Cerita Lari Borobudur Marathon 2018: Karena Kita Sekadar Pelari Rekreasional


Borobudur Marathon 2018 pada 18 November 2018 ini adalah Full Marathon (FM) kedua buat saya, setelah Mandiri Jogja Marathon di Prambanan pada 15 April 2018 lalu. Ini persis di tahun ketika usia saya menginjak 42 tahun.

Alhamdulillah, menurut kebaperan saya, FM ini lebih ringan daripada FM di Prambanan atau ketika latihan long run sendirian selama empat minggu sebelumnya.

Statistik lari saya menurun sejak puasa lalu. Dan untuk persiapan Borobudur Marathon ini saya hanya mengandalkan lari jarak jauh di akhir pekan selama empat minggu sebelum race.

Empat minggu sebelumnya saya Half Marathon (HM) dengan waktu tempuh 2 jam 58 menit. Tiga minggu sebelumnya jarak lari naik menjadi 35,52 kilometer dengan waktu tempuh 5 jam 8 menit. Catatan waktu lari 35 kilometer ini lebih baik daripada sebelumnya yang sampai 5 jam 35 menit.

Dua minggu sebelum race saya lari 28 kilometer dalam waktu 4 jam 39 menit. Dan seminggu sebelum race saya lari cukup 21,5 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 53 menit. Latihan lari jarak jauh ini atas saran Kapten Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Runners orang ganteng sedunia itu: Mas Asdaferry Bitana.

Walau sudah latihan begitu, masih tidak percaya diri saja untuk bisa mengikuti FM kedua ini. Seperti ada yang kurang. Jadi target saya tidak muluk-muluk, yang penting bisa finis sehat saja. Tidak juga punya target bikin Personal Best. Catatan waktu FM Saya di Prambanan itu 6 jam 20 menit 52 detik.

Tetapi persuaan dengan Mas Murdono Kelik—sesama anggota DJP Runners—di garis start membuat saya berubah. Ia memotivasi saya untuk membuat Personal Best. “Bisa di bawah 6 jam,” katanya. Waktu itu saya berpikir pokoknya ikuti saja Mas Dono ini sampai saya lelah.

Oh iya, dari catatan di grup lari kami, sebanyak 65 pelari DJP Runners ikut event ini dalam berbagai kategori. Rinciannya 7 orang mengikuti 10K, sebanyak 28 pelari ikut kategori HM, dan 30 pelari di kategori FM. Jumlah ini tentunya terakbar yang pernah diikuti oleh kami. Belum termasuk dengan teman-teman yang ada di grup lari Kementerian Keuangan BA015 Runners.

Tepat pukul 05.00 pagi, lomba dimulai. Waktu itu langit gelap dan ada sedikit air hujan yang turun seperti air yang keluar dari kran yang dol. Tetapi benar-benar sedikit. Dan kelak ia menjadi hujan yang tidak akan pernah turun selama Borobudur Marathon 2018 ini.

Butuh waktu satu menit dari tempat saya berdiri menuju garis start. Di situlah saya mulai tekan tombol Garmin Forerunner 235. Pelari-pelari hitam itu sudah melesat entah kemana. Kita mah yang penting bisa finis.

Saya mengikuti Mas Dono terus, tetapi kecepatannya sudah mulai naik. Sampai-sampai saya bisa melewati atlet DJP Runners spesialis triatlon Esa Marindra Fauzi. Bukan apa-apa, saya hanya ingin tahu sejauh mana nih saya bisa ngintili Mas Dono.

Akhirnya di Kilometer (K)-4 ia melesat meninggalkan saya. Tidak apa, yang penting saya masih bisa jaga kecepatan saya. Saya jadi teringat dengan persiapan receh untuk mengikuti lomba ini.

Suasana menjelang start kategori Full Marathon. 

Persiapan

Dari Jakarta saya memilih naik pesawat daripada naik kereta. Menimbang lamanya perjalanan dan harga yang tak terpaut jauh. Saya berangkat Jumat malam dan sampai di Bandara Adisutjipto pukul 21.30. Lalu naik Damri terakhir pada 21.00. Sampai di Pertigaan Blondo, Magelang jam 22.30. Perjalanan masih berlanjut dengan naik ojek online, sampai rumah di Wringinputih pukul 23.00. Langsung tidur.

Besok siangnya saya pergi ke Artos Mall untuk mengambil Race Pack. Tidak ada antrian panjang. Bertemu dengan pelari DJP Runners Mas Damar S dan Mas Ichsan A.M. yang akan ikut HM. Kepada mereka berdua saya minta tolong untuk foto-foto di sana.

Kemudian saya seperti melihat salah satu Pendiri Freeletics Indonesia Kris. Tapi saya enggak yakin dia apa bukan? Soalnya selama ini kami ngobrol online saja dan belum pernah kopi darat. Saya sampai mengecek foto profil Whatsapp-nya. Mirip sih. Tetapi masih tidak yakin.

“Kris, kamu di Magelang?”

“Ada mirip kamu.”

Dua kalimat itu saya tulis di jendela Whatsapp-nya dari jarak dua meter di depan orangnya. Orang mirip Kris itu lalu buka teleponnya.

“Rizaaaaaaa!!!!!” teriak Kris di tengah keramaian. Ia langsung memanggil nama saya saja. Akhirnya kita bertemu.

Baca Juga: Freeletics Buat Pemula

Suasana saat pengambilan race pack collection.
Bertemu dengan pelari-pelari DJP Runners: Mas Ichsan A.M. dan Mas Damar S.
Bertemu dengan salah satu pendiri Freeletics Indonesia, Kris. Ia ikutan HM.
Foto-foto dulu di tempat pengambilan race pack collection.
Pada nyari nama pelari yang muncul di papan LED gede di tempat pengambilan race pack collection.
Banyakin foto sebelum lari.
Isi race pack collection banyak banget. Mulai dari mi ayam, kopi, tempat minum, yang hot-hot, sampai pelancar air kencing. Untuk yang terakhir ini saya punya ceritanya sendiri.

Setelah itu saya foto-foto di banyak booth dan memenuhi tantangan di salah satunya: posisi squat selama 2,5 menit bersama dua orang lainnya. Saya orang kedua yang mampu bertahan. Itu pun cuma bertahan semenit lebih. Saya ke sini bukan untuk itu. Cadangan tenaga saya buat besok pagi.

Saya sempat cek kesehatan juga di booth asuransi. Cek kadar gula dan asam urat.  Alhamdulillah normal semua. Kata dokternya Body Mass Index saya kudu diturunin karena kalau batas atasnya pakai standar Asia, BMI saya sudah di atas normal. “Turunin satu atau dua kilogram saja, Pak,” kata dokter wanita itu.

Selepas itu saya pulang, tetapi sebelumnya saya mampir dulu ke warung Kupat Tahu Bu Ambar di dekat Pertigaan Blondo.  Kapan lagi coba bisa mencicipi makanan khas Magelang? Mumpung hari ini dan hari esok aku ingin dimanjah.

Malamnya, saya makan banyak. Nasi, sop ayam, tempe dan krupuk. Untuk carbo loading ini pantangan nasi saya jabanin. Jam delapan malam saya sudah mematikan lampu kamar. Sempat melihat-lihat media sosial sampai pada akhirnya saya benar-benar tidur.

Latihan teratur, makan sehat, dan cukup istirahat jadi kunci buat esok hari.  Enggak berani terlambat tidur malam ketika besoknya mau lari. Benar-benar mempengaruhi kondisi lari saya. Enggak enak banget.

Alarm telepon genggam berbunyi pada pukul 03.30. Azan Subuh setengah jam lagi. Hawa Wringinputih saat ini tidak sedingin pada saat lebaran kemarin. Untuk kali ini saya pakai jersey DJP Runners warna hitam. Saya pakai manset putih. Ini pertama kali pakai manset. ini berguna banget buat menghalau panas yang menggosongkan itu.

Saya mengolesi bagian tubuh yang dirasa akan lecet. Di dada saya pakai plester. Dari FM dan latihan yang lampau saya jadi tahu bagian tubuh mana yang akan terasa menyerikan saat kena air. Wajah juga saya baluri dengan sunblock.

Gu Gel rasa espresso saya bawa empat biji untuk saya konsumsi di setiap jarak 10 kilometer. Salt stick juga saya bawa. Garam ini akan saya telan di setiap jarak 15 kilometer. Saya pun bawa satu batangan sereal dan uang secukupnya.

Pukul 04.15 saya berangkat naik motor. Sampai di pintu 3, saya turun. Lalu masuk ke restricted area. Mereka yang memiliki BIB (nomor dada) saja yang boleh masuk. Setelah itu saya pemanasan dulu pakai Freeletics Dynamic Warm Up.

Kemudian saya masuk ke area start yang sudah dipenuhi banyak pelari. Jarak saya berdiri sampai garis start itu sekitar 100 meter. Setelah lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang saya melihat Mas Dono mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Barangkali doanya sama dengan doa yang saya panjatkan: finis sehat.

Karena kita sekadar pelari rekreasional.

Baca juga: Cerita-cerita lari dari gendut sampai kurus.

Sebelum masuk ke area terbatas khusus buat pelari.
Swafoto dulu dengan Mas Murdono Kelik.

Semarak

Water Station pertama sudah saya temui di K-2,5. Saya tidak akan pernah melewatkan tempat ini sekalipun. Saya mengambil air mineral satu gelas saja. Saya tidak mengambil minuman berion supaya tidak mual.

Lima kilometer pertama saya tempuh dalam waktu 35 menit persis. Lima kilometer berikutnya dalam waktu 1 jam 10 menit 51 detik. Berarti pace saya di 7:09 menit/kilometernya.

Karena saya hanya memiliki pengalaman FM di Prambanan maka saya sering menjadikannya sebagai pembanding. Dan untuk kesemarakan, jelas Borobudur Marathon 2018 lebih unggul daripada Mandiri Jogja Marathon 2018.

Ini dipertunjukkan dengan adanya masyarakat baik tua atau pun muda dan murid-murid sekolah yang berdiri di sepanjang jalur race mempertontonkan aneka ragam pertunjukan.

Mulai dari tarian, nyanyian, salawatan, dan kasidahan ala Nisa Sabyan. Jelas ini menyalakan api semangat yang mulai redup.  Salah satu alasan yang membuat saya mengikuti Borobudur Marathon adalah ini.

Dan penyelenggara mempromosikan kalau rute maraton ini sudah terukur dan terverifikasi. Makanya di Borobudur Marathon 2018 ada Blue Line. Garis ganda warna biru yang dicetak di atas aspal ini adalah penanda jarak terefektif mencapai garis finis.

Artinya kalau berlari selalu melintasi garis itu maka jarak yang ditempuh sampai finis bisa pas 42,195 kilometer. Tidak banyak lebihnya. Kecuali kalau kalian joget-joget dan swafoto dulu, atau kebelet mau numpang pipis di toilet masjid, balai desa, atau Balkondes (Bale Ekonomi Desa). Atau leyeh-leyeh di Fruit Station bak Sultan dengan dua tangan memegang potongan semangka. Sultan mah bebas…

Cerita ini bersambung di: Cerita Lari Borobudur Marathon 2018: Setelah Tikungan Terakhir 

Salawatan ala-ala bapak-bapak takliman.
Blue line.
Penanda water station dan KM-20. Foto diambil sehari menjelang lomba.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
12 Robi’ul awal 1440 H
Shollu ‘alan nabiy

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Lari Borobudur Marathon 2018: Karena Kita Sekadar Pelari Rekreasional

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.