru diharapkan sudah running per tanggal 17 Juli 2006 besok. So, saya benar-benar harus mempersiapkan dan membereskan segalanya, terutama seluruh pekerjaan yang memang ada jatuh temponya itu. Diharapkan AR pengganti saya tidak merasa ditimpakan dengan beban berat.

Lalu saya memberikan catatan-catatan kecil dengan kertas post it berwarna merah menyolok pada berkas-berkas yang ada di meja saya. Supaya AR-nya pun tidak bingung nantinya. Dan tak lupa dua berkas putusan pengadilan pajak yang baru saja datang segera saya selesaikan dengan membuatkan uraian penjabaran putusan pengadilan pajak serta Draft Pelaksanaan Putusan Pengadilan Pajak melalui Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP). Tepat pada pukul tiga siang kemarin, saya sudah menyelesaikan semuanya. Terutama pula Memori Alih Tugas yang deadline-nya hari Jum’at ini.

Sekarang, hari ini, beres-beres semua barang pribadi saya. Persiapan kepindahan, coy…Perlu diketahui bahwa baru kali ini saya pindah kantor setelah 8 tahun 7 bulan 7 hari lamanya saya berada di KPP PMA Tiga. Lama juga yah…

Ya, sejak dari kampus saya memang langsung ditempatkan di kantor itu. Dalam kurun 7 tahun pula saya di sana cuma mengalami dua kali perpindahan antarseksi. Pertama, sebagai pelaksana di Seksi Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan sejak tanggal 07 Desember 1997. Lalu pada September 2001 pindah ke seksi Penagihan. Setahun setengah sebagai pelaksana di Subseksi TUPP cukup menjadi bekal untuk menjadi jurusita pajak apalagi setelah mendapat pendidikan dan pelatihan Jurusita Pajak.

Barulah pada Oktober 2004, saya dilantik menjadi AR setelah menjalani berbagai ujian. Maksud saya ini benar-benar ujian dalam arti sesungguhnya. Mulai dari mengikuti sidang skripsi agar bisa mendapat gelar kesarjanaan untuk bekal mengikuti Diklat UPKP V.

Lalu agar bisa naik pangkat di golongan III/a, saya harus mengikuti ujian UPKP V. Alhamdulillah saya lulus hanya dengan satu kali ujian. Setelah per Oktober 2003 naik pangkat dan golongan, saya diberikan kemudahan oleh Allah untuk dapat mengikuti ujian untuk menjadi AR. Lagi-lagi Allah memberikan nikmat yang tiada terkira. Saya termasuk dalam daftar AR yang ditempatkan di kantor pajak moderen. Di KPP PMA Tiga lagi. So, saya masih berkutat di kantor ini lagi. Masih menjadi makhluk penunggunya.

Satu tahun sembilan bulan saya menjadi AR di KPP PMA Tiga. Banyak suka dan duka tentunya. Sukanya, saya ditempatkan di seksi yang lumayan tidak sibuk. Tapi ini berkaitan dengan dukanya, yaitu berkutat dengan wajib pajak pertambangan emas yang selalu punya sengketa perpajakan dengan Direktorat Jenderal Pajak. Jadinya saya memang akrab sekali dengan sesuatu yang bernama putusan pengadilan pajak. Kita kalah mulu…

Lama-kelamaan berkutat di sana, saya semakin mudah memahami alur dan cara kerja SIDJP. Mungkin bisa dikatakan kalau saya familiar—untuk tidak mengatakan ahli—sekali dengan proses pencairan kelebihan pembayaran pajak via keberatan atau banding Wajib Pajak. Saya harapkan semua ini menjadi bekal berharga di kantor yang baru nanti.

Ya betul, kiranya tidak hanya bekal itu. Bekal selama 8 tahun, 7 bulan, 7 hari yang telah berlalu itulah menjadi bekal paling berharga. Bekal tentang bekerja yang baik, kedisiplinan, manajemen waktu dan pekerjaan, menghadapi orang, berbicara di depan umum, mengeluarkan pendapat, mengutamakan kejujuran, keterusterangan, dan mencari solusi.

Saya harapkan bekal itu cukup di kantor yang baru, tapi tidak berhenti di situ, saya berharap pula untuk mendapatkan bekal yang lebih baik lagi. Dari siapa saja tentunya. Dari kepala kantor yang baru, kepala seksi yang baru, teman-teman AR, pelaksana, honorer, office boy, bahkan teman-teman Satpam sekalipun. Karena satu yang saya sadari: jangan pernah melihat orangnya, tapi dengarkan apa perkataannya.

Di sana barangkali ada sejuta hikmah, kebaikan, dan keindahan akhlak yang bisa memacu saya—dan Anda Pembaca tentunya—untuk menjadi yang terbaik di mata Allah. Semoga.

Riza Almanfaluthi

dedaunan diranting cemara

Jum’at, 14 Juli 2006
sebagai pelipur sepekan tidak menulis

KYAI PORNO


Secara bergurau teman sejawatnya memberikan julukan ini pada KH Ma’ruf Amin—Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)—saat ia mendapatkan amanah sebagai Ketua Tim Pengawal Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) MUI. Ia pun pada gurauan yang lain disebut juga sebagai Ketua Teroris karena mengetuai Tim Penanggulangan Terorisme yang dibentuk MUI.
Tidak hanya itu Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini pun mempunyai julukan sebagai Kyai Bankir karena konsistensinya dalam memperjuangkan penerapan syariah dalam sistem perbankan Indonesia. Istilah-istilah akuntansi, perbankan, keuangan lainnya seperti meluncur dengan ringan dalam setiap pembicaraannya. Tidak menandakan bahwa beliau mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda 180 derajat dengan apa yang ditekuninya sekarang.
Pandangan ini adalah sedikit banyak yang saya tangkap pada sesi yang dibawakan oleh Beliau dalam tema Peranan Dewan Syariah Nasional dalam Pengembangan Perbankan Syariah.
Sesi ini adalah sesi terakhir dari rangkaian sesi sepanjang tiga hari mulai tanggal 04 Juli s.d. 06 Juli 2006 kemarin yang berjudul Executive Overview of Islamic Bank. Overview yang diselenggarakan oleh PT Bank BNI bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus ini memang sangat menarik sekali.
Di samping bahwa hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi aparat pajak—karena sesi yang dibahas sama sekali tidak berkaitan dengan masalah perpajakan yang biasa digeluti—juga memberikan pemahaman yang luas betapa pentingnya penerapan syariah dalam kehidupan perekonomian terutama penerapan syariah dalam sistem perbankan Indonesia.
Sebelum membahas pada hal-hal yang lebih teknis dari perbankan syariah para peserta Overview diberikan pemahaman pentingnya syariah terlebih dahulu di sesi pertama dengan tema berjudul Islamic Way of Live dan Sumber Daya Insani Bank Syariah. Pada sesi ini dijelaskan tentang filosofi dari perbankan syariah.
Setelah sesi pertama yang dibawakan oleh Direktur LPPI ini, M Arie Moodito, kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua dengan pembicara yang sama dengan tema pembahasan Konsep Dasar Sistem Ekonomi Islam. Lalu tema Konsep Riba, Interest, dan Uang menurut Islam dijadikan sebagai sesi terakhir pada hari itu.
Hari kedua diisi oleh Ketua ASBISINDO (Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia), Wahyu Dwi Agung, dengan dua tema lain yakni Prinsip Penghimpunan Dana dan Jasa Bank Syariah dan Prinsip Investasi dan Pembiayaan Bank Syariah.
Di sinilah para peserta Overview diajak untuk lebih mengenal produk-produk apa saja yang dijual oleh bank syariah. Tentunya juga dibumbui dengan permasalahan yang sedang panas dibahas oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan kalangan perbankan syariah yakni masalah pengenaan pajak pada transaksi Murabahah.
Tidak berhenti sampai di situ, pada hari ketiga sesi-sesi tersisa dibawakan oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Sesi bertema Dasar-dasar Akuntansi Bank Syariah dibawakan oleh Sri Yanto, Ak Direktur Teknik dari Ikatan Akuntan Indonesia.
Lalu tentang Kebijakan Bank Indonesia dalam Pengembangan Perbankan Syariah dibawakan oleh Nasriwan, pejabat dari Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Dan sesi terakhir seperti disebutkan di awal dibawakan oleh salah seorang tokoh nasional yang biasanya hanya dapat saya jumpai di televisi dan surat kabar, yakni KH Ma’ruf Amin.
Sungguh akan membutuhkan banyak halaman untuk menuliskan secara lengkap apa yang diperoleh dari overview tersebut, namun setidaknya ada beberapa fakta–fakta dari perkembangan perbankan syariah sejak berdirinya sampai sekarang ini. Ini sedikit yang bisa saya tangkap:
1. Tahun 1990 rekomendasi Lokakarya MUI untuk mendirikan perbankan syariah;
2. Tahun 1992 memasuki era dual banking system Indonesia dan mulai beroperasinya BPRS dan Bank Umum Syariah;
3. Tahun 1998 memungkinkan bank konvensional dapat membuka unit usaha syariahnya dengan dikeluarkannya UU Nomor10 tahun 1998
4. Tahun 1999 beroperasinya unit usaha syariahdari bank umum konvensional;
5. Tahun 2000 diterapkannya instrumen keuangan syariah yang pertama yang menandai dimulainya kegiatan di pasar keuangan antarbank dan kebijakan moneter berdasarkan prinsip syariah;
6. Tahun 2001 Dibentuknya satuan kerja khusus di Bank Indonesia;
7. Tahun 2002 disusunnya Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah;
8. Tahun 2003 disusunnya naskah akademis RUU Perbankan Syariah dan dikeluarkannya fatwa bunga bank haram oleh MUI;
9. Tahun 2004 disusunnya ketentuan persyaratan, tugas, dan wewenang Dewan Pengawas Syariah;
10. Tahun 2005 penjajagan ketentuan jaringan secara lebih efisien dan berhati-hati;
11. Potret Perbankan Syariah Indonesia per Maret 2006: Bank Syariah mempunyai FDR/LDR sebesar 106,96% sedangkan perbankan Nasional Cuma 56,25%;
12. NPF/L Syariah sebesar 4,27% sedangkan Nasional 8,5%.
13. Aset Perbankan Syariah 18,23 Trilyun dengan jaringan sebanyak 22 Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Sedangkan BPRS sebanyak 94 unit;
14. PSAK 59 untuk akuntansi Perbankan Syariah;
15. Di Bank Indonesia masalah perbankan syariah ini hanya digawangi oleh sebuah direktorat bernama Direktorat Perbankan Syariah. Belum ditangani oleh pejabat selevel Deputi Gubernur;
16. Perkembangan Bank Syariah mempunyai efek domino terhadap munculnya instrumen keuangan syariah atau sektor lainnya:
– obligasi syariah;
– asuransi syariah;
– sektor riil berbasis syariah (antara lain hotel syariah, juga bengkel syariah?);
– kurikulum pendidikan (dari SMP hingga PT);
– voluntary sector (ZISWAF);
– aspek hukum dan perundang-undangan;
– perusahaan pembiayaan syariah;
– pasar modal syariah;
– reksadana syariah.

Sampai saat tulisan ini dibuat Rancangan Undang-undang Perbankan Syariah belum menemui kata final padahal pada saat yang sama Singapura berkeinginan untuk menjadi negara dengan istrumen keuangan syariah terbesar di dunia. Apa yang dilakukan negara jiran ini (rencana penerbitan sukuk misalnya) adalah langkah cerdik untuk menyerap dana menganggur pascaWTC dan booming harga minyak dunia. Salah satu caranya adalah dengan mereformasi sistem perpajakannya agar sistem keuangan syariah tersebut lebih dilirik.
Hal yang selalu terlambat dilakukan oleh Indonesia dalam menarik investasi dari Timur Tengah. Padahal sudah ditengarai bahwa para investor dari Timur Tengah tersebut lebih menyukai berinvestasi ke Indonesia dibandingkan ke Filiphina (yang telah mulai menerbitkan sukuk), Singapura, dan China. Ini dikarenakan Indonesia mempunyai kedekatan aqidah dengan mereka dan sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Saat ini adalah era syariah. Apa yang diceritakan oleh KH Ma’ruf Amin dapat menjadi bukti. Suatu saat perusahaan yang bergerak di bidang keuangan ingin membuka produk syariahnya. Untuk mewujudkannya mereka harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemegang saham asing—penguasa 40% saham perusahaan tersebut—yang berada di Singapura dan London. Jawaban dari mereka: ”Anda sudah terlambat, karena era sekarang adalah era syariah.”
Perekonomian dunia berbasis syariah sudah menjadi suatu keniscayaan dan akan menjadi sistem ekonomi dunia yang benar-benar nyata menggusur sistem kapitalis yang amat menindas. Sekali lagi ini adalah suatu keniscayaan karena sesungguhnya Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Bahan Rujukan: banyak makalah dari overview

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
20:35 06 Juli 2006