LEIDEN! Kepemimpinan Yang Menginspirasi


 

COVER LEIDEN - DUTA MEDIA TAMA

Ini bukan soal kota dan universitas tertua di Belanda yang bernama Leiden. Juga bukan membicarakan subjek. Melainkan soal predikat dalam bahasa belanda, leiden, yang berarti memimpin. Pekerjaan seorang pemimpin. Salah satu kriterianya ada dalam cerita ini.

Satu persamaan antara logo Bonek Persebaya Surabaya dan LA Mania Persela Lamongan adalah keduanya memakai wajah suporter yang sama. Bedanya logo Bonek Persebaya memakai ikat kepala sedangkan LA Mania tergambar dengan blangkon. Menariknya, kedua logo ini terinspirasi dari sosok yang sama. Pemuda gagah berani bernama Kadet Soewoko.

Pada 9 Maret 1949, tujuh orang menghadang segerombolan Belanda bersenjata lengkap.  Soewoko dengan  segelintir pasukannya tak pernah gentar menghadapi mereka. Serangan gencar dilancarkan menyebabkan banyak serdadu Belanda terjengkang.  Tapi keadaan berbalik. Belanda mengepung. Sampai Soewoko akhirnya tertembak dan terluka parah.

Saat akan dibawa pergi ke pos Belanda, Soewoko menolak. “Saya tidak mau menyerah. Bunuh saja saya.” Serdadu Belanda marah, menusuk dada, dan menembak wajahnya. Ia dikuburkan tanpa dimandikan karena dinilai mati syahid oleh penduduk desa. Keberaniannya dikenang dan namanya tetap hidup. Pemimpin itu keberanian. Karakter yang menjadi mesiu dan meletupkan kemerdekaan Indonesia.

Ini hanya salah satu dari sekian banyak kisah inspiratif dari buku yang ditulis Dea Tantyo Iskandar ini. Karena buku yang menyoal kepemimpinan ini tidak ditulis dengan gaya penulisan ilmiah baku maka banyak rekam jejak kepemimpinan yang kerap menjadi inspirasi tiap zaman.

Cuplikan kisah nyata  kepemimpinan HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Agus Salim, M Natsir, Hamka bertaburan di dalamnya. Tokoh-tokoh dunia pun demikian. Cicero, Muhammad Alfatih, Sayyid Quthb, Che Guevara, Bruce Lee, dan Angela Merkel melengkapi.

Bahwa inspirasi kepemimpinan itu harus terus diestafetkan, itu misi yang Dea bawa dalam buku ini. Apalagi ketika bangsa Indonesia butuh keteladanan yang telah menulang sumsum antara kata dan perbuatan maka kehadiran banyak tokoh dalam buku ini agar lebih banyak nafas keteladanan yang bisa digugu dan ditiru.

Pemimpin itu pelayan, pemberani, visioner, sederhana, pembelajar ulung dari kesalahan pembicara, penulis, pembaca, dilahirkan dari gen kerja keras dan perjuangan serta keluar dari zona nyamannya dan bukan lagi masalah gender.

Di sinilah lalu kita mengenal nama Lasminingrat jauh sebelum kemunculan Kartini dan Dewi Sartika. Ia berhasil menerbitkan buku wajib yang dipakai di sekolah HIS serta menerjemahkan buku Belanda ke dalam bahasa Sunda.

Pada akhirnya di buku yang terbagi dalam 15 chapter ini, Dea meminta pembaca untuk menginjakkan kaki ke dunia nyata dengan belajar dan memulai memimpin dari sini dan titik terkecil. Ini makna dasar kepemimpinan menurutnya. Kembali pulang, menyapa, dan membawa manfaat buat masyarakat.

Leiden is leijden. Memimpin itu menderita. Tapi membaca buku ini tak perlu ada penderitaan karena ia menginspirasi dan memotivasi.

Satu hal yang dibutuhkan dari buku ini adalah sentuhan penyunting untuk membenarkan kesalahan yang tidak perlu dari lembar awal sampai akhir.

Selamat membaca.

Judul                  : Leiden!

Penulis                : Dea Tantyo Iskandar

Penerbit               : Duta Media Tama

Tahun                  : Cet.2,  Desember 2014

Tebal                  : xviii+276 hal

ISBN                   : 978-979-19152-6-7

 

 

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

9 Desember 2015

 

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s