BERTEMU MARK TWAIN


BERTEMU MARK TWAIN

Pedagang buku bekas di Stasiun Kalibata itu sudah barang tentu hapal dengan muka saya. Setiap sore sambil menunggu kereta rel listrik (KRL) yang menuju Bogor datang, saya selalu berdiri di lapaknya yang menjejerkan banyak buku dan majalah.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih melaju dengan naik motor dan hanya sesekali naik dengan KRL, saya sempat membeli buku bagus di sana. Buku cetakan tahun 1986 itu berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia
yang ditulis oleh
Robert Lacey. Sampai kemarin buku itu masih ada satu eksemplar lagi.

Kini setelah tiga bulan lebih menjadi pengguna KRL Depok Kalibata pulang pergi, rutinitias melihat-lihat buku itu selalu saya lakukan. Memang saya cuma melihat-lihat saja. Karena sampai kemarin sore saya belum menemukan buku yang benar-benar bagus. Walaupun murah harganya—berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah—saya tak mau membuang uang dengan percuma. Kalau menuruti hawa nafsu, saya inginnya membeli banyak buku di sana tapi saya khawatir buku tersebut tak terbaca dan hanya jadi aksesoris lemari belaka. Makanya saya selektif sekali. Saya hanya akan membeli buku yang benar-benar menarik dan pasti dibaca sampai selesai.

Pembaca, setelah tiga bulan hanya menjadi ‘perusuh’ yang bisanya cuma meminta pedagangnya mengambil buku yang ingin saya lihat lalu mengecewakannya karena saya tidak jadi beli, saya menemukan buku yang masih terlihat baru. Masih terbungkus dengan plastik dari sananya. Harganya 20 ribu rupiah. Saya tawar 10 ribu pedagangnya tidak mau. Akhirnya sepakat di harga 18 ribu rupiah.

Judulnya Petualangan Tom Sawyer karangan Mark Twain diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Sepengetahuan saya buku itu adalah buku cerita klasik Amerika yang ditulis oleh penulisnya di tahun 1800-an.

Setelah buku itu di tangan, saya tidak langsung membacanya. Saya baca buku itu di rumah. Dan dari catatan pengantar Kang Ajip Rosidi, Mark Twain adalah jagoan humor Amerika yang dapat memberikan kegembiraan kepada para pembacanya. Dan saya mendapatkan buktinya. Saya sudah mendapatkan keceriaan dan tawa yang tak tertahankan di setiap babnya.

Baru empat bab buku itu saya baca, saya sudah mendapatkan kesimpulan bahwa buku ini bagus sekali. Pantas saja kisah ini terkenal sekali di seluruh pelosok dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Di Indonesia sudah diterjemahkan di tahun 1930-an oleh Abdoel Moeis untuk Balai Pustaka. Buku yang saya beli ini pun cetakan pertamanya di tahun 1973 diterjemahkan oleh Djokolelono.

Akhirnya saya berkeinginan, nanti setelah buku ini selesai saya baca, saya akan memburu buku Mark Twain lainnya, pasangan dari Petualangan Tom Sawyer ini yaitu buku yang berjudul Petualangan Huckleberry Finn. Atau tulisan dari Julius Verne yang terkenal seperti Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari dan Duapuluh Ribu Mil di Bawah Laut. Karena saya yakin kalau kisah klasik itu masih bertahan berabad-abad setelah penulisnya meninggal, pasti sudah menjadi jaminan mutu bagi pembacanya.

Ada satu pelajaran buat saya. Kesabaran menunggu, tak menuruti hawa nafsu, selalu berbuah manis. Kesabaran saya untuk tidak membeli buku sampai benar-benar ada buku yang membuat saya tertarik membacanya, lalu dengan merenda asa setiap sorenya berharap ada buku bagus di lapak itu, ternyata kemarin sore berbuah hasil. Kini, saya masih tetap berharap menemukan jendela dunia yang bermutu itu di sana.

Yang pasti bagaimana kesabaran itu harus diterapkan oleh saya untuk hal lain. Yaitu menunggu KRL yang jadwalnya tidak pasti. Apatah lagi KRL Ekonomi yang kastanya lebih rendah daripada Ekonomi AC dan Ekspress. Untuk hal yang ini saya masih angkat tangan.

Ayo, membaca…!

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:21 05 Juni 2009

ALI SEMBIRING TAUBAT


ALI SEMBIRING TAUBAT

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dulu mantan orang kaya. Kontraktor beken di kota itu. Bahkan sempat menjadi anggota DPRD. Tapi seiring dengan pertikaian penentuan nomor urut sesama anggota partai yang mengantarkan dirinya menjadi golongan masyarakat terhormat, akhirnya ia keluar dari partai yang membesarkan dirinya itu.

Bersamaan dengan itu ia menclok ke partai lain. Ia berjuang dan membiayai sendiri agar dapat menduduki kembali kursi empuk wakil rakyat. Tapi ia bertemu dengan calo politik yang kerjaannya cuma bisa menipu dirinya. Ia dijanjikan ribuan suara yang akan memilihnya dari calo itu. Dan ia percaya hingga menggelontorkan puluhan juta kepadanya. Pada hari-H pencoblosan (karena pada saat itu belum ada istilah contreng) ternyata di TPS dengan calo politik sebagai saksinya itu bahkan ia tidak mendapatkan satu suara pun.

Tragis. Ia gagal menjadi wakil rakyat. Tidak berhenti di situ ia diutak-atik oleh kejaksaan negeri. Kali ini pada kasus korupsi yang menimpa dirinya dan sebagian sejawatnya. Ia pun sempat merasakan dinginnya tembok hotel prodeo. Dengan kekuatan uang yang masih tersisa ia bebas. Tapi ditebus dengan menjual sebelas rumahnya. Plus bisnisnya yang ikut hancur-hancuran. Kini dia hanya bisa mengontrak rumah petak. Kawan-kawannya sudah banyak yang meninggalkan dirinya.

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia dapat mengambil pelajaran dari semuanya. Kesulitan yang bertubi-tubi menimpa dirinya adalah ujian. Ujian yang diberikan oleh Tuhannya yang baru ia dekati saat masuk penjara.

“Setelah kesulitan ada kemudahan”, katanya mengutip ayat yang ada di Juz 30.

Sejak itu ia mulai mengais-ngais harap pada Sang Maha Pemberi Rezeki. Ia mulai menabung pahala untuk bekalnya nanti. Kebaikan-kebaikan ia cicil setiap hari. Satu tujuan adalah ridho-Nya dapat ia raih.

Sebagai manusia yang hidup di muka bumi, dengan cahaya iman di hati, ditambah beban sebagai khalifah fil ‘ardhi maka adakalanya hidup dipenuhi dengan banyak kesulitan yang datangnya tidak disangka-sangka. Paradoks dari rezeki yang diberikan Allah yang datangnya pula tak disangka-sangka.

Pada akhirnya Ali Sembiring tahu dari ceramah Ustadz di masjid dekat pengkolan. Tempatnya ia melepas penat setiap adzan dhuzur berkumandang. Ada enam pintu kebaikan yang akan melepaskan dirinya dari berbagai macam kesulitan.

Pintu pertama, mudahkan kesultian orang lain.

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat.

Ali sadar betul. Dulu banyak proposal yang masuk pada dirinya dan ia tak akan meneruskan proposal dari konstituennya sebelum ia tahu betul berapa persen fee yang akan ia dapat dari upaya bantuan dengan pamrih itu. Ali taubat.

Pintu kedua, perbanyak shadaqah.

Sudah terlalu banyak keutamaan shadaqah yang diceramahkan oleh para ustadz. Tapi hanya sedikit yang masuk ke otaknya dan berbuah amal. Terbayang pada dirinya bagaimana ia juga banyak “shadaqah” tapi itupun dengan niat lain agar orang yang diberi infak atau shadaqah tersebut mencoblos dirinya. “Pak, Bu ini sembako dari saya, ingat yah nomor partai saya” atau dengan amplop putih berisi uang cebanan yang ia bagikan habis shubuh pada hari-H. Serangan fajar. Ali taubat.

Pintu ketiga, menghindari apa-apa yang diharamkan Allah.

Duh, ceramah ustadz itu menggedor hatinya. Malu dirinya mengungkapkan semua yang telah dilakukannya dulu. Kamar hotel bintang tiga menjadi saksinya saat bergumul dengan wanita yang bukan muhrimnya. Ia kaya. Ia sehat. Tapi istrinya tak mengizinkan dirinya berpoligami. Dan ia tak bisa menceraikan isitrinya. Pun ia takut dengan cercaan masyarakat kalau ia berpoligami. Shorcut ia tempuh. Apatah lagi seringkali kalau demikian ia ditemani sampanye dan anggur merah berharga mahal. Ah…Ali taubat.

Pintu keempat, “birrul walidain”, kata ustadz itu.

Untuk yang ini, Ali merasa ia jagonya. Tak pernah sedikitpun ia menyengsarakan batin dan lahir kedua orang tuanya. Ia merasa lega sebentar. Tapi sejenak ia tertegun. Uang darimana yang ia berikan kepada mereka. Ia ingat setiap ia mendapat fee dari rekanan pelaksana proyek pemerintah yang melalui dirinya ia berikan setengahnya buat mereka. IA sama saja dengan meracuni mereka. Air mata pun menetes perlahan dari matanya yang sudah sedari tadi berkaca-kaca. Ali Taubat.

Pintu kelima, iman dan amal sholeh.

Keduanya adalah dua yang tidak bisa dipisahkan. Lebih dari 300 ayat yang berbicara tentang masalah ini dala Al-Qur’an. Keduanya adalah dwi tunggal. Keduanya harus ada pada diri seorang beriman. Tak bisa seseorang yang beriman tanpa adanya amal sholeh. Begitu pula sebaliknya.

Betapa banyak orang yang bersyahadat lebih dari sepuluh kali setiap harinya, zakat setiap bulannya, puasa ramadhan dan pergi haji setiap tahunnya, tapi tetap membiarkan tetangganya berkubang dalam rintihan lapar atau membiarkan hati mereka tersakiti karena tiadanya adab yang baik dari dirinya. Iman tanpa amal sholeh dalam wujud amal-amal sosial adalah sebuah egoisme diri.

Dan betapa banyak orang yang seringkali melakukan amal shaleh tapi dengan keimanan yang rusak, karena niat yang tak sempurna karena-Nya. Atau digerogoti sikap menduakan Allah yang akan melenyapkan setiap amal yang ada. Sungguh tak akan bisa tercampur antara syirik dan amal sholeh.

Dan betapa banyak orang yang tak pernah mengucapkan kalimat Syahadat dalam seumur hidupnya lalu ia mendarmabaktikan hidupnya itu untuk berbuat baik (amal sholeh) kepada siapapun tanpa batas-batas agama, sungguh tak sedikitpun amal itu diterima. Karena syahadat adalah pintu masuk kepada Islam. Tertolaklah ia.

Iman dan amal sholeh. Amal sholeh adalah buah dari Iman. Ali tahu ia tipis dari keduanya. Ali taubat.

Pintu keenam, perbanyak doa.

Ali tahu, ia baru memperbanyak doa saat kesulitan itu mulai menanggalkan kenikmatannya satu persatu. Ali taubat.

Ali Sembiring cuma seorang tukang ojek. Tapi jangan sangka, ia mampu menyerap sebuah hikmah. Hikmah kehidupan. Seabrek dosa dan segunung penyesalan membebani pundaknya tak membuat ia berputus asa dari rahmat Allah. Ia paham betul, telah terbentang di depannya padang luas ampunan Allah. Tak perlu malu ia beringsut seinchi demi inchi untuk mendekatiNya demi hanya menjadi budak-Nya. Untuk seumur hidupnya yang tersisa.

“Belum terlambat Li,” kataku, “selama nyawa masih ada di kandung badan.”

Ayo maju, maju…

Ayo maju, maju…

Ayo majuuu, majuuuuu…

***

Maraji’:

  1. AlQur’anul Kariim;
  2. Hadits riwayat Muslim;
  3. Ceramah Ustadz Zainal Muttaqien.

Nama di atas adalah bukan nama sebenarnya dan fiktif belaka. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16:03 01 Juni 2009

64 tahun lahirnya Pancasila

LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?


LOMBA PENULISAN CERPEN ATAU UJIAN MENGARANG?

Dua orang juri—termasuk saya di dalamnya—ternyata punya feeling yang tak jauh berbeda terhadap cita rasa sebuah cerita pendek (cerpen). Setelah masing-masing memilih tiga cerpen terbaik, ternyata terbaik pertama dan kedua pilihan kami sama.

Terbaik pertama, bagi saya punya keindahan bahasa yang jauh di atas peserta lainnya, alur cerita yang mengalir, dan ada hikmah yang bisa diberikan kepada pembaca. Bagi juri yang lain, terbaik pertama tahu betul bagaimana membuat sebuah cerpen yang baik. Terbaik kedua kualitasnya tentunya di bawah yang pertama.

Yang menjadi perdebatan adalah penentuan terbaik ketiga. Kami mempunyai pandangan yang berbeda di sini. Terbaik ketiga dalam penilaian saya ia mempunyai kreatifitas ide yang lain daripada yang lain. Dan saya memberikan skor tertinggi daripada peserta lain dalam masalah ini. Sedangkan terbaik ketiga dari juri yang lain itu menurut saya cerpennya bagus diawal, membuat trenyuh, tetapi ending-nya jelek sekali.

Akhirnya kami memutuskan untuk menjumlahkan skor yang dimiliki masing-masing. Dan terbaik ketiga dari penilaian sayalah yang berhak untuk menjadi juara ketiga Lomba Penulisan Cerpen Education Fair 2009 yang diselenggarakan ahad kemarin (17 Mei 2009) oleh Kelompok Studi Pelajar Muslim (KSPM) dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Perlombaan penulisan cerpen itu adalah satu dari sekian perlombaan yang diselenggarakan LSM (lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak khusus dalam pembinaan remaja dan pelajar se-Bojonggede itu.

Apa yang dilakukan oleh teman-teman muda saya dari KSPM itu patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya, walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Karena dalam kerangka pikir saya yang namanya lomba penulisan cerpen itu para peserta lomba diperkenankan untuk mengirim sebanyak mungkin karyanya dengan persyaratan yang telah ditentukan dan dikumpulkan kepada panitia pada waktu yang telah ditentukan. Lalu dengan jumlah juri yang lebih dari dua dan punya kapabilitas tentunya dipersilakan untuk memberikan penilaian kemudian mendiskusikan siapa pemenangnya.

Jadi bukan dengan mengumpulkan para peserta lomba penulisan cerpen itu dalam suatu kelas lalu dalam waktu hanya 90 menit disuruh untuk membuat cerpen, dengan menggunakan tulisan tangan tentunya. Maka bagi saya hasil yang didapat pun akan pas-pasan. Yaitu juri harus berkerut kening untuk membaca tulisan tangan dari para peserta lomba, karena tidak semua peserta tulisan tangannya bagus. Lalu tidak ada pengeditan yang dilakukan oleh peserta lomba. Dan tentunya sangat jauh dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Padahal salah satu esensi dari lomba penulisan cerpen adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kalau demikian yang terjadi namanya bukan lomba penulisan cerpen tapi ujian mengarang.

Maka dengan segala keterbatasan yang ada itu parameter kebahasaan Indonesia yang baik dan benar tidak saya pakai dalam penilaian saya. Padahal parameter penilaian itu yang menjadi pokok dalam setiap penilaian yang saya gunakan dalam menentukan baik atau tidaknya sebuah cerpen. Dalam lomba itu yang diukur hanya kreatifitas ide, alur cerita, keindahan bahasa, dan hikmah yang ada.

Yang saya tahu alasan dari gaya lomba seperti ini adalah kalau tidak dikumpulkan pesertanya dalam satu ruangan maka takut adanya karya jiplakan atau dalam pembuatan cerpennya dibantu oleh orang lain. Bagi saya tak masalah. Silakan orang membuat cerpen jiplakan itu, karena suatu saat akan ketahuan juga. Dan tentu itu adalah menipu diri sendiri saja. Tidak ada nilai kreatifitas yang nantinya akan memacu semangat untuk lebih maju lagi. Tidak ada yang didapat kecuali kemenangan dan kebahagiaan semu. Untuk menjadi penulis cerpen yang baik modal utama adalah sebuah kejujuran. Tanpa kejujuran maka silakan ke laut saja.

Kalaupun dengan alasan tidak adanya peserta yang datang pada hari puncak perayaan, maka sudah barang tentu pengumuman lombanya dilakukan pada hari itu. Dan saya yakin masih banyak peserta lomba yang akan penasaran untuk mengetahui siapa pemenangnya.

Oleh karena itu ke depan saya mencoba mengusulkan syarat dan ketentuan lomba penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh KSPM. Antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Sesuai tema yang telah ditentukan panitia;
  2. Diketik rapih, (format teknis menyusul);
  3. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  4. Melampirkan biodata;
  5. Salinan keras
    paling lambat dikumpulkan pada waktu yang telah ditentukan;
  6. Salinan lunak
    dikirim via email kepada panitia;
  7. Juri lebih dari dua dan diberikan satu minggu untuk memberikan penilaian. Dan ada diskusi penentuan antarjuri;
  8. dan lain-lain.

Saya harapkan ke depan, dengan syarat dan ketentuan tersebut akan di dapat hasil dan penilaian cerpen yang berkualitas.

Terakhir saya ucapkan selamat kepada para pemenangnya, saya yakin 90 menit waktu yang diberikan belumlah cukup untuk mengembangkan potensi kalian, karena penulis-penulis cerpen terkenal pun kiranya belumlah mampu untuk dapat menghasilkan karya masterpiece-nya dalam waktu sesingkat itu.

Berikut nama empat besar lomba penulisan cerpen Education fair 2009 KSPM tersebut:

  1. Shinta Lestari, “Kurindu Guruku”. Ternyata terbaik pertama ini adalah siswi SMU. Salut. Saya melihat ada bakat pada dirinya.
  2. Tegar Adinda B. Putri (SMP), “Pengorbanan Bocah kecil”. Ternyata terbaik kedua ini adalah seorang perempuan.
  3. Kartika Putri (SMPN 2 Bojonggede), “Pingsan Mania Go To Bathroom“. Terbaik ketiga. Tomboy juga nih anak.
  4. Syifa Fauziah, (SMPN 2 Bojonggede). Ceritanya bagus sekali, sayang ending kurang bagus. Jika tidak saya akan pilih kamu.

Semuanya putri. Semoga tahun depan ada juga penulis cerpen laki-lakinya. J

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:02 18 Mei 2009


KONTEMPLASI INAGURASI


KONTEMPLASI INAGURASI

 

Kawan, tak terasa waktu untuk berpisah telah menelanjangkan dirinya di depan mata kita. Pada akhirnya kebersamaan yang selama ini kita jalin dalam dua purnama lebih akan berujung pada sebuah kata yang bernama perpisahan. Itu semua mesti kita jalani sebagai sebuah takdir kita dari Yang Maha Pemberi Hidup.

 

Kebersamaan yang mengukir memori kita menjadi sebuah prasasti indah dalam benak masing-masing. Tak lekang oleh waktu. Ia akan selalu ada. Kita akan selalu ingat pada tawa dan canda yang selama ini terurai di setiap saat. Kita akan selalu terkenang pada momen-momen indah di sini. Pada malam-malamnya. Pada siang-siangnya. Pada kantuk-kantuknya yang melangutkan jiwa. Pada inci demi inci ruang-ruang kelas kita.

 

Pada diktat-diktat tebal yang menumpuk. Pada tugas-tugas yang membebani pundak kita hingga turun ke bumi. Pada lirikan mata pujaan hati. Pada kantung-kantung yang semakin tipis di akhir bulan. Pada dentingan sendok dan piring saat sarapan dan makan malam di kantin. Pada ingatan-ingatan kampung halaman. Bahkan pada tetesan air mata yang jatuh. Semuanya membuat kenangan itu lebih berwarna lagi.

 

Kawan, tak perlu kita pungkiri. Di sana ada juga ranah untuk murka yang menjelma menjadi rahwana. Ada benih benci yang tiba-tiba muncul menjadi onak yang menyakiti kita. Tapi kita sadar, pada akhirnya itu juga adalah warna yang memperindah kenangan itu. Pada akhirnya benci itu luruh menjadi cinta pada kali ini. Jelang perpisahan.

 

Kawan, lalu kita ingat tentang sebuah perjuangan. Perjuangan yang membutuhkan pengorbanan. Kita ingat dulu, waktu kita berdesak-desakkan mengambil formulir pendaftaran dengan ribuan pendaftar lainnya. Lapar dan lelah kita abaikan. Hanya untuk sebuah masa depan. Lalu kita berkeringat dingin untuk dapat menjawab dengan benar semua pertanyaan yang ada dalam lembaran-lembaran soal. Lalu dahi kita berkerut hanya untuk membuktikan otak kita waras atau tidak. Lalu kita terbata-bata menjawab pertanyaan dari para pewawancara hanya untuk membuktikan bahwa kita layak menjadi bagian takdir masa depan Indonesia. Lalu hati kita yang berdebar-debar mencari sederet nama pemberian orang tua kita terpampang di papan pengumuman atau di layar monitor komputer sebagai orang yang berhak lulus.

 

Sebelumnya kita tahu, ada banyak doa yang menghunjam ke langit dan perut-perut lapar berpuasa agar Sang Maha Pengabul Segala Do’a memenuhi permintaan kita. Dan kita teringat pada wajah-wajah tua dan keriput yang mencintai kita dan tak pernah lupa menengadahkan tangannya pada Sang Maha Pemberi memohon kebaikan untuk kita semua

 

Kawan, coba bayangkan, andaikata bapak ibu kita hadir mendampingi kita hari ini. Bukankah kita melihat mereka begitu gembira. Hadirkan wajah mereka dan lihat, mereka, ayah ibu kita tersenyum bangga kepada kita. Seakan-akan terlepas satu beban berat yang membebani punggung mereka. Andaikata kita bertanya kepada mereka bagaimana harus membalas jasa yang amat besar yang telah mereka berikan untuk kita, mungkin kita akan melihat ayah ibu kita berurai air mata dan mereka akan berkata “Nak, kami tak butuh ganti rugi atas pengorbanan kami, karena itu adalah ketulusan cinta kami kepadamu. Melihat kamu sukses itu sudah cukup memberi kebahagiaan kepada kami,” dan mereka pasti berkata kepada kita “Kami hanya meminta, ketika usia kami sudah tua, tolong jangan lupakan kami.”*)

 

Ah, lalu kita pun cuma berdo’a, ” Ya Ilahi, ampunilah kedua orang tuaku, dan kasihilah

mereka sebagaimana mereka mengasihi aku diwaktu kecil.”

 

    Cukupkah itu kawan?

 

Tidak! Tidak cukup! Perjalanan itu niscayanya tidaklah berhenti di sini. Masih panjang. Kita perlu membuktikan kepada mereka berdua bahwa kita memang layak menjadi kebanggaan mereka. Dan bukan untuk mempermalukan mereka karena wajah kita terpampang di layar televisi, ditonton jutaan mata penduduk republik ini karena tertangkap tangan oleh KPK menerima satu koper kertas merah bergambar Soekarno Hatta atau Hijau bergambar Benyamin Franklin. Tidak! Bukan untuk itu!

 

Tapi untuk menjadi seorang professional yang mempunyai integritas pada sebuah lembaga yang berusaha meninggalkan masa lalunya, mereformasi dirinya, menggapai cahaya di ujung terowongan gelap gulita. DE JE PE! Ya DJP. Dan kita akan katakan pada dunia nantinya, dengan lantang–tak perlu berbisik-bisik seperti yang biasa dilakukan pegawai pajak dulu—”kita adalah aparat pajak!”

 

Kawan, itu semua tak akan terjadi jikalau dari hati kita masing-masing ada kehampaan dari sebuah niat yang baik. Bukankah semua perbuatan itu tergantung dari niatnya? Maka sudah semestinya kawan, untuk memasukinya, untuk mengawalinya ada sebuah niat baik hanya karena Yang di Atas Semata. Bukan karena gengsi, bukan pula karena remunerasi, bukan pula untuk melanggengkan trah keluarga birokrasi, apatah lagi karena ingin korupsi. Aih, apa kata dunia?

 

Kawan, negara butuh kita. Negara butuh kejujuran kita. Dan rakyat telah menanti pelayanan kita di luar sana. Karena sejatinya kita bukanlah penguasa, bukan pula orang yang minta dilayani, tetapi kitalah yang melayani mereka. Kitalah khadimul ‘ummah, pelayan rakyat. Klise bukan? Seperti jargon masa lalu yang nihil pada tataran aplikasi. Sekarang, saatnya untuk membuktikan bahwa itu tidak klise. Bukan mengulang-ulang. Itu baru. Dengan jiwa baru, dengan semangat baru.

 

Ah, sudah cukup berbanyak kata, berpanjang kalimat, yang hanya menegaskan kita hanyalah sekumpulan orang yang banyak omong tanpa aksi. Inagurasi ini hanyalah satu lecutan cambuk helaan yang membuat kita bersemangat lari mengejar sebuah cita, sebuah asa yang masih ada. Bahwa Indonesia adalah negeri yang bebas dari noda hitam perilaku ketidakjujuran.

 

Itu dimulai dari kita sendiri, hal yang terkecil, dan saat ini.

Semoga.

 

 

***

riza almanfaluthi

14 April 2009

dedaunan di ranting cemara

 

 

*) Satu paragraf ini saya ambil dan edit dari seorang penulis di http://encung.multiply.com/journal/item/10

JANGAN KAYAK ANJING


JANGAN SEPERTI ANJING YANG MEMAKAN MUNTAHANNYA

 

Dir, seorang al-akh dari kami, hidupnya serba kekurangan. Sampai ia punya anak lima tak punya rumah untuk ditempati. Selama ini ia hanya menempati rumah yang tidak ditinggali oleh al-akh yang lainnya. Tapi hafalannya banyak, juga aktivitas dakwahnya jangan ditanya. Ia siap untuk berkeringat bahkan berdarah-darah kalau diminta untuk memasang panji-panji dakwah di seantero Pabuaran.

Suatu ketika ia terpaksa untuk menjual telepon genggamnya (HP) untuk sekadar menyambung hidup. Otomatis banyak al-akh yang membutuhkan tenaganya tidak bisa menghubunginya. Komunikasi pun terputus berbulan-bulan. Alhamdulillah ada dana dari kami—tepatnya dana dari teman kami di Jakarta guna kepentingan dakwah di Pabuaran—untuk membelikannya sebuah HP murah. Yang terpenting ia bisa dihubungi dan kembali beraktivitas kembali untuk dakwah.

Lalu kami serahkan HP baru itu kepadanya. Beberapa minggu sebelumnya tanpa sepengetahuan kami ternyata Akh Dir juga sudah menerima pemberian al-akh lainnya sebuah HP untuk digunakan olehnya. Walhasil ia memiliki dua HP saat ini.

Senin pagi, hari libur memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, ada sebuah syuro ikhwah Pabuaran. Di sana tercetus ide dari saya untuk meminta kembali HP tersebut darinya dan diberikan kepada al-akh lainnya yang kebetulan hilang dua hp yang ia miliki saat sholat Jum’at di Istiqlal. Karena saya berpikir HP itu adalah untuk kemaslahatan dakwah maka demi kemaslahatan dakwah yang lebih luas lagi maka HP itu akan lebih berguna lagi di tangan al-akh yang lainnya. Pun, saya berpikir Al-Akh Dir masih punya HP yang satunya lagi. Tapi syuro tidak mengagendakan ide saya ini sampai ke sebuah keputusan. Tidaklah mengapa bagi saya.

Siangnya saya tidur siang. Baru kali itu selama tiga hari libur panjang saya menyempatkannya. Sore hari saya bangun. Sambil masih terbengong-bengong karena kesadaran belum juga penuh—mungkin ruh saya yang bepergian selama tidur tadi belum sepenuhnya merasuki tubuh—saya duduk di meja makan. Di sana ada kitab Riyadhus Shalihin jilid 2 karangan Imam Nawawi. Iseng saya membukanya. Sekali buka mata saya langsung terantuk pada sebuah judul subbab dalam kitab itu. Subhanallah. Apa coba?

Judulnya? Makruh Menarik Kembali Sesuatu Yang Telah Diberikan. Hurufnya kapital semua dan ditebalkan. Saya membaca dua hadits Rasulullah SAW yang ada di sana. Berikut haditsnya:

Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Orang yang menarik kembali pemberiannya, bagaikan anjing yang memakan muntahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dikatakan: “Perumpamaan orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan anjing yang muntah kemudian mencari kembali tumpahannya (muntahannya) lantas dimakannya.” Dalam riwayat lain dikatakan: “Orang yang menarik kembali pemberiannya adalah bagaikan orang yang memakan muntahannya.”

Hadits lainnya. Dari Umar bin Khaththab ra. ia berkata: “Saya menyedekahkannya seekor kuda kepada seseorang yang berjuang di jalan Allah, tetapi kuda itu disia-siakan olehnya, maka saya bermaksud membelinya dan saya berprasangka bahwa ia mau menjualnya dengan harga murah, kemudian saya menanyakan hal itu kepada Nabi saw., beliau lantas bersabda: “Janganlah kamu membeli dan janganlah kamu menarik kembali sedekahmu itu, walaupun ia memberikan kepadamu dengan harga satu dirham, karena sesungguhnya orang yang menarik kembali sedekahnya, bagaikan orang yang memakan kembali muntahannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Coba bayangkan anjing yang sedang memakan muntahannya. Jijay banget gitu lohhhh (tolong mengucapkannya dengan gaya anak muda zaman sekarang, o-nya diperlebar, h-nya dipanjangkan agar terdengar desahannya). Bahkan kalau membeli kembali sedekah yang kita berikan pun dianggap sama dengan laku binatang tadi.

Benar-benar nih Allah memberi teguran kepada saya langsung. Pas banget. Pagi bicara masalah ini. Sore ditunjukkan jalannya. Sekali kebet. Ada dua peringatan itu. Ustadz yang ada di sono pernah bilang, “jangan berlebihan dengan sesuatu yang mubah karena akan menjerumuskan diri kepada hal yang makruh. Jangan berlebihan dengan sesuatu yang makruh karena akan menjerumuskan diri kepada hal-hal yang haram.” Nah loh…

Satu saja dari saya akhirnya: “jangan kayak anjing”.

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17:41 09 Maret 2009

maulid nabi muhammad saw

TIPS MEMILIH WADAH PLASTIK YANG AMAN: CUKUP INGAT 245


CUKUP INGAT 2 4 5 SAJA

Dulu saya pernah mendapat email dari teman saya tentang kode-kode yang tercantum dalam botol berbahan plastik. Kode-kode itu adanya di bagian bawah botol atau tempat air dan makanan. Dan Kode-kode tersebut mengisyaratkan aman atau tidaknya wadah itu dipakai terus menerus oleh kita.

Kebanyakan dari kita, eit enggak usah menunjuk orang lain dulu, saya khususnya, sering mengoleksi (istilah tepatnya mengumpulkan, tapi bukan memulung) berbagai botol air minuman yang dibeli untuk dipakai kembali. Minimal buat tempat air minum anak. Atau kalau tidak, dipakai pada saat perjalanan. Sayang daripada dibuang lebih baik digunakan lagi. Padahal kalau kita tahu bahayanya mesti kita tidak akan mencoba-coba lagi.

Tapi sayangnya informasi dari email itu tidak saya cermati baik-baik dan tidak membuat saya tertarik. Informasi yang berupa narasi deskriptif itu cuma saya baca sekilas saja. Diingat sebentar lalu hilang begitu saja dalam ingatan. Dan saya lupa kode apa yang berarti aman untuk dipakai oleh kita dalam keseharian ketika kita menggunakan botol berbahan plastik itu.

Nah, siang ini saya membaca koran Kompas, Rabu 4 Maret 2009 di halaman 14. Di sana diulas tentang Kode Daur Ulang Plastik, kegunaan umum, dan rekomendasi dalam sebuah ilustrasi yang amat menarik dan amat memudahkan saya. Hingga saya—Insya Allah—dapat mengingatnya dengan mudah, yaitu kode angka di dalam segitiga berupa nomor 2 atau 4 atau 5 itu direkomendasikan aman. Sedangkan kalau botol dengan kode nomor 1 itu cukup sekali pakai saja digunakannya. Wadah berbahan plastik dengan kode angka lainnya perlu dihindari.

Jadi nanti kalau mau beli plastik es atau plastik belanjaan buat gorengan, bakso atau makanan panas atau wadah berbahan plastik lainnya perlu dilihat kode daur ulang plastik itu apa. Agar kita bisa menghindari diri kita dari serangan jantung, diabetes, tidak normalnya enzim hati, bahkan kanker.

Tidak banyak berpanjang kata. Silakan untuk dilihat dan dibaca rekomendasi yang diberikan ini. Saya cuma membaginya agar informasi yang berharga ini bisa dimanfaatkan oleh Anda-anda semua dalam memilih wadah plastik yang aman buat kita.

Salam.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

01.33 04 Maret 2009

HAJI – GEMBEL


HAJI – GEMBEL

Musim haji telah berlalu lama. Tapi masih banyak yang perlu diceritakan di dalam dan karenanya. Dan saya memang senantiasa tertarik menikmati setiap kisah itu. Apatah lagi saat musim pemberangkatan haji di mana banyak calon haji yang menyelenggarakan walimatus safar. Selain silaturahim yang didapat, banyak ilmu dan hikmah yang bisa diraih dari ceramah para ustadz yang mengiringi acara itu.

Pun, setelah para haji dan hajjah itu pulang ke tanah air maka tak luput saya sambangi dan bersilaturahim dengan mereka. Banyak jua cerita yang diperoleh. Pada akhirnya, semuanya itu berujung pada kerinduan yang membuncah, meledak-ledak untuk turut serta pergi ke tanah suci dan menapaktilasi perjalanan anak-anak manusia bernama Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar.

Dan ada satu kisah menarik yang perlu saya bagi kepada Anda semua. Tentang apa yang dialami oleh teman dekat saya, sebut saja Alexandrus, dalam perjalanan haji 1429H yang lalu. Dengan niat yang lurus ia berangkat sendirian tanpa ditemani istri dan keluarga yang lainnya. Ia ambil haji mandiri, tidak ikut KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Dari tanah air ia sudah bertekad untuk sebisa mungkin melaksanakan sholat lima waktu di Masjidil Haram. Karena ia tahu sekali sholat di sana seperti melaksanakan sholat 100.000 kali di masjid yang lain. Ini berarti seperti melaksanakan shalat lima waktu berjama’ah di masjid selama kurang lebih 55 tahun berturut-turut tanpa putus.

Nah, untuk itu ia punya rutinitas. Setelah shalat shubuh ia pulang ke maktabnya, mencuci pakaian, istirahat sebentar, lalu jam 10 pagi ia berangkat lagi ke Masjidil Haram. Di sepanjang perjalanan bolak-balik dari rumah ke masjid tentunya ia menjumpai banyak orang dari berbagai bangsa dengan berbagai tingkah dan kebiasaannya. Stereotip yang ia bawa dari tanah air dan melekat kuat di kepalanya adalah tingkah jama’ah haji dari Afrika yang kasar-kasar. Pada kenyataannya ia menjumpai kebalikannya. Bahkan mereka sangatlah sopan terutama jama’ah dari Nigeria. Itu menurut pandangannya dan dari apa yang ia rasakan. Maka berubahlah stereotip itu.

Tapi dalam benaknya muncul stereotip baru, bukan pada orang Afrika tapi pada jama’ah Bangladesh dan India. Dari pengalaman bergaul dengan kelompok pertama maka muncullah stereotip bahwa orang Bangladesh itu kasar, tidak punya aturan, tidak sopan, preman, bahkan penjahat di Arab Saudi, terutamanya sering menjadi tukang menghamili TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia.

Buktinya adalah ketika semua orang dengan sabar mengantri untuk naik eskalator, eh tiba-tiba orang Bangladesh dari belakang mendorong kursi rodanya ke arah kerumunan di depannya. Hingga membuat sebagian orang terjungkal. Dan orang Bangladesh itu tak peduli dengan semuanya.

Tidak hanya itu, Alexandrus ditunjukkan video amatiran oleh teman sekamarnya. Video yang berisi rekaman proses hudud (eksekusi) penggantungan lima orang Bangladesh di tiang listrik. Cara hududnya tergolong unik, mereka dinaikkan ke atas drum yang telah disusun tinggi. Lalu tali gantungan yang terjuntai di tiang listrik dililitkan ke leher mereka. Dan ketika aba-aba eksekusi dimulai, maka ada mobil yang dengan kecepatan tinggi menabrak kelima susunan drum itu. Orang-orang di jalan pun histeris melihatnya. Kelimanya dihukum mati karena telah memerkosa dan membunuh remaja putri Riyadh. Lengkap sudah stereotip Alexandrus terhadap orang Bangladesh.

Suatu saat di Kota Madinah, ketika Alexandrus mau shalat di Masjid Nabawi ia kelupaan untuk membawa air minum. Padahal ia harus segera makan nasi bungkus yang telah ia persiapkan sebelumnya. Ia sadar ia tidak boleh makan di dalam masjid. Maka ia harus makan di luar. Ia pikir tak apa-apa tidak ada air sebagai teman makan karena kalau ia sudah menyelesaikan makannya ia akan segera masuk ke dalam masjid untuk meminum air zam-zam yang telah disediakan di sana.

Di tengah asyiknya ia makan dan tentunya dengan tenggorokan yang seret datang seseorang menghampirinya, mengajaknya berkenalan. Setelah itu tanpa disangka-sangka orang itu mengeluarkan dari balik jaketnya satu botol penuh berisi air berkarbonasi lengkap dengan gelas plastik.Tutupnya pun belum dibuka. Setelahnya ia langsung pergi.

“Thank you, Sir. Where do you came from?” tanya Alexandrus.

Dari jauh sambil pergi orang itu menjawab, “Bangladesh!”

Teman saya terpana.

**

Pada orang India, stereotip baru yang terbentuk dalam pikirannya adalah kumpulan orang-orang yang menjadikan mengemis sebagai profesi utama mereka, dengan cara apapun, berbohong dan menipu para jama’ah haji. Stereotip lainnya adalah mereka kumpulan orang miskin yang bisanya hanya membuat repot negara Arab Saudi. Makan sembarangan di tengah jalan hingga mengganggu lalu lalang jama’ah lainnya. Semuanya itu melekat kuat di benak Alexandrus.

Suatu ketika, ba’da shubuh ia keluar dari Masjidil Haram untuk pulang. Ia menjumpai—lagi-lagi—orang India tua yang sedang makan roti dan minum susu dengan lahapnya di tengah jalan. Alexandrus sambil berjalan teru memperhatikan orang India itu. Tahu sedang diperhatikan, orang itu menatap Alexandrus dengan tersenyum dan bahkan dengan isyarat jelas orang India itu menyuruh Alexandrus untuk mendekat kepada dirinya.

“Ayo makan sama-sama,” ajak orang tua itu kepada Alexandrus.

“Oh tidak, terimakasih,” jawab Alexandrus.

Melihat Alexandrus menampik tawarannya, orang tua itu merogoh saku bajunya dan mengeluarkan segepok Real dan mencabut banyak lembar uang kertas itu dan memberikannya kepada Alexandrus.

Teman saya itu benar-benar melongo. Pemberian uang itu pun ditolak olehnya. “Terimakasih, saya masih ada uang. Mungkin buat yang lainnya,” katanya.

Ia lalu berpikir, “mungkin Allah memberikan penglihatan di mata orang India tua itu bahwa saya adalah gembel yang layak untuk diberi makan dan uang.”

**

Di akhir ceritanya ia berkata, “Saya mengambil hikmah dari dua kejadian itu. Allah sungguh masih sayang kepada saya. Allah hanya menegur saya dengan mempertunjukkan secara langsung bahwa apa yang saya pikirkan itu salah. Coba kalau Allah tidak sayang sama saya, mungkin Allah akan memberikan teguran yang lebih keras lagi. Bisa dengan hilangnya barang-barang saya, sakit yang tak kunjung sembuh hingga membatalkan ibadah haji saya.”

Hikmah yang menarik. Padahal apa yang dilakukan oleh Alexandrus itu adalah semata perbuatan hati belaka. Tak pernah terucap dan tak pernah terlakukan. Teladan kita Muhammad SAW pernah berkata, “sesungguhnya Allah SWT mengampuni umatku apa-apa yang ada dalam hatinya, selama tidak ia ucapkan atau ia lakukan.” (Shahihain). Tapi memang Allah sudah menyuruh kita untuk menjauhi kebanyakan dari prasangka karena sebagian besar dari prasangka itu adalah dosa.

Saya bersyukur teman saya bisa mengambil hikmah dan tersadarkan langsung. Itu adalah lebih baik daripada menunggu hisab di yaumil akhir nanti. Dan bagi saya cerita itu adalah nasehat yang luar biasa.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09.35 09 Januari 2008

 

 

 

 

KEMBANG API PETAKA


KEMBANG API PETAKA

 

Kamis Malam

Tengah malam itu, sendiri saya berdiri di selasar masjid, di atas ketinggian. Menyaksikan pemandangan indah percikan-percikan kembang api yang menghiasi pergantian tahun baru masehi. Nun jauh di sana terdengar pula suara terompet saling bersautan meningkahi deru musik dan kegembiraan yang tampak dari orang-orang yang bersengaja untuk melek dan mengenyangkan perut dengan sebiji dua biji jagung bakar, satu potong atau dua potong ayam bakar, atau secuil dua cuil potongan daging kambing guling.

Kesendirian mengakibatkan saya begitu menikmati pemandangan indah penuh warna di atas langit yang bergemintang. Saya memang terbangun di tengah malam itu beberapa saat sebelum detik-detik pergantian tahun mulai bergulir. Karena suara ledakan kembang api yang membahana tentunya. Tapi teman saya yang menemani mabit di masjid tetap bergeming merenangi lautan mimpinya. Tak tergugah.

Pada akhirnya sambil tetap menatap keindahan itu saya terbawa kepada sebuah perenungan. Sebuah ironi. Di sini, ketika semua orang berlomba-lomba untuk menghiasi langit dengan percikan api maka muaranya adalah kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan. Tapi, puluhan ribu kilometer ke arah barat daya Indonesia, di Jalur Gaza, dalam waktu yang sama, percikan api yang terbang ke angkasa bukanlah sebuah muara kebahagiaan tetapi adalah sebuah tanda petaka dan kepedihan. Ia adalah tanda luncuran mortir atau rudal yang akan menghantam rumah mereka atau rumah tetangga mereka. Atau diri mereka sendiri. Hingga bayi-bayi mereka , anak-anak mereka, istri-istri mereka, kakek-nenek mereka, suami-suami mereka terkapar di jalanan dengan bagian tubuh yang terpotong-potong atau menjadi satu dengan timbunan bagian-bagian gedung lainnya.

Allah Karim. Tega nian berpesta dan menari di atas luka saudara-saudaranya. Tragedi kebiadaban Israel itu terulang kembali hingga mewarnai hari-hari dan malam-malamnya. Tayangan-tayangan di televisi membuat terbelalak mata dunia akan kebiadaban itu. Tak terasa air mata pun jatuh menetes. Dan tak ada yang bisa diperbuat oleh saya yang cuma berdiri terperangah sambil berucap: “Allahummansur mujaahidiina wa ikhwana fi Filistin”.

 

Jum’at Siang

    Sang ustadz yang seharusnya menjadi khotib sholat jum’at di masjid kami itu ternyata tidak datang hingga waktunya tiba. Tatapan mata jama’ah mengarah kepada saya—seperti sebuah permintaan—untuk bangkit dan maju ke depan sebagai pengganti sang ustadz.

    Saya pun berdiri di atas mimbar dan mengucapkan salam laiknya seorang ustadz. Aih, ini sebuah amanah dan kesempatan besar untuk menasehati diri saya. Agar ia selaras antara kata dan perbuatan. Saya ungkapkan pesan taqwa, bahwa Allah sesungguhnya telah menegaskan setiap mukmin adalah bersaudara. Muslim di seluruh dunia adalah bagaikan satu tubuh, yang ketika ada yang sakit maka anggota bagian tubuh yang lain pun akan merasakan sakitnya.

Ketika ada yang teraniaya maka saudara muslim yang lainnya akan bangkit dan membantu. Inilah hakekatnya ukhuwah, yang level paling bawah darinya adalah musnahnya segala prasangka kepada saudara muslim yang lainnya. Hatinya lapang. Salamatus Sadr. Sedangkan level tertingginya adalah itsar mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya.

Keprihatinan pada penyikapan malam tahun baru dan kemubadzirannya pun saya ungkapkan. Pula, perlunya dukungan dari seluruh jama’ah baik doa, dana, empati, sikap mental, hingga pengorbanan dalam bentuk-bentuk lainnya. Ya iyalah, karena untuk saat ini hanya ini saja yang bisa dilakukan. Tapi semoga berarti di mata Allah.

Pada akhirnya quwwatul ukhuwah (kekuatan persatuan) adalah hal yang hilang dari kaum muslimin saat ini hingga ia hanya menjadi buih-buih yang tak berarti, hingga ia hanyalah menjadi santapan rebutan banyak kaum dan kepentingan.

Barakallahuli walaakum…

***

 

“Za, tak perlulah engkau banyak cakap,” bisik hati yang terdalam.

 

 

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02:09 06 Januari 2009

 

    

TETANGGA ITU MENINGGALKAN KAMI


TETANGGA ITU MENINGGALKAN KAMI

(IN MEMORIAM SERTU MARINIR SUYADI BIN MUSTOFA, 1967-2008)

Tetangga saya itu orang baik. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya sebagai manusia saya menganggapnya demikian. Setelah delapan tahun lamanya kami bertetangga dengan segala pernak-perniknya, Allah memanggilnya dalam usia yang masih muda (41 tahun). Meninggalkan seorang istri dengan dua anak perempuannya yang masih kecil dan belum beranjak dewasa—sulung kelas satu SMP sedangkan yang bungsu masih kelas satu SD.

    Operasi otak untuk mengangkat pecahan selongsong peluru tak cukup mampu menahan takdir Allah. Kesedihan itu tentu hinggap pada diri saya. Syukurnya saya sempat dua kali datang menjenguknya. Mendoakannya dan berusaha mengamalkan apa yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW dalam adab menjenguk orang sakit. Sambil mengelus-elus tangannya berharap-harap responnya dalam koma saya berdoa: Laa ba’tsa, thohurun, insya Allah. Tidak apa-apa, sehat, Insya Allah.

    Seminggu sebelumnya ia sempat menolong saya memegang tangga yang saya naiki untuk mengecek dan memperbaiki lampu yang padam. Pula ia bersemangat dalam membantu panitia kurban menguliti sapi sebanyak lima ekor itu di halaman Masjid Al-Ikhwan (Semoga ini mejadi penanda khusnul khotimahnya).

Saya pun teringat saat ia didaulat untuk memimpin sholat berjamaah. Bacaan surat yang senantiasa ia lantunkan adalah Adhdhuha dan Alam Nasyroh. Aktif dalam kegiatan RT dan pengajian, Panitia Agustusan, kegiatan RW dan tentunya pula kegiatan masjid. Jikalau tidak sedang bertugas sering saya minta ia untuk menjadi Qari’ dalam acara-acara yang diselenggarakan Masjid Al-Ikhwan. Suaranya merdu dan menggugah.

    Allah Karim. Semua kenangan itu terlintas selalu dalam ingatan. Apatah lagi saat mendengar kabar itu di tengah malam, saya cuma sering bergumam, “Ya Allah, Pak Yadi…Pak Yadi…” Satu hal yang mengganjal bagi diri saya sepeninggalnya adalah sudahkah saya telah memenuhi hak-haknya sebagai tetangga terdekatnya. Memuliakannya, mengiriminya hadiah, mendoakannya, memberikan masakan dan makanan yang ada, dan lain sebagainya. Saya berharap jawabannya “iya”. Tapi sejatinya hanya Allah yang mengetahui detil itu. Detil apakah amalan itu ditolak atau diterimaNya.

    Pada akhirnya saya berusaha untuk memenuhi hak-haknya yang lain sebagai saudara muslim yang telah Allah panggil. Saya ikut memandikannya. Saya ikut mengafaninya. Saya ikut menyolatkannya. Saya ikut menguburkannya. Dalam hati yang paling dalam semoga Allah pun menerima amalan-amalan saya dan dirinya. Tentunya dengan doa berikut:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]

[Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri]

Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ.

[Alloohumaghfir Lihayyinaa Wa Mayyitinaa Wa Syaahidinaa Wa Ghoo’ibinaa Wa Shoghiirinaa Wa Kabiirinaa Wa Dzakarinaa Wa Untsaanaa. Alloohumma Man Ahyaitahu Minnaa Fa Ahyihi ‘Alal Islaam, Wa Man Tawaffaitahu Minnaa Fatawaffahu ‘Alal Iimaan. Alloohumma Laa Tahrimna Ajrahu Wa Laa Tudhillanaa Ba’dahu]

“Ya Allah! Ampunilah kepada orang yang hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir ,laki-laki maupun perempuan. Ya Allah! Orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dengan memegang keimanan. Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memper-oleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya.” ( HR. Ibnu Majah 1/480, Ahmad 2/368, dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/251)

اَللَّهُمَّ إِنَّ فُلاَنَ بْنَ فُلاَنٍ فِيْ ذِمَّتِكَ، وَحَبْلِ جِوَارِكَ، فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ. فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

[Alloohumma Inna Fulaanabna Fulaanin Fii Dzimmatika, Wa Habli Jiwaarika, Fa Qihi Min Fitnatil Qobri Wa ‘Adzaabin Naari, Wa Anta Ahlal Wafaa’i Wal Haqqi. Faghfirlahu Warhamhu, Innaka Antal Ghofuurur Rohiim]

“Ya, Allah! Sesungguhnya Fulan bin Fulan dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.” (HR. Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/251 dan Abu Dawud 3/21)

اَللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ أَمْتِكَ احْتَاجَ إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ حَسَنَاتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ.

[Alloohumma ‘Abduka Wabnu Amatikahtaaja Ilaa Rohmatika, Wa Anta Ghoniyyun ‘An ‘Adzaabihi, In Kaana Muhsinan, Fa Zid Fii Hasanaatihi, Wa In Kaana Musii’an Fa Tajaawaz ‘Anhu]

Ya, Allah, ini hambaMu, anak hambaMu perempuan (Hawa), membutuh-kan rahmatMu, sedang Engkau tidak membutuhkan untuk menyiksanya, jika ia berbuat baik tambahkanlah dalam amalan baiknya, dan jika dia orang yang salah, lewatkanlah dari kesalahan-nya. (HR. Al-Hakim. Menurut pendapatnya: Hadits ter-sebut adalah shahih. Adz-Dzahabi menyetujuinya 1/359, dan lihat Ahkamul Jana’iz oleh Al-Albani, halaman 125)

(saya kutip doa tersebut secara lengkap dari situs www.alsofwah.or.id)

    Semoga ini adalah upaya kecil saya dalam memuliakan tetangga. Karena keberimanan saya pada Allah dan hari akhir salah satunya ditentukan dengan seberapa jauh saya telah memuliakan tetangga. Semoga ini bukanlah sebuah ‘ujub atau pemuliaan pada diri sendiri (na’udzubillah).

    Terakhir….

Jadilah tetangga yang baik.

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

7 hari sepeninggalnya

22 Desember 2008

 

TOMBOL JEBOL


TOMBOL JEBOL

Saya punya hp jadul. Setiap mau sholat saya selalu mematikan dering hp itu agar tidak mengganggu kekhusu’annya. Cara yang biasa saya lakukan adalah dengan menekan sekali (tidak terlalu lama) tombol on/off. Maka di layar hp muncul profiles
seperti switch off, general, silent, dan lain-lainnya. Saya tentunya memilih pilihan silent untuk membisukan berisik bunyi hp jika ada sinyal yang masuk.

Walhasil karena sering dipakai, tombol karetnya yang semula menggelembung menjadi tertelan, cekung ke bawah. Dengan demikian tidak bisa lagi dimatikan hanya dengan menggunakan jari, harus dibantu dengan sesuatu yang tumpul untuk mematikannya. Dan saya biasa menggunakan kancing baju untuk menekan tombol itu. Cara itu semakin membuat tombol itu melesak ke dalam. Sempat terpikir untuk membawanya ke tempat reparasi hp untuk mengganti tombol yang telah tidak berfungsi dengan semestinya itu.

Tapi, hari ini (Senin, 01/31), saya baru tahu sebenarnya ada cara lain untuk men-silent-kan hp tanpa harus dengan menekan tombol on/off. Itu pun baru saya ketahui saat saya melangkahkan kaki menuju masjid kantor. Dalam perjalanan itu seperti biasa saya harus menekan tombol hp, dan secara tiba-tiba terlintas dalam benak saya harusnya ada cara pintas (shortcut) untuk menggantikan cara “kejam” itu. Tidak dengan cara kekerasan tapi dengan cara yang lembut. Iseng-iseng saya tekan tombol di keypad hp yang menunjuk pada perintah Go to, berada di sudut kanan bawah layar hp.

Jreng…ternyata memang ada pilihan silent di sana. Letaknya tidak pada layar pertama tapi pada layar kedua sehingga membuat pilihan itu tersembunyi dan tidak diketahui dengan cepat. Hanya dengan menggulung layar itu ke bawah maka pilihan silent terlihat di layar. Oalah…inilah hasil kebodohan saya yang memang jarang mengeksplor menu-menu di hp itu. Kalau itu sedari dulu saya ketahui, tak akan mungkin tombol itu jebol.

Pelajaran moral: pelajari betul manual hp. Ma’rifati (kenali) betul fungsi-fungsi yang ada di dalamnya. Niscaya kejadian yang saya alami tak akan pernah terjadi.

Seringkali kita merasa bahwa kitalah yang paling mengenal diri kita sendiri. Tidak orang lain. Dengan demikian kita sudah merasa jumawa dan paling benar sendiri sehingga telinga pun ditutup dan tak perlu belajar dari orang lain. Tak perlu belajar dari kehidupan yang setiap jenaknya ada nafas-nafas pendek kita yang menandakan bahwa kita sejatinya masih hidup dan bukan mayat yang membusuk di dalam tanah.

Jumawa itu membuat mata hati kita tertutup. Tak menyadari bahwa sesuatu yang kita anggap benar, di selanya ada orang lain yang menganggap bahwa apa yang kita yakini itu ternyata salah. Tak menyadari pula bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa. Sejatinya ini pula adalah ketiadaan mengenal diri kita sendiri. Pada akhirnya tombol kemanusiaan kita jebol. Tidak ada kelembutan. Tidak ada kesadaraan pada sang Khalik. Peri kebinatangan yang menjadi keseharian bahkan sampai laksana fir’aun yang berkata: akulah tuhanmu yang paling tinggi. Semoga kita terlindungi dari hal yang sedemikian rupa.

Lalu bagaimana untuk bisa mengenal diri kita itu? Eksplorlah diri kita. Evaluasi diri kita setiap saat. Muhasabahi setiap amal yang dilakukan dalam setiap detiknya. Jikalau kesadaran itu dieksplor niscaya kita menjadi orang yang mudah untuk empati. Tidak menjadi orang yang paling benar dengan pendapatnya sendiri. Menjadi pandai mendengar, tidak hanya pandai berbicara. Dan pada akhirnya ia tahu hakikat dirinya sebagai insan yaitu cuma sebagai budak, babu, jongos, dan hamba sahayaNya Allah.

Bermuhasabahlah. Jangan jadi tombol yang akan jebol.

Di pinggir sana ada orang yang merasa dirinya muda terus, Riza, sedang mengangguk-anggukan kepalanya seperti burung tekukur, mendengar nasehat itu.

 

 

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

13:36 01 Desember 2006