CINTA YANG TAK LAPUK


Monday, July 3, 2006 – CINTA YANG TAK LAPUK

Seperti biasa jelang acara perpisahan, atasan meminta saya untuk membuat untaian kata buat diselipkan pada gift yang akan diberikan. So, saya cuma bisa membuatnya seperti ini:

Teruntuk: Bapak DS

Kencangnya masa berputar membuat tiada kesadaran pada kami bahwa perpisahan adalah suatu keniscayaan dari sebuah pertemuan. Hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun terlampaui untuk sebuah kebersamaan.

Ya, kebersamaan dalam merenda suka dan duka, menyulam keriangan dan kesedihan, menisik benang lara dan bahagia pada sebuah selendang indah bernama Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga. Tentunya di sana ada sebuah jejak yang tertoreh lekat, erat, tak mudah terhapus dimakan zaman. Dan torehan itu merelief di setiap ingatan kami. Ingatan tentang Bapak…

tentang kebersahajaan, kebijaksanaan, keluasan pengetahuan, kehangatan dalam diskusi, teguran tanpa celaan, tanpa otokratis, tanpa wajah memerah menahan amarah, tanpa jarak yang membuat ruang dan waktu sendiri

ah…ingatan tentang Bapak…

Ingatan yang menjadi kenangan. Tak terlupakan seiring saat yang tak akan berhenti menggerus kami.

Duh…seiiring dengannya, teringat pula betapa banyak kesalahan yang telah kami lakukan mengoyak keindahan selendang dan kebersamaan itu. Membuat beban yang sudah menggunung semakin memberat di pundak Bapak. Sungguh sejuta permintaan maaf terucap dari lisan-lisan kami kepada Bapak belumlah cukup untuk melunasinya….Maafkan kami Pak…

Pun, ucapan terima kasih dari lubuk hati kami yang paling dalam kiranya belumlah cukup untuk membalas semua bimbingan, nasehat, saran, kritik Bapak kepada kami. Tapi Pak, tetaplah kami harus berkata:

“Terima kasih telah menjadi orang tua kami”

“Terima kasih telah menjadi guru kami”

“Terima kasih telah menjadi sahabat kami”

“Terima kasih telah menjadi saudara kami”

“Terima kasih, Bapak…”

Kini perpisahan adalah matahari yang terbenam di ufuk barat. Bukan sesuatu yang nisbi. Telah jelang di depan pintu. Membuat garis pemisah.

Tapi bukanlah suatu kemutlakan bahwa hati-hati kami lalu berjarak dan tersekat-sekat untuk melupakan semuanya itu dengan Bapak di tempat baru. Tidak Pak…Tidak…

Tapi bahkan menjadi eratnya hati-hati di antara kita, Pak.

Selamat ya, Pak…Semoga tempat baru itu menjadi awal kesuksesan-kesuksesan lain. Dan tetaplah Bapak menjadi orang tua bagi kami, guru bagi kami, sahabat bagi kami, dan saudara bagi kami. Tentunya dengan cinta…

Cinta yang tak lapuk kerana hujan dan tak lekang kerana panas…

Dari Kami:

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di Ranting Cemara
15:21 03 Juli 2006

ARAGONES, YOU ARE A LOOSER


ARAGONES, YOU ARE A LOOSER

Pelatih Spanyol ini sudah selayaknya mendapatkan julukan itu setelah timnya dikalahkan oleh Perancis tadi malam dengan skor 1-3 di stadion Niedersachsen, Hannover. Gol kedua Les Blues yang dibuat oleh Playmaker-nya Patrick Vieira di menit ke-83 memupuskan harapan Spanyol untuk mempertahankan kedudukan 1-1 sampai terdengar peluit panjang. Apalagi setelah Zidane membuat gol ketiga di babak additional time. Menambah kepastian bahwa Spanyol harus menyetop ambisinya melangkah ke babak berikutnya.
Bisa jadi inilah tuah yang harus didapat dari Luis Aragones yang telah mengucapkan kata-kata rasis beberapa tahun lalu. Saat sesi latihan yang diliput oleh media itu, Aragones berkata pada salah seorang pemainnya, “seharusnya kamu lebih baik daripada si hitam sialan itu”. Di sini “si hitam sialan” itu adalah Thierry Henry, pemain asal Perancis yang merumput di Arsenal.
Walaupun Aragones tidak pernah meminta maaf atas ucapannya itu Thierry Henry memaafkan Aragones dan tidak ambil pusing dengan sikap rasisnya. Namun ini masih belum bisa dimaafkan oleh teman-teman satu tim Henry, apalagi di saat pertemuan di Piala Dunia 2006 ini kesempatan membalaskan sakit hati itu terbentang.
Tentunya dengan mengalahkan Spanyol merupakan pembalasan yang cukup buat Aragones. Bahkan dari sikap rasis itu menambah semangat bagi tim ayam jantan untuk dapat menjadi pemenang.
Kini terbukti sudah, rasisme membawa petaka buat Aragones. Terbukti bahwa orang yang mengejek orang lain belum tentu lebih baik daripada yang diejek. Kesombongan akan selalu hancur di muka bumi. Dalam pertandingan yang diwasiti Roberto Rosetti itu timnya yang menduduki peringkat ke-5 FIFA ini bertekuk lutut dikalahkan Perancis yang hanya menduduki peringkat ke-8. Walaupun memang dari sejarah tujuh kali pertemuan sebelumnya dapat dilihat bahwa Perancis selalu unggul dengan memperoleh kemenangan 5 kali menang, 1 seri, 2 kali kalah.
Kemenangan ini semakin memperpanjang daftar kemenangan Perancis melawan Spanyol. Juga membuat lemahnya cercaan kepada mereka yang dianggap sebagai tim yang memuja masa lalu dan tim yang diisi dari generasi tua itu. Kemenangan ini pun membuat mereka harus lebih bekerja keras lagi karena yang akan mereka hadapi Ahad nanti di perempat final adalah juara bertahan 2002 dan lima kali piala dunia, Brasil. Tapi moral yang semakin meningkat sudah menjadi modal kuat untuk dapat melangkah menuju semi final.
Kini, Perancis telah melewati salah satu ujiannya untuk mengulangi keemasan 1998. Walaupun banyak yang pesimis mereka dapat menekuk Brasil, tapi bola tetaplah bundar. Sehingga belumlah diketahui secara pasti siapa yang akan memenangkan pertarungan nanti sampai wasit benar-benar meniup panjang peluitnya. Tapi yang pasti, kini, Aragones sudah bermimik sedih dan layak mendapatkan julukan a looser.

Fakta Lain:
Perancis Juara Dunia 1998, Spanyol belum pernah.

***
Syukran, atas missed call dari seseorang yang telah membangunkan saya tepat pukul 03.15 (Sebenarnya karena banyak nyamuk juga sih). Dini hari tadi saya banyak berbuat apa saja. Perancis menerapkan strategi 4-2-3-1, saya cuma 4-4-1 tepatnya 2-2-2-2-1. Terkantuk-kantuk lagi. He…he…he…

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:02 28 Juni 2006

ISRAGHANI


ISRAGHANI
by: dedaunan
(Sekadar lara yang tak kunjung sembuh untuk Ibunda Sami Al-Sharif kerana anaknya meregang nyawa dihantam rudal Israel, kemarin)

Dukungan saya terhadap tim-tim piala dunia sudah jelas dan terang seterang matahari di siang bolong. Pertama saya mendukung kesebelasan yang punya ikatan ideologis yang sama dengan saya. Anda pasti tahu. Ya, Arab Saudi, Tunisia, dan negara-negara Afrika yang masih mempunyai jejak-jejak ekspedisi Islam masa lalu.
Kedua, dukungan saya berikan kepada tim dari Afrika secara umumnya. Ketiga, prioritas dukungan kepada tim dari Amerika Tengah dan Latin minus Argentina dan Brazil. Keempat, baru saya mendukung tim dari negara-negara Asia khususnya Asia Timur. Setelah itu, bila tidak ada dari tim-tim yang saya sebutkan di atas masuk dalam babak-babak final maka saya akan mendukung tim Argentina. Dan dalam urutan terakhir adalah Brazil. Cuma ini.
Jelas sudah tidak ada lagi yang bisa saya dukung kepada tim dari negara-negara yang tidak memenuhi kriteria di atas. Bila terpaksa harus memilih dan memberikan dukungan kepada tim-tim selain di atas maka saya harus memilih tim yang mempunyai pemain kulit berwarna terbanyak dalam squadnya. Tapi tidak sama sekali dengan tim dari Amerika Serikat. Dengan jejak militernya yang berlumuran darah di setiap jengkal bumi saya sama sekali tidak respek dengan tim ini.
Pertanyaannya adalah mengapa dalam event sekaliber Piala Dunia 2006 ini pilihan secara politik dan ideologis selalu mengemuka dalam pikiran saya. Ini cuma kekesalan saya saja melihat ketidakadilan yang menimpa banyak negara miskin, terbelakang, terbanyak berada di bagian selatan dunia yang dilakukan oleh negara kaya, besar, dan dzalim. Apalagi ditambah stereotip bahwa negara itu bependuduk mayoritas muslim.
Alhasil, saya melihat bahwa sepakbola adalah olahraga yang tepat dijadikan ajang pembuktian diri eksistensi sebuah negara yang minus harga diri. Pembuktian bahwa mereka sanggup mengalahkan tim dari negara superpower, maju, penjajah, dan mantan tuan tanahnya. Walaupun cuma dalam kompetisi olahraga, tidak pada kemiliteran dan perekonomian.
Namun, kali ini dukungan saya terkoyak habis melihat tingkah laku pemain salah tim yang masuk prioritas untuk didukung oleh saya. Pemain dari Ghana. Ya, walaupun pertandingan itu tidak saya tonton—katanya seru habis dan benar-benar mengasyikkan—saya mendapatkan berita tidak mengenakkan ini pada hari Senin (19/6) pagi kemarin di kantor.
Teman saya menceritakan tingkah laku salah satu pemain tim Afrika tersebut saat mencetak gol ke gawang Cheska, Sabtu (17/6). Ulah yang dilakukan pemain bernama John Paintsil itu adalah dengan mengeluarkan dari kaos kakinya bendera lalu mengibarkannya. Tidak masalah kalau yang dikibarkan itu adalah bendera negaranya sendiri. Namun ini adalah bendera Israel. Bendera dari negara yang sampai detik ini masih menerapkan taktik pembantaian dan genosida terhadap rakyat Palestina.
Sayangnya berita sebesar dan sesensitif itu tidak nampak di harian Republika Senin—atau karena saya tidak membaca koran tersebut pada hari ahadnya. Saya mendapatkan foto Paintsil yang sedang mengibarkan bendera itu malah dari koran harian khusus olahraga, TOPSKOR.
Namun pada keesokan harinya, Selasa (20/6), Republika pada halaman pertamanya menampilkan berita tersebut dengan judul yang sangat mencolok: Ulah Bodoh John Paintsil.
Dari sanalah saya mendapatkan bahwa masalah ini tidak hanya melukai saya secara pribadi. Tapi juga menginternasional. Masyarakat Mesir dan negara Arab lainnya yang semula mendukung Ghana, marah dan bersuara keras. Bahkan menjuluki John Paintsil—yang bermain di Hapoel Tel Aviv, klub di Liga Israel—ini sebagai orang dungu, bodoh, dibayar Israel, Agen Mossad, dan Israghani (Israel Ghanaian).
Dari berita itu saya mendapatkan alasan masuk akal tentang tingkah laku Paintsil. “Alasan sesungguhnya adalah banyak pemain Ghana dibesarkan di kamp latihan yang dibangun Israel,”tulis analis politik Hassan el-Mestekawi. “Pelatih Israel melihat bakat-bakat sepakbola Afrika sebagai lahan bisnis paling cerah. Mereka membangun tempat-tempat latihan, mendidik anak-anak miskin dan menjualnya ke klub-klub Eropa.”
Setiap pagi , sebelum berlatih, anak-anak Ghana mengikuti upacara di lapangan terbuka. ”Mereka menghormat ke bendera Israel,” ujar Mestekawi. (Republika, 20/6)
Dengan demikian jelas sudah bagaimana keberpihakan Paintsil dan kesuksesan Yahudi Israel dalam mencetak kader-kader untuk mendukung eksistensi negara penjajah tersebut.
Paintsil dan Israel kali ini juga sukses mengampanyekan perlawanannya kepada Iran. Pada piala dunia kali ini—dalam situasi dunia di antara perang kata antara Iran dan Israel—ada rencana bahwa Presiden Iran Ahmadinejad akan pergi ke Jerman untuk melihat tim kebanggaannya bertanding bila masuk ke babak kedua. Tentunya peristiwa ini bermakna luas.
Tindakan Paintsil sepertinya pula untuk mengejek Iran. Karena pada partai sebelumnya pada hari yang sama, Iran dikalahkan oleh Portugal dengan skor 0-2. Partai ini menjadi penentu bahwa Iran harus angkat kopor dari Jerman setelah dikalahkan oleh Meksiko 1-3 di pertandingan pertamanya.
Berhasil sudah kampanye tersebut dengan pesan sangat jelas yang menyuarakan: “Hei, Iran! Anda pergi, Kami (Israel) tetap di sini.” Tapi ejekan ini jelas tidak hanya untuk Iran tapi keseluruhan bangsa Arab yang sangat menentang pendudukan Israel atas Palestina.
Walaupun Asosiasi Sepakbola Ghana (GFA) telah mengajukan permintaan maaf dengan menegaskan bahwa Ghana tidak punya orientasi politik apapun terkait konflik di Timur Tengah dan berjanji tidak akan terjadi hal seperti itu lagi, tapi ini tidak mencegah mutungnya publik Mesir dan negara Arab lainnya dengan adanya rencana stasiun televisi mereka untuk tidak menayangkan lagi pertandingan sisa negara tersebut.
Tidak hanya mereka di sana, saya sudah pastinya akan merasakan hal yang sama. Sepertinya saya pun harus benar-benar dingin dan membuang ekspresi kegembiraan seandainya mereka dapat mencetak gol ke gawang Amerika Serikat di Stadion Nuremberg hari ini (22/6).
Saat itulah saya dapat melihat apakah Paintsil akan mengulangi perbuatan bodohnya itu dan menganggap remeh komitmen GFA, hanya untuk memenuhi janjinya kepada rakyat Israel untuk mengibarkan Bintang David dengan Garis Biru jika Ghana dapat mencetak gol ke gawang lawan. Jika ya, betul sekali bahwa aksi kemarin adalah kado khusus dan “cantik” buat Iran. Tapi cukup menyakitkan. Tidak hanya bagi saya, tapi bagi mereka yang sudah muak dengan penindasan Israel.
Kita lihat saja nanti malam.

Fakta Angka:
Grup E
Pertandingan Tanggal Lapangan Tim Score
9 13-Jun-06 Hanover ITA:GHA 2:0 (1:0)
10 13-Jun-06 Gelsenkirchen USA:CZE 0:3 (0:2)
25 18-Jun-06 Kaiserslautern ITA:USA 1:1 (1:1)
26 18-Jun-06 Cologne CZE:GHA 0:2 (0:1)

Yang Belum Menjadi Fakta:
Pertandingan Tanggal Lapangan Tim Score
41 22-Jun-06 Hamburg CZE:ITA ????
42 22-Jun-06 Nuremberg GHA:USA ????

Fakta Lain:
1. Luas Wilayah Ghana: 238.540 km persegi hampir dua kali luas pulau Jawa.
2. Dulu bernama Pasir Emas; nama Ghana berasal dari ”Kekaisaran Ghana”.
3. Ibukota Accra;
4. Bahasa Resmi: Inggris;
5. Berbatasan di utara dengan Burkina Faso; dan selatan Teluk Guinea;
6. Bertetangga dengan Pantai Gading (di barat) dan Togo (di timur). Bersama dua tetangga tersebut Ghana sama-sama dapat mengikuti ajang Piala Dunia 2006 di Jerman;
7. Penghasil coklat terbesar di dunia dan penghasil alumunium terbesar di Afrika;
8. Pernah dijajah Portugis pada akhir abad ke-15. Pernah di bangun benteng pantai di sana oleh Inggris, Belanda, dan Denmark pada abad ke-17 dan ke-18;
9. Pada tahun 1874 dijajah Inggris dan memperoleh kemerdekaan pada tanggal 06 Maret 1957;
10. Penduduk bagian utara beragama Islam, sedangkan penduduk di bagian selatan memeluk agama Katolik.

Fakta Jejak Israel di Ghana:

In April 1959, Israel, with help from India, supervised the establishment of the Ghanaian Air Force. A small Israeli team also trained aircraft maintenance personnel and radio technicians at the Accra-based Air Force Trade Training School. Although the British persuaded Nkrumah to withdraw Israeli advisers from Ghana in 1960, Ghanaian pilots continued to receive some training at aviation schools in Israel. After Nkrumah’s overthrow, Israeli military activities in Ghana ended. (http://reference.allrefer.com/country-guide-study/ghana/ghana164.html)

Maraji:
1. TopSkor, Senin 19 Juni 2006;
2. Republika, Selasa 20 Juni 2006;
3. Republika, Kamis 22 Juni 2006;
4. http://www.eramuslim.com/news/int/44974db2.htm;
5. Jadwal dan Hasil Pertandingan Piala Dunia 2006 di http://10.254.28.92/sites/pialadunia/grup/jadwalhasil.aspx;
6. http://reference.allrefer.com/country-guide-study/ghana/ghana164.html;
7. http://id.wikipedia.org/wiki/Ghana;
8. Ensiklopedi Keluarga A-Z.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:36 22 Juni 2006
caci maki silakan dialamatkan ke: riza.almanfaluthi at pajak.go.id

HATI-HATI, BALITA TERSEDAK !!!


Tadi pagi, Si Bungsu Ayyasy sambil tidur-tiduran ngemut mainan kecilnya. Mainan berupa angsa-angsaan hadiah dari susu formula yang ada rodanya itu. Tapi tiba-tiba dia menangis tanpa suara sambil menunjuk-nunjuk mainannya itu. Ummu Haqi kaget dan bertanya kenapa…? Setelah diperhatikan ternyata rodanya sudah tidak ada lagi. Ia berkesimpulan bahwa rodanya sudah tertelan masuk ke kerongkongannya.
Dalam kepanikan melihat Ayyasy yang menangis kesakitan itu, di tambah melihat Haqi–sang kakak– yang ikut menangis pula karena kasihan dengan keadaan adiknya, Ummu Haqi langsung menyuruh anak yang baru berumur 3 tahun 9 bulan itu untuk membungkuk. Lalu dengan keras menepuk punggungnya .
Tiga kali dilakukannya, namun upaya untuk mengeluarkan roda kecil dari kerongkongan si anak tidak kunjung berhasil. Lalu ia memakai cara lain dengan memasukkan jarinya ke dalam mulut Ayyasy. Tiga kali pula ia rogoh dalam-dalam. Akhirnya ada reaksi. Semua makanan yang ada di dalamnya keluar semua. Termasuk roda kecil seujung kuku berwarna biru.
Alhamdulillah, cara ini efektif. Saya tidak dapat membayangkan kalau saat itu Ummu Haqi sudah berangkat ke kantor dan bertanya-tanya apakah khadimat akan berbuat yang sama ketika melihat kejadian tersebut.
Saya tidak dapat membayangkan pula bagaimana kalau benda kecil itu tidak bisa dikeluarkan. Syukurnya cuma di kerongkongan, tidak di tenggorokan sebagai saluran pernafasan. (Banyak cerita tentang bagaimana anak yang tidak bisa diselamatkan karena kejadian ini)
Saya tidak dapat membayangkan pula kehilangan anak yang sedang lucu-lucunya. Bisakah saya setegar Iman yang telah kehilangan tiga anaknya dengan kejadian menggemparkan di Bandung beberapa hari yang lalu? Bisakah saya tidak menangis dan meratapi anak yang sangat saya cintai itu? Dan merelakan kepergiannya sebagai tabungan indah di akhirat kelak? Allohua’lam.
Tapi ada pelajaran yang bisa diambil di sini. Pertama jangan pernah panik terlebih dahulu melihat situasi gawat ini. Dalam hal ini saya salut kepada Ummu Haqi yang dapat mengatasi rasa paniknya.
Kedua, jangan pernah memberikan mainan-mainan yang memang tidak diperbolehkan untuk balita. Biasanya produsen mainan anak-anak selalu mencantumkan peringatan bahwa mainannya tidak cocok untuk diberikan kepada anak-anak di bawah umur.
Ketiga inilah kesempatan terbaik saya untuk membuang semua mainan -mainan kecilnya seperti mobil-mobilan, dan kelereng. Sebelum kejadian ini Haqi dan Ayyasy tidak mau tahu dengan peringatan yang diberikan orang tuanya kepada mereka. Mereka menangis dan berteriak kalau saya mengancam untuk membuang benda-benda membahayakan itu. So, mendengar rengekan dan tangisan itu saya biasanya luluh.
Keempat, selalu mengantisipasi keadaan darurat itu dengan memberikan pemahaman yang baik terhadap khadimat. Pemahaman bagaimana menangani perisitiwa semacam ini, atau hal lainnya seperti pencurian, kebakaran, sakit mendadak, dan luka-luka. Biasanya karena kita sudah cukup percaya dengan khadimat kita meremehkan dan tidak menyosialisasikan hal-hal ini.
Kelima, sediakan nomor-nomor penting untuk dihubungi. Tulis di atas kertas dan tempelkan di dekat pesawat telepon. Jangan pernah mengunci telepon. Memang ada resikonya bahwa khadimat tidak amanah dengan pemakaian telepon ini. Tapi berusahalah untuk memberikan pengertian bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya hendaknya dipegang sebaik-baiknya.
Keenam, jangan pernah melupakan tetangga. Inilah gunanya bertetangga dan menjaga adabnya yang senantiasa diwanti-wanti dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Hubungi tetangga terdekat, karena diharapkan tetangga yang berada di luar panic area bisa memberikan pemikiran jernihnya dan solusi terbaik buat kita.
Sepertinya cuma itu pelajaran hari ini yang bisa dipetik. Tapi sedikit banyak akan membawa saya dan Anda untuk selalu siap dalam menghadapi keadaan gawat darurat saat rumah dan keluarga kita tinggalkan karena seharian mencari nafkah.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
cuma mendengar kabar ini dari Ummu Haqi
setelah beberapa jam peristiwa ini terjadi
15:00 20 Juni 2006

DUEL BEKAS KOLONI SPANYOL


Setelah golnya dianulir oleh wasit di babak kedua karena terperangkap dalam jebakan offside yang dibuat para pemain belakang Kosta Rika, I. Kaviedes melalui umpan matang Mendez akhirnya menciptakan gol indah buat Ekuador. Dan jangan lupa bahwa gol ini dibuat di menit ke-92 di babak perpanjangan waktu yang hanya empat menit lamanya.
Tentu saja stadion sepakbola di kota Hamburg kembali bergemuruh dengan sorak sorai bergembira dari para suporter Ekuador. Skor bertambah menjadi 3-0. Angka yang membuat tim dari Amerika Selatan ini dipastikan lolos ke babak kedua. Bersama Jerman tentunya yang mengalahkan Kosta Rika 4-2 dan Polandia 1-0. Sisa pertandingan terakhir tidak berpengaruh terhadap kedua tim ini.
Dan kali ini Ekuador mempertontonkon pada para penggemar sepakbola di dunia permainan menawan, kerjasama yang baik, dan gol-gol cantiknya. Dua gol indah sebelumnya dibuat dengan tandukan oleh C. Tenorio di menit ke-8 dan tendangan di sisi yang sulit oleh Delgado—sempat menjadi Man of the Match pada pertandingan perdana melawan Polandia—di menit ke-54.
Tentunya kemenangan ini menghapus julukan yang melekat sebelumnya pada tim Ekuador. Yaitu julukan sebagai jago kandang. Sebagaimana diketahui bahwa Ekuador selalu menang dalam setiap pertandingan yang dilakukan di Ibukotanya, Quito yang berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. Seperti pula Bolivia yang mendapat julukan yang sama karena letak La Paz yang tinggi pula.
Ini membuktikan bahwa para pemain Ekuador pun sanggup untuk bermain di mana saja, atau di ketinggian yang sama dengan permukaan laut seperti di Hamburg misalnya.
Kemenangan ini pun memupuskan kekhawatiran saya setelah melihat pertandingan pertamanya melawan Polandia beberapa hari yang lalu. Pertandingan di dini hari yang saya tonton dengan terkantuk-kantuk ini meninggalkan kesan pada diri saya bahwa Ekuador kalau mempertahankan permainannya seperti itu tidak akan bisa untuk melaju ke babak kedua. Apalagi menjadi juara dunia. Impossible!!!
Tapi harapan nonrealistis saya bahwa Piala Dunia akan dimenangkan oleh tim underdog, tim kuda hitam, tim selain dari Eropa, Argentina, dan Brasil kembali membuncah setelah melihat kemenangan Ekuador pada malam ini.
Ya, malam ini saya temukan tim unggulan saya. Tim yang membuat saya bisa pula larut dalam demam piala dunia. Walaupun saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya nanti, tapi yang pasti piala dunia bagi saya tidak akan membosankan lagi karena melihat tim-tim dari negara bola itu-itu saja. Hal yang sama ketika saya mendukung Nigeria di saat Piala Dunia 2002.
Sebenarnya tidak hanya Ekuador yang menjadi harapan, tapi ada pula Iran, Togo, Tunisia atau Arab Saudi. Namun keempat negara tersebut sampai saat ini belum ada yang membukukan kemenangan. Jikalau memang ditakdirkan bahwa tim favorit saya tidak ada yang melaju ke babak seperempat final misalnya, saya akan dukung Argentina.
Mengapa Argentina? Karena ada kenangan tersendiri buat tim ini di waktu saya masih duduk di bangku SD. Ya, sampai saat ini kemeriahan piala dunia tahun 1986 masih terbayang-bayang di mata. Teringat kelincahan Maradona pada waktu itu. Itu saja sih. Pokoke Argentina!!! 
Kembali kepada pertandingan Ekuador dan Kosta Rika malam tadi, kemenangan ini membuktikan bahwa Ekuador memang kekuatan ketiga sepakbola Amerika Latin setelah Argentina dan Brasil. Perlu pembuktian lebih lanjut di saat memainkan partai ketiga melawan Jerman.
Bisakah Ekuador dengan benteng kuartet pemain belakangnya yang kuat mampu menahan gempuran dari Tim Panser asuhan Jurgen Klinsman itu. Atau bahkan mampu balik menyerang dan mengobrak-abrik pertahanan lawan melalui aksi lincah dari Mendez, Delgado, C. Tenario, De La Cruz, I. Kaviedes dan kawan-kawan.
Jika menang, Ekuador akan menjadi tim yang ditakuti di depan mistar gawang oleh tim-tim lain. Sebaliknya, maka tetap menjadi perhatian lebih dari yang lain. Kita lihat saja nanti.

Fakta Angka:
Hasil pertandingan Grup A Piala Dunia 2006 di Jerman sampai 23:43 WIB 15 Juni 2007:

Jerman 4-2 Kosta Rika
Polandia 0-2 Ekuador
Jerman 1-0 Polandia
Ekuador 3-0 Kosta Rika

Yang Belum Menjadi Fakta di Grup A:
Ekuador ?-? Jerman
Kosta Rika ?-? Polandia

Fakta-fakta lain di balik pertarungan Ekuador dan Kosta Rika.
Fakta ini di dapat dari ensiklopedi yang saya baca sambil menonton pertandingan semalam. Perlu membacanya agar didapat gambaran yang lebih utuh. Tentunya hal yang sedikit ini adalah profil selain profil sepakbola—karena hal ini banyak didapat dari koran dan majalah. Selamat menikmati.
1. Ekuador dan Kosta Rika sama-sama bekas koloni Spanyol;
2. Ekuador merdeka tahun 1822 dari Spanyol dan Kosta Rica melepaskan diri dari Federasi Amerika Tengah di tahun 1848;
3. Ekuador adalah republik yang berada di Amerika Selatan, berbatasan dengan Peru di sebelah selatan dan Kolumbia di utara. Ibukotanya Quito.
4. Kosta Rica berada di Amerika Tengah bertetanggaan dengan Panama dan Nikaragua. Ibukotanya San Jose.
5. Luas Wilayah Ekuador 270.679 km persegi. Sedangkan Kosta Rika 51 ribu km persegi;
6. Penduduk kedua negara itu lazimnya keturunan Spanyol, Indian, serta Afrika (dari bekas budak).
7. Christophorus Columbus pernah singgah di Kosta Rika di tahun 1502
8. Kota Pontianak di Kalimantan Barat sejajar pada garis khatulistiwa dengan Ibukota Ekuador, Quito.

Sumber:
1. Pertandingan Bola Langsung dengan segala komentarnya di SCTV Pukul 20.00 WIB 15 Juni 2006;
2. Peta Dunia: National Geographic Maret 2005 (Peta ini tidak mencantumkan Negara Palestina. Disana cuma ada ISRAEL, maklum saja National Geographic Society berada di Washington DC, USA);
3. Ensiklopedi Keluarga A-Z, 1991;
4. http://www.bbc.co.uk/indonesian/sports/story/2006/06/060610_hasil.shtml

riza almanfaluthi
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan di ranting cemara
23:52 15 Juni 2006

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS


Thursday, June 15, 2006 – ABB: IKON PERLAWANAN HEGEMONI AS

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS

Kemarin (Rabu, 14/06), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang setelah menjalani hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan potong remisi 4 bulan dalam tuduhan terkait dengan peledakan Bom Bali I dan Bom Marriot.
Tuduhan yang menjadi dakwaan itu pun masih saja disematkan oleh banyak media nasional kepadanya pada saat ini ketika memberitakan pembebasannya. Padahal kalau mereka tidak lupa—atau memang disengaja dilupakan oleh mereka—bahwa dakwaan yang menjadi dakwaan primer yakni terkait dengan peledakan bom bali itu tidak terbukti di persidangan.
Yang membuatnya ditahan adalah karena dakwaan subsidernya yaitu pembuatan Kartu Tanda Penduduk yang tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar Undang-undang Keimigrasian. Dakwaan yang bisa saja menimpa banyak orang di Indonesia karena bukan rahasia umum lagi kalau penduduk Indonesia masih banyak yang memiliki KTP ganda dan tidak melalui prosedur yang sebenarnya.
Jelas sudah bahwa penahanannya adalah benar-benar pesanan dan di bawah tekanan dari negara-negara yang mengaku paling demokrasi, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya terutama Australia sebagai kaki tangan setianya. Walaupun hal ini dibantah dengan keras oleh pemimpin pada dua masa pemerintahan terakhir republik ini.
Tekanan yang pada akhirnya berhasil membuat sebuah detasemen kepolisian antiterorisme dengan nama Detasemen 88—Angka 88 ini diambil dari jumlah korban warga Australia pada saat Bom Bali I. Yang juga bisa dituntut oleh semua pihak dengan pertanyaan: “memang yang menjadi korbannya warga Australia saja?”
Pu ini adalah tekanan yang membuat sebagian mata buta dengan kondisi yang diderita oleh ABB pada saat ia akan ditahan. Walaupun ia masih benar-benar sakit dan dalam perawatan di rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo, ia tetap diangkut dengan paksa seperti pesakitan atau hewan buas yang akan membuat kerusakan. Dalam perjalanan ke Jakarta pun ia tidak diperbolehkan untuk buang air kecil. Sungguh ini adalah suatu kezaliman.
Padahal banyak sekali para koruptor di negeri ini hanya bermodalkan secarik surat keterangan dokter atau vonis kesehatan seperti kerusakan otak permanen masih dapat berleha-leha menikmati udara bebas. Dan tidak mendapat perlakuan yang sama dengan apa yang dialami oleh ABB. Lagi-lagi hukum ditegakkan kepada orang-orang yang tidak berduit dan tidak berdaya.
Namun kini pembebasannya disambut dengan gembira, tidak hanya oleh santrinya tapi juga oleh banyak tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Kepulangannya dikawal dan disambut oleh ratusan santri di Ngruki, Solo.
Saat tiba di sana ia memberikan tausyiah pertamanya di pesantren AlMukmin. Ia menegaskan kembali bahwa garis perjuangan yang ditempuh oleh Nurdin M Top adalah salah atau keluar dari jalur yang sebenarnya. Yang benar adalah dengan dakwah yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang benar kepada masyarakat. Dan ia tegaskan bahwa inilah yang dibenci oleh Amerika dan musuh-musuh Islam.
Pernyataan yang tegas dan membuktikan dirinya masih sebagai ikon perlawanan terhadap hegemoni AS sebagai negara superpower dan superzalim. Di dalam tubuhnya yang ringkih masih ada api perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh dunia Islam. Dan masih ada semangat membara dalam upaya penegakan syari’at islam di muka bumi Indonesia ini.
Kini ia akan kembali mengajar di pesantrennya. Sebagaimana jawaban atas pertanyaan dari para wartawan saat ditanya apa yang akan ia lakukan setelah pulang dari penjara. Ya, mengajar dan mendidik kader-kader yang terus dan selamanya akan memperjuangkan umat Islam terlepas dari setiap kezaliman yang menimpanya. Dan dalam penegakan syariat Islam yang rahmatan lil’alamin di tanah air ini. Semoga.

*****
Adzan shubuh bergema, saya matikan liputan 6 pagi itu. Ada bening-bening di mata, seperti bening-bening dulu kala saat beliau di tarik dan dibawa paksa dari rumah sakit. Sungguh bencana apa lagi yang akan menimpa negeri ini ketika banyak ulama yang dihina dan dicaci maki. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara
saat ada uneg-uneg yang membuncah
07.30 s.d. 08:28
15 Juni 2006

INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”


INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”

Saya rindu menulis. Menulis di Ciblog tentunya. Hampir dua pekan tanpa ide yang menggelayut di benak. Dan tanpa ada tarian jari di atas keyboard. Kali ini, hari ini, saya benar-benar rindu menulis. Menulis apa saja. Menulis di Ciblog tentunya.
Kemarin di kantor, setelah tiga hari lamanya saya kembali cuti untuk pulang ke kampung halaman, teman satu seksi saya yang baru saja memegang Majalah Tempo terbaru setengah berteriak berkata: “Hei, ada Riza di Majalah Tempo!” Sambil menunjuk kaver depan majalah tersebut yang bergambar foto blur seorang muda berkenggot , berbaju putih, tangannya kirinya menyibak baju di bagian dadanya. Di balik pakaian itu ada beberapa benda seperti jam weker, jalinan kabel, dan dinamit.
Tangan kanannya memegang sebuah buku tebal yang ia dekatkan ke dadanya. Ada tulisan besar-besar berwarna kuning kontras dengan background-nya yang berwarna hitam. Judulnya: CATATAN HARIAN SEORANG TERORIS. Lalu di bawahnya ada sebuah nama dari gambaran orang tersebut: Gempur alias Jabir.
Teman saya lalu bilang: “Cuma ada bedanya nih dengan Riza. Kalau di sini lebih kurusan.” Saya penasaran dengan foto itu, dan bergegas menghampiri sang teman untuk melihat dengan jelas kaver majalah itu. Saya memperhatikannya dengan seksama. “Betul sih¸amat mirip dengan saya,” pikir saya. Tapi sungguh saya bukan seorang teroris. 
Selain itu, kemarin juga, saya benar-benar ekstra kerja keras. Saya benar-benar merencanakan dengan detil seluruh kegiatan yang harus dilakukan hari itu. Dengan mencatatnya dalam buku agenda tentunya. Ada dua puluhan kegiatan. Urusan kantor dan urusan pribadi. Dan setiap satu atau dua kegiatan itu selesai saya melingkari nomornya. Ada kepuasan yang sangat saya rasakan. Ternyata enak loh kalau kita benar-benar merencanakannya terlebih dahulu semua kegiatan yang akan kita lakukan esok hari.

Jadi ingat salah satu ayat dalam Alqur’an:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr, 59:18)

Kemarin juga, dalam sebuah forum diskusi, ada pula yang mengomentari avatar dan signature saya. Katanya: “avatarnya kok bikin merinding, suka perang yah”. Ya, avatar saya adalah penggambaran wajah dari seorang bersurban ala Afghanistan. Bertampang Arab. Dan tentunya dengan janggut lebat yang menjuntai ke bawah. Seram euy… Teman-teman di SJPhone pun sudah menjuluki avatar ini dengan penggambaran diri seorang Osama bin Laden.
Tidak hanya itu, signature saya pun amat lekat dengan dunia peperangan. Untuk yang satu ini adalah foto tiga orang prajurit yang sedang tiarap dengan senjatanya masing-masing di medan Perang Dunia I.
Kalau memang merindingnya hanya karena avatar saya yang mirip-mirip dengan penggambaran sosok-sosok Taliban dan musuh Amerika Serikat (AS), bagi saya ini tidak jadi masalah. Tapi kalau sudah termakan stereotip musuh-musuh Islam maka saya tidak terima. Mengapa seseorang Yahudi dibolehkan menyimpan dan memelihara janggut untuk mengamalkan kepercayaannya, tetapi bila seorang Muslim berbuat demikian, dia dianggap ekstrim, pengganas, fundamentalis, dan teroris. Sungguh, sungguh amat diskriminatif.
Lalu kalau ditanya tentang suka atau tidaknya peperangan. Jelas saya sebagai manusia biasa tidak suka peperangan. Saya orang yang cinta damai bung…Tetapi pula, jikalau Islam sudah memerintahkan untuk memerangi musuh, maka mau tidak mau dan sudah menjadi kewajiban entah fardhu ‘ain atau kifayah untuk maju berperang dan berjihad di jalan Allah.
Jika kita ikhlas maka kematian kita tidak akan pernah ada ruginya. Pahala besar bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah yakni masuk surga tanpa dihisab. Subhanallah. Dan sungguh, sebagaimana semboyan yang selalu digelorakan dalam dakwah ini: Allah tujuan kami. Muhammad teladan kami. Alqur’an petunjuk kami. Jihad jalan kami. Kematian Syahid adalah cita-cita kami. Maka bagaimana saya akan menjadikan kematian syahid itu bukan menjadi cita-cita saya?
Gempur alias Jabir menulis dalam catatan hariannya sebagaimana diungkap oleh Tempo: “Sesungguhnya perjalanan jihad penuh dengan onak dan duri, dibayangi rasa takut, kelaparan, dan hilangnya nyawa…”. Kalaupun benar Jabir menulisnya saya menyetujuinya 100% untuk pernyataan yang ia tulis tersebut.
Tapi ada perbedaan mendasar antara saya dengan Jabir pada jalan jihad yang ditempuh yakni tidaklah seperti yang ia yakini dengan menebarkan ledakan di mana-mana (kalaulah ini benar ia yang melakukannya).
Kali ini jihad saya adalah menebarkan kebaikan kepada semua orang. Agar saya bisa mendapatkan persiapan untuk bekal di akhirat nanti. Bagaimana saya bisa mengembangkan multilevel kebaikan itu dengan mencari downline kebaikan sebanyak mungkin. Itu saja untuk saat ini.
Tapi bila suatu saat jalan jihad melawan thogut besar dan kecil, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan itu sudah terbentang di depan mata dan ada perintah untuk melawannya maka saya harus siap. Tapi ada pertanyaan besar selanjutnya, “apakah saya akan menjadi orang yang dipilih oleh Allah untuk itu?” Jangan-jangan saya malah akan tergantikan dengan umat yang lain karena tidak sanggup dan tidak amanah untuk memikul beban dakwah itu? Allohua’alam. Tapi setidaknya saya selalu punya cita-cita, niat, dan azzam untuk berjihad dan syahid di jalan Allah. Sungguh ini bukan jalan para “teroris” (tuduhan basi dari musuh-musuh Islam).
Insya Allah tekad itu selalu ada di dada karena Allah.
Kiranya saya cukupkan sampai di sini tulisan ini. Kiranya pula kerinduan akan menulis, menulis di Ciblog tentunya, sudah terpuaskan. Pula karena jam setengah sepuluh pagi ini saya harus pergi melakukan kunjungan kepada Wajib Pajak yang akan dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Ini jihad pula bukan? Melakukan sebuah tugas Negara?.
Salam ukhuwah dari saya kepada antum semua pecinta kebenaran.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai Satu Kalibata
09:23 13 Juni 2006

IBU KEPALA SEKSI BISA, NENEK-NENEK PUN BISA, MENGAPA SAYA TAK BISA?


IBU KEPALA SEKSI BISA, NENEK-NENEK PUN BISA,
MENGAPA SAYA TAK BISA?

Sakit kepala yang tak tertahankan ini membuatku tidur lebih awal. Lalu terbangun di sepertiga malam terakhir tepatnya pukul setengah empat pagi, dan menyempatkan untuk sholat. Setengah jam kemudian sudah ada di belakang kemudi, memanaskan mobil dan siap-siap berangkat ke kantor.
What the…? Berangkat ke kantor jam empat pagi? Ada apa gerangan dikau? Ya, karena saya masih canggung untuk mengemudi dan dikhawatirkan ada apa-apa dengan mobil tua ini maka saya sempatkan untuk masuk kantor lebih awal.
Sekalian ini merupakan test case untuk menambah jam terbang mengemudi saya yang sudah terbiasa di jalanan komplek namun di jalan raya yang penuh dengan berbagai situasi ini merupakan pengalaman baru bagi saya.
Sebelumnya saya dihantui dengan berbagai kekhawatiran. Tebak apa coba? Betul, kekhawatiran takut menabrak mobil lain, orang, dan anak-anak. Apalagi kalau mogok di tengah jalan, di tengah kemacetan, dan di klakson dari belakang. Tidak bisa memutar. Tidak bisa parkir. Mengerem mendadak. Mengisi bensin di SPBU. Dan masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat keberanian saya mengendur. Alhasil enam bulan mobil itu dibiarkan teronggok begitu saja. Ataupun kalau terpakai tentu bukan saya yang mengemudi, tapi orang lain.
Nah, kemarin-kemarin tetangga saya memakai mobil ini. Setelah dipakai ia lalu bilang:”mobilnya enggak mogok kok, bahkan enak malah.” Nah loh, saya yang punya, orang lain yang menikmati dan merasakan enaknya. Dari situlah saya mulai bertekad untuk bisa mengendarai sendiri dan merasakan seberapa enaknya sih mengendarai mobil ini.
Apalagi Ibu Kepala seksi saya sanggup pulang pergi ke kantor atau kemana-mana naik mobil. Bahkan nenek-nenek pun bisa—saat mengendarai motor dan melihat hal ini saya sampai terpesona dan terlongong-longong. Adalagi malah, anak di bawah usia 17 tahun sudah sanggup bawa angkot mengambil trayek Bojonggede-Depok malam hari.
Jadi, mereka saja sanggup berjuang di rimba belantara lalu lintas Jakarta, masak saya tidak bisa. Akhirnya saya memberanikan sendirian berkendara, dan untuk memulainya saya harus berangkat jam empat pagi. Agar saya tidak shock dan punya cukup waktu dan kesempatan untuk absen pagi.
Pukul empat pagi lebih sedikit akhirnya saya sudah berada di jalanan lengang. Saya berniat ke SPBU untuk mengisi bensin dulu berjaga-jaga kalau ada apa-apa. Lima kilometer dilalui SPBU sudah ada di depan saya. Saya belok, parkir di dekat mesin penyalur bensin, Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Saya matikan mobil, dan mengangkat panel rem tangan. Tapi….
Saudara-saudara, ternyata rem tangan saya masih pada tempatnya. Saya lupa menurunkannya saat parkir di depan rumah tadi. Walah…pantesan, mobil ini berat sekali, suaranya pun terdengar “ngeden”. Tidak apa-apa ini pengalaman bagi saya.
Saya grogi dan sedikit panik saat membuka tutup bensin. Mana nih kuncinya…? Maklum baru kali ini saya membeli bensin sendiri. Jadi, tidak familiar mana kunci pasnya. Sang penjaga dengan sabarnya menunggu saya mengutak-atik kunci. Akhirnya ketemu juga.
Beberapa menit kemudian sudah kembali di jalanan, dan sempat di-goblok-in (maaf) supir angkot karena posisi kendaraan saya di tengah-tengah. Padahal saya merasa sudah di pinggir kok. Tidak apa-apa, cool man…, santai. Anggap saja angin lalu.
Kota Depok saya lalui dengan aman. Saya tidak memaksakan diri masuk gigi lima. Bukan Karena tidak berani. Tapi karena sudah saya coba-coba kok tidak masuk-masuk. Ih….takut. Cukup gigi empat saja dah. Di klakson dari belakang oleh truk dengan lampu yang menyorot terang saya minggir ke kiri. Takut juga…
Suara Adzan sudah terdengar jauh sayupnya di belakang. Saya berencana sholat shubuh di Masjid Al-Shofwa Lenteng Agung (ikhwan Salafy pasti tahu keberadaan masjid ini). Dan saudara-saudara, ternyata saya sanggup satu kali belokan saja untuk parkir di sana. Mantap…Saya bersyukur rencana ini dimudahkan oleh Allah dan diberikan kesempatan untuk sholat berjamaah tanpa ketinggalan di masjid itu.
Pukul lima lebih empat menit waktu hape saya, saya kembali mengarungi jalanan sepi Jakarta. Stasiun Tanjung Barat aman saya lalui. Lalu masuk daerah Pasar Minggu. Jelas sudah kemacetan sudah ada di sana karena banyak pedagang yang berjualan di pinggir jalan dan metromini yang ngetem. Sempat mogok dan tidak bisa dinyalakan mesinnya, saya panik. “Wah kejadian lagi penyakitnya nih,”pikir saya. Tenang-tenang. Santai. Jangan panic. Saya matikan semua lampu. Saya buka kunci dan tekan gas. Grungggg…akhirnya bisa lagi.
Dua puluh menit di sana tidak membuat saya gelisah. Waktu absen masih jauh coy… Jalan Raya Pasar Minggu masih sepi. Lalu saya tidak membelok melalui Volvo tapi terus menuju ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dan di pertigaan Duren Tiga, lampu merah sudah berwarna kuning, saya teruskan saja walaupun di ujung sana kendaraan sudah mulai bersiap-siap. Masih sempat juga ternyata.
Dekat komplek kantor, saya terlalu minggir ke kiri, sehingga terdengar bunyi gesekan antara karet ban dengan trotoar. Cuma lecet-lecet dikit.
Pintu gerbang kantor masih tertutup. Saya turun untuk membuka pagar dan palang besinya. Belum ada satu mobil pun ada di halaman parkir yang luas itu. Saya memarkirkan mobil di bagian belakang kantor dekat jalan keluar. Tidak di tengah, karena masih ada ketakutan menabrak mobil lain saat keluar dari tempat parkir.
Saya ambil sepatu dan tas saya. Tidak lupa untuk mengelap mobil dengan kanebo yang telah saya siapkan sebelumnya. Maklum mobil ini mau dilihat oleh teman yang ingin membelinya. Loh…baru dicoba kok sudah mau dijual aja…? Tidak apa-apa toh? Di beli ya syukur, uangnya bisa terpakai untuk yang lain. Tidak terjual ya syukur juga, bisa saya perbaiki lagi kerusakan-kerusakannya.
Sekarang tinggal memikirkan cara pulangnya, nih. Maklum Jakarta sore sangatlah macet. Apalagi kalau hari Jumat. Di tambah ada jalan tanjakan di perlintasan kereta Citayam yang masih menjadi kekhawatiran dan pertanyaan bagi saya, “bisa tidak saya menaklukannya?”. Di tengah ratusan motor dan puluhan angkot yang ngetem sembarangan di sana. Ketakutannya adalah ketidakmampuan saya untuk menyelaraskan kopling dan bukaan gas. Kalau benar-benar terjadi, mobil saya pasti mundur ke belakang dan…. Takut untuk membayangkannya.
Tapi biarlah. Yang akan terjadi nanti, terjadilah. Paling untuk antisipasi saya pulang jam sepuluh malam. Saat jalanan Jakarta sudah mulai lengang.  Namun pelajaran hari ini yang bisa dipetik adalah kekhawatiran dan ketakutan itu adalah cuma besar di angan-angan, pada saatnya ia nihil tiada berbekas. Jadi jangan pernah takut dengan semua itu. Perbanyak doa dan sholawat. Itu saja.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:19 02 Juni 2006

IKHWAN KEGATELAN


IKHWAN KEGATELAN
(radd asysyubuhat)

Tak disangka ihkwan ini punya hubungan dekat dengan seorang penulis cerpen bernama pena Afifah Afra Amatullah. Istrinya mempunyai saudara kandung yang menikah dengan kakaknya penulis ini.
Karena saya telah membaca salah satu kumpulan cerpennya yang sudah dibukukan berjudul Genderuwo Terpasung maka saya pun meminta kepada sang ikhwan untuk memberikan nomor telepon seluler penulis muda itu.
Tapi apa coba sangkaannya kepada saya—walaupun ini diutarakan dengan nada bergurau, “akhi, ente mau cari istri kedua yah?”.
Yah, persangkaan yang salah telak. Dan ini tidak berhenti di situ saja. Ketika kemarin sore saya kembali meminta nomor telepon salah seorang akhwat yang sudah berkecimpung lama di forum diskusi ada pernyataan lagi yang muncul dari teman saya ini.
“Ck…ck…ck…Akhi, di sini sedang ditimpa musibah, ente telepon-teleponan sama akhwat. Nanti saya akan beri tahu nomornya via hape istrimu, yo…” suara jawa medoknya terdengar.
Salah telak yang kedua kalinya. Baru ia mengerti setelah saya beritahu bahwa sang akhwat ini sudah menikah ahad kemarin. So, saya cuma mau mengucapkan selamat dan sebuah doa: Barakallahu laka….
Dari dua kejadian ini saya berpikir kembali dengan semua sangkaannya itu. Memang saya ikhwan kegatelan apa? Sehingga selalu ada tuduhan-tuduhan itu ketika saya menanyakan sesuatu tentang lawan jenis. Apalagi dengan tuduhan meningkatkan status kejantanan seorang pria dengan beristri lebih dari satu.
Bagi yang pertama hanya untuk menyampaikan pujian dan kekaguman saya terhadap tulisannya itu. Saya pikir ini adalah untuk menunaikan salah satu haknya. Itu saja. Dan pada kenyataannya sampai tulisan ini dibuat pun tidak ada satu pesan pendek yang saya kirim. Atau berusaha mencoba dial nomornya. Tidak. Tidak sesekalipun.
Untuk yang kedua, jelas saya tidak bisa datang ke sana. Karena selain saya pun mendapatkan informasinya terlambat, lokasi yang jauh sekali (ini sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan utama), belum bisa memberikan apa-apa sebagai hadiah pernikahan, dan terpenting adalah banyaknya agenda yang harus saya jalani akhir pekan kemarin, maka sudah selayaknya saya cuma bisa memberikan ucapan saja. So what getu loh…
Saya hanya ingin meniru apa yang dilakukan Hasan AlBanna yang sanggup menyentuh sisi-sisi terdalam dan paling sensitif dari seseorang yakni hatinya. Yang sanggup mengingat nama dan mengenal al-akh cuma karena ia menandatangani kartu keanggotaan jama’ahnya. Al-akh itu pun terkejut dan tersentuh hatinya ketika Hasan AlBanna yang baru pertama kali berkunjung ke daerahnya itu sanggup mengenalnya dari ribuan anggota jama’ah lainnya.
Maka hati adalah pintu untuk masuknya hidayah dan cahaya kebenaran. Hati adalah gerbang penentu penerimaan seseorang terhadap dirinya. Hati adalah segumpal buhul dari silaturahim. Maka dengan sentuhan hati dakwah ini menyebar ke segala penjuru mata angin.
Saya sungguh belumlah sanggup meniru apa yang Rasulullah saw sering lakukan dengan memberikan hadiah kepada banyak orang dan menjadikan ini sebagai sunnah buat ummatnya. Atau meniru apa yang dilakukan Hasan AlBanna dengan gampangnya ia mengingat nama orang, yang sebaliknya bagi saya seringkali mudah dilupakan.
Maka hanya ini yang bisa saya lakukan. Dan itu pun tidak hanya untuk makhluk bernama wanita, perempuan, akhwat, gadis, ibu-ibu, nenek-nenek atau apapun sebutan yang biasa engkau sandingkan. Tidak. Karena saya tahu dan engkau tidak tahu apa yang saya lakukan setiap hari.
Maka hanya ini yang bisa saya lakukan dengan menelepon ketika ia telah bertambah umurnya, menjenguk ketika ia sakit atau mendapatkan anugerah berupa sang penerus kehidupan, memberikan hadiah, mengirimkan surat, bersilaturahim tanpa direncanakan dan diberitahukan terlebih dahulu kepadanya. Atau bila ada rezeki berlebih maka menyisihkan sebagian rezeki itu untuknya. Dan masih banyak cara lain untuk menyentuh sensitivitas hati seseorang.
Insya Allah dengan ini, engkau akan menjadi terpercaya dimatanya. Memudahkan engkau menjadi mata air yang akan mengalirkan air kebaikan kepadanya. Engkau akan dikenang bukan untuk dipuji atau dikultuskan, tapi dikenang untuk dicontoh. Contoh dari prototype penuh kebaikan.
Sungguh, keutaman ada pada kebaikan walaupun kecil tapi dilakukan dengan istimroriyah, kontinyu, berkelanjutan. Niscaya unta merah pun engkau akan dapatkan. Insya Allah.
So, kiranya: julukan ikhwan kegatelan semoga tidak ada pada diri saya. Kalau iya, semoga masih ada obatnya di apotik. 🙂

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:35 31 Mei 2006

SALIMAH


Empat hari libur kemarin cukup memuaskan bagi saya. Ada banyak kegiatan yang saya lakukan. Mulai dari merasakan kelezatan pagi yang sejuk hingga membantu kepanitiaan dalam acara peringatan maulid yang diselenggarakan oleh sebuah LSM bernama Salimah (Persaudaraan Salimah) dan mendatangkan pembicara kondang Ustadz Wahfiuddin.
Hari Kamis, nanti dulu saya coba ingat-ingat apa yang telah saya kerjakan pada hari itu. Paginya, cuma santai-santai saja, tidur-tiduran, bercanda dengan anak-anak, baca buku, dan mempersiapkan materi untuk acara nanti malam bersama anak-anak remaja RT.
Sore hari, saya memasang gorden untuk membatasi pandangan dari ruang tamu ke ruang keluarga dan dapur yang ada di bagian belakang. Bor yang saya pinjam dari tetangga sebelah tidak berguna karena ternyata kayu tempat kaitan gordennya ringan dan bisa dilubangi dengan mur biasa. Dengan dibantu saudara kegiatan ini cepat juga selasainya. Sekarang rumah ini ada nuansa barunya dengan tirai lengkung di tengah-tengahnya.
Baru pada malam harinya saya mengisi acara pekanan untuk satu anak kelas enam SD, empat remaja SMP dan SMU, dan dua pemuda lainnya. Seperti biasa saya memulai acara itu dengan membenarkan bacaan AlQur’an mereka, mengecek sholat mereka, memberikan materi hamdalah, dan tanya jawab. Setelah itu tepat pukul 21.00 WIB acara itu selesai.
Hari Jum’at. Sudah dua hari tidak punya semangat menulis. Jadi tidak ada jari-jari lentik (What the…) ini menyentuh tuts-tuts keyboard merangkai kata-kata. Tapi hanya untuk memencet tombol-tombol tertentu dalam permainan game Warcraft III: Frozen Throne. Tidak lama setelah itu, kayaknya saya baca buku deh…Terus apa lagi ya…?
Oh ya, persiapan sholat jum’at, mandi, pakai baju terbaik dan minyak wangi kesturi putih. Setelah itu saya bersama tiga anak kecil pergi ke masjid berkhutbah berbahasa Indonesia di komplek sebelah untuk mendapatkan wejangan yang berharga dan lebih bermutu. Karena biasanya kalau di masjid kampung khothibnya memakai bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Pendek amat bo… cuma lima menit dan saya tidak mengerti lagi.
Siangnya setelah pulang jum’atan, saya pergi ke toko bangunan membeli pernak-pernik untuk kusen baru yang akan dipasang minggu depan untuk menggantikan kusen standar kelas BTN yang mulai rapuh. Tidak lupa saya beli pelitur kelas dua untuk jendela baru.. Kali ini—sori yah—saya mengerjakan sendiri memelitur jendela ini. Masak kerjaan kayak beginian dilimpahkan ke tukang.
Sekitar jam sembilan malam saya pergi ke rumah teman untuk membincangkan kegiatan yang akan diadakan pada hari ahadnya yakni acara Salimah itu. Di sana sudah menunggu banyak teman. Dibicarakan pula tentang agenda kegiatan musim liburan nanti untuk pemuda dan remaja. Acara selesai jam sebelas malam.
Sabtu pagi. Saya punya agenda untuk mengajar kerohanian Islam di SMP Islam Al-Iman. Lalu setelahnya dalam perjalanan perjalanan pulang saya sempatkan mampir dulu ke rumah al-akh untuk bersilaturahim dan menanyakan kabar keluarganya. Tidak lama di sana karena saya harus segera kembali ke rumah. Tetangga saya akan berangkat ke Pekanbaru.
Ya, penempatan barunya menjadi kepala seksi di kantor pajak dengan sistem moderen telah membuatnya berpisah jauh dengan seorang istri dan dua anak-anaknya. Hanya bertahan kurang lebih empat bulan dalam kesendirian, ia memutuskan untuk membawa seluruh anggota keluarganya ke Pekanbaru. Saya dititipi kunci rumahnya yang akan ditempati, dijaga, dan dirawat oleh seorang al-akh yang lain.
Sabtu siang tidak ada kegiatan besar. Terkecuali menonton berita musibah gempa di Jogja dan malamnya saya harus mengangkat karpet-karpet dan tanaman hias untuk acara Salimah ke tempat yang telah ditentukan, yaitu di aula masjid Baiturrohman Komplek Perumahan Departemen Agama, Pabuaran, Bojonggede, Bogor.
Ahad pagi, ba’da shubuh saya mengeluarkan dan memanaskan mobil butut tahun tua milik saya yang baru terbeli setengah tahun yang lalu. Seperempat jam kemudian saya pergi lagi menjemput barang-barang di banyak rumah yang belum sempat terambil pada malam sebelumnya. Ada kipas angin, banyak karpet lagi, dan tambahan tanaman-tanaman hias lainnya.
Karena saya tidak mendapatkan izin dari boss untuk standby di acara Salimah itu,
maka pada pukul setengah delapan pagi saya pergi menghadiri acara wajib saya yakni pertemuan pekanan. Permintaan izin ini karena di dalam SMS saya ada kalimat pertanyaan: bolehkah saya tidak hadir? Kalau tidak ada kalimat ini maka ini bukan minta izin tapi cuma pemberitahuan saja. Ini adab yang benar untuk meminta izin. Tapi kebanyakan tidak dipakai karena biasanya izin itu seringkali ditolak kecuali untuk yang syar’i sekali seperti orang tua sakit.
Pertemuan pekanan berakhir pada jam setengah sebelas siang. Banyak yang didapat di sini. Seperti mendengarkan taujih dari Ustadz Ihsan Tanjung melalui vcd tentang Bahaya Zionisme Internasional, taklimat-taklimat, oleh-oleh Musda DPD Bogor kemarin, pengumpulan infaq untuk Bantul dan Palestina.
Saya langsung pergi menuju lokasi acara Salimah. Menyempatkan diri untuk melihat slide yang ditampilkan oleh ustadz Wahfiuddin. Ada informasi baru yang saya peroleh darinya. Dan dirasakan juga tentunya oleh ibu-ibu peserta pertemuan ini. Yakni salah satunya adalah masalah peniupan roh pada janin.
Selama ini berdasarkan pandangan ulama-ulama pesantren dari kitab kuning abad ke-13 masehi bahwa janin ditiupkan rohnya pada usia 120 hari. Ternyata berdasarkan kajian Alqur’an dan hadits serta penelitian moderen diketahui bahwa janin ditiupkan rohnya pada usia 40 hari. Nah loh, kok beda.
Menurut beliau tidak ada yang salah dala Alquran dan alhadits. Yang salah adalah penafsirannya. Karena ulama zaman dahulu tidak didukung dengan metode, alat, dan teknologi yang canggih seeprti sekarang ini.
Beliau menegaskan masalah ini penting karena berkaitan dengan masalah aborsi. Bila memakai patokan yang salah kaprah itu maka berarti ini telah membuang janin yang telah mempunyai ruh. Ini sama saja dengan pembunuhan. Dan pada dasarnya aborsi ini adalah haram hukumnya terkecuali dengan keadaan-keadaan khusus atau uzur syar’i. Seperti adanya penyakit dan kondisi yang akan membahayakan jiwa sang ibu.
Azan dhuhur berkumandang. Acara pun selesai. Saatnya saya bekerja lagi. Mengangkut-angkut barang perlengkapan kembali ke tempat semula. Mondar-mandir dengan mobil carry ini membuat jam terbang mengendarai mobil saya bertambah. Maklum saja, saya sama sekali belumlah lancar untuk mengendarai kendaraan roda empat. Alhamdulillah, tidak ada insiden yang selalu menjadi bayang-bayang ketakutan saya untuk belajar nyetir. Bahkan saya bisa menuruni turunan curam di mana saya pernah terperosok dalam got di Bulan Desember kemarin.
Setelah itu saya istirahat. Tidur-tidur siang. Sampai malam menjelang tidak ada agenda besar. Sejak itu pun tidak ada upaya untuk menulis tentang apa saja. Saya benar-benar istirahat menulis rupanya di liburan panjang ini. Walaupun di senin sebelum fajar ini saya terbangun dengan badan pegal-pegal tapi hati rasanya puas sekali. Liburan panjang ini terasa enak saja dilewati. Entah kenapa. Rezeki dan keberkahan Allah memang tidak hanya dalam bentuk lembaran rupiah saja ternyata. Tapi kepuasan hati, jasmani sehat itu pun menjadi rejeki yang tak ternilai harganya oleh manusia.
Kalau demikian, sudah sepantasnya saya yang telah diberikan nikmat tak terhitung banyaknya oleh Allah untuk senantiasa bersyukur. Bukan begitu…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:15 29 Mei 2006