TETANGGA ITU MENINGGALKAN KAMI


TETANGGA ITU MENINGGALKAN KAMI

(IN MEMORIAM SERTU MARINIR SUYADI BIN MUSTOFA, 1967-2008)

Tetangga saya itu orang baik. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya sebagai manusia saya menganggapnya demikian. Setelah delapan tahun lamanya kami bertetangga dengan segala pernak-perniknya, Allah memanggilnya dalam usia yang masih muda (41 tahun). Meninggalkan seorang istri dengan dua anak perempuannya yang masih kecil dan belum beranjak dewasa—sulung kelas satu SMP sedangkan yang bungsu masih kelas satu SD.

    Operasi otak untuk mengangkat pecahan selongsong peluru tak cukup mampu menahan takdir Allah. Kesedihan itu tentu hinggap pada diri saya. Syukurnya saya sempat dua kali datang menjenguknya. Mendoakannya dan berusaha mengamalkan apa yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW dalam adab menjenguk orang sakit. Sambil mengelus-elus tangannya berharap-harap responnya dalam koma saya berdoa: Laa ba’tsa, thohurun, insya Allah. Tidak apa-apa, sehat, Insya Allah.

    Seminggu sebelumnya ia sempat menolong saya memegang tangga yang saya naiki untuk mengecek dan memperbaiki lampu yang padam. Pula ia bersemangat dalam membantu panitia kurban menguliti sapi sebanyak lima ekor itu di halaman Masjid Al-Ikhwan (Semoga ini mejadi penanda khusnul khotimahnya).

Saya pun teringat saat ia didaulat untuk memimpin sholat berjamaah. Bacaan surat yang senantiasa ia lantunkan adalah Adhdhuha dan Alam Nasyroh. Aktif dalam kegiatan RT dan pengajian, Panitia Agustusan, kegiatan RW dan tentunya pula kegiatan masjid. Jikalau tidak sedang bertugas sering saya minta ia untuk menjadi Qari’ dalam acara-acara yang diselenggarakan Masjid Al-Ikhwan. Suaranya merdu dan menggugah.

    Allah Karim. Semua kenangan itu terlintas selalu dalam ingatan. Apatah lagi saat mendengar kabar itu di tengah malam, saya cuma sering bergumam, “Ya Allah, Pak Yadi…Pak Yadi…” Satu hal yang mengganjal bagi diri saya sepeninggalnya adalah sudahkah saya telah memenuhi hak-haknya sebagai tetangga terdekatnya. Memuliakannya, mengiriminya hadiah, mendoakannya, memberikan masakan dan makanan yang ada, dan lain sebagainya. Saya berharap jawabannya “iya”. Tapi sejatinya hanya Allah yang mengetahui detil itu. Detil apakah amalan itu ditolak atau diterimaNya.

    Pada akhirnya saya berusaha untuk memenuhi hak-haknya yang lain sebagai saudara muslim yang telah Allah panggil. Saya ikut memandikannya. Saya ikut mengafaninya. Saya ikut menyolatkannya. Saya ikut menguburkannya. Dalam hati yang paling dalam semoga Allah pun menerima amalan-amalan saya dan dirinya. Tentunya dengan doa berikut:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ [وَعَذَابِ النَّارِ]

[Alloohummaghfir lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Wa’fu ‘ahu, Wa Akrim Nuzulahu, Wa Wassi’ Madkholahu, Waghsilhu Bil Maa’i WatsTsalji Wal Barodi, Wa Naqqihi Minal Khothooyaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadho Minad Danasi, Wa Abdilhu Daaron Khoiron Min Daarihi, Wa Ahlan Khoiron Min Ahlihi, Wa Zaujan Khoiron Min Zaijihi, Wa Adkhilhul Jannata, Wa A’idhu Min ‘Adzaabil Qabri]

Ya Allah, Ampunilah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempat-kanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim 2/663)

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا. اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اَللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ.

[Alloohumaghfir Lihayyinaa Wa Mayyitinaa Wa Syaahidinaa Wa Ghoo’ibinaa Wa Shoghiirinaa Wa Kabiirinaa Wa Dzakarinaa Wa Untsaanaa. Alloohumma Man Ahyaitahu Minnaa Fa Ahyihi ‘Alal Islaam, Wa Man Tawaffaitahu Minnaa Fatawaffahu ‘Alal Iimaan. Alloohumma Laa Tahrimna Ajrahu Wa Laa Tudhillanaa Ba’dahu]

“Ya Allah! Ampunilah kepada orang yang hidup di antara kami dan yang mati, orang yang hadir di antara kami dan yang tidak hadir ,laki-laki maupun perempuan. Ya Allah! Orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dengan memegang ajaran Islam, dan orang yang Engkau matikan di antara kami, maka matikan dengan memegang keimanan. Ya Allah! Jangan menghalangi kami untuk tidak memper-oleh pahalanya dan jangan sesatkan kami sepeninggalnya.” ( HR. Ibnu Majah 1/480, Ahmad 2/368, dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/251)

اَللَّهُمَّ إِنَّ فُلاَنَ بْنَ فُلاَنٍ فِيْ ذِمَّتِكَ، وَحَبْلِ جِوَارِكَ، فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَقِّ. فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

[Alloohumma Inna Fulaanabna Fulaanin Fii Dzimmatika, Wa Habli Jiwaarika, Fa Qihi Min Fitnatil Qobri Wa ‘Adzaabin Naari, Wa Anta Ahlal Wafaa’i Wal Haqqi. Faghfirlahu Warhamhu, Innaka Antal Ghofuurur Rohiim]

“Ya, Allah! Sesungguhnya Fulan bin Fulan dalam tanggunganMu dan tali perlindunganMu. Peliharalah dia dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Maha Setia dan Maha Benar. Ampunilah dan belas kasihanilah dia. Sesungguhnya Engkau, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Penyayang.” (HR. Ibnu Majah. Lihat Shahih Ibnu Majah 1/251 dan Abu Dawud 3/21)

اَللَّهُمَّ عَبْدُكَ وَابْنُ أَمْتِكَ احْتَاجَ إِلَى رَحْمَتِكَ، وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِيْ حَسَنَاتِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ.

[Alloohumma ‘Abduka Wabnu Amatikahtaaja Ilaa Rohmatika, Wa Anta Ghoniyyun ‘An ‘Adzaabihi, In Kaana Muhsinan, Fa Zid Fii Hasanaatihi, Wa In Kaana Musii’an Fa Tajaawaz ‘Anhu]

Ya, Allah, ini hambaMu, anak hambaMu perempuan (Hawa), membutuh-kan rahmatMu, sedang Engkau tidak membutuhkan untuk menyiksanya, jika ia berbuat baik tambahkanlah dalam amalan baiknya, dan jika dia orang yang salah, lewatkanlah dari kesalahan-nya. (HR. Al-Hakim. Menurut pendapatnya: Hadits ter-sebut adalah shahih. Adz-Dzahabi menyetujuinya 1/359, dan lihat Ahkamul Jana’iz oleh Al-Albani, halaman 125)

(saya kutip doa tersebut secara lengkap dari situs www.alsofwah.or.id)

    Semoga ini adalah upaya kecil saya dalam memuliakan tetangga. Karena keberimanan saya pada Allah dan hari akhir salah satunya ditentukan dengan seberapa jauh saya telah memuliakan tetangga. Semoga ini bukanlah sebuah ‘ujub atau pemuliaan pada diri sendiri (na’udzubillah).

    Terakhir….

Jadilah tetangga yang baik.

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

7 hari sepeninggalnya

22 Desember 2008

 

Advertisements

3 thoughts on “TETANGGA ITU MENINGGALKAN KAMI

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s