Beste: Narasi Cita Tak Sampai


Muhammad Bestari, 27 tahun, mengamati kelir komputer. Kelimun huruf kecil di sana dibacanya dengan cermat. Tak lama ia menuliskan sesuatu di aplikasi pengolah kata. Ia melakukannya berulang kali. Kaca mata minus tidak cakap menyembunyikan kepayahan matanya. Hari itu, Beste sudah membaca puluhan berita yang masuk. 

Beste, nama panggilan yang diberikan kakeknya, bersyukur selepas dari DIV STAN tahun 2016 lalu bisa ditempatkan di Seksi Pengelolaan Berita, Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan, Direktorat Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak). 

“Kapan lagi bisa ngantor sambil baca berita dan ngopi-ngopi. Digaji lagi,” kata pria kelahiran Pati ini saat ditemui di lantai 16 gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Senin (10/03/2017).

Di seksi itu, Beste membaca, mengelola, dan menganalisis puluhan berita setiap harinya. “Bahkan 500-an berita pernah saya baca dalam sehari,” tuturnya lagi. Kebetulan, lanjut Beste, karena hari itu isu hangat yang beredar adalah tentang Amnesti Pajak yang telah berakhir, perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, dan konferensi pers Menteri Keuangan Sri Mulyani di hari sebelumnya.

Dalam organisasi sebesar Ditjen Pajak, Seksi Pengelolaan Berita punya tugas yang tak kalah penting. Seksi ini harus menganalisis berita yang berhamburan di pelbagai media online ataupun cetak. Juga memberi tanggapan atas artikel atau surat pembaca dan mengarsipkan berita. Hasil analisisnya dalam bentuk buletin bernama Pamorku diberikan kepada Direktur Jenderal Pajak dan petinggi Ditjen Pajak lainnya. Mereka pembaca utama Pamorku.

Sebagai penganalisis berita, menurut Beste, ini yang membuat dirinya selalu paham topik ekonomi dan isu perpajakan terkini. Betapa tidak, Beste tentunya membaca berita yang berisi komentar dari beragam pengamat ekonomi.  “Kalau saya ditanya orang tentang pajak, moneter, dan keuangan bisa nyambung,” kata Beste sambil membetulkan letak dasi warna kuning pucatnya. 

Dasi memang menjadi aksesoris berpakaian alumnus DIII STAN tahun 2010 ini. Selain di hari yang ia diwajibkan memakai baju batik, Beste selalu memakai dasi di kantor. Ia mengaku sejak kecil melihat kebiasaan ini dari bapaknya kalau berangkat bekerja. Ibunya yang memilihkan model dan warna dasi terbaik buat bapaknya. “Kayaknya keren banget,” tutur Beste.

Ini seperti profesi yang dulu pernah dicita-citakannya sewaktu kecil: menjadi masinis, orang yang bertanggung jawab menjalankan kereta api. Mereka berdasi. Sebenarnya, tutur Beste, ada satu lagi profesi yang tak ada kaitannya dengan dasi, tapi pernah diinginkannya dulu. “Jadi tukang parkir. Mereka selalu pegang duit banyak,” kata Beste sambil tertawa lebar.

Dasi, lanjut Beste, adalah mood booster yang bisa mengubah suasana hatinya. Makanya Beste bertekad untuk selalu memakai dasi kapan saja ia bisa walau ia baru sebatas pelaksana yang tidak diwajibkan mengenakan dasi. Tapi bukan berarti kalau tidak memakai dasi ia tidak bisa profesional dalam bekerja.

“Saya tetap berusaha memberikan yang terbaik,” pungkasnya. Memang, ini semakna dengan panggilannya. Beste adalah kata dalam bahasa Belanda, yang berarti terbaik. 

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Lantai 16, 10 April 2017

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s