Kita berputar bersama
menghujani langit dengan ribuan kata
penuh mimpi
lalu mata menjadi samudra
tujuh kali setelah itu
kita saling bertanya
kapan kembali?
cobalah untuk mengerti ketika segenggam cerita kau taburkan di pusara kesunyian yang ada malam seperti di siang hari raya atau serupa anak-anak kegirangan dengan kembang gula di mulutnya ah kalau kau tak berketentuan ini laksana aku bentangkan tangan di puncak kanchenjunga sampai di spasi ini pun aku kehausan dan kutenggak sebotol air putih menenangkan kerongkongan lalu aku teruskan membuat segumpalan puisi yang masih tak percaya hatimu menjelma dresden 71 tahun lalu
cobalah untuk mengerti kelap-kelip lampu jalanan sepanjang lanteumen hingga mata ie yang aku terabas dengan becak motor butut dari seorang tua yang sudah tinggal di kota ini lima dasawarsa lalu cuma mengisyaratkan kepadamu kalau lelah sudah mengalah kalau malam sudah menggelar tilam kalau rinai sudah memperlihatkan taringnya izinkan aku untuk mengajari kelopak mata bagaimana cara terbaik menyelubungi mata dan semua ingatan tentangmu
cobalah untuk mengerti huruf-huruf yang kau pintal menjadi kata-kata cuma sekadar cakap besar nyanyian para pengamen yang masuk silih berganti ke warung mi razali aku bergeming masih menikmati mi goreng cumi-cumi basah sambil uluk kata maaf, maaf, dan maaf lalu menjelang fajar kau terkaget-kaget seribu candi maaf yang aku bangun dengan ribuan siluman derai air mata nyaris berdiri tegak di hadapan manekin keangkuhanmu kalau saja dayang-dayang kenangan tak segera kau bangunkan
cobalah untuk mengerti waktu sudah sedari tadi duduk di sampingku sambil memijat-mijat punggung mengusir letih yang menjadi kutu di rambut mencabik-cabik kantung mata yang hinggap di wajah sambil berbisik, “tidurlah. sudah dini hari.” dia masih tak percaya padaku, balasku. makanya aku biarkan jari-jariku ini bukan untuk membuat perkamen, tapi prasasti titik koma a sampai z kiri ke kanan membiarkannya kehujanan lalu membatu agar zaman bergulung-gulung lewat menjadi tahu kalau senyummu itu senja firdaus yang tercecer di bumi oooo, kaukah arca terakhir itu?
***
riza almanfaluthi dedaunan di ranting cemara banda aceh, 7 april 2016
Segelas sunyi yang biru kutenggak siang ini. Ia lebih kupercaya dari senja yang cepat mangkir. Sebentuk lamunan lupa kutulis di atas kalender 2014 yang hampir selesai. Ingin rasanya membuang semua dalam sekejap lelap. Tapi bilah pedang matahari memanggang asbes mes hingga ke dalamnya. Aku terbakar. Makanya aku buka pintu lebar-lebar mempersilakan angin pantai duduk di atas kulitku. Sambil disaksikan punai-punai riuh kekenyangan. Atau kucing betina yang melihatku penuh curiga dan kaget tak kepalang, kabur ketakutan. Listrik sedari pagi pergi tanpa pamit. Sial…kota kecil ini memang tak bisa akur dengannya. Aku tak peduli. Nantinya dia akan kembali jam lima sore sambil membawa dan menggandeng gelap. Kini, biarkan aku teguk segelas sunyi yang biru di ruang tengah dengan angin pantai yang sudah mulai memelukku. Barangkali hanya tulisan-tulisan suci yang membuatku tetap waras. Kubaca setiap hari. Tanda aku masih serupa hamba. Kupanggil dirimu Ya. Datang…datang…Buru-buru…Pergi…pergi…Kuhabiskan segelas sunyi yang biru sampai lupa dari tadi sudah 100 derajat celcius. Mulutku hancur. Di depan mes ini rumput-rumput yang belum terpotong terpingkal-pingkal mentertawakanku. Kutenggak segelas sunyi yang biru, cuma itu yang bisa kulakukan di November yang panas. Aku menunggu malam dengan sangat. Saat aku bisa merasakan sepotong kangen. Kangen yang pagi, tipis, dan mawar.
Suatu malam yang jarang kita sapa dengan segala nada sontak datang mengukur pintu-pintu nadi pikir kita. Laron yang sepasang berderet mengukur sudut-sudut lantai menaburkan dingin. Gigilnya tak kepalang mengukur mata-mata yang tak mau terpicing. Dengkur halusmu seperti ratusan belati yang sengaja kau tikam dalam telinga-telinga rapuhku. Tersebab itu, waktu aku tipu. Selagi ia sibuk memaki, izinkan kata-kata rapuh melamatkan aku: “Pada siapa elegi akan tiba?”
Puluhan hari kemudian datanglah kembali suatu malam yang jarang kita sapa.
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang sebungkus bulan yang kau bawa di tepian panjang pantai calang. Kita santap setiap potongannya. Dan di setiap gigitan itu meledaklah bunyi nafas-nafas kita. Itulah saat hasrat mengeja api yang sering kau sebut rindu.
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang debur ombak yang kau selalu rapihkan karena kusut untuk kupakai. Kita cari sebintik bayang di bola mata masing-masing. Seringkali di sana sebentuk jujur menjadi binar abadi tak pernah terhapus dengan sepercik dusta barangkali. Itulah saat malam sungkan menyimpan hujan yang sering kau sebut air mata.
Aku segelas mabuk yang bercerita tentang isak merupa nanar menggenangi ruang-ruang perih di puncak gerutee. Kita hirup aroma kopi tubruk panas. Mungkin sebentuk asap adalah pilinan resume dari kabut sejarah pertemuan kita. Setiap kau bicara tentang perpisahan, aku yang bicara tentang perjumpaan. Itulah saat Tolstoy pun gagap bicara apa yang sering kau sebut cinta.
Aku segelas mabuk yang bercerita. Cerita apa saja.