Saya Bukan Juru Ledak


Saya Bukan Juru Ledak
(Ikuti Milis Bermanfaat)

Satu manfaat kita mengikuti milis adalah kita bisa berbagi. Yang paling penting adalah berbagi informasi dan apa saja terkecuali—seperti yang selalu teman saya bilang , Mas Soy—hati dan perasaan (halah…).
Tentunya milis yang benar-benar menjadikan diri kita insider bukan outsider. Maksudnya milis itu memang berkaitan dengan yang segala sesuatu kita sukai bukan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Tapi ada saja yang memang mengikuti milis bukan untuk take and give tapi memberi saja. Biasanya ini cuma untuk penyebaran opini, pemasaran bisnis pribadi, atawa spam tidak bermutu.
Kalau kita mengikuti milis yang tidak disukai, tepatnya memang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kesukaan, hobi, atau pekerjaan kita maka bersiap-siaplah menjadi orang yang terasing, yang bloon dan melongo tidak tahu apa yang didiskusikan. Hasilnya ini membuang-buang bandwith saja. Lalu buat apa dipertahankan, so tinggal unsubscribe saja.
Contoh terbaru adalah saat saya mengikuti milis pekerja tambang. Niat pertama saya adalah mungkin saya bisa berbagi tentang pengetahuan perpajakan saya, sehingga para peserta milis setidaknya merasakan sedikit manfaat dari keberadaan dan eksistensi saya (halah…lagi). Eh…ternyata memang pajak dari sononya tidak disukai, kalau bisa ya dihindari saja (kalau masalah ini sih basic instinct, atawa wild instinct dari manusia). Jadinya tidak ada yang pernah menanyakan hal ini. Malah saya yang terlongong-longong membaca istilah-istilah aneh seperti ini:

Planning, Monitoring and Evaluation Project with the Logical Framework Approach (LFA),
sertifikat juru ledak
kandungan TiO2 >12%

Wah…kalau dulu saya memang pernah jadi juru tapi bukan yang berkaitan dengan dinamit dan TNT tapi Jurusita, profesi khusus dengan segala sesuatu yang membuat Wajib Pajak gemetar dan tidak bisa tidur karena membaca surat teguran, surat paksa dan surat sita. Dan maaf juga yah, saya sekarang bukan di PMA Tiga lagi, saya sudah tidak mengurusi kilaunya emas dan sangitnya batubara. Yang saya urusi sekarang adalah sepatu, tekstil, dan tembakau. Jadi beda jauh, ibarat bedanya Squall sama saya (emang sudah beda dari dulu). Saya mengambil langkah tepat, saya bukan juru ledak, saya bukan pekerja tambang, saya tidak mendapatkan apa-apa di sana, saya cabut dari milis pekerja tambang.
Kembali tentang kegunaan kita mengikuti milis—yang saya ikuti adalah keadilan4all—saya seringkali mendapatkan informasi terkini tentang perkembangan dunia Islam karena ada satu peserta milis yang sangat konsisten untuk mengupload berita-berita terkini dari internet. Ada lagi yang konsisten sekali untuk menampilkan tanya jawab dari Pusat Konsultasi Syariah, atau tentang tipu daya Amerika terhadap dunia Islam dengan menampilkan berita asli dari situs luar negeri.
Nah, yang paling gua demen adalah semangat berbagi di saat peserta lain membutuhkan sesuatu misalnya tentang permintaan softcopy materi daurah, informasi seminar, atau daftar-daftar informasi penting lainnya.Dua hari ini saya diminta bantuannya oleh beberapa teman untuk memberikan informasi seputar SDIT di Jakarta Selatan dan materi daurah.
Sudah jelas saya tidak tahu mengenai masalah ini, tapi saya berusaha ketika saya tidak bisa mampu memberi yang diminta setidaknya saya bisa membantu dengan memberikan kepada mereka info siapa yang harus mereka hubungi. Tidak hanya itu, saya kemudian mengirimkan permintaan bantuan kepada para peserta milis. Dan alhamdulillah, responnya luar biasa. Tidak berapa lama apa yang teman saya butuhkan bisa segera didapat. Ternyata yang membantu adalah kawan-kawan dari pajak juga yang ikut milis itu. Syukurlah…saya cukup puas sekali kalau saya bisa sedikit membantu.
Sekarang, milis yang saya ikuti adalah keadilan4all, forum_lingkarpena, dan Belajar_IT. Yang disebut terakhir, sedang dipertimbang-timbang untuk keluar juga. Karena belum ada manfaat yang bisa saya ambil. Tapi saya perlu waktu lagi untuk menelisik lebih dalam, apakah milis ini berguna bagi saya atau tidak. Agar saya benar-benar bisa menjadi insider bukan outsider yang tidak punya inner beauty dan outer beauty. Loh….loh…loh…kagak nyambung lagi…
Kesimpulannya—ini memang harus benar-benar disimpulkan karena bisanya si TJ malas membacanya, dan cuma bisa minta ringkasannya saja. Pertama, ikutilah milis yang benar-benar bermanfaat untuk kita, kedua, ikuti milis yang bisa menjadikan diri kita menjadi bagian dari milis itu, dan ketiga yang para anggotanya suka untuk berbagi dan ringan tangan membantu sesama. Jika tidak, ledakkan saja, upss…saya bukan Amrozi dan bukan pula agen-agen barat, saya bukan pula juru ledak, maksudnya cabut saja, unsubscribe saja gitu loh.

terimakasih untuk:
Arman [LTO];
Winanto [Solo];
Muhammad Damiri [London Sumatera].

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:44 07 September 2006

”MENEMBAK” ANAK TETANGGA


”MENEMBAK” ANAK TETANGGA
(I LOVE YOU)

Melihatnya dan mendengar curahan hatinya seperti melihat diri saya sendiri berumur belasan tahun. Kegundahan hati anak yang baru menginjak kelas satu SMP ini—sebut saja Alex—terasa sekali dari setiap gerakan matanya. Bahkan sangat mencolok dengan hembusan nafas yang ia perdengarkan ke sekeliling untuk meneguhkan hatinya yang tumbang karena penolakan.
Ya, anak tetangga saya satu RT ini baru saja ‘menembak’ Bunga—remaja perempuan yang umurnya pun baru belasan tahun dan duduk di kelas tiga SMP. Ia pun anak dari tetangga saya yang lain. Hasil dari tembakannya bisa ditebak karena selain tidak memenuhi kriteria menurut pandangan kapitalisme yaitu tinggi, putih, dan macho juga tentunya si Alex umurnya jauh di bawah Bunga. Walaupun sempat terucap dari Bunga: ”itulah namanya cinta”, saat ditanya oleh si Alex ”bolehkah saya mencintaimu walau engkau kakak kelas saya.”
Luar biasa filosofisnya perjalanan kehidupan anak-anak zaman sekarang. Filosofi yang dikarbit untuk mengejar waktu yang membuat mereka lebih cepat dewasa dari yang sebenarnya. Dengan bahan karbit berupa tayangan sinetron remaja penuh hedonisme di setiap malamnya dan pesan-pesan singkat yang bersileweran via telepon genggam yang sudah menjadi aksesoris primer.
”Bi, saya sempat berpikir apakah ia jodoh saya atau bukan?” Saya sampai tertawa—tapi tentunya di dalam hati—mendengar pemikiran setengah pertanyaan tersebut.
”Saya sakit hati, Bi.”
”Saya menangis dalam sholat, Bi.”
”Bunga sepertinya memberikan harapan.”
”Saya tidak bisa tidur.”
”Saya tidak bisa melupakannya.”
”Saya sampai sakit dan disuruh pulang sama Bu Guru.”
”Saya cuma ingin dia tidak bergaul dengan anak-anak nakal.”
”Pacaran dosa enggak sih, Bi?”
”Kalau pacaran tidak pegang-pegang gimana tuh, Bi?
Masih banyak penjelasan dan pertanyaan yang ia berikan menemani curhatnya kepada saya sebagai ”guru sipritual”nya. Curhat yang membuat saya harus berdiam terlebih dahulu untuk mendengar semua apa yang ia ingin katakan. Saya paham sekali yang ia butuhkan adalah tempat untuk membuang segala keresahannya. Dan menurutnya saya adalah tempat yang tepat sekali. Dan saya paham sekali bagaimana sih wujud metamorfosis dari cinta monyet yang gagal itu, karena saya tentunya adalah mantan remaja.
Tapi satu yang pasti adalah ah, ternyata mungkin beginilah tingkah saya dulu saat mengejar cinta. Beginilah apa yang dirasakan oleh orang dewasa dulu saat mendengar curhatan saya. Pertama, tertawa yang pasti. Kedua, segalanya mudah ditebak. Ketiga, berpikir bahwa zaman yang kau tempuh masih panjang, Dik.
Lalu setelah lama ia berbicara, giliran sayalah yang beraksi. Dalam hati, inginnya saya bagaimana ia bisa tetap eksis untuk mendapatkan cinta Bunga. Tapi jelas hal ini melenceng jauh dan bertolak belakang dari misi yang saya bawa setiap harinya. Saya bukan konsultan gelap untuk itu. Dan sungguh bukanlah waktunya untuk menerapkan trik syar’i mendapatkan Bunga dengan jalan perjodohan sebagaimana biasa yang ditempuh para mahasiswa era kampus saya dulu.
Pastinya banyak nasehat klasik yang meluncur dari mulut saya dan dengan hati tentunya. Nasehat yang sudah biasa dibuat oleh para orang tua yang selalu mewanti-wanti anak-anaknya untuk giat belajar dan tidak berpacaran atau menikah dulu saat menempuh ilmu.
Sedikit membosankan memang tapi itu suatu kepastian yang dituntut dari seorang pelajar dan hamba Allah yang senantiasa waktunya digunakan untuk mengingat Allah. Tapi saya tidak melupakan janji Penguasa Jagat Raya kepadanya. Sesungguhnya pemuda calon penghuni surga adalah pemuda yang mampu menghindar dari nikmatnya maksyiat saat ia sanggup untuk melahapnya di depan mata.
Tidak hanya nasehat tentunya agar ia bisa menghilangkan kesahnya. Saya menyuruhnya melakukan apa yang biasa saya lakukan pada saat menenggak keresahan, yaitu menulis apa yang ia rasakan pada secarik kertas dan memberikannya kepada saya. Mungkin terapi ini bisa membantu.
Pun saya memberikan solusi yang bisa mengalihkan perhatiannya. Saya ajak ia untuk ikut acara mabit di masjid kampung tetangga malam ahad besok. Supaya tidak sepi di malam panjang yang menggoda itu, saya menyuruhnya untuk mengajak semua teman-temannya ikut acara itu. Sekalian mengasah kepekaan hati bermunajat di rakaat-rakaat panjang sepertiga malam terakhir. ”Lex, pintalah apa yang kau mau padanya, saat itu.”
Untuk Sang Bunga, saya cuma bisa menyerahkan kepada sang istri—tempat di mana Bunga mengulang hafalannya—untuk menasehatinya agar senantiasa menjaga aurat, sekeping hati, dan ribuan asanya.
Ah, adik-adikku, anak-anak tetanggaku, masih jauh senja di pandang mata, masih jauh waktu yang akan kau tempuh, bersemailah, bermekaranlah menjadi pemuda-pemudi tangguh untuk masa depanmu. Kelak kau akan merasakan nikmatnya iman pada diri-diri yang shalih, keluarga yang shalih, dan masyarakat yang shalih. Tidak hanya engkau berdua saja.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:32 05 September 2006

Renda Cinta


renda cinta

setelah tiada jarak
tiada lagi resah kesah
tiada lagi lagu-lagu syahdu
tiada lagi sunyinya malam
tiada lagi dentingan yang mendayu
tiada lagi bening di sudut mata
tiada lagi merenung di balik jendela
tiada lagi memandang rintik hujan
setelah tiada jarak
saatnya merenda cinta bukan…?
kau dan ia tentunya
aku?
cuma desiran angin yang menerpa wajahmu

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara

Buitenzorg Semakin Dingin
04:42
04 September 2006

SUATU SAAT SAYA AKAN MENGGIGIT KAMU


Berbulan-bulan sudah saya tidak pernah mencicipi kue ini. Ada sih kue sejenis ini: serabi solo. Kalau yang ini juga saya doyan dan sering makan di Kalibata sini. Tapi saya ingin yang klasik, yang konvensional. Kue serabi yang biasa saja itu loh. Yang sering saya jumpai di kampung halaman di setiap ahad pagi sehabis jogging.
Ada yang berwarna putih dan ada pula yang berwarna merah. Kalau yang putih tentu rasanya asin biasa atau gurih. Tapi yang merah tentunya manis karena ditambah dengan gula merah cair oleh bibik-bibik penjual kue serabi. Dan sedapnya….tanpa di tambah-tambah dengan cairan gula lainnya seperti kue serabi yang ada di Bandung atau Jakarta.
Waktu pulang ke Semarang kemarin (ini kemarinnya orang Jawa yah…) saya mencari-cari kue ini. Hasilnya nihil. Tidak barang sebiji pun yang bisa saya jumpai. Padahal saya sedang kangen-kangennya sama itu tuh barang. Uh…
Tapi, akhirnya Allah mempertemukan juga dengan kue itu. Tiga hari lalu, di rute baru yang saya tempuh dalam perjalanan menuju kantor, di dekat perlintasan kereta api Pasar Minggu menuju Condet, di ujung gang ada ibu muda penjual kue itu sedang asyik membakar serabi dalam gerabah hitamnya. Tapi karena saya sedang diburu oleh waktu untuk segera meletakkan jempol kiri ini di finger print maka saya tidak berhenti untuk mencicipi salah satu warisan kuliner nenek moyang kita itu. Tetapi saya sudah mengincarnya. ”Suatu saat saya akan menggigit kamu,”tekadku. 
Nah, hari ini, Jum’at, tanggal satu bulan September tahun dua ribu enam, saya kembali melewati jalan itu dan berhenti sejenak untuk membelinya. Tapi saya ingat saya cuma membawa satu lembar I Gusti Ngurah Rai dan dua lembar Pattimura. ”Wah, duit recehnya tidak ada lagi, padahal saya mau membeli banyak, setidaknya buat teman-teman di kantor,”pikir saya.
”Bu, harganya berapa?”
”Seribu dua, mas.”
“ Ya, sudah saya beli empat.”
“Empat ribu mas…?” tanyanya.
“Nggak Bu, saya cuma punya receh dua ribu, jadi empat biji saja.”
Dengan sigapnya ia memilihkan buat saya serabi yang masih panas dan terlihat bersih. Tapi saya memintanya untuk mengambilkan yang bagian bawahnya menghitam, agar terasa khas sangit-sangit terbakarnya.
Empat kue sudah berada di kantong plastik dan bertengger di stang bagian kiri motor yang sudah hampir mendekati kantor. Kini, sambil menulis ini, saya menggigit kue ini pelan-pelan, merasakan gruihnya (tidak lezat-lezat amat sih). Tapi yang pasti saya merasakan sensasi luar biasa, yaitu sensasi terpenuhinya rasa kangen saya terhadap kue kuno yang satu ini. Alhamdulillah, yang mana IA telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menikmati kue ini.
Ngomong-ngomong masalah kenikmatan serabi, yang cuma kenikmatan kampung, dan cuma kenikmatan semu dunia maka kenikmatan mana lagi yang sempurna selain kenikmatan yang Allah persembahkan kepada orang-orang bertakwa.
Pasnya lagi hari ini saya sering mengulang-ulang beberapa ayat di surat Al-Insaan ayat 41 s.d. 44

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air
Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini.
(Dikatakan kepada mereka): ”makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa ayang telah kamu kerjakan”.
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Subhanallah…
Setelah beberapa ayat itu, Allah menggambarkan tentang keadaan bagi orang-orang yang mendustakanNya di dunia.
”…Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.”
”Kecelakaanlah yang besar bagi orang-orang yang mendustakan.”

Masya Allah…
Ah, pagi ini serabi saya memberikan sedikit penyadaran bahkan banyak, untuk selalu sadar bahwa ada kehidupan setelah kematian kita.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08.29 01 September 2006

SEMANGAT CINTA DI FORUM KELUARGA


Setelah sang penjaga DSHNet itu pergi meninggalkan kantor pusat untuk menjalankan tugas di tempat baru, dan setelah begitu terbengkalai halaman depannya dengan berita-berita basi yang tidak up to date, dan setelah tanggung jawab di forum diskusi dipunggawai oleh salah seorang al-akh yang lain, tiba-tiba saja DSHNet itu menghilang.
Apa yang saya rasakan? Kalau Anda yang pernah membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul: akhir dari penantian panjang? di http://10.9.4.215/blog/dedaunan/11493 maka Anda akan melihat betapa rindunya saya dengan DSHNet. Rindu yang membuncah kerana saya sendiri yang tidak merasakan kelezatan berita DSHNet, asyiknya mengirim tulisan di partisipasi, dan lain-lain.
Tetapi sekarang, saya belum merasakan kerinduan itu. Walaupun lagi-lagi serasa seperti tercerabut dari akarnya. Mungkin dikarenakan tidak hanya saya yang kehilangan tetapi banyak teman yang senantiasa di setiap harinya memantau dan menemukan eksistensi dirinya di DSHNet, entah sebagai komentator dari berita-berita yang ada, atau sebagai pengirim ucapan yang setiap setiap saat di menu Kirim Ucapan, atau sebagai seorang yang haus akan kekerabatan di forum keluarga, bahkan penempur sejati di forum dakwah dengan segala cacian dan makiannya.
Berkaitan dengan forum inilah yang membuat saya merasakan ketidakrinduan ini terkecuali untuk bersilaturahim dengan para peserta forum di Keluarga. Karena selain di forum Keluarga—terutama di forum dakwah dan politik yang ada hanyalah kecaman, celaan, dan fitnah yang dibungkus dengan nasehat manis belaka. Yang tiada habis-hasbinya setiap hari digunakan untuk membongkar kelemahan kawan atau manhaj tertentu lainnya. Yang sudah pasti memang sudah berbeda dari sononya dan tidak pernah akan ketemu kalau tidak ada salah satunya yang mengalah.
Ternyata, hikmah apa yang saya dapatkan dari kehilangan DSHNet ini. Ini pengakuan jujur dari saya. Saya bisa lebih concern untuk memikirkan yang lain. Untuk menulis, untuk beraktivitas pada kegiatan utama sebagai seorang petugas pajak, untuk menambah hafalan, untuk membuat proyek ebook dari kumpulan tulisan saya di blog dedaunan di ranting cemara.
Saya lebih concern pula dengan membuat rencana materi apa yang diberikan kepada calon kader-kader Islam yang tangguh (Insya Allah). Dan terpenting lagi kini saya kembali lebih sering untuk bersilaturahim dengan sanak-saudara di blog Cicadas ini. Syukur yang tak terkira, walaupun dengan komentar seadanya kepada kawan yang lain dikarenakan lambatnya akses.
Dan apa yang saya tidak rasakan lagi setelah hilangnya DSHNet ini. Saya tidak lagi merasakan hati panas karena membaca komentar-komentar yang sepenuhnya penuh dengan kebencian itu terhadap manhaj dakwah yang saya pegang dengan erat ini. Pikiran-pikiran untuk mencari pembelaan yang ujung-ujungnya tetap saja dicaci itu pun tidak ada lagi. Pun hari-hari berhati gersang karena terlalu memikirkan celaan kini sudah tiada lagi. Insya Allah.
Dan itulah hikmah yang saya rasakan. Damai saja kiranya yang ada. Sudahlah, yang sudah berbeda ya tetap berbeda, kenapa sih ”kalian” masih tetap memaksakan kami dengan sebutan penghuni neraka karena dianggap tidak nyunnah. Kita masing-masing sudah punya ulama yang kita tsiqoh-i (percayai) bukan…? mengapa”kalian” yang panas…? tanya kenapa? (halah…) Sepertinya memang sudah terlalu banyak mudhorotnya tinimbang manfaatnya forum tersebut (terkecuali forum keluarga, ekonomi dan iptek tentunya, oh ya ada juga yang baru: forum pajak). Usul saya forum tersebut ditutup saja deh… 
Tapi satu kehilangan pasti adalah tiadanya berita Islam yang hot. Apakah saya harus membuka kembali situs Islam lain di pulau Sumatera itu? (nama dan alamatnya pun saya lupa, ada yang tahu?) Kehilangan lainnya adalah saya tidak bisa berbagi cerita dan berita bagus dari milis yang saya ikuti tentang kondisi umat Islam sedunia untuk saya beritahukan kepada khalayak di Forum Keluarga.
Ah…kiranya saya cuma merindukan fordis keluarga. Di sana ada Abu Salma, Umminya Zaidan, Abu Yazid, Atik Faizah, Ananda, Dandelion, Abu Umar, Brazkie, Abu Sa’ad, Salsabila, dan lain-lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena saking banyaknya. Mereka dan yang lain setidaknya menghidupkan silaturahim di forum keluarga itu. Ada semangat cinta di antara mereka. Cinta karena Allah tentunya. Cinta yang tidak dibungkus dengan semangat jarh wa ta’dil yang kebablasan itu.
Pula di sana saya pikir ada semangat koreksi yang tulus untuk sesama penghuni. Semangat berbagi yang tulus pula (berbagi resep kue seperti yang Umminya Zaidan lakukan). Semangat menulis buat para pengirim partisipasi (jangan pernah lemah semangat yah…). Semangat melankolis dengan puisi-puisi indahnya di Zona Poetry-nya. Ah…cukup banyak sekali semangat-semangat yang saya temukan di sana. Ah, kiranya saya merindukan forum keluarga. Itu saja.
Tapi kapan rindu ini tertuntaskan jikalau DSHNetnya pun tidak kunjung tiba. Atau jangan-jangan saya saja yang tidak tahu, kalau-kalau DSHNet kini sedang dipersiapkan dengan tampilan baru, funny, dan eye catching, tentunya pula dengan semangat baru oleh sang punggawa baru. Siapa tahu …? Semoga.

Riza Almanfaluthi
“Mas Danang S H. kemana dikau pergi…?,” (halah…)
dedaunan di ranting cemara
02:32 30 Agustus 2006

Rawat Helm Kita: Kepala Kita Tidak Senilai Uang 20 Ribu


Rawat Helm Kita: Kepala Kita Tidak Senilai Uang 20 Ribu

Tanggal 06 Februari 2006 yang lalu saya membeli helm ‘termahal’ yang pernah saya beli. Helm bermerk Agiva ini dikasih banderol ‘cuma’ Rp175.000,00 di toko kecil di bilangan Lenteng Agung arah ke Depok.
Helm full face ini benar-benar saya rawat. Tidak seperti kebanyakan helm yang pernah saya miliki dulu. Dulu waktu masih memakai helm pemberian dari toko, warna putih tentunya, saya terbiasa untuk menggeletakannya begitu saja tanpa ada sedikitpun keinginan untuk merawat, membersihkannya, atau tetap menjadikannya senantiasa kinclong setiap harinya.
Kalau jatuh pun, saya tidak merasa hati ini tergores (halah…). Lecet-lecet, berdebu, kumuh, dan penyak-penyok (saya belum menemukan kata dalam bahasa Indonesianya yang pas) menjadi pemandangan biasa pada helm itu. Tapi itu dulu.
Kini setelah saya memiliki helm ini saya benar-benar merubah kebiasaan saya. Saya yang jarang merawat suatu benda saat ini berupaya dan bertekad bagaimana supaya helm ini senantiasa indah di pandang mata. Maka coba tebak apa yang saya lakukan…?
Pertama, saya selalu mengelapnya setiap hari body luar helm setelah saya pakai dalam perjalanan pulang pergi ke kantor. Tentu mengelapnya pun dengan bahan khusus, yakni dengan spray pengilat body motor. Sret…sret…sedikit, lalu saya lap dengan kanebo. ”Indah nian dikau…” kata saya dalam hati. Saking selalu mengilapnya saya kadang dalam perjalanan melalui spion motor berusaha melihat helm saya untuk mengetahui seberapa mengilatnya helm ini. Narsis sekali…. 
Tapi terkadang memang dalam sehari saya tidak membersihkan helm tersebut. Karena kecapekan setelah pulang kantor dan paginya tidak sempat karena terburu-buru harus berangkat lebih pagi. Maksimal dua hari sekali saya harus membersihkan helm tersebut, dengan bahan yang disemprotkan lebih banyak dan tekanan saat mengelap dobel juga. Idih…
Kedua, meletakannya dengan hati-hati di tempat yang bersih. Kalau di rumah ditempatkan di ruang tamu. Dengan menjauhkan segala benda dari dekatnya. Takut tergores gitu… . Saya selalu mewanti-wanti anak-anak saya agar berhati-hati di saat mereka saya suruh untuk menaruh helm ini. Dulu, saya punya helm ditaruh begitu saja di dapur, diatas rak sepatu, dan bercampur dengan berbagai macam benda, maka saksikan saja kepala selalu digaruk-garuk karena kegatelan. 
Ketiga, kalau di kantor, saya tidak meletakkan helmnya ditempat parkir. Saya selalu membawanya ke dalam ruangan kantor. Ini untuk menghindari jatuhnya helm yang akan membuat helm lecet. Karena biasanya saking sempitnya lahan parkir, senggolan antarmotor dan gemuruh (kayak petir saja) suara helm jatuh sudah seringkali terjadi. Tentu ada reason lain. Anda pasti sudah tahu. Dicolong? Ya betul Anda tepat sekali. Biasa, kalau ada barang bagus di embat juga.
Enaknya di taruh kantor adalah setidaknya ruangannya berAC (emang ini pengaruh?) dan kebersihannya terjaga. Berbeda 180 derajat dengan di tempat parkir. Panas dan tidak terlindung dari sinar ganas ultraviolet matahari.
Oh ya, jangan lupa saat menaruh helm, visor (kaca helm)-nya harap dibuka agar sirkulasi udara di helm terjaga. Ini juga penting untuk menghindari bau yang tidak mengenakkan di dalam helm. Malu bukan, kalau helm itu diendus-endus sama yang lain terasa bau menyengat (emang apaan). BTW, saya belum pernah mencuci bagian dalamnya, karena belum tahu cara membuka bagian itu untuk bisa dicuci. Suatu saat, di hari libur, saya akan mencobanya.
Saking saya berusaha merawat helm ini, teman-teman saya biasanya komentar…”ini nih gara-gara helm mahal, jadi kerepotan sendiri.”. Ah, biarlah yang penting apa yang saya lakukan tidak merugikan orang lain. Dan terpenting lagi ini membuat saya merasa nyaman. Dengan kenyamanan ini, saya bisa berkonsentrasi lebih. Dan Insya Allah selamat di sepanjang perjalanan.
Teringat wejangan Kyai Haji Abdullah Gymnastiar dulu bahwa: ”harga kepala kita sungguh tidak sebanding dengan harga Rp20.000,00.” Komentar beliau ini untuk para biker yang terkadang tidak menghargai keselamatan jiwanya saat mengendari motor dengan memakai helm yang tidak standar. Ada juga yang standar sih, tapi standar proyek. Tentunya ini belumlah mampu untuk menahan liat dan kerasnya aspal hitam. Ih, sekali-kali tidak. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari hal yang sedemikian…
So, pakailah helm standar dan rawatlah dengan baik. Insya Allah nyaman, lebih konsentrasi, dan selamat. Ingat…! keluarga senantiasa menanti kita di rumah…. 

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
7 bulan helm itu sudah terawat
09:45 30 Agustus 2006

TUKANG SOL ITU TERNYATA….


TUKANG SOL ITU TERNYATA….

Ahad, 20 Agustus 2006
Kembali saya diajak menuntaskan rasa rindu Qaulan Sadiida kepada ibunya. Dan daripada saya bete seharian di rumah sang Ibu, saya benar-benar berniat untuk hunting foto kota lama sepuas-puasnya. Ditemani dengan kakaknya saya kemudian kembali menuju lokasi tersebut.
Kini saya mengawalinya dengan mengambil gambar gedung bank mandiri, lalu gedung sebelahnya. Berlanjut dengan gedung GKBI lalu menuju Pabrik Rokok Praoe Lajar. Bangunan pabrik rokok ini, mungkin satu-satunya gedung yang masih menampakkan kekunoannya dengan sentuhan yang lebih terawat dan moderen dengan cat merah menyala yang amat artistik menurut saya.
Lalu kembali lagi menuju folder stasiun Tawang. Saya tidak ambil gambar bangunan stasiun Tawang, karena sudah pernah diambil setahun lalu. Setelah puas, lalu saya beranjak ke gedung yang dulunya merupakan rumah sakit jiwa untuk perempuan. Bangunannya sudah rusak berat tapi masih bisa dihuni oleh beberapa pedagang warung remang-remang. Sudah terkenal sekarang ini lokasi tersebut merupakan sarana pemuasan syahwat kelas bawah. Makanya jangan heran di sana setiap sorenya, sudah banyak wanita bergincu tebal menjajakan dirinya di depan pintu gedung itu yang kira-kira ada delapan buah .
Pantasan saja di saat saya mencoba mengambil gambar di sana, ada dua orang yang langsung masuk ke dalam bangunan tersebut. Mungkin mereka mengira saya wartawan dan takut diekspos di media. Ah, ada-ada saja. Masak tampang saya seperti ini dikira wartawan sih… 
Perburuan terus berlanjut sampai di gedung Telkom dan gereja Blenduk serta bangunan di sekitar jalanan menuju Pasar Johar. Di tengah perburuan itu, saya berjumpa dengan tukang sol sepatu yang ternyata dia adalah penyuka fotografi dulunya. Kamera Canon ber-lensa tele sudah ia jual dulu sekali.
Padanyalah saya pun berkonsultasi masalah perawatan kamera dan bagaimana agar gambar yang diambil bisa bercerita banyak, tidak sekadar gambar belaka. Saya pun menegaskan kepadanya, saya itu cuma penyuka biasa saja. Dan belum mengerti sama sekali tentang fotografi.
Tuh kan… jangan pernah melihat siapa orangnya, tapi lihat apa yang ia katakan. Sambil meminum air es degan itulah saya mengambil banyak pengetahuan dari tukang sol itu. Setelah lama berdiskusi dan berbincang-bincang saya memutuskan untuk mengakhiri perburuan ini. Bukan masalah saya sudah bosan dengan sekitar tapi saya sudah tidak kuat sekali dengan terik matahari di siang bolong ini, apalagi kami belum mengisi perut. So, sekali lagi saya benar-benar tidak tahan dengan panasnya Semarang.
It is over.
Malamnya kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta besok pagi.

Senin, 21 Agustus 2006
Saya merasa liburan lima hari di sana terlalu singkat. Apalagi terpotong dua hari untuk perjalanan pulang pergi. Namun esok harus kembali bekerja. Haqi dan Ayyasy pun harus bersekolah. Jadinya kami kembali dengan Kereta Bisnis Fajar Utama yang tiketnya sudah saya beli pada waktu membeli tiket ke Semarang.
Lagi-lagi kereta pun padat dengan penumpang. Tapi masih mending karena puncaknya nanti malam. Perjalanan ini diawali dengan kejar-kejaran petugas Provost TNI yang didampingi petugas PTKA dengan sekelompok laki-laki berbadan tegap, berambut cepak yang tidak mau membayar tiket untuk naik kereta ini.
Memang perjalanan Semarang Jakarta dengan harga tiket sebesar 70 ribu rupiah bisa dihemat dengan harga 10 ribu rupiah dengan membayarnya langsung kepada kondektur di atas kereta saat sedang jalan. Soalnya saya melihat salah satu anggota grup itu memberikan ”sesuatu” kepada kondektur saat melewati Setasiun Cirebon.
Saking padatnya dengan penumpang, sepanjang lorong kereta pun susah untuk dilewati. Makanya ada anak kecil yang memang tidak tahan untuk buang air kecil dan takut mengganggu anggota TNI yang sedang tertidur di lorong itu, terpaksa pipis di wadah bekas pop mi. Dan tidak lupa untuk membuangnya melalui jendela. Untungnya tidak tumpah. 
Tujuh jam lamanya perjalanan ini. Tepat pukul setengah empat sore kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Lalu dengan bajaj kami melanjutkan kembali perjalanan menuju stasiun Tebet untuk naik KRL. Kali ini kami tidak perlu berdesak-desakan di KRL, cukup lowong dan dapat tempat duduk.
Cukup kurang lebih satu jam saja perjalanan ini menuju Stasiun Citayam Dari sana kami naik ojek untuk sampai di rumah yang kami rindukan.

***
Akhirnya selesai sudah liburan kami. Menyenangkan dan cukup melelahkan. Tinggal kami memikirkan apakah di bulan September nanti kami akan mengajak lagi Haqi dan Ayyasy pergi ke Semarang. Tidak dengan hari libur panjang tapi cuma di hari sabtu dan minggu. Yang kami khawatirkan adalah masalah kesehatan saja. Buktinya liburan panjang kemarin sempat membuat Haqi tidak masuk sekolah karena sakit di hari Rabu kemarin. Apalagi ini dengan frekuensi perjalanan tanpa istirahat, Jum’at malam pergi, ahad pagi pulang kembali.
Saya bersikeras untuk meninggalkan mereka berdua, tapi Qaulan Sadiida benar-benar tidak tega. Kami mungkin perlu negosiasi ulang membahas ini. Tapi nanti sajalah, masih tiga minggu lagi bukan…?
Eit, tapi awas, tiket keretanya habis loh…. 

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

HUNTING IMAJI DAN KULINER


HUNTING IMAJI DAN KULINER

Jum’at, 18 Agustus 2006
Setelah semalamnya kami beristirahat total untuk merehatkan tubuh, pada hari ini kami sepakat untuk pergi ke rumah ibu yang berada di Poncol. Kami berempat pergi ke sana dengan mengendarai sepeda motor. Selalu saja antara Haqi dan ayyasy selalu bersaing untuk berada di depan. Pada akhirnya mereka selalu bertengkar pada masalah ini. Tapi saya tegaskan kepada mereka untuk gantian. Eh…maklum anak-anak. Padahal saya pikir apa enaknya sih duduk di depan. Tapi mungkin enggak enaknya kalau duduk di belakang pasti tidak bebas melihat pemandangan sekitar karena terjepit badan kedua orangtuanya.
Perjalanan kami tidak jauh, cuma menempuh sepuluh kilometer saja dari rumah kakak. Melewati kota lama yang dipenuhi dengan bangunan kuno saya berniat berhenti sebentar untuk potret-potret dengan kamera digital yang saya bawa: Nikon Coolpix 5700 bekas lungsuran teman yang mau berbaik hati merugi sekitar lima jutaan dari harga barunya untuk dibeli oleh saya.
Qaulan Sadiida tidak setuju untuk hunting foto pada saat ini. Kangen pada sang Ibu membuatnya tidak betah berlama-lama berhenti. “Sore saja nanti saat pulang,”katanya. Akhirnya saya menurut. Seharian kami di rumah sang Ibu.
Sorenya kami pun pulang. Saya menagih janji pada Qaulan Sadiida untuk menemani saya hunting. Karena hari sudah keburu terlalu sore, saya pun cuma ambil beberapa saja foto bangunan kuno di jalan samping gedung bank Mandiri. Lalu setelah cukup puas, saya pun kembali meneruskan perjalanan pulang.
Tapi berhubung ada lokasi bagus yang kami lewati, yaitu folder pengendali rob di depan Stasiun Tawang dengan jejeran lampu hias zaman dulu, semburat sinar matahari senja, air yang tenang, lokasi yang tampak bersih, dan bendungan kecil ala Belanda membuat saya tergoda berhenti. Dengan rayuan kepada Qaulan Sadiida berupa posenya bersama anak-anak, Qaulan Sadiida mau menemani saya kembali hunting foto di sini. “Jangan lama-lama,” tegasnya. Oke, bossss….
Bagus sekali. Banyak gambar sensasional (menurut saya yang pemula ini) yang bisa diambil. Lumayan. Kalau saja bisa lebih lama lagi tapi senja semakin memerah semburatnya.

Sabtu, 19 Agustus 2006
Tidak ada yang dilakukan pada hari ini. Hanya main game kuno di komputer yang sudah lama saya tinggalkan. SOLITAIRE. Selanjutnya kami cuma berencana untuk pergi ke rumah saudara yang lain nanti malam. Yang pasti di tengah panasnya Semarang, saya habiskan waktu untuk eksplore keunikan kuliner Semarang (halah…).
Ah, cuma soto Pak No dan es teh manis. Plus bakso sapi Pak Min. Lezat Euy…Saya akui, ternyata di setiap sudut kota semarang selalu saja ada kaki lima yang berjualan makanan. Dan laku coy. Apalagi di daerah istri saya ini, Perumnas Tlogosari, Pedurungan. Kalau malam jalanan utamanya penuh sesak dengan orang yang berjalan kaki dan berkendaraan untuk meramaikan warung-warung kaki lima penjual makanan. Saya sampai bilang: “wuih…di sini surganya makanan”.
So, tidak ada yang istimewa di hari ini.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

SEMARANG MEMANG PANAS


SEMARANG MEMANG PANAS

Kamis. 17 Agustus 2006
Tepat pukul 05.00, ba’da shubuh, kami berempat sudah bersiap-siap menuju Stasiun Jatinegara, karena Kereta Api Bisnis Fajar Utama jurusan Semarang Tawang sudah bersiap di stasiun itu pada pukul 07.30 pagi.
Tukang ojek yang biasanya banyak di pangkalan dekat rumah, ternyata pada saat itu tidak ada batang hidungnya satu pun. Akhirnya kami harus berjalan sekitar tiga ratus meter untuk mencari tukang ojek lain, sampai ketemu juga ojek langganan kami.
Sepuluh menit kemudian, saya, Qaulan Sadiida, Haqi, dan Ayyasy sudah berada di stasiun Citayam untuk naik KRL Jurusan Kota menuju Stasiun Tebet. Tidak lama KRL itu pun datang. Penuh juga ternyata. Kami pun harus berdesak-desakan. Saya sampai heran kenapa hari libur seperti ini masih KRL dijejali oleh banyak penumpang. Saya akhirnya menyadari bahwa ternyata banyak PNS yang berseragam Korpri masuk kantor untuk mengikuti upacara tujuh belas agustusan.
Syukurnya, saya tidak diberi giliran untuk mengikuti upacara itu. Karena kalau tidak, acara liburan pulang kampung ini akan gagal dan tiket yang sudah kami beli sebulan kemudian bisa hangus. Rugi banyak saya kalau kejadiannya demikian.
Ya, Istri saya memang sudah lama tidak pulang kampung ke Semarang. Kangen pada ibunya sudah tidak terbendung lagi. Saya pun tidak bisa menghalanginya untuk bertemu dengan sang ibu, walaupun nanti di bulan September besok kami harus datang ke sana kembali karena keponakan kami mengadakan resepsi pernikahan.
Tidak apa-apa sekalian menikmati liburan panjang. Dan tentunya sudah ada kesepakatan di antara kami, bahwa kalau bulan Agustus dan September ini pulang ke Semarang, nanti kalau lebaran tidak usah pulang lagi ke sana tapi cukup untuk pulang ke Jatibarang menemui orang tua saya. Deal.
Perjalanan dengan KRL yang saya khawatirkan terlambat ternyata tidak terjadi. Kami masih punya banyak waktu untuk sampai ke Jatinegara. Walaupun kami harus bersusah payah untuk keluar dari gerbong KRL karena penuh sekali dengan penumpang. Kasihan Haqi dan Ayyasy terjepit-jepit. Apa daya kami berdua sudah membawa barang bawaan yang cukup berat, jadinya tidak bisa menggendong mereka berdua.
Dari Stasiun tebet kami naik Bajaj dengan ongkos cukup Rp8.000,00. Awalnya kami hendak naik ojek tapi saat dipanggil dari kejauhan mereka tidak mau datang, malah yang datang tukang Bajaj. Ya, sudah tidak apa-apa malah menghemat karena kalau naik ojek bisa habis ongkos sebesar Rp14.000,00.
Kurang lebih Pukul 07.00 pagi kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Alhamdulillah kami tidak terlambat. Ada waktu setengah jam untuk bersantai sembari menyuruh kedua anak saya untuk sarapan pagi dulu dengan bekal yang kami bawa.
Di stasiun ini ternyata banyak sekali orang yang akan pergi jauh dengan menggunakan moda angkutan kereta api untuk mengisi liburan panjang. Dan imbasnya ternyata di gerbong yang saya naiki penuh juga dengan orang yang bertiket tanpa nomor duduk. Lagi-lagi saya bersyukur, saya memesan tiket sudah lama sehingga kebagian nomor duduk untuk kami berempat. Haqi dan Ayyasy pun bisa menikmati perjalanan ini. Menikmati pemandangan sawah dan kegiatan panen di sekitar Pantura Jawa Barat. Laut dan sedikit hutan di Batang, dan tanaman tembakau di Kaliwungu.
Walaupun demikian, ternyata perjalanan kereta ini banyak terhambatnya. Di setasiun Bekasi kami diberhentikan cukup lama sekali. Hingga seharusnya kami sudah sampai di Stasiun Tawang sekitar pukul dua atau tiga siang, ternyata sampai di sana pada jam setengah empat sore. Waow…perjalanan ini asyik tapi melelahkan, apalagi kami sudah dibaui dengan bau kereta api, wajah lengket, dan penuh debu. Saya pikir enak juga ya kalau mencicipi perjalanan ke Semarang naik kereta eksekutif Argo. Belum pernah sih….:-)
Di stasiun ada kakak kami yang sampai terkantuk-kantuk menunggu kami. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, dua anak kami yang di kereta itu tidak tidur saking asyiknya bermain sudah terlelap saja. Mereka terbuai dengan AC mobil yang meningkahi hawa panas Semarang. Semarang memang panas di musim panas, pun di musim hujan Semarang juga banjir.
Inilah perjalanan di hari pertama kami.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

KADO TERAKHIR BUAT TIBO, DOMINGGUS, DAN MARINUS


KADO TERAKHIR BUAT TIBO, DOMINGGUS, DAN MARINUS

Eksekusi yang saya tunggu-tunggu Sabtu dinihari kemarin ternyata batal juga. Tibo Cs tidak jadi ditembak oleh satu regu eksekutor. Yusuf Kalla–di Kompas hari ini (senin, 14/8)–menyatakan ada pertimbangan yang diberikan oleh SBY sebagai presiden yakni pertama adanya kesibukan dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia  dan kedua suara-suara protes dari elemen masyarakat, juga dari Vatikan.
        Mantap, Indonesia, sekali lagi, selalu lemah di bawah tekanan asing. Dan lagi-lagi tidak berdaya. Apapun alasannya pemerintah bagi saya ini merupakan suatu bentuk kelemahan. Memperpanjang ketidakpedulian terhadap penegakan hukum. Tapi kita lihat apakah pemerintah juga bersikap adil terhadap rencana eksekusi Amrozi dkk. Saya tidak mempunyai urusan kepada para pelaku bom bali tersebut. Tapi bila tetap dipaksakan juga untuk dilakukan eksekusi terhadap mereka, sedangkan kepada Tibo Cs ditunda-tunda lagi, maka tampak sekali bahwa ketidakadilan sudah dilakukan oleh pemerintah. Tentunya kita tahu siapa pihak asing yang bisa menekan pemerintah kita.
        Dan saya setuju pula bahwa eksekusi pun harus dilakukan terhadap para narapidana yang sudah habis upaya perlawanan hukumnya sampai ke tingkat grasi. Entah itu dari kasus narkoba atau kasus  pembunuhan. Hendaknya pula agar menimbulkan efek jera–sebagaimana amanat falsafah hukum–maka eksekusi itu dilakukan di hadapan khalayak ramai, di lapangan terbuka dan diliput oleh media. Jangan ditutup-tutupi seperti sekarang ini. Yang eksekusinya dilakukan dinihari dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh melihatnya. Maka saya yakin tidak ada terapi kejut yang bisa diterima oleh masyarakat. Dan saksikan saja angka kriminalitas pun tidak mempunyai perubahan yang signifikan ke arah penurunan.
        Kembali kepada masalah eksekusi Tibo Cs, pemerintah kiranya lupa terhadap penderitaan yang dirasakan oleh korban yang lolos dari kekejian Tibo Cs dan para keluarga korban yang tewas dibantai mereka. Betapa tidak ratusan–bahkan ada yang mengatakan ribuan–nyawa melayang akibat ulah bejat gerombolan kelelawar pengecut seperti mereka yang bisanya cuma menganiaya dan membunuh orang-orang yang tak bersalah dan tak berani untuk berhadapan face to face dengan pasukan putih dari pihak muslim.
        Suara-suara elemen masyarakat–Sampai-sampai Gubernur Nusa Tenggara Timur, asal salah satu pelaku tersebut, pun ikut-ikutan–yang memprotes eksekusi dengan alasan bahwa Tibo Cs bukan aktor intelektual menjadi alasan utama permintaan penundaan itu. Bagi saya itu cuma alasan yang mengada-ada. Dibuat-buat. 
        Dan bagi saya, sungguh amat terlambat bagi kepolisian mencari-cari siapa saja dalang dibalik peristiwa itu setelah sekian lama peristiwa itu terjadi. Mengapa tidak sedari dulu investigasi itu dilakukan agar tampak yang benar-itu benar dan yang salah itu tetap salah. Tapi lagi-lagi kiranya seperti ada awan gelap menyelimuti kasus ini. Tapi berdasarkan hasil persidangan dan persaksian para korban hidup yang melihat Tibo Cs sebagai pelaku langsung dari aksi pembantaian itu sudah menjadi bukti cukup untuk segera menembak jantung mereka agar tidak lagi diberikan kesempatan untuk menarik nafas di muka bumi ini.
Kiranya saya tidak usah berpanjang lebar mengurai masalah Tibo ini, karena sudah puluhan berita media yang mengupas masalah ini. Namun terlihat sekali ada dua blok terbentuk dalam kasus Tibo ini. Yang membela dan menginginkan eksekusi Tibo Cs adalah mereka yang mempunyai afiliasi ideologis yang sama dengan tiga penjahat besar tersebut. Kelompok minoritas yang didukung medianya, nasional dan lokal tentunya—sampai-sampai ada liputan TV yang mengungkapkan sisi-sisi kemanusian Tibo Cs yang mereka buang entah kemana saat menyembelih para santri.
Dan kelompok kedua adalah kubu para korban dan ormas-ormas Islam yang minim dukungan dari media. Tentunya mereka inilah yang merasakan kekecewaan berat atas penundaan tersebut. Kini mereka dan saya tentunya tinggal menunggu janji dari pemerintah bahwa eksekusi tersebut tetap akan dilaksanakan setelah peringatan 17 Agustusan ini. Saya harap ini merupakan kado terbesar dan terakhir buat Tibo Cs.
Jika tidak, maka makin teranglah sikap pemerintah ini, seterang sinar matahari di siang bolong. Dan tentunya kita lihat betapa terpuruknya nasib pencari keadilan jika ia adalah seorang muslim. Itu saja bagi saya.

riza almanfaluthi
uneg-uneg yang tiada habisnya
dedaunan di ranting cemara
10:21 14 Juli 2006