KEMBANG API PETAKA


KEMBANG API PETAKA

 

Kamis Malam

Tengah malam itu, sendiri saya berdiri di selasar masjid, di atas ketinggian. Menyaksikan pemandangan indah percikan-percikan kembang api yang menghiasi pergantian tahun baru masehi. Nun jauh di sana terdengar pula suara terompet saling bersautan meningkahi deru musik dan kegembiraan yang tampak dari orang-orang yang bersengaja untuk melek dan mengenyangkan perut dengan sebiji dua biji jagung bakar, satu potong atau dua potong ayam bakar, atau secuil dua cuil potongan daging kambing guling.

Kesendirian mengakibatkan saya begitu menikmati pemandangan indah penuh warna di atas langit yang bergemintang. Saya memang terbangun di tengah malam itu beberapa saat sebelum detik-detik pergantian tahun mulai bergulir. Karena suara ledakan kembang api yang membahana tentunya. Tapi teman saya yang menemani mabit di masjid tetap bergeming merenangi lautan mimpinya. Tak tergugah.

Pada akhirnya sambil tetap menatap keindahan itu saya terbawa kepada sebuah perenungan. Sebuah ironi. Di sini, ketika semua orang berlomba-lomba untuk menghiasi langit dengan percikan api maka muaranya adalah kegembiraan, kesenangan, dan kebahagiaan. Tapi, puluhan ribu kilometer ke arah barat daya Indonesia, di Jalur Gaza, dalam waktu yang sama, percikan api yang terbang ke angkasa bukanlah sebuah muara kebahagiaan tetapi adalah sebuah tanda petaka dan kepedihan. Ia adalah tanda luncuran mortir atau rudal yang akan menghantam rumah mereka atau rumah tetangga mereka. Atau diri mereka sendiri. Hingga bayi-bayi mereka , anak-anak mereka, istri-istri mereka, kakek-nenek mereka, suami-suami mereka terkapar di jalanan dengan bagian tubuh yang terpotong-potong atau menjadi satu dengan timbunan bagian-bagian gedung lainnya.

Allah Karim. Tega nian berpesta dan menari di atas luka saudara-saudaranya. Tragedi kebiadaban Israel itu terulang kembali hingga mewarnai hari-hari dan malam-malamnya. Tayangan-tayangan di televisi membuat terbelalak mata dunia akan kebiadaban itu. Tak terasa air mata pun jatuh menetes. Dan tak ada yang bisa diperbuat oleh saya yang cuma berdiri terperangah sambil berucap: “Allahummansur mujaahidiina wa ikhwana fi Filistin”.

 

Jum’at Siang

    Sang ustadz yang seharusnya menjadi khotib sholat jum’at di masjid kami itu ternyata tidak datang hingga waktunya tiba. Tatapan mata jama’ah mengarah kepada saya—seperti sebuah permintaan—untuk bangkit dan maju ke depan sebagai pengganti sang ustadz.

    Saya pun berdiri di atas mimbar dan mengucapkan salam laiknya seorang ustadz. Aih, ini sebuah amanah dan kesempatan besar untuk menasehati diri saya. Agar ia selaras antara kata dan perbuatan. Saya ungkapkan pesan taqwa, bahwa Allah sesungguhnya telah menegaskan setiap mukmin adalah bersaudara. Muslim di seluruh dunia adalah bagaikan satu tubuh, yang ketika ada yang sakit maka anggota bagian tubuh yang lain pun akan merasakan sakitnya.

Ketika ada yang teraniaya maka saudara muslim yang lainnya akan bangkit dan membantu. Inilah hakekatnya ukhuwah, yang level paling bawah darinya adalah musnahnya segala prasangka kepada saudara muslim yang lainnya. Hatinya lapang. Salamatus Sadr. Sedangkan level tertingginya adalah itsar mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya.

Keprihatinan pada penyikapan malam tahun baru dan kemubadzirannya pun saya ungkapkan. Pula, perlunya dukungan dari seluruh jama’ah baik doa, dana, empati, sikap mental, hingga pengorbanan dalam bentuk-bentuk lainnya. Ya iyalah, karena untuk saat ini hanya ini saja yang bisa dilakukan. Tapi semoga berarti di mata Allah.

Pada akhirnya quwwatul ukhuwah (kekuatan persatuan) adalah hal yang hilang dari kaum muslimin saat ini hingga ia hanya menjadi buih-buih yang tak berarti, hingga ia hanyalah menjadi santapan rebutan banyak kaum dan kepentingan.

Barakallahuli walaakum…

***

 

“Za, tak perlulah engkau banyak cakap,” bisik hati yang terdalam.

 

 

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02:09 06 Januari 2009

 

    

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s